KUASA KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Melalui Nabi Musa, Allah menjanjikan seorang nabi yang besar bagi bangsa Israel, yang akan menuntun mereka kepada keselamatan. (Bacaan I – Ulangan)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa melakukan hal yang benaar dan baik serta memusatkan perhatian hanya kepada Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus tampil sebagai pribadi yang penuh kuasa. Kuasa itu tidak berasal dari hukum tertulis atau tradisi seperti yang dimiliki para ahli Taurat, melainkan dari Diri-Nya sendiri sebagai Putera Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, Yang Kudus dari Allah?
  3. Apakah aku sudah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk memusatkan perhatianku kepada Tuhan?
  4. Seandainya aku adalah salah satu dari orang banyak dalam Injil, apakah yang akan aku wartakan tentang Yesus?
  5. Menurutku, mengapa roh-roh jahat pun taat kepada Yesus?

Katekismus Gereja Katolik

2331    “Allah itu cinta kasih. Dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persekutuan cinta kasih antar-pribadi. Seraya menciptakan umat manusia menurut citra-Nya sendiri … Allah mengukirkan panggilan dalam kodrat manusia pria dan wanita, dan karena itu juga kemampuan serta tanggung jawab untuk hidup dalam cinta dan dalam persekutuan” (FC 11).

“Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya …. Sebagai pria dan wanita Ia menciptakan mereka” (Kej 1:27). “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Kej 5:1-2).

2332    Seksualitas menyentuh segala aspek manusia dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Ia terutama menyangkut kehidupan perasaannya, kemampuan untuk mencintai, dan untuk melahirkan anak, dan lebih umum, kemungkinan untuk mengikat tali-tali persekutuan dengan orang lain.

2333    Tiap manusia, apakah ia pria atau wanita, harus mengakui dan menerima seksualitasnya. Perbedaan dan kesesuaian jasmani, moral, dan rohani ditujukan kepada pernikahan dan pengembangan hidup kekeluargaan. Keserasian suami isteri dan masyarakat untuk sebagiannya bergantung pada bagaimana kesalingan, kebutuhan, dan usaha saling membantu dari pria dan wanita itu dihayati.

2334    “Ketika menciptakan manusia sebagai pria dan wanita, Allah menganugerahkan kepada pria dan wanita martabat pribadi yang sama dan memberi mereka hak-hak serta tanggung jawab yang khas” (FC 22)Bdk. GS 49,2.. “Manusia bersifat pribadi: itu berlaku sama untuk pria dan wanita; karena kedua-duanya diciptakan menurut citra dan keserupaan Allah pribadi” (MD 6).

2335    Kedua jenis kelamin mempunyai martabat yang sama dan, walaupun atas cara yang berbeda-beda, merupakan citra kekuatan dan cinta kasih Allah yang lemah lembut. Persatuan suami isteri dari pria dan wanita mencontohi kedermawanan dan kesuburan Pencipta secara jasmani. “Seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Kesatuan ini adalah pangkal seluruh keturunan manusiaBdk. Kej 4:1-2.25-26; 5:1..

2360 Seksualitas diarahkan kepada cinta suami isteri antara pria dan wanita. Di dalam perkawinan keintiman badani suami dan isteri menjadi tanda dan jaminan persekutuan rohani. Ikatan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis, dikuduskan oleh Sakramen.

2361 Oleh karena itu seksualitas, yang bagi pria maupun wanita merupakan upaya untuk saling menyerahkan diri melalui tindakan yang khas dan eksklusif bagi suami isteri, sama sekali tidak semata-mata bersifat biologis, tetapi menyangkut inti yang paling dalam dari pribadi manusia. Seksualitas hanya diwujudkan secara sungguh manusiawi, bila merupakan suatu unsur integral dalam cinta kasih, yaitu bila pria dan wanita saling menyerahkan diri sepenuhnya seumur hidup” (FC 11).

Sharing Iman
www.sabda.org

Dengan kata-kata pujian, seorang ibu menumbuhkan rasa percaya diri pada anaknya. Dengan menebar fitnah, seorang karyawan menghancurkan karier koleganya. Begitulah daya kekuatan kata-kata! Mulut manusia dapat menghasilkan perkataan yang membangun atau menghancurkan.

Pada waktu Allah menciptakan alam semesta, Dia bersabda, maka semuanya jadi. Allah memperkatakan firman dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan perkataan-Nya. “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Perkataan Allah mengandung daya cipta yang mengagumkan. Beruntung karena Allah itu Mahabenar, Mahabaik. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia. Diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Diberi akal budi. Diberi kuasa atas seluruh bumi. Di dalam Yesus Kristus manusia juga beroleh persekutuan dengan Roh Kudus serta menerima karunia rohani.

Perkataan lidah kita pun memiliki pengaruh. Karena itu, semestinya kita menggunakan lidah sesuai dengan jati diri kita sebagai anak-anak Allah. Menggunakan lidah untuk mengatakan hal-hal yang baik dan benar selaras dengan kebaikan dan kebenaran-Nya. Bukan dengan niat untuk merusak dan menghancurkan sesama, melainkan untuk membangun mereka. Untuk mengingatkan diri sendiri dan sesama akan kasih Allah dan akan identitas baru kita sebagai anak-anak-Nya. Kiranya perkataan lidah kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang kita temui dalam keseharian. Kiranya kebaikan dan kebenaran Allah kita pancarkan pula melalui perkataan lidah.

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *