Menjadi Rekan Sekerja Allah

Intisari Bacaan

  1. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita dan mengharapkan yang terbaik dari diri kita, seperti pemilik kebun anggur yang sangat memperhatikan kebun anggurnya. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di dalam segala hal hendaklah kita selalu mengucap syukur dan melakukan yang baik. Semua itu akan mendatangkan damai sejahtera. (Bacaan II – Filipi)
  3. Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang mengikuti kehendak Allah dan yang menghasilkan buah-buah kebaikan. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku termasuk orang yang mudah bersyukur atau sulit bersyukur? Mengapa?
  3. Kasih Allah macam apa yang aku alami selama ini?
  4. Apa arti “rekan sekerja Allah” menurutku?
  5. Bagaimana aku selama ini menghayati panggilanku sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya?

Katekismus Gereja Katolik

PENYELENGGARAAN DAN SEBAB KEDUA

306      Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas keputusan-Nya. Tetapi untuk melaksanakannya, Ia mempergunakan juga kerja sama makhluk-Nya. Itu bukanlah bukti kelemahan, melainkan bukti kebesaran dan kebaikan Allah. Sebab Allah tidak hanya memberi keberadaan kepada makhluk-Nya, tetapi juga martabat, untuk bertindak sendiri, menjadi sebab dan asal usul satu dari yang lain dan dengan demikian bekerja sama dalam pelaksanaan keputusan-Nya.

307      Kepada manusia Allah malahan memberi kemungkinan untuk mengambil bagian secara bebas dalam penyelenggaraan-Nya, dengan menyerahkan tanggung jawab kepada mereka, untuk “menaklukkan dunia” dan berkuasa atasnya`. Dengan demikian Allah memungkinkan manusia, menjadi sebab yang berakal dan bebas untuk melengkapi karya penciptaan dan untuk menyempurnakan harmoninya demi kesejahteraan diri dan sesama. Manusia sering kali merupakan teman sekerja Allah yang tidak sadar, tetapi dapat juga secara sadar memperhatikan rencana ilahi dalam perbuatannya, dalam doanya, tetapi juga dalam penderitaannya. Dengan demikian secara penuh dan utuh mereka menjadi “teman sekerja Allah” ( I Kor 3:9; 1 Tes 3:2) dan Kerajaan-Nya.

308      Dengan demikian kebenaran bahwa Allah bekerja dalam setiap perbuatan makhluk-Nya tidak dapat dipisahkan dari iman akan Allah Pencipta. Ia adalah sebab pertama, yang bekerja dalam dan melalui sebab kedua. “Karma Allah yang mengerjakan ini dalam kamu baik kehendak maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:1.3). Kebenaran ini sama sekali tidak merugikan martabat makhluk, tetapi meninggikannya. Diangkat dari ketidakadaan oleh kekuasaan, kebijaksanaan dan kebaikan Allah, makhluk tidak dapat berbuat apa-apa, kalau ia diputuskan dari asalnya, karma “ciptaan menghilang tanpa Pencipta” (GS 36,3). Lebih lagi, ia tidak dapat mencapai tujuan akhirnya tanpa bantuan rahmat.

Sharing Iman

Pada abad pertama, banyak tanah di Israel disewa oleh sekelompok orang asing untuk usaha perkebunan anggur. Dalam peraturan sewa-menyewa tanah tersebut, penyewa berhak mengutus hamba-hamba atau orang kepercayaannya untuk mengumpulkan panenan itu. Tentu saja hal ini membuat penggarap-penggarap, yang merupakan penduduk asli, sering merasa dirugikan dan tidak jarang menimbulkan pemberontakan.

Yesus mengambil gambaran situasi ini untuk menjelaskan relasi antara Allah dengan umat Israel. Kebun anggur melambangkan umat. Hanya Tuhan Allah-lah yang memiliki umatNya. Allah memang mempercayakan pemeliharaannya kepada para pemimpin umat (Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini tampil sebagai para penggarap yang ingin menguasai milik tuan tadi. Para hamba ialah para nabi yang mendapat perlakuan buruk dari para pemimpin. Kemudian anak empunya kebun tadi ialah Yesus sendiri.

Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung memahami perumpamaan tadi sebagai alegori tersebut. Dalam Mat 21:45 disebutkan bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus. Mereka merasa diancam bakal mendapat hukuman dari Allah sendiri karena telah mempertanyakan sah tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang sebagai berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.). Mereka waswas bila pengajar atau “nabi” hebat tapi liar ini tidak ditertibkan, para penguasa Romawi mengira ada gerakan untuk memberontak. Hal ini tentu akan mempengaruhi situasi politik di tanah Yudea dan khususnya bagi kelestarian Bait Allah. Oleh karena itu mereka semakin bersikap memusuhi Yesus.

Padahal ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi, yakni bahwa semuanya ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka belum diadili oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum sungguh-sungguh menyingkirkan anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih ada waktu bagi mereka untuk berubah. Sayang kesempatan itu tidak mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh rencana-rencana mereka sendiri dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka tidak dapat memikirkan perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat ajakan untuk berubah. Mereka bahkan berusaha untuk merebut apa yang menjadi milik Allah.

Bagi kita sekarang, kebun anggur yang Allah percayakan kepada kita adalah Gereja. Kita adalah rekan sekerja Allah dalam pelaksanaan karya keselamatan-Nya. Dalam menjalankan panggilan dan perutusan ini, kita dihadapkan pada berbagai kesulitan dan tantangan. Bagaimana aku menyikapinya?

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *