Sejarah Paroki

A.              Benih Awal: Panti Asuhan St Vincentius

Candi Lama

Sejarah paroki Karangpanas tidak dapat lepas dari sejarah paroki Gedangan. Gedangan menjadi semacam biji sesawi yang kemudian berkembang menjadi pohon  sedemikian lebat.

Panti Asuhan (di bawah Stichting Rooms Katolik Weeshuis yang kemudian hari menjadi Yayasan Panti Asuhan Katolik) karya para suster OSF Gedangan yang dikelola sejak tanggal 5 Februari 1870 berkembang sedemikian pesat. Dalam tahun 1912, Yayasan R.K.Weeshuis mulai mendirikan panti asuhan baru di Candi Lama (Karangpanas). Mula-mula rumah baru ini dimaksudkan bagi anak-anak perempuan. Namun akhirnya rencana berubah. Panti Asuhan yang baru diperuntukkan bagi anak laki-laki. Pembangunan gedung baru selesai pada tanggal 1 Mei 1915 dengan diteruskan penyempurnaan sana-sini.

Para bruder  CSA yang telah mengelola Panti Asuhan anak-anak laki-laki di kompleks susteran Gedangan bagian selatan (sekarang Kantor Yayasan Kanisius Pusat dan Yadapen) pindah dengan senang hati bersama dengan anak-anak muda asuhan mereka pada tanggal 15 Juni 1915.

Panti Asuhan itu dinamai Panti Asuhan St. Vincentius. Kompleks panti asuhan yang meliputi juga Kapel Hati Kudus Karangpanas diresmikan oleh Mgr. Luypen SJ pada tanggal 26 September 1915. Pastor pertama yang tinggal di sana sebagai direktur weeshuis adalah Pastor Hoevenaars SJ.

Dalam sejarah, kapel Hati Kudus Karangpanas semula dipakai oleh rumah weeshuis melulu. Direktur weeshuis adalah seorang pastor yang tinggal di pastoran. Namun dengan agak cepat direktur weeshuis itu juga berfungsi sebagai pastor paroki. Karangpanas memang strategis dan jauh dari paroki-paroki lain. Sudah sejak tahun 1915 ada buku permandian. Buku perkawinan dimulai pada tahun 1937.

 

B. Periode Yesuit

1. Babtisan Pertama

Babtisan pertama yang tercatat dalam Liber Babtismi terjadi pada tanggal 13 Juni 1915 dengan nama Thelma, anak dari pasangan Leopaldo Eresto Silvio Catalani dan Cisira Zelia Rita Heyneman. Yang membabtis Pastor Hoevenaars SJ. Sedang emban babtisnya IWH van der Vlught. Sedang babtisan pribumi pertama tercatat bernama Fransiscus Waloejo Haryadi (anak dari Karel Tole Hardjasoekarto dengan Fransisca Soedarmi) pada tanggal 19 Desember 1924. Yang membabtis Romo J Sevink SJ.

2. Dari Grejane Landa ke Gereja Indonesia

Sampai pada tahun 50-an (sebelum jaman Rm Oswaldus Verdier (tinggal di Karangpanas tahun 1953-1964), Gereja Karangpanas masih dikenal sebagai Grejane Landa. Umat pribumi di daerah Semarang bagian selatan merayakan ekaristi di gereja St Yusup Gedangan dengan naik trem berangkat dari station trem di Metro (sekarang Metro Square).

Sebelum jaman merdeka, umat pribumi nyaris belum ada. Baru sesudah jaman merdeka, Gereja Karangpanas berubah dari Gereja keturunan Eropa menjadi Gereja Indonesia tulen. Proses ini berlangsung amat lama. Buktinya pengumuman Gereja sampai akhir tahun 1957 masih ada dalam dua bahasa, bahasa Belanda dan Jawa.

Pada tahun 1960 umat paroki Karangpanas tidaklah sebanyak sekarang. Sebagai gambaran, satu lingkungan terdiri dari beberapa kelurahan misalnya lingkungan (kring) Kaliwiru meliputi Kaliwiru, Semeru, Tengger, Wonotingal dan Candi Persil.

Paroki Karangpanas banyak menyimpan harta kekayaan hidup. Pancaran kasih Tuhan dapat ditangkap dalam daya gerak pemuka umat, sehingga umat tergugah ikut serta dalam gerakan pelayanan yang menandai eratnya persaudaraan kristiani. Sebagai contoh waktu itu doa rosario di kring Kalilangse dihadiri juga oleh umat dari Kring Sanggung, Kaliwiru, Karangpanas, dan Jatingaleh. Contoh lain: Sebelum misa lingkungan, Rm Verdier menyempatkan diri mengunjungi keluarga-keluarga yang membutuhkan bimbingan karena berbeban berat dan tersingkir. Selain itu karena jumlah umat belum sebanyak sekarang ini setelah misa minggu sebagian besar umat masih dapat bersalaman dengan gembalanya.

3. Provinsialat SJ di Karangpanas

Setelah perang selesai, Pimpinan Yesuit Indonesia (superior missionis)  dalam tahun 1949 pindah ke pastoran Karangpanas. Waktu itu direktur weeshuis tidak senantiasa sekaligus pastor paroki melainkan seorang fungsionaris provinsialat. Pastor paroki lama kelamaan tidak ada hubungan dengan provinsialat maupun dengan Yayasan. Situasi memang kemudian berubah sejak sekitar tahun 1958 ketika weeshuis ditutup, serta kompleks sekolah mulai berkembang. 

Lima tahun setelah berada di Karangpanas, provinsialat Jesuit berpindah ke Gedangan. Tahun 1962 provinsialat berpindah lagi ke Karangpanas sampai pada tahun 1989 dan menetap sampai sekarang ini di Jalan Argopuro.

4. Pendirian PGPM

Uskup Agung Semarang, Mgr Justinus Darmojuwono, dengan Surat Pendirian tertanggal 18 Agustus 1964, mendirikan Yayasan Gereja Katolik yang dinamakan “PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOM KATHOLIK DI WILAYAH GEREJA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS DI KARANGPANAS SEMARANG”. Maksud pendirian ini adalah memajukan kehidupan keagamaan di wilayah kegerejaan setempat dan mengatur dengan tetap pemeliharaan orang-orang miskin. Pada waktu itu ketuanya adalah pastor L Moerabi,  penulis: Lucas Sudjadi Tirtatjakra sedang anggota: Joseph Lim Eng Kim, Thomas Joseph Amat Atmasoeganda dan Alexius Joseph Suparman Prabasoesetya.

5. Pembangunan kapel-kapel

a. Kapel Nasareth Jangli

Yayasan Nurani berdiri tanggal 1 Januari 1967 berdasarkan keputusan rapat pleno umat katolik wilayah Jangli atas prakarsa Bp. AP Dwijokarjana bersama ketua kring dan ketua Partai Katolik Jangli. Pendirian ini dinyatakan dalam Akte Notaris Raden Mas Suprapto No. 23 tanggal 15 Juni 1967 yang berlaku surut mulai tanggal 1 Januari 1967.

Selama 2 tahun Yayasan Nurani dengan taman kanak-kanaknya kesulitan tempat untuk sekolah.           

Pada awal 1970, atas bantuan Pater WTM Bleys SJ, Yayasan Nurani berhasil membeli sebuah rumah di atas sebidang tanah di Jl. Jangli 307A (gedung yang sekarang digunakan sebagai kapel) dari Ny. Na Ngoe Djit Nio dengan harga beli sebesar Rp. 250.000.

Sejak pertama kali dibeli, bangunan ini berfungsi sebagai TK pada siang hari. Pada malam harinya bangunan ini berfungsi sebagai tempat berbagai kegiatan umat katolik di wilayah termasuk beribadah.

Pada tanggal 2 November 1986, umat katolik wilayah Jangli mendapatkan kehormatan karena Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Yulius Darmaatmaja SJ berkenan berkunjung dan melakukan pemberkatan atas kapel.

Jumlah umat Wilayah Yohanes Rasul Jangli sekarang ini berjumlah…………jiwa.

           

b. Kapel St Petrus Tengger

c. Kapel St Maria Fatima Srondol

Pada tanggal 25 Juni 1968 dimulai pelajaran agama Katholik pertama kali di Srondol dan sekitarnya. Pelajaran diberikan oleh seorang guru agama yang sangat berpengaruh dan disegani waktu itu yaitu Bapak Ign Sardjono. Permandian untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 1970. Yang dipermandikan  sebanyak 20 orang.

Pembangunan kapel di daerah Srondol dimulai tanggal 8 Mei 1970 dengan cara gotong royong oleh seluruh umat setempat. Pemberkatan kapel Srondol dilakukan tanggal 13 Oktober 1970 oleh Romo C Carri SJ yang waktu itu menjabat Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang. Atas ijin Bp Uskup Agung Semarang, Rm Yustinus Kardinal Darmoyuwono, kapel Srondol ditingkatkan menjadi Gereja Stasi disebut Gereja St Maria Fatima Srondol. Wilayah stasi Srondol meliputi kring-kring asrama Brigif, Asrama Brimob, Srondol, Asrama BR, dan Ngesrep.

Awal tahun 1976 dibangun jalan arteri Srondol-Jatingaleh di mana as jalan lingkar tersebut tepat pada altar kapel. Terpaksa kapel digusur. Umat mencari tempat baru untuk merayakan ekaristi. Salah satu keluarga yang paling lama menyediakan rumahnya sebagai tempat ibadat waktu itu adalah Bapak Paijan di jalan Ace Srondol Wetan. Rumah itu mampu menampung 150 sampai 200 umat.

6. Pemekaran (Paroki Banyumanik)

Perumnas Banyumanik mulai ditempati oleh banyak penghuni baru yang ternyata  berasal dari paroki-paroki di Kotamadya Semarang dan sekitarnya. Melihat perkembangan yang demikian, Yayasan Papa Miskin Paroki Karangpanas segera mencari lokasi untuk tempat kapel baru sebagai pengganti atas kapel yang tergusur.

Setelah melalui pertimbangan yang cermat segera dibangunlah pada tahun 1980 sebuah kapel di daerah perumahan Banyumanik yang sekarang dipakai oleh paroki sebagai ruang pertemuan. Dalam kurun waktu 6 bulan kapel baru tidak dapat menampung umat yang berkembang sedemikian pesat. Jumlah umat waktu itu 350 kepala keluarga.

Dengan keputusan rapat Dewan Paroki Karangpanas tanggal 16 Oktober 1981 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja St. Maria Fatima Banyumanik. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 1 Juni 1982 oleh Romo Kardinal yang waktu itu berkenan hadir di tengah-tengah umat Banyumanik dan berstatus sebagai pastur pembantu Karangpanas.        

Pemberkatan Gereja dilakukan oleh Mgr Yulius Darmaatmaja SJ selaku Uskup Agung Semarang pada tanggal 13 Oktober 1982. Bertepatan dengan upacara pemberkatan itu, umat Banyumanik memperoleh anugerah besar. Status Stasi St Maria Fatima Banyumanik ditingkatkan menjadi Paroki St Maria Fatima Banyumanik.

 

B.               Periode Diocesan

1. Serah Terima dari Jesuit ke Praja

Pada hari Minggu tanggal 22 Januari 1995, pastor L Smit SJ diganti sebagai pastor Paroki Karangpanas oleh seorang pastor praja bernama St Heruyanto Pr. Serah terima pengelolaan waktu itu dihadiri oleh pastor J Sunarko SJ, wakil dari Serikat Yesus. Dengan demikian pimpinan paroki yang sejak semula diserahkan kepada Serikat Yesus dialihkan dan akan diurus kemudian hari oleh imam sekulir.

Sampai pada saat itu, umat Karangpanas sebenarnya belum memiliki gedung Gereja sendiri untuk merayakan ekaristi termasuk pastoran dan tempat kegiatan umat. Semuanya masih meminjam Yayasan PAK. Maka pada pergantian pengelola paroki itu pun disusulkan MOU mengenai penggunaan tempat. Yang penting dicatat adalah PAK menyerahkan kepada KAS pemakaian kapel beserta pastoran untuk waktu 20 tahun mulai tanggal kontrak ditandatangani.

 2. Pertumbuhan umat pesat

Semakin lama umat semakin bertambah banyak. Pada hari besar Natal dan Paskah diadakan misa di dua tempat yaitu di Gereja Hati Kudus Yesus Karangpanas dan Kapel bruderan FIC Don Bosco. Dalam perkembangan selanjutnya misa natal dan paskah diadakan di satu tempat yaitu di lapangan Yayasan PAK dengan memasang tratak sebanyak kurang lebih 30 unit. Kapel Hati Kudus Yesus sendiri hanya mampu menampung umat maksimum 500 orang.

Menyadari jumlah umat yang semakin banyak dengan tumbuhnya suburnya perumahan baru di kawasan Candi Atas dan daerah sekitarnya dibutuhkanlah Gereja yang lebih besar. Romo St. Heruyanto bersama dengan Dewan Paroki mengadakan kerja sama dengan Yayasan PAK. Hasil kerjasama itu adalah pelimpahan tanah dari yayasan PAK seluas kurang lebih 4000 meter persegi untuk kepentingan paroki. Akhirnya dibangunlah  gedung gereja yang baru.

Rumah yang sudah lama dirindukan oleh umat Katolik Karangpanas ini diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr I Suharyo pada tanggal 1 Juni 2000. Gereja baru ini disebut sebagai Gereja St. Athanasius Agung di Karangpanas Semarang (sub titulo Sancti Athanasii)

 

 

Posted in Sejarah Paroki and tagged , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *