YESUS ENGKAULAH ANDALANKU

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Persekutuan murid-murid Kristus ditandai dengan relasi kasih, sehati dan sejiwa dalam hidup bersama. (Bacaan I – Kisah Para Rasul)
  2. Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. (Bacaan II – Surat 1 Yohanes)
  3. Belajar dari pengalaman St. Tomas: hanya di dalam persekutuan, para murid menyaksikan Yesus yang bangkit dan memahami maknanya. (Bacaan Injil – Yohanes)

 Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya karena melihat, ataukah aku percaya walau tidak melihat?
  3. Apa arti “iman” bagiku?
  4. Bagaimana kualitas persekutuan jemaat/umat beriman, di mana aku termasuk di dalamnya?
  5. Apa usahaku untuk mengungkapkan imanku kepada Allah sekaligus mewujudkan persekutuan yang semakin sehati-sejiwa?

Katekismus Gereja Katolik

222 Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita:

223 Kita mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah. “Sesungguhnya, Allah itu agung, tidak tercapai oleh pengetahuan kita” (Ayb 36:26). Karena itu, “kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali” (Jeanne dArc).

224 Kita hidup dengan ucapan terima kasih: Kalau Allah itu Esa, maka segala sesuatu yang ada pada kita dan yang kita miliki, berasal dari Dia: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Kor 4:7). “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12).

225 Kita mengetahui kesatuan dan martabat yang benar semua manusia: Mereka semua diciptakan menurut citra Allah, sesuai dengan-Nya.

226 Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia.

Sharing Iman:

renunganpagi.blogspot.co.id

Pesta Kerahiman Ilahi yang dirayakan pada hari Minggu Paskah II, hari ini, diresmikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 30 April 2000, bertepatan dengan kanonisasi Santa Faustina. Pesan-pesan Yesus dalam penampakan kepada Sr. Faustina mengajak kita untuk semakin mengimani kerahiman dan belas kasih Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya. Maka, pada Pesta Kerahiman Ilahi ini, marilah kita bersyukur atas kerahiman dan belas kasih Ilahi. Semoga kita makin mengandalkan diri dan berharap pada kerahiman Ilahi serta makin berani melakukan tindakan-tindakan belas kasih kepada sesama.

Pesta Kerahiman Ilahi ini dikehendaki oleh Yesus sendiri sebagaimana disampaikan kepada St. Faustina, “Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Sabda Yesus ini mengungkapkan kerahiman-Nya yang luar biasa kepada kita, orang-orang yang berdosa. Allah kita adalah Bapa yang maharahim. Kepada kita, orang-orang berdosa, Ia selalu mengampuni dan memberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri terus-menerus. Ia tidak menghendaki kita terus-menerus merasa cemas dan gelisah karena dicekam oleh rasa takut akan denda dan hukuman dosa. Ia menghendaki damai sejahtera bagi kita semua seperti yang dibawa dan diwartakan-Nya kepada para murid pada saat Ia menampakkan diri kepada mereka. Dalam kaitannya dengan Pesta Kerahiman Ilahi ini kita diajak menyadari bahwa salah satu sumber damai sejahtera kita adalah kerahiman Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus Putra-Nya. Sebab, Kristus telah mengurbankan diri untuk menebus dosa kita dan menganugerahi kita keselamatan.

Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, Bapa Suci Yohanes Paulus II menghendaki agar Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh Gereja semesta. Beliau menegaskan bahwa “Gerejaharuslah menganggap sebagai salah satu tugas utamanya – di setiap tingkat sejarah manusia dan teristimewa di abad modern sekarang ini – mewartakan serta menghadirkan ke dalam jiwa misteri kerahiman yang secara luar biasa dinyatakan dalam Yesus Kristus” (Dives In Misericordia).

Pada Pesta Kerahiman Ilahi ini, secara istimewa Tuhan membuka pintu kerahiman-Nya. Tuhan berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat dalam Buku Catatan Harian St Faustina: “Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”

Melalui janji ini, Tuhan menekankan nilai tak terhingga dari Sakramen Tobat dan Ekaristi, khususnya Komuni Kudus sebagai puncak belas kasih-Nya. Marilah kita sadari bahwa dalam Ekaristi, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an Kristus sungguh-sungguh menjadi “Sumber Hidup” bagi kita (300). Dalam penampakan-penampakan-Nya kepada St. Faustina, Yesus menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus.

Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan Diri-Ku dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa.” (1385) Dengan demikian, iman kita diteguhkan bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi, melimpahkan kasih-Nya bagi kita, dan menanti kita untuk setia datang kepada-Nya.

Selain itu, kita juga dipanggil untuk dibasuh bersih dalam Kasih-Nya melalui Sakramen Tobat dan Komuni Kudus – tak peduli betapa berat dosa-dosa kita – dan kita memulai hidup baru kembali. Ingat akan makna Paskah: “Seperti halnya Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup baru.” Yesus menawarkan kepada kita lembaran hidup yang bersih. Untuk itu, Ia memberikan kuasa pengampunan dosa berkat Roh Kudus yang dicurahkan kepada Gereja. “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

Marilah pada Pesta Kerahiman Ilahi ini, kita semakin mengandalkan diri pada kerahiman Tuhan dan membenamkan diri pada samudera belaskasih-Nya yang tak terhingga agar kita senantiasa mengalami damai sejahtera. Bagaimana caranya? Amat sederhana namun mungkin juga tidak mudah, yaitu dengan semakin mencintai Ekaristi dan Sakramen Tobat, ditambah Devosi Kerahiman Ilahi, khususnya Doa Koronka. Yesus sendiri berjanji,“Melalui Koronka ini, engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika yang engkau minta itu sesuai dengan kehendak-Ku (1731).”

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *