“PANGGILAN PERTOBATAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yunus dipanggil dan diutus Allah untuk mewartakan pertobatan kepada orang Niniwe. (Bacaan I – Yunus)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk hidup murni dan lepas bebas agar siap menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus memanggil para murid untuk mewartakan pertobatan. Pertobatan adalah sikap batin yang tepat dalam menyambut datangnya Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus memanggilku untuk mengikuti-Nya? Apa tandanya?
  3. Panggilan Tuhan adalah ajakan untuk bertobat. Dalam hal apa aku perlu bertobat? Pertobatan apa yang akan aku lakukan?

Katekismus Gereja Katolik

1427 Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”(Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan (Kis 2:38). orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru.

1428 Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (LG 8). Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan manusia belaka. Ia adalah usaha “hati yang patah dan remuk” (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan (Yoh 6:44; 12:32), untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita (1 Yoh 4:10).

1429 Hal ini dibuktikan pertobatan Petrus sesudah ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Pandangan Yesus yang penuh belas kasihan mencucurkan air mata penyesalan (Luk 22:61) dan sesudah kebangkitan Tuhan, Petrus menjawab “ya” sebanyak tiga kali atas pertanyaan Yesus, apakah ia mencintai-Nya (Yoh 21:15-17). Pertobatan kedua juga memiliki satu dimensi persekutuan. Ini dinyatakan dalam satu seruan yang disampaikan oleh Yesus kepada satu umat secara keseluruhan: “Bertobatlah” (Why 2:5.16). Santo Ambrosius mengatakan tentang dua macam pertobatan; di dalam Gereja ada “air dan air mata: air Pembaptisan dan air mata pertobatan” (ep. 41,12).

Sharing Iman www.sabda.org

Anak Allah tidak hanya dilahirkan di tempat yang tidak layak dan dengan orangtua yang kita anggap tidak layak, tetapi Dia juga memilih para pengikut-Nya di tempat yang tidak layak. Dia tidak mencari murid di sekolah-sekolah agama untuk mendapatkan murid yang terpelajar. Dia tidak mendekati para negarawan yang cakap dan para orator yang terkenal. Sebaliknya, Yesus pergi ke Danau Galilea dan memanggil empat nelayan biasa, yakni Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. “Pilihan yang buruk,” kata sebagian orang. “Orang-orang yang tidak terpelajar. Orang-orang yang keras. Apa mereka tahu bagaimana memulai suatu gerakan yang mendunia? Mereka bahkan takkan mampu mengendalikan orang banyak jika mereka harus melakukannya.”

Kini, atas nama para nelayan di mana pun berada, saya katakan bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak sifat positif. Mereka adalah orang-orang yang panjang akal, berani, dan sabar. Mereka adalah orang-orang yang membuat rencana dengan hati-hati dan selalu memelihara peralatan kerja mereka. Sifat seperti itu sangat membantu dalam melaksanakan Amanat Agung (Mat 28:19-20), tetapi saya rasa bukan karena itu Yesus memilih orang-orang tersebut. Saya yakin Dia ingin memperlihatkan bagaimana Allah dapat mengubah orang biasa menjadi “penjala manusia” (Mrk 1:16-17).

Pekerjaan Allah sering kali dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap tak layak dari tempat yang tak layak pula, yakni seperti Anda dan saya. Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mengikuti Dia yang dapat menjadikan kita penjala manusia. Allah memakai orang biasa untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. (David Egner)

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *