Pastoral Mistagogi

-Ernest Mariyanto- (Majalah Liturgi, Tahun 2013, No. 4)

pemantapan iman

MISTAGOGI adalah masa keempat dari seluruh proses inisiasi orang dewasa,[1] yang dapat dikatakan pula  sebagai masa pemantapan iman. Inti masa mistagogi adalah membimbing para baptisan baru untuk lebih memahami makna sakramen-sakramen dan menghayatinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lewat masa ini Gereja juga mau  membantu mereka untuk hidup secara kristiani dan [kelak] mati secara kristiani pula. Masa mistagogi adalah masa pendampingan bagi orang-orang yang baru dibaptis supaya mereka menemukan apa artinya berpartisipasi penuh dalam misteri sakramental Gereja dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian diharapkan hidup mereka semakin terbentuk oleh perayaan sakramen-sakramen yang mereka ikuti.
Para baptisan baru ini biasa disebut “neofit” yang berarti “tanaman baru.” Para baptisan baru itu ibarat tanaman baru yang harus rutin disiram dan terus dipupuk agar tumbuh menjadi pohon sehat, yang menghasilkan buah-buah yang baik. Memang, persiapan kateketis mereka sudah purna, tetapi harus diakui bahwa masih banyak hal yang harus mereka pelajari sekitar apa artinya hidup sebagai orang katolik. Banyak hal menjadi berbeda ketika mereka sungguh-sungguh terlibat. Begitu masuk dalam kancah pergulatan sehari-hari  sebagai orang katolik, para neofit sering memiliki lebih banyak pertanyaan mengenai hidup dalam iman. Maka mereka memerlukan dukungan terus-menerus dari komunitas sehingga iman yang baru ditanam dalam diri mereka bisa tumbuh dan mengakar secara mendalam.
Jadi, sesudah dibaptis, para neofit masih perlu dibimbing supaya imannya sungguh mantap, supaya mereka menjadi bagian utuh jemaat dan aktif dalam kegiatan serta karya pelayanan kaum beriman, dan supaya mereka dapat mengamalkan hidup nyata  sebagai murid Yesus Kristus. Maka pastoral mistagogi dapat difokuskan pada tiga sasaran. Pertama, masa mistagogi diisi dengan katekese untuk meningkatkan pemahaman mengenai sakramen-sakramen dan keterampilan dalam melaksanakannya. Mistagogi juga dapat dikatakan  sebagai masa katekese pasca-baptis. Kedua, masa mistagogi dimanfaatkan untuk membangkitkan komitmen dalam diri para baptisan baru untuk terlibat aktif dalam karya-karya Gereja. Ketiga, masa mistagogi juga digunakan untuk mengobarkan spiritualitas murid Kristus dalam diri para baptisan baru.
Di banyak paroki, masa mistagogi belum dimanfaatkan secara baik. Bahkan ada paroki-paroki yang tidak mengenal masa mistagogi. Inisiasi berakhir dengan pembaptisan, dan sesudah pembaptisan tidak ada apa-apa lagi. Sangat disayangkan.
Supaya masa mistagogi sungguh-sungguh berbuah, paroki hendaknya mempunyai Program Mistagogi yang baik. Selaras dengan tujuannya, baptisan baru harus diceburkan ke tengah jemaat. Maka, baik sekali kali masa mistagogi dibuka dengan penyambutan baptisan baru oleh jemaat lingkungan. Bisa jadi belum semua warga lingkungan mengenal si baptisan baru atau sebaliknya: baptisan baru belum mengenal semua warga lingkungan. Kesempatan ini dapat digunakan untuk saling mengenal: si baptisan baru mengenal setiap warga lingkungan dan setiap warga lingkungan mengenal si baptisan baru lalu menerima dan merengkuhnya  sebagai bagian utuh jemaat lingkungan. Dalam acara ini, ketua lingkungan dapat membeberkan kegiatan (rutin / non rutin) lingkungan dan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan si baptisan baru bisa mengambil peran. Juga dapat diadakan sharing: baptisan baru dapat sharing mengenai perasaan mereka setelah menerima pembaptisan dan harapannya  sebagai orang katolik, warga lingkungan. Salah satu warga lingkungan juga dapat sharing tentang pengalaman imannya  sebagai warga lingkungan.
Kalau inisiasi dilaksanakan pada Malam Paskah, mistagogi berlangsung selama Masa Paskah. Rentang waktu ini memiliki tujuh pekan. Kalau dalam satu pekan diadakan sekali pertemuan dengan baptisan baru, maka diperlukan tujuh pokok bahasan. Kalau pertemuan pertama diisi dengan penyambutan baptisan baru dan pekan terakhir dipakai untuk novena, maka masih ada lima tema katekese. Sebagai tema pertama saya usulkan pemahaman tentang Perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah puncak kehidupan orang katolik. Minimal, setiap Minggu si baptisan baru akan mengikuti Perayaan Ekaristi. Tetapi harus diakui bahwa yang terjadi adalah sebaliknya: Ekaristi sepertinya tidak bermakna, tak berdaya untuk mempengaruhi peri hidup orang katolik. Betapa banyak orang tidak mengikuti Perayaan Ekaristi dengan segenap hati; betapa banyak orang kecewa dengan pelaksanaan Perayaan Ekaristi; begitu banyak baptisan baru yang dalam waktu singkat mulai tidak bisa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khusyuk. Solusinya harus dicari dalam  pemahaman dan penghayatan para peraya Ekaristi dan pada pelaksanaan Ekaristi sendiri. Maka tema paham dan terampil berekaristi mutlak diperlukan. Baptisan baru perlu dibantu untuk lebih memahami dan menghayati Ekaristi dan terampil melaksanakannya. Baptisan baru perlu dibantu untuk memahami makna setiap bagian Ekaristi dari awal / pembukaan sampai akhir / penutup. Dan dari pemahaman ini ditumbuhkan juga penghayatan. Di samping itu ketrampilan baptisan baru juga perlu dikembangkan, misalnya dalam dialog baik dengan atau tanpa lagu, terampil melayani Ekaristi, terampil merancang dan melaksanakan Ekaristi,  dan lain-lain. Para baptisan baru harus sungguh paham dan terampil merayakan Ekaristi dan menghayati spiritualitasnya, yakni spiritualitas syukur dan berbagi.[2]
Tema lain yang dapat digarap untuk mengisi masa mistagogi adalah pemahaman kebiasaan orang kristen; lihat Puji Syukur no. 8. Dari sepuluh Kebiasaan orang kristen yang ada di sana, dapat ditekankan tema-tema berikut: 1) Berhimpun pada hari Minggu. 2) Membaca Kitab Suci. 3) Melaksanakan Ibadat Harian. 4) Berdoa bersama dan pribadi. 5) Terlibat dalam Gereja dan masyarakat.[3]
Menjelang Pentakosta, biasanya ada novena. Baptisan baru diajak untuk mengikuti novena secara penuh, sembilan hari. Mereka bisa dilibatkan dengan memberi peran yang bisa mereka lakukan, misalnya membaca salah satu doa atau teks bacaan. Dapat juga ia dilibatkan (bersama warga senior) untuk menyiapkan sesuatu demi kelancaran novena.
Secara formal masa mistagogi dapat ditutup tetapi sebagai masa pemantapan iman tidak boleh berakhir karena pemantapan iman harus berlangsung sepanjang hayat. Penutupan masa mistagogi hendaknya dikemas sedemikian  rupa sehingga sungguh-sungguh ada kesan. Salah satu bentuk penutupan yang baik adalah Retret Pengutusan yang dilaksanakan dalam weekend menjelang Pentakosta, artinya mulai Jumat sore sebelum Pentakosta sampai dengan Minggu Pentakosta (siang). Jumat sore dan seluruh Sabtu dapat digunakan untuk membulatkan hakikat dan spirit baptisan baru  sebagai murid Kristus yang siap diutus. Sesi-sesi ini dapat diakhiri dengan merumuskan komitmen. Setiap baptisan baru dibimbing untuk membuat komitmen yang akan mereka lakukan segera sesudah Retret Pengutusan. Mengantar sesi pengambilan komitmen, dapat dipaparkan aneka bidang tempat baptisan baru dapat menyalurkan komitmennya, misalnya: lingkungan, dewan paroki (seksi-seksi), komunitas kategorial (Persekutuan Doa, Legio Maria, Kerahiman Ilahi,  dan lain-lain).
Dalam kaitan dengan tata waktu, aslinya, dalam tradisi liturgi Gereja, inisiasi orang dewasa selalu dilaksanakan pada Malam Paskah. Maka masa mistagogi, secara tradisi, membentang selama Masa Paskah, dimulai pada saat para baptisan baru dibaptis pada malam Paskah dan berlangsung sampai dengan Hari Raya Pentakosta. Kalau pembaptisan dilaksanakan di luar Masa Paskah, masa mistagogi tetap dapat dirancang dengan mengacu pada mistagogi Masa Paskah, yakni dalam rentang waktu 7 pekan. Polanya kurang lebih sama: dimulai dengan penyambutan baptisan baru di lingkungan, lalu katekese mingguan dengan 5 tema, diakhiri dengan Retret Pengutusan. Karena konteks Pentakosta tidak ada, maka novena bisa ditiadakan.
Untuk pengelolaan masa mistagogi secara maksimal, sebaiknya paroki membentuk Tim Mistagogi. Tugas tim ini a.l. merancang dan melaksanakan program mistagogi, dan menyusun bahan-bahan katekese mistagogi.


[1]       Inisiasi Kristen Orang Dewasa mencakup empat masa dan tiga tahap. Para simpatisan mengawali inisiasinya dengan meniti Masa Prakatekumenat yang diakhiri dengan inisiasi tahap I yakni Pelantikan Katekumen. Dengan dilantik menjadi katekumen, para calon memasuki masa kedua yakni Masa Katekumenat yang diakhiri dengan inisiasi tahap II: Pemilihan Calon Baptis. Dengan dipilih menjadi calon baptis,  para  katekumen memasuki masa ketiga yakni Masa Persiapan Terakhir yang bermuara pada inisiasi tahap III yakni Penerimaan Sakramen-Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma, Ekaristi). Dengan menerima sakramen-sakramen inisiasi, para baptisan baru memasuki masa keempat yakni Masa Mistagogi.

[2]       Contoh bahan yang cocok untuk ini adalah Paham dan Terampil Ber-Ekaristi, terbitan Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta. Dengan mengambil inspirasi  dari buku ini, Tim Mistagogi Paroki dapat menyusun bahan Paham dan Terampil Ber-Ibadat Harian, Paham dan Terampil Ber-Ibadat Sabda,  Paham dan Terampil Ber-Devosi, dan lain-lain.

[3]       Tema-tema lain dapat digumuli di luar masa mistagogi, misalnya dalam pertemuan-pertemuan lingkungan.

Posted in Bidang Pewartaan, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik and tagged , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *