BERTOBATLAH, KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah menjanjikan keselamatan kepada Nabi Nuh, keturunannya, dan segala makhluk hidup dan Ia akan selalu setia pada janjiNya. (Bacaan I – Kejadian)
  2. Yesus wafat dan bangkit untuk keselamatan manusia, yang menantikan pemenuhan janji Allah. (Bacaan II – 1Petrus)
  3. Yesus memulai karyaNya dengan berpuasa di padang gurun dan mengalahkan pencobaan. Ia memanggil semua orang untuk bertobat dan percaya pada Injil. (Bacaan Injil – Markus)

 

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya pada janji keselamatan dari Allah, seperti Nabi Nuh?
  3. Apakah aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah pemenuhan janji keselamatan dari Allah?
  4. Apakah aku pernah mengalami pencobaan? Apa?
  5. Bagaimana aku menghadapi pencobaan itu?

Katekismus Gereja Katolik

538 Injil-injil berbicara tentang waktu kesendirian yang Yesus lewati di sebuah tempat sunyi, langsung sesudah pembaptisan-Nya oleh Yohanes: “Dibawa” oleh Roh Kudus ke padang gurun, Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari, tanpa makan. Ia hidup di antara binatang-binatang buas, dan malaikat-malaikat melayani-Nya. Pada akhirnya setan mencobai-Nya sebanyak tiga kali, dengan berusaha menggoyahkan sikap keputeraan Yesus terhadap Allah. Yesus menampik serangan-serangan ini, dalamnya cobaan Adam di firdaus dan cobaan Israel di padang gurun sekali lagi diangkat ke permukaan, dan setan mundur dari hadapan-Nya, supaya kembali lagi “pada waktunya” (Luk 4:13).

539 Injil-injil menunjukkan arti keselamatan dari kejadian yang penuh rahasia ini. Yesus adalah Adam baru, yang tetap setia, sedangkan Adam pertama menyerah kepada percobaan. Yesus melaksanakan perutusan Israel secara sempurna. Bertentangan dengan mereka yang dulu selama empat puluh tahun di padang gurun menantang Allah, Kristus memperlihatkan Diri sebagai Hamba Allah, yang taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dengan demikian Yesus adalah pemenang atas setan: ia sudah “mengikat orang kuat”, untuk merampas kembali darinya jarahannya. Kemenangan Kristus atas penggoda di padang gurun mendahului kemenangan kesengsaraan, bukti ketaatan cinta-Nya yang paling tinggi sebagai anak kepada Bapa-Nya.

540 Percobaan itu menunjukkan, atas cara apa Putera Allah itu Mesias, bertentangan dengan peranan yang setan usulkan kepada-Nya dan di mana manusia lebih senang melihatnya. Karena itu Kristus mengalahkan penggoda demi kita. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.

Sharing Iman
www.sabda.org

Sebelum saya cukup dewasa untuk mendapatkan SIM, saya sering memikirkan bagaimana rasanya mengendarai mobil di jalan raya. Saya kuatir kalau-kalau nanti saya akan tergoda untuk melaju dengan kecepatan penuh. Saya tidak tahu apakah saya akan dapat mengontrol diri untuk mengemudi menurut batas kecepatan dan syarat-syarat mengemudi yang telah ditentukan atau tidak. Namun ketika saya sudah berumur 16 tahun, saya menyadari bahwa saya pasti dapat mengontrol pedal gas, dan bukan sebaliknya.

Pernahkah Anda mendengar seseorang membenarkan dosanya, dengan menyatakan bahwa pencobaan yang datang itu tak tertahankan sehingga ia tidak punya pilihan lain? Atau, pernahkah Anda bertanya-tanya bahwa apa yang Anda lakukan itu sebenarnya bukan dosa? Bahkan Anda juga beralasan, bukankah kesempatan yang unik ini datang pada saat yang tepat dan memberikan apa yang Anda butuhkan?

Kita dapat belajar dari pencobaan yang dialami oleh Yesus Kristus, yakni bahwa saat kita memiliki kesempatan untuk berbuat dosa, Allah akan selalu menyediakan jalan keluar bagi kita atau Dia akan memberi kita kekuatan untuk menanggungnya (Lukas 4:1-13; 1Korintus 10:13). Dengan mengandalkan Roh Kudus dan Firman Allah, seperti yang dilakukan oleh Yesus, kita pasti akan dapat bertahan terhadap pencobaan dan bukan dihancurkan olehnya. Bagi orang Kristen, tidak ada pencobaan yang tak tertahankan. Setiap pencobaan adalah sebuah kesempatan untuk semakin mempercayai Allah.

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *