Apa yang terjadi pada kedatangan Yesus yang kedua?

Akhir dunia. Akhir dari waktu, sebab sesudah itu hanya ada keabadian.

Akhir dari kematian, sebab semua yang masih hidup pada saat Yesus datang yang kedua ini tidak mengalami kematian, tetapi ‘diubah’ (lih 1Kor 15:51; 1Tes 14:17)

Akhir dari Api Penyucian. Setelah kedatangan Yesus ini maka semua orang dalam Api Penyucian akan memasuki surga.

Kebangkitan orang mati. Orang-orang mati akan dibangkitkan (Yoh 5:27-29; 11:23-24). Tubuh orang-orang yang jahat akan bersatu dengan jiwanya dan masuk dalam siksa abadi di neraka, sedangkan tubuh orang-orang benar akan bersatu dengan jiwanya dan akan memasuki kebahagiaan kekal di surga. Tubuh orang-orang benar akan bersinar spt matahari (Mat 13:43) dan tak bisa lagi mengalami penderitaan, penyakit & kematian (1 Kor 15:42).

Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46; Why 20:1-15). Seluruh umat manusia akan dikumpulkan di hadapan tribunal yang akan menyatakan keseluruhan sejarah manusia. Segala sesuatu yang diperbuat seseorang akan dinyatakan di hadapan segala mahluk, tidak ada yang tersembunyi. Tuhan akan mengumumkan penghakiman/hukuman final, atau penghargaan final yang melibatkan tubuh dan jiwa setiap manusia: ke neraka atau ke surga. Mereka yang wafat sebelum kedatangan Yesus yang kedua telah mengetahui tujuan akhir mereka pada saat penghakiman khusus, dan hal ini tidak berubah. Hanya pada Pengadilan Akhir, pengadilan mereka dinyatakan kembali dan diumumkan hasilnya pada segenap mahluk, dan jiwa mereka bersatu dengan tubuh mereka menuju ke tempat tujuan akhir: surga atau neraka sesuai dengan hasil Penghakiman tersebut.

Restorasi universal (Kis 3:21, 1 Kor 15:28, KGK 671, 769). Setelah Penghakiman Terakhir, maka Gereja akan disempurnakan dalam kemuliaannya, sebagai Yerusalem yang baru (Why 21). Gereja hanya akan terdiri dari orang-orang kudus, yaitu semua orang benar sejak Adam, dari Abel sampai ke orang pilihan terakhir (KGK 769). Para orang kudus akan berjaya bersama Kristus, dalam tubuh dan jiwa yang mulia, dan akan melihat Allah dengan pandangan yang membahagiakan, di mana Allah akan membuka Diri kepada orang-orang pilihan-Nya secara tidak terbatas dan akan menjadi sumber kebahagiaan, perdamaian dan persekutuan sempurna, tanpa akhir (lih. KGK 1044-1045). Unsur-unsur dunia akan hancur karena nyala api ilahi, dan Tuhan akan menciptakan langit dan bumi yang baru (2 Pet 3:12-13), kuasa jahat dikalahkan, dan segala sesuatu akan ditaklukkan di bawah-Nya, dan Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).*** selengkapnya lihat di katolisitas.org

“Akulah Raja Kebenaran!”

Tuhan Yesus adalah Raja Semesta Alam. Meski demikian, kerajaan-Nya berbeda dari segala raja dan pemerintahan apa pun di dunia ini. Gelar-Nya tidak berasal dari dunia melainkan berasal dari Allah Bapa. Ia memperkenalkan misteri Allah Bapa yang penuh kasih dalam menyelamatkan umat-Nya. Kesaksian-Nya ini memanggil setiap orang untuk mengimani-Nya dengan total, sepenuh jiwa, hati, akal budi dan kekuatan. Sikap mendua dalam mencintai Yesus pada akhirnya hanya akan menimbulkan sikap menolak bahkan sampai pada tindakan mengkhianati.

Kerajaan duniawi serba sementara, mudah binasa dan terbatas dan hal itu ada bahayanya juga bila kita semata-mata mengandalkan kenyataan-kenyataan duniawi saja. Melalui HR Kristus Raja Semesta Alam ini, kita diingatkan bahwa kita harus memberi tempat bagi Yesus Kristus agar Ia senantiasa merajai dan bertakhta dalam hati dan hidup kita. Jangan biarkan kuasa jahat atau nilai-nilai duniawi yg sering tidak selaras dengan iman Kristiani justru menguasai hidup kita. Yesus Kristus harus menjadi yg utama dlm hidup ini sehingga seperti Rasul Paulus, kita pun boleh berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena aku telah berkenalan dengan Kristus Yesus, Tuhanku, sebab hal itu lebih mulia dari segala-galanya” (Flp 3:7-8).***d2t

Doa untuk Bumi Kita

Allah yang Mahaagung, Engkau hadir di segenap alam raya. Engkau hadir pula di setiap jengkal hidup makhluk yang Kaucipta. Engkau memeluk semua yang ada dengan kelembutan jiwa. Maka, ya Allahku, taburilah kami dengan daya cintaMu, penuhilah kami pula dengan damaiMu, agar kami mampu memelihara indahnya kehidupan, agar kami bisa erat bersaudara, tidak saling menabur luka dan duka.

Allah kaum papa, tolonglah kami untuk menyelamatkan mereka yang tersisih dan terlupa, karena di mataMu mereka juga begitu berharga. Sembuhkanlah hidup kami,supaya kami dapat sungguh melindungi bumi ini, bukan malah menjarahnya.

Kuatkanlah kami agar dapat menaburkan keindahan, bukan polusi dan kerusakan.

Sentuhlah hati mereka yang merugikan orang miskin dan papa, dan yang merusak bumi demi keuntungan semata.

Ajarilah kami menemukan makna dari setiap hal yang ada, agar jiwa kami dipenuhi rasa terpesona, sehingga mampu menghormati ciptaanMu.

Ajarilah kami agar kami lebih mampu memahami makna kebersatuan kami dengan setiap ciptaan terutama dalam pejiarahan bersama menuju cahayaMu yang abadi.

Kami bersyukur kepadaMu karena Engkau berkenan bersama kami setiap hari, dan karena itu ya Allahku, kuatkanlah kami dalam perjuangan mewujudkan keadilan, cinta dan damai di bumi. Terpujilah Engkau ya Allah.

Amin.

 

Disadur dari doa Paus Fransiskus “Doa untuk Penyelamatan Bumi” 1 September 2015

Berdasarkan Ensiklik Laudato Si, 18 Juni 2015

 

“Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”

SURAT GEMBALA HARI PANGAN SEDUNIA 2015
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2015

“Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”

Saudari-saudaraku yang terkasih,

“Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama” adalah tema Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dibuat oleh KWI untuk tahun 2015. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Sejarah peringatan HPS bermula dari konferensi “Food and Agriculturale Organization” (FAO) ke-20, bulan Nopember 1976 di Roma. Salah satu keputusan hasil konferensi tersebut adalah dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia). Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia, dan menetapkan mulai tahun 1981, semua Negara anggota FAO, memperingati HPS setiap tangal 16 Oktober bertepatan dengan tanggal berdirinya FAO. HPS merupakan momentum ketika masyarakat dunia diajak merenungkan dan memperhatikan kembali keadaan pangan dunia.

Tujuan peringatan HPS untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional, nasional maupun lokal. Peringatan HPS mendorong masyarakat dunia untuk memperhatikan produksi pangan pertanian, meningkatkan partisipasi masyarakat pedesaan dengan melibatkan perempuan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kelaparan dunia, memperkuat solidaritas lokal, nasional dan internasional dalam perjuangan melawan kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan serta meningkatkan pembangunan pangan berkelanjutan melalui dunia pertanian yang lestari. Upaya memberi perhatian pada pengembangan perkebunan, peternakan dan kelautan memerlukan usaha nyata untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan.

Dengan tujuan mulia itu, kita semakin disadarkan bahwa HPS merupakan gerakan kemanusiaan, kesejahteraan, kepedulian dan solidaritas pangan. Sejak tahun 1982 Gereja Katolik Indonesia ikut berperan aktif dalam peringatan HPS. Gereja diutus membangun gerakan iman yang membentuk perilaku manusia untuk menghargai pangan dan kehidupan.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat dalam gerakan HPS ini. Gerakan HPS menjadi semakin nyata ketika pada tanggal 16 Oktober 1990, disponsori oleh Konferensi Uskup-Uskup Asia (FABC) diadakan seminar kaum tani se-Asia di Ganjuran. Dalam seminar tersebut dicetuskan Deklarasi Ganjuran sekaligus ditandai lahirnya wadah kaum tani dengan nama Paguyuban Tani Hari Pangan Sedunia. Selanjutnya berkembang menjadi Paguyuban Tani-Nelayan HPS.

Amanat pokok Deklarasi Ganjuran mengajak masyarakat untuk membangun pertanian dan pedesaan lestari yang: bersahabat dengan alam (ecologically sound), murah secara ekonomis sehingga tergapai (economically feasible), sesuai dengan/berakar dalam kebudayaan setempat (culturally adapted/rooted) dan berkeadilan sosial (socially just).

Injil hari ini menunjukkan pencarian makna kehidupan dan apa yang perlu untuk „hidup yang kekal‟. Agar layak menjadi murid-murid Yesus Kristus kita berani bersikap atas harta kekayaan yang kita miliki dan tidak diperbudak olehnya. Dalam konteks gerakan HPS, ungkapan ini dapat kita maknai dengan berani menerapkan pola hidup secara baru, yaitu pola produksi dan konsumsi lestari, menentang konsumerisme dan memperjuangkan pertanian organik sebagai pola pertanian masa kini dan masa depan.

Peringatan HPS tahun 2015 menjadi istimewa karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun Deklarasi Ganjuran. Menjadi sebuah peristiwa penting untuk mawas diri bagaimana kita sebagai umat beriman peduli terhadap kedaulatan dan solidaritas pangan serta keutuhan ciptaan. Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si – Terpujilah Engkau Tuhan” memperteguh usaha kita untuk terus melestarikan lingkungan sebagai rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat. Kebakaran hutan di lereng gunung Merapi-Merbabu serta kabut asap yang terjadi di tanah air kita akibat pembakaran lahan, pencemaran air dan tanah dari zat-zat polutan, posisi lemah para petani berhadapan dengan mekanisme pasar bukanlah hal yang jauh dari keadaan harian kita untuk kita sikapi.

Sejalan dengan Ensiklik Paus Fransiskus tentang „Pertobatan Ekologis‟, Komisi PSE KWI telah merancang program HPS dengan tema besar “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” (2013-2015). Tema ini dijabarkan ke dalam tema tahunan. Tahun 2013 “Mencintai dan Merawat Bumi, tahun 2014 “Pangan Sehat Keluarga Sehat”, tahun 2015 “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”.

Tahun 2004 KWI menulis Nota Pastoral mengenai „Habitus Baru‟ dengan menunjuk habitus lamanya adalah pengrusakan lingkungan hidup. Nota Pastoral KWI tahun 2013 tentang „Keterlibatan Gereja dalam melestarikan Keutuhan Ciptaan”. Gerak langkah merawat dan memelihara alam ciptaan, juga telah dirumuskan dalam empat fokus Pastoral ARDAS KAS 2011-2015 dengan menetapkan kesadaran dan upaya Umat Allah KAS untuk pemeliharaan keutuhan ciptaan.

Saudari-saudaraku yang terkasih

Kita bersyukur karena di Keuskupan kita muncul banyak gerakan untuk mencintai bumi dan lingkungan hidup. Formatio Iman Berjenjang dengan sadar memasukkan kecintaan terhadap lingkungan hidup yang ditanamkan dalam diri anak-anak baik yang dijalankan melalui pendidikan formal di sekolah ataupun gerakan dalam keluarga, komunitas maupun di paroki. Beberapa contoh dapat disebut, misalnya pendidikan cinta lingkungan yang diterapkan di SD Kalirejo Samigaluh Kulon Progo melalui pertanian organik, SD Prontakan di Sumber dengan sekolah sawah, gerakan sanggar anak di Kampung Sodong Paroki Bedono, pemeliharaan kambing „bergulir‟ bagi anak-anak bersama keluarga, dan masih banyak lagi gerakan lain yang menjadi secercah harapan bagi keutuhan ciptaan. Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2015 Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWI menerbitkan film pendek, berjudul “Kembali ke

 

Alam dan Bersyukur kepadaNya” (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v = ICLhrkrL8FI). Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan Allah, agar dengan bijaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semua orang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpah-limpah. Diperlukan pertobatan rohani pada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan dan pemeliharaan alam ciptaan.

Saudari-saudaraku yang terkasih

Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah dikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa, kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan. Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.

Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, pada pesta Kelahiran SP. Maria, 8 September 2015

Mgr Pujo Komplit

 

 

 

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang