Penggandaan roti dan ikan, sungguh nyata adanya

Di salah satu diskusi dalam situs katolisitas, seorang pembaca menuliskan bahwa dia pernah mendengar bahwa ada sebagian umat Katolik yang mengatakan bahwa mukjizat tersebut tidaklah benar-benar terjadi, karena mereka berpendapat bahwa yang terjadi hanyalah orang-orang tersebut saling berbagi, yang dimulai oleh anak kecil yang memberikan lima roti dan dua ikan (lih. Yoh 6:9). Saya memberikan beberapa argumentasi sebagai berikut:

1. Dalam kaitan dengan makna literal.

Kalau kita mau tetap setia terhadap teks, maka yang pertama kali yang harus kita lihat adalah makna literal. Ini berarti apakah dengan mengatakan bahwa kejadian ini hanyalah “saling berbagi” merupakan manifestasi bahwa kita tidak percaya bahwa Kristus dapat melakukan hal ini? Apakah dengan demikian, kita ingin menghilangkan dimensi mukjizat yang dilakukan oleh Kristus? Di satu sisi, dari teks juga tidak dapat disimpulkan secara pasti bahwa kejadian penggandaan roti dan ikan hanyalah merupakan peristiwa berbagi dalam komunitas.

Bahkan dari teks “14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”
“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.” (Yoh 6:14-15) maka kita melihat bahwa orang-orang itu mengganggap kejadian penggandaan roti dan ikan adalah suatu mukjizat, sehingga mereka ingin menjadikan Yesus sebagai raja. Kalau hanya peristiwa berbagi dalam komunitas, mungkin reaksi dari orang-orang tidak akan sampai ingin menjadikan Yesus sebagai raja dan hanya menganggap bahwa kejadian tersebut adalah hal yang biasa saja.

2. Dalam kaitannya dengan komentar dari Bapa Gereja.

Dlm Catena Aurea, St. Thomas mengutip St. Agustinus dan Bede:

“AGST. Dia memperbanyak lima roti di tangan-Nya, sebagaimana Dia menghasilkan panen dari beberapa bulir. Ada kekuatan di tangan Kristus; dan yang terjadi pada lima roti itu, seolah-olah, biji, yang tidak jatuh ke bumi, namun menjadi berlipat ganda oleh-Nya, yang menciptakan bumi.

BEDE. Ketika orang banyak melihat mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan kita, mereka kagum; karena mereka belum tahu bahwa Dia adalah Allah. Kemudian orang-orang, Penginjil menambahkan, yaitu orang-orang duniawi, yang pemahamannya adalah duniawi, ketika mereka telah merasakan keajaiban bahwa Yesus, mengatakan, ini adalah kebenaran bahwa seorang Nabi telah datang ke dalam dunia.

3. Dalam kaitan dengan Ekaristi.

Kalau melihat konteks dari Yoh 6, kita akan melihat kaitan antara mukjizat penggandaan roti (Yoh 6:1-13) dan mukjizat penggandaan Roti Hidup, yaitu Yesus sendiri dalam Sakramen Ekaristi (Yoh 6:25-68). Dengan mereduksi mukjizat penggandaan roti menjadi sekedar kejadian berbagi di dalam komunitas, menjadi sulit untuk melihat konteks Ekaristi sebagai suatu mukjizat, di mana Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan) dalam setiap partikel roti dan anggur, serta menggandakan Diri-Nya, sehingga Dia dapat tinggal dan bersatu dengan seluruh umat beriman. *diedit dr katolisitas.org

Posted in Renungan and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *