marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Beristirahat dalam Kristus, Siap untuk Melayani Sesama

Sabtu, 6 Februari 2016
Pekan Biasa IV
Sabtu Imam
PW S. Paulus Miki dan teman-temannya, Martir
1Raj 3:4-13; Mzm 119:9.10.11.12.13.14; Mrk 6:30-34

Yesus berkata kepada mereka, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah Sejenak!”

DALAM Injil hari ini kita berjumpa dengan Yesus Kristus yang mengundang para murid-Nya untuk menyingkir ke tempat yang sunyii agar bisa beristirahat sejenak. Yesus tahu bahwa para murid-Nya membutuhkan saat beristirahat setelah karya dan perjalanan panjang mewartakan Kerajaan Allah. Mereka butuh waktu memulihkan energi baik secara fisik, mental maupun spiritual.

Saat beristirahat tidak sama dengan bermalas-malasan; juga bukan saat untuk kehilangan kepekaan rohani terhadap jiwa-jiwa yang harus dibawa kepada Allah dan kesiapsediaan untuk melakukan kehendak Allah setiap saat. Dalam saat istirahat mereka pun mereka harus siap untuk melaksanakan kehendak Allah dengan selalu siap melayani sesama.

Sebagaimana kita baca dalam Injil, kepekaan hati Yesus selalu siap melayani bahkan di saat hendak beristirahat sekalipun. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada banyak orang yang ingin mendengar Sabda Allah disampaikan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita juga membiarkan diri ke tempat yang sunyi untuk beristirahat dalam Dia. Di sana kita juga mohon agar siap melayani sesama dan memuliakan Allah senantiasa.

Tuhan Yesus Kristus, kami percaya bahwa Engkau hadir di sini. Bantulah kami menemukan saat beristirahat yang benar dalam Dikau. Kendati kelemahan, dosa dan ketidaksempurnaan kami, Engkau selalu mengasihi kami. Maka, syukur bagi-Mu atas kasih-Mu itu. Pakailah kami seperti yang Kau kehendaki untuk mengasihi, melayani dan membawa siapa pun dekat pada-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Sabtu, 6 Februari 2016

Peringatan Wajib St. Paulus Miki

warna liturgi Merah

Bacaan

1Raj. 3:4-13; Mzm. 119:9,10,11,12,13,14; Mrk. 6:30-34. BcO Kej. 37:2-4,12-36.

Bacaan Injil: Mrk. 6:30-34.

30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Renungan:

SUATU kali sepulang sekolah seorang anak mendekati mamanya. Ia menceritakan segala sesuatu yang terjadi di sekolah. Setelah mendengarkan semua cerita anaknya, sang ibu pun mengajak anak itu untuk minum dan makan. Setelah makan sang ibu akan menuntunnya untuk beristirahat. Anak pun mengikuti ajakan ibunya.

Para murid menceritakan segala yang mereka alami setelah diutus oleh Yesus. “Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan” (Mrk 6:30). Setelah mendengarkan semuanya Ia mengajak mereka untuk menyepi. “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk:31).

Ada banyak hal yang bisa menjadi bahan cerita kita. Setiap malam mungkin kita ingin bercerita tentang semua kejadian yang kita alami kepada Tuhan. Tuhan pasti mendengarkan kisah kita. Namun sebagaimana seorang ibu Ia akan mengajak kita masuk dalam keheningan dan istirahat. Kita diajak membatinkan pengalaman kita dalam keheningan.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Mrk. 6:30-34. Bayangkan dirimu sebagai para murid.

Refleksi:

Bagaimana menjaga keseimbangan antara berkisah dan membatinkan kisah?

Doa:

Tuhan terima kasih telah selalu mendengarkan kisah-kisahku. BersamaMu aku akan membawanya dalam keheningan batin. Amin.

Perutusan:

Aku akan membatinkan kisah-kisah hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

jesus-christ-pics-2203

Mendengarkan Sang Kebenaran dan Mengandalkan-Nya

Jumat, 5 Februari 2016
Pekan Biasa IV
PW S. Agata, Perawan dan Martir
Jumat Pertama Februari
Sir 47:2-11; Mzm 18:31.47.50.51;:Mrk 6:14-29

Pada waktu itu Raja Herodes mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya memang sudah terkenal, dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan kini bangkit lagi.”

APA yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari Injil hari ini? Dari kegelisahan Herodes terhadap pembunuhan yang telah dilakukannya terhadap Yohanes Pembaptis kita belajar bahwa mereka yang secara radikal menolak Allah,meskipun mereka memiliki kuasa, harga, cerdas tak terhingga, dan memiliki kemampuan serba bisa, namun hidupnya tak akan pernah damai-sejahtera. Maka, saat kebaikan sejati tampak dalam kehidupannya, hal itu hanya akan menjadi ancaman saja. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus Kristus hadir sebagai ancaman dalam hidup Herodes.

Herodes takut kepada Yohanes Pembaptis, tahu bahwa ia adalah orang yang suci dan merasa terhibur dengan kata-katanya, namun toh ia tidak menanggapinya secara positif. Herodes kehilangan kesempatan untuk mengasihi yang harus dikasihi. Inilah tragedi jaman ini juga, yang kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus yang membuka hati kita untuk mengandalkan Allah. Semoga kita menerima kasih dan tidak takut menempuh jalan kasih yang telah dibentangkan di hadapan kita. Semoga kita menjadi seperti para martir yang rela mati untuk beroleh kehidupan yang kudus yang bertahan hingga akhir, kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Orang Berdoa

Sabda Hidup: Jumat, 5 Februari 2016

Peringatan Wajib St. Agata

warna liturgi Merah

Bacaan

Sir. 47:2-11; Mzm. 18:31,47,50,51; Mrk. 6:14-29. BcO Kej. 35:1-29

Bacaan Injil: Mrk. 6:14-29.

14 Raja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan: “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” 15 Yang lain mengatakan: “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan: “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” 16 Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata: “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.” 17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. 18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” 19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, 20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. 21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. 22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, 23 lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” 24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” 25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” 26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. 27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. 28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. 29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Renungan:

SUDAH beberapa minggu berita di televisi memuat kisah kematian Mirna. Dikisahkan Mirna mati karena racun sianida. Sekarang ada yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun kita tidak tahu apa motif tindakan meracuni itu. Dan apakah akan terungkap, kita tidak tahu. Namun yang jelas rasanya tindakan itu dilandasi oleh sikap jahat karena suatu pengalaman tertentu.

Herodes bersikap jahat kepada Yohanes karena ia pernah mengkritiknya. “Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat” (Mrk 6:18-19). Niat jahat itu mendapatkan tempat perwujudannya kala putrinya memintanya memenggal kepala Yohanes.

Hidup terasa ngeri kalau dihiasi oleh sikap jahat. Sikap jahat itu pada saatnya akan mewujud dalam tindakan yang mencelakakan. Marilah kita menjauhkan diri dari sikap jahat. Kita bangun dalam diri kita niat-niat baik. Niat jahat akan membawa celaka. Niat baik akan menghadirkan kebahagiaan.

Kontemplasi:

Bayangkan orang yang diliputi niat jahat dan tindakan-tindakan jahatnya.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu menghapus niat jahat dan dendam.

Doa:

Tuhan, bebaskanlah aku dari dendam dan niat jahat. Semoga aku mudah mengampuni mereka yang bersalah. Amin.

Perutusan:

Aku akan mengusir sikap dendam dari hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

lo

Pentingnya Tim Kerja Rasuli

Kamis, 4 Februari 2016
Pekan Biasa IV
1Raj 2:1-4.10-12; Mzm: 1Taw 29:10.11ab.11d-12a.12bcd; Mrk 6:7-13

… Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua. ..

INJIL hari ini menyatakan kepada kita tentang Yesus Kristus yang memanggil kedua belas murid-Nya untuk diutus sebagai tim karya dalam mewartakan Kabar Sukacita-Nya. Ia memberi mereka kuasa untuk mengatasi roh-roh jahat, mengusir banyak setan, mengurapi orang sakit dengan minyak (suci) dan menyembuhkan mereka.

Orang bilang: Dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Yesus mengutus para murid-Nya berpasangan, berdua-dua. Mereka pertama-tama dan terutama dipanggil untuk menjadi saksi sukacita Injil dengan meneguhkan komunio dan karya kasih di antara mereka.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus yang mengajar kita prinsip tim karya (teamwork). Sebagai anggota para adorator kita juga dipanggil untuk menghayati tim karya kolegialitas rasuli. Kita saling memperkaya dengan kemampuan dan kualitas kita.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengutus para rasul-Mu pergi berdua-dua. Dengan itu Engkau hendak mengajar kami tentang pentingnya suatu tim karya (teamwork). Terima kasih atas anugerah kolegialitas rasuli. Perkembangkanlah dalam hati kami kasih persaudaraan sejati bagi mereka yang berkarya bersama kami dalam membangun kerajaan-Mu, sehingga dunia percaya bahwa Bapa telah mengutus Engkau kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Rosario

Sabda Hidup: Kamis, 4 Februari 2016

Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Raj. 2:1-4,10-12; MT. 1Taw. 29:10,11ab,11d-12a,12bcd; Mrk. 6:7-13. BcO Kej. 32:3-30

Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13.

7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, 8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, 9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. 10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. 11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” 12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, 13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. ”

Renungan:

SUATU hari seorang bapak datang dan memintaku untuk menyembuhkan sakit lehernya. Aku bingung karena aku tidak mempunyai kemampuan menyembuhkan. Aku berusaha menolaknya. Namun sang bapak terus memohon dan ia percaya kalau aku bisa menyembuhkan. Melihat keyakinan bapak itu aku jadi tidak tega. Aku lalu berdoa sejenak memohon Yesus bekerja untuk bapak itu. Setelah itu kupegang lehernya dan bapak itu sembuh.

Yesus selalu menyertai mereka yang percaya dan bermohon kepadaNya. Setiap orang yang percaya kepadaNya menjadi utusanNya. Ia pun akan memberikan kuasa dan kekuatan untuk melakukan karyaNya. Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat” (Mrk 6:7).

Iman pada Kristus memungkinkan kita melakukan tindakan kerasulan. Kristus selalu menyertai mereka yang menjadi utusanNya. Ia tidak akan pernah meninggalkan utusanNya. Ia akan memberikan sesuatu yang tak dimiliki utusanNya. Maka marilah dengan rendah hati kita jalani perutusanNya dan selalu mengandalkanNya.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu mendapat perutusan sebagai murid Kristus.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu melakukan sesuatu yang menurutmu tak mungkin kaulakukan namun terjadi karena dirimu mengandalkan Kristus.

Doa:

Tuhan aku percaya Engkau selalu mendampingiku. Bersama denganMu aku mampu melakukan hal-hal yang rasanya tak mungkin kukerjakan sendiri. Engkau besertaku. Amin.

Perutusan:

Aku percaya akan penyertaan Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

koi

Hanya Mengandalkan Yesus Kristus

Rabu, 3 Februari 2016
Pekan Biasa IV
PF S. Blasius, Uskup dan Martir
2Sam 24:2.9-17; Mzm 32:1-2.5.6.7; Mrk 6:1-6

Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Yesus mengajar di rumah ibadat, dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia.

MARI kita renungkan Yesus Kristus yang menyatakan tanda-tanda keilahian-Nya yang sejati dan perutusan-Nya yang benar di tempat asal-Nya. Ia datang ke kota asal-Nya, dan para murid-Nya menyertai Dia. Pada hari Sabat ia mulai mengajar di sinagoga.

Di sini kita mengetahui bahwa kuasa Allah, kuasa ilahi turut campur tangan melalui hal-hal yang alamiah, melalui seorang anak tukang kayu. Dari tangan-Nya memancar karya-karya agung yang menakjubkan. Itu menunjuk pada keilahian-Nya yang asali. Karya-karya itu mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan mengandalkan Dia.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita tidak hanya menyembah Yesus Kristus, tetapi juga menerima Dia sebagai Sang Penebus. Di sana kita membiarkan Dia mengubah sikap kita dalam cara tertentu hingga kita boleh hidup lebih beriman dan penuh kasih.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang hanya untuk membahagiakan kami dan mengangkat hidup kami menjadi lebih indah, mendalam dalam makna dan kaya dalam buah nyata. Bawalah ke dalam hidup kami daya kuasa-Mu untuk menyatakan mujizat dan memindahkan gunung ketakutan dan beban yang kami hadapi. Terima kasih sebab telah datang untuk menyembuhkan luka-luka kami dan memnghibur hati kami yang lemah. Ajarilah kami menerima Dikau dengan segenap hati dan siap untuk selalu mengandalkan kasih dan kerahiman-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Rabu, 3 Februari 2016

Blasius

warna liturgi Hijau

Bacaan

2Sam. 24:2,9-17; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 6:1-6. BcO Kej. 31:1-21

Bacaan Injil: Mrk. 6:1-6.

1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. 2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? 3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. 4 Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” 5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. 6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Renungan:

HIDUP layak dijalani dengan kepercayaan. Kepercayaan ini yang membuat sesuatu yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Sebaliknya ketidakpercayaan membuat sesuatu yang mungkin tidak dapat dikerjakan.

Suatu kali di dalam suatu pelatihan outbound di Youth Center Salam banyak peserta yang percaya mampu menyelesaikan segala tantangan yang disediakan. Namun sebaliknya mereka yang tidak percaya akan mengemukakan banyak alasan dan tidak bisa melalui tantangan yang ada. Bahkan ada yang katanya mempunyai kemampuan tertentu pun tidak sanggup mengerjakan.

Yesus pun tidak membuat sesuatu karena orang-orang mempertanyakan diriNya. Mereka tidak percaya pada kuasaNya karena mengenal keluargaNya. Maka marilah kita bangun kepercayaan dalam hidup kita. Dengan kepercayaan yang kita miliki Tuhan akan menemani kita mengadakan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin.

Kontemplasi:

Duduklah dengan tenang. Hadirkan satu dua pengalaman yang menggambarkan kegagalanmu. Hadirkan kepercayaanmu. Lakukan itu. Rasakan keberhasilannya.

Refleksi:

Bagaimana menghidupkan kepercayan dalam dirimu kala keraguan datang?

Doa:

Tuhan aku percaya Engkau ada di dekatku. Engkau menemani langkahku menuju keberhasilan hidup dalam namaMu. Amin.

Perutusan:

Aku tidak meragukan penyertaan Tuhan yang membuatku mampu. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

kemuridan-ibu-yakobus-minta-kpd-yesus

Mempersembahkan Hidup Kita Kepada Allah Dalam Yesus Kristus

Selasa, 2 Februari 2016
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Mal 3:1-4; Mzm 24:7.8.9.10; Ibr 2:14-18; Luk 2:22-40

…  Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” …

HARI ini adalah Pesta Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Allah. Sementara membaca Injil ini, saya tertarik untuk merenungkan ayat ini, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.”

Ya, pertama-tama ayat itu menunjuk pada Yesus yang menjadi anak sulung Bunda Maria. Bunda Maria dan St. Yosef membawa Yesus ke Yerusalem untuk mempersembahkan-Nya kepada Allah sebagaimana tertulis dalam hukum-Nya, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Alah” dan mempersembahkan korban. Dalam gendongan Maria, dipersembahkanlah persembahan yang paling berharga, sebab tiada persembahan lain yang bermakna tanpa Dia.

Sejak dibawa masuk ke Bait Allah untuk pertama kalinya, Yesus adalah satu-satunya Anak Domba Allah yang rela untuk dikorbankan dan dipersembahkan. Kini, Ia juga memampukan kita untuk mempersembahkan hidup kita dalam tugas perutusan demi nama-Nya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah dalam nama-Nya. Persembahan itu mendatangkan kehidupan baru yang dibangkitkan dalam Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus Kristus, buatlah jiwa kami sebagai bait suci yang layak bagi-Mu untuk memasukinya. Semoga hati kami dicurahi kemurnian dan kekudusan. Baruilah persembahan pribadi kami pada Hati-Mu dalam Adorasi Ekaristi kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Orang Berdoa

Sabda Hidup: Selasa, 2 Februari 2016

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

warna liturgi Putih

Bacaan

Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32). BcO Kel. 13:1-3a,11-16

Bacaan Injil: Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32).

22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” 36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Renungan:

SUATU kali ada seorang tua sakit. Dokter sudah menyerahkan pada keluarga. Keluarga pun membawanya pulang. Sakitnya makin hari makin berat. Sampai akhirnya sang anak bungsu datang. Ia sudah lama menghilang dan tidak memberi kabar. Orang tua itu gembira menyambut anaknya. Ia bisa bangkit dan memeluk anaknya. Selang beberapa hari kemudian orang tua itu meninggal.

Simeon menantikan kehadiran Mesias. Sepanjang hidupnya ia habiskan di Bait Allah untuk menyambut kehadiran sang Mesias. Ketika Yesus datang untuk dipersembahkan ia melihat Mesias ada dalam diri Yesus. Maka ia pun mengatakan, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk 2:29-32).

Dalam hidupnya seorang manusia sering mempunyai sesuatu yang dinantikan. Ia sungguh-sungguh menantikan itu. Siang malam doanya selalu berfokus pada poin tersebut. Ketika hal tersebut datang, ia pun lega dan siap untuk mati. Mungkin di antara kita pun ada yang menantikan sesuatu. Marilah kita tekun seperti Simeon. Pada saatnya yang kita nantikan akan datang menghampiri hidup kita.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan Simeon yang setia menantikan kehadiran Mesias.

Refleksi:

Apa yang kau lakukan bila mempunyai keinginan?

Doa:

Terima kasih Tuhan atas teladan Simeon. Semoga aku juga mempunyai kesetiaan seperti Simeon menantikan kehadiranMu. Amin.

Perutusan:

Aku akan tekun mengharapkan kehadiran impianku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net