Sabda Hidup: Selasa, 11 April 2017

HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38. BcO Yer 11:18-12:13

Bacaan Injil: Yoh. 13:21-33,36-38

21Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”22Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.23Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.24Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!”25Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, siapakah itu?”26Jawab Yesus: “Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.27Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”28Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.29Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.30Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.31Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.32Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.33Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.36Simon Petrus berkata kepada Yesus: “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus: “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”37Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”38Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”

Renungan

AKHIR-AKHIR ini televisi gencar memberitakan mega korupsi E-KTP. Banyak nama disebut dalam dakwaan. Banyak pula nama yang menolak terlibat. Namun ada pula yang mengakui menerima uang. Kita pun disuguhi tanda tanya siapa yang bener melakukan tindakan korupsi dan siapa yang bersih dari korupsi. Yang jelas kita sebagai rakyat dirugikan oleh kerakusan para koruptor tersebut. Yang tidak kita ketahui dengan pasti siapa pelakunya.

Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid-Nya akan bertindak sebagai pengkhianat. Ia akan menjual dan menyerahkan Yesus kepada para musuh-Nya. Kata-kata Yesus ini membuat para murid bertanya-tanya siapa yang dimaksud. Yesus hanya memberi tanda. Pada saatnya orang tersebut akan terlihat.

Ada banyak hal tersembunyi dalam kehidupan kita yang memancing banyak pertanyaan. Sering tidak mudah bagi kita untuk menemukan jawabannya. Hanya pada saat tertentu ketika telah terjadi kita baru tahu jawabannya. Kiranya kita mesti bersabar untuk kehadiran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Tuhan akan memberikan jawaban pada waktu yang tepat.

Kontemplasi

Bayangkan suasana para murid ketika Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Refleksi

Bagaimana menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab?

Doa

Tuhan aku percaya Engkau selalu berkenan memberikan jawaban atas pertanyaanku. Semoga aku makin dekat dan erat dalam kepercayaan pada rencana-Mu. Amin.

Perutusan

Aku akan bersandar pada rencana Tuhan atas hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Senin, 10 April 2017

HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Yes. 42:1-7; Mzm. 27:1,2,3,13-14; Yoh. 12:1-11. BcO Yes 52:13-53:12

Bacaan Injil: Yoh 12:1-11

1Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.2Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.3Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.4Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:5″Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”6Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.7Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.8Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”9Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.10Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,11sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Renungan

KETIKA ada orang yang berada dalam ambang kematian orang-orang di sekitarnya akan berbuat segala hal baik baginya. Mereka mendengarkan dan melayani apa yang diinginkan. Semua anggota keluarga pun dikumpulkan dan memberikan gambaran kerukunan mereka. Perbuatan-perbuatan baik itu melegakan mereka yang berada di ambang kematian.

Ketika Yesus datang ke rumahnya, Maria memberikan yang terbaik bagi Yesus. Ia berada di dekat Yesus. Ia mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal harganya. Yang terbaik ia berikan untuk Yesus.

Kini kita sudah memasuki pekan suci. Kita akan memasuki rangkaian peristiwa iman yang agung. Pada saat-saat seperti ini kiranya kita pun perlu memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Seperti Maria kita pun perlu selalu dekat dengan Tuhan dan mendengarkan suara-Nya. Kita perlu bersujud di hadapan-Nya dan merasakan apa yang Tuhan rasakan. Maka mari kita berikan waktu, pikiran dan tenaga kita untuk sehati dengan Tuhan.

Kontemplasi

Bayangkan kisah Maria mengurapi Yesus (Yoh 12:1-11). Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Apa yang akan kamu lakukan selama pekan suci?

Doa

Tuhan akun ingin berada di dekat-Mu, mendengarkan pesan-pesan-Mu. Ijinkanlah aku berada di dekat-Mu selama pekan suci ini. Amin.

Perutusan

Aku akan berada di dekat Tuhan selama pekan suci ini. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Sabtu, 8 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11-12ab,13; Yoh. 11:45-56. BcO Ibr 13:1-25

Bacaan Injil:Yoh 11:45-56

45Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. 46Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. 47Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. 48Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” 49Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, 50dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” 51Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,52dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. 53Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. 54Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. 55Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. 56Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”

Renungan

DALAM beberapa pembangunan kita sering melihat orang menyembelih binatang sebagai korban. Sering kalau binatang berkaki empat maka kepalanya ditanam di daerah tertentu. Hal itu dilakukan demi keselamatan semua orang yang akan bekerja di pembangunan tersebut.Daripada ada korban manusia maka binatang itu menjadi korban pengganti.

Maaf saya membandingkan itu dengan pemikiran  Kayafas. Kayafas merasa lebih baik satu orang dikorbankan daripada seluruh negeri mengalami celaka. “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh 11:50). Setelah pendapat ini orang-orang pun sepakat membunuh Yesus.

Rasanya sampai sekarang pun masih banyak orang yang mengorbankan sesamanya demi keselamatan dirinya. Kepentingan sendiri dilindungi hak hidup orang lain dikorbankan. Kiranya kalau tidak ada kebencian tidak ada pula mengorbankan sesamanya. Hanya karena kebencian orang menjadi tega dan sadis. Maka marilah kita tepiskan rasa benci dalam diri kita. Kita hadirkan semangat kasih dan bersaudara.

Kontemplasi

Bayangkan kisah dalam Injil Yohanes 11:45-56. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Bagaimana menahan diri dari dorongan menyingkirkan sesama?

Doa

Tuhan semoga anak-anak-Mu makin akrab dalam bersaudara. Semoga mereka tidak saling mengorbankan tapi saling meneguhkan. Amin.

Perutusan

Aku akan menjaga semangat persaudaraan dan mengangkat martabat sesamaku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Jumat, 7 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42. BcO Ibr 12:14-29

Bacaan Injil: Yoh 10:31-42

31Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. 32Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” 33Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” 34Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? 35Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah – sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan-, 36masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? 37Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, 38tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” 39Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. 40Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. 41Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”42Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Renungan

SERING kita temui orang yang sulit dipercaya omongannya. Banyak omongan bagus-bagus tapi tidak ada yang mewujud sama sekali. Ada pula orang yang tidak banyak omong tetapi banyak bekerja. Ada banyak karya yang dibuat walau sedikit kata yang diucap. Ada pula yang kata dan perbuatannya seimbang. Siapa yang kita senangi?

Kata dan perbuatan Yesus seimbang. Apa yang Ia katakan Dia lakukan. Apa yang Dia lakukan Dia katakan. Namun demikian orang-orang yang tidak suka tidak bisa menerima apapun yang dia katakan dan lakukan. Perbuatan-perbuatan baik pun tidak mereka lihat. Yang ada adalah Yesus salah dan harus dihukum. Maka meski Yesus sudah menghadirkan banyak perbuatan baik namun orang-orang itu tetap mau menangkap dan melempari Dia dengan batu.

Mungkin kita tidak gampang percaya pada kata-kata. Namun rasanya kita tidak bisa mengingkari fakta baik di hadapan kita. Kala kita menutup mata atas perbuatan baik tersebut orang-orang pun akan mentertawakan kita. Maka marilah kita bersikap jujur untuk mengakui hala-hal yang telah dibuat dengan baik oleh orang-orang di sekitar kita.

Kontemplasi

Bayangkan kisah dalam Injil Yoh 10:31-42. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Bagaimana mengakui karya-karya sesama kita?

Doa

Tuhan semoga aku selalu jujur mengakui karya-karya sesamaku. Semoga makin banyak orang mengembangkan karya baik demi kebaikan bersama. Amin.

Perutusan

Aku akan mengakui dan mendukung karya-karya yang baik. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Kamis, 6 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59. BcO Ibr 12:1-13

Bacaan Injil: Yoh 8:51-59.

51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” 52Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. 53Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkausamakan diri-Mu?” 54Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, 55padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. 56Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” 57Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” 58Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” 59Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Renungan

BAHASA dan latarbelakang percakapan yang berbeda seringkali menimbulkan perselisihan. Sering kita temukan anak dengan orang tua atau cucu dengan nenek bercekcok karena bahasa dan latar belakang bahasa mereka yang berbeda. Mereka bisa bertengkar ramai sekali. Namun kala menyadari perbedaannya mereka akan akur lagi.

Bahasa dan latar belakang bahasa yang dipakai Yesus berbeda dengan milik orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi pun tidak mampu menangkap omongan Yesus. Mereka pun malah mengumpat Yesus, “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh 8:52).

Memang sering tidak mudah menyadari perbedaan bahasa. Maka sering pula perselisihan kata terjadi di dalam hidup kita. Kiranya kita perlu belajar mendeteksi perbedaan tersebut. Salah satu caranya adalah segera sadar kalau orang yang kita ajak bicara tidak memahami omongan kita. Di sana kita bisa menghentikan percakapan kita atau kemudian mengklarifikasinya.

Kontemplasi

Bayangkan kisah dalam Injil Yoh 8:51-59. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Bagaimana bisa segera menyadari perbedaan bahasa agar terhindar dari perselisihan kata?

Doa

Tuhan semoga aku mampu memahami bahasa yang mungkin berbeda denganku. Semoga aku pun bisa berbahasa dengan baik. Amin.

Perutusan

Aku akan menjaga bahasaku dan segera mengenali perbedaan yang mungkin ada. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Rabu, 5 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Dan. 3:14-20,24-25,28; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; Yoh. 8:31-42. BcO Ibr 11:31-42

Bacaan Injil: Yoh 8:31-42

31Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku32dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”33Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”34Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.35Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.36Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”37″Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu.38Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.”39Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.40Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.41Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.”42Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

Renungan

LAHIR di keluarga orang penting, terpandang dan sejahtera dilihat sebagai keberuntungan tersendiri. Orang-orang pun sering terkagum dengan keadaan seperti itu. Tidak jarang ada yang meratapi keberadaannya karena tidak seperti mereka. Banyak yang lahir dalam keberadaan seperti itu bisa hidup dengan baik dan bahkan mengembangkan warisan tersebut. Tidak sedikit pula yang gagal dan bahkan menjadi sengsara.

Orang-orang Yahudi bangga menjadi keturunan Abraham. Namun ternyata kebanggaan tersebut tidak diikuti dengan cara hidup menurut hidup Abraham. Mereka malah berkehendak membunuh Yesus. “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham” (Yoh 8:39-40).

Kiranya keselamatan tidak ditentukan oleh faktor keturunan. Perilaku hidup kitalah salah satu penentu keselamatan kita. Perilaku baik, tekun dan tak pernah menyerah didukung rahmat Allah akan menghantar kita pada keselamatan.

Kontemplasi

Pejamkan matamu. Hadirkan rangkaian hidupmu. Telitilah apakah selaras dengan jalan Tuhan.

Refleksi

Tulislah perjalanan hidupmu dibandingkan dengan kehendak Tuhan.

Doa

Tuhan semoga aku selalu hidup sesuai dengan jalan-Mu. Amin

Perutusan

Aku akan memasang alur jalan hidupku selaras dengan alur kehendak Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Selasa, 4 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Bil. 21:4-9; Mzm. 102:2-3,16-18,19-21; Yoh. 8:21-30 BcO Ibr 11:20-31

Bacaan Injil:Yoh 8:21-30

21Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” 22Maka kata orang-orang Yahudi itu: “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” 23Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. 24Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” 25Maka kata mereka kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka: “Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? 26Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” 27Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. 28Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. 29Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” 30Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.

Renungan

SUATU kali kami shooting film anak-anak. Banyak anak menjadi bintang dalam film tersebut. Namun beberapa di antara mereka harus ada orang yang menunggui dari keluarganya. Kehadiran ibu, ayah atau neneknya menambah keyakinan sang anak. Mereka merasa ayem dan berani tampil lebih optimal.

Yesus meyakini kehadiran Bapa pada diri-Nya. Kehadiran Bapa meneguhkan keyakinan Yesus dalam berkarya. Ia tak gentar dengan segala sesuatu yang mungkin akan menghalangi bahkan menjegal-Nya. Ia tetap melangkah menghadirkan kehendak Bapa.

Ada banyak hal yang mungkin membuat kita malas melangkahkan kaki kita lagi. Kekecewaan, rasa dijahatin, rasa tidak mempunyai teman sering menjadi alasan kita untuk tidak melanjutkan langkah kita. Namun ingatlah bahwa kita mempunyai Bapa yang selalu setia dan tidak mengecewakan. Kepercayaan akan kehadiran-Nya akan menegapkan langkah kita mengarungi jalan yang mungkin mengecewakan. Kita tetap akan gembira karena Allah menyertai.

Kontemplasi

Bayangkan kesetiaan Allah yang menegakkan langkahmu yang tersendat oleh kekecewaan.

Refleksi

Bagaimana menyadari kasih penyertaan Allah kala kita lagi kecewa?

Doa

Tuhan banyak hal yang seringkali membuatku jatuh kecewa dan ingin meninggalkan apa yang telah kuperjuangkan. Bantulah aku untuk selalu mengingat kehadiran-Mu sehingga aku tidak mudah meninggalkan apa yang telah Kauanugerahkan. Amin.

Perutusan

Aku sadar penyertaan Tuhan untuk mengubah kekecewaan menjadi harapan dan semangat. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Senin, 3 April 2017

Hari biasa Pekan V Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11. BcO Ibr 11:1-19

Bacaan Injil: yoh 8:1-11

1tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 2Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 3Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 4Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 5Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 6Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” 8Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 9Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 10Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 11Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Renungan

MENGHUJAT dan menghukum orang yan berdosa itu gampang. Kita gampang berteriak-teriak dan menghujat mereka yang kita anggap berdosa. Rasanya segala cercaan dan cacian siap untuk dilontarkan. Tuduhan bersalah pun bisa mengumpulkan ribuan orang dan menghadirkan banyak spanduk yang mendiskreditkan.

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berdosa. Mereka berharap Yesus pun akan menghukum perempuan itu. Ternyata Yesus tidak terpancing oleh dorongan nafsu mereka. Ia meredakan nafsu mereka dengan mengatakan, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Mereka sadar kalau diri mereka berdosa maka mereka terdiam dan pergi.

Rasanya kita jangan gampang terpancing emosi untuk menghukum orang. Kita perlu sadar bahwa kita pun orang berdosa. Sebagaimana Tuhan kita kedepankan pengampunan daripada hukuman. Pengampunan akan membuat seseorang menjadi hidup.

Kontemplasi

Bayangkan kisah dalam Injil Yoh 8: 1-11. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Apa yang kita lakukan kala menghadapi orang berdosa?

Doa

Tuhan semoga aku lebih mudah mengampuni daripada menghukum. Dengan mengampuni aku pun mengalami kehidupan. Amin.

Perutusan

Aku akan gampang mengampuni daripada menghukum. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup

Inspirasi Bacaan

  1. Allah sungguh terlibat dalam kehidupan kita manusia. Adakah kita sebegitu skeptis karena kemajuan pengetahuan tehnologi dan psikologi sehingga tidak menerima bahwa Allah terlibat dalam kehidupan kita? (Yehezkiel bacaan I )
  2. Karena peristiwa inkarnasi- Sang Firman sudah menjadi insan – maka tubuh daging kita menjadi tempat yang suci (Roma, bacaan II )
  3. Benih hidup kekal sudah ditaburkan dalam hati kita. Apakah benih iman itu sudah tumbuh berkembang? (Yohanes, bacaan Injil)

Ilustrasi dari http://alkitab.sabda.org

Bill, suami saya yang terkasih, meninggal karena kanker dalam usia 48 tahun. Pada suatu pagi yang masih diliputi kedukaan, saya membaca Yohanes 11, yang menceritakan bahwa Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Saya diteguhkan oleh dua kebenaran dalam perkataan Yesus kepada para murid-Nya dalam perjalanan ke kubur Lazarus.

Kebenaran pertama dinyatakan saat Yesus mengatakan Lazarus tertidur dan Dia akan membangunkannya (ayat 11-14). Murid-murid-Nya lalu berkata, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Yesus menjawab, “Lazarus sudah mati.” Dengan mengatakan Dia akan membangunkan Lazarus, saya yakin, Dia bermaksud mengajar mereka dengan lembut agar tidak takut terhadap kematian, dan menganggap kematian itu seperti tidur. Karena kuasa-Nya, membangkitkan seseorang dari kubur itu sama seperti membangunkan seseorang dari tidur.

Saya melihat kebenaran yang kedua dalam pernyataan Yesus kepada Marta, “Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (ayat 25,26). Tentu saja orang-orang percaya tidak terhindar dari kematian fisik. Namun, Yesus berjanji mereka akan hidup selamanya. Sebagai ‘kebangkitan dan hidup’, kelak Dia akan “membangunkan” tubuh mereka. Kuasa-Nya untuk melakukan hal itu ditunjukkan saat Dia membangkitkan Lazarus (ayat 43,44).

Saat seseorang yang kita kasihi pergi untuk tinggal bersama Yesus, janji-janji ini memberikan penghiburan dan jaminan bagi kita –Joanie Yoder

KEMATIAN MEMISAHKAN KITA UNTUK SEMENTARA
KRISTUS AKAN MEMPERSATUKAN KEMBALI SELAMANYA

Sabda Hidup: Jumat, 31 Maret 2017

Hari biasa Pekan IV Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Keb. 2:1a,12-22; Mzm. 34:17-18,19-20,21,23; Yoh. 7:1-2,10,25-30. BcO Ibr 10:1-10

Bacaan Injil: Yoh 7:1-2,10,25-30

1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 2Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. 25Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? 26Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? 27Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya.” 28Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. 29Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” 30Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

Renungan

DALAM peperangan kita mengenal strategi gerilya maupun penyamaran. Jendral Sudirman dikenal dengan kemampuannya bergerilya. Pasukannya secara diam-diam memata-matai dan mengalahkan lawan. Selain itu kita pun sering menyaksikan orang menyamar untuk bisa memasuki area lawan. Penyamaran yang sukses menghadirkan keberhasilan perjuangan.

Yesus mesti memasuki kembali kota Yudea karena saudara-saudaranya ke sana untuk merayakan hari raya Pondok Daun. Namun Ia memasuki kota itu dengan diam-diam. “Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam” (Yoh 7:10). Banyak orang di sana hendak membunuh Dia. Yesus pun berhasil dan bahkan sempat mengajar dan berdiskusi dengan banyak orang di situ.

Kadang kita pun perlu hadir secara diam-diam. Orang-orang sekarang sering menyebut tampil di belakang layar. Bisa juga kita menjadi sutradara di suatu pertunjukan. Walau tidak terlihat, peran tersebut penting bagi keberhasilan sebuah pentas. Maka pada saat-saat tertentu baik kalau kita pun juga berperan diam-diam.

Kontemplasi

Bayangkan kisah dalal Injil Yoh 7:1-2,10,25-30. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi

Kapan kita perlu hadir dan tampil secara diam-diam?

Doa

Tuhan semoga aku mampu menempatkan diri secara tepat dengan situasi yang kuhadapi. Semoga aku bisa menahan diri kala aku harus menahan diri. Amin.

Perutusan

Aku akan hadir secara diam-diam bila hal tersebut diperlukan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net