jesus-christ-pics-2203

Menghargai Tanda-Tanda-Nya dan Percaya pada Yesus Kristus

Jumat, 30 September 2016
Pekan Biasa XXVI
PW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Ayb 38:1.12-21;39:36-38; Mzm 139:1-3.7-10.13-14b; Luk 10:13-16;

Yesus berdabda, “Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

TOPIK yang dapat kita refleksikan dari Injil hari ini adalah tentang kerelaan menghargai Yesus Kristus sebagai anugerah terbaik dari Allah dalam kehidupan kita. Kita lalu menggunakan kemampuan terbaik kita untuk kemuliaan-Nya.

Kita sering membaca dalam Injil Yesus Kristus sebagai pelaku mujizat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati. Namun kini kita melihat sisi di balik mujizat ini yakni Ia meminta jawaban dari kita. Tak cukup bahwa kita sekadar kagum pada karya mujizat-Nya. Kita dipanggil untuk bertobat dan berbalik (pada-Nya).

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita tak hanya berjumpa dengan Yesus Kristus tetapi juga menyembah Dia dengan penuh kasih. Ini akan mendorong kita untuk menggapai kekudusan, pertobatan hati terus-menerus, dan semangat membangun Gereja. Bagaimana kita menjawab rahmat Allah dan berkat-Nya dalam hidup kita? Seberapa banyak kita berubah sesudah berjumpa Kristus?

Tuhan Yesus Kristus bantulah kami untuk menghargai anugerah-anugerah-Mu dan menggunakan itu dengan kemampuan terbaik kami demi kemuliaan-Mu. Semoga kami memahami bahwa ketaatan pada kuasa-Mu adalah pertumbuhan dalam kerendahan hati dan kekudusan. Ubahlah hidup kami dalam kasih kerahiman-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Jumat, 30 September 2016

Peringatan Wajib

St. Hieronimus, ImPujG

warna liturgi Putih

Bacaan

Ayb. 38:1,12-21; 39:36-38; Mzm. 139:1-3,7-8,9-10,13-14ab; Luk. 10:13-16. BcO Ydt. 12:1-13:2

Bacaan Injil: Luk. 10:13-16.

13 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. 14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. 15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! 16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Renungan:

SUATU kali ada seorang anak yang bener-bener tidak mau menerima makanan dari orang lain kalau tidak lewat dari orang tuanya. Telusur punya telusur ternyata ia pernah menerima makanan dari orang lain dan setelah dimakan perutnya jadi sakit dan diare. Lalu orang tuanya mengingatkan supaya tidak menerima makanan dari orang lain kalau tidak atas restu mereka. Anak itu mengingat pesan tersebut dan melakukan pesan tersebut.

Yesus memberikan sabda celaka pada Khorazim dan Betsaida. Mereka telah mendengarkan sabda-Nya berulangkali namun tidak berubah, bahkan mungkin tidak mendengarkan. Tidak ada perubahan sama sekali dalam tata cara hidup mereka. Mereka tidak mendengarkan suara dari Tuhan.

Belajar dari sang anak tadi rasanya kita pun perlu sungguh mengindahkan kata-kata yang membentuk kita. Kita tidak perlu membandel membuat sesuatu yang bisa membuat kita celaka. Pengalaman satu kali sudah terlalu banyak bagi kelangsungan hidup kita. Sokur-sokur kita tidak masuk dalam suasana celaka.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Ingatlah perjumpaanmu dengan seseorang yang mengatakan sesuatu yang menyelamatkan hidupmu.

Refleksi:

Bagaimana melepaskan diri dari sikap membandel?

Doa:

Bapa, semoga aku terbuka akan sabda-Mu. Bebaskanlah aku dari marabahaya dan celaka. Amin.

Perutusan:

Aku tidak akan bermain dalam perbuatan yang membuatku celaka. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Menyembah Yesus Kristus Bersama Para Malaikat

Kamis, 29 September 2016
Pesta S. Mikael, Gabriel. Rafael, Malaikat Agung
Dan 7:9-10.13-14; Mzm 138:1-2a.2b-3.4-5; Yoh 1:47-51

Tatkala melihat Natanael datang, Yesus berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya! …. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka, dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

HARI Ini adalah Pesta St. Mikael, St. Gabriel dan St. Rafael, Para Malaikat Agung. Gereja menghormati pelayanan suci para Malaikat Agung, St. Mikael, St. Gabriel, dan St. Rafael. Mereka siap sedia mengabdikan kasih suci mereka bagi kehendak Allah Mahakudus.

Allah memberu tugas mulia dan mereka sungguh menggenapinya. Mereka melakukan tugas-tugas mereka dengan setia. St. Mikael mengalahkan Lucifer dan mengusir mereka dari sorga. St. Gabriel dengan setia memberi kabar penting sejarah keselamatan kepada Zakaria dan Maria. St. Rafael datang menolong dan menyembuhkan Tobias dalam Perjanjian Lama.

Dalam Injil hari ini, Yesus Kristus berkata kepada Natanael, “Inilah orang Israel sejati.” Lalu Ia menjanjikan padanya bahwa ia akan melihat para malaikat naik turun dari bumi ke surga dan bumi menyertai Anak Manusia. Seperti Natanael, dalam diri malaikat pun tak ada kepalsuan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus seperti para malaikat surga. Tidakkah itu hal yang besar bagi kita menjadi sarana kasih Allah yang tanpa batas seperti ketiga Malaikat Agung itu?

Tuhan Yesus Kristus Engkau memandang kedalaman hati dan tak menghakimi dari yang tampak. Terima kasih memberi  contoh kami dalam diri tiga Malaikat Agung ini. Mereka menolong kami dalam perjalanan pada-Mu hingga kami dapat memuliakan Dikau dalam keabadian selama-lamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Kamis, 29 September 2016

Pesta St. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung

warna liturgi Putih

Bacaan

Dan. 7:9-10,13-14 atau Why. 12:7-12a; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,4-5; Yoh. 1:47-51. BcO Why 12:1-18

Bacaan Injil: Yoh. 1:47-51.

47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” 48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” 49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” 50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” 51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Renungan:

NAMA malaikat agung Mikael, Gabriel dan Rafael sering dipakai menjadi nama (baptis) pelindung seseorang. Hari ini adalah pestanya. Selamat berpesta nama.

Tentu bukan tanpa alasan seseorang memilih nama itu sebagai nama depan mereka. Daya kekuatan, perlindungan dan sukacita menjadi harapan mereka yang memilihnya. Ketiga malaikat ini sungguh menjadi daya kehidupan umat manusia. Mereka yang menjaga dan menuntun manusia agar sampai kepada Allah.

Tuntunan tersebut mengantar seseorang mengenali siapa Tuhan dan bagaimana dia hidup di hadapan-Nya. Natanael dituntun kepada Tuhan Yesus. Ia pun kemudian mengenal siapa Yesus itu.

Ada banyak tuntunan dalam hidup kita yang menghantar kita kepada Tuhan. Maka marilah dengan rendah hati kita menerima tuntunan itu untuk sampai kepada Tuhan.

Kontemplasi:

Duduklah dalam keheningan. Bayangkan tiga malaikat agung di hadapanmu. Mereka menuntunmu pada jalan Tuhan.

Refleksi:

Bagaimana merasakan tuntunan Malaikat dan sesama kepada Tuhan?

Doa:

Bapa terima kasih atas utusan-Mu yaitu para malaikat agung. Semoga aku selalu berada dalam tuntunannya untuk menuju kepada-Mu. Amin.

Perutusan:

Aku akan menangkap dan mengikuti tuntunan malaikat Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

lo

Harga Mengikuti Yesus Kristus

Rabu, 28 September 2016
Pekan Biasa XXVI
Ayb 9:1-12.14-16; Mzm 88:10b-15; Luk 9:57-62

… datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus “Aku akan mengikut Engkau, ke mana pun Engkau pergi.” Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” … “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” … “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Sabda-Sabda Yesus dalam Injil hari ini menantang kita untuk rela . Ia memanggil kita mengikuti Dia ke mana pun, apa pun pengorbanan yang harus kita tanggung. Kita akan menemukan tantangan dari hari ke hari yang tak mengenakkan karena Yesus sebagai Anak Manusia tak punya bantal untuk meletakkan kepala-Nya.

Ia juga menghendaki kita memangkas semua ikatan duniawi kita seketika dan terlibat dalam karya Kerajaan Allah. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita harus rela membuat pilihan fundamental bagi-Nya semata.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita hendak belajar menjawab panggilan-Nya. Di sana kita membayar harga mengikuti jejak-Nya dengan bebas dan rela. Semua hambatan fapat menjadi harga mengikuti Dia. Berapa harga yang ingin kita bayar dalam mengikuti Yesus Kristus?

Tuhan Yesus Kristus bantulah kami memusatkan energi-energi yang lebih baik pada-Mu dan yang Kau minta dari kami. Semoga kami tak terikat pada pada aktivitas, harta materi atau bahkan relasi-relasi yang tak membantu hidup rohani kami kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

uu

Sabda Hidup: Rabu, 28 September 2016

Wenseslaus, Laurensius Ruiz

warna liturgi Hijau

Bacaan

Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88:10bc-11,12-13,14-15; Luk. 9:57-62. BcO Ydt. 8:1a,10-14,28-33; 9:1-14

Bacaan Injil: Luk. 9:57-62.

57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” 58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” 61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Renungan:

SERINGKALI saya ditanya, “Rama berapa orang dulu seangkatan di Merto?” “Kala MP ada 69, lalu di MU ada tambahan sekitar 42,” kataku. “Lalu yang jadi berapa?” tanyanya. “Semua jadi,” jawabku. “Semua ditahbiskan?” “O kalau yang ditahbiskan hanya beberapa, kalau yang jadi tampaknya semua jadi.” Ternyata yang ditanyakan “jadi” adalah mereka yang “jadi imam”, menerima tahbisan. Ya memang hanya sebagian saja dari jumlah tersebut yang ditahbiskan.

Setiap kali menyangkut suatu komunitas pasti ada kisah di mana anggota komunitas tersebut bertambah atau berkurang. Seringnya sih mengalami peristiwa berkurang. Mereka yang tidak sepaham, tidak cocok lagi dengan komunitas akan meninggalkannya. Banyak alasan yang bisa digali kenapa seseorang meninggalkan komunitas tersebut.

Salah satu syarat mengikuti Yesus adalah fokus pada jalan dan langkah Yesus. Tidak bisa mereka yang mengikuti-Nya tapi membagi perhatiannya kepada yang lain. Hal ini diminta Yesus supaya hati dan pikiran para pengikut menyatu dengan hati dan pikiran-Nya.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu sedang duduk merenungkan bagaimana fokusmu dalam mengikuti Yesus Kristus.

Refleksi:

Bagaimana bisa fokus pada yang sedang kita geluti?

Doa:

Tuhan bebaskanlah aku dari sikap mendua. Semoga arah dan tujuanku selalu selaras dengan arah dan tujuan-Mu. Amin.

Perutusan:

Aku akan memfokuskan diri pada arah dan tujuan Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

yesus-dan-murid-4

Strategi Kerendahan Hati Yesus

Selasa, 27 September 2016
Pekan Biasa XXVI
PW S. Vinsensius de Paul, Imam
Ayb 3:1-3.11-17.20-23; Mzm 88:2-8; Luk 9:51-56

… orang-orang Samaria di situ tidak mau menerima Dia,
karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem..Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, bolehkah kami menurunkan api dari langit untuk membinasakan mereka?” Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka, “Kalian tidak tahu apa yang kalian inginkan. Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkannya.”

INJIL hari inimewartakan bahwa Yesus dengan tegas menetapkan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Ia pergi ke Yerusalem untuk memberikan diri-Nya demi membebaskan kita dari dosa. Sungguh, Ia mendekati “peperangan”-Nya di Yerusalem sebagai domba menuju pembantaian.

Dengan cepat kita belajar bahwa senjata perang-Nya adalah kerendahan hati. Strategi Yesus adalah kebaikan, kelembutan, kasih dan kerendahan hati.

Ketika fanatisme orang-orang Samaria menolak Dia karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem, Yesus dengan rendah hati memilih menempuh desa lain. Sesederhana itulah strategi kerendahan hati Yesus. Ia tidak melawan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita bersembah sujud di hadirat Yesus yang telah melangkah ke Yerusalem untuk mati di salib bagi kita. Kita belajar rendah hati bersama-Nya. Kita berdoa tak hanya bagi sahabat dan kerabat tetapi juga bagi mereka yang membenci kita. Bagaimana kita memperlakukan mereka yang “menyalibkan” kita dan menyulitkan kita? Apakah kita berusaha tetap baik pada mereka daripada menyakiti mereka?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau murah hati dan berbelas kasih pada kami. Bantulah kami lebih memilih bersikap rendah hati dari pada bersikap sombong kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

koi

Sabda Hidup: Selasa, 27 September 2016

Peringatan Wajib

St. Vinsensius a Paulo

warna liturgi Hijau

Bacaan

Ayb. 3:1-3,11-17,20-23; Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8; Luk. 9:51-56. BcO Ydt. 6:1-21; 7:1,4-5

Bacaan Injil: Luk. 9:51-56.

51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Renungan:

ORANG marah gampang mengutarakan kata dan tindakan yang tidak beradab. Kata-kata kasar dan tindakan sadis tanpa disadari muncul walau orang itu sudah dianggap berusia atau pun dianggap sebagai panutan. Siapa pun pada saat tertentu tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dan orang pun jadi mempertanyakan kapasitasnya kok sampai begitu.

Para murid marah karena mereka ditolak. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk 9:54). Namun Tuhan menegor mereka. Ia tidak ingin hal itu bahkan kata-kata seperti itu muncul dari mulut para murid-Nya.

Godaan amarah selalu siap mengintip kita. Kapan pun ia bisa datang dan kena pada diri kita. Maka rasanya kita perlu sadar supaya kita tidak dikuasai amarah. Kalau kita dikuasai amarah kita memasukkan diri dalam situasi yang tidak mudah, bahkan kita malah merendahkan diri sendiri.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu. Bayangkan kisah dalam Injil Luk. 9:51-56. Bandingkan sikapmu dengan sikap para murid.

Refleksi:

Bagaimana menjaga diri agar tidak dikuasai oleh amarah?

Doa:

Tuhan aku sadar bahwa diriku lemah. Kuasa amarah selalu mengintipku. Semoga aku bisa mengelola amarahku dan tidak dikuasai olehnya. Amin.

Perutusan:

Aku akan mengontrol amarahku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

brevir

Jangan Terlambat Mengubah Hidup demi Melayani Allah dan Sesama

Minggu, 25 September 2016
Minggu Biasa XXVI
Am 6:1a.4-7; Mzm 146:7.8-9a.9bc-10; 1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31

Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara menderita sengsara di alam maut, ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, ‘Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.’

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Injil hari ini? Apa dosa orang kaya itu sehingga ia harus menderita luka bakar dalam api (neraka) sesudah kematiannya?

Ia hidup dalam kemewahan yang mengungkungnya dan tak peduli pada Lazarus dengan hartanya. Ia tidak peka pada Lazarus yang duduk mendamba sisa-sisa makanan dari mejanya. Ia mengabaikan Lazarus dari hari ke hari. Bahkan tak menganggapnya sebagai pribadi. Saat Lazarus berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu dan ingin menghilangkan laparnya dengan yang jatuh dari meja orang kaya itu, ia pun tak peduli sama sekali. Hanya anjing-anjingnya yang datang menjilati boroknya.

Orang kaya itu lupa tujuan hidupnya. Ia lupa bahwa hukum surga adalah pemberian diri kepada Allah dan sesama. Ia menerima segala yang baik semasa hidupnya, menurut kata-kata Abraham, dan membiarkan kekayaan dan kesenangan menjauhkan dirinya dari perutusan sejati dalam hidupnya yakni mengasihi Allah dan sesama. Dari hari ke hari ia menutup hatinya bagi sesama yang butuh pertolongannya. Ia menghabiskan hidupnya menjadi ahli cinta diri. Ia tidak membangun komitmen membantu sesama.

Ia sangat terlambat mengubah hidupnya; namun kita telah diberi kesempatan terbaik yang tidak dimiliki oleh orang kaya tersebut. Yesus Kristus telah menyatakan pada kita seluruh kisah oru. Kita pun tahu bagaimana hidup berakhir dan tentang semuanya.

Maka lagi apakah yang dapat kita pelajari dari perumpamaan dalam Injil hari ini? Yesus Kristus mengingatkan kita agar menghindari mentalitas dosa ketidakpedululian yang mematikan. Kita pun dipanggil untuk menggunakan setiap detik kehidupan kita untuk berbuat baik membangun Kerajaan Surga. Ia memanggil kita menjawab kasih-Nya dengan memberikan seluruh diri kita pada-Nya, dengan menaruh semua yang kita punya dan seluruh diri kita pada pelayan-Nya. Kita harus membuka mata kita pada kesempatan untuk melayani sesama di sekitar kita. Kita harus menggunakan semua sumber daya kita: dana, harta, talenta dan relasi kita demi melayani Allah dan sesama kita.

Sesungguhnya, Yesus Kristus telah selalu peduli pada kita dengan memberikan diri-Nya seluruhnya kepada kita dalam Ekaristi. Semuanya adalah kasih-Nya bagi kita. Kita menyambut Dia dalam Ekaristi dan menyembah Dia dalam Adorasi Ekaristi Abadi. Kenyataannya, Ekaristi dan Adorasi mengubah hidup kita hingga kita dapat melihat seperti Yesus melihat, mengasihi seperti Yesus mengasihi, melayani seperti Yesus melayani.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memberi kami kesempatan untuk melihat lebih serius diri kami dan menguji hati kami, agar selalu selaras dengan-Mu bahwa Engkau harta kami. Penuhilah kami dengan diri-Mu, hingga kami memancarkan Dikau. Segala yang bukan Dikau melumpuhkan kami untuk memberikan Dikau kepada sesama. Bantulah kami bermurah hati dan melayani kebutuhan sesama kami kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net