“Yang terdahulu menjadi yang terakhir”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kita hendaknya selalu dekat dengan Tuhan. Ia memiliki rencana yang indah atas hidup kita. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Kita dipanggil dan diutus untuk menampakkan kemuliaan Kristus melalui hidup kita. Hendaknya kita hidup sesuai dengan Injil dan teladan Kristus. (Bacaan II – Filipi)
  3. Yesus mengajak kita untuk bersikap murah hati kepada semua orang seperti Allah Bapa yang murah hati. Kemurahan hati Allah itu diterima dengan penuh rasa syukur dan bukannya rasa iri dan dengki. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah – yang merupakan wujud keadilan dan kemurahan hati-Nya – bagiku?
  3. Apakah selama ini aku sudah bersikap adil dan murah hati?
  4. Hal konkret apa yang akan aku lakukan sebagai ungkapan rasa syukurku atas keadilan dan kemurahan hati Allah yang sudah aku terima selama ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

KEADILAN DAN KEMURAHAN ALLAH

214      Allah, “la yang ada”, telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. “Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi” (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena “Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5); Ia adalah “cinta”, seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).

215      “Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya” (Mzm 119:160). “Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati” (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.

216      Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.

Sharing iman:

Dari berbagai sumber

Orangtua yang mempunyai lebih dari satu anak tahu betul situasi ini: salah satu anak protes dan menilai sang orangtua tidak adil karena merasa saudaranya menerima “lebih” dari apa yang dia terima. Entah “lebih” itu dipahami dalam arti lebih banyak, lebih bundar, lebih baru, dst. Situasi ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa saja si anak sebenarnya merasa bosan, butuh perhatian, atau iri. Namun bisa juga si anak memang merasa diperlakukan tidak adil. Untuk kasus ini, mau tak mau orangtua mesti dengan sabar menjelaskan arti keadilan di dalam pemberian tersebut.

Perumpamaan dalam Injil hari ini menggambarkan Kerajaan Surga seperti tindakan seorang “tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (Mat 20:1). Ada dua hal yang dapat digarisbawahi dari tindakan sang tuan rumah. Pertama, tindakan memberikan upah harian yang sama kepada para pekerjanya, dari yang bekerja sejak pagi hingga yang baru bekerja pada jam lima sore, mengilustrasikan kemurahan hati Allah di tengah kekayaan dan kekuasaan-Nya: tuan rumah memberikan nafkah yang cukup untuk penghidupan sehari-hari, terlepas dari berapa lama mereka bekerja. Kedua, keluhan buruh yang bekerja sejak pagi menggarisbawahi keadilan Allah: tuan rumah tak melanggar hak siapapun, karena semua pekerja sama-sama mendapatkan upah yang memadai untuk sehari kerja. Artinya, di dalam komunitas orang beriman, ‘upah’ orang percaya didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas prakarsa manusia. Karena itu perkataan Yesus, “yang terakhir akan menjadi yang terdahulu …” (Mat 20:16) mengulangi perkataan Yesus di bagian lainnya: “banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat 19:30) sekaligus menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan membalikkan penilaian manusia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini memperingatkan kita untuk tidak menerapkan prinsip penilaian dunia ke dalam kehidupan manusia. Hal ini tentu tidak dapat diterima oleh orang-orang yang mengharapkan dapat mengatur keselamatan menurut aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia menurut prinsip-prinsip, aturan-aturan, dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia atas dasar “pukulan dibalas dengan pukulan” atau “satu perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik yang lain.” Allah memiliki rancangan yang berbeda dengan rancangan manusia (Yes 55:8). Rancangan dan cara bertindak Allah seutuhnya adalah kasih. Kasih karunia Allah ini cukup untuk semua orang.

Posted in Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *