Gereja Katolik St. Athanasius Agung

Mengenangkan Sengsara Tuhan(29 Maret 2015)

Mrk. 15:1-39
1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus. 2 Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” 3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia. 4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: “Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!” 5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran. 6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. 7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan. 8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. 9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: “Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?” 10 Ia memang mengetahui, bahwa imam-imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki. 11 Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. 12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?” 13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: “Salibkanlah Dia!” 14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Salibkanlah Dia!” 15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. 16 Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. 17 Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. 18 Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” 19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. 20 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. (15-20b) Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan. 21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. 22 Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. 23 Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya. 24 Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing. 25 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. 26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: “Raja orang Yahudi”. 27 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya. 28 (Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.”) 29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, 30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” 31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! 32 Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.” Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga. 33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.” 36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” 37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. 38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. 39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Renungan
Pilatus tahu bahwa tua-tua dan imam-imam kepala dengki dengan Yesus (bdk Mrk 15:10). Kedengkian mereka yang mendesak mereka menyerahkan Yesus untuk disalib dan membebaskan Barabas sang pembunuh. Kedengkian mereka membuat mereka buta untuk melihat mana yang baik dan yang buruk, dan mereka pun memilih yang buruk.
Banyak sekali kisah di mana kedengkian membawa pertumpahan darah. Kedengkian kelompok mazhab tertentu menghantar pada peperangan yang merenggut banyak korban jiwa. Kedengkian seorang tetangga mematikan rasa solidaritas dan kepekaannya.
Sekarang kita mengenangkan sengsara Yesus karena kedengkian para tua-tua dan imam kepala. Kisah ini menjadi cermin bagi kita untuk tidak terkungkung oleh sikap dengki. Kedengkian hanya akan membawa kematian.

Kontemplasi
Bayangkan kisah sengsara Yesus Kristus dalam Injil Mrk. 14:1 – 15:47. Hadirlah menjadi salah satu pemeran dalam kisah tersebut.

Refleksi
Apa arti sengsara Tuhan Yesus bagi hidupmu?

Doa
Tuhan Engkau memilih dan membela kami umat manusia. Namun karena sikap dengki yang sering masih kami miliki kami mengabaikan kasihMu itu dan malah menyingkirkanMu. Ampunilah kami ya Tuhan. Amin.

Perutusan
Aku akan menghapus rasa dengki dalam diriku.

Sumber : www.doakatolik.com

Orang Berdoa

“Yesus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”(28 Maret 2015)

Yohanes (11:45-56)

“Yesus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria, dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus terhadap Lazarus percaya kepada-Nya. Tetapi ada juga yang pergi kepada orang-orang Farisi, dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul. Mereka berkata, “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya, lalu orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu tidak insyaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal ini dikatakan Kayafas bukan dari dirinya sendiri. Tetapi, sebagai Imam Besar pada tahun itu, ia bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk seluruh bangsa; bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di tengah orang-orang Yahudi. Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim. Di situ Ia tinggal bersama murid-murid-Nya. Waktu itu hari raya Paskah orang Yaudi sudah dekat, dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus, dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
“Akan datang jugakah Ia ke pesta?” Kita mengetahui orang pergi ke pesta untuk merayakan hidup dengan sukacita. Tetapi mereka menyiapkan perangkap. Mereka sepakat untuk membunuh Yesus. Rasionalisasi mereka lakukan hanya untuk keuntungan diri dan kelompok elit penjaga bait. Dengan alasan: Takut orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci serta bangsa kita. Karena itu lebih berguna, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita binasa. Bahkan seolah Bapa lewat nubuat Kayafas “merestui” kejahatan mereka, agar keselamatan segera tiba. Bagaimanakah kita kalau kurban itu ada di pihak kita?
Doa
Allah Bapa kami, Engkau selalu menyelamatkan umat manusia. Tetapi, kini Engkau menggembirakan kami dengan rahmat-Mu yang lebih melimpah. Pandanglah kiranya umat pilihan-Mu, kuatkanlah dan lindungilah kami umat beriman, baik yang sudah maupun yang akan dibaptis. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com
Rosario

Sabda Hidup: Jumat, 27 Maret 2015

HARI biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan: Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42.

BcO Ibr. 12:14-29

Bacaan Injil Yoh. 10:31-42.
31 Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. 32 Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”

33 Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”

34 Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? 35 Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, 36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? 37 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, 38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

39 Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. 40 Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. 41 Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” 42 Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Renungan:
Yesus makin menampakkan sikapnya kepada orang-orang Yahudi. Ia menyatakan dihadapan mereka sebagai Anak Allah. Pernyataan ini yang menjadi alasan bagi mereka untuk melempariNya dengan batu. Namun sekali lagi Yesus bisa lepas dari mereka.
Mengatakan suatu kebenaran memang mengandung risiko. Apalagi kala kebenaran itu menyinggung hati segerombolan lain. Gerombolan itu pasti akan berusaha menyingkirkan orang yang menyatakan kebenaran tersebut.

Kita layak mengambil sikap dukungan dan doa bagi mereka yang menyatakan kebenaran. Mereka selalu berada dalam lingkaran tantangan dan ancaman. Hanya kekuatan hati murni yang akan membantunya terlepas dari ancaman itu.

Kontemplasi: Bayangkan kisah Injil Yoh. 10:31-42. Bandingkan situasi tersebut dengan keadaan di sekitar negara kita.

Refleksi: Bagaimana tetap menyatakan kebenaran dan lepas dari ancaman mereka yang tersinggung?

Doa: Tuhan jagailah orang-orang yang membela kebenaran. Bebaskanlah mereka dari aneka ancaman yang membahayakannya. Amin.

Perutusan: Aku akan belajar menyatakan kebenaran.

Sumber : www.sesawi.net

Man-With-Question-02

Ya Tuhan semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. (27 Maret 2015)

Yohanes (12:12-16)
“Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”
Menjelang Hari Raya Paskah, ketika orang banyak yang datang untuk merayakan pesta mendengar bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru, “Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yesus menemukan seekor keledai muda, lalu naik ke atasnya, seperti ada tertulis: Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah Rajamu datang, duduk di atas seekor keledai. Mula-mula para murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan mereka telah melakukannya juga untuk Dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Baik belum tentu benar, tapi benar pasti selalu baik. Sayangnya hal yang benar seringkali menyebalkan dan tidak menyenangkan.
Dalam keseharian kita mungkin bisa dihitung berapa kali kita berbuat benar, atau mungkin saja tidak berbuat sama sekali.
Di kantor saya dulu, rekan kerja saya banyak sekali yang bermain games dan facebook serta browsing di jam kerja, begitu bos lewat, layar komputer langsung dtutup dan pindah ke layar pekerjaan. Apakah hal itu baik? Ya baik karena membantu menghilangkan kejenuhan dan stress, toh selama pekerjaan selesai dengan baik, kenapa tidak boleh?
Tapi hal itu tidak benar, karena menurut saya pribadi hal itu mendidik kita untuk tidak excellent dalam pekerjaan, padahal bila ada waktu tersisa kita bisa gunakan untuk mencari pengetahuan yang baru.
Sekarang saya bersyukur karena Tuhan ajar saya sedari dulu tidak membuang- waktu di kantor dengan hanya bermain-main karena sekarang dampaknya saya tidak sulit menyesuaikan diri dengan padatnya pekerjaan dari pagi ke sore hari.
Bagaimana dengan Anda? Tidak mau kan ketika kita jadi Bos kita hanya menggaji staff yang tidak menghargai dan mencintai perkembangan perusahaannya?
Jangan lakukan hal yang Anda tidak ingin orang lain lakukan, karena Tuhanlah yang berkuasa atas kebenaran, Dia dapat menyatakan kebesaranNya bila kita juga berani berbuat benar.
Benar itu bukan hanya baik untuk kita tapi untuk banyak pihak

Doa
Tuhan,sebenarnya sangat sulit berbuat hal benar karena seringkali hal itu tidak menyenangkan. Ajarilah aku untuk selalu mau berkorban demi kebenaran karena Engkaulah yang akan memperlihatkan kuasaMu akibat kebenaran itu. Saat ini sadarkanlah semua pekerja yang sedang lalai dan malas, supaya mereka kembali bersemangat. Amin.

Sumber : www.doakatolik.com

 

Man-With-Question-02

Berpegang pada Sabda-Nya, Kita Beroleh Hidup Abadi

Kamis, 26 Maret 2015: Pekan Prapaskah V
Kej 17:3-9, Mzm 105:4-9; Yoh 8:51-59

Man-With-Question-02

“Cinderella”, Tiga Resep Kehidupan: Tegar, Baik Hati dan Jompa-jampi

TERSEDIA tiga resep jitu untuk melakoni hidup bahagia yang ditawarkan kepada Cinderella: senantiasalah hidup tegar, berbaik hati kepada sesama dan sesekali jangan ragu pakailah rumus jompa-jampi untuk ‘bermain sulap’. Nasehat kehidupan inidisebulkan ke telinga Ella –gadis lugu nan rupawan—ketika dia masih belia, sesaat sebelum ibunya mesti meninggalkan dia untuk selamanya karena putus nyawa.

Belakangan, tiga resep jitu melakoni hidup bahagia itu ternyata manjur ketika tiga orang ‘jahat’ masuk ke dalam kastil rumahnya. Mereka adalah Lady Tremaine (Cate Blanchett) dan kedua putrinya yang juga tamak sekaligus norak yakni Drizella dan Anastasia. Ketiga ‘pejahat’ nurani ini masuk dalam kehidupan Ella (Lily James) berkat perkawinan ayahnya yang mengawini janda teman dekatnya, meski kemudian perkawinan itu hanya seumur jagung lantaran ayahnya tewas karena sakit dalam perjalanan bisnis ke LN.

Lingkaran kejahatan

Dalam suasana kebathilan dimana segala sesuatu diatur paksa oleh Lady Tremaine yang durhaka, Ella senantiasa hidup tegar dan tetap ramah sesuai wasiat mendiang ibunya. Namun, sekali waktu dia pun jengah hingga kemudian nglayap masuk hutan dan tiba-tiba saja bertemu pangeran tampan dan dalam hitungan menit kedua mahkluk Tuhan beda kelas social ini pun diam-diam jatuh cinta.

Sampailah tiba saatnya, sang pangeran tampan yang mengaku bernama Mr. Kit (Richard Madden) ini dipaksa mencari jodoh oleh ayahnya yang mulai beranjak renta. Tak mau mengawini putri ningrat dari Zaragosa atas bujukan ayahnya, maka dibuatlah lomba dansa yang terbuka untuk semua kalangan.

Nah, kali ini rumus jompa-jampi ‘main sulap’ disebulkan oleh peri tanpa nama (Helena Bonham Carter). Dalam sekejap, tersedia di depan mata kereta kencana berlapis emas lengkap dengan kuda, kusir dan pelayan yang disulap sang peri dari angsa, tikus dan kadal. Dengan modal baju ‘kebesaran’ peninggalan mendiang ibunya, putri desa yang aslinya bernama Ella melangkah pasti menuju istana untuk mengikuti lomba dansa.

Tak dinyana, Pangeran Tampan alias Mr. Kit justru melirik kea rah Cinderella –nama baru Ella hasil julukan kedua saudara tirinya terhadapnya ketika sekali waktu wajahnya jadi hitam kena arang dapur. Ternyata, kata ‘cinderella’ berasal dari kata ‘cinde’ yang artinya arang ditambah kata ‘ella’ nama asli sang putri desa cantik namun serba lugu ini.

Sayang, rumus jompa-jampi ‘main sulap’ ini hanya berumur pendek. Tidak boleh lebih dari pukul 24.00 malam dan sebelum dentang jam beraksi, Cinderella harus segera menghentikan ‘aksinya’. Begitulah pesan Sang Peri, namun di ballroom istana, pagu waktu itu terlewatkan hingga kemudian dengan sangat tergopoh-gopoh Ella melarikan diri dari istana dan ketinggalan sepatu kacanya.

Sepatu kaca mencari jodoh

Sang Pangeran Tampan kini sudah naik tahta menjadi raja menggantikan ayahnya yang telah mangkat. Namun, ia belum berjodoh karena hatinya sama sekali bergeming terhadap Putri Zaragosa yang disodorkan Sang Maha Patih. Diam-diam hatinya tetap terpaku pada Ella –putri desa antah berantah—yang tiba-tiba hilang melarikan diri dari kerajaan lantaran kena batas pagu waktu: daya sulap akan hilang selepas pukul 24.00 malam.

Singkat cerita, kompetisi mencarikan jodoh kaki untuk sepatu kaca itu pun digelar dimana-mana. Serba lucu dan wagu, ketika nenek-nenek tua pun dipaksa untuk menjajal sepatu kaca tinggalkan Ella. Tak lupa juga, Anastasia dan Drizella yang sangat ambisius merebut hati Sang Pangeran.

Cinderella yang sudah ditawan di atas loteng mulai putus asa, ketika tiba-tiba sekawanan tikus yang menjadi sahabatnya membuka pintu istana dan …adabakabra…nyanyian khas Ella terdengar oleh kawanan Istana yang tengah mencari ‘jodoh’ sepatu kaca ini.

Akhirnya, memang hanya Ella alias Cinderella yang paling cocok memakai sepatu kaca ini. Dan pesta nikah pun segera dilakukan di Istana untuk meresmikan perkawinan antara Mr. Kit dan Ella ini.

Di ujung cerita semakin menjadi jelas bahwa untuk bisa hidup bahagia, maka hayatilah hidupmu dengan tiga jurus ‘maut’: senantiasalah tegar, berbaik hati dan –kalau perlu—sesekali main jompa-jampi ‘sulap.

Meski film Cinderella aslinya masuk kategori film anak-anak, namun nyatanya di JakartaCinderella berhasil merebut hati orang dewasa untuk menikmati film bagus dengan sarat moral yang intens ini.

Sumber : www.sesawi.net

url

Sabda Hidup: Kamis, 26 Maret 2015

HARI Pekan V Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan: Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59.

BcO Ibr. 12:1-13

Bacaan Injil Yoh. 8:51-59.

Renungan:
Orang-orang Yahudi kebingungan dengan yang dikatakan Yesus. Mereka melihat Yesus secara harafiah, “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” (Yoh 8:57). Namun Yesus menunjukkan pada mereka fakta metahistoris, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Keberadaan Yesus melebihi fakta historis usia dan keberadaan Abraham.

Ada banyak sisi yang bisa kita liat secara kasat mata dalam sejarah hidup kita. Mereka ini bisa kita hitung dengan cara kita. Namun selain itu banyak pula yang tidak bisa kita liat secara kasat mata. Padanya kita tidak bisa menghitungnya dengan cara hitung kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap hal tersebut? Yang bisa kita lakukan adalah beriman. Kita mengimani yang tak mudah kita mengerti tapi itu ada dan terjadi. Kita mengakui dengan kerendahan hati bahwa kemampuan intelektual kita terbatas. Kita percaya pada hal yang tak mampu kita lihat.

Kontemplasi:   Bayangkan kisah dalam Injil Yoh. 8:51-59. Hadirkan pengalamanmu menghadapi sesuatu yang tak kaumengerti tapi harus kaupercayai.

Refleksi: Apa artinya bagimu mengimani Tuhan Yesus?

Doa: Ya Tuhan, ada banyak hal yang sering tidak kumengerti dan kupahami. Bantulah aku untuk tetap rendah hati mengakui dan percaya walau kadang tidak mengerti. Amin.

Perutusan: Aku akan membuka hati dan menyerahkan kepercayaanku pada penyelenggaraan Tuhan.

Sumber : www.sesawi.net

Orang Berdoa

“Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”(26 Maret 2015)

“Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.”    
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata orang-orang Yahudi kepada Yesus, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati! Dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya! Bapa-Kulah yang memuliakan Aku. Tentang Dia kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia. Sebaliknya, Aku mengenal Dia, dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu. Tetapi Aku megenal Dia, dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku; ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada Yesus, “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Ujung ketidaktahuan dan salah sambung dengan misteri agung jati diri Yesus, membuat orang-orang Yahudi menyimpulkan, bahwa Yesus kerasukan setan. Bahkan lebih dari kata, mereka mengambil batu untuk melempari Dia. Kita sering menyalahkan Tuhan dan mau menghancurkan-Nya untuk sesuatu yang tidak kita ketahui dan tidak kita mengerti, hanya menduga-duga. Kita menutup diri tidak mengakui keterbatasan kita. Itu berarti sudah pasti kita yang terlalu bodoh, bukan Dia. Sikap kita yang terlalu sembrono dapat menghancurkan orang lain dan diri sendiri serta tetap merasa tak berdosa. Benarkah demikian?
Doa
Allah yang Mahasetia, hadirlah pada umat yang berseru kepada-Mu. Lindungilah kami yang mendambakan belas kasih-Mu. Semoga kami bersih dari segala noda dosa, tetap bertekun dalam cara hidup yang saleh dan akhirnya pantas mewarisi janji-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com
pojok-doa1

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”(25 Maret 2015)

Lukas (1:26-38)
“Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.”       
Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Maka kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Hari Raya Kabar Sukacita yang dirayakan pada setiap tanggal 25 Maret memiliki hubungan yang sangat erat dengan perayaan Natal yang selalu dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Dalam pesta Natal, Gereja merayakan kelahiran Yesus Kristus.
Secara kronologis, perayaan Kabar Sukacita mestinya terlebih dahulu dirayakan Gereja, lalu kemudian Natal. Akan tetapi, jika dilihat dari aspek sejarah, ternyata perayaan Natal terlebih dahulu dilaksanakan oleh Gereja, karena perayaan ini telah dimulai sejak abad III, baru kemudian menyusul perayaan Kabar Sukacita pada abad IV. Perhitungan logika dengan cara mundur, menetapkan Kabar Sukacita pada 25 Maret, kurang sembilan bulan dari Natal (25 Desember) yang adalah waktu normal kandungan di dalam rahim. Oleh sebab itu, bisa dikatakan, jika Maria melahirkan Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan mundur, maka ia mendapat kabar sukacita dari malaikat Gabriel pada 25 Maret. Inilah haari yang sekarang kita rayakan di dalam Gereja.
Injil Lukas yang dibacakan pada perayaan ini memberikan informasi kepada kita bahwa Anak yang dikandung oleh Maria adalah Putra Allah yang menjelma menjadi manusia. Maria merasa terkejut ketika mendengar kabar dari malaikat, karena alasan kekhawatiran sosial. Dikatakan dalam Injil bahwa Maria belum bersuami. Oleh sebai tu, mengandung di luar nikah adalah sesuatu yang tidak terpandang di dalam kebudayaan Yahudi.
Penjelasan Malaikat Gabriel mengenai Anak yang dikandungnya dan berkat kuasa Roh Kudus yang menyertainya, membuat Maria dengan berlandaskan iman yang dimiliki, berani menerima tugas dan tanggung jawab yang melampaui kepentingan sosial dan padangan orang. Jawaban Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” adalah tanda orang beriman. Ada dua hal ditunjukkan Maria dalam jawaban ini. Pertama, adalah kerendahan hatinya di hadapan Tuhan yang menunjukkan kesediaan mengambil tanggung jawab, apa pun konsekuensinya. Iman tidak bisa tanpa tanggung jawab. Kedua, adalah penyerahan diri Maria secara total kepada Tuhan; biarlah kehendak-Nya yang terjadi, bukan kehendakku atau kehendak orang lain di sekelilingnya. Rencana Tuhan mengalahkan rencana diri sendiri dan orang lain yang ada di sekitar.
Jawaban Maria ini yang dikenal dengan istilah fiat mewujudkan rencana keselamatan Tuhan yang dirintis-Nya sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Fiat ini juga membuka rencana keselamatan Tuhan sampai pada zaman kita dan berlangsung terus sampai akhir zaman. Fiat Maria memulai pembaruan manusia dan dunia, karena Putra Allah datang ke dunia untuk keselamatan.
Dengan alasan ini, Gereja patut merayakan perayaan ini secara meriah dengan harapan bahwa kita juga sebagai umat beriman merasakan fiat Maria dalam rencana keselamatan kita. Sebagai umat beriman kita juga diajak untuk membuat fiat masing-masing sebagai rasa tanggung jawab orang beriman di hadapan Tuhan, sebagaimana Maria telah lakukan.(Edison)

Doa
Ya Allah, Engkau menghendaki agar Sabda-Mu menjelma menjadi manusia dalam rahim Perawan Maria. Semoga kami, yang dalam iman mengakui Penebus kami sebagai Allah dan manusia, layak mengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.

Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com
Orang Berdoa

Sabda Hidup: Selasa, 24 Maret 2015

HARI  biasa Pekan V Prapaskahwarna liturgi Ungu
Bacaan: Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3,16-18,19-21; Yoh. 8:21-30.
BcO Ibr. 11:20-31
Bacaan Injil Yoh. 8:21-30.

Renungan:
Saya terkesan dengan kalimat ini, “Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh 8:29). Terbayang betapa intimnya Bapa dan Putera. Begitu intimnya Putera dengan Bapa maka Bapa pun selalu menyertai Putera, dan Putera senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya.Intimitas relasi menentukan perilaku. Mereka yang berelasi secara intim bisa saling mengenali apa yang dimau oleh pasangan relasinya. Bahkan seringkali tanpa kata sekalipun mereka sudah akan mengenal kemauan pasangannya. Karena itu kerjasama di antara mereka terbangun dengan sangat baik. Mereka saling mengerti dan mengenal perilaku masing-masing.Kita perlu menumbuhkan keintiman relasi dalam komunitas dan keluarga kita. Hidup harian bisa menjadi guru pembelajaran kita. Kita tidak bisa hanya mengandaikan dan menduga-duga pembangunan ini, perlu diusahakan dibangun secara tekun.

Kontemplasi: Bayangkan relasi erat Bapa dan Putera. Hadirkan relasi dalam keluarga dan komunitasmu.

Refleksi: Apa yang telah kaulakukan untuk mempererat relasi dalam keluarga atau komunitasmu?

Doa:
Bapa melalui PuteraMu Engkau menunjukkan bangunan relasi macam apa yang mesti kubangun. Semoga aku pun menjadi pemeran dalam mempererat relasi di komunitas dan keluargaku. Amin.

Perutusan:
Aku punya waktu untuk keluarga dan komunitasku.

Sumber : www.sesawo.net