Roti dari Surga

Menyambut dan Menyembah Tubuh dan Darah Kristus

Minggu, 29 Mei 2016
HR Tubuh dan Darah Kristus
Kej 14:18-20; Mzm 110:1.2.3.4; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17

Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu, lalu menengadah ke langit dan mengucap berkat, kemudian membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada para murid supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.

HARI ini adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Dalam Ekaristi kita menyambut roti surgawi dari meja perjamuan Tuhan.

Tubuh dan Darah Terkudus Yesus Kristus sungguh merupakan tanda kehadiran Allah yang berkenan tinggal bersama kita hingga Ia mengubah roti dan anggur menjadi Diri-Nya (Tubuh dan Darah-Nya) dalam Ekaristi. Dengan menerima Ekaristi kita bersatu dengan Yesus Kristus yang membuat kita tinggal dalam Tubuh dan Darah-Nya.

Menurut St. Ignatius dari Antiokia (35-107), roti Ekaristi adalah roti yang menjadi obat kehidupan abadi. Ekaristi adalah makanan yang membuat kita hidup abadi dalam Yesus Kristus.

Sakramen Ekaristi adalah makanan rohani yang menyembuhkan jiwa dan raga kita. Ekaristi memberi kita kekuatan dalam perjalanan kita menuju surga.

Saat kita merayakan Ekaristi dan menyembah Dia dalam Adorasi Ekaristi apa yang kita harapkan? Pertama-tama kita ingin bersatu intim mesra dengan Kristus. Lalu kita mendambakan pengampunan, penyembuhan, penghiburan dan kedamaian jiwa kita.

Tuhan Yesus Kristus, kami mengandalkan Dikau sebab Dikau memiliki lebih banyak bagi kami lebih dari yang kami harapkan. Dengan menerima Ekaristi dan menyembah Dikau, semoga Dikau memampukan kami lebih berakar pada kasih-Mu dan menguatkan kami dalam berbuat kasih. Bantulah kami lapar akan roti kehidupan kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

jesus-christ-pics-2203

Sabda Hidup: Minggu, 29 Mei 2016

HARI RAYA

TUBUH DAN DARAH KRISTUS

warna liturgi Putih

Bacaan

Kej. 14:18-20; Mzm. 110:1,2,3,4; 1Kor. 11:23-26; Luk. 9:11b-17. BcO Rm. 5:1-21 atau Kel. 24:1-11

Bacaan Injil: Luk. 9:11b-17.

11 Akan tetapi orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti Dia. Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. 12 Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang sunyi.” 13 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” 14 Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” 15 Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. 16 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak. 17 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang sisa sebanyak dua belas bakul.

Renungan:

MULAI hari jumat kemarin Keuskupan Agung Semarang memulai Kongres Ekaristi Keuskupan yang ketiga. Kongres kali ini dilakukan per kevikepan. “Kamu harus memberi mereka makan” adalah kalimat yang mau didalami, dibatinkan dan dijalani dalam kongres ini.

Yesus pun meminta para murid, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Luk 9:13). Perintah ini tentu membingungkan para murid. Bagaimana mereka di sore hari mesti memberi makan 5000 orang plus plus. Catering mana yang sanggup? Warung mana yang menyediakan masakan untuk orang sebanyak itu. Namun semua kebingungan itu sirna kala ada persembahan 5 ikan dan dua roti serta doa dan berkat Yesus. Mereka pun mampu memberikan hidangan bahkan sisa banyak.

Kita sekarang ini pun dipanggil untuk memberi makan. Pemerintah berusaha menjaga harga selama bulan puasa dan lebaran, bahkan kalau bisa malah turun. Kerelaan para spekulan untuk tidak mengambil untung berlipat, kecerdasan kita dalam mengelola pola konsumsi dan sikap ugahari akan memungkinkan kita bisa memberi makan. Maka marilah kita sama-sama bersemangat memberi makan, bukan sekedar memuaskan nafsu diri.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu melihat orang-orang yang kelaparan. Ingatlah kala anda makan atau lagi jajan.

Refleksi:

Apa yang bisa kita lakukan untuk memberi makan kepada banyak orang?

Doa:

Tuhan jauhkanlah aku dari kerakusan dan dekatkan aku dengan kemurahan berbagi. Semoga semua orang bisa makan dengan baik. Amin.

Perutusan:

Aku akan menghormati makananku dan rela berbagi. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Orang-Farisi-datang-kepada-Yesus

Mengimani Kristus dan Menyembah-Nya

Sabtu, 28 Mei 2016
Pekan Biasa VIII
Yud 1:20b-25; Mzm 63:2.3-4.5-6; Mrk 11:27-33

Mereka memperbincangkannya seraya berkata, “Jikalau kita katakan ‘Dari Allah,’ Ia akan berkata, ‘Kalau begitu, mengapakah kalian tidak percaya kepada-Nya?’ Tetapi masakan kita katakan ‘Dari manusia’.” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Maka mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku pun takkan mengatakan kepada kalian, dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

BETAPA sering kita seperti para pemimpin orang Yahudi? Kita tahu kebenaran tentang Yesus Kristus, namun kita tidak mau percaya kepada-Nya. Kita tahu daya Ekaristi dan adorasi namun kita tidak menyambut dan menyembah-Nya.

Yesus Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi dan memberikan tubuh dan darah-Nya demi keselamatan kita. Apakah kita bersungguh-sungguh menerima Sakramen Ekaristi dengan keinduan iman pada-Nya dan ingin mengubah hidup kita?

Kita juga tahu bahwa Yesus Kristus hadir siang dan malam dalam Adorasi Ekaristi Abadi namun kita tak datang menyembah-Nya. Kita tahu tapi tak mau menerima kebenaran itu.

Tuhan Yesus Kristus kami tahu kehendak-Mu bagi kami namun kami tak mau berjuang untuk melakukannya. Kadang kami terlalu cemas tentang prasangka dan perkataan orang lain tergahap kami. Kami takut menanggung risiko. Anugerahilah kami ketulusan dan kekuatan untuk selalu menerima dan mengikuti kehendak-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Sabda Hidup: Sabtu, 28 Mei 2016

Hari biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

Yud. 17:20b-25; Mzm. 63:2,3-4,5-6; Mrk. 11:27-33. BcO 2Kor. 12:14-13:14

Bacaan Injil: Mrk. 11:27-33.

27 Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, 28 dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” 29 Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. 30 Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” 31 Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? 32 Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. 33 Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Renungan:

Ketika area stasiun ditata dan pedagang asongan tidak boleh di area tersebut banyak terjadi protes. Bahkan ada sejumlah kampus dan mahasiswanya memprotes. Pengelola kereta api menyampaikan kalau ia tidak boleh melarang pedagang asongan maka ia ingin berbagi pedagang itu untuk masuk ke kampus mereka. Mereka pun menolak. Dan sekarang ini stasiun jadi bersih, rapi dan membuat nyaman para penumpang.

Ketika ditanya oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua tentang kuasa yang dibawa Yesus, Yesus pun balik bertanya kepada mereka, “Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya” (Mrk 11:30). Mereka pun tidak bisa menjawab. Mereka tahu bahwa jawaban mereka beresiko pada diri mereka.

Rasanya kita pun perlu sungguh mempertimbangkan protes-protes kita. Jangan-jangan protes-protes kita malah akan menjerambabkan diri kita sendiri. Tetap kita perlu untuk kritis. Namun sikap kritis kita mesti dilandasi oleh aneka macam pertimbangan yang matang. Dan sikap kritis kita bukan sekedar menolak atau ingin menjatuhkan, tapi dilandasi oleh semangat membangun.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Mrk. 11:27-33. Bandingkan dengan situasi demo dan protes yang sering terjadi.

Refleksi:

Bagaimana menyampaikan aspirasi dan pertanyaan yang membangun?

Doa:

Tuhan semoga aku bukan hanya protes-protes, tapi berani melihat secara lebih dalam sesuatu yang mungkin berbeda dengan kemauanku. Amin.

Perutusan:

Aku akan menyampaikan masukan yang membangun bukan protes yang merusak. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

jesus

Percaya pada Allah, Berbuah Berlimpah

Jumat, 27 Mei 2016
Pekan Biasa VIII
1Ptr 4:7-13; Mzm 96:10.11-12.13; Mrk 11:11-26

… Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa…

YESUS mengutuk pohon ara yang belum berbuah hingga kering seakar-akarnya meski Ia tahu bahwa memang sedang tidak musimnya. Apa artinya ini bagi kita hari ini?

Injil menyatakan kepada kita bahwa pada waktu itu Yesus lapar. Bahwa Yesus mengutuk pohon ara itu bukan suatu hukuman karena pohon itu tidak memenuhi rasa lapar-Nya.

Sesungguhnya itu adalah simbol kelaparan-Nya untuk menyelamatkan kita. Maka lapar-Nya adalah lapar rohani bukan jasmani.

Dan pohon ara melambangkan Yerusalem. Saat Yesus masuk Yerusalem, Ia menemukan penduduknya dikuasai keduniawian bahkan ketidakadilan. Seperti pohon ara itu, Yerusalem tak berbuah di hadapan Yesus. Tak ada iman di sana. Maka Yesus mengecam mereka dan lalu mengajak para murid-Nya untuk percaya kepada Allah hingga dapat memindahkan gunung.

Pesan ini juga ditujukan pada kita. Yesus memanggil kita agar percaya pada Allah hingga kita berbuah. Sadarkah kita bahwa Yesus Kristus mengharapkan kita percaya pada Allah dan berbuah?

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Kristus kita ingin percaya kepada Allah. Kita persembahkan waktu kita untuk berdoa dan berkarya agar berbuah. Melalui doa dan adorasi kita dipenuhi semangat merasul.

Tuhan Yesus Kristus perkembangkanlah iman kami dan buatlah kami kian berbuah dan berdaya guna dalam pelayanan bagiMu. Semoga doa kami jadi sumber kekuatan dan berbuah dalam karya kasih kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

marilah-kepadaku-2-mat-11-25-30

Sabda Hidup: Jumat, 27 Mei 2016

Agustinus dr Canterbury

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Ptr. 4:7-13; Mzm. 96:10,11-12,13; Mrk. 11:11-26. BcO 2Kor. 11:30 – 12:13

Bacaan Injil: Mrk. 11:11-26.

11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. 12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. 13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. 14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya. 15 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,  16 dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. 17 Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” 18 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. 19 Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota. 20 Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. 21 Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” 22 Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah! 23 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. 24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. 25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” 26 (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Renungan:

PERNAHKAH anda mengalami kala lapar dan membuka meja/almari makan tapi tidak menemukan apa-apa di sana? Ketika mengalami itu apa yang berkembang di hati, pikiran dan tindakanmu? Biasanya kita jengkel, marah. Seringkali lalu merasa orang rumah tidak mengerti kebutuhanmu. Dan mungkin masih banyak lagi kemungkinan yang kita alami.

Rasaku Yesus juga jengkel. Ketika ia lapar dan mau ambil buah ara, ternyata tidak ada buah tersebut. Ia pun makin jengkel ketika menyaksikan orang-orang berdagang di seputaran Bait Allah.

Rasa jengkel bisa menimpa siapapun. Kita, Yesus pun mengalaminya. Namun kita tetap mesti waspada supaya kata dan tindakan kita tetap terjaga ketika rasa jengkel tersebut sedang bercokol di diri kita.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu sedang jengkel. Amatilah bagaimana anda mengelola rasa jengkel tersebut dan menjaga kata dan tindakanmu.

Refleksi:

Apa yang perlu kita lakukan agar jengkel kita tidak membawa kita pada kata dan tindakan yang merugikan?

Doa:

Tuhan mampukanlah aku mengelola rasa jengkelku dan menjadikannya mampu menemukan kata dan tindakan yang produktif. Amin.

Perutusan:

Aku akan menjaga kata dan tindakanku kala rasa jengkel melingkupiku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Melihat Kristus dan Mengalami Kerahiman-Nya

Kamis, 26 Mei 2016
Pekan Biasa VIII
PW S. Filipus Neri, Imam
1Ptr 2:2-5.9-12; Mzm 100:2.3.4.5; Mrk 10:46-52

Bartimeus berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Rabuni, supaya aku dapat melihat.” Yesus lalu berkata kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Pada saat itu juga melihatlah ia! Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

SAAT membaca, memeditasikan dan merenungkan Injil hari ini, saya berdoa kepada Yesus Kristus seperti Bartimeus mohon belas kasihan Tuhan. Saya mempunyai masalah dengan mata kanan saya yang terkena pterygium tingkat ketiga yangv menginvasi kornea plus inflamasi sehingga mengganggu axis visual. Meski saya tidak buta seperti Bartimeus, namun seringkali keadaan itu membuatku sangat menderita.

Dua belas tahun lalu saya pernah mengalami hal yang sama dengan mata kiri saya. Empat kali dioperasi. Sekitar empat tahun lalu yang kanan mengalami masalah yang sama. Ya Tuhan, kasihanilah aku! Terima kasih atas salib ini.

Maka, saat membaca, memeditasikan dan merenungkan pengalaman Bartimeus, saya dapat merasakan penderitaannya. Namun kini aku juga merasakan bahwa hidupnya tidak akan sama lagi sejak perjumpaan-Nya dengan Kristus. Ia sepenuhnya diubah oleh Kristus dan iapun sembuh. Ia dapat melihat lagi.

Menurutku, melihat lagi berarti mengerti hidupku dan segala hal yang menyertainya seturut perspektif Allah. Itu juga berarti bahwa aku bahagia mengikuti kehendak Allah apa pun itu.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, pada saat yang sama kita menjadi seperti Bartimeus. Kita berseru kian lantang mohon belas kasihan-Nya agar kita dapat mengalami kasih-Nya dan bahagia.

Tuhan Yesus Kristus, kami datang pada-Mu untul berdoa dan menyembah-Mu. Bantulah kami melihat karya agung-Mu dalam hidup kami. Bantulah kami agar mampu melihat salib sebagai kesempatan bertumbuh dalam relasi personal dengan Dikau kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

biji-sesawi

Sabda Hidup: Kamis, 26 Mei 2016

Peringatan Wajib St. Filipus Neri

warna liturgi Putih

Bacaan

1Ptr. 2:2-5,9-12; Mzm. 100:2,3,4,5; Mrk. 10:46-52. BcO 2Kor. 11:7-29

Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52.

46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” 52 Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Renungan:

SUATU kali kami pergi ke tempat yang jauh untuk shooting. Ketika sampai di tempat itu aku merasa agak kecewa karena lokasinya tidak seperti yang aku bayangkan. Namun satu orang teman mengatakan, “Kita harus dapat gambar di sini, karena kita sudah jalan jauh.” ia pun turun ke sawah. Di kejauhan dia berteriak bahwa dari tempat dia bisa didapat gambar yang baik. Tanpa banyak pertanyaan kami pun langsung menuju ke tempatnya. Benar, kami mendapat gambar yang istimewa.

Bartimeus yakin bahwa ketika bertemu dengan Yesus ia akan mendapatkan sesuatu yang istimewa. Maka walau banyak orang menghalanginya ia tetap berteriak memanggil Yesus. Dan benar ketika bertemu denganNya ia memperoleh hal istimewa: matanya terbuka, ia tidak buta lagi.

Hal yang istimewa ada di sekitar kita. Ketika kita tidak menyerah untuk mencari kita akan menemukannya. Halangan akan selalu ada. Namun niat kita untuk menemukan yang istimewa akan menjaga langkah kita mengatasi halangan yang ada.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu sedang mengejar sesuatu. Kecewa, lelah dan harapan menghiasi pengejaranmu.

Refleksi:

Apa yang perlu dilakukan agar mendapatkan yang istimewa?

Doa:

Tuhan semoga semangat Bartimeus hidup dalam diriku. Semoga aku tidak lelah untuk selalu percaya bahwa dalam diriMu ada yang istimewa untukku. Amin.

Perutusan:

Aku tak akan lelah mengejar yang istimewa. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

mu130529_doa

Rabu, 25 Mei 2016 Hari Biasa Pekan VIII

Rabu, 25 Mei 2016
Hari Biasa Pekan VIII

Menjadi tugas khas sang Imam, berdasarkan pentahbisannya, untuk mengucapkan Doa Syukur Agung itu, yang ada pada kodratnya adalah puncak seluruh perayaan, Karena itu sungguh merupakan kesalahan besar jika Doa Syukur Agung dibawakan demikian rupa sehingga bagian-bagian tertentu dari Doa itu diucapkan oleh seorang diakon atau seorang pelayan awam atau seorang pribadi di antara umat atau oleh seluruh umat bersama-sama, Jadi Doa Syukur Agung itu harus dengan selengkapnya diucapkan hanya oleh Imam. (Redemptionis Sacramentum, Instruksi VI: Tentang Sejumlah Hal yang Perlu Dilaksanakan ataupun Dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus No. 52)


Antifon Pembuka (lih. 1Ptr 1:19)

Kalian telah ditebus dari cahaya hidup yang sia-sia, warisan nenek-moyang kalian. Kalian telah ditebus dengan darah Kristus.

Doa Pagi

Allah Bapa Mahakuasa dan kekal, kami mohon lahirkanlah kami kembali berkat sabda dan berkat Roh Yesus Kristus, Putra-Mu, agar dapat menyebut dan memuliakan nama-Mu di dalam segala tingkah laku kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
 

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus (1:18-25)

“Kamu telah ditebus dengan darah yang berharga, darah anak domba tak bernoda, yaitu darah Kristus.”

Saudara-saudara, kalian tahu bahwa kalian telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu. Kalian telah ditebus bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Kristus telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Tetapi baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir karena kalian. Oleh Dialah kalian percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga iman dan pengharapanmu tertuju kepada Allah. Kalian telah menyucikan diri dengan mentaati kebenaran. Maka kalian sanggup mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Oleh sebab itu hendaklah kalian sungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati. Sebab kalian telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang baka, yaitu oleh sabda Allah yang hidup dan kekal. Sebab ‘semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya laksana bunga rumput! Rumput menjadi kering dan bunga gugur. Tetapi sabda Tuhan tetap untuk selama-lamanya’. Inilah sabda yang disampaikan Injil kepada kalian.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/2, PS 863
Ref. Pujilah Tuhan, hai umat Allah, pujilah Tuhan, hai umat Allah!
Ayat. (Mzm 147:12-13.14-15.19-20)
1. Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anak yang ada padamu.
2. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi, dengan segera firman-Nya berlari.
3. Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan dan hukum-hukum-Nya kepada Israel . Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 20:28)
Putra Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:32-45)

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan.”

Sekali peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Yesus berjalan di depan. Para murid merasa cemas, dan orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang pun merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Yesus berkata, “Sekarang kita pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Lalu Yakobus, dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus. Mereka berkata, “Guru, kami harap Engkau mengabulkan suatu permohonan kami.” Jawab Yesus, “Apakah yang kalian ingin Kuperbuat bagimu?” Mereka menjawab, “Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan, dan seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Sanggupkah kalian meminum piala yang harus Kuminum? Dan dibaptis dengan pembaptisan yang harus Kuterima?” Mereka menjawab, “Kami sanggup.” Yesus lalu berkata kepada mereka, “Memang, kalian akan meminum piala yang harus Kuminum, dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan atau kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya telah disediakan.” Mendengar itu, kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kalian tahu, bahwa orang-orang yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tetapi janganlah demikian di antara kalian! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kalian, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kalian, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sebab Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Dua bersaudara dari anak-anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes mengekspresikan ambisi para Rasul yang lain, bahkan masyarakat zaman ini. Dalam kepemimpinan dunia, jabatan secara berangsur-angsur melahirkan kuasa. Orang yang berkuasa hampir selalu tidak bisa menolak godaan untuk menimbun harta. Jika ketiganya sudah didapatkan, segera akan mencuatkan ambisi-ambisi bawah sadar yang lain dengan aneka skandal publik. Namun Yesus mengingatkan para pemimpin Gereja, “Tidaklah demikian di antara kamu” (Mrk 10:43).

 Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan. Semakin tinggi jabatan seorang pemimpin Gereja, semakin besar tanggung jawab pelayanannya. Tidak ada pelayanan dalam Gereja yang terpisah dari pewartaan Injil, yang pada intinya merupakan keselamatan melalui jalan penghayatan cinta kasih yang tuntas. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih orang yang menyerahkan nyawa sebagai tebusan bagi banyak orang (Bdk. Yoh 15:13). Hal itu berarti, suatu tuntutan untuk tidak main kuasa atas umat yang dipercayakan kepada pemimpin Gereja (Bdk. 1Ptr 5:3). Sebab, umat yang dipimpinnya bukanlah milik si gembala, melainkan milik Kristus (lih. Yoh 21:15-19).
 Biasanya, dalam ungkapan spontan, seorang Pastor Paroki dengan ringan mengatakan, “Umatku….” Entah, semangat apa yang menjiwai ungkapan seperti itu. Namun, hal itu menunjukkan bahwa si Pastor kurang memahami bahwa umat Paroki itu adalah milik Kristus, bukan miliknya sendiri. Tidak selalu, tetapi sering terjadi, ungkapan “umatku” melahirkan sikap-sikap otoriter dalam aneka bentuknya. Padahal, umat Paroki adalah milik Kristus, Sang Gembala Agung. Para Pastor Paroki hanya diserahi tugas kegembalaan.
 Bagaimana hal tersebut dihayati? Pertama, tugas penggembalaan umat dilakukan dengan kerelaan hati dan pengabdian diri (1Ptr 5:2). Santo Paulus memberikan teladan yang bagus sekali tentang hal itu (lih. 1Kor 9:18). Jiwa belas kasih seorang pemimpin Gereja hanya lahir dari sikap pengabdian diri sekualitas itu, bukan dari sikap otoriter. Kedua, dengan keprihatinan besar dan sikap rendah hati yang tulus, kita perlu terbuka untuk saling mengoreksi praktik kepemimpinan dalam Gereja.
 
Antifon Komuni (Mrk 10:45)
 
Putra Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa sebagai tebusan bagi banyak orang.
Sumber : www.sesawi.net