ALLAH MENYEDIAKAN DAN MENCUKUPKAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Melalui Nabi Elisa, Allah mencukupkan kebutuhan orang yang kelaparan di Gilgal. (Bacaan I – 2 Raja-raja)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk senantiasa bersikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus, Gembala yang Baik, memberi makan lima ribu orang. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah yang paling aku butuhkan dalam hidup ini?
  3. Sebagai orang beriman, apakah yang menjadi kerinduan terdalamku selama ini?
  4. Bagaimana aku mengusahakan pemenuhan atas kebutuhan dan kerinduan terdalam, “lapar dan dahaga-ku”, itu?

Katekismus Gereja Katolik:

2444 Gereja dalam “cinta kasihnya terhadap kaum miskin, yang … melekat pada pusaka tradisinya” (Centesimus Annus/CA 57), membiarkan diri dibimbing oleh Injil sabda bahagia (Luk 6:20-22), oleh kemiskinan Yesus (Mat 8:20) dan oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin (Mrk 12:41-44). Cinta kasih kepada kaum miskin untuk seorang Kristen malahan merupakan salah satu alasan untuk bekerja dan mendapat uang secukupnya, “supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Ef 4:28). Ini tidak hanya menyangkut kemiskinan material, tetapi juga aneka ragam kemiskinan kultural dan religius (CA 57).

2445 Cinta kasih kepada kaum miskin tidak dapat berbarengan dengan cinta kepada kekayaan yang tidak terkendalikan dan dengan penggunaannya secara egois (Yak 5:1-6).

2446 Santo Yohanes Krisostomus mengingatkan kewajiban ini dengan kata-kata yang sangat tegas: “tidak membiarkan kaum miskin turut menikmati harta miliknya, berarti mencuri dari mereka dan membunuh mereka. Yang kita miliki, bukanlah harta milik kita, melainkan harta milik mereka” (Laz 1,6). “Hendaknya tuntutan-tuntutan keadilan dipenuhi, supaya apa yang sudah harus diserahkan berdasarkan keadilan jangan diberikan sebagai hadiah cinta kasih” (Apostolicam Actuositatem/AA 8:5). “Kalau kita memberikan kepada kaum miskin apa yang sangat dibutuhkan, kita tidak memberi kepada mereka secara sukarela pemberian pribadi, tetapi kita mengembalikan kepada mereka, apa yang menjadi hak mereka. Dengan berbuat demikian, kita lebih banyak memenuhi kewajiban keadilan daripada melaksanakan perbuatan cinta kepada sesama” (GregoriusAgung, past. 3, 21).

2447 Karya-karya belas kasihan adalah perbuatan cinta kasih, yang dengannya kita membantu sesama kita dalam kebutuhan jasmani dan rohaninya (Yes 58:6-7; Ibr 13:3). Mengajar, memberi nasihat, menghibur, membesarkan hati, Serta mengampuni dan menanggung dengan sabar hati adalah karya-karya belas kasihan di bidang rohani. Karya-karya belas kasihan di bidang jasmani terutama: memberi makan kepada yang lapar, memberi tumpangan kepada tunawisma, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang miskin dan orang tahanan dan menguburkan orang mati (Mat 25:31-46). Dari semua karya itu, memberi derma kepada orang miskin (Tob 4:5-11; Sir 17:22) adalah satu dari kesaksian utama cinta kasih kepada sesama; ia juga merupakan satu perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah (Mat 6:2-4).

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *