MENJADI UTUSAN ALLAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Amos lebih taat pada kehendak Allah untuk bernubuat daripada taat pada perintah manusia yang tidak mau bertobat. (Bacaan I – Amos)
  2. Paulus bersaksi bahwa Allah telah memilih kita menjadi anak-anakNya dan mengaruniakan segala berkat dengan perantaraan Yesus Kristus demi keselamatan kita. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus mengutus kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mewartakan Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “utusan”?
  3. Sikap apa saja yang dibutuhkan utusan dalam menjalankan tugas perutusannya?
  4. Apakah aku sudah memiliki sikap-sikap itu? Apa buktinya?

Katekismus Gereja Katolik:

1833 Kebajikan adalah kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik.

1834 Kebajikan manusiawi adalah kecenderungan yang teguh dari akal budi dan kehendak, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita, dan membimbing tingkah laku kita, supaya sesuai dengan akal budi. Mereka dapat dikelompokkan menurut empat kebajikan pokok/kebajikan “kardinal” [cardo berarti poros]: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

1835 Kebijaksanaan memungkinkan budi yang praktis, supaya dalam semua situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk melaksanakannya.

1836 Keadilan terdiri dari kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka.

1837 Keberanian menyanggupkan untuk mengejar kebaikan dengan teguh dan tabah dalam kesulitan.

1838 Penguasaan diri mengekang kecenderungan kepada kenikmatan jasmani dan membuat kita mempertahankan ukuran yang wajar dalam penggunaan benda-benda yang diciptakan.

Sharing Iman: sabda.org

Ketika tiba di pos jaga untuk dapat memasuki penjara, ternyata tanda pengenal saya tidak ada. Karenanya petugas jaga harus membuat surat izin kunjungan sementara supaya saya dapat masuk dan mengajar kelas Pendalaman Alkitab untuk beberapa narapidana di sana. Dengan membaca SIM saya, petugas jaga itu mengisi surat izin dan memperbolehkan saya masuk. Saat membaca sekilas surat izin masuk itu, saya tersenyum geli. Pada kolom yang menunjukkan atas nama siapa saya diutus, di situ si petugas menulis “Allah.”

Lalu dalam perjalanan pulang, saya memikirkan hal yang lucu itu dengan lebih serius. Petugas tadi mungkin saja hanya bercanda, tetapi sesungguhnya yang ia ungkap-kan itu memang benar. Saya memang mewakili komisi pelayanan penjara, tetapi sebenar-nya saya mewakili Allah sendiri. Menyadari hal itu, saya senang dengan apa yang dilakukan petugas tersebut.

Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus” (2 Kor 5:20). Dengan mengemban predikat yang mulia itu, kita bertang-gung jawab untuk “hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar” (1 Tes 4:12). Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita senantiasa mewakili Allah ke mana pun kita pergi dan berada, melalui apa pun yang kita lakukan. Baik di tempat kerja, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, dalam tim softball, maupun di jalan, kita adalah utusan-utusan Allah. Kristus mengutus kita keluar untuk membawa orang lain ke dalam kasih-Nya.

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *