jesus-christ-pics-2203

Mengalami Kerahiman Yesus Kristus

Kamis, 30 Juni 2016
Pekan Biasa XIII
Am 7:10-17; Mzm 19:8.9.10.11; Mat 9:1-8

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh, “Percayalah, anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Ia menghujat Allah!”

MARI kita pusatkan perhatian kita pada orang lumpuh yang terbaring pada tilam dan dibawa kepada Yesus. Menurut St. Hieronimus, kelumpuhan fisik adalah gambaran ketidakmampuan manusia kepala kepada Allah oleh karena keterbatasannya sendiri. Itu adalah ketidakmampuan manusia menyelamatkan diri dan berdamai dengan Allah. Itu melambangkan hidup kita pula.

Sungguh, orang lumpuh itu lebih dimaksudkan untuk menggambarkan jiwa orang-orang Farisi daripada si lumpuh sendiri. Yesus Kristus lebih melihat kemandegan hati orang Farisi dari pada si lumpuh itu. Sesungguhnya, Yesus menawarkan keselamatan kepada mereka namun hati mereka tertutup bagi-Nya.

Soal utamanya adalah dosa. Maka Yesus bersabda, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus mengampuni dosa baru kemudian menyembuhkannya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus kita mohon kerahiman-Nya. Apakah kita menyadari bahwa persoalan hidup kita adalah tentang kekudusan dan menyingkirkan hambatan utama menuju kekudusan yakni dosa? Apakah kita menyadari bahwa dalam lubuk hati kita, satu-satunya hal yang dapat melukai kita adalah dosa dan egoisme?

Tuhan Yesus Kristus kami datang padsMu dalam refleksi dan doa ini siap melakukan kehendakMu. Dalam Dikau kami menemukan alasan untuk menempuh jalan mudah demi misi kasih sempurna. Anugerahilah kami pengalaman lebih mendalam untu mengalami kerahimanMu. Bantulah kami menerima setiap kesulitan sebagai kesempatan baru untuk memurnikan hati kami dan menguduskan jiwa kami kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Kamis, 30 Juni 2016

Para Martir Pertama di Roma

warna liturgi Hijau

Bacaan

Am. 7:10-17; Mzm. 19:8,9,10,11; Mat. 9:1-8. BcO Neh. 9:22-37

Bacaan Injil: Mat. 9:1-8.

1 Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. 2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” 3 Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” 4 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? 5 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? 6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” ?lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu?:”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 7 Dan orang itupun bangun lalu pulang. 8 Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.

Renungan:

SEORANG suami isteri yang telah menikah lama pasti saling mengenal kebiasaan juga kode-kode dari pasangannya. Kadang tanpa kata apapun sang isteri tahu apa yang dimau suaminya dan sebaliknya. Kadang mereka duduk berdua di teras tanpa bicara tapi masing-masing tampak paham akan kebutuhannya. Kebersamaan mereka dan kedalaman relasi mereka membuat mereka saling mengerti maksud satu sama lain.

Yesus tahu apa yang dipikirkan para ahli Taurat. “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka” (Mat 9:4). Kedalaman batin dan hidupNya membuatNya paham akan pikiran orang terhadap diriNya.

Rasanya kita pun bisa mengembangkan kemampuan kita untuk mengenali apa yang dimaui dan dipikirkan sesama kita. Syaratnya adalah kemendalaman relasi kita dengannya dan ketajaman kita dalam mengolah hati kita. Semakin mendalam relasi kita dan semakin tajam pengolahan batin kita, kita akan semakin mampu mengenali kemauan dan pikiran sesama.

Kontemplasi:

Bayangkan sepasang orang tua duduk di teras rumahnya. Si lelaki batuk-batuk. Si perempuan bangkit berdiri pergi lalu membawakan segelas minuman untuk si lelaki.

Refleksi:

Bagaimana kemampuanmu mengenali pikiran sesamamu?

Doa:

Ya Tuhan semoga aku mampu mengenal pikiran sesamaku dengan lebih baik.  Amin.

Perutusan:

Aku akan mempertajam olah batinku dan kemampuanku mengenali pikiran sesamaku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

yesus-dan-para-murid-di-ladang-gandum

Mengikuti Jejak Teladan St. Petrus dan St. Paulus

Rabu, 29 Juni 2016
HR S. Petrus dan Paulus, Rasul
Kis 12:1-11; Mzm 34:2-3.4-5.
6-7.8-9; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19

Yesus Kristus bersabda, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku.”

PADA Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus Rasul, mari kita pusatkan perhatian kita pada cara Yesus Kristus memilih mereka sebagai rasul-Nya. Pada abad pertama mereka menjadi martir di Roma. Mereka dikuduskan oleh kasih dan kerahiman-Nya. Mereka menanggung risiko demi pencurahan darah kemartiran dengan setia demi Yesus Kristus, Sang Guru.

St. Petrus mengakui Yesus sebagai Kristus, Mesias. Itu membutuhkan iman. Sebagai balasan, Yesus menetapak dia sebagai Paus pertama. Dialah batu karang rohani dan batu yang hidup bagi Gereja kita seperti telah ditetapkan Yesus.

Dan St. Paulus memberi kita kesaksian bahwa ia telah dikuduskan oleh Allah. Ia bertahan dalam iman. Maka Tuhan berpihak padanya dan memberinya kekuatan untuk mewartakan Injil sepenuhnya. Tuhan menyelamatkannya dari tiap kejahatan dan menganugerahi mahkota surgawi.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus Sang Mesias. Di sana kita mohon rahmat agar tanpa lelah berkarya mewartakan Injil kepada segala bangsa.

Tuhan Yesus Kristus meneladan St. Petrus dan St. Paulus Rasul-Mu, kami mengakui dan percaya bahwa Dikau adalah Kristus, Putra Allah yang hidup. Juga seperti St. Paulus telah menghidupinya, kami ingin bertempur demi kebaikan, mencapai garis finis dan bertahan dalam iman. Buatlah kami kuat dalam iman seperti St. Petrus dan St. Paulus. Selamatkan kami dari kejahatan dan mahkotailah kami dengan Kerajaan Surga kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

jesus-christ-pics-2203

Sabda Hidup: Rabu, 29 Juni 2016

HARI RAYA St. PETRUS & PAULUS

warna liturgi Merah

Bacaan

Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19. BcO Gal. 1:15-2:10

Bacaan Injil: Mat. 16:13-19.

13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Renungan:

SETIAP orang mempunyai kekhasan yang dikenal orang lain. Seringkali dirinya sendiri tidak menyadari kekhasannya. Namun orang bisa ingat pada dirinya karena kekhasannya. Kala sekolah dulu beberapa teman mendapatkan julukan tertentu karena kekhasannya. Ada yang dipanggil dengan nama ayahnya. Ada yang dipanggil dengan nama tokoh tertentu karena kemiripannya. Bahkan ada yang dipanggil dengan nama binatang tertentu.

Yesus pun bertanya pada murid-muridNya siapa diriNya menurut pandangan mereka. Ada yang menyebut dia berdasarkan omongan orang. Namun Petrus mengatakan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Ia mengenal Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Sebutan yang disampaikan Petrus dibenarkan oleh Yesus. Yesus pun memberi tanda atas nama Petrus.

Makin dekat relasi kita, kita akan saling mengenal satu sama lain. Kita pun akan mengenal kekhasan mereka. Maka marilah kita mengenali siapa sahabat kita dan berbagi pengenalan itu sama lain. Sikap ini yang akan mempererat persahabatan kita.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Temui temanmu. Sampaikan pengenalanmu kepadanya.

Refleksi:

Siapa dirimu menurut pendapat temanmu?

Doa:

Bapa semoga aku makin mengenal Engkau dan makin mengenal saudara dan sahabatku. Amin.

Perutusan:

Aku akan menyampaikan pengenalanku pada sahabatku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

biji-sesawi

Sabda Hidup: Selasa, 28 Juni 2016

Peringatan Wajib St. Ireneus

warna liturgi Merah

Bacaan

Am. 3:1-8; 4:11-12; Mzm. 5:5-6,7,8; Mat. 8:23-27.BcO Neh. 7:72b – 8:18

Bacaan Injil: Mat. 8:23-27.

23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. 24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. 25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” 26 Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. 27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Renungan:

KETIKA terjadi bencana umumnya kondisi akan tampak ruwet. Setiap pribadi berada dalam kondisi panik dan berusaha untuk melepaskan diri dari bahaya yang mengancam. Sangat sedikit orang yang tenang dan mampu menahan diri dari situasi panik.

Para murid pun mengalami gelisah dan panik ketika badai mengancam perahu mereka. Mereka berjuang keras untuk menghindarkan diri dari bahaya yang lebih besar. Di saat seperti itu Yesus malah tidur. Ia bisa tenang dan ayem. Kala bangun ia pun mampu meredakan badai tersebut.

Saya jadi teringat ungkapan “sing ayem bae” (tenang saja). Ungkapan itu sering muncul kala ditemui orang-orang yang resah dan gelisah. Ketenangan, ayem, memungkinkan kita melihat sesuatu dengan lebih jernih. Kita pun akan lebih mudah menemukan jalan keluar. Maka belajar dari Tuhan kita bisa membangun ketenangan dalam diri kita, terutama ketika sekitar kita mengalami kepanikan.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu. Bayangkan kisah dalam Injil Mat. 8:23-27. Bandingkan dengan pangalaman hidupmu.

Refleksi:

Bagaimana menjaga ketenangan di kala berada dalam situasi panik.

Doa:

Ya Tuhan jagailah ketenangan dalam diriku supaya aku bisa menjaga mereka yang berada dalam kepanikan. Amin.

Perutusan:

Aku tidak akan panik dan gelisah.. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

biji-sesawi

Sabda Hidup: Senin, 27 Juni 2016

Sirillus dr Aleksandria

warna liturgi Hijau

Bacaan

Am. 2:6-10,13-16; Mzm. 50:16bc-17,18-19,20-21,22-23; Mat. 8:18-22. BcO Neh. 5:1-19

Bacaan Injil: Mat. 8:18-22.

18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. 19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” 22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Renungan:

DALAM percakapan sederhana Rm Joko menceritakan bahwa 2 fraternya mundur dari tahun rohani. Di kesempatan lain beberapa frater di seminari tinggi juga tidak lagi melanjutkan pendidikan imamat. Banyak pula angkatanku dulu yang tidak terus ke jalan imamat. Hanya sekitar 10% yang terus. Yang 90% melanjutkan di tempat lain dan menjadi rasul-rasul yang tangguh di bidangnya masing-masing.

Tidak semua yang datang pada Yesus dan mau mengikuti Dia sepenuhnya diterima. Ada juga yang ditolak. Namun ada pula yang ditarik oleh Yesus untuk menjadi pengikutNya. Dan mereka yang ditarik sulit untuk menolak.

Jalan hidup setiap orang memang unik. Mereka yang tampak serius dan suci malah kadang tidak terus dalam jalan imamat. Ada yang dulunya tampak berandalan malah jadi orang sukses. Banyak sekali kemungkinannya. Namun rasanya ketekunan orang pada sesuatu akan menentukan jalan hidupnya. Mereka yang tekun umumnya akan mencapai apa yang mereka impikan.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu. Bayangkan dirimu sendiri. Lihatlah apa yang kautekuni dan menghidupimu.

Refleksi:

Bagaimana tekun dalam pilihan hidupmu?

Doa:

Tuhan aku percaya Engkau punya rencana bagiku. Semoga aku bisa tekun menemukan rencanaMu bagiku. Amin.

Perutusan:

Aku akan menekuni jalan hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Ikutlah Aku!

Kalau kita ditanya seperti ini: “Apakah Anda mau setia mengikuti Yesus? Sampai kapan?” Apakah jawabanku? Tentu secara normatif, saya yakin, kita akan mengatakan bahwa mau ikut Yesus sampai akhir hidup kita. Bener, nih? Mengikuti Yesus janganlah sekedar spontanitas/emosional belaka tetapi keputusan yg penuh pertimbangan yg dilakukan dengan sadar, bebas dan gembira. Maka ada konsekuensi dari setiap pilihan atau keputusan yg kita ambil utk mengikut Yesus. Pertama, mengikut Yesus tidak selalu enak dan nyaman. “Anak Manusia tdk mempunyai tempat utk meletakkan kepada-Nya.” Yesus tdk membutuhkan orang yg manja dan ingin enaknya saja. Yesus menuntut kualitas dari kita: berani nggetih bersama Dia. Kedua, mengikut Yesus adalah keputusan yg tepat dan pasti, bukan menunda-nunda. “Izinkanlah aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” adalah contoh penundaan akan panggilan mengikut Yesus. Ketiga, mengikut Yesus adalah keputusan untuk maju, tdk bisa mundur lagi dan tdk ada penyesalan di kemudian hari. Ibaratnya spt pesawat terbang yg sudah lepas landas, tak mungkin mundur atau berhenti mendadak; harus tetap maju dg mantap. Kalau sungguh ikut Yesus, berlaku hal ini: “Yen wani, aja wedi-wedi. Yen wedi, aja wani-wani.” Sungguh mau ikut Yesus dengan gembira dan setia dalam iman Katolik? “Scio cui credidi” (Aku tahu, kepada siapa aku percaya). Itulah pernyataan Paulus akan imannya kepada Yesus untuk mengikuti-Nya sampai akhir hidup.***d2t

 

Nasihat Rohani *Petrus Krisologus (400-450 M)*

“Ia adalah Roti yang ditabur dalam rahim Bunda Perawan, diragikan dalam daging, dibentuk dalam sengsara-Nya, dipanggang dalam dapur api makam, ditempatkan dalam Gereja, dan disajikan di atas altar-altar yang setiap hari menyediakan Makanan Surgawi bagi umat beriman.”

Jesus heals blind Bartimaeus Mark 10:46-52

Mengasihi daripada Menghancurkan Musuh

Minggu, 26 Juni 2016
Minggu Biasa XIII
1Raj 19:16b.19-21; Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62

Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, bolehkah kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”  Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan. Anak manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.”

MARILAH kita pusatkan perhatian kita pada Inil hari ini, khususnya pada reaksi Yakobus dan Yohanes terhadap orang Samaria dan bagaimana Yesus membimbing mereka. Kita mungkin heran membaca dan mendengarkan permohonan kedua murid itu untuk menghancurkan desa orang-orang Samaria. Apa yang terjadi dengan mereka dan mengapa?

Pada waktu itu, seperti kita ketahui dengan baik, hubungan antara orang Yahudi dan Samaria tidaklah harmonis. Mereka saling membenci satu sama lain dan mereka terpisah selama berabad-abad.

Itulah sebabnya, ketika Yesus hendak melewati daerah Samaria dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem, orang-orang di situ menolak Dia. Dalam situasi demikian, Yakobus dan Yohanes berkata kepada Yesus, “Tuhan bolehkah kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Kita lihat di sini, bahkan setelah bersama Yesus selama hampir tiga tahun, Yakobus dan Yohanes masih jatuh dalam amarah hebat yang meledak-ledak.

Syukur kepada Allah, Yesus menegur mereka yang tidak memiliki toleransi itu. Ia membimbing mereka untuk mengasihi orang-orang yang menolak dan mencederai mereka.

Dengan pengalaman ini, Yesus juga hendak mengajar kita bahwa Ia akan mengalami penolakan dan penganiayaan untuk mendamaikan setiap orang dengan Allah dan sesama. Maka, alih-alih menghancurkan mereka yang membenci-Nya, Yesus menawarkan persahabatan dan kerahiman. Bahkan, Ia rela mati di kayu salib, baik untuk orang Yahudi, Samaria, Galilea dan semua orang agar didamaikan dengan Allah.

Seperti Yesus Kristus demikianlah kita hari ini pun dipanggil untuk mencari kebaikan tertinggi setiap orang tak hanya sahabat kita tetapi juga orang yang memusuhi kita. Kita menyadari bahwa hari ini saling pengertian penuh kasih sangatlah diperlukan. Kita harus saling mengerti tak hanya di antara teman tetapi juga lawan.

Dengan mudah kita merendahkan orang lain dengan pikiran kita. Kita juga memiliki kecenderungan kuat untuk menghina orang lain dengan kata-kata kita. Kita mengkritik sesama dengan sadis, untuk menghancurkan, dengan amarah, sikap frustasi dan merasa diri paling benar, seperti Yakobus dan Yohanes. Semoga Tuhan Yesus Kristus mengubah hati kita untuk mengasihi sesama daripada menghancurkan mereka.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita berdoa agar kita mampu mengasihi mereka yang membenci kita. Bagaimana kita memperlakukan orang yang menyalibkan kita dan menganiaya kita dengan kesulitan? Apakah kita mencari kebaikan mereka daripada ingin membalas menyakiti mereka?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami untuk mengikuti Dikau. Anugerahilah kami rahmat untuk mengesampingkan segala hal yang menghambat kami untuk melakukan kehendak-Mu. Semoga kami mengasihi mereka yang menyulitkan hidup kami kini dan sepanjang masa. Amin

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Minggu, 26 Juni 2016

Hari Minggu Biasa XIII

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Raj. 19:16b,19-21; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18; Luk. 9:51-62. BcO Neh 4:1-23

Bacaan Injil: Luk. 9:51-62.

51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain. 57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” 61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Renungan:

YESUS tidak hanya pernah ditolak oleh orang Nasaret. Ternyata orang Samaria pun pernah menolak Dia. “Orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem” (Luk 9:53). Ia ditolak karena perjalanNya menuju Yerusalem. Kita ingat bagaimana tidak bersahabatnya Samaria dan Yerusalem.

Permusuhan dan persaingan Samaria dan Yerusalem membawa dampak pada sikap-sikap orangnya. Mereka jadi saling bermusuhan dan menganggap diri lebih dari yang lain. Makin parah ketika situasi itu mendarah daging dan mengalir dalam warisan keturunan mereka.

Namun Yesus pun menghentikan kemarahan para murid terhadap orang Samaria. Yesus tidak mau memperdalam permusuhan yang telah mewaris. Sikap Yesus ini membebaskan para murid dari amarah dan dendam.

Rasanya sebagai muridNya kita pun layak menghentikan amarah walau kita telah merasa ditolak. Kita masih mungkin pergi ke tempat lain.

Kontemplasi:

Bayangkan pengalamanmu ditolak. Bagaimana anda menata hatimu saat itu, ikutilah dan bandingkan dengan sikap Yesus.

Refleksi:

Apa yang perlu kita lakukan untuk menahan amarah?

Doa:

Tuhan semoga aku tetap sabar walau mengalami penolakan. Di saat itu aku tidak marah tapi menemukan alternatif yang mengatasi masalahku. Amin.

Perutusan:

Aku tidak akan marah dan akan mencari jalan lain kala ditolak. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

jesus_and_children

Iman dan Kerendahan Hati Yang Besar

Sabtu, 25 Juni 2016
Pekan Biasa XII
Rat 2:2.10-14.18-19; Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21; Mat 8:5-17

Pada suatu hari Yesus masuk ke Kapernaum. Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi perwira itu berkata kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

DALAM bacaan Injil hari ini kita menemukan contoh terbaik tentang iman dan kerendahan hati yang besar. Itu menggerakkan Hati Yesus untuk memberkati kita. Itulah pelajaran yang dapat kita petik dari kehidupan perwira yang datang kepada Yesus.

Ia datang kepada Yesus dan memohon pada-Nya untuk menyembuhkan hambanya. Ketika Yesus memutuskan untuk datang dan menyembuhkan hambanya, perwira itu menyahut, “Tu(h)an, aku tidak layak meneriman Tu(h)an di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

Sungguh, di sini kita membaca tak hanya perwira yang memiliki iman yang besar, tetapi juga kerendahan hati yang besar. Kerendahan hatinya tidak pura-pura namun sungguh asli. Yesus tak hanya memuji dia, tetapi juga memberkatinya dengan segala rahmat yang dia perlukan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus dengan iman dan kerendahan hati kita. Kerendahan hati itulah yang ditawarkan Gereja kita yang mengundang kita menghayatinya setiap kali kita mau menyambut Komuni dalam Ekaristi. Kita berdoa, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh!” Iman macam apakah yang kita punya? Apakah kita punya iman dan kerendahan hati?

Tuhan Yesus Kristus, kami tidak pantas menerima Dikau, bersabdalah sepatah kata saja, maka kami akan sembuh. Terima kasih Dikau datang dalam hidup kami, sebab kami akan mati tanpa Dikau kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net