MENJADI MURID YANG RENDAH HATI

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Orang-orang fasik bersepakat untuk mencelakakan orang yang baik karena menjadi gangguan bagi mereka, tetapi Allah akan menyelamatkannya. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. Kejahatan dan kekacauan muncul akibat hawa nafsu, iri hati, dan sikap mementingkan diri sendiri. (Bacaan II – Yakobus)
  3. Menjadi murid Yesus berarti menjadi pelayan bagi sesama dan tidak mencari kemegahan diri. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa arti “rendah hati”?
  3. Apa kaitan antara kerendahan hati, pengendalian diri, dan pelayanan?
  4. Apakah aku memiliki kerendahan hati, pengendalian diri, dan sikap melayani? APa tanda/buktinya?
  5. Apa usahaku untuk meningkatkan kerendahan hati, pengendalian diri, dan sikap melayani?

Katekismus Gereja Katolik:

897 “Yang dimaksudkan dengan awam adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Kaum beriman kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia” (LG 31). 873

898 “Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam waiib mencari Kerajaan Allah, dengan mengurus hal-hal yang fana dan mengatumya seturut kehendak Allah. Tugas mereka yang istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus” (LG 31). 2105

899 Prakarsa para awam Kristen sangat dibutuhkan dalam usaha mencari sarana dan jalan, untuk meresapi keadaan-keadaan kemasyarakatan, politik, dan sosial ekonomi dengan tuntutan iman dan kehidupan Kristen. Tentu usaha ini termasuk kehidupan Gereja: “Umat beriman atau lebih tepat lagi kaum awam, berdiri di garis terdepan kehidupan Gereja; melalui mereka Gereja adalah unsur kehidupan bagi masyarakat manusiawi. Oleh karena itu mereka, dan justru mereka, harus memiliki suatu keyakinan yang makin dalam, bahwa mereka tidak hanya termasuk dalam Gereja, tetapi merupakan Gereja, artinya, persekutuan kaum beriman di dunia di bawah bimbingan Paus sebagai kepala dan para Uskup yang bersatu dengan dia. Mereka adalah Gereja (Pius XII, Wejangan 20 Pebruari 1946, dikutip dalam CL 9).

Sharing Iman:
www.sabda.org

Masyarakat kita menaikkan posisi orang-orang tertentu ke dalam kategori “bintang” karena kemampuan yang mereka miliki di bidang olahraga, musik, akting, atau bakat lainnya. Para bintang yang paling dihargai dan dicintai adalah mereka yang menerima popularitas dengan sikap ramah dan selalu rendah hati dengan kebesaran yang mereka. Mereka adalah para bintang yang rendah hati.

Para pengikut Kristus juga harus menjadi bintang dengan cara lain. Yesus berkata bahwa Dialah ” terang dunia” (Yoh 8:12). Kita juga dapat bersinar sebagai “terang dunia” dengan menjadi “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela” (Flp 2:15). Itulah cara supaya kita dapat menerangi kegelapan di dunia sekeliling kita yang penuh dosa.

Kita juga dapat melihat Yesus sebagai sumber teladan tentang kerendahan hati. Meskipun Dia memiliki segala hak untuk mempertahankan tempat-Nya yang tinggi di surga bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia “telah mengosongkan diri-Nya sendiri,” (Flp 2:7). Dia tidak hanya menjadi manusia, tetapi bahkan seorang hamba. Begitu rendahnya kedudukan Pencipta surga dan bumi!

Yesus meneladankan sikap pelayanan yang sejati bagi kita, meskipun demikian Dia adalah Bintang paling terang di seluruh jagad. Saat kita menjadi semakin serupa dengan Dia, kita akan menjadi bintang-bintang yang terang dan bersinar. Orang-orang akan dibawa kepada Kristus melalui pelayanan kita yang rendah hati.

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *