“Saling Mengampuni”

Intisari Bacaan

  1. Dendam dan amarah merusak relasi dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan Tuhan. Orang yang mampu mengampuni dan menaruh belas kasih kepada sesamanya juga akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (Bacaan I – Sirakh)
  2. Setiap orang beriman adalah milik Tuhan: hidup bagi Tuhan dan mati bagi Tuhan. (Bacaan II – Roma)
  3. Allah telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Kita juga harus mengasihi dan mengampuni tanpa batas. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti pengampunan menurutku?
  3. Bagaimana sikapku selama ini terhadap sesama/ orang lain yang berbuat salah kepadaku?
  4. Apa yang akan aku lakukan agar aku sungguh mampu mengampuni dan mengasihi orang lain tanpa batas?

Katekismus Gereja Katolik

PENGAMPUNAN

2840    Sungguh mengejutkan bahwa kerahiman ini tidak dapat meresap di hati kita sebelum kita mengampuni yang bersalah kepada kita. Sebagaimana tubuh Kristus, demikian pula cinta tidak dapat dibagi-bagi. Kita tidak dapat mencintai Allah yang tidak kita lihat, kalau kita tidak mencintai saudara dan saudari kita yang kita lihat Bdk. 1 Yoh 4:20. Kalau kita menolak mengampuni saudara dan saudari kita, hati kita menutup diri dan kekerasannya tidak dapat ditembus oleh cinta Allah yang penuh kerahiman. Tetapi dengan mengakui dosa-dosa, hati kita membuka diri lagi untuk rahmat-Nya.

Sharing Iman

Diambil dari http://priakatolik.com/rahmat-pengampunan/

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat. 18:22)

“Sakitnya tuh di sini…..” Menjadi ungkapan nge-trend yang diambil dari petikan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Cita Citata. Sakit karena ada harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sakit karena diri kita mengenyam sesuatu yang pahit. Sakit karena kita menerima peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sakit karena kesempurnaan yang menjadi impian kita masih belum bisa dijangkau. Memang ketidaksempurnaan manusia membuka peluang bagi kita untuk melakukan kesalahan. Bahkan hal ini bisa terjadi secara timbal balik: kita melakukan kesalahan kepada orang lain dan orang lain melakukan kesalahan terhadap diri kita.

Lalu sebagai orang kristiani, sikap iman apa yang harus kita ambil berhadapan dengan kenyataan ini? Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang yang mengklaim pengikut Yesus? Menarik kisah yang diangkat dalam Injil hari ini. Ketika Petrus datang dan bertanya kepada Yesus, “…Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudarakua jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab,”Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Sabda Yesus ini bukan mau mengundang kita untuk mengampuni sampai empat ratus Sembilan puluh kali dan kita berhenti sampai di situ. Yesus mengajak kita untuk mengampuni tanpa batas. Mengampuni bukanlah perkara yang gampang. Menerima orang yang melukai hati kita bukanlah hal yang mudah. Namun itulah sikap yang harus ada dari pengikut Yesus. Ketika kita mengambil keputusan untuk mengampuni, saat itu juga pemulihan terjadi. Bukan hanya dari pihak kita atau dari pihak mereka yang bersalah kepada kita tetapi kesembuhan nyata bagi dua pihak yang menyakiti dan tersakiti.

Maka dari itu, marilah kita mohon rahmat pengampunan dari Tuhan untuk memampukan kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Kalau ini yang terjadi, maka kehidupan kita akan semakin bernilai di mata Tuhan dan sesama. Dunia pun akan menjadi tempat tinggal yang nyaman dan mendamaikan bagi semua orang.

 

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *