Sabda Hidup: Kamis, 30 Maret 2017

Hari biasa Pekan IV Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan:

Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47.

BcOIbr 9:15-28

Bacaan Injil: Yoh 5:31-47

31 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; 32 ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar.  33 Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; 34 tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. 35 Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. 36 Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. 37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, 38 dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. 39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, 40 namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. 41 Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. 42 Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. 43 Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. 44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? 45 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. 46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. 47 Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

Renungan

ORANG yang tidak percaya memang tidak mudah mengakui apapun yang disampaikan oleh mereka yang tidak dipercaya. Sebaik apapun atau kebenaran yang dia sampaikan pasti akan ditolak. Banyak hal yang bisa meyakinkan pun sering ditolak. Yang jelas adalah tidak percaya pada omongan orang yang tidak dipercaya.

Yesus pun tidak mudah meyakinkan hati para penolaknya. Segala perkataan-Nya bahkan perbuatan baik yang Dia lakukan ditolak. Perbuatan baik pun dicari kesalahannya. Yang jelas adalah apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus harus dicari alasan penolakannya. Mesti ditemukan bantahan. Kalau tidak ditemukan maka pikiran bahwa orang itu tidak benar dikeluarkan.

Rasanya memang berat hidup dalam ketidakpercayaan. Akan sangat sulit melihat kebenaran, kebaikan, perhatian dll. Yang ada hanyalah kurang dan salah. Marilah kita mengurangi beban yang melelahkan tersebut. Kita buka mata hati dan budi kita untuk melihat kebenaran yang sering ditutup oleh mata tak percaya kita.

Kontemplasi

Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan bagaimana Yesus meyakinkan orang-orang yang tak percaya kepadanya.

Refleksi

Tulislah pengalamanmu menabung kepercayaan.

Doa

Tuhan semoga mereka yang tak percaya luruh hatinya karena melihat kasih-Mu yang besar. Semoga mereka bisa melihat kebaikan-kebaikan yang ada. Amin.

Perutusan

Aku akan terus menerus bertahan dalam kebaikan walau tidak dipercaya. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Rabu, 29 Maret 2017 Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Rabu, 29 Maret 2017
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Mereka yang berdoa tidak pernah kehilangan harapan, bahkan ketika mereka menemukan diri mereka dalam keadaan yang sulit dan tak berpengharapan secara manusiawi. (Paus Benediktus XVI)

Antifon Pembuka (Mzm 69(68):14)

Dalam masa rahmat ini, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan. Demi kerelaan-Mu, dengarkanlah aku dan selamatkanlah aku seturut janji-Mu.
 
I pray to you, O Lord, for a time of your favor. In your great mercy, answer me, O God, with your salvation that never fails.
 
Doa Pembuka

Allah Bapa Maharahim, Engkau mengganjar jasa orang saleh dan mengampuni orang berdosa yang bertobat. Kasihanilah kami yang berseru kepada-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (49:8-15)

   

“Aku telah membentuk dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia untuk membangunkan bumi kembali.”
Beginilah firman Tuhan, “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Aku telah membentuk dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi, untuk mengatakan kepada orang-orang yang terkurung ‘Keluarlah!” dan kepada orang-orang yang ada di dalam gelap ‘Tampillah!” Di sepanjang jalan mereka seperti domba yang tidak pernah kekurangan rumput, dan di segala bukit gundul pun tersedia rumput bagi mereka. Mereka tidak menjadi lapar atau haus. Angin panas dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka, dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air. Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada yang dari utara, dari barat dan ada yang dari tanah Sinim, bersorak-soraklah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak sorai, hai gunung-gunung! Sebab Tuhan menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas. Sion berkata, “Tuhan telah meninggalkan aku, dan Tuhanku telah melupakan aku.” Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakan, Aku tidak akan melupakan engkau.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = d, 2/4, PS 814
Ref. Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah.
Ayat. (Mzm 145:8-9.13c-14.17-18)
1. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
2. Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua yang tertunduk.
3. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 11:25)
Akulah kebangkitan dan hidup, sabda Tuhan. Setiap orang yang percaya pada-Ku, akan hidup, sekalipun ia sudah mati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (5:17-30)

   

“Seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati, dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Karena perkataan itu, orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh Yesus, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri, dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak, dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sungguh, saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Dan Bapa telah memberikan kuasa kepada Anak untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kubur akan mendengar suara Anak, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Benarkah orang mati masih akan bisa hidup? Tentu saja hal ini bisa menjadi bahan perdebatan yang seru. Namun kenyataannya orang yang sudah meninggal seterusnya dikubur dan tidak bisa dihubungi lagi dan tetap mati. Sabda Yesus tentu menjadi bahan permenungan bagi para murid, terutama berkaitan dengan arti dan makna kehidupan seperti dimaksudkan oleh Yesus. Dijelaskan bahwa Bapa memiliki hidup di dalam Diri-Nya, yang juga diberikan kepada Yesus sebagai Putra-Nya.

Para murid mendapatkan tantangan untuk berani memilih: percaya kepada Yesus yang adalah Putra Allah dan mampu untuk memberikan hidup bagi mereka yang berbuat baik atau bersikap seperti orang Yahudi lainnya yang merasa Sabda Yesus sebagai Putra Allah sebagai kata-kata hujatan dan terus berusaha untuk membunuh Yesus. Kiranya apa yang disabdakan oleh Yesus, bahwa Ia tidak menuruti kehendak sendiri melainkan melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya menjadi dasar untuk beriman kepada-Nya. Soal hidup dan mati memang hanya Tuhan yang tahu dan Tuhan pula yang menentukan. Juga soal hidup sesudah kematian, atau kebangkitan orang mati tetap menjadi misteri dan rahasia yang tak bisa diungkapkan dengan pengalaman dan pikiran manusia. Soal kebangkitan orang mati hanya bisa diterima dalam dan oleh iman. Di dalam iman akan Yesus yang dibangkitkan dari kematian oleh Allah menjadi dasar untuk beriman kepada Yesus. Oleh iman akan Yesus itu manusia diikutsertakan dalam wafat dan kebangkitan-Nya.   (AMS/Renungan Harian Mutiara Iman 2017)

Antifon Komuni (Yoh 3:17)

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

God did not send his Son into the world to judge the world, but that the world might be saved through him.

Doa Malam

Allah Bapa Maha Penyayang, semoga hati kami selalu terbuka untuk menerima Sabda Putra-Mu terkasih, Sabda kebenaran, pengampunan dan kedamaian. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Sumber : www.renunganpagi.blogspot.co.id

Sabda Hidup: Senin, 27 Maret 2017

Hari biasa Pekan IV Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54. BcOIbr 7:11-28
Bacaan Injil: Yoh. 4:43-54

43 Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, 44 sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. 45 Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. 46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” 50 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Renungan

SUATU kali seorang bapak bertemu dengan seorang pastor. Ia belum mengenal kalau yang ditemuinya itu seorang pastor. Ia berdiskusi panjang lebar. Ia sangat percaya dengan orang itu. Setelah beberapa bulan ia baru tahu kalau berdiskusi dengan pastor. Ia pun, bersama keluarganya, memberikan diri dibaptis.

Pegawai istana pergi kala Yesus mengatakan, “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50). Ia percaya akan kata-kata Yesus bahwa anaknya hidup. Kepercayaan ini meningkat kala didapati bahwa anaknya bener-bener hidup. Ia dan seluruh keluarganya menjadi percaya kepada Yesus.

Kepercayaan memang membutuhkan proses. Namun juga kepercayaan itu menghadirkan mukjijat. Dalam banyak hal kita sering ragu sehingga tidak segera melakukan atau bahkan menemukan yang kita inginkan. Mari kita buang keraguan dan bangun kepercayaan untuk meraih yang kita harapkan.

Kontemplasi

Pejamkan matamu. Ingat-ingatlah bangunan kepercayaan ketika kamu mengejar sesuatu.

Refleksi

Bagaimana menjaga keutuhan kepercayaan?

Doa

Tuhan seringkali kepercayaanku tidak stabil. Berkatilah aku supaya aku mampu menjaga konsistensi dan keutuhan kepercayaanku. Amin.

Perutusan

Aku akan menjaga konsistensi dan keutuhan kepercayaanku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Jumat, 24 Maret 2017

Hari biasa Pekan III Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34. BcOIbr 5:11-6:8
Bacaan Injil: Mrk. 12:28b-34

28b Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” 29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” 34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

MENCINTAI Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri menjadi hukum utama kehidupan (Mrk 12:30-31). Kiranya ini menjadi hukum bagi semua umat manusia. Ketika hukum itu dijalankan dengan sungguh-sungguh maka kedamaian di bumi pun akan terwujud.

Namun ternyata hukum yang mudah itu sering menjadi tidak mudah. Manusia seringkali tergoda untuk menuhankan dirinya sendiri sehingga ia lupa mengasihi Tuhannya dan merasa berkuasa atas yang lain. Ia pun jadi mengabaikan martabat sesamanya, apalagi yang tidak sealiran dengan dirinya.

Memang mempersulit yang mudah seringkali merusak keteraturan yang ada. Hidup menjadi sulit bahkan sering terasa tidak tenteram. Marilah kita kembalikan hal yang mudah menjadi mudah. Kita cintai Tuhan dan sesama kita.

Kontemplasi

Bayangkan hal-hal yang mendukung terselenggaranya hukum utama.

Refleksi

Tulislah rencanamu untuk menjalankan hukum utama Tuhan.

Doa

Tuhan Engkau telah mencintaiku. Semoga aku pun semakin mencintai-Mu dan sesamaku. Amin.

Perutusan

Aku akan mencintai Tuhan dan sesamaku. -nasp-

Sumber : www.sesawi,net

Sabda Hidup: Kamis, 23 Maret 2017

Hari biasa Pekan III Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yer. 7:23-28; Mzm. 95:1-2,6-7.8-9; Luk. 11:14-23. BcOIbr 4:14-5:10

Bacaan Injil: Luk. 11:14-23

14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. 15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” 16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. 17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. 18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. 19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. 20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. 21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. 22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. 23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” 24

Renungan

ORANG yang tidak suka akan cenderung mencari kesalahan mereka yang tidak disukai.  Sebaik apapun yang dilakukan pasti dicacat dan dikritik. Dia akan mengunggulkan miliknya walau belum terbukti kehebatannya. Pokoknya milik lawannya itu jelek dan berasal dari yang jahat dan miliknya adalah baik.

Yesus menyembuhkan orang dari kerasukan setan. Orang-orang pun kagum. Namun sebagian orang yang tidak suka menyebut itu karena kuasa Beelsebul, penghulu setan. Mereka mencap jahat perbuatan baik Yesus.

Menghargai kebaikan sesama kok rasanya makin hari makin membutuhkan rahmat ya, apalagi kalau itu kebaikan lawan. Padahal semestinya penghargaan itu gampang mengalir dalam hidup manusia. Marilah kita kembalikan hakekat tersebut. Kita gampang mengakui kebaikan sesama, bahkan lawan, sebagai kebaikan.

Kontemplasi

Pejamkan matamu. Bayangkan kebaikan dari orang yang tidak kausuka.

Refleksi

Bagaimana mengakui kebaikan sesama dan lawan kita?

Doa

Tuhan berkatilah sesama juga lawanku yang berbuat kebaikan. Semoga aku pun mengakui kebaikan sebagai kebaikan.

Perutusan

Aku akan menerima kebaikan sebagai kebaikan walau siapapun yang mengeluarkan dan mewujudkan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Selasa, 21 Maret 2017

Perpindahan Relikui St. Benediktus

warna liturgi Ungu

Bacaan

Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; Mat. 18:21-35. BcOIbr 3:1-19
Bacaan Injil: Mat. 18:21-35.

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” 22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Renungan

MENGAMPUNI menjadi salah satu ajaran utama dalam dunia para pengikut Kristus. Yesus selalu meminta kita untuk mengampuni. Berkali-kali Ia mengatakan itu. Mengampuni, mengampuni dan mengampuni. “Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).

Tuhan kita pun datang ke dunia untuk mengampuni manusia yang berdosa. Ia hadir untuk membawa kesembuhan kepada yang sakit. Membebaskan mereka yang terbelenggu dosa. Membebaskan mereka yang dikuasai oleh yang jahat. Pengampunan menjadi kunci kehafiran-Nya.

Kita para murid-Nya diundang untuk juga berbagi pengampunan. Kita dipanggil untuk gampang mengampuni. Mungkin bagi orang tertentu bosen mendengar itu. Tapi gapapa, saya sampaikan sekali lagi: mari kita mudah mengampuni.

Kontemplasi

Dengarkan dan resapkan sungguh-sungguh Injil Mat 18:21-35.

Refleksi

Tulislah bagaimana jiwa pengampunanmu.

Doa

Tuhan kuatkan hatiku. Jadikanlah aku pemurah dalam mengampuni. Amin.

Perutusan

Aku akan mengampuni yang bersalah kepadaku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Senin, 20 Maret 2017

HARI RAYA St. YUSUF, suami Santa Perawan Maria

warna liturgi Putih

Bacaan

2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 4:13,16-18,22; Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a. BcOIbr 11:1-16
Bacaan Injil: Mat. 1:16,18-21,24a

16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. 18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” 24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

Renungan

SUARA hati yang terolah akan gampang menangkap kehendak baik. Walau ada dorongan untuk berbuat tidak baik namun ia tetap akan bergerak kepada kebaikan. Suara hati menuntun langkah kakinya ke sana.

Yusuf adalah pribadi yang mengolah suara hatinya. Ada dorongan dalam dirinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam karena Maria tunangannya mengandung dari Roh Kudus. Namun malaikat datang kepadanya dan mengingatkannya untuk tetap mengambil Maria sebagai isterinya. Yusuf pun mengikuti suara itu.

Maka marilah kita selalu mengasah suara hati kita agar kita makin peka menangkap kehendak-Nya. Ketajaman suara hati kita juga menghindarkan kita dalam tindakan kejahatan. Teruslah mengasah suara hati. Tanpa diasah suara hati pun bisa tumpul.

Kontemplasi

Bayangkan kisah Yusuf dalam Injil Mat 1:16.18-21.24a.

Refleksi

Apa yang perlu kita lakukan untuk mempertajam suara hati kita?

Doa

Tuhan semoga aku mempunyai suara hati yang peka menangkap kehendak-Mu. Amin.

Perutusan

Aku akan mengasah ketajaman suara hatiku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Minggu, 19 Maret 2017

HARI MINGGU PRAPASKAH III

warna liturgi Ungu

Bacaan

Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42BcOIbr 1:1-2:4
Bacaan Injil: Yoh. 4:5-42

5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” 13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” 16 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.”  17 Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” 21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” 26 Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” 27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: “Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?” 28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 29 “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” 30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.” 32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” 33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?” 34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.” 39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” 40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Renungan

PERJUMPAAN dengan seseorang sering membuat kita sulit untuk tidak jujur. Perkataannya seakan membuka mulut kita untuk mengungkapkan segala sesuatu yang kita simpan. Kita bisa begitu percaya kepada orang tersebut.

Perempuan di Samaria berjumpa dengan Yesus. Setelah bercakap-cakap dengan-Nya ia tidak bisa menyembunyikan yang dialaminya. Ia buka semuanya di hadapan Yesus dan ia pun percaya pada Yesus. Bahkan perempuan itu membagikan kepercayaannya kepada orang-orang di daerah asalnya.

Mungkin kita pun akan atau sudah menemukan orang-orang yang kita percaya. Pada mereka kita bisa leluasa berbicara apapun. Rasanya tidak perlu ada yang kita tutupi kala bersama dengan mereka. Berjumpa dengan yang kita percaya akan meringankan beban yang selama ini kita tanggung sendiri. Namun demikian kita juga mesti bijaksana supaya tidak menjadi beban pada mereka yang kita percaya.

Kontemplasi

Pejamkan matamu sejenak. Temui mereka yang kaupercaya. Ucapkan terima kasih kepadanya.

Refleksi

Bagaimana menemukan orang yang layak kita percaya?

Doa

Tuhan terima kasih atas utusan-Mu untuk menemani perjalanan hidupku. Berkatilah mereka. Amin.

Perutusan

Aku bersyukur karena menerima utusan dari Tuhan untuk menemani hidupku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Yesus, Engkaulah Air Hidup Sejati!

Inspirasi Bacaan:

  1. Ketika haus dan lapar kita mudah untuk mengeluh. Kapankah dahaga dan kelaparan kita bisa dipuaskan? Apakah Mungkin? ( Keluaran )

2.Sukacita hidup setiap orang Kristen karena telah ditebus oleh cinta kasih Yesus, seharusnya terpancar dalam hidup kita sehari-hari ( Roma )

  1. Yesus Kristus adalah Sumber Air Hidup. Adakah Iman dan harapan anda  menemukan pemenuhannya dalam diri-Nya ( Yohanes )

Ilustrasi:http://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=yohanes%204:4-12

Tahun 1981, Pastry Shoppe milik Ida di Jenison, Michigan, mengiklankan penawaran khusus:

“Belilah cangkir kopi kami dengan harga Rp47.900,00 dan nikmatilah kopi enak hanya dengan harga Rp1.000,00 tiap kali datang.”

Akan tetapi, sang pemilik tidak pernah menyangka bahwa hingga 25 tahun kemudian, masih ada empat pelanggan lama yang terus membeli kopi setiap hari seharga Rp1.000,00.

Saat ini barangkali Anda tidak akan menemukan hal semacam itu lagi. Akan tetapi, Yesus menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar kepada wanita yang ada di dekat sumur (Yohanes 4:10). Dia berkata, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi … air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (ayat 13,14).

Wanita yang berada di dekat sumur itu siap untuk mendengarkan Yesus. Tidak satu pun hubungan pribadinya dengan beberapa lelaki selama ini mampu mengisi kehampaannya. Kemudian, Yesus datang dan menawarkan “air” yang menyejukkan kehidupannya yang kering, bahkan memberinya sesuatu yang lebih baik, yakni janji akan kehidupan kekal.

Janji itu juga ditujukan kepada kita. Yesus berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yohanes 10:10).

Anugerah dan kasih Allah tidak akan pernah ada habisnya. Minumlah air yang diberikan-Nya, maka Anda tidak akan haus lagi -CHK

HANYA YESUS, SANG AIR HIDUP,
YANG DAPAT MEMUASKAN JIWA YANG DAHAGA

Sabda Hidup: Jumat, 17 Maret 2017

Hari biasa Pekan II Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46. BcOUl 31:1-15,23
Bacaan Injil: Mat. 21:33-43,45-46

33 “Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. 34  Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. 35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. 36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. 37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. 39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. 40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” 41 Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” 42 Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. 43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. 45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. 46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

Renungan

KETIKA nafsu serakah telah merasuki diri seseorang maka ia sulit melihat kebaikan yang diterimanya. Yang ada padanya hanyalah kekurangan dan keinginan untuk menguasai. Ia tidak merasa cukup dengan apa yang diperoleh. Ia ingin menguasai lebih dan lebih, kalau perlu merebut yang bukan menjadi haknya dan menyingkirkan mereka yang berhak.

Para penggarap melihat kebun yang mereka garap bernilai lebih daripada bagi hasil yang akan diterima. Mereka tergiur untuk menguasainya. Maka utusan bahkan putra pemilik kebun pun mereka singkirkan demi menguasai kebun tersebut.

Dalam hidup ini sering ada godaan untuk merasa tidak cukup, kurang. Hal itu mendorong nafsu kita untuk mendapatkan lebih dan lebih. Kita mesti berhati-hati dengan hal tersebut karena bisa menjebak diri kita. Kita mesti berani mengatakan cukup dan menahan diri masuk dalam perangkap nafsu rasa tidak cukup. Apa yang diberikan Tuhan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita.

Kontemplasi

Pejamkan sejenak matamu. Bayangkan rejeki yang kaumiliki. Tatalah itu. Cukupkan untuk hidupmu.

Refleksi

Bagaimana menata rejeki kita agar cukup bagi hidup kita?

Doa

Tuhan jagailah aku supaya tidak dikuasai oleh nafsu yang tidak pernah puas. Amin.

Perutusan

Aku akan mencukupkan diri dengan rejeki yang kumiliki. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net