Seikat #4, Per Mariam ad Jesum

Seikat 4,

Per Mariam ad Jesum

Mariologi

Sudah sejak abad I, refleksi teologis tentang Bunda Maria (Mariologi) berkembang dalam hidup Gereja. Mariologi adalah refleksi teologis karena di dalamnya kita membicarakan Maria sebagai bagian dari pengalaman kita berelasi dengan Allah. Dengan kata lain: Kita tdk bisa mengarahkan perhatian hanya pada Maria dan melepaskannya dari peranannya di dalam karya keselamatan Allah terhadap umat manusia. Jika bicara tentang Maria, kita harus merenungkan hubungan Maria dengan Allah dlm Kristus (Kristologi) & hubungan Maria dg Gereja (Ekklesiologi).
Ada tendensi, selama abad-abad I, Gereja melebih-lebihkan devosi kepada Bunda Maria (selanjutnya disingkat BM). Apakah akibatnya kemudian? Muncullah pandangan spekulatif tentang jati diri dan perannya. Karena hal inilah, Gereja Katolik juga dituduh oleh umat Protestan sebagai yang me-”nuhan”-kan Maria/menyejajarkan Maria dengan Allah. Contoh beberapa kitab apokrif tentang BM yang tidak diakui kebenarannya oleh Gereja: Pra-Injil Yakobus/Proto evangelicum Jacobi (riwayat Maria dari lahir sampai menjadi Ibu Yesus), Liber Transitus Mariae (ttg akhir hidup Maria), Injil Thomas (ttg masa muda Maria), Epistola Apostolorum (surat para rasul), Acta Petri (Kisah Petrus).

Maria dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPB)

KSPB tdk bnyak bicara ttg segi historis Maria. Informasi dari KSPB dipakai sebagai dasar teologis tentang Maria, lebih-lebih dalam kaitannya dengan Kristus & Gereja. Secara khusus Lukas & Matius bicara tentang Maria dalam kisah kelahiran & masa kanak-kanak Yesus sampai penyaliban-Nya. Kisahnya sendiri bagaikan rangkaian mozaik yg tidak utuh tetapi tetap bisa dijadikan sebagai titik pijak refleksi teologis.
Injil Markus hanya menyebut 2 kali tentang Maria ibu Yesus (Mrk 3:31 & 6:3). Nampaknya Markus tidak berminat bicara tentang peranan istimewa Maria pada awal hidup Yesus.
Sementara itu, Injil Matius justru menunjukkan peran Yusuf & Maria; juga dipaparkan silsilah Yesus melalui Yusuf (1:1-16) dan dikandung oleh perawan Maria (1:18-25). Matius merefleksikan Maria sebagai Bunda Yesus Kristus yang mengandung dari Roh Kudus. Dengan kata lain, Matius menegaskan keperawanan & kebundaan ilahi Maria.
Injil Lukas lebih banyak menampilkan Maria dibandingkan ketiga penginjil lainnya (lih. Luk 1-2). Pada masing-masing episode, Maria ditampilkan memegang peran penting dalam kehidupan Yesus dan misi keselamatan-Nya. Dalam karya publik Yesus, Maria juga ditampilkan lagi (lih. Luk 8:19-21) Bahkan, dalam Kis 1:14 juga ditampilkan lagi figur Maria yang bersama para murid tekun berdoa menantikan Roh Kudus.
Injil Yohanes mempunyai 2 perikop tentang Maria yaitu:
ŒPerkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Di sini Maria ditampilkan sebagai perantara antara keluarga mempelai dengan Yesus.
Maria di bawah salib (Yoh 19:25-27). Di sini Maria menunjukkan kesetiaannya utk mendampingi Yesus dan karya misi-Nya sampai wafat-Nya.

Maria dalam Ajaran para Bapa Gereja

Ignatius Anthiokia (110 M)

Ia mengintegrasikan ajaran tentang Maria dengan data-data dalam Kitab Suci. Ia membela keperawanan Maria dengan menempatkannya pada Kristologi dan Soteriologi (ajaran tentang keselamatan). Pada intinya, peran Maria direfleksikan dalam sejarah keselamatan.

Yustinus Martir (165 M)

Ia mempertahankan paham tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan & membuat perbandingan antara Maria dan Hawa. Hawa melahirkan dosa & kematian tetapi Maria melahirkan keselamatan & kehidupan. Ia juga mengembangkan refleksi atas citra etis Maria yaitu tentang kekudusannya.

Ireneus dari Lyon (202 M)

Ia merefleksikan Mariologi dalam upayanya melawan 2 ajaran sesat yaitu heretisme (bidaah) Ebonit dan Gnostik (Doketisme). Ireneus berperan besar dlm mengembangkan refleksi teologis peran Maria dalam sejarah keselamatan, citra Maria yang kudus & hubungan antara Maria & Gereja.

Mariologi sejak Abad III

Konsili Efesus (431 M) meresmikan dogma Maria sebagai Bunda Allah/Theotokos. Sejak abad IV – VI Gereja semakin menegaskan keyakinannya tentang keperawanan Maria baik ante partum (sblm melahirkan) maupun post partum (stlh melahirkan).
Keyakinan akan kekudusan Maria berkembang terus menuju pengakuan bhw Maria dikandung tanpa dosa. Paus Pius IX pd th. 1854 menyatakan itu sebagai dogma Gereja. Meski demikian, keyakinan tsb sebenarnya sudah sejak 1477 dinyatakan Gereja lewat Paus Sixtus IV, Konsili Trente (1546) & Paus Alexander VIII (1690).
Dalam hubungan dg sejarah keselamatan, Maria juga digelari mediatrix (perantara), mater redemptoris (Bunda Penebus) & coredemptrix (rekan Penebus).

Refleksi Ajaran Gereja tentang Maria

Maria Bunda Allah

Pernyataan Maria Bunda Allah adalah dasar yg melegitimasi semua ajaran ttg devosi kepada Maria. Dalam KSPB, Yesus diakui sebagai Anak Allah, Firman yang Hidup. Ia sehakikat dengan BapaàKonsili Nicea 325 M. Karena sehakikat dengan Bapa, maka Yesus sungguh-sungguh Allah. Di dlm Dia, kita mendapati Allah & manusia secara serentak (Konsili Efesus th. 432 & Calcedon th. 451).
Iman akan Yesus mempengaruhi pandangan Gereja ttg Maria. Krn Yesus diimani sbg Allah, maka Maria dpt pula disebut Bunda Allah.
Sejak abad VI, Maria digelari Theotokos; Dei-genitrixà “yang melahirkan Allah”. Gelar ini diresmikan pada konsili Efesus th. 431 M. Dengan gelar Bunda Allah, bukan artinya Maria melahirkan Allah Mahaesa atau Allah yang punya ibu bernama Maria. Gelar itu harus dipahami dalam kaitannya dengan iman Gereja akan Yesus sebagai Allah Putera yang sehakikat dengan Bapa.

Keperawanan Maria

Soal ini tidak pernah ditetapkan dogma tetapi diakui dan dipercayai oleh Gereja. Dasarnya ada dalam Kitab Suci. Keperawanan ini menjadi pertanda bagaimana Allah melindungi kebundaan ilahi Maria. Keyakinan ini hendaknya ditempatkan sebagai suatu sikap rohani Gereja.

Kesucian Maria yang sempurna

Gereja meyakini bahwa perawan Maria menjaga seutuhnya jiwa-raganya bagi Allah & memberikan pula dirinya sepenuhnya kepada Allah. Kesatuan utuh ini menjadi dasar akan paham kekudusan Maria. Dari sini, Gereja menetapkan dogma Maria yang dikandung tanpa noda dosa (immaculata). Kekudusan Maria absolut sejak ia dikandung ibunya. Maria mjd “tabernakel” bagi Allah Putera.

Maria diangkat ke surga (assumptio)

Pesta Maria Assumpta (diangkat ke surga dg jiwa-raganya): 15 Agustus. Keyakinan ini diumumkan sebagai dogma oleh Paus Pius XII tgl 1 Nov 1950 dlm konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Antara th 1849-1950 sudah banyak permintaan dari umat di segala penjuru dunia agar iman bahwa Maria diangkat ke surga diumumkan sebagai dogma.
Keyakinan akan pengangkatan Maria ke surga sebetulnya sudah ada dalam liturgi kuno di Yerusalem sejak abad II. Segera setelah konsili Efesus yg menetapkan Maria sebagi Bunda Allah, uskup Yerusalem yg bernama Giovenale memberkati sebuah gereja yang dipercayai sebagai tempat di mana Maria dikuburkan. Di dalam Gereja itu, ada sebuah kuburan kosong karena Maria hanya dianggap tidur & segera setelahnya, ia bangkit lalu diangkat ke surga dengan jiwa raganya.
Konsili Vatikan II juga berbicara ttg dogma tsb dalam Lumen Gentium (LG) art. 59: “Akhirnya sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan tak Tercela yang senantiasa kebal terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan jiwanya.” Ungkapan “jiwa & raga” artinya seluruh kemanusiaan Maria. Dg seluruh keadaan duniawinya, Maria beralih dlm keadaan baru surgawi. Dogma ini secara konkret memperlihatkan seorang manusia yg sepenuhnya ditebus Allah. Dogma itu pd dasarnya adl META-DOGMA yaitu pemadatan semua dogma & ajaran lain ttg Maria.

Maria Pengantara

Pada dasarnya, yang menjadi Pengantara (mediator) satu-satunya adalah YESUS KRISTUS (1 Tim 2:5-6). Apa artinya Maria disebut pengantara? Apakah ia ada di samping Yesus? KV II menolak paham tsb. LG art 60: “Adapun peran keibuan Maria terhadap semua umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu melainkan justru menunjukkan kekuatannya.”
Sejak gelar mediatrix pada abad VI dipakai, Maria surgawi  dipahami sbg yg sama spt para kudus mendoakan kita umat beriman. Pengantaraan Maria hrs dipahami sbg yg berada di pihak manusia (dari manusia kpd Allah) krn kualitas pribadi/imannya yg membuatnya begitu dekat dg Allah dalam Yesus Kristus. Pengantaraan Maria hrs dibedakan dg pengantaraan Yesus yg berasal dari Allah kepada manusia sekaligus dari manusia kepada Allah.
Jangan ada kesan bhw kita tdk bisa berhubungan langsung dengan Allah dan Kristus tanpa Maria! Maria sbg umat beriman yg tanpa cacat/cela dosa selalu mendoakan kita dan rahmat Allah turun melalui perantaraan Maria. Gelar Maria sbg perantara sejalan dg gelar ibu rohani semua manusia & umat beriman. LG 54: “Maria menduduki tempat paling luhur sesudah Kristus dan paling dekat dengan kita.”

Maria Bunda Gereja

LG art 63 menyebut Maria sbg “pola Gereja” (typos Ecclesiae). Dg gelar ini, Maria menyatakan sepenuhnya jatidiri Gereja di hadapan Allah dan Kristus.
LG art 62: “Dengan cinta kasih keibuannya, Maria memperhatikan saudara-saudara Puteranya yang masih dlm peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran sampai mereka mencapai Santa Perawan disapa dengan gelar pembela (advocata), pembantu (auxiliatrix), penolong (adiutrix), perantara (mediatrix).
Dlm devosi populer, gelar Maria sbg Bunda Gereja ini paling mudah dipahami. Citra Maria sbg ibu amat meresap dalam hati umat. Keibuannya dirasakan membawa damai, perlindungan, hiburan, pertolongan, dsb.
Dalam Yoh 19:26 saat Yesus menyerahkan BM kepada Yohanes, ayat itu sering dianggap penegasan keibuan Maria atas para murid (termasuk Grj). Juga pada Kis 1:14, kehadiran Maria bersama para murid direfleksikan sebagai kehadiran seorang ibu yang terlibat dalam suka-duka anak-anaknya.

Maria dalam Praktik Devosi Gereja

Maria Ratu Rosario

Rosario berasal dari kata rosarium yg artinya taman bunga mawar. Maka, kata rosario adalah kata simbolis untuk rangkaian doa-doa yg diucapkan bagaikan bunga mawar yang dipersembahkan kepada BM.
Doa rosario terdiri dari serangkaian 150 buah doa Salam Maria yg didoakan dalam 15 sepuluhan; masing-masing sepuluhan berisi renungan atas 15 peristiwa penyelamatan. Pada mulanya, jumlah 150 buah itu dikaitkan dg jumlah 150 doa mazmur. Namun, pada th…… Paus Yohanes Paulus II meresmikan satu rangkai misteri penyelamatan lagi yaitu MISTERI CAHAYA. Dg demikian, anggapan tradisional bhw jumlah 150 diambil dari mazmur adalah relatif sifatnya.
Yg penting: melalui doa rosario, kita diajak utk merenungkan misteri-misteri keselamatan yg diwahyukan Tuhan dlm KS & Gereja.
Menjelang th 1500 M, doa rosario mjd semakin kuat peranannya dlm devosi kpd BM. St. Dominikus & para pengikutnya gencar mempropagandakan doa ini. Meski demikian, devosi ini sudah mempunyai akar sejarah yg begitu panjang pada abad-abad awal Gereja.
Bulan Mei dibaktikan secara khusus kepada Bunda Maria. Sementara itu, bulan Oktober secara khusus dipilih sbg bulan Rosario. Bgm sejarahnya? Ini ada kaitannya dengan syukur Gereja atas kemenangan tentara Kristiani melawan Turki dlm “perang suci/salib” di Lepanto th 1571 untuk mempertahankan Yerusalem & sekitarnya dari serbuan umat Muslim.
Paus Pius Gregorius XIII menetapkan tgl 7 Okt sbg perayaan Bunda Maria Ratu Rosario. Th 1884, Paus Leo XIII menetapkan bulan Okt sebagai bulan rosario.

Novena Tiga Salam Maria

Sejarah doa novena berawal dari pengalaman rohani Santa Mechtildis (1241-1298) yg hidup membiara di Hefta, Jerman. Ia mendapat banyak sekali pengalaman rohani yg mendalam dengan devosinya kepada BM. Dlm pengalaman rohaninya, BM memintanya mendoakan 3 kali Salam Maria setiap hari selama 9 hari berturut-turut.

  • Salam Maria Ià utk mengenang & memuliakan kekuatan Ilahi yg dianugerahkan Allah kepada BM.
  • Salam Maria IIàutk mengenang & meluhurkan kekuatan Ilahi yg dianugerahkan Yesus kepada BM.
  • Salam Maria IIIà untuk mengenangkan & mengagungkan cinta Ilahi Roh Kudus kepada BM.

Doa ini berkembang luas karena jasa Santo Antonius Padua, Santo Leonardus dari Porto Mauritio & Santo Alfonsus de Liquori. Angka 9 merupakan kelipatan dari angka 3 sebagai angka sempurna menurut KS.

Litani kepada Bunda Maria

Doa ini ditetapkan oleh Paus Sixtus V pd th. 1587. Mulanya, doa ini sering juga disebut sebagai litani dari Loreto, salah satu tempat ziarah Maria di Italia Utara. Namun, munculnya doa litani sudah terjadi antara th. 1150-1200.
Dalam bentuk aslinya, ada 49 gelar Maria yg disebutkan dan diikuti dengan refrein: Doakanlah kami. Dalam bentuk yg lebih kuno, hanya 15 gelar Maria. Doa ini lalu berkembang mjd doa-doa litani lain seperti Litani Hati Kudus Yesus, Litani para Kudus, dsb.

Per Mariam ad Jesum

Bunda Maria menuntun kita kepada Yesus Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Bunda Maria berdoa bagi kita di hadapan Allah dan Bunda Maria berdoa bersama kita semua sebab kita adalah anak-anaknya yang sungguh dikasihinya. Ia sungguh Bunda Gereja.

Posted in Katekese Iman Katolik and tagged , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *