_MG_0226

Menjadi Saksi Kebenaran

Senin, 29 Agustus 2016
Pekan Biasa XXII
PW Wafatnya S. Yohanes Pembaptis
Yer 1:17-19; Mzm 71:1-4a.5-6b.15.17; Mrk 6:17-29

Yohanes pernah menegur Herodes, “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes, dan bermaksud membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes, karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci; jadi ia melindunginya.

HARI ini adalah peringatan wajib wafat St. Yohanes Pembaptis, Dalam hidupnya, ia tidak takut menganggung konsekuensi dari tindakannya. Mengapa? Itu karena ia tahu bahwa jiwa ia sungguh percaya dan setia, Allah akan selalu berada di sisinya dan tidak pernah membiarkan dirinya hancur, bahkan jika harus menderita karena kebenaran.

Dari hidupnya kita belajar bahwa kita pun perlu memberi kesaksian dengan berani kepada sesama tentang kebenaran. Saat kita bersaksi tentang kebenaran, Allah akan bersama kita dan kita tidak akan punya alasan untuk takut.

Sesungguhnya, Allah tidak pernah meninggalkan pendosa. Ia bahkan memberi kita, para pendosa, rahmat untuk berbalik kepada-Nya. Maka, kita tidak boleh kehilangan pengharapan bagi orang yang tampaknya tersesat dalam dosa. Kita harus selalu terus mewartakan kebenaran dengan kasih dan berdoa bagi pertobatan sejati.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus yang dapat mengubah hati bahkan para pendosa yang terburuk sekalipun. Ia telah banyak mengampuni kita. Ia selalu mampu mengampuni kita. Apakah kita membuka hati kita pada kerahiman dan kasih-Nya?

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tidak pernah takut menanggung konsekuensi untuk mewartakan kebenaran. Berilah kami rahmat kesadaran yang baik untuk selalu mewartakan kebenaran dengan kasih kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Senin, 29 Agustus 2016

Peringatan Wajib

Wafatnya St. Yohanes Pembaptis

warna liturgi Merah

Bacaan

Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29. BcO Am. 1:1 – 2:3

Bacaan Injil: Mrk. 6:17-29.

17 Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. 18 Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” 19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, 20 sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. 21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. 22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, 23 lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” 24 Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” 25 Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” 26 Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. 27 Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. 28 Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. 29 Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Renungan:

SAKIT hati dan dendam membawa seseorang pada kejahatan. Beberapa kasus pembunuhan dipicu oleh rasa hati seperti itu. Seseorang membunuh pasangannya karena sakit hati. Yang lain membunuh karena dendam. Sakit hati dan dendam merangkai dorongan untuk berlaku jahat.

Herodes sakit hati kepada Yohanes karena Yohanes berkata, “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” (Mrk 6:18). Ia pun ingin menghabisi Yohanes tapi tidak mampu karena segan kepadanya. Namun dendamnya tak hilang. Ia memenjarakan Yohanes bahkan memenggal kepala Yohanes ketika ia harus memenuhi janjinya kepada anak tirinya.

Kiranya kita perlu menjauhkan diri dari rasa sakit hati apalagi dendam. Memang tidak mudah kala rasa itu sempat hinggap. Namun salah satu hal yang bisa membuat kita terbebas dari sakit hati dan dendam adalah kita mampu menerima segala peristiwa yang kita hadapi sebagai bagian dari sejarah hidup kita. Kata-kata yang keras, perlakuan tidak adil dll kita bawa sebagai bagian sejarah hidup yang membentuk diri kita dan kita terima sebagai pelecut untuk menjadi semakin baik.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu mendapat kritikan tajam dari seseorang atau kelompok tertentu.

Refleksi:

Bagaimana caramu supaya tidak jatuh pada sakit hati dan dendam?

Doa:

Bapa jauhkanlah diriku dari rasa sakit hati dan dendam. Amin.

Perutusan:

Aku akan berusaha untuk tidak sakit hati dan dendam. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Yesus Menampakan Diri ke para murid

Siap Siaga Menyambut-Nya!

Jumat, 26 Agustus 2016
Pekan Biasa XXI
1Kor 1:17-25; Mzm 33:1-2.4-5. 10ab.11; Mat 25:1-13

Pada suatu hari Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

YESUS Kristus menyimpulkan sabda-Nya dalam Injil hari ini, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”  Apa artinya?

Pertama-tama, Ia mengundang kita untuk selalu siap siaga menyambut kedatangan Tuhan. Ia datang pada saat dan dengan cara yang tidak diduga dan setiap saat sepanjang hari.

Ia mengingatkan kita untuk selalu memilik cadangan minyak kehidupan. Kita harus bijaksana tidak seperti gadis bodoh yang gagal mengantisipasi kapan dan bagaimana Tuhan datang pada mereka dan mereka tidak siap.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita menyambut kedatangan-Nya setiap saat dan tidak pernah membiarkan kesempatan untuk mengasihi dan melayani Dia berlalu dari kita. Di sana iman kita selalu siap sedia berjaga-jaga menyambut-Nya. Apakah kita siap berjaga-jaga setiap saat?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajar kami dengan jelas tentang bagaimana kami harus siap dan selalu berjaga menyambut Dikau dalam hidup kai. Betapa mengerikan jadinya memilih kematian dari pada kehidupan kekal bersama-Mu! Buatlah kami siap sedia dan berjaga-jaga melihat Dikau selalu dalam segala hal dan melakukan kehendak-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

lop

Sabda Hidup: Jumat, 26 Agustus 2016

Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Kor. 1:17-25; Mzm. 33:1-2,4-5,10ab,11; Mat. 25:1-13. BcO 1Tim. 3:1-16

Bacaan Injil: Mat. 25:1-13.

1 “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Renungan:

SUATU kali saya bertemu dengan beberapa orang di daerah tertentu. Daerah itu sering mengalami konflik dalam kurun waktu tertentu. Dan mereka ini pun sering menjadi korbannya. Saya bertanya kepada mereka, “Kalian tidak takut tinggal di daerah ini? Kalau ada konflik kan seringkali rumah dan harta anda dibakar?” Mereka pun menjawab, “Tidak Rama. Karena sering terjadi seperti itu maka yang kami tampakkan sebagai milik kami hanya 30% dari yang kami miliki. Sehingga kalau konflik itu terjadi kami bisa segera bangkit lagi.”

Kisah itu mengingatkan saya pada gadis-gadis bijaksana. “gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka” (Mat 25:4). Gadis-gadis bijaksana membawa cadangan minyak sebagai persediaan kalau-kalau mempelai tidak segera datang.

Rasanya kita bisa belajar dari kisah di Injil dan cerita singkat di atas. Bagaimanapun kita perlu menyiapkan cadangan dalam hidup kita. Sewaktu-waktu terjadi sesuatu maka kita pun siap bangkit lagi.

Kontemplasi:

Pejamkan sejenak matamu. Lihatlah persiapan dan cadangan apa yang kaumiliki untuk menghadapi situasi tak terduga.

Refleksi:

Apa yang perlu kaulakukan agar bisa menyiapkan “minyak cadangan dalam buli-buli” hidupmu?

Doa:

Tuhan banyak situasi yang tak terduga yang mungkin kualami. Semoga aku mempunyai cadangan yang bisa kugunakan kala hal tersebut terjadi. Amin.

Perutusan:

Aku akan menyiapkan “minyak cadangan” untuk hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

kemuridan-ibu-yakobus-minta-kpd-yesus

Jadi Hamba Setia Bijaksana

Kamis, 25 Agustus 2016
Pekan Biasa XXI
1Kor 1:1-9; Mzm 145:2-7; Mat 24:42-51

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Berjaga-jagalah, sebab kalian tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang.”

DARI Injil hari ini kita menyadari bahwa tak seorang pun dari kita tahu berapa lama kita hidup di dunia ini. Maka kita perlu selalu siap berjumpa Yesus Kristus, Tuhan kita di surga. Kita perlu hidup seakan-akan tiap hari adalah hari terakhir kita.

Sabda Yesus hari ini membuat kita sadar bahwa setiap saat kita itu berharga dan penting di mata Allah, dan satu hal yang penting adalah berkarya meraih keselamatan kita. Kita harus menjadi hamba yang benar bijaksana yang siap siaga selalu.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus yang menghendaki kita menjadi orang setia mengikuti kehendak-Nya tiap hari. Sesungguhnya, inilah jalan menuju kekudusan dan persatuan dengan Allah. Tak ada jalan lain untuk dekat dengan-Nya kecuali dengan melakukan kehendak-Nya mengalir dari cinta dan syukur. Apakah kita menjadikan Yesus Kristus pusat hidup kita?

Tuhan Yesus Kristus setiap hari kami perlu membarui semangat iman kami pada-Mu dan di hadirat-Mu selalu, dengan hidup menyenangkan-Mu. Kita butuh hidup di hadirat-Mu melalui iman pada-Mu dalam Adorasi Ekaristi Abadi yang membimbing kami sepanjang jalan menuju hidup abadi. Bantulah kami percaya tiap saat hingga dapat menyenangkan Dikau, melakukan kehendak-Mu dan bertumbuh dalam kesucian kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

jesus-christ-pics-2203

Sabda Hidup: Kamis, 25 Agustus 2016

Ludovikus, Yosef dr Calasanz

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Kor. 1:1-9; Mzm. 145:2-3,4-5,6-7; Mat. 24:42-51. BcO 1Tim. 2:1-15

Bacaan Injil: Mat. 24:42-51.

42 Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. 43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. 44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” 45 “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? 46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, 50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, 51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”

Renungan:

DALAM beberapa kesempatan saya mendapat laporan bahwa tulisan Sabda Hidup ini sering dishare orang. Ada satu orang yang mendapat lebih dari satu kali renungan yang sama. Tentu hal ini menyenangkan. Namun ada pula yang protes kenapa inisial “nasp” (yang adalah singkatan nama saya) dihapus, urutannya diubah, bahkan saya pun sempat menerima judul diganti dan penulis ditulis nama sang pengirim. Hmmm saya tidak tahu juga apa maksudnya. Mungkin orang tersebut tidak sengaja. Tapi kalau tidak sengaja kok terus-terusan. Mungkin juga dia pingin dikenal sebagai penulis. Atau apa tidak tahu.

Banyak mungkin yang kita lakukan itu diambil orang dan diakui sebagai miliknya. Sering kita yang mau berbagi tidak sadar ada yang berlaku seperti itu dengan yang kita bagi dengan cuma-cuma. Namun hal seperti itu pasti akan kita ketahui pada saatnya. Tuhan bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya” (Mat 24:47).

Memang tidak ada hak cipta dalam sebuah renungan. Namun kiranya kita pun perlu menghormati siapa yang membuat dan dengan jujur mengakui bahwa itu buatan orang lain. Kita tidak perlu sungkan untuk mengakui apa yang sebenernya bukan milik kita. Sebaliknya kita perlu punya malu kala mengklaim yang bukan milik kita. Tuhan telah menyediakan banyak pengawas.

Kontemplasi:

Duduklah dengan tenang. Bayangkan dirimu diberi kepercayaan untuk merawat rumah dan harta kekayaan orang. Sang tuan rumah lama tak berkabar.

Refleksi:

Bagaimana sikapmu dalam menghormati milik orang lain?

Doa:

Tuhan semoga dunia ini terisi oleh sikap saling hormat atas milik sesamanya. Amin.

Perutusan:

Aku tidak akan mengaku milik orang lain sebagai milikku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Datang, Melihat dan Percaya pada-Nya

Rabu, 24 Agustus 2016
Pesta S. Bartolomeus, Rasul
Why 21:9b-14; Mzm 145:10-13b.17-18; Yoh 1:45-51

Sekali peristiwa, Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!” … Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

INJIL hari ini menyampaikan kepada kita tentang Nathanael. Secara tradisional, Nathanael yang disebut St. Yohanes Penginjil adalah Santo Bartolomeus, Rasul, yang hari ini kita rayakan pestanya.

Kita membaca dalam Injil, Nathanael menerima panggilan dari Yesus sebagai Rasul meski tidak secara langsung, namun melalui perantara yakni Filipus yang memperkenalkan Yesus kepadanya. Meski pada awalnya ia meragukan-Nya, namun tidak menolak sepenuhnya ide untuk berjumpa dengan Yesus.

Dari perjumpaan pertamanya yang sederhana dengan Yesus Kristus, ia menjadi seorang Santo besar yang menghidupi imannya dalam persatuan mendalam dengan Allah. Ia menjadi rasul Yesus bahkan mati sebagai martir demi iman.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita berdoa agar perjumpaan kita dengan Yesus Kristus menghasilkan pengakuan iman yang jelas dan pasti seperti St. Bartolomeus. Ia memiliki relasi yang langsung dan kuat dengan Yesus Kristus sebagai Putra Allah. Apakah kita ragu untuk berjumpa dan menyembah Yesus Kristus? Apakah kita mau datang dan menyembah Dia?

Tuhan Yesus Kristus, kami kadang menjadi skeptis, tidak percaya bahwa Dikau dapat mengubah hidup kami. Kami percaya pada sinar kemuliaan-Mu yang mengagumkan meski hal ini tersembunyi bagi mata kami. Kami mengasihi-Mu, Tuhan, buatlah kami semakin mesra berelasi dengan Dikau kini dan selamanya. Amin.

Sumber  : www.sesawi.net

jesus-christ-pics-2203

Sabda Hidup: Rabu, 24 Agustus 2016

Pesta St. Bartolomeus Rasul

warna liturgi Merah

Bacaan

Why. 21:9b-14; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh. 1:45-51. BcO Kis. 5:12-32 atau 1Kor. 1:17-2:5 atau 1Kor. 4:1-16

Bacaan Injil: Yoh. 1:45-51.

45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” 46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” 47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” 48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” 49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” 50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” 51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan:

RASA heran menghantar kita pada kagum dan percaya. Natanael heran karena Yesus sudah tahu kala ia dan Filipus berada di bawah pohon ara. Ia pun kagum kepada Yesus dan percaya kepadaNya. Yesus pun menjanjikan kepadanya bahwa ia akan melihat hal-hal yang lebih besar lagi.

Saat ketemu dengan orang-orang yang suka meneliti kebanyakan dari mereka pun berangkat dari heran akan sesuatu. Kadang-kadang kita yang bukan peneliti pun heran kenapa dia heran dengan sesuatu yang tampaknya biasa. Misalnya soal air hujan. Peneliti akan heran dengan keberadaan air hujan. Ia akan mencari banyak data darinya dan mengumpulkan aneka referensi untuk mendukung penelitiannya. Bagi orang pada umumnya hujan ya hujan. Kalau hujannya terlalu besar bisa menakutkan dan menimbulkan banjir.

Namun demikian setiap orang pasti akan mempunyai rasa heran akan sesuatu. Kalau kita lanjutkan maka kita pun akan menjadi kagum dan percaya. Maka kiranya kita tidak perlu merasa udik kalau heran dengan sesuatu. Rasa heran kita bisa menghantar dan menguatkan iman kita. Natanael pun menjadi beriman kepada Yesus.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Ikuti kisah dalam Injil Yoh. 1:45-51. Bandingkan dengan pengalaman imanmu.

Refleksi:

Bagaimana mengelola rasa heranmu?

Doa:

Tuhan banyak karyaMu yang membuatku terheran-heran. Semoga aku tidak berhenti hanya pada rasa heran tapi terus membawanya pada peneguhan imanku kepadaMu. Amin.

Perutusan:

Aku akan menemukan rasa heranku dan mengelolanya dengan baik. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Jesus heals blind Bartimaeus Mark 10:46-52

Melakukan Keadilan dan Belas Kasih

Selasa, 23 Agustus 2016
Pekan Biasa XXI
2Tes 2:1-3a.13b-17; Mzm 96:10-13; Mat 23:23-26

Pada waktu itu Yesus bersabda,
“Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kalian bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.”

DALAM Injil hari ini Yesus Kristus mengajarkan kepada kita untuk mendedikasikan hidup kita pada hal-hal yang lebih mendalam ketimbang hal-hal yang tampak lahiriah. Menurut Yesus, hal-hal yang lebih mendalam adalah keadilan, belas kasih dan iman. Itulah panggilan kita yang sejati, mengubah hati kita sesuai dengan sabda-Nya.

Kita harus membentangkan jiwa kita dan meyakinkan maksud hati kita di balik semua tindakan kita berdasarkan motivasi yang suci. Kita harus menggunakan semua bakat, harta dan milik kita untuk mencari Dia dan kerajaan-Na. Kita perlu menjadikan hati kita seperti hati-Nya, dalam kemurahan hati dan kerahiman kepada sesama.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita belajar untuk menguji hati kita hingga kita dapat berkarya dengan intensi yang murni. DI sana kita menyadari bahwa kita kadang-kadang berkarya hanya agar dilihat orang, tampak saleh dan suci, namun di kedalaman hati kita dipenuhi oleh penghakiman negatif, dan kurangnya kerahiman bagi sesama. Betapa sering kita mencoba menyenangkan Allah dengan cara yang salah, dengan menyangka kita melakukan kehendak-Nya namun sesungguhnya kita hanya melakukan kehendak kita sendiri?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajarkan kepada kami bahwa keutamaan mengalir dari kedalaman hati kami tempat Roh Kudus bertahta dan menginspirasi kami seturut kehendak-Nya. Bantulah kami untuk peka terhadap Roh Kudus dan mengikuti bimbingan-Nya. Semoga kami melakukan keadilan dan kerahiman dalam kehidupan kami sehari-hari. Biarkanlah kami mengesampingkan semua hal yang fana dan damba akan hal-hal yang lahiriah yang tidak memberi kemuliaan bagi-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net