jesus-christ-pics-2203

Memandang dan Mendengar dengan Mata Baru Iman, Harapan dan Kasih

Selasa, 26 Juli 2016
Pekan Biasa XVII
PW S. Yoakim dan Ana, Orangtua SP Maria
Sir 44:1.10-15; Mzm 132:11.13-14. 17-18; Mat 13:16-17

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar. Sebab, Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

DALAM Injil hari ini, Yesus Kristus bersabda, “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar.” Apa artinya?

Sesungguhnya, Yesus Kristus hendak menawarkan kebahagiaan dan berkat melalui yang kita lihat dan dengar dengan mata dan telinga baru. Itu berarti, kita harus melihat dan mendengar dengan mata dan telinga iman, harapan dan kasih.

Benar bahwa iman, harapan dan kasih membuat kita melihat duni secara super-natural. Cara pandang natural membatasi kita dalam seribu alasan sebab alam semesta ini terbatas dan sementara. Sedangkan, cara pandang super-natural melalui iman, harapan dan kasih itu tak terbatas, menuju kepenuhan dan bersifat kekal abadi.

Untuk dapat dengan setia bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita sungguh membutuhkan mata dan telinga baru, yakni mata dan telinga iman, harapan dan kasih. Tanpa itu kita akan melihat namun tidak mengerti; akan mendengar namun tidak percaya. Apakah kita memiliki mata dan telinga iman, harapan dan kasih sehingga kita diberkati dengan kebahagiaan-Nya?

Tuhan Yesus Kristus, anugerahilah kami rahmat mata dan telinga baru untuk berjuang dengan iman, harapan dan kasih. Kami ingin berkembang dalam keutamaan ini dan mulai melihat dunia dengan mata iman, harapan dan kasih. Bersama-Mu, masa depan kami akan selalu lebih cerah dan lebih penuh harapan serta janji lebih besar lagi akan kebahagiaan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Orang-Farisi-datang-kepada-Yesus

Sabda Hidup: Selasa, 26 Juli 2016

Perayaan Wajib 

St. Yoakim dan Anna

warna liturgi Putih

Bacaan

Sir. 44:1,10-15; Mzm. 132:11,13-14,17-18; Mat. 13:16-17. BcO 1Raj. 8:22-34,54-61

Bacaan Injil: Mat. 13:16-17.

16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Renungan:

SERING kulihat orang tua duduk diam di depan rumahnya. Di tangannya teruntai doa rosario. Matanya terpejam. Mereka melambungkan doa di keheningannya. Ketika ditanya mengapa mereka berdoa, mereka tidak bisa menjelaskan secara ilmiah, namun mereka merasakan bahwa doa itu membawanya dalam suasana damai dan serasa ada yang kurang kalau belum melambungkan doa.

Doa menjadi kekuatan hidup bagi banyak orang. Walau sering tidak mudah untuk menjelaskan namun bisa dirasakan pengaruhnya. Bagi banyak orang sederhana Tuhan membukakan makna doa tersebut. Mata mereka melihat. Telinga mereka mendengar. Mereka pun merasakan kebahagiaan dan kedamaian kala melakukannya. Maka Tuhan pun mengatakan, “berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16).

Boleh-boleh saja kita bertanya-tanya apa perlunya berdoa. Namun demikian kita tetap perlu mengutamakan membuka hati dan mendorong kehendak untuk berdoa. Walau kita mungkin belum menemukan jawaban atas apa perlunya berdoa, tapi kita akan mendapatkan faedahnya kala kita selalu melambungkan doa-doa kita.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu berada dalam kondisi tidak tahu maksudnya atas larangan yang diberikan orang tuamu namun kamu menaati perintah tersebut.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu dalam merasakan manfaat doa.

Doa:

Bapa, banyak hal tidak kami ketahui dalam hidup ini. Namun seringkali kami merasakan manfaatnya. Kami bersyukur atas semua itu.  Amin.

Perutusan:

Aku akan mengasah terus penglihatan dan pendengaranku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Dipanggil untuk Melayani Sesama

Senin, 25 Juli 2016
Pesta S. Yakobus, Rasul
2Kor 4:7-15; Mzm 126:1-2ab.2c-3.4-5.6; Mat 20:20-28

Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

DALAM bacaan Injil hari ini, Yesus Kristus mengajar kita arti pelayanan. Ia memanggil kita untuk menguji diri kita pada hakikat pelayanan hidup Kristiani. Betapa sentral pelayanan itu dalam hidup Kristiani kita. Kita semua dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesama.

Mengikuti Yesus Kristus berarti dipanggil untuk melayani saudari-saudara kita. Pelayanan merupakan elemen mendasar hidup Kristiani kita. Dengan melayani sesama kita dipanggil memberikan diri tanpa syarat kepada sesama sebagai kelanjutan kasih Kristus. Ya, sesungguhnya, pelayanan Kristiani kita merupakan pengembangan dari kasih Kristus. Maka, mereka yang kita layani mestinya menemukan Kristus dalam diri kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita belajar melayani Dia dan sesama dalam doa-doa kita. Di sana, kita harus menjadi kian kecil, dan Yesus Kristus kian besar dalam diri kita. Apakah hidup kita sehari-hari dijiwai oleh tekad untuk melayani kebaikan sesama? Apakah kita siap melakukan semua yang baik yang dapat kita buat untuk sesama kita, besar maupun kecil?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami untuk melayani, dan Engkau mengajar kami bahwa  melayani juga berarti rela menderita setiap saat. Kendati kegagalan kami, kami tahu Engkau tetap memanggil kami melayani Dikau dan sesama kami. Anugerahilah kami kepekaan baru bagi kebutuhan terdalam sesama kami.  Berilah kami rahmat untuk bekerja sama dengan Dikau demi keselamatan jiwa-jiwa dengan mempersembahkan penderitaan kami dengan ikhlas pada-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Senin, 25 Juli 2016

Pesta St. Yakobus Rasul

warna liturgi Merah

Bacaan

2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28. BcO Ayb. 23:1-24:12

Bacaan Injil: Mat. 20:20-28.

20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Renungan:

YAKOBUS berani menjawab, “Kami dapat” atas pertanyaan Yesus, “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (Mat 20:22). Dan seperti kata Yesus, Yakobus pun setia menjadi pengikutNya sampai pada kesudahannya. Ia menjadi rasulNya dengan jalan yang ditunjukkan Yesus yaitu melayani, bukan dilayani.

Ada banyak orang berebut kekuasaan demi kuasa itu sendiri. Mereka berpikir dengan berkuasa bisa melakukan segala macam perkara sesuka hatinya. Tidak sedikit di antara mereka yang seperti itu pada saatnya berada dalam bui atau malah mengalami kebinasaan yang mengerikan. Banyak pemimpin yang main kuasa ketika dilengserkan harus menghadapi hukuman mati.

Cara berkuasa yang ditawarkan Tuhan lain. Ia mengajak mereka yang berkuasa untuk melayani. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:26-28).

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Hadirkan beberapa pemimpin di negeri ini. Siapa di antara mereka yang melayani dan siapa yang hanya mau berkuasa.

Refleksi:

Bagaimana menjalani semangat pelayanan dari kepemimpinan kita?

Doa:

Bapa, semoga para pemimpin kami mempunyai jiwa untuk melayani demi kesejahteraan bangsa. Semoga aku pun mempunyai semangan seperti itu.  Amin.

Perutusan:

Aku akan mengembangkan semangat pelayananku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

DSC_0042

“Tuhan, ajarlah kami berdoa!”

Pernah saya ditanya demikian: “Romo, doa apa yg cespleng agar permohonan saya dikabulkan Tuhan?” Saya geli mendengarnya karena tdk ada doa yg bisa dikategorikan cespleng dan tdk cespleng….hehehe…doa bukan jamu/obat utk penyakit tertentu. Sering kita mempraktikkan bhw doa mjd suatu cara utama utk mohon sesuatu kepada Tuhan. Kebanyakan orang menghayatinya demikian. Tentu itu bukan hal yg salah dan memalukan. Meski demikian, hendaknya kita ingat bhw doa pertama-tama bertujuan untuk membangun relasi-komunikasi yg makin akrab dg Tuhan. Dlm relasi itu, dibangun komunikasi dua arah: Tuhan bersabda dan kita mendengarkannya. Kita menyampaikan segala hal dan Tuhan menyambutnya. Kalau hari ini kita diajar berdoa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajak kita utk masuk pada kedalaman dan keakraban komunikasi-relasi kasih personal yg sungguh luar biasa antara kita dan Tuhan. Bila kita sdh masuk dlm keakraban dg Tuhan, di situlah kita temukan makna cespleng yg sebenarnya yaitu doa itu akan menyatukan, mencerahkan, mengakrabkan dan menyemangati dlm hidup setiap hari. Jangan pernah jemu utk berdoa dan doakan doa-doa itu dg sepenuh hati; tidak justru hanya keluar dari bibir karena sudah hafal. Sudahkah aku berdoa hari ini dg benar? ***d2t

 

Don’t forget, please!

Jalan sehat dlm rangka ultah PGPM ke-52 akan diadakan hari Minggu, 14 Agt pk. 06.00 diawali dg senam. Mohon perhatian: Ekaristi hanya diadakan 2 kali yaitu Sabtu (13 Agt) dan Minggu sore (14 Agt). Ekaristi Minggu pagi & siang (14 Agt) pk. 05.30 & 07.30 ditiadakan.

uu

Allah Adalah Bapa Yang Mengabulkan Doa Kita

Minggu, 24 Juli 2016
Minggu Biasa XVII
Kej 18:20-32; Mzm 138:1-2a.2bc-3.6-7ab.7c-8; Kol  2:12-14; Luk  11:1-13

Yesus bersabda, “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu… Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.”

DALAM Injil hari ini Yesus Kristus tak hanya mengajar kita berdoa kepada Allah tetapi juga mengajar kita menyebut Allah sebagai Bapa kita. Yesus memberi kita doa Bapa Kami, doa paling sempurna, kepada kita.

Dengan memberi kita doa Bapa Kami, Yesus Kristus mengajar kita menaruh kepercayaan total pada kasih Bapa. Ia mengajar kita untuk mohon datangnya Kerajaan Kasih Bapa dalam hati kita. Kerajaan Kasih Bapa adalah rumah sejati kita.

Maka, dengan berdoa Bapa Kami, pertobatan hati terus-menerus diperbarui dalam diri kita. Dengan berdoa Bapa Kami kita mengungkapkan kerinduan kita masuk dalam hati Bapa yang penuh kasih dan penuh kemurahan. Kita juga ingin menjadi seperti Bapa dalam kebaikan, kesucian dan kasih.

Sungguh mengagumkan bahwa Yesus meyakinkan bahwa Allah adalah Bapa Surgawi kita yang akan menjawab doa kita. Yesus Kristus menyatakan kemurahan hati Bapa-Nya. Allah adalah Bapa yang merindukan persahabatan.

Maka sesudah mengajar kita doa Bapa Kami, Yesus bersabda bahwa barangsiapa minta, akan diberi; yang mencari, akan mendapat; yang mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Di sini Ia memberi kita jaminan bahwa Allah Bapa akan mendengar setiap permohonan kita pada-Nya. Bahkan Ia menjawab doa kita dengan murah hati lebih dari yang kita harapkan.

Namun Yesus mengantisipasi juga bahwa sulit bagi kita menerima sabda itu. Ia tahu bahwa kita akan dicobai dengan keraguan atas sabda itu. Ia Ia menegaskan sabda itu dengan contoh perbandingan. Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Adakah bapa duniawi yang mau memberi batu pada anak-anaknya yang minta roti, atau memberi kalajengking sebagai ganti telur? Tentu tidak.”

Bahkan kita makhluk yang berdosa saja, penuh kesalahan dan jahat, masih berusaha memberikan yang baik kepada mereka yang kita kasihi. Itu benar. Bapa duniawi kita tak sempurna, namun jika kita minta telur tak seorang pun tega memberi kalajengking. Jika bapa duniawi yang berdosa saja memberikan yang baik pada anak-anaknya, betapa lebih lagi Allah memberikan yang terbaik kepada kita. Ia akan memberikan Roh Kudus.

Mengapa Allah Bapa memberi kita Roh Kudus? Kita tahu bahwa Roh Kudus membawa kekudusan dalam hidup kita. Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa Bapa berkenan memberkati kita dengan kekudusan. Kita tidak boleh lelah mohon anugerah Roh Kudus.

Kini, kita dapat dengan mudah memahami betapa Allah Bapa yang kasih-Nya tanpa batas dengan segala kemurahan-Nya sungguh akan memberikan segala yang baik bagi kita. Allah Bapa mengasihi kita anak-anak-Nya tanpa lelah dan tanpa batasan.

Ya tentu, ini sungguh benar, yang meminta akan menerima dan yang mencari akan mendapat, sebab Allah melulu amat baik. Maka Ia akan menjawab setiap doa kita.

Dan kini, bagian kita adalah berdoa dengan penuh iman pada kuasa Allah dan kebaikan-Nya. Maka kita harus berdoa pada-Nya dengan penuh iman dan yakin!

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita berdoa kepada Allah Bapa yang selalu pasti mendengar dan menjawab doa kita. Allah bahkan mengutus Putra-Nya menjadi Penyelamat kita dan memberikan Roh Kudus kepada kita. Apakah kita sungguh percaya bahwa Ia memberikan yang terbaik kepada kita?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memberi kami Bapa Surgawi kepada kami. Berilah kami hari ini rahmat dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Mu yang kudus. Penuhilah hati kami dengan kasih-Mu sehingga segala niat dan tindakan kami berkenan pada-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Minggu, 24 Juli 2016

Hari Minggu Biasa XVII

warna liturgi Hijau

Bacaan

Kej. 18:20-33; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol. 2:12-14; Luk. 11:1-13. BcO Ayb. 28:1-28

Bacaan Injil: Luk. 11:1-13.

1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” 2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya 4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” 5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Renungan:

SUATU kali ada seorang anak tampak gelisah. Ia membutuhkan uang untuk membayar buku sekolah. Malam sebelumnya ia mendengar percakapan orang tuanya yang mulai kehabisan uang dan mesti berhemat sampai gajian bulan depan. Namun orang tuanya menangkap kegelisahan si anak. Mereka pun bertanya kenapa ia gelisah. Dengan takut-takut sang anak pun menceritakan penyebab kegelisahannya. Mereka pun saling terharu dan orang tuanya mengatakan bahwa ada dana untuk itu dan meyakinkan anaknya untuk tidak gelisah lagi.

Tuhan mengajarkan kepada kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9). Tuhan terbuka pada permintaan anak-anakNya. Pada mereka yang meminta akan diberi, yang mencari akan mendapatkan dan yang mengetok pintu akan dibukakan.

Memang sering ada perasaan tidak mudah untuk meminta, apalagi mengetahui yang diminta lagi mengalami kesulitan. Namun kita juga layak tahu kalau orang tua atau siapapun akan memprioritaskan kebutuhan utama kita. Maka kala kita memang sungguh-sungguh memerlukan kita tidak perlu takut untuk mengutarakan.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu membutuhkan sesuatu dan mesti meminta kepada orang tuamu yang lagi kesulitan.

Refleksi:

Bagaimana meminta sesuatu dengan melihat prioritas yang perlu dipenuhi?

Doa:

Tuhan, hatiMu selalu terbukan untuk meringankan kesulitanku. PadaMu aku bersandar dan mengharapkan pertolongan.  Amin.

Perutusan:

Aku akan meminta sesuatu yang sungguh-sungguh aku butuhkan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

kemuridan-ibu-yakobus-minta-kpd-yesus

Kesabaran Allah bagi Kita

Sabtu, 23 Juli 2016
Pekan Biasa XVI
Yer  7:1-11; Mzm  84:3.4.5-6a.8a.11; Mat  13:24-30

…. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba….

DARI Injil hari ini, kita dapat belajar bahwa Allah tidak menyerah terhadap kita. Allah begitu sabar terhadap kita.

Bahkan meskipun kita membiarkan ilalang tumbuh dalam ladang hidup kita di antara gandum, Ia memberikan kepada kita kesempatan untuk bertumbuh dalam kebaikan. Ia tahu bahwa semuanya tidak lenyap. Bagi Allah selalu masih ada harapan dan selalu masih ada waktu.

Kita menyadari bahwa kita sudah melawan Allah karena dosa-dosa kita. Bahkan kita tidak mampu mengatasi diri kita sendiri dan kecenderungan terhadap dosa. Namun syukur kepada Allah kita masih mengalami kasih dan kerahiman-Nya. Maka, sungguh, Allah tidak pernah menyerah terhadap kita, meskipun tampaknya kita sering menyerah pada diri sendiri.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Kristus kita mengandalkan Allah yang memberi kita waktu untuk kita menyuburkan ladang hidup kita dan memperkembangkan gandum kebaikan di dalamnya. Kita berdoa agar buah-buah yang baik dihasilkan dan berlimpah. Apakah kita merasa dan mengalami kesabaran Allah dalam hidup kita?

Tuhan Yesus Kristus, bahkan meski Dikau telah mengangkat kami dalam keluarga-My melalui Baptisan, selalu ada waktu saat ketika kami melupaka  tujuan hidup kami, yakni surga. Kami lemah, dan karena kelemahan kami, kami sering menodai ladang gandum kehidupan kami. Ampunilah kami, Tuhan, karena sering melawan Dikau, dan bantulah kami untuk memperbaiki hidup kami. Terima kasih atas anugerah kerahiman-Mu. Terima kasih telah bersabar terhadap kami, karena mengasihi kami, dan meneguhkan kami untuk terus bertumbuh sebagaimana seharusnya kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Sabda Hidup: Sabtu, 23 Juli 2016

St. Birgitta

warna liturgi Hijau

Bacaan

Yer. 7:1-11; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:24-30. BcO Ayb. 23:1-24:12

Bacaan Injil: Mat. 13:24-30.

24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Renungan:

DALAM diri seseorang selalu termuat karakter baik dan buruk. Walau kita percaya kebaikan jauh lebih banyak daripada keburukannya, namun sifat buruknya akan muncul sesekali. Pernah ada seorang anak yang santun. Tutur katanya baik. Emosinya terkendali. Namun ia mempunyai kebiasaan mengambil barang orang lain.

Benih gandum ditaburkan oleh pemilik ladang. Namun bersamaan dengan tumbuhnya gandum ilalang pun tumbuh. Ada orang lain yang usil menaburkan benih ilalang tersebut. Gandum dan ilalang pun tumbuh bersamaan. Baru pada saat panen mereka akan dipisahkan.

Kita tahu ada sifat buruk di dalam diri kita masing-masing. Kadang kita pun sulit lepas dari sifat buruk tersebut. Beruntung kita menyadarinya sehingga mempunyai kontrol diri untuk menahan kehadiran keburukan tersebut. Kesadaran kita akan sifat buruk kita membantu diri kita sendiri untuk mengurangi kehadiran sifat buruk tersebut. Maka marilah kita selalu mawas diri.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan sifat burukmu menggodamu melakukan keburukan. Ubahlah dorongan tersebut pada tindakan positif.

Refleksi:

Bagaimana mengelola sifat burukmu agar tidak merugikan sesama dan dirimu sendiri?

Doa:

Tuhan jagailah aku agar mampu menghindarkan diri dari dorongan keburukanku. Semoga aku pun mampu mengubahnya menjadi suatu tindakan yang baik.  Amin.

Perutusan:

Aku akan berusaha menahan keluarnya sifat burukku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Yesus Kristus Jantung Hati Kita

Jumat, 22 Juli 2016
Pekan Biasa XVI
PW S. Maria Magdalena
Kid 3:1-4a; Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; Yoh 20:1.11-18

Kata Yesus kepadanya, “Maria!”
Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

MARI kita bayangkan bahwa Yesus Ktistus adalah jantung hati kita seperti St. Maria Magdalena mengalaminya. Ia menggenapi Kidung Agung Salomo, “…. kutemukan jantung hatiku. Kupegang dia, dan tak kulepaskan lagi” (Bacaan I, Kid 3:1-4a).

Setelah Yesus wafat, betapa sedih Maria Magdalena harus berada di dekat makam-Nya dan menangis. Ia amat mengasihi-Nya. Tentang dia kita tahu, Yesus menyembuhkan jiwanya, Ia mengusir tujuh kuasa setan dari hatinya. Ia berdiri pada kaki salib Yesua bersama Bunda Maria dan Yohanes. Dialah yang membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan kini air mata itu membasahi wajahnya.

Maka ketika ia menemukan Yesus hidup sesudah wafat dan bangkit, Maria Magdalena menemukan jantung hatinya. Itulah sebabnya ia mendekap-Nya dan tak ingin membiarkan-Nya pergi. Namun Yesus bersabda padanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Dialah orang pertama yang mewartakan kepada dunia bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari maut.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus jantung hati kita seperti Maria Magdalena. Seperti dia juga kita tak pernah sendirian dalam derita kita. Apakah kita menjadi saksi atas pesan Tuhan di tengah duka dan penderitaan kita?

Tuhan Yesus Kristus, St. Maria Magdalena menemukan Dikau karena ia mencari Dikau. Ia juga pergi bersaksi bahw telah berjumpa dengan Dikau, Tuhan yang bangkit. Anugerahilah kami kasih seperti Maria Magdalena yang mengasihi-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net