Pengajaran “Kerajaan Surga: Pilihan Terbaik”

diambil dari http://alkitab.sabda.org

KERAJAAN … HARTA.                          Nas : Mat 13:44-46

Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara mengajarkan dua kebenaran:

  1. 1) Kerajaan Allah merupakan suatu harta yang tak ternilai harganya, yang patut diinginkan melebihi segala sesuatu.
  2. 2) Kerajaan Allah hanya dapat diperoleh dengan mengorbankan segala sesuatu yang mungkin menghalangi kita menjadi anggota Kerajaan itu. “Menjual seluruh miliknya” berarti bahwa kita harus mengalihkan segenap hati dari segala perkara lain dan memusatkan seluruh hidup kita kepada Kristus saja (Rom 12:1).

 

KERAJAAN … PUKAT.                                 Nas : Mat 13:47

Perumpamaan ini menyatakan kembali kebenaran yang telah sangat ditekankan oleh Kristus: tidak semua anggota dari kerajaan yang kelihatan merupakan anak-anak Tuhan yang sejati. Gereja-gereja dan organisasi Kristen belum tentu searti dengan umat Allah yang sejati, yaitu umat yang terdiri atas semua orang percaya yang hidup dengan iman dan kebenaran yang sejati (bd. Mat 24:11,24Gal 5:19-21;

MEMISAHKAN ORANG JAHAT DARI ORANG BENAR.

Nas : Mat 13:49

Dalam perumpamaan tentang pukat, urutan pemisahan orang jahat dari orang benar sama dengan urutan dalam perumpamaan gandum dan lalang (ayat Mat 13:30,41,43): semua yang melakukan kejahatan dikumpulkan dahulu dan baru kemudian orang benar dikumpulkan (bd. Wahy 19:11-20:4). Urutan ini dengan jelas menunjukkan bahwa pemisahan tersebut dilaksanakan pada akhir masa kesengsaraan besar (Mat 24:29-31Wahy 19:11-20:4) dan bukan pada saat pengangkatan jemaat, pada waktu orang setia dari jemaat Kristus dikumpulkan dari antara orang jahat (lih. 1Tes 4:13-18Wahy 3:10). Dalam perumpamaan ini Kristus menekankan lagi bahwa di antara umat Allah ada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh setia kepada-Nya dan Firman-Nya.

 

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

ARTIKEL 7 * KEBAJIKAN

1803 “Jadi, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp 4:8). Kebajikan adalah suatu kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Ia memungkinkan manusia bukan hanya untuk melakukan perbuatan baik, melainkan juga untuk menghasilkan yang terbaik seturut kemampuannya.

Dengan segala kekuatan moral dan rohani, manusia yang berkebajikan berusaha untuk melakukan yang baik. Ia berusaha untuk mencapainya dan memilihnya dalam tindakannya yang konkret.

“Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah” (Gregorius Nisa, beat. l).        1733, 1768

  1. Kebajikan Manusiawi

1804 Kebajikan manusiawi adalah sikap yang teguh, kecenderungan yang dapat diandalkan, kesempurnaan akal budi dan kehendak yang tetap, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita dan membimbing tingkah laku kita supaya sesuai dengan akal budi dan iman. Mereka memberi kepada manusia kemudahan, kepastian dan kegembiraan untuk menjalankan kehidupan moral secara baik. Manusia yang berkebajikan melakukan yang baik dengan sukarela.

Kebajikan moral diperoleh melalui usaha manusia. Ia adalah buah dan sekaligus benih untuk perbuatan baik secara moral; ia mengarahkan seluruh kekuatan manusia kepada tujuan, supaya hidup bersatu dengan cinta ilahi.                   2500, 1827

  1. Kebajikan Pokok [Kardinal]

1805 Empat kebajikan merupakan poros kehidupan moral. Karena itu orang menamakan mereka kebajikan “kardinal” [cardo berarti poros]; semua yang lain berada di sekeliling mereka. Mereka adalah kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. “Kalau seorang mengasihi kebenaran, maka kebajikan adalah hasil jerih payah kebijaksanaan. Sebab ia mengajarkan menahan diri dan berhati-hati, keadilan dan kebenaran” (Keb 8:7). Kebajikan-kebajikan ini juga dipuji dalam banyak teks Kitab Suci dengan nama-nama yang lain.

1806 Kebijaksanaan adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. “Orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams 14:15). “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Ptr 4:7). “Kebijaksanaan ialah akal budi benar sebagai dasar untuk bertindak”, demikian santo Tomas menulis (s.th. 2-2,47,2,sc) mengikuti Aristoteles. Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. Orang menamakan dia “auriga virtutum” [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati nurani. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.

1807 Keadilan sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka. Keadilan terhadap Allah dinamakan orang “kebajikan penghormatan kepada Allah” [virtus religionis]. Keadilan terhadap manusia mengatur, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama. Manusia yang adil yang sering dibicarakan Kitab Suci, menonjol karena kejujuran pikirannya dan ketepatan tingkah lakunya terhadap sesama. “Janganlah engkau membeIa orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran” (Im 19:15). “Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, karma juga mempunyai tuan di surga” (Kol 4:1).

1808 Keberanian adalah kebajikan moral yang membuat tabah dalam kesulitan dan tekun dalam mengejar yang baik. Ia meneguhkan kebulatan tekad, supaya melawan godaan dan supaya mengatasi halangan-halangan dalam kehidupan moral. Kebajikan keberanian memungkinkan untuk mengalahkan ketakutan,juga ketakutan terhadap kematian dan untuk menghadapi segala percobaan dan penghambatan. Ia juga membuat orang reIa untuk mengurbankan kehidupan sendiri bagi suatu hal yang benar. “Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku” (Mzm 118:14). “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).      2848, 2473

1809 Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita mempergunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat. Ia menjamin penguasaan kehendak atas kecenderungan dan tidak membiarkan kecenderungan melampaui batas-batas yang patut dihormati. Manusia yang menguasai diri mengarahkan kehendak inderawi-nya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai, dan berpegang pada kata-kata: “Jangan mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu, dan jangan engkau mengikuti hawa nafsumu” (Sir 5:2) Bdk. Sir 37:27-31.. Kebajikan penguasaan diri sering dipuji dalam Perjanjian Lama: “Jangan dikuasai oleh keinginan-keinginanmu, tetapi kuasailah segala nafsumu” (Sir 18:30). Dalam Perjanjian Baru ia dinamakan “kebijaksanaan” atau “ketenangan”. Kita harus hidup “bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini” (Tit 2:12).

“Hidup yang baik itu tidak lain dari mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran. (Oleh penguasaan diri) orang mencintai-Nya dengan cinta sempurna, yang tidak dapat digoyahkan oleh kemalangan apa pun (karena keberanian yang hanya mematuhi Dia (karena keadilan) dan yang siaga supaya menilai semua hal, supaya jangan dikalahkan oleh kelicikan atau penipuan (inilah kebijaksanaan)” (Agustinus, mor. Eccl. 1,25,46).

III. Kebajikan dan Rahmat

1810 Kebajikan manusiawi yang diperoleh melalui pendidikan, melalui latihan, dan ketekunan dalam usaha, dimurnikan dan diangkat oleh rahmat ilahi. Dengan bantuan Allah mereka menggembleng watak dan memberi kemudahan dalam melakukan yang baik. Manusia yang berkebajikan bergembira dalam berbuat baik.

1811 Bagi manusia yang telah dilukai oleh dosa memang tidak mudah untuk mempertahankan keseimbangan moral. Keselamatan yang dikaruniakan oleh Kristus memberi kita rahmat yang dibutuhkan supaya tabah dalam mengejar kebajikan. Tiap orang harus selalu memohon rahmat terang dan kekuatan, harus mencari bantuan dalam Sakramen-sakramen, harus bekerja sama dengan Roh Kudus dan mengikuti ajakan-Nya untuk mencintai yang baik dan bersikap waspada terhadap yang jahat.

DOA MOHON KEBIJAKSANAAN            Puji Syukur 1992, No. 142

Allah yang Mahabijaksana, Engkau telah menciptakan dan menata alam ini dengan kebijaksanaan yang tak terhingga. Engkau pun telah mengajarkan kebijaksanaan sejati kepada kami, yang seringkali tidak kami pahami, karena jalan-Mu jauh berbeda dengan jalan kami, dan pikiran kami jauh berbeda dari pikiran-Mu. Berilah kami bagian dari kebijaksanaa-Mu, supaya seperti Salomo, kami lebih mencintai kebijaksanaan daripada harta dan kuasa yang akan binasa.

Terangilah hati kami dengan Roh Kebijaksanaan-Mu, supaya kami berpengamatan tajam dan luas. Jauhkanlah kami dari segala ketakutan dan kecemasan yang tak berfaedah, dan janganlah membiarkan kami menyeleweng karena pelbagai keinginan yang tidak teratur. Semoga kami selalu waspada terhadap bujuk rayu dan godaan yang menyesatkan.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebijaksanaan yang sejati, supaya kami belajar mencari Engkau di dalam segala sesuatu, dan memahami peristiwa-peristiwa hidup ini sesuai dengan tata kebijaksanaan-Mu. Berilah kami kebijaksanaan sejati, agar dengan pikiran yang jernih kami dapat memilih yang terbaik, dan melangkah di jalan yang lurus, mengikuti jejak Yesus, guru kebijaksanaan sejati. Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin

“Kerajaan Surga: Pilihan Terbaik”

Intisari Bacaan Minggu Biasa XVII A

Bagi kita orang Kristen,  hidup adalah pembatinan nilai-nilai yang terus-menerus dan berpusat pada Kehendak Allah. Pemuridan membutuhkan kebijaksanaan yang berasal dari Allah. Itulah kebijaksanaan yang tersembunyi dalam misteri dan kontradiksi SALIB. Kebijaksaan itu memampukan kita melepaskan segalanya demi mendapatkan harta yang terpendam atau mutiara yang berharga.

  1. Kemampuan untuk memimpin dengan bijak dan baik adalah anugrah yang begitu berharga. Kemampuan itu dijanjikan oleh banyak pemimpin tetapi hanya sedikit yang menjalankannya. ( Bacaan I – Raja- Raja )
  2. Percaya bahwa segalanya akan menjadi baik bukanlah sikap naif kekanak-kanakan, melainkan harapan sejati dari mereka yang mencintai Allah ( Bacaan II – Roma )
  3. Sebelum seseorang melepaskan segalanya untuk mendapatkan “mutiara yang berharga”, dia harus sungguh-sungguh berdoa untuk mengetahui “mutiara” nya itu ( Injil – Matius )

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Adakah ayat yang menyentuh hatiku? Mengapa?
  2. Dari pengalaman hidupku pribadi, apa yang aku pahami dengan harta terpendam, pedagang mutiara, pukat nelayan?
  3. Bagaimanakah pengalaman pribadi itu bisa membantuku memahami 3 perumpaan Yesus tentang Kerajaan Allah yang kita dengar pada hari ini?
  4. Adakah perbedaan antara “harta terpendam” dengan “mutiara berharga”

Sebagai murid Kristus, pesan dan misi pribadi apa yang saya terima setelah merenungkan Injil hari ini?

BENIH YANG BAIK … BENIH LALANG.

Dari http://sabda.org/

Nas : Mat 13:24-25
Perumpamaan tentang gandum dan lalang ini menekankan bahwa Iblis akan menabur di samping mereka yang menaburkan Firman Allah.

“Ladang” melambangkan dunia, dan “benih yang baik” melambangkan orang percaya dalam Kerajaan Allah (ayat Mat 13:38).

1) Injil dan orang percaya yang sejati akan ditanam di seluruh dunia (ayat Mat 13:38). Iblis juga akan menanam para pengikutnya, “anak-anak si jahat” (ayat Mat 13:38), di antara umat Tuhan untuk meniadakan kebenaran Allah (ayat Mat 13:25,38-39).

2) Pekerjaan utama para pengikut Iblis di dalam Kerajaan Sorga yang kelihatan (yaitu gereja-gereja) adalah melemahkan kekuasaan Firman Allah (lih. Kej 3:4) serta memajukan ketidakbenaran dan ajaran yang palsu (bd. Kis 20:29-30; 2Tes 2:7,12).

Beberapa waktu kemudian Kristus berbicara tentang suatu usaha besar untuk menyesatkan umat-Nya, yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Kristen namun yang sesungguhnya ialah guru-guru palsu

3) Keadaan adanya para pengikut Iblis di antara umat Tuhan akan berakhir ketika Allah pada akhirnya membinasakan segala orang jahat pada akhir zaman (ayat Mat 13:38-43).

Perumpamaan lain yang menekankan keadaan campuran orang percaya dan orang tidak percaya ini, terdapat dalam Mat 22:11-14; 25:1-30; Luk 18:10-14;

BIARKANLAH KEDUANYA TUMBUH BERSAMA.

Nas : Mat 13:30
Mengenai pertumbuhan bersama para pengikut Kristus yang sejati dengan anak-anak si jahat yang menyamar sebagai orang percaya (ayat Mat 13:38; bd. 2Kor 11:13-15), ada tiga hal yang perlu diingat.

1) Sepanjang zaman Injil, kedua kelompok ini akan hidup berdampingan. Allah tidak akan memerintahkan para malaikat-Nya untuk membinasakan anak-anak si jahat ini sebelum akhir zaman (ayat Mat 13:30,38-41).

2) Perumpamaan di atas tidak bertentangan dengan petunjuk-petunjuk lain di Alkitab yang memerintahkan gereja untuk memberlakukan disiplin atas anggota jemaat yang berbuat dosa dan mengucilkan mereka yang tidak mau bertobat dan yang palsu dari persekutuan mereka. Bagaimanapun juga perlu diingat bahwa disiplin gerejani adalah pemecahan terbatas terhadap oknum-oknum yang jahat dalam kerajaan itu. Tuhan dan para malaikat-Nya akan mengadakan pemisahan yang akhir.

3) Orang percaya yang setia harus senantiasa waspada terhadap semua unsur dan oknum subversif yang ditempatkan Iblis di semua bagian dari pekerjaan Tuhan. Dalam banyak hal mereka akan kelihatan seperti anak-anak Allah yang sejati

Gandum dan Lalang

Tumbuhan yang dipakai dalam perumpamaan ini adalah “gandum”, umumnya Triticum aestivum, dan “lalang”, kemungkinan adalah Lolium temulentum. Lalang ini biasanya tumbuh di pertanahan yang sama dengan gandum dan dianggap sebagai rumput liar. Kedua tumbuhan ini sangat mirip sehingga di sejumlah tempat di dunia, lalang ini disebut sebagai “gandum palsu” (bahasa Inggris: “false wheat”; darnel).  Kemiripan kedua tumbuhan ini terutama di awal pertumbuhan dan mulai berbeda ketika bulir-bulir gandum muncul. Batang berbulir pada L. temulentum lebih kurus dari gandum. Warna gandum menjadi kecoklatan ketika ranum, sedangkan lalang menjadi berwarna hitam.

https://id.wikipedia.org/wiki/Perumpamaan_lalang_di_antara_gandum

Catatan Nama Botani (botanical name)

Banyak yang mengira lalang adalah ilalang atau alang-alang. Namun alang-alang tidak berbiji seperti gandum.
Lalang atau dalam bahasa Inggris Tares adalah Lolium temulentum dalam nama botani nya.
Sedangkan nama botani alang-alang adalah Imperata cylindrica, yg bijinya berbulu dan diterbangkan angin

“Menjadi Gandum atau Lalang?”

Intisari Bacaan:

  1. Kebijaksaaan sejati ditemukan dalam pengampunan daripada dalam pembalasan ( Bac I – Kebijaksanaan )
  2. Doa yang mengalir deras keras keluar dari bibir, mungkin malah tidak menampakkan kerinduan hati  yang terdalam akan Allah ( Bac II – Roma )
  3. Ketika kita memberi  label  atau menilai  sesuatu  sebagai “gandum” atau “lalang”, jangan-jangan kita sedang bermain  sebagai Allah. ( Injil – Matius )

Pertanyaan untuk refleksi pribadi:

  1. Bagaimana reaksiku ketika melihat kejahatan di sekitarku? Bagaimana reaksiku ketika menyadari kejahatan dalam diriku sendiri? Reaksiku itu menunjukkan reaksi buruh-buruh pekerja ladang ataukah pemilik yang empunya ladang?
  2. Apakah tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah yang bisa aku lihat di masyarakat sekitarku dan di dalam hidupku?

3.         Gambaran Allah seperti apa yang muncul dalam bacaan Injil hari ini? Apakah gambaran Allah ini cocok dengan gambaran Allah menurutku?

Tuhan Tidak Mau Kita Menjadi Pribadi Yang Biasa-Biasa Saja Dia Mau Kita Menjadi Pribadi Yang Luar Biasa

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH.

Nas : Mat 13:3

Dalam pasal Mat 13:1-58 terdapat perumpamaan-perumpamaan mengenai Kerajaan Sorga, yang mengisahkan akibat pemberitaan Injil dan kondisi rohani yang akan ada di bumi ini di kalangan anggota Kerajaan Sorga yang kelihatan (yaitu gereja-gereja) hingga akhir zaman.

1) Dalam sebagian besar perumpamaan ini, Kristus mengajarkan bahwa di dalam kerajaan-Nya yang kelihatan itu akan ada baik dan jahat sepanjang zaman itu. Di antara orang-orang yang mengaku pengikut-Nya akan ada kompromi dan keduniawian yang membawa kepada kemurtadan, namun akan ada juga ketaatan dan kesetiaan yang menuntun kepada hidup kekal. Pada akhir zaman ini orang fasik akan binasa (ayat Mat 13:41,49); “pada waktu itulah orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka” (ayat Mat 13:43).

2) Kristus menceritakan perumpamaan-perumpamaan ini untuk mengingatkan murid-murid-Nya yang sejati agar jangan terkejut bila melihat kejahatan di dalam lingkungan kerajaan. Ia juga mengajar mereka bagaimana mengalahkan pengaruh dan perlawanan Iblis dan para pengikutnya. Satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan penyerahan sepenuhnya kepada Kristus (ayat Mat 13:44,46) dan mengabdikan hidup kepada kebenaran (ayat Mat 13:43; lihat pasal Wahy 2:1-3:22 mengenai contoh-contoh dari adanya kebaikan dan kejahatan di dalam gereja-gereja Kerajaan itu).3) Perumpamaan merupakan kisah dari kehidupan sehari-hari yang menceritakan dan menggambarkan kebenaran rohani tertentu. Keunikannya ialah bahwa ia menyatakan kebenaran kepada orang yang rohani sedangkan pada saat yang bersamaan menyembunyikan kebenaran itu dari orang yang tidak percaya (ayat Mat 13:11). Perumpamaan kadang-kadang dapat menuntut orang mengambil keputusan (mis. Luk 10:30-37)

Biji Jenmanii

Jenmanii adalah tanaman yang sepintas mirip talas. Para pecinta anturium berani membelinya dengan harga mahal. Biji Jenmanii yang siap disemai, umbi, bunga, dan kecambah hasil semaian bisa dijual ratusan ribu rupiah. Bila sudah besar, harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Jenmanii memang memiliki tekstur dan hijau daun yang indah. Terkesan gagah, anggun, mewah, dan memendarkan keunggulan. Tanaman ini juga memiliki daya hidup yang sangat kuat. Dan inilah rahasianya; biji Jenmanii harus ditaruh di media tanam yang tepat agar dapat tumbuh dengan baik.

Terkadang kita mungkin bertanya-tanya, mengapa tidak semua benih firman yang kita terima membuat kita bertumbuh menjadi orang kristiani yang “unggul dan berkelas” seperti Jenmanii? Padahal kita sudah beribadah di gereja yang baik, mendapat pelayanan terbaik, bahkan mungkin hadir dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani! Namun, rasanya kerohanian kita biasa saja. Mengapa demikian? Kita menemukan jawabannya dalam perumpamaan Yesus tentang seorang penabur. Biji yang ditaburnya tidak akan bertumbuh bila tanah yang menerimanya kering di pinggir jalan (ayat 4,19), berbatu-batu (ayat 5,6,20,21) atau penuh semak berduri (ayat 7,22). Benih itu hanya akan tumbuh pada tanah yang baik (ayat 8,23).

Tuhan ingin kita bertumbuh menjadi pribadi unggul. Mulailah dengan langkah kecil, yakni dengan menerapkan firman yang kita terima tiap-tiap hari. Kita perlu menjaga hati agar selalu siap menerima firman, memahaminya, dan benar-benar melakukannya. Dengan demikian, kita pun sungguh-sungguh berbuah bagi-Nya! -AGS

Ilustrasi:http://alkitab.sabda.org

“Bertumbuh dan Berbuahlah!”

Bahan Refleksi Pribadi

  • Apa yang bisa dikatakan oleh perumpamaan ini tentang Gereja saat ini?
  • Menurutku pribadi, Gereja kita saat ini menjadi tanah seperti apa? Mengapa?
  • Sikap batin seperti apa yang semestinya kita miliki ketika mendengarkan Injil hari ini?
  • Menurut Anda , apakah bahaya yang mengancam pertumbuhan benih Kerajaan Allah pada jaman sekarang ini? Bagaimana sebaiknya kita mensikapinya?

Inspirasi Bacaan:

  • Meskipun lembut halus lunak seperti embun pagi, Sabda Tuhan akan selalu berbuah. ( Yesaya )
  • Hidup Baru dianugerahkan bagi orang orang yang beriman ( Roma )
  • Kita dapat belajar banyak dari petani yang sabar dan percaya, yang mencurahkan daya kekuatan dan harapannya bahwa di setiap musim dia akan mendapat panen. ( Matius )

“SATU ALLAH TIGA PRIBADI”

Bahan Refleksi Pribadi dari Bacaan Injil Hari ini:

  1. Dari teks Injil hari ini, manakah teks yang paling mengesan atau menyentuh hati anda?
  2. Adakah kata yang diulang-ulang dalam teks Injil hari ini? Apa itu?
  3. Bagaimana Injil hari ini mengatakan tentang kasih Allah?
  4. Bagaimana Injil hari ini mengatakan tentang Yesus?
  5. Bagaimana Injil hari ini mengatakan tentang dunia?
  6. Injil hari ini memanggil / mendorong saya untuk melakukan apa?

Inspirasi Bacaan Hari ini:

  1. Karena kita orang berdosa, maka keselamatan kita sungguh tergantung dari belaskasih dan pengampunan Allah. (Bacaan pertama – Keluaran)
  2. Kerukunan jemaat dan masyarakat hanya dimungkinkan kalau Roh Kudus menjiwai  suara dari setiap anggotanya yang beragam. ( Bacaan kedua – Korintus )
  3. Kasih yang besar ditunjukkan dalam kemurahan hati  tanpa pamrih dan pemberian tanpa batas. ( Bacaan Injil – Yohanes )

Katekismus Gereja Katolik

  1. “Kami Percaya akan Satu Allah”
    200 Kredo Nisea-Konstantinopel mulai dengan kata-kata ini. Pengakuan akan keesaan Allah, yang berakar dalam wahyu ilahi Perjanjian Lama, tidak dapat dipisahkan dari pengakuan tentang adanya Allah dan dengan demikian sangat mendasar. Allah adalah Esa; ada hanya satu Allah. “Kepercayaan Kristen memegang teguh dan mengakui … bahwa Allah adalah Esa menurut kodrat, substansi, dan hakikat” (Catech.R. 1,2,2).
    201 Tuhan sebagai Yang Esa mewahyukan Dia kepada Israel, bangsa yang dipilih-Nya: “Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Dengan perantaraan para nabi, Allah mengajak Israel dan semua bangsa supaya berpaling kepada-Nya, Allah yang satu-satunya: “Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi. Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain … semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan” (Yes 45:22-24)1.
    202 Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah “adalah satu-satunya Tuhan” dan bahwa orang harus mencintai-Nya dengan sepenuh hatinya, dengan segenap jiwanya, dengan seluruh akalnya, dan dengan segala kekuatannya. Pada waktu yang sama Ia juga menyatakan bahwa Ia sendiri adalah “Tuhan”. Memang pengakuan bahwa “Yesus itu Tuhan” adalah kekhasan iman Kristen. Namun ia tidak bertentangan dengan iman akan Allah yang Esa. Juga iman akan Roh Kudus “yang adalah Tuhan dan membuat hidup”, tidak membawa perpecahan dalam Allah yang Esa: .
    “Kami percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa ada hanya satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, mahakuasa, dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus: meskipun tiga Pribadi, tetap satu hakikat, substansi atau kodrat yang sama sekali tak tersusun [dari bagian-bagian]” (Konsili Lateran IV: DS 800).
  2. “Demi Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”
    232 Orang Kristen dibaptis atas “nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Sebelumnya mereka menjawab pertanyaan tiga ganda, apakah mereka percaya akan Bapa, Putera, dan Roh Kudus dengan: “Aku percaya”. “Inti iman semua orang Kristen adalah Allah Tritunggal” (Sesarius dari Arles, symb.).
    233 Orang Kristen dibaptis atas “nama” (tunggal) dan bukan atas “nama-nama” (jamak) Bapa, Putera, dan Roh Kudus, karma ada hanya satu Allah, Bapa yang mahakuasa dan Putera-Nya yang tunggal dan Roh Kudus: Tritunggal Mahakudus.
    234 Misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Itulah misteri kehidupan batin ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya. Itulah yang paling mendasar dan hakiki dalam “hierarki kebenaran iman”. (DCG 43). “Seluruh sejarah keselamatan tidak lain dari sejarah jalan dan upaya, yang dengan perantaraannya Allah yang satu dan benar – Bapa, Putera, dan Roh Kudus – mewahyukan Diri, memperdamaikan diri-Nya dengan manusia yang berbalik dari dosa, dan mempersatukan mereka dengan diri Nya” (DCG 47).
    235 Dalam bagian ini dijelaskan secara singkat, bagaimana misteri Tritunggal Mahakudus diwahyukan (II), bagaimana Gereja merumuskan ajaran iman tentang misteri ini (III) dan bagaimana Bapa melalui perutusan ilahi Putera-Nya dan Roh Kudus melaksanakan “keputusan-Nya yang berbelaskasihan” mengenai penciptaan, penebusan, dan pengudusan (IV).
    236 Bapa-bapa Gereja membedakan “teologi” dan “oikonomi”. Dengan istilah pertama mereka menandaskan kehidupan batin Allah Tritunggal; dengan yang kedua semua karya, yang dengannya Allah mewahyukan Diri dan menyampaikan kehidupan-Nya. Melalui “oikonomi” disingkapkan bagi kita “teologi”; tetapi sebaliknya “teologi” menerangi seluruh “oikonomi”. Karya Allah mewahyukan kepada kita kodrat batin-Nya, dan sebaliknya misteri kodrat batin-Nya itu membuat kita mengerti karya-Nya dengan lebih baik. Hubungan antar pribadi manusia mirip dengan itu: manusia menyatakan diri dalam perbuatannya, dan semakin baik kita mengenal seseorang, semakin baik lagi kita mengerti perbuatannya.
    237 Tritunggal adalah misteri iman dalam arti sesungguhnya, satu dari “rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Allah … yang kalau tidak diwahyukan oleh Allah, tidak dapat diketahui” (Konsili Vatikan 1: DS 3015). Dalam karya penciptaan-Nya dan dalam wahyu-Nya selama Perjanjian Lama, Allah memang meninggalkan jejak-jejak kodrat trinitaris-Nya itu. Tetapi kodrat-Nya yang terdalam sebagai Tritunggal Kudus merupakan satu rahasia, yang tidak dapat diterobos budi kita dan yang sebelum inkarnasi Putera Allah dan perutusan Roh Kudus, juga tidak dapat diterobos iman Israel.
    Pembentukan Dogma tentang Trinitas
    249 Kebenaran wahyu mengenai Tritunggal Mahakudus, sejak awal adalah dasar pokok iman Gereja yang hidup, terutama karena Pembaptisan. Ia terungkap dalam syahadat Pembaptisan yang dirumuskan dalam khotbah, katekese, dan doa Gereja. Rumusan-rumusan yang demikian itu sudah ada dalam tulisan-tulisan para Rasul, seperti salam yang diambil alih ke dalam perayaan Ekaristi: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor 13:13)2.
    250 Selama abad-abad pertama Gereja berusaha merumuskan iman Tritunggal dengan lebih rinci, untuk memperdalam pengertian iman dan untuk membelanya melawan ajaran yang menyesatkan. Itulah karya konsili-konsili pertama yang ditopang oleh karya teologis dari para bapa Gereja dan didukung oleh kesadaran iman umat Kristen.
    251 Untuk merumuskan dogma Tritunggal, Gereja harus mengembangkan terminologi yang tepat dengan bantuan istilah-istilah filsafat – “substansi”, “pribadi” atau “hupostasis”, “hubungan”. Dengan demikian ia tidak menaklukkan iman kepada kebijaksanaan manusiawi, tetapi memberi kepada istilah-istilah itu satu arti baru yang belum diketahui sebelumnya, sehingga mereka mampu mengungkapkan misteri yang tak terucapkan itu, yang “jauh melampaui segala sesuatu yang kita mengerti dengan cara manusiawi” (SPF 2).
    252 Gereja mempergunakan gagasan “substansi” (kadang-kadang diterjemahkan juga dengan “hakikat” atau “kodrat”) untuk menyatakan kodrat ilahi dalam kesatuannya; gagasan “pribadi” atau “hupostasis” untuk menyatakan Bapa, Putera, dan Roh Kudus dalam perbedaan-Nya yang real satu dari yang lain; gagasan “hubungan” untuk mengatakan bahwa perbedaannya terletak dalam hubungan timbal balik antara ketiganya.
    Dogma tentang Tritunggal Mahakudus
    253 Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel 1155: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804).
    254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera” (Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.
    255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita” (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan” (K. Firenze 1442: DS 1330). “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera” (ibid., DS 1331).
    256 Santo Gregorius dari Nasiansa, yang dinamakan juga “sang teolog”, menyampaikan rumusan berikut tentang iman Tritunggal kepada para katekumen Konstantinopel:
    “Peliharalah terutama warisan yang baik ini, untuknya aku hidup dan berjuang, dengannya Aku mau mati dan yang menyanggupkan aku memikul segala kemalangan dan menolak segala hiburan: ialah pengakuan iman akan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Aku mempercayakannya hari ini kepada kalian. Di dalam pengakuan itu aku akan mencelupkan kamu pada saat ini ke dalam air dan mengangkat kembali dari dalamnya. Aku memberikan pengakuan itu kepada kalian sebagai pendamping dan pengawal seluruh kehidupan kalian. Aku memberikan kepada kalian ke-Allah-an dan kekuasaan yang satu, yang sebagai satu berada dalam tiga dan mencakup Ketiga itu atas cara yang berbeda-beda. Satu ke-Allahan tanpa ketidaksamaan menurut substansi atau hakikat, tanpa derajat lebih tinggi yang meninggikan atau derajat lebih rendah yang merendahkan … Itulah kesamaan hakikat yang tidak terbatas dari Ketiga yang tidak terbatas. Allah seluruhnya, tiap-tiapnya dilihat dalam diri sendiri … Allah sebagai yang tiga dilihat bersama-sama … Baru saja aku mulai memikirkan kesatuan, muncullah sudah Tritunggal dalam kemegahan-Nya. Baru saja aku mulai memikirkan Tritungggal, langsung saya disilaukan kesatuan” (or. 40, 41).

“Tujuh Karunia Roh: 1.Roh Hikmat, 2.Roh Pengertian, 3.Roh Nasihat, 4.Roh Keperkasaan, 5.Roh Pengenalan akan Allah, 6.Roh Kesalehan, 7.Roh Takut akan Allah.”

Inspirasi Bacaan:

  1. Karena kehadiran Roh Kudus, semua bahasa bisa mengidungkan nyanyian sukacita dan kedamaian.
    ( Bacaan pertama – Kisah Rasul )
  2. Ketika anugrah dari setiap diri kita digunakan untuk melayani sesama, maka kita akan mengalami kharisma; namun ketika anugrah dari setiap diri kita digunakan untuk kepentingan sendiri, maka kita akan mengalami keonaran ( Bacaan kedua – 1 Korintus )
  3. Damai, belaskasih dan pengampunan adalah buah-buah sejati dari kehadiran Roh Kudus ( Injil – Yohanes)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
ARTIKEL 8
“AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS “

687 “Tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor 2:11). Roh yang mewahyukan Allah itu, membuat kita mengenal Kristus, Sabda-Nya yang hidup; tetapi ia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri. la, yang “bersabda melalui para nabi”, membuat kita mendengarkan Sabda Bapa. Tetapi kita tidak mendengarkan Dia sendiri. Kita hanya mendengarkan Dia secara tidak langsung, bila ia mewahyukan Sabda kepada kita dan mempersiapkan kita, menerima-Nya dalam iman. Roh kebenaran, yang “mengungkapkan” Kristus bagi kita, tidak berbicara “dari diri-Nya sendiri” (Yoh 16:13). Sikap rendah hati yang ilahi ini menjelaskan, mengapa “dunia tidak dapat menerima-Nya, karena ia tidak melihat-Nya dan tidak mengenal-Nya”, sedangkan mereka yang percaya kepada Kristus mengenal-Nya, karena Ia menyertai mereka (Yoh 14:17).

688 Sebagai persekutuan iman yang hidup, yang meneruskan iman para Rasul, Gereja adalah tempat kita mengenal Roh Kudus:
– dalam Kitab-Kitab yang diilhami oleh-Nya;
– dalam tradisi, dengan para bapa Gereja sebagai saksi-saksi yang tetap aktual;
– dalam Wewenang Mengajar Gereja, yang Ia dampingi;
– dalam liturgi sakramental: oleh perkataan dan lambang-lambang yang dengannya Roh menghubungkan kita dengan Kristus;
– dalam doa, di mana Ia membela kita;
– dalam karisma dan tugas-tugas pelayanan, yang olehnya Gereja dibangun; – dalam kehidupan apostolik dan misionaris;
– dalam kesaksian para kudus, di mana Ia menyatakan kekudusan-Nya dan melanjutkan karya keselamatan. 

Lambang-lambang Roh Kudus

694 Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh” (1 Kor 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalit, dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi.

695 Urapan. Salah satu lambang Roh Kudus adalah juga urapan dengan minyak, malahan sampai ia menjadi sinonim dengan-Nya. Dalam inisiasi Kristen, urapan adalah tanda sakramental dalam Sakramen Penguatan, yang karenanya dinamakan “Khrismation” dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi untuk mengerti sepenuhnya bobot nilai dari lambang ini, orang harus kembali ke urapan pertama, yang Roh Kudus kerjakan: Urapan Yesus. “Khristos” (terjemahan dari perkataan Ibrani “Messias”) berarti yang “diurapi dengan Roh Allah”. Dalam Perjanjian Lama sudah ada orang yang “diurapi” Tuhan; terutama Daud adalah seorang yang diurapi. Tetapi Yesus secara khusus adalah Dia yang diurapi Allah: kodrat manusiawi yang Putera terima, diurapi sepenuhnya oleh “Roh Kudus”. Oleh Roh Kudus, Yesus menjadi “Kristus”. Perawan Maria mengandung Kristus dengan perantaraan Roh Kudus, yang mengumumkan-Nya melalui malaikat pada kelahiran-Nya sebagai Kristus, dan yang membawa Simeon ke dalam kanisah, supaya ia dapat melihat yang diurapi Tuhan. Ialah yang memenuhi Kristus,b dan kekuatan-Nya keluar dari Kristus, waktu Ia melakukan penyembuhan dan karya-karya keselamatan. Pada akhirnya Ia jualah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam kodrat manusiawi-Nya, yang adalah pemenang atas kematian, setelah sepenuhnya dan seutuhnya menjadi “Kristus”, Yesus memberikan Roh Kudus secara berlimpah ruah, sampai “orang-orang kudus” dalam persatuan-Nya dengan kodrat manusiawi Putera Allah menjadi “manusia sempurna” dan “menampilkan Kristus dalam kepenuhan-Nya” (Ef 4:13): “Kristus paripurna”, seperti yang dikatakan santo Agustinus.

696 Api. Sementara air melambangkan kelahiran dan kesuburan kehidupan yang dianugerahkan dalam Roh Kudus, api melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus. Nabi Elia, yang “tampil bagaikan api dan perkataannya bagaikan obor yang menyala” (Sir 48:1), dengan perantaraan doanya menarik api turun alas kurban di gunung Karmel – lambang api Roh Kudus yang mengubah spa yang Ia sentuh. Yohanes Pembaptis, yang mendahului Tuhan “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) mengumumkan Kristus sebagai Dia, yang “akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16). Mengenai Roh ini Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala” (Luk 12:49). Dalam “lidah-lidah seperti api” Roh Kudus turun alas para Rasul pada pagi hari Pentekosta dan memenuhi mereka (Kis 2:3-4). Dalam tradisi rohani, lambang api ini dikenal sebagai salah satu lambang yang paling berkesan mengenai karya Roh Kudus”. “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19).

697 Awan dan sinar. Kedua lambang ini selalu berkaitan satu sama lain, kalau Roh Kudus menampakkan Diri. Sejak masa teofani Perjanjian Lama, awan – baik yang gelap maupun yang cerah – menyatakan Allah yang hidup dan menyelamatkan, dengan menyelubungi kemuliaan-Nya yang adikodrati. Demikian juga dengan Musa di gunung Sinai”, dalam kemah wahyu” dan selama perjalanan di padang gurun”; pada Salomo waktu pemberkatan kanisah”. Semua gambaran ini telah dipenuhi dalam Roh Kudus oleh Kristus. Roh turun alas Perawan Maria dan “menaunginya”, supaya ia mengandung dan melahirkan Yesus (Luk 1:35). Di alas gunung transfigurasi Ia datang dalam awan, “yang menaungi” Yesus, Musa, Elia, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan “satu suara kedengaran dari dalam awan: Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:34-35). “Awan” yang sama itu akhirnya menyembunyikan Yesus pada hari kenaikan-Nya ke surga dari pandangan para murid (Kis 1:9); pada hari kedatangan-Nya awan itu akan menyatakan Dia sebagai Putera Allah dalam segala kemuliaan-Nya.

698 Meterai adalah sebuah lambang, yang erat berkaitan dengan pengurapan. Kristus telah disahkan oleh “Bapa dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27) dan di dalam Dia, Bapa juga memeteraikan tanda milik-Nya alas kita. Karena gambaran meterai [bahasa Yunani “sphragis”] menandaskan akibat pengurapan Roh Kudus yang tidak terhapuskan dalam penerimaan Sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Tahbisan, maka ia dipakai dalam beberapa tradisi teologis untuk mengungkapkan “karakter”, yang tidak terhapuskan, tanda yang ditanamkan oleh ketiga Sakramen yang tidak dapat diulangi itu.

699 Tangan. Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberkati anak-anak kecil, dengan meletakkan tangan ke alas mereka. Atas nama-Nya para Rasul melakukan yang sama. Melalui peletakkan tangan para Rasul, Roh Kudus diberikan. Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakkan tangan dalam “unsur-unsur pokok” ajarannya. Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.

700 Jari. “Dengan jari Allah” Yesus mengusir setan (Luk 11:20). Sementara perintah Allah ditulis dengan “jari Allah” alas loh-loh batu (Kel 31:18), “surat Kristus” yang ditulis oleh para Rasul, “ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia” (2 Kor 3:3). Madah “Veni, Creator Spiritus” berseru kepada Roh Kudus sebagai “jari tangan kanan Bapa”.

701 Merpati. Pada akhir air bah (yang adalah lambang Pembaptisan), merpati, – yang diterbangkan oleh Nuh dari dalam bahtera, – kembali dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya sebagai tanda bahwa bumi sudah dapat didiami lagi. Waktu Kristus naik dari air Pembaptisan-Nya, Roh Kudus – dalam rupa merpati – turun alas-Nya dan berhenti di alas-Nya. Roh turun ke dalam hati mereka yang sudah dimurnikan oleh Pembaptisan dan tinggal di dalamnya. Di beberapa gereja, Ekaristi suci disimpan dalam satu bejana logam yang berbentuk merpati [columbarium] dan digantung di alas altar. Merpati dalam ikonografi Kristen sejak. dahulu adalah lambang Roh Kudus.