“TINGGAL BERSAMA TUHAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Samuel tinggal di Bait Allah dan berproses mengenali panggilan Tuhan dalam hidupnya. (Bacaan I – 1 Samuel)
  2. Allah berkenan tinggal di dalam diri manusia, maka manusia harus senantiasa menjaga kemurnian tubuh dan jiwanya. (Bacaan II – 1 Kor)
  3. Pengalaman para murid mengikuti dan tinggal bersama Yesus menjadikan mereka sebagai pewarta Injil. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa arti Yesus: Anak Domba Allah?
  3. Apakah yang aku cari dalam hidup ini?
  4. Apakah aku menemukan Tuhan dalam hidupku? Kapan? Bagaimana caranya?
  5. Apakah aku menyediakan waktu yang cukup untuk tinggal bersama Tuhan dalam doa setiap hari?

Katekismus Gereja Katolik

787 Sejak awal, Yesus membiarkan para murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah dan memberikan mereka bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya dan dalam kesengsaraan-Nya. Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Ia menyatakan satu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

788 Ketika Ia tidak hadir lagi secara kelihatan di tengah murid-murid-Nya, Yesus tidak meninggalkan mereka sebagai yatim piatu. Ia menjanjikan, tinggal beserta mereka sampai akhir zaman, dan mengutus kepada mereka Roh-Nya. Dalam arti tertentu persekutuan dengan Yesus dipererat lagi: “Sebab Ia telah mengumpulkan saudara-saudarinya dari segala bangsa, dan dengan mengurniakan Roh-Nya Ia secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya” (LG 7).

789 Perbandingan Gereja dengan tubuh menyoroti hubungan yang mesra antara Gereja dan Kristus. Gereja tidak hanya terkumpul di sekeliling-Nya, tetapi dipersatukan di dalam Dia, dalam Tubuh-Nya. Tiga aspek Gereja sebagai Tubuh Kristus perlu ditonjolkan secara khusus: kesatuan semua anggota satu dengan yang lain oleh persatuannya dengan Kristus; Kristus sebagai Kepala Tubuh; Gereja sebagai mempelai Kristus.

Sharing Iman  www.sabda.org

Sebuah pepatah berbunyi, “Meski sederhana, tak ada tempat yang seteduh rumah sendiri.” Namun benarkah kita menginginkan rumah yang sederhana? Tragisnya, masih banyak orang yang tidak punya rumah, walau yang sederhana sekalipun. Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur atas rumah yang sudah kita miliki.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjalani kehidupan yang menguji keyakinan saya. Selama sepuluh bulan saya harus tinggal di satu ruangan besar yang di dalamnya hanya terdapat benda-benda kebutuhan primer, tak lebih, tak kurang. Sepanjang waktu tersebut Tuhan mengajari saya untuk puas dengan semua itu. Akhirnya saya pun berkeyakinan: “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Sesungguhnya tempat perteduhan orang kristiani bukanlah rumah yang terbuat dari batu dan adukan semen, melainkan Allah sendiri.

Saya menjadi agak enggan saat tiba waktunya untuk meninggalkan ruangan yang berharga itu dan kembali ke rumah saya sendiri. Namun saya memahami bahwa di mana pun saya tinggal, baik hari ini maupun di masa mendatang, Allah tetaplah tempat perteduhan saya yang sejati untuk selamanya.

Kata-kata berikut terdapat pada papan di luar sebuah gereja di Inggris: “Di mana pun Anda tinggal bukanlah masalah, sepanjang Anda tinggal di tempat yang tepat.” Bila Allah adalah tempat perteduhan Anda, berarti Anda tinggal di tempat yang tepat. Jika Anda tidak puas di tempat Anda berada, percayalah dan bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang telah Dia berikan untuk Anda. (JEY)

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *