MELIHAT DENGAN MATA IMAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Yeremia menyerukan warta sukacita: Allah telah menyelamatkan dan memulihkan nasib Israel. (Bacaan I-Yeremia)
  2. Yesus Kristus adalah Imam Agung yang diangkat oleh Allah Bapa untuk mendamaikan manusia dengan Allah. (Bacaan II – Ibrani)
  3. Melalui kisah penyembuhan Bartimeus, Yesus menggenapi nubuat keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku pernah mengalami “kebutaan” dalam hidupku, saat segala sesuatu tampak gelap dan tidak jelas? Kapan?
  3. Bagaimana sikapku di dalam pengalaman macam itu?
  4. Apa usahaku agar selalu mampu melihat karya Allah dalam hidupku?

Katekismus Gereja Katolik:

2087 Kehidupan kesusilaan kita berakar dalam iman kepada Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada kita. St. Paulus berbicara tentang “ketaatan iman” (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Dalam kenyataan ia melihat bahwa tidak mengenal Allah adalah alasan dan penjelasan untuk segala kesalahan susila Bdk. Rm 1:18-32. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia.

2088 Perintah pertama: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan berbakti kepada-Nya” menuntut dari kita supaya memupuk iman kita, merawatnya dengan hati-hati dan berjaga-jaga serta menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Orang dapat berdosa melawan iman dengan berbagai cara: Keragu-raguan iman yang disengaja berarti kurang bergairah atau malahan menolak untuk menerima sebagai benar, apa yang Allah wahyukan dan apa yang Gereja sampaikan untuk dipercaya. Keragu-raguan yang tidak disengaja mencakup kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terhadap iman, atau juga rasa takut yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau keragu-raguan itu dipelihara dengan sengaja, ia akan membawa menuju kebutaan rohani.

2089 Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. “Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya” (KHK, kan. 751).

Posted in Arsip Homili, Inspirasi Iman, Katekese Iman Katolik, Renungan, Teks Misa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *