Don’t forget, please! (Tobat dan Baptisan 2013)

1) Penerimaan Sakramen Tobat di gereja St. Athanasius akan diadakan pada hari Selasa-Rabu, 17-18 Des mulai pk. 17.00 s.d. 19.00. Mohon agar diperhatikan jadwal tsb. sehingga Anda dapat menggunakan kesempatan penuh berkat itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sungkan, malas, ragu, malu atau takut karena sakramen tobat bukan utk menghukum kita tapi justru mengampuni dan mendamaikan kita dengan Allah, sesama dan dunia. Don’t worry, be happy, coy!

2) Baptisan dewasa akan dilaksanakan saat perayaan Ekaristi Sabtu sore, 21 Des pk. 17.30. Mohon doa dan dukungan Anda semua bagi para calon baptis tsb.

“Apa artinya pedang menjadi mata bajak?”

Salah satu nubuat nabi Yesaya adalah tentang tanda damai yang menyertai Mesias yaitu bahwa orang-orang akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak. Sungguh suatu lambang damai yang mengagumkan. Ketika para petani bersiap untuk menanam benih mereka pada musim tanam, mereka harus menggemburkan tanah. Setelah musim tuai, tanah menjadi keras dan kering. Jika benih-benih itu hanya sekedar dilemparkan ke atas tanah, maka burung-burung akan datang serta memakannya. Jadi, tanah harus dibajak terlebih dahulu.

Bajak mula-mula hanya berupa tongkat berujung runcing. Setelah mengalami perkembangan, bajak menjadi semacam kereta yang dapat ditarik oleh binatang. Masalah utamanya adalah bahwa kayunya cepat sekali menjadi aus. Jadi, seseorang di Timur Tengah sana mendapat ide untuk memasang tongkat logam di bagian depan bajak. Logam yang baik selain jarang, juga mahal harganya. Kebanyakan orang hanya mampu membeli sepotong saja. Jadi, ketika terjadi perang, mata-mata bajak harus dilebur dan ditempa menjadi mata-mata pedang. Ketika keadaan damai, proses sebaliknyalah yang terjadi. “Pedang ditempa menjadi mata bajak” menjadi lambang perubahan dari keadaan perang ke damai. Sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com