SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah itu setia. Ia menggenapi janji yang telah disampaikannya kepada umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di masa penantian kedatangan Allah, jemaat perlu selalu mengusahakan hidup suci dan saleh (Bacaan II – 2 Petrus)
  3. Pertobatan adalah sikap dan tindakan yang paling tepat dalam menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan itu setia serta hadir dan berkarya dalam hidupku?
  3. Apa yang akan aku lakukan secara lebih sungguh-sungguh sebagai bentuk persiapan menyambut kedatangan Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik

522 Kedatangan Putera Allah ke dunia adalah satu kejadian yang sekian dahsyat, sehingga Allah hendak mempersiapkannya selama berabad abad. Semua ritus dan kurban, bentuk dan lambang “perjanjian pertama” (Ibr 9:15) diarahkan-Nya kepada Yesus; Ia memberitahukan kedatangan-Nya melalui mulut para nabi, yang susul-menyusul di Israel. Sementara itu Ia menggerakkan dalam hati kaum kafir satu pengertian yang samar-samar mengenai kedatangan ini.
523 Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung; ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi. Ia adalah yang terakhir dari mereka dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan. Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya.
524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “la harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Sharing Iman
www.sabda.org
Sebuah koran lokal memuat artikel tentang usaha seorang relawan membantu para pecandu narkoba. Beberapa hari kemudian, koran tersebut menerbitkan sebuah artikel yang menyatakan bahwa relawan yang berusaha membantu para pecandu obat itu sebenarnya sedang berurusan dengan masalah yang seharusnya tidak ada. Itu benar, tetapi tak ada gunanya mengatakan bahwa masalah itu tidak ada-karena kenyataannya benar-benar ada! Memang seharusnya dosa tidak boleh ada. Namun Allah mengantisipasi dosa kita dan mempersiapkan pengurbanan yang sempurna: “Anak Domba yang telah disembelih”, yaitu Yesus Kristus Putera-Nya.
Entah bagaimanapun keadaan yang membawa kita pada Allah, Dia tidak akan mengejek kita yang dengan jujur memohon agar dibebaskan dari dosa dosa yang sangat kita sesali. Pada saat bertobat, kita tidak hanya mengakui kesalahan, tetapi dengan kemauan sendiri berbalik dari dosa dan membuka diri untuk diubahkan oleh kuasa Allah. Pertobatan awal penting untuk memulai hubungan dengan Kristus. Pertobatan setiap hari diperlukan agar kita tetap ada dalam persekutuan yang erat dengan Dia dan bertumbuh secara rohani. Hal-hal ini membawa kita pada pengampunan Allah dan kuasa-Nya yang mengubah hidup kita. Pertobatan manakah yang Anda perlukan hari ini? Jika Anda benar-benar menyesali dosa-dosa Anda, Anda pasti mau melepaskannya.

BERJAGA-JAGALAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yesaya memohon kepada Allah agar kembali mengasihani umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Paulus mewartakan Allah yang baik dan setia kepada umat-Nya (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kita diajak untuk menjadi hamba yang baik, yang selalu siap sedia menyambut kedatangan tuannya, yaitu Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “berjaga-jaga” bagiku?
  3. Dalam hal apa saja aku perlu waspada dan berjaga-jaga?
  4. Apa yang aku lakukan supaya bisa selalu siap dan waspada?

Katekismus Gereja Katolik

2848 Supaya dapat melawan godaan, dibutuhkan satu keputusan hati. “Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu. Tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat 6:21.24). “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25).

Dalam “persetujuan” ini kepada Roh Kudus, Bapa memberi kita kekuatan.

“Percobaan yang kamu alami adalah percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.

Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

2849 Tetapi kemenangan dalam perjuangan yang demikian itu hanyalah mungkin di dalam doa. Yesus mengalahkan penggoda sejak awal (Mat 4:1-11). sampai kepada perjuangan terakhir dalam sakratul maut-Nya (Mat 26:36-44) melalui doa.

Dengan demikian, dalam permohonan ini kepada Bapa kita Kristus mempersatukan kita dengan perjuangan-Nya dan sakratul maut-Nya.

Kita dinasihati dengan sangat, supaya dalam persekutuan dengan Dia, membuat hati kita waspada (Mrk 13:9.23.33-37; 14:38; Luk 12:35-40). Kewaspadaan adalah “penjaga” hati.

Yesus memohon untuk kita kepada Bapa-Nya dengan perkataan: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11). Tanpa henti-hentinya Roh Kudus mengajak kita untuk waspada (1 Kor 16:13; Ko14:2; 1 Tes 5:6; 1 Ptr 5:8).

Dalam godaan terakhir perjuangan kita di dunia ini kesungguhan permohonan ini menjadi nyata; ia meminta ketabahan sampai akhir. “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia yang berjaga-jaga” (Why 16:15).

 

Sharing Iman:
www.sabda.org

Tanggal 26 Februari 1993 sebuah bom yang dahsyat meledak di parkiran bawah tanah World Trade Center di New York. Bom itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari seribu orang.

Peristiwa itu mendorong dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap banyak orang.

Namun, hanya sedikit penegak hukum yang mengenali kejadian itu sebagai bagian dari rencana teroris internasional.

Saat menara World Trade Center dihancurkan teroris tahun 2001, pejabat tinggi departemen kepolisian Raymond Kelly teringat serangan pertama masa silam itu dan berkata, “Hal itu seharusnya menjadi seruan untuk waspada bagi Amerika.”

Tiap orang percaya dipanggil Tuhan untuk berjaga, bukannya lalai dan tak peduli.

Bila semangat kita telah padam, Dia meminta dengan sangat kepada kita untuk mengobarkan bara api itu kembali.

Tanyakan pada diri Anda sendiri: Adakah panggilan untuk waspada dalam hidup saya akhir-akhir ini yang saya abaikan?

Apakah Allah tengah berusaha memberitahukan sesuatu kepada saya?

Akankah saya sambut panggilan-Nya untuk berjaga pada hari ini? — David McCasland.

“TUHAN MERAJA DI DALAM HIDUP KITA”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah adalah Gembala yang Baik kepada kita, domba-domba-Nya. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Melalui Yesus Kristus, Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan. (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kristus adalah Hakim di Akhir Zaman, yang akan mengadili setiap orang menurut kasih-Nya dan sesuai dengan sikap dan perbuatan kita kepada-Nya. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya Kristus sebagai Raja Semesta Alam bagiku?
  3. Apakah aku menyadari dan mengalami Kristus yang meraja di dalam hidupku?
  4. Bagaimana sikap dan perbuatanku selama ini di hadapan Raja Semesta Alam?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

668 “Kristus telah wafat dan hidup kembali, supaya la menjadi Tuhan, baik atas orang orang mati, maupun atas orang-orang hidup” (Rm 14:9). Kenaikan Kristus ke surga berarti bahwa la sekarang dalam kodrat manusiawi-Nya ikut serta dalam kekuasaan dan wewenang Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan: Ia mempunyai segala  kuasa di surga dan di bumi. la “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” dan Bapa “meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus” (Ef 1:20 22). Kristus adalah Tuhan semesta alam dan sejarah. Dalam Dia sejarah manusia, malahan selurah ciptaan sekali lagi “dipersatukan” di bawah satu kepala (Ef 1:10), dan secara transenden disempurnakan.

669 Sebagai Tuhan, Kristus adalah juga Kepala Gereja, yang adalah Tubuh-Nya. Walaupun la telah diangkat dan dimuliakan di dalam surga, karena Ia telah menyelesaikan perutusan Nya secara penuh, namun Ia tinggal di dunia dalam Gereja-Nya. Penebusan adalah sumber otoritas yang Kristus jalankan dalam Gereja Nya berkat Roh Kudus. “Gereja atau Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” adalah “benih dan awal Kerajaan Nya di dunia ini” (LG 3; 5).

Sharing Iman:

www.sabda.org

Saat Ratu Inggris, Elizabeth, masih kecil, orangtuanya mengadakan sebuah pesta kebun di Istana Buckingham, tetapi hujan badai membuat pesta itu harus dipindahkan ke dalam ruangan. Elizabeth dan adik perempuannya berkeliling di dalam ruangan tempat para tamu berkumpul dan mereka pun diserang dengan berbagai pertanyaan yang diajukan dengan sopan. Di sela-sela pembicaraan itu, Elizabeth menunjuk sebuah lukisan Yesus di atas kayu salib yang tergantung di dinding di dekatnya. Ia berkata, “Kata ayah saya, Dialah Raja yang sesungguhnya.”

Alangkah tepat pengakuannya bahwa Juruselamat yang telah mati bagi kita itu sekarang memerintah atas kita sebagai “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan” (1 Tim 6:15). Dengan kebangkitan-Nya, suatu hari kelak keberadaan-Nya sebagai Raja akan diakui di seluruh dunia saat semua lutut bertelut di hadapan-Nya, baik dengan hati penuh rasa syukur atau dengan terpaksa (Flp 2:9-11). Walaupun kita percaya bahwa Kristus mengampuni dosa-dosa kita, terkadang kita lalai untuk menyerahkan segenap diri, harta milik, dan perbuatan kita pada ketuhanan-Nya.

Sudahkah Anda mengakui Yesus Kristus sebagai Raja? Sudahkah Anda menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan? Apakah Anda bersedia mengizinkan Dia tidak hanya menyelamatkan Anda dari dosa, tetapi juga untuk mengatur hidup Anda? Sekarang, ambillah keputusan untuk berlutut di hadapan Dia, Tuhan yang berkuasa, dan jadilah hamba-Nya yang taat dan penuh rasa syukur. Dengan demikian Anda akan dapat menyembah Dia sebagai Juruselamat sekaligus Raja Anda!

 

“SETIA DALAM TANGGUNG JAWAB”

Intisari Bacaan

  1. Orang yang setia pada tanggung jawabnya digambarkan seperti istri yang cakap dan menjadi berkat bagi suami dan keluarganya (Bacaan I – Amsal).
  2. Sebagai anak-anak terang dan anak-anak siang, kita perlu selalu berjaga dan siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang tidak terduga (Bacaan II – 1 Tesalonika).
  3. Orang yang setia memikul tanggung jawabnya, akan menerima ganjaran yang berlimpah (Bacaan Injil – Matius).

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku orang yang setia?
  3. Apa yang membuatku setia pada tanggung jawabku? Dan apa yang membuatku tidak setia pada tanggung jawabku?
  4. Apa usahaku agar bisa menjadi pribadi yang semakin setia?

Katekismus Gereja Katolik

MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK SETIA

380 “Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta” (MR, Doa Syukur Agung IV 118).

381 Manusia sudah ditentukan untuk mencerminkan dengan setia citra Putera Allah yang menjadi manusia – “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15) – supaya Kristus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 Sharing Iman
http://www.sabda.org

Pada masa Perang Dunia I, untuk menyampaikan pesan digunakan burung merpati. Menurut catatan, ada sekitar 250.000 ekor merpati yang digunakan selama itu. Salah satu merpati yang berjasa menyelamatkan banyak tentara Perancis adalah Cher Ami. Suatu ketika, saat sedang terbang membawa pesan, Cher Ami tertembak di dadanya dan kakinya nyaris putus. Namun, ia tetap terbang selama 25 menit melintasi desingan peluru dan gas beracun. Atas kepahlawanan dan kesetiaannya, Cher Ami dianugerahi Croix de Guerre oleh pemerintah Prancis.

Ada harga yang harus dibayar bagi seorang pengikut Tuhan dalam menyelesaikan misi yang Dia percayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk setia menunaikan tugas itu selama kita masih hidup. Seperti Cher Ami turut berperan bagi terciptanya perdamaian, kiranya kesetiaan kita dalam melayani dan memberitakan Injil dipakai untuk membuat banyak orang mengenal kasih karunia Allah. Yesus Kristus, yang telah lebih dulu setia sampai titik darah penghabisan, akan memampukan kita untuk tetap setia sampai akhir pelayanan.

WASPADA DAN SIAGA: WUJUD SIKAP BIJAKSANA

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kebijaksanaan adalah harta yang tidak ternilai bagi manusia, maka setiap orang hendaknya menjadi pribadi yang bijaksana. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. St. Paulus mengajak jemaat untuk selalu memiliki iman dan pengharapan yang teguh akan kebangkitan setelah kematian. (Bacaan II – 1 Tesalonika)
  3. Yesus mengajak kita untuk selalu waspada dan siaga menyambut kedatangan Kerajaan Allah. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah wujud kebijaksanaan hidup. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya “bijaksana”? Apa artinya “bodoh”?
  3. Apa yang perlu aku siapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan?
  4. Apa usahaku agar menjadi pribadi yang bijaksana?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

Hati Nurani – Kebijaksanaan

1780 Martabat pribadi manusia mengandung dan merindukan bahwa hati nurani menilai secara tepat. Hati nurani mencakup: memahami prinsip-prinsip moral [synderesis], melaksanakannya dengan menilai alasan-alasan dan kebaikan-kebaikan seturut situasi tertentu, dan akhimya menilai perbuatan konkret yang akan dilaksanakan atau sudah dilaksanakan. Keputusan hati nurani yang bijaksana mengakui secara praktis dan konkret kebenaran mengenai yang baik secara moral, yang dinyatakan dalam hukum akal budi. Seorang manusia yang memilih sesuai dengan keputusan ini disebut bijaksana.

1781 Hati nurani memungkinkan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Kalau manusia telah melakukan yang jahat, maka keputusan hati nuraninya yang tepat dapat tetap memberi kesaksian bahwa kebenaran moral berlaku, sementara keputusannya yang konkret itu salah. Rasa bersalah seturut keputusan hati nurani merupakan jaminan bagi harapan dan belas kasihan. Dengan membuktikan kesalahan pada perbuatan yang dilakukan ini, keputusan hati nurani itu mengajak supaya memohon ampun, selanjutnya melakukan yang baik dan supaya dengan bantuan rahmat Allah mengembangkan kebajikan secara terus-menerus.

Sharing Iman:

http://www.sabda.org

Kita tentu punya kenangan tentang para guru yang pernah mengajar kita di sekolah. Sebagian besar guru biasanya memberi tahu apabila hendak mengadakan ulangan. Namun, ada juga sebagian guru yang lebih suka mengadakan ulangan mendadak, tanpa pemberitahuan. Bagi siswa yang tak pernah berkonsentrasi saat guru memberikan pelajaran atau hanya belajar pada jam-jam menjelang ulangan maka ketika berhadapan dengan guru tipe kedua, dijamin ia akan mendapat nilai buruk. Akan tetapi, siswa yang bijaksana adalah siswa yang tahu persis kebiasaan guru yang demikian sehingga ia selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.

Walau kenyataannya sangat berbeda, tetapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kurang lebih dapat digambarkan seperti ulangan mendadak yang biasa diadakan oleh sebagian guru. Tuhan kita, dalam hikmat-Nya yang besar, telah dan akan memberikan tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Namun, kapan waktunya tidak Dia sampaikan secara persis. Itulah sebabnya kita perlu selalu berjaga-jaga. Sebab, kapan pun harinya, bisa menjadi hari kedatangan Tuhan Yesus!

Mari terus memohon hikmat Tuhan, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana. Setiap hari yang kita jalani merupakan kesempatan untuk menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab, kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jangan sampai kita menjadi orang kristiani yang, ketika Tuhan Yesus datang, malah sedang “terlelap” seperti perumpamaan lima gadis yang bodoh. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana, yang senantiasa berjaga-jaga menanti sang mempelai. Bersiap dan berjaga-jagalah seolah-olah hari ini adalah hari kedatangan-Nya yang kedua.

MENJADI PELAYAN

Sharing iman:

http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/?cari=Pelayan

MENJADI PELAYAN

Ketika kita sudah menduduki posisi puncak, rasanya apa pun yang kita katakan akan menjadi titah yang harus terwujud. Kita mulai berhenti mendengarkan dan sibuk berbicara. Kita sibuk berpikir dan lupa melihat apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Tingkat kesabaran kita menipis jika segala sesuatunya tidak terlayani dengan sempurna.

Di balik semua itu, kita tidak pernah tahu ada yang pontang-panting kewalahan memenuhi keinginan kita. Tidak banyak yang mengamati bahwa seorang pelayan yang masih tersenyum sabar sebenarnya sedang memikirkan anaknya yang sakit keras di rumah. Hampir tak ada yang memikirkan bahwa penataan ruangan untuk sebuah acara istimewa yang digelar satu atau dua jam saja, membutuhkan kerja keras semalam suntuk dari sejumlah orang yang di antaranya sampai kelelahan bahkan jatuh sakit karena terpaksa harus begadang.

Sudahkah kita menerapkan gaya kepemimpinan Yesus? Yesus tak pernah meninggikan diri, tetapi merendahkan diri-Nya dengan rela. Ibarat raja yang turun takhta dan menyamar menjadi rakyat jelata, Dia mau merasakan dan memahami perasaan rakyat. Dengan begitu Dia dapat mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Dalam budaya Jawa kita mengenal filosofi yang berbunyi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Artinya: di depan memberi teladan, di sisi memberi bimbingan, dari belakang memberi dorongan. Seorang pemimpin yang baik bukan penguasa yang hanya bisa memerintah; pemimpin adalah pengayom, panutan, sekaligus rekan berbagi hati. Sudah siapkah kita menjadi hamba seperti Yesus? Barangkali posisi kita bisa di puncak, tetapi biarlah hati kita tetap ada di tempat rendah. -GGC

“MELAYANI DENGAN RENDAH HATI”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Menjadi pelayan umat berarti menjadi pembagi berkat Allah kepada semakin banyak orang, bukannya menjadi sandungan. (Bacaan I-Maleakhi).
  2. St. Paulus menunjukkan bahwa dirinya senantiasa berusaha menjadi pelayan Injil dan pelayan jemaat yang setia, demi semakin banyaknya orang yang mengalami kebaikan Tuhan. (Bacaan II-1Tes).
  3. Hanya pribadi yang setia dan rendah hati sajalah yang mampu menjadi pelayan yang sejati dan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. (Bacaan Injil-Matius).

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti “menjadi pelayan” dan “melayani” bagiku?
  3. Apakah aku mau menjadi pelayan dan mau melayani?
  4. Apakah yang sudah, sedang, dan akan aku lakukan sebagai bentuk pelayananku kepada keluarga, Gereja, dan masyarakat?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

786 Umat Allah mengambil bagian dalam fungsi Kristus sebagai raja. Kristus menjalankan fungsi raja-Nya dengan menarik semua orang kepada diri-Nya oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Kristus, Raja dan Tuhan semesta alam, telah menjadikan Diri pelayan semua orang, karena “la tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Untuk seorang Kristen, mengabdi Kristus berarti “meraja” (LG 36) – terutama “dalam orang-orang yang miskin dan menderita”, di mana Gereja “mengenal citra Pendiri-Nya yang miskin dan menderita” (LG 8). Umat Allah mempertahankan “martabatnya sebagai raja”, apabila ia setia kepada panggilannya, untuk melayani bersama Kristus.

SUMPAH PEMUDA (28 Okt 2017)

  1. Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouwyang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.
  2. Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu baru berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.
  3. Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:
  4. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
    Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
    Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia
  1. Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.
  2. Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.
  3. Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.
  4. Kongres Pertama (I) berlangsung pada tahun 1926. Kongres Pertama sudah membahas bahasa persatuan. Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Tetapi penamaan “Bahasa Melayu” dikritik oleh salah seorang peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.
  5. Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.
  6. Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih menggunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.
  7. Akan tetapi, perkiraan Van Der Plass ternyata meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi “api” yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.
  8. Meskipun, seperti dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada 1925 jauh lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan
  9. Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Dikutip dari tulisan Risal Kurnia

Sumber: http://www.berdikarionline.com/sejarah-kongres-pemuda-dan-sumpah-pemuda/

DOA UNTUK TANAH AIR. (PS 194)

Allah, Bapa kami, Engkau telah menciptakan alam semesta sebagai kediaman bagi umat manusia. Tatkala umat pilihan-Mu hidup terlunta-lunta di pengasingan, Engkau membebaskan mereka dan menghantar ke tanah terjanji, tanah air yang subur dan berlimpahan susu serta madu. Engkau pun memberikan tanah air kepada kami.

Bapa, kami bersyukur atas tanah air kami yang luas dengan isinya yang beraneka ragam: lautan dengan ribuan pulau, gunung dan dataran, hutan dan belantara; semuanya menyemarakkan tanah air kami.
Kami bersyukur atas ratusan suku dan aneka budaya serta bahasa yang Kauhimpun menjadi satu bangsa dan satu bahasa.

Kami bersyukur atas pembangunan di tanah air kami, atas segala sarana dan prasarana yang tersedia.
Kami mohon berkat-Mu bagi semua yang mendiami tanah air ini. Semoga kami semua berusaha memelihara dan memajukannya. Bebaskanlah tanah air kami dari bahaya: bencana alam, kelaparan, perang, dan wabah penyakit.

Semoga kami semua tekun membangun tanah air kami demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa. Bantulah kami mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera, sehingga tanah air yang kami diami di dunia ini selalu mengigatkan kami akan tanah air surgawi, tempat kami akan berbahagia abadi bersama Dikau. Semua ini kami unjukkan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

“HUKUM YANG TERBESAR”

PERTANYAAN REFLEKSI PRIBADI
a) Dari kutipan Injil hari ini, apakah ada ayat yang menyentuh hati Anda? Mengapa?
b) Siapakah orang-orang Farisi? Siapakah orang-orang Farisi pada jaman sekarang?
c) Mengapa orang orang Farisi mencobai Yesus dengan pertanyaan mereka?
d) Apa hubungan antara perintah pertama dan kedua?
e) Mengapa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan ringkasan hukum dan kitab para nabi?

Kesaksian Seorang Ateis
Diambil dari http://alkitab.sabda.org/illustration

Karena menyadari bahwa kasih kepada Allah dan sesama merupakan inti ajaran Kitab Suci, saya membuat disertasi doktoral saya tentang “The Concept of Love in the Psychology of Sigmund Freud” (Konsep Kasih dalam Psikologi Sigmund Freud). Saya mempelajari bahwa pemikir berpengaruh, yang tidak beriman kepada Allah ini tetap sangat menekankan pentingnya kasih.
Misalnya, Freud menulis, cara terbaik untuk “lari dari kesusahan dalam kehidupan” dan “melupakan kesengsaraan yang sebenarnya” adalah dengan mengikuti jalan “yang mengharapkan datangnya kepuasan sejati melalui tindakan mengasihi dan dikasihi”. Dalam hal ini, Freud sejalan dengan Alkitab yang berfokus pada kasih.
Kitab Suci mengajarkan bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Kitab Suci juga mengajarkan pentingnya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6). Dengan demikian, masalah besar yang dihadapi oleh kita semua adalah bagaimana melepaskan diri dari dosa mencintai diri sendiri, sementara di saat yang sama kita mengasihi Allah dan sesama dengan sungguh-sungguh (Mat. 32:37-39; 1Yoh. 3:14). Injil, yang berbicara tentang kasih Kristus yang mengubah kehidupan, menyodorkan satu-satunya jawaban untuk masalah itu. Paulus menyatakannya dalam Roma 5:5, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.”
Sudahkah Anda merasakan curahan kasih Allah? Hanya ketika Anda memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, Roh Kudus dengan kasih-Nya akan mengalir di dalam dan melalui diri Anda –VCG

ALLAH MENCURAHKAN KASIH-NYA DI DALAM HATI KITA AGAR KITA JUGA MENCURAHKANNYA KEPADA SESAMA