SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah itu setia. Ia menggenapi janji yang telah disampaikannya kepada umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di masa penantian kedatangan Allah, jemaat perlu selalu mengusahakan hidup suci dan saleh (Bacaan II – 2 Petrus)
  3. Pertobatan adalah sikap dan tindakan yang paling tepat dalam menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan itu setia serta hadir dan berkarya dalam hidupku?
  3. Apa yang akan aku lakukan secara lebih sungguh-sungguh sebagai bentuk persiapan menyambut kedatangan Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik

522 Kedatangan Putera Allah ke dunia adalah satu kejadian yang sekian dahsyat, sehingga Allah hendak mempersiapkannya selama berabad abad. Semua ritus dan kurban, bentuk dan lambang “perjanjian pertama” (Ibr 9:15) diarahkan-Nya kepada Yesus; Ia memberitahukan kedatangan-Nya melalui mulut para nabi, yang susul-menyusul di Israel. Sementara itu Ia menggerakkan dalam hati kaum kafir satu pengertian yang samar-samar mengenai kedatangan ini.
523 Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung; ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi. Ia adalah yang terakhir dari mereka dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan. Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya.
524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “la harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Sharing Iman
www.sabda.org
Sebuah koran lokal memuat artikel tentang usaha seorang relawan membantu para pecandu narkoba. Beberapa hari kemudian, koran tersebut menerbitkan sebuah artikel yang menyatakan bahwa relawan yang berusaha membantu para pecandu obat itu sebenarnya sedang berurusan dengan masalah yang seharusnya tidak ada. Itu benar, tetapi tak ada gunanya mengatakan bahwa masalah itu tidak ada-karena kenyataannya benar-benar ada! Memang seharusnya dosa tidak boleh ada. Namun Allah mengantisipasi dosa kita dan mempersiapkan pengurbanan yang sempurna: “Anak Domba yang telah disembelih”, yaitu Yesus Kristus Putera-Nya.
Entah bagaimanapun keadaan yang membawa kita pada Allah, Dia tidak akan mengejek kita yang dengan jujur memohon agar dibebaskan dari dosa dosa yang sangat kita sesali. Pada saat bertobat, kita tidak hanya mengakui kesalahan, tetapi dengan kemauan sendiri berbalik dari dosa dan membuka diri untuk diubahkan oleh kuasa Allah. Pertobatan awal penting untuk memulai hubungan dengan Kristus. Pertobatan setiap hari diperlukan agar kita tetap ada dalam persekutuan yang erat dengan Dia dan bertumbuh secara rohani. Hal-hal ini membawa kita pada pengampunan Allah dan kuasa-Nya yang mengubah hidup kita. Pertobatan manakah yang Anda perlukan hari ini? Jika Anda benar-benar menyesali dosa-dosa Anda, Anda pasti mau melepaskannya.

BERJAGA-JAGALAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yesaya memohon kepada Allah agar kembali mengasihani umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Paulus mewartakan Allah yang baik dan setia kepada umat-Nya (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kita diajak untuk menjadi hamba yang baik, yang selalu siap sedia menyambut kedatangan tuannya, yaitu Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “berjaga-jaga” bagiku?
  3. Dalam hal apa saja aku perlu waspada dan berjaga-jaga?
  4. Apa yang aku lakukan supaya bisa selalu siap dan waspada?

Katekismus Gereja Katolik

2848 Supaya dapat melawan godaan, dibutuhkan satu keputusan hati. “Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu. Tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat 6:21.24). “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25).

Dalam “persetujuan” ini kepada Roh Kudus, Bapa memberi kita kekuatan.

“Percobaan yang kamu alami adalah percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.

Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

2849 Tetapi kemenangan dalam perjuangan yang demikian itu hanyalah mungkin di dalam doa. Yesus mengalahkan penggoda sejak awal (Mat 4:1-11). sampai kepada perjuangan terakhir dalam sakratul maut-Nya (Mat 26:36-44) melalui doa.

Dengan demikian, dalam permohonan ini kepada Bapa kita Kristus mempersatukan kita dengan perjuangan-Nya dan sakratul maut-Nya.

Kita dinasihati dengan sangat, supaya dalam persekutuan dengan Dia, membuat hati kita waspada (Mrk 13:9.23.33-37; 14:38; Luk 12:35-40). Kewaspadaan adalah “penjaga” hati.

Yesus memohon untuk kita kepada Bapa-Nya dengan perkataan: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11). Tanpa henti-hentinya Roh Kudus mengajak kita untuk waspada (1 Kor 16:13; Ko14:2; 1 Tes 5:6; 1 Ptr 5:8).

Dalam godaan terakhir perjuangan kita di dunia ini kesungguhan permohonan ini menjadi nyata; ia meminta ketabahan sampai akhir. “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia yang berjaga-jaga” (Why 16:15).

 

Sharing Iman:
www.sabda.org

Tanggal 26 Februari 1993 sebuah bom yang dahsyat meledak di parkiran bawah tanah World Trade Center di New York. Bom itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari seribu orang.

Peristiwa itu mendorong dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap banyak orang.

Namun, hanya sedikit penegak hukum yang mengenali kejadian itu sebagai bagian dari rencana teroris internasional.

Saat menara World Trade Center dihancurkan teroris tahun 2001, pejabat tinggi departemen kepolisian Raymond Kelly teringat serangan pertama masa silam itu dan berkata, “Hal itu seharusnya menjadi seruan untuk waspada bagi Amerika.”

Tiap orang percaya dipanggil Tuhan untuk berjaga, bukannya lalai dan tak peduli.

Bila semangat kita telah padam, Dia meminta dengan sangat kepada kita untuk mengobarkan bara api itu kembali.

Tanyakan pada diri Anda sendiri: Adakah panggilan untuk waspada dalam hidup saya akhir-akhir ini yang saya abaikan?

Apakah Allah tengah berusaha memberitahukan sesuatu kepada saya?

Akankah saya sambut panggilan-Nya untuk berjaga pada hari ini? — David McCasland.

“TUHAN MERAJA DI DALAM HIDUP KITA”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah adalah Gembala yang Baik kepada kita, domba-domba-Nya. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Melalui Yesus Kristus, Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan. (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kristus adalah Hakim di Akhir Zaman, yang akan mengadili setiap orang menurut kasih-Nya dan sesuai dengan sikap dan perbuatan kita kepada-Nya. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya Kristus sebagai Raja Semesta Alam bagiku?
  3. Apakah aku menyadari dan mengalami Kristus yang meraja di dalam hidupku?
  4. Bagaimana sikap dan perbuatanku selama ini di hadapan Raja Semesta Alam?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

668 “Kristus telah wafat dan hidup kembali, supaya la menjadi Tuhan, baik atas orang orang mati, maupun atas orang-orang hidup” (Rm 14:9). Kenaikan Kristus ke surga berarti bahwa la sekarang dalam kodrat manusiawi-Nya ikut serta dalam kekuasaan dan wewenang Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan: Ia mempunyai segala  kuasa di surga dan di bumi. la “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” dan Bapa “meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus” (Ef 1:20 22). Kristus adalah Tuhan semesta alam dan sejarah. Dalam Dia sejarah manusia, malahan selurah ciptaan sekali lagi “dipersatukan” di bawah satu kepala (Ef 1:10), dan secara transenden disempurnakan.

669 Sebagai Tuhan, Kristus adalah juga Kepala Gereja, yang adalah Tubuh-Nya. Walaupun la telah diangkat dan dimuliakan di dalam surga, karena Ia telah menyelesaikan perutusan Nya secara penuh, namun Ia tinggal di dunia dalam Gereja-Nya. Penebusan adalah sumber otoritas yang Kristus jalankan dalam Gereja Nya berkat Roh Kudus. “Gereja atau Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” adalah “benih dan awal Kerajaan Nya di dunia ini” (LG 3; 5).

Sharing Iman:

www.sabda.org

Saat Ratu Inggris, Elizabeth, masih kecil, orangtuanya mengadakan sebuah pesta kebun di Istana Buckingham, tetapi hujan badai membuat pesta itu harus dipindahkan ke dalam ruangan. Elizabeth dan adik perempuannya berkeliling di dalam ruangan tempat para tamu berkumpul dan mereka pun diserang dengan berbagai pertanyaan yang diajukan dengan sopan. Di sela-sela pembicaraan itu, Elizabeth menunjuk sebuah lukisan Yesus di atas kayu salib yang tergantung di dinding di dekatnya. Ia berkata, “Kata ayah saya, Dialah Raja yang sesungguhnya.”

Alangkah tepat pengakuannya bahwa Juruselamat yang telah mati bagi kita itu sekarang memerintah atas kita sebagai “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan” (1 Tim 6:15). Dengan kebangkitan-Nya, suatu hari kelak keberadaan-Nya sebagai Raja akan diakui di seluruh dunia saat semua lutut bertelut di hadapan-Nya, baik dengan hati penuh rasa syukur atau dengan terpaksa (Flp 2:9-11). Walaupun kita percaya bahwa Kristus mengampuni dosa-dosa kita, terkadang kita lalai untuk menyerahkan segenap diri, harta milik, dan perbuatan kita pada ketuhanan-Nya.

Sudahkah Anda mengakui Yesus Kristus sebagai Raja? Sudahkah Anda menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan? Apakah Anda bersedia mengizinkan Dia tidak hanya menyelamatkan Anda dari dosa, tetapi juga untuk mengatur hidup Anda? Sekarang, ambillah keputusan untuk berlutut di hadapan Dia, Tuhan yang berkuasa, dan jadilah hamba-Nya yang taat dan penuh rasa syukur. Dengan demikian Anda akan dapat menyembah Dia sebagai Juruselamat sekaligus Raja Anda!

 

“SETIA DALAM TANGGUNG JAWAB”

Intisari Bacaan

  1. Orang yang setia pada tanggung jawabnya digambarkan seperti istri yang cakap dan menjadi berkat bagi suami dan keluarganya (Bacaan I – Amsal).
  2. Sebagai anak-anak terang dan anak-anak siang, kita perlu selalu berjaga dan siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang tidak terduga (Bacaan II – 1 Tesalonika).
  3. Orang yang setia memikul tanggung jawabnya, akan menerima ganjaran yang berlimpah (Bacaan Injil – Matius).

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku orang yang setia?
  3. Apa yang membuatku setia pada tanggung jawabku? Dan apa yang membuatku tidak setia pada tanggung jawabku?
  4. Apa usahaku agar bisa menjadi pribadi yang semakin setia?

Katekismus Gereja Katolik

MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK SETIA

380 “Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta” (MR, Doa Syukur Agung IV 118).

381 Manusia sudah ditentukan untuk mencerminkan dengan setia citra Putera Allah yang menjadi manusia – “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15) – supaya Kristus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 Sharing Iman
http://www.sabda.org

Pada masa Perang Dunia I, untuk menyampaikan pesan digunakan burung merpati. Menurut catatan, ada sekitar 250.000 ekor merpati yang digunakan selama itu. Salah satu merpati yang berjasa menyelamatkan banyak tentara Perancis adalah Cher Ami. Suatu ketika, saat sedang terbang membawa pesan, Cher Ami tertembak di dadanya dan kakinya nyaris putus. Namun, ia tetap terbang selama 25 menit melintasi desingan peluru dan gas beracun. Atas kepahlawanan dan kesetiaannya, Cher Ami dianugerahi Croix de Guerre oleh pemerintah Prancis.

Ada harga yang harus dibayar bagi seorang pengikut Tuhan dalam menyelesaikan misi yang Dia percayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk setia menunaikan tugas itu selama kita masih hidup. Seperti Cher Ami turut berperan bagi terciptanya perdamaian, kiranya kesetiaan kita dalam melayani dan memberitakan Injil dipakai untuk membuat banyak orang mengenal kasih karunia Allah. Yesus Kristus, yang telah lebih dulu setia sampai titik darah penghabisan, akan memampukan kita untuk tetap setia sampai akhir pelayanan.

WASPADA DAN SIAGA: WUJUD SIKAP BIJAKSANA

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kebijaksanaan adalah harta yang tidak ternilai bagi manusia, maka setiap orang hendaknya menjadi pribadi yang bijaksana. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. St. Paulus mengajak jemaat untuk selalu memiliki iman dan pengharapan yang teguh akan kebangkitan setelah kematian. (Bacaan II – 1 Tesalonika)
  3. Yesus mengajak kita untuk selalu waspada dan siaga menyambut kedatangan Kerajaan Allah. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah wujud kebijaksanaan hidup. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya “bijaksana”? Apa artinya “bodoh”?
  3. Apa yang perlu aku siapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan?
  4. Apa usahaku agar menjadi pribadi yang bijaksana?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

Hati Nurani – Kebijaksanaan

1780 Martabat pribadi manusia mengandung dan merindukan bahwa hati nurani menilai secara tepat. Hati nurani mencakup: memahami prinsip-prinsip moral [synderesis], melaksanakannya dengan menilai alasan-alasan dan kebaikan-kebaikan seturut situasi tertentu, dan akhimya menilai perbuatan konkret yang akan dilaksanakan atau sudah dilaksanakan. Keputusan hati nurani yang bijaksana mengakui secara praktis dan konkret kebenaran mengenai yang baik secara moral, yang dinyatakan dalam hukum akal budi. Seorang manusia yang memilih sesuai dengan keputusan ini disebut bijaksana.

1781 Hati nurani memungkinkan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Kalau manusia telah melakukan yang jahat, maka keputusan hati nuraninya yang tepat dapat tetap memberi kesaksian bahwa kebenaran moral berlaku, sementara keputusannya yang konkret itu salah. Rasa bersalah seturut keputusan hati nurani merupakan jaminan bagi harapan dan belas kasihan. Dengan membuktikan kesalahan pada perbuatan yang dilakukan ini, keputusan hati nurani itu mengajak supaya memohon ampun, selanjutnya melakukan yang baik dan supaya dengan bantuan rahmat Allah mengembangkan kebajikan secara terus-menerus.

Sharing Iman:

http://www.sabda.org

Kita tentu punya kenangan tentang para guru yang pernah mengajar kita di sekolah. Sebagian besar guru biasanya memberi tahu apabila hendak mengadakan ulangan. Namun, ada juga sebagian guru yang lebih suka mengadakan ulangan mendadak, tanpa pemberitahuan. Bagi siswa yang tak pernah berkonsentrasi saat guru memberikan pelajaran atau hanya belajar pada jam-jam menjelang ulangan maka ketika berhadapan dengan guru tipe kedua, dijamin ia akan mendapat nilai buruk. Akan tetapi, siswa yang bijaksana adalah siswa yang tahu persis kebiasaan guru yang demikian sehingga ia selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.

Walau kenyataannya sangat berbeda, tetapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kurang lebih dapat digambarkan seperti ulangan mendadak yang biasa diadakan oleh sebagian guru. Tuhan kita, dalam hikmat-Nya yang besar, telah dan akan memberikan tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Namun, kapan waktunya tidak Dia sampaikan secara persis. Itulah sebabnya kita perlu selalu berjaga-jaga. Sebab, kapan pun harinya, bisa menjadi hari kedatangan Tuhan Yesus!

Mari terus memohon hikmat Tuhan, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana. Setiap hari yang kita jalani merupakan kesempatan untuk menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab, kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jangan sampai kita menjadi orang kristiani yang, ketika Tuhan Yesus datang, malah sedang “terlelap” seperti perumpamaan lima gadis yang bodoh. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana, yang senantiasa berjaga-jaga menanti sang mempelai. Bersiap dan berjaga-jagalah seolah-olah hari ini adalah hari kedatangan-Nya yang kedua.

“HUKUM YANG TERBESAR”

PERTANYAAN REFLEKSI PRIBADI
a) Dari kutipan Injil hari ini, apakah ada ayat yang menyentuh hati Anda? Mengapa?
b) Siapakah orang-orang Farisi? Siapakah orang-orang Farisi pada jaman sekarang?
c) Mengapa orang orang Farisi mencobai Yesus dengan pertanyaan mereka?
d) Apa hubungan antara perintah pertama dan kedua?
e) Mengapa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan ringkasan hukum dan kitab para nabi?

Kesaksian Seorang Ateis
Diambil dari http://alkitab.sabda.org/illustration

Karena menyadari bahwa kasih kepada Allah dan sesama merupakan inti ajaran Kitab Suci, saya membuat disertasi doktoral saya tentang “The Concept of Love in the Psychology of Sigmund Freud” (Konsep Kasih dalam Psikologi Sigmund Freud). Saya mempelajari bahwa pemikir berpengaruh, yang tidak beriman kepada Allah ini tetap sangat menekankan pentingnya kasih.
Misalnya, Freud menulis, cara terbaik untuk “lari dari kesusahan dalam kehidupan” dan “melupakan kesengsaraan yang sebenarnya” adalah dengan mengikuti jalan “yang mengharapkan datangnya kepuasan sejati melalui tindakan mengasihi dan dikasihi”. Dalam hal ini, Freud sejalan dengan Alkitab yang berfokus pada kasih.
Kitab Suci mengajarkan bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Kitab Suci juga mengajarkan pentingnya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6). Dengan demikian, masalah besar yang dihadapi oleh kita semua adalah bagaimana melepaskan diri dari dosa mencintai diri sendiri, sementara di saat yang sama kita mengasihi Allah dan sesama dengan sungguh-sungguh (Mat. 32:37-39; 1Yoh. 3:14). Injil, yang berbicara tentang kasih Kristus yang mengubah kehidupan, menyodorkan satu-satunya jawaban untuk masalah itu. Paulus menyatakannya dalam Roma 5:5, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.”
Sudahkah Anda merasakan curahan kasih Allah? Hanya ketika Anda memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, Roh Kudus dengan kasih-Nya akan mengalir di dalam dan melalui diri Anda –VCG

ALLAH MENCURAHKAN KASIH-NYA DI DALAM HATI KITA AGAR KITA JUGA MENCURAHKANNYA KEPADA SESAMA

Menjadi Rekan Sekerja Allah

Intisari Bacaan

  1. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita dan mengharapkan yang terbaik dari diri kita, seperti pemilik kebun anggur yang sangat memperhatikan kebun anggurnya. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di dalam segala hal hendaklah kita selalu mengucap syukur dan melakukan yang baik. Semua itu akan mendatangkan damai sejahtera. (Bacaan II – Filipi)
  3. Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang mengikuti kehendak Allah dan yang menghasilkan buah-buah kebaikan. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku termasuk orang yang mudah bersyukur atau sulit bersyukur? Mengapa?
  3. Kasih Allah macam apa yang aku alami selama ini?
  4. Apa arti “rekan sekerja Allah” menurutku?
  5. Bagaimana aku selama ini menghayati panggilanku sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya?

Katekismus Gereja Katolik

PENYELENGGARAAN DAN SEBAB KEDUA

306      Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas keputusan-Nya. Tetapi untuk melaksanakannya, Ia mempergunakan juga kerja sama makhluk-Nya. Itu bukanlah bukti kelemahan, melainkan bukti kebesaran dan kebaikan Allah. Sebab Allah tidak hanya memberi keberadaan kepada makhluk-Nya, tetapi juga martabat, untuk bertindak sendiri, menjadi sebab dan asal usul satu dari yang lain dan dengan demikian bekerja sama dalam pelaksanaan keputusan-Nya.

307      Kepada manusia Allah malahan memberi kemungkinan untuk mengambil bagian secara bebas dalam penyelenggaraan-Nya, dengan menyerahkan tanggung jawab kepada mereka, untuk “menaklukkan dunia” dan berkuasa atasnya`. Dengan demikian Allah memungkinkan manusia, menjadi sebab yang berakal dan bebas untuk melengkapi karya penciptaan dan untuk menyempurnakan harmoninya demi kesejahteraan diri dan sesama. Manusia sering kali merupakan teman sekerja Allah yang tidak sadar, tetapi dapat juga secara sadar memperhatikan rencana ilahi dalam perbuatannya, dalam doanya, tetapi juga dalam penderitaannya. Dengan demikian secara penuh dan utuh mereka menjadi “teman sekerja Allah” ( I Kor 3:9; 1 Tes 3:2) dan Kerajaan-Nya.

308      Dengan demikian kebenaran bahwa Allah bekerja dalam setiap perbuatan makhluk-Nya tidak dapat dipisahkan dari iman akan Allah Pencipta. Ia adalah sebab pertama, yang bekerja dalam dan melalui sebab kedua. “Karma Allah yang mengerjakan ini dalam kamu baik kehendak maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:1.3). Kebenaran ini sama sekali tidak merugikan martabat makhluk, tetapi meninggikannya. Diangkat dari ketidakadaan oleh kekuasaan, kebijaksanaan dan kebaikan Allah, makhluk tidak dapat berbuat apa-apa, kalau ia diputuskan dari asalnya, karma “ciptaan menghilang tanpa Pencipta” (GS 36,3). Lebih lagi, ia tidak dapat mencapai tujuan akhirnya tanpa bantuan rahmat.

Sharing Iman

Pada abad pertama, banyak tanah di Israel disewa oleh sekelompok orang asing untuk usaha perkebunan anggur. Dalam peraturan sewa-menyewa tanah tersebut, penyewa berhak mengutus hamba-hamba atau orang kepercayaannya untuk mengumpulkan panenan itu. Tentu saja hal ini membuat penggarap-penggarap, yang merupakan penduduk asli, sering merasa dirugikan dan tidak jarang menimbulkan pemberontakan.

Yesus mengambil gambaran situasi ini untuk menjelaskan relasi antara Allah dengan umat Israel. Kebun anggur melambangkan umat. Hanya Tuhan Allah-lah yang memiliki umatNya. Allah memang mempercayakan pemeliharaannya kepada para pemimpin umat (Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini tampil sebagai para penggarap yang ingin menguasai milik tuan tadi. Para hamba ialah para nabi yang mendapat perlakuan buruk dari para pemimpin. Kemudian anak empunya kebun tadi ialah Yesus sendiri.

Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung memahami perumpamaan tadi sebagai alegori tersebut. Dalam Mat 21:45 disebutkan bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus. Mereka merasa diancam bakal mendapat hukuman dari Allah sendiri karena telah mempertanyakan sah tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang sebagai berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.). Mereka waswas bila pengajar atau “nabi” hebat tapi liar ini tidak ditertibkan, para penguasa Romawi mengira ada gerakan untuk memberontak. Hal ini tentu akan mempengaruhi situasi politik di tanah Yudea dan khususnya bagi kelestarian Bait Allah. Oleh karena itu mereka semakin bersikap memusuhi Yesus.

Padahal ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi, yakni bahwa semuanya ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka belum diadili oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum sungguh-sungguh menyingkirkan anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih ada waktu bagi mereka untuk berubah. Sayang kesempatan itu tidak mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh rencana-rencana mereka sendiri dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka tidak dapat memikirkan perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat ajakan untuk berubah. Mereka bahkan berusaha untuk merebut apa yang menjadi milik Allah.

Bagi kita sekarang, kebun anggur yang Allah percayakan kepada kita adalah Gereja. Kita adalah rekan sekerja Allah dalam pelaksanaan karya keselamatan-Nya. Dalam menjalankan panggilan dan perutusan ini, kita dihadapkan pada berbagai kesulitan dan tantangan. Bagaimana aku menyikapinya?

“Yang terdahulu menjadi yang terakhir”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kita hendaknya selalu dekat dengan Tuhan. Ia memiliki rencana yang indah atas hidup kita. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Kita dipanggil dan diutus untuk menampakkan kemuliaan Kristus melalui hidup kita. Hendaknya kita hidup sesuai dengan Injil dan teladan Kristus. (Bacaan II – Filipi)
  3. Yesus mengajak kita untuk bersikap murah hati kepada semua orang seperti Allah Bapa yang murah hati. Kemurahan hati Allah itu diterima dengan penuh rasa syukur dan bukannya rasa iri dan dengki. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah – yang merupakan wujud keadilan dan kemurahan hati-Nya – bagiku?
  3. Apakah selama ini aku sudah bersikap adil dan murah hati?
  4. Hal konkret apa yang akan aku lakukan sebagai ungkapan rasa syukurku atas keadilan dan kemurahan hati Allah yang sudah aku terima selama ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

KEADILAN DAN KEMURAHAN ALLAH

214      Allah, “la yang ada”, telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. “Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi” (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena “Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5); Ia adalah “cinta”, seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).

215      “Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya” (Mzm 119:160). “Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati” (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.

216      Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.

Sharing iman:

Dari berbagai sumber

Orangtua yang mempunyai lebih dari satu anak tahu betul situasi ini: salah satu anak protes dan menilai sang orangtua tidak adil karena merasa saudaranya menerima “lebih” dari apa yang dia terima. Entah “lebih” itu dipahami dalam arti lebih banyak, lebih bundar, lebih baru, dst. Situasi ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa saja si anak sebenarnya merasa bosan, butuh perhatian, atau iri. Namun bisa juga si anak memang merasa diperlakukan tidak adil. Untuk kasus ini, mau tak mau orangtua mesti dengan sabar menjelaskan arti keadilan di dalam pemberian tersebut.

Perumpamaan dalam Injil hari ini menggambarkan Kerajaan Surga seperti tindakan seorang “tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (Mat 20:1). Ada dua hal yang dapat digarisbawahi dari tindakan sang tuan rumah. Pertama, tindakan memberikan upah harian yang sama kepada para pekerjanya, dari yang bekerja sejak pagi hingga yang baru bekerja pada jam lima sore, mengilustrasikan kemurahan hati Allah di tengah kekayaan dan kekuasaan-Nya: tuan rumah memberikan nafkah yang cukup untuk penghidupan sehari-hari, terlepas dari berapa lama mereka bekerja. Kedua, keluhan buruh yang bekerja sejak pagi menggarisbawahi keadilan Allah: tuan rumah tak melanggar hak siapapun, karena semua pekerja sama-sama mendapatkan upah yang memadai untuk sehari kerja. Artinya, di dalam komunitas orang beriman, ‘upah’ orang percaya didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas prakarsa manusia. Karena itu perkataan Yesus, “yang terakhir akan menjadi yang terdahulu …” (Mat 20:16) mengulangi perkataan Yesus di bagian lainnya: “banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat 19:30) sekaligus menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan membalikkan penilaian manusia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini memperingatkan kita untuk tidak menerapkan prinsip penilaian dunia ke dalam kehidupan manusia. Hal ini tentu tidak dapat diterima oleh orang-orang yang mengharapkan dapat mengatur keselamatan menurut aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia menurut prinsip-prinsip, aturan-aturan, dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia atas dasar “pukulan dibalas dengan pukulan” atau “satu perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik yang lain.” Allah memiliki rancangan