Mengapa pantang daging di hari Jumat?

Pada abad ke-4 sudah ada hukum Gereja tentang berpantang pada hari-hari tertentu. Dahulu setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu adalah hari-hari pantang. Sejak abad ke-12 pantang ditetapkan hanya pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat – untuk mengenang bahwa Yesus wafat pada hari itu. Pada tahun 1965 Paus Paulus VI mengijinkan Konferensi Para Uskup untuk menetapkan masa pantang dan puasa. Maka ditetapkan hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagai masa puasa dan pantang serta setiap hari Jumat dalam Masa Prapaskah sebagai masa pantang.

Mengapa berpantang daging? Banyak orang suka kelezatannya dan merasa kehilangan jika harus berpantang. Dulu peraturan pantang dan puasa orang-orang Kristen juga memasukkan susu dan telur sebagai pantangan. Pantang dan puasa menunjukkan rasa hormat akan ciptaan Tuhan dg menggunakannya lebih hemat.

Sumber: Ask a Franciscan by Father Pat McCloskey, O.F.M.; © 2001 St. Anthony Messenger Press.

Tidur

Tidur adlh peristiwa alamiah. Dg tidur, badan yg penat dan beban yg berat dipulihkan kembali dan orang menjadi lebih sehat serta semangat saat bangun tidur. Meski demikian, kalau kita tertidur pd saat-saat penting misalnya mengikuti rapat, Ekaristi, seminar, dsb, peristiwa itu mjd hal yg seringkali dipandang kurang sopan. Lagipula dg tertidur, hal-hal penting dlm suatu aktivitas yg sedang diikuti itu bisa terlewatkan begitu saja. Hal yg sama dialami Petrus, Yakobus dan Yohanes yg diajak Yesus ke sebuah bukit utk menemani-Nya berdoa, malah jatuh tertidur. Ketiga bangun, geragapanlah mereka dan Petrus angkat bicara utk mendirikan 3 kemah tetapi Petrus sendiri tdk tahu apa yg dikatakannya itu. Dlm ketakjuban krn Yesus berubah rupa, terdengarlah suara dari dlm awan, “Inilah Anak-Ku yg Kupilih, dengarkanlah Dia!”

Kita pun diajak bersama Yesus bertekun selama masa Prapaska: berdoa dan tdk justru tertidur; serta mendengarkan Sabda-Nya dan melaksanakannya. Mari kita tetap bersiap-siaga dan dg penuh semangat melaksanakan matiraga 40 hari. Jangan tertidur! ***d2t

Tentang Epifania (Penampakan Tuhan)

Manakah yang benar, Epifani dikaitkan dengan kunjungan tiga Raja kepada Yesus, atau dikaitkan dengan pembaptisan Yesus? Bukankah kedua peristiwa itu jauh terpisah, mengapa dirayakan bersama?

Bertrandus Rubi.

Kita harus mengetahui dulu apa arti Epifania. Kata ini diterjemahkan sebagai penampakan Tuhan, artinya bahwa peristiwa yang terjadi mengungkapkan keilahian Yesus Kristus, bahwa Yesus adalah Allah. Pengungkapan keilahian ini terjadi pada beberapa peristiwa, bukan hanya satu peristiwa saja. Karena itu, kedua peristiwa yang Anda rujuk memang dikaitkan dengan pengungkapan keilahian Yesus, bahkan juga ada perkawinan di Kana yang mengungkapkan keilahian Yesus.

Pertama, Epifania diungkapkan dalam kunjungan para Majus atau sering disebut tiga Raja, yaitu melalui persembahan yang mereka bawa, yaitu dupa sebagai persembahan untuk menghormati Allah (Mat 1:11).

Kedua, penampakan keilahian Yesus muncul dalam pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, yaitu dalam kata-kata yang terdengar di langit: ”Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk 3:22; Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 9:35).

Ketiga, perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) yang mengungkapkan keilahian Kristus lewat mukjizat yang pertama.

Sudah sejak abad IV, pesta Epifania dikaitkan dengan empat peristiwa, yaitu kelahiran Kristus, sembah sujud orang Majus, pembaptisan-Nya, dan perkawinan di Kana.

Dr. Petrus Maria Handoko, CM

*Dikutip dari Majalah HIDUP online

Menuju Tuhan

Dunia modern identik dg aneka kemajuan dlm berbagai bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan, transportasi serta komunikasi, misalnya, terus mengalami percepatan yg luar biasa. Tentu semua itu patut kita syukuri. Meski demikian, ada yg memprihatinkan pula dlm arus modernitas itu khususnya dlm penghayatan iman. Banyak orang semakin pandai tetapi ada kecenderungan utk semakin sekular dan bahkan tdk lagi meyakini Allah (atheis). Melalui tiga majus dari Timur (ahli astronomi) kita diajak utk melihat bagaimana usaha mereka utk terus mencari dan menemukan Allah. Melalui ilmu pengetahuan yg mereka kuasai, mereka justru makin mendekat kepada Allah dan tdk malah menyingkirkan-Nya. Ketiga majus itu juga menjadi gambaran akan orang-orang yg selalu rindu utk menemukan Allah Sang Sumber Kebenaran. Meskipun mereka pandai tetapi tidak menjadi sombong diri. Mereka akhirnya dituntun sampai di Betlehem. Ilmu pengetahuan mengantar mereka utk menemukan Allah. Sudahkah aku berupaya utk terus menemukan Allah dan kehendak-Nya?***d2t