SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Nabi Barukh menubuatkan pemulihan dan penyelamatan umat Israel berkat kasih setia Allah kepada mereka. (Bacaan I – Barukh)
  2. Paulus memuji kesetiaan dan keteguhan iman jemaat Filipi dan mendoakan mereka agar senantiasa setia dan menghasilkan buah-buah rohani yang melimpah. (Bacaan II – Filipi)
  3. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan agar umat Israel diampuni oleh Allah dan diselamatkan. (Bacaan Injil – Lukas)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya bertobat?
  3. Apakah aku terbuka menerima ajakan pertobatan dari Tuhan melalui orang-orang di sekitarku?
  4. Apa bentuk pertobatanku di masa Adven ini?

Katekismus Gereja Katolik:

1450 “Pertobatan mendorong pendosa untuk menerima segala sesuatu dengan rela hati: di dalam hatinya ada penyesalan, di mulutnya ada pengakuan, dalam tindakannya ada kerendahan hati yang mendalam atau penitensi yang menghasilkan buah” (Catech. R. 2,5,21. Bdk. Konsili Trente: DS 1673).

1451 Di antara kegiatan peniten, penyesalan mendapat tempat utama. Ia adalah “kesedihan jiwa dan kejijikan terhadap dosa yang telah dilakukan, dihubungkan dengan niat, mulai sekarang tidak berdosa lagi” (Konsili Trente: DS 1676).

1452 Kalau penyesalan itu berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu, ia dinamakan “sempurna” atau “sesal karena cinta” [contritio]. Penyesalan yang demikian itu mengampuni dosa ringan; ia juga mendapat pengampunan dosa berat, apabila ia dihubungkan dengan niat yang teguh, secepat mungkin melakukan pengakuan sakramental (Bdk. Konsili Trente: DS 1677).

1453 Yang dinamakan “penyesalan tidak sempurna” [attritio] juga merupakan anugerah Allah, satu dorongan Roh Kudus. Ia tumbuh dari renungan mengenai kejijikan dosa atau dari rasa takut akan hukuman abadi atau siksa-siksa lain, yang mengancam pendosa [penyesalan karena takut]. Keguncangan hati nurani yang demikian itu dapat membuka pengembangan batin, yang diselesaikan di bawah karya rahmat oleh pengampunan sakramental. Penyesalan tidak sempurna sendiri belum menerima pengampunan dosa berat; tetapi ia menciptakan kondisi, agar menerimanya dalam Sakramen Pengakuan (Bdk. Konsili Trente: DS 1678; 1705).

1454 Sangat dianjurkan agar orang mempersiapkan diri untuk penerimaan Sakramen Pengampunan, melalui pemeriksaan batin dalam terang Sabda Allah. Teks-teks yang paling cocok untuk itu terdapat di dalam nasihat-nasihat moral dari Injil-Injil dan surat-surat para Rasul: dalam khotbah di bukit dan nasihat para Rasul, misalnya Rm 12-15; 1 Kor 12-13; Gal 5; Ef 4-6.

PENYELAMATAN KITA SUDAH DEKAT

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Yeremia menubuatkan Allah akan menepati janji keselamatan-Nya, sehingga semua orang akan mengalami keadilan dan kebenaran. (Bacaan I – Yeremia)
  2. Paulus menasihati jemaat di Tesalonika agar lebih bersungguh-sungguh dalam mengusahakan hidup kudus dan berkenan kepada Allah. (Bacaan II – 1 Tesalonika)
  3. Yesus Kristus menghendaki para murid-Nya untuk senantiasa berjaga sambil berdoa agar layak

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Mengapa aku harus selalu siap-siaga menyambut kehadiran Tuhan?
  3. Apa artinya hidup berkenan kepada Tuhan?
  4. Apa bentuk persiapan (pertobatan) yang akan aku laksanakan di masa Adven, menyambut datangnya Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik:

522 Kedatangan Putera Allah ke dunia adalah satu kejadian yang sekian dahsyat, sehingga Allah hendak mempersiapkannya selama berabad abad. Semua ritus dan kurban, bentuk dan lambang “perjanjian pertama” (Ibr 9:15) diarahkan-Nya kepada Yesus; Ia memberitahukan kedatangan-Nya melalui mulut para nabi, yang susul-menyusul di Israel. Sementara itu Ia menggerakkan dalam hati kaum kafir satu pengertian yang samar-samar mengenai kedatangan ini.

523 Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung; ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi. Ia adalah yang terakhir dari mereka dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan. Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya.

524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “la harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

MENGASIHI TUHAN DENGAN MENGASIHI SESAMA

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Musa memerintahkan umat Israel untuk selalu membangun sikap takut akan Allah dan berpegang pada perintah-Nya demi keselematan mereka. (Bacaan I-Ulangan)
  2. Yesus Kristus adalah satu-satunya Imam Agung yang membuahkan persekutuan sejati manusia dengan Allah. (Bacaan II – Ibrani)
  3. Yesus menegaskan dua hukum yang utama bagi manusia: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa wujud kasihku kepada Tuhan dan kepada sesama?
  3. Bagaimana sikapku ketika berjumpa dengan orang yang tampak/mengaku rajin berdoa tetapi tidak mengasihi sesamanya?
  4. Apa tantangan/kesulitan yang aku hadapi saat berusaha mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama? Bagaimana aku mengatasinya?

 

Katekismus Gereja Katolik

2067 Kesepuluh Perintah Allah (dekalog: “sepuluh firman”) menyatakan kasih kepada Allah dan sesama. Tiga perintah yang pertama terutama berhubungan dengan kasih kepada Allah, tujuh yang lain berhubungan dengan kasih kepada sesama. “Seperti kasih mencakup dua perintah dan pada keduanya itu Tuhan menggantungkan seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi … demikianlah kesepuluh perintah dibagi atas dua loh batu. Tiga ditulis pada batu yang satu dan tujuh pada batu yang lain” (Agustinus, serm. 33,2,2).

2068 Konsili Trente mengajarkan bahwa kesepuluh perintah adalah wajib bagi orang Kristen dan bahwa manusia yang telah dibenarkan juga harus mengikutinya (DS 1569-1570). Konsili Vatikan II menegaskan: “Para Uskup sebagai pengganti para Rasul menerima pengutusan untuk mengajar semua bangsa dan mewartakan Injil kepada segenap makhluk, supaya semua orang, karena iman, baptis, dan pelaksanaan perintah-perintah memperoleh keselamatan” (LG 24).

2069 Dekalog merupakan satu keseluruhan yang tidak dapat dibagi. Tiap “firman”nya menunjuk kepada yang lain dan kepada seluruhnya: mereka bergantung satu sama lain. Kedua loh batu saling menerangkan; mereka membentuk satu kesatuan. Siapa melanggar satu perintah, melanggar seluruh hukum (Yak 2:10-11). Orang tidak dapat menghormati sesama, tanpa memuji Allah, Penciptanya. Orang tidak dapat menyembah Allah, tanpa mengasihi manusia, yang adalah makhlukNya. Dekalog mempersatukan kehidupan rohani dan kehidupan sosial manusia.

MELIHAT DENGAN MATA IMAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Yeremia menyerukan warta sukacita: Allah telah menyelamatkan dan memulihkan nasib Israel. (Bacaan I-Yeremia)
  2. Yesus Kristus adalah Imam Agung yang diangkat oleh Allah Bapa untuk mendamaikan manusia dengan Allah. (Bacaan II – Ibrani)
  3. Melalui kisah penyembuhan Bartimeus, Yesus menggenapi nubuat keselamatan yang dijanjikan oleh Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku pernah mengalami “kebutaan” dalam hidupku, saat segala sesuatu tampak gelap dan tidak jelas? Kapan?
  3. Bagaimana sikapku di dalam pengalaman macam itu?
  4. Apa usahaku agar selalu mampu melihat karya Allah dalam hidupku?

Katekismus Gereja Katolik:

2087 Kehidupan kesusilaan kita berakar dalam iman kepada Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada kita. St. Paulus berbicara tentang “ketaatan iman” (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Dalam kenyataan ia melihat bahwa tidak mengenal Allah adalah alasan dan penjelasan untuk segala kesalahan susila Bdk. Rm 1:18-32. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia.

2088 Perintah pertama: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan berbakti kepada-Nya” menuntut dari kita supaya memupuk iman kita, merawatnya dengan hati-hati dan berjaga-jaga serta menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Orang dapat berdosa melawan iman dengan berbagai cara: Keragu-raguan iman yang disengaja berarti kurang bergairah atau malahan menolak untuk menerima sebagai benar, apa yang Allah wahyukan dan apa yang Gereja sampaikan untuk dipercaya. Keragu-raguan yang tidak disengaja mencakup kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terhadap iman, atau juga rasa takut yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau keragu-raguan itu dipelihara dengan sengaja, ia akan membawa menuju kebutaan rohani.

2089 Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. “Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya” (KHK, kan. 751).

MENJADI PELAYAN YANG BERBELAS KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini:

1.   Yesaya menubuatkan tentang keselamatan Allah yang terlaksana melalui Hamba-Nya yang menderita, yaitu Yesus Kristus. (Bacaan I-Yesaya)

2.   Yesus Kristus adalah Imam Agung yang menjadi perantara pendamaian Allah dengan manusia berkat kerelaanNya menanggung dosa manusia. (Bacaan II – Ibrani)

3.   Terhadap permohonan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di sisi-Nya, Yesus menyatakan baha kemuliaan hanya diperoleh melalui pelayanan dan derita salib (Bacaan Injil – Markus)

 Bahan Refleksi Pribadi:

1.   Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?

2.   Apa arti “pelayanan” bagiku?

3.   Apakah aku telah melaksanakan “misi” Yesus untuk melayani? Apa wujudnya?

4.   Apa kesulitan yang aku hadapi saat (hendak) melayani?

5.   Apa usahaku untuk semakin mampu melayani Tuhan dan sesama?

Katekismus Gereja Katolik:

849 “Kepada para bangsa Gereja diutus oleh Allah untuk menjadi `Sakramen universal keselamatan. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki sifat katoliknya, menaati perintah Pendirinya, Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang” (AG 1): “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20).

 850 Tugas yang diserahkan Tuhan kepada Gereja mempunyai asalnya dalam cinta abadi Tritunggal Mahakudus: “Pada hakikatnya Gereja penziarah bersifat misioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (AG 2). Tujuan terakhir misi ialah menyanggupkan manusia-manusia mengambil bagian dalam persekutuan, yang ada antara Bapa dan Putera dalam Roh cinta kasih.

 851 Alasan untuk misi ialah cinta kasih Allah kepada semua manusia. Darinya Gereja sejak dahulu telah menimba kewajiban dan kekuatan semangat misinya, karena “cinta kasih Kristus menguasai kami…” (2 Kor 5:14)2. Allah menghendaki “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4). Allah menghendaki supaya semua orang sampai kepada keselamatan melalui pengetahuan akan kebenaran. Keselamatan terdapat dalam kebenaran. Barang siapa taat kepada dorongan roh kebenaran, ia sudah berada di jalan menuju keselamatan: tetapi Gereja, kepada siapa dipercayakan kebenaran ini, harus memperhatikan kerinduan manusia dan membawakan kebenaran itu kepadanya. Oleh karena Gereja percaya kepada keputusan keselamatan yang mencakup semua manusia, maka ia harus bersifat misioner.

TERBUKA PADA SEMUA ORANG YANG BERKEHENDAK BAIK

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Yosua meminta Musa untuk melarang dua orang tua yang menerima Roh Allah, tetapi Musa justru mengharapkan semakin banyak orang menerima Roh Allah dan menjadi nabi. (Bacaan I – Bilangan)
  2. Rasul Yakobus menegur orang-orang kaya yang tidak berbelas kasih kepada sesama dan mengajak mereka untuk bertobat. (Bacaan II – Yakobus)
  3. Yesus mengajak para murid untuk terbuka dan bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya ada kebaikan dalam diri orang/kelompok lain di sekitarku?
  3. Apakah aku aku pernah bekerjasama dengan orang dari agama, budaya, latarbelakang ekonomi-sosial-politik yang berbeda?
  4. Apa yang aku alami dan rasakan dari pengalaman itu?
  5. Apa usahaku untuk semakin mampu membangun keterbukaan dan kerjasama dengan orang lain demi kebaikan hidup bersama?

Katekismus Gereja Katolik:

2846 Di dalam doa Bapa Kami, kita memohon Bapa kita, supaya jangan “masukkan” kita ke dalam percobaan. Tidaklah mudah untuk mengungkapkan dalam satu kata ungkapan Yunani yang kira-kira berarti “janganlah membiarkan kami masuk ke dalam percobaan” (Mat 26:41). atau “janganlah kami dikalahkan olehnya”. “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun” (Yak 1:13); Ia malahan lebih banyak hendak membebaskan kita darinya. Kita mohon kepada-Nya, supaya jangan membiarkan kita berjalan di jalan yang menuju dosa. Kita berada dalam perjuangan “antara daging dan roh”. Demikianlah permohonan Bapa Kami ini memohon roh pembedaan dan kekuatan.

2847 Roh Kudus menyanggupkan kita membeda-bedakan antara percobaan, yang memang perlu sebagai “masa percobaan” penuh harapan (Rm 5:3-5) demi pertumbuhan manusia batin (Luk 8:13-15; Kis 14:22; 2 Tim 3:12), dan godaan yang membawa dosa dan kematian (Yak 1:14-15). Kita juga harus membeda-bedakan antara “digoda” dan “menyetujui godaan”. Selanjutnya anugerah pembedaan membuka kedok penipuan godaan: kelihatannya benda itu indah, menarik, dan “sedap” (Kej 3:6), tetapi pada hakikatnya ia menggiring menuju kematian.

2848 Supaya dapat melawan godaan, dibutuhkan satu keputusan hati. “Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu… Tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat 6:21.24). “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25). Dalam “persetujuan” ini kepada Roh Kudus, Bapa memberi kita kekuatan. “Percobaan yang kamu alami adalah percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

Sharing Iman: www.sabda.org

Pada tahun 2006, ketika mempromosikan film Rocky Balboa, Sylvester Stallone mengejutkan orang-orang kristiani dengan apa yang diungkapkannya. Ia mengatakan bahwa imannya kepada Yesus Kristus tidak hanya mempengaruhi penulisan film Rocky-nya yang pertama, tetapi bahwa keputusannya untuk menciptakan film yang terakhir diilhami oleh masuknya ia kembali ke dalam kekristenan. Sebagai bagian dari perubahan itu, Stallone menyadari bahwa dulu pilihan buruk telah menuntun hidupnya, yaitu percaya pada kemampuan diri sendiri. Ia berkata, “Kita memerlukan keahlian dan bimbingan orang lain.” Stallone belajar suatu hal yang mulai diakui oleh banyak orang: kita semua membutuhkan Allah dan orang-orang lain.

Sikap saling menolong dapat menguatkan kita, tetapi individualisme dan percaya pada kemampuan diri sendiri itu berbahaya serta melemahkan. Allah menciptakan kita untuk hadir satu sama lain. Marilah dengan penuh gairah kita bergantung kepada kuasa-Nya dan menerima bantuan orang-orang lain.

MENJADI MURID YANG RENDAH HATI

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Orang-orang fasik bersepakat untuk mencelakakan orang yang baik karena menjadi gangguan bagi mereka, tetapi Allah akan menyelamatkannya. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. Kejahatan dan kekacauan muncul akibat hawa nafsu, iri hati, dan sikap mementingkan diri sendiri. (Bacaan II – Yakobus)
  3. Menjadi murid Yesus berarti menjadi pelayan bagi sesama dan tidak mencari kemegahan diri. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa arti “rendah hati”?
  3. Apa kaitan antara kerendahan hati, pengendalian diri, dan pelayanan?
  4. Apakah aku memiliki kerendahan hati, pengendalian diri, dan sikap melayani? APa tanda/buktinya?
  5. Apa usahaku untuk meningkatkan kerendahan hati, pengendalian diri, dan sikap melayani?

Katekismus Gereja Katolik:

897 “Yang dimaksudkan dengan awam adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Kaum beriman kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan dunia” (LG 31). 873

898 “Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam waiib mencari Kerajaan Allah, dengan mengurus hal-hal yang fana dan mengatumya seturut kehendak Allah. Tugas mereka yang istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal fana, yang erat-erat melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus” (LG 31). 2105

899 Prakarsa para awam Kristen sangat dibutuhkan dalam usaha mencari sarana dan jalan, untuk meresapi keadaan-keadaan kemasyarakatan, politik, dan sosial ekonomi dengan tuntutan iman dan kehidupan Kristen. Tentu usaha ini termasuk kehidupan Gereja: “Umat beriman atau lebih tepat lagi kaum awam, berdiri di garis terdepan kehidupan Gereja; melalui mereka Gereja adalah unsur kehidupan bagi masyarakat manusiawi. Oleh karena itu mereka, dan justru mereka, harus memiliki suatu keyakinan yang makin dalam, bahwa mereka tidak hanya termasuk dalam Gereja, tetapi merupakan Gereja, artinya, persekutuan kaum beriman di dunia di bawah bimbingan Paus sebagai kepala dan para Uskup yang bersatu dengan dia. Mereka adalah Gereja (Pius XII, Wejangan 20 Pebruari 1946, dikutip dalam CL 9).

Sharing Iman:
www.sabda.org

Masyarakat kita menaikkan posisi orang-orang tertentu ke dalam kategori “bintang” karena kemampuan yang mereka miliki di bidang olahraga, musik, akting, atau bakat lainnya. Para bintang yang paling dihargai dan dicintai adalah mereka yang menerima popularitas dengan sikap ramah dan selalu rendah hati dengan kebesaran yang mereka. Mereka adalah para bintang yang rendah hati.

Para pengikut Kristus juga harus menjadi bintang dengan cara lain. Yesus berkata bahwa Dialah ” terang dunia” (Yoh 8:12). Kita juga dapat bersinar sebagai “terang dunia” dengan menjadi “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela” (Flp 2:15). Itulah cara supaya kita dapat menerangi kegelapan di dunia sekeliling kita yang penuh dosa.

Kita juga dapat melihat Yesus sebagai sumber teladan tentang kerendahan hati. Meskipun Dia memiliki segala hak untuk mempertahankan tempat-Nya yang tinggi di surga bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia “telah mengosongkan diri-Nya sendiri,” (Flp 2:7). Dia tidak hanya menjadi manusia, tetapi bahkan seorang hamba. Begitu rendahnya kedudukan Pencipta surga dan bumi!

Yesus meneladankan sikap pelayanan yang sejati bagi kita, meskipun demikian Dia adalah Bintang paling terang di seluruh jagad. Saat kita menjadi semakin serupa dengan Dia, kita akan menjadi bintang-bintang yang terang dan bersinar. Orang-orang akan dibawa kepada Kristus melalui pelayanan kita yang rendah hati.

MENJADI PELAKSANA SABDA

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Musa menasihati bangsa Israel agar tetap setia pada perintah Allah, sebag perintah Allah diberikan demi keselamatan mereka. (Bacaan I – Ulangan)
  2. Ajakan untuk tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi menjadi pelaku sabda melalui perbuatan baik kepada sesama. (Bacaan II – Yakobus)
  3. Yesus mengajarkan tentang kemurnian hati. Kenajisan tidak berasal dari luar diri, melainkan dari hal-hal jahat yang ada di dalam hati seseorang. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku memiliki kebiasaan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan?
  3. Apakah aku memiliki ayat emas/nas/rhema dari Kitab Suci? Apa?
  4. Apa buah yang aku peroleh dari membaca dan merenungkan Sabda Tuhan?
  5. Apa usahaku untuk mewujud-nyatakan Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari?

Katekismus Gereja Katolik:

1783 Hati nurani harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh kebijaksanaan Pencipta. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri dan menolak ajaran pimpinan Gereja, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu.

1784 Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak tahun-tahun pertama ia membimbing seorang anak untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Satu pendidikan yang bijaksana mendorong menuju sikap yang berorientasi pada kebajikan. Ia memberi perlindungan terhadap dan membebaskan dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang palsu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan dan mengantar menuju kedamaian hati.

1785 Dalam pembentukan hati nurani, Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan memandang ke salib Tuhan. Sementara itu kita dibantu oleh anugerah Roh Kudus dan kesaksian serta nasihat orang lain dan dibimbing oleh ajaran pimpinan Gereja (DH 14).

SEGALA BANGSA AKAN MENYEBUT AKU BAHAGIA

Bacaan Minggu Ini:

  1. Penglihatan tentang perempuan di langit yang melahirkan Anak menjadi gambaran Gereja yang berjuang di dunia. (Bacaan I – Wahyu)
  2. Kristus adalah buah sulung kebangkitan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya juga akan dibangkitkan. (Bacaan II – I Korintus)
  3. Bunda Maria melaksanakan kehendak Tuhan dengan penuh kerendahan hati demi keselamatan manusia. (Bacaan Injil – Lukas)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Siapakah Bunda Maria bagiku?
  3. Apakah aku memiliki keutamaan seperti Bunda Maria: taat, percaya, dan rendah hati di hadapan Allah?
  4. Apa bentuk keikutsertaanku dalam karya Allah; mewujudkan damai dan sukacita dalam hidup sehari-hari?

Katekismus Gereja Katolik:

966 Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59) (Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. “Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Sharing Iman:
www.katolisitas.org

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, berdasarkan Tradisi Suci yang sudah diimani oleh Gereja sejak lama, namun baru ditetapkan menjadi Dogma melalui pengajaran Bapa Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, yang berjudul Munificentimtissimus Deus. Doktrin ini berhubungan dengan Dogma Immaculate Conception/ Maria dikandung tanpa noda, yang diajarkan oleh Bapa Paus Pius IX, 8 Desember 1854. Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3) yang menyatakan dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, Bapa Paus Pius XII mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada Gal 4:4 “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.
Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Roti Hidup

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah memperhatikan kebutuhan umat Israel yang keluar dari Mesir dengan memberikan makanan daging dan roti manna di padang gurun. (Bacaan I – Keluaran)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk menanggalkan manusia lama, yaitu hidup dalam nafsu yang menyesatkan; dan mengenakan manusia baru, yaitu hidup dalam kebenaraan dan kekudusan. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus adalah Roti Hidup yang memuaskan kerinduan dan kebutuhan manusia. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Dengan menyadari setiap usaha dan per-juanganku selama ini, apa yang sebenarnya aku cari di dunia ini?
  3. Apa motivasiku mengikuti Yesus?
  4. Apakah aku mengalami dicukupkan dan dipuaskan oleh Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik:

1333 Di dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur (Bdk. Mzm 104:13-15), hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri (Bdk. MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”).

1334 Di dalam Perjanjian Lama, roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesaan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Bdk. Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur

Sharing Iman:
www.sabda.org

Roti sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu benda yang sedemikian penting seperti halnya pada zaman Alkitab. Kita biasanya tidak menganggap roti sebagai simbol kebutuhan hidup. Akan tetapi pada zaman Yesus, roti melambangkan berbagai jenis makanan bergizi dengan segala bentuknya.

Kenyataan di atas membantu kita memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk meletakkan roti dalam Ruang Kudus di Kemah Pertemuan, yang merupakan lambang dari rumah Tuhan. Di sanalah, di dalam ruangan pertama itu, terdapat dua belas potong roti yang harus disajikan di atas sebuah meja emas “di hadapan Tuhan” (Imamat 24:6). Roti-roti itu mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah selalu memelihara milik-Nya ketika mereka datang dan berkenan kepada-Nya. Roti mencerminkan janji Allah untuk memberikan pemenuhan kebutuhan bagi semua manusia yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6; Matius 6:31-34).

Bagi umat yang percaya kepada Kristus, roti juga dapat melambangkan Alkitab, Yesus, persekutuan orang kristiani, atau persediaan yang telah disiapkan Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani kita. Dia memelihara kita dan selalu siap sedia untuk mengenyangkan kita. Akan tetapi, tawaran-Nya tersebut bukannya tanpa syarat. Dia berjanji akan memberikan “roti” setiap hari bagi mereka yang di dalam ketaatan telah mengkhususkan diri untuk hidup dan makan dari tangan Allah. Tuhan peduli kepada semua orang yang dengan sukarela dan rendah hati menerima makanan jasmani dan rohani dari-Nya.