SEGALA BANGSA AKAN MENYEBUT AKU BAHAGIA

Bacaan Minggu Ini:

  1. Penglihatan tentang perempuan di langit yang melahirkan Anak menjadi gambaran Gereja yang berjuang di dunia. (Bacaan I – Wahyu)
  2. Kristus adalah buah sulung kebangkitan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya juga akan dibangkitkan. (Bacaan II – I Korintus)
  3. Bunda Maria melaksanakan kehendak Tuhan dengan penuh kerendahan hati demi keselamatan manusia. (Bacaan Injil – Lukas)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Siapakah Bunda Maria bagiku?
  3. Apakah aku memiliki keutamaan seperti Bunda Maria: taat, percaya, dan rendah hati di hadapan Allah?
  4. Apa bentuk keikutsertaanku dalam karya Allah; mewujudkan damai dan sukacita dalam hidup sehari-hari?

Katekismus Gereja Katolik:

966 Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59) (Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. “Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Sharing Iman:
www.katolisitas.org

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, berdasarkan Tradisi Suci yang sudah diimani oleh Gereja sejak lama, namun baru ditetapkan menjadi Dogma melalui pengajaran Bapa Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, yang berjudul Munificentimtissimus Deus. Doktrin ini berhubungan dengan Dogma Immaculate Conception/ Maria dikandung tanpa noda, yang diajarkan oleh Bapa Paus Pius IX, 8 Desember 1854. Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3) yang menyatakan dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, Bapa Paus Pius XII mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada Gal 4:4 “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.
Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Roti Hidup

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah memperhatikan kebutuhan umat Israel yang keluar dari Mesir dengan memberikan makanan daging dan roti manna di padang gurun. (Bacaan I – Keluaran)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk menanggalkan manusia lama, yaitu hidup dalam nafsu yang menyesatkan; dan mengenakan manusia baru, yaitu hidup dalam kebenaraan dan kekudusan. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus adalah Roti Hidup yang memuaskan kerinduan dan kebutuhan manusia. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Dengan menyadari setiap usaha dan per-juanganku selama ini, apa yang sebenarnya aku cari di dunia ini?
  3. Apa motivasiku mengikuti Yesus?
  4. Apakah aku mengalami dicukupkan dan dipuaskan oleh Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik:

1333 Di dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur (Bdk. Mzm 104:13-15), hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri (Bdk. MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”).

1334 Di dalam Perjanjian Lama, roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesaan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Bdk. Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur

Sharing Iman:
www.sabda.org

Roti sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu benda yang sedemikian penting seperti halnya pada zaman Alkitab. Kita biasanya tidak menganggap roti sebagai simbol kebutuhan hidup. Akan tetapi pada zaman Yesus, roti melambangkan berbagai jenis makanan bergizi dengan segala bentuknya.

Kenyataan di atas membantu kita memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk meletakkan roti dalam Ruang Kudus di Kemah Pertemuan, yang merupakan lambang dari rumah Tuhan. Di sanalah, di dalam ruangan pertama itu, terdapat dua belas potong roti yang harus disajikan di atas sebuah meja emas “di hadapan Tuhan” (Imamat 24:6). Roti-roti itu mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah selalu memelihara milik-Nya ketika mereka datang dan berkenan kepada-Nya. Roti mencerminkan janji Allah untuk memberikan pemenuhan kebutuhan bagi semua manusia yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6; Matius 6:31-34).

Bagi umat yang percaya kepada Kristus, roti juga dapat melambangkan Alkitab, Yesus, persekutuan orang kristiani, atau persediaan yang telah disiapkan Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani kita. Dia memelihara kita dan selalu siap sedia untuk mengenyangkan kita. Akan tetapi, tawaran-Nya tersebut bukannya tanpa syarat. Dia berjanji akan memberikan “roti” setiap hari bagi mereka yang di dalam ketaatan telah mengkhususkan diri untuk hidup dan makan dari tangan Allah. Tuhan peduli kepada semua orang yang dengan sukarela dan rendah hati menerima makanan jasmani dan rohani dari-Nya.

 

ALLAH MENYEDIAKAN DAN MENCUKUPKAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Melalui Nabi Elisa, Allah mencukupkan kebutuhan orang yang kelaparan di Gilgal. (Bacaan I – 2 Raja-raja)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk senantiasa bersikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus, Gembala yang Baik, memberi makan lima ribu orang. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah yang paling aku butuhkan dalam hidup ini?
  3. Sebagai orang beriman, apakah yang menjadi kerinduan terdalamku selama ini?
  4. Bagaimana aku mengusahakan pemenuhan atas kebutuhan dan kerinduan terdalam, “lapar dan dahaga-ku”, itu?

Katekismus Gereja Katolik:

2444 Gereja dalam “cinta kasihnya terhadap kaum miskin, yang … melekat pada pusaka tradisinya” (Centesimus Annus/CA 57), membiarkan diri dibimbing oleh Injil sabda bahagia (Luk 6:20-22), oleh kemiskinan Yesus (Mat 8:20) dan oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin (Mrk 12:41-44). Cinta kasih kepada kaum miskin untuk seorang Kristen malahan merupakan salah satu alasan untuk bekerja dan mendapat uang secukupnya, “supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Ef 4:28). Ini tidak hanya menyangkut kemiskinan material, tetapi juga aneka ragam kemiskinan kultural dan religius (CA 57).

2445 Cinta kasih kepada kaum miskin tidak dapat berbarengan dengan cinta kepada kekayaan yang tidak terkendalikan dan dengan penggunaannya secara egois (Yak 5:1-6).

2446 Santo Yohanes Krisostomus mengingatkan kewajiban ini dengan kata-kata yang sangat tegas: “tidak membiarkan kaum miskin turut menikmati harta miliknya, berarti mencuri dari mereka dan membunuh mereka. Yang kita miliki, bukanlah harta milik kita, melainkan harta milik mereka” (Laz 1,6). “Hendaknya tuntutan-tuntutan keadilan dipenuhi, supaya apa yang sudah harus diserahkan berdasarkan keadilan jangan diberikan sebagai hadiah cinta kasih” (Apostolicam Actuositatem/AA 8:5). “Kalau kita memberikan kepada kaum miskin apa yang sangat dibutuhkan, kita tidak memberi kepada mereka secara sukarela pemberian pribadi, tetapi kita mengembalikan kepada mereka, apa yang menjadi hak mereka. Dengan berbuat demikian, kita lebih banyak memenuhi kewajiban keadilan daripada melaksanakan perbuatan cinta kepada sesama” (GregoriusAgung, past. 3, 21).

2447 Karya-karya belas kasihan adalah perbuatan cinta kasih, yang dengannya kita membantu sesama kita dalam kebutuhan jasmani dan rohaninya (Yes 58:6-7; Ibr 13:3). Mengajar, memberi nasihat, menghibur, membesarkan hati, Serta mengampuni dan menanggung dengan sabar hati adalah karya-karya belas kasihan di bidang rohani. Karya-karya belas kasihan di bidang jasmani terutama: memberi makan kepada yang lapar, memberi tumpangan kepada tunawisma, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang miskin dan orang tahanan dan menguburkan orang mati (Mat 25:31-46). Dari semua karya itu, memberi derma kepada orang miskin (Tob 4:5-11; Sir 17:22) adalah satu dari kesaksian utama cinta kasih kepada sesama; ia juga merupakan satu perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah (Mat 6:2-4).

MENJADI UTUSAN ALLAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Amos lebih taat pada kehendak Allah untuk bernubuat daripada taat pada perintah manusia yang tidak mau bertobat. (Bacaan I – Amos)
  2. Paulus bersaksi bahwa Allah telah memilih kita menjadi anak-anakNya dan mengaruniakan segala berkat dengan perantaraan Yesus Kristus demi keselamatan kita. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus mengutus kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mewartakan Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “utusan”?
  3. Sikap apa saja yang dibutuhkan utusan dalam menjalankan tugas perutusannya?
  4. Apakah aku sudah memiliki sikap-sikap itu? Apa buktinya?

Katekismus Gereja Katolik:

1833 Kebajikan adalah kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik.

1834 Kebajikan manusiawi adalah kecenderungan yang teguh dari akal budi dan kehendak, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita, dan membimbing tingkah laku kita, supaya sesuai dengan akal budi. Mereka dapat dikelompokkan menurut empat kebajikan pokok/kebajikan “kardinal” [cardo berarti poros]: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

1835 Kebijaksanaan memungkinkan budi yang praktis, supaya dalam semua situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk melaksanakannya.

1836 Keadilan terdiri dari kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka.

1837 Keberanian menyanggupkan untuk mengejar kebaikan dengan teguh dan tabah dalam kesulitan.

1838 Penguasaan diri mengekang kecenderungan kepada kenikmatan jasmani dan membuat kita mempertahankan ukuran yang wajar dalam penggunaan benda-benda yang diciptakan.

Sharing Iman: sabda.org

Ketika tiba di pos jaga untuk dapat memasuki penjara, ternyata tanda pengenal saya tidak ada. Karenanya petugas jaga harus membuat surat izin kunjungan sementara supaya saya dapat masuk dan mengajar kelas Pendalaman Alkitab untuk beberapa narapidana di sana. Dengan membaca SIM saya, petugas jaga itu mengisi surat izin dan memperbolehkan saya masuk. Saat membaca sekilas surat izin masuk itu, saya tersenyum geli. Pada kolom yang menunjukkan atas nama siapa saya diutus, di situ si petugas menulis “Allah.”

Lalu dalam perjalanan pulang, saya memikirkan hal yang lucu itu dengan lebih serius. Petugas tadi mungkin saja hanya bercanda, tetapi sesungguhnya yang ia ungkap-kan itu memang benar. Saya memang mewakili komisi pelayanan penjara, tetapi sebenar-nya saya mewakili Allah sendiri. Menyadari hal itu, saya senang dengan apa yang dilakukan petugas tersebut.

Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus” (2 Kor 5:20). Dengan mengemban predikat yang mulia itu, kita bertang-gung jawab untuk “hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar” (1 Tes 4:12). Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita senantiasa mewakili Allah ke mana pun kita pergi dan berada, melalui apa pun yang kita lakukan. Baik di tempat kerja, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, dalam tim softball, maupun di jalan, kita adalah utusan-utusan Allah. Kristus mengutus kita keluar untuk membawa orang lain ke dalam kasih-Nya.

KUASA-MU DI DALAM KELEMAHANKU

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Nabi Yehezkiel diutus Allah kepada bangsa Israel, yang memberontak melawan Allah. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Paulus bersaksi bahwa di dalam dirinya ada kelemahan dan justru di dalam kelemahannya kuasa Allah bekerja. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus ditolak oleh orang-orang Nazareth karena mereka tidak percaya kepada-Nya. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadaku?
  3. Apakah tantangan dan kesulitan yang aku hadapi dalam melayani, baik yang berasal dari diriku sendiri maupun dari luar diriku?
  4. Bagaimana caraku mengatasi tantangan dan kesulitan itu?

Katekismus Gereja Katolik

28 “Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan la telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun la tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:26-28).

29 Namun “hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini” (GS 19,1) dapat dilupakan oleh manusia, disalahartikan, malahan ditolak dengan tegas. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan, contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil.

30 “Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira” (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, “hati yang tulus”, dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan.

Sharing Iman:

www.sabda.org

Seorang anak sakit keras. Ia harus segera disuntik agar obat bisa langsung masuk ke dalam pembuluh darahnya. Namun, begitu melihat jarum suntik, si anak memberontak. Meronta-ronta sambil menjerit dan menangis. Takut disuntik. Karena bergerak terus, sulit bagi dokter untuk memasukkan jarum suntik. Baru setelah ia kelelahan dan lemas kehabisan tenaga, dokter bisa menyuntiknya. Obat pun masuk ke dalam tubuhnya. Proses penyembuhan dimulai.

Tanpa sadar, kita sering bersikap seperti anak kecil tadi. Ketika menghadapi kenyataan sulit, kita berontak. Panik. Protes. Marah. Sulit menerima kenyatan itu. Begitu pula Rasul Paulus. Saat mendapatkan “duri dalam daging” berupa sakit-penyakit, spontan ia berseru pada Tuhan minta disembuhkan. Berkali-kali. Sayang, upaya itu gagal. Paulus tidak disembuhkan. Namun, harapannya tidak sirna. Dari situ ia belajar satu hal penting: perlunya berdamai dengan kelemahannya. Bukannya berontak, ia berserah diri. Bergantung pada Tuhan sepenuhnya. Justru pada saat itulah, kuasa Tuhan turun menaunginya. Ia dimampukan hidup bersama kelemahan itu dengan kekuatan ilahi.

Adakah masalah yang selama ini terus merongrong diri Anda? Bentuknya bisa berupa sakit-penyakit, cacat kepribadian, atau kelemahan lainnya. Sudahkah Anda berdamai dengan kelemahan Anda tersebut, atau terus memberontak? Jika Tuhan tidak menyembuhkan, relakah Anda hidup bersama kelemahan itu? Tuhan bisa mengaruniakan kekuatan agar Anda sanggup menanggungnya. Maka, serahkanlah diri Anda kepada-Nya! Jika Anda lemah, maka Anda kuat!

“TALITA KUM”

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah telah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri demi keselamatan manusia. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. Yesus Kristus menjadi miskin, supaya karena kemiskinan-Nya manusia menjadi kaya dalam kasih. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus berkeliling berbuat baik untuk menyelamatkan manusia. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Allah menciptakan aku seturut gambar/citra-Nya?
  3. Apa pengaruh keyakinan itu bagi hidupku?
  4. Apakah aku memiliki pengalaman “dibangunkan” oleh Yesus? Apa pengaruhnya bagi hidupku saat ini?

Katekismus Gereja Katolik:

2318 “Di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan napas setiap manusia” (Ayb 12:10).

2319 Tiap hidup manusia itu kudus sejak saat pembuahannya sampai kematian, karena manusia itu dikehendaki demi dirinya sendiri dan diciptakan menurut citra Allah yang hidup dan kudus, serupa dengan Dia.

2320 Pembunuhan terhadap seorang manusia sangat bertentangan dengan martabat manusia dan dengan kekudusan Pencipta.

2321 Larangan membunuh tidak menghilangkan hak untuk melumpuhkan penyerang yang tidak sah. Pembelaan yang sah adalah satu kewajiban berat bagi siapa saja yang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain atau atas kesejahteraan umum.

 Sharing Iman:

sabda.org

Seorang wanita yang berniat bunuh diri, berdiri selama 3 jam di sebuah jembatan di Seattle; siap untuk terjun. Ini membuat lalu lintas macet total, hingga para pengguna jalan yang kesal karena diburu waktu mengutuki dan meneriakinya agar segera melompat saja. Ia pun benar-benar melompat, tapi selamat meski terjun ke sebuah kanal dari ketinggian 49 meter. Setelah itu banyak warga kota mengirim bunga dan kartu kepadanya di rumah sakit sebagai tanda penyesalan atas kejadian itu. Namun beberapa pengguna jalan yang marah menghubungi surat kabar lokal dan menyalahkan wanita itu karena tidak memilih tempat yang tidak terlalu ramai untuk mengakhiri hidupnya.

Orang-orang yang memerlukan pertolongan kita seringkali datang pada waktu yang tidak tepat. Namun dalam setiap situasi, kita dituntut untuk memberi perhatian secara cepat, meski mengganggu rencana kita.

Yesus selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya selama hidup di dunia ini, dan kita dapat meneladani respon yang Dia berikan kepada mereka. Ketika Yairus meminta-Nya untuk datang dan menyembuhkan anak perempuannya, Yesus meluluskan permintaannya (Mrk 5:22-24). Di tengah jalan, seorang wanita menjumpai-Nya. Yesus pun berhenti dan meluangkan waktu untuk menyembuhkannya (ay. 25-34).

Maukah kita menolong mereka yang membutuhkan? Seperti Yesus, adakah kita berbelas kasihan untuk menolong dan memulihkan mereka yang putus asa? Hari ini, Allah memberi kita kasih karunia untuk menolong orang lain, bagi kemuliaan-Nya.

MENJADI TERANG BAGI SESAMA

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah telah memanggil orang pilihan-Nya sejak semula dan mengutusnya untuk menjadi terang, pembawa keselamatan. (Bacaan I – Kitab Yesaya)
  2. Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk menyiapkan jalan bagi Yesus, Sang Mesias yang membawa keselamatan bagi manusia. (Bacaan II – Kisah Para Rasul)
  3. Kelahiran Yohanes Pembaptis membawa sukacita dan pengharapan besar akan karya Allah bagi manusia. (Bacaan Injil – Lukas)

 

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti “kelahiran” bagiku?
  3. Apakah jawabku atas pertanyaan: “orang macam apakah aku sekarang ini?” dan “menjadi orang macam apakah aku kelak?”

 

Katekismus Gereja Katolik

523 Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung; ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi. Ia adalah yang terakhir dari mereka dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan. Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya.

BERSAUDARA DALAM TUHAN

INTISARI BACAAN MINGGU INI

  1. Ular adalah gambaran kekuatan jahat yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa, yaitu sikap dan tindakan melawan kasih Allah. (Bacaan I – Kitab Kejadian)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa setia menanggung penderitaan. Allah menganugerahkan kemuliaan bagi orang yang percaya dan setia. (Bacaan II – Surat II Paulus kepada Jemaat di Korintus)
  3. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah adalah saudara dan saudari Yesus Kristus. (Bacaan Injil – Markus)

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah arti “saudara/i”?
  3. Bagaimana sikapku selama ini terhadap orang lain di sekitarku?
  4. Apakah aku telah membangun persaudaraan dengan orang lain atau justru menciptakan permusuhan?
  5. Apa usahaku untuk membangun persaudaraan di tengah situasi masyarakat seperti saat ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

2196 Atas pertanyaan, hukum mana yang terutama, Yesus menjawab: “hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini” (Mrk 12:29-31). Santo Paulus mengingatkan: “Barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih tidak berbuat jahat kepada sesama manusia, karena itu adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:8-10).

2197 Perintah keempat: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Kel 20:12) membuka loh kedua dekalog. Ia merujuk ke tata cinta kasih. Allah menghendaki bahwa kita mencontohi Dia dalam menghormat orang-tua kita, kepada siapa kita berterima kasih untuk kehidupan kita, dan yang menyampaikan iman kepada kita. Kita berkewajiban menghormati dan menghargai semua orang yang Allah lengkapi dengan wewenang-Nya demi kesejahteraan kita.

2198 Perintah ini dirumuskan secara positif; ia menunjukkan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Ia mengantar ke perintah-perintah berikutnya, di mana dituntut agar menghormati kehidupan, pernikahan, harta benda duniawi orang lain, dan perkataan manusia. Ia merupakan salah satu dasar ajaran sosial Gereja.

2199 Perintah keempat ditujukan secara khusus kepada anak-anak dan menyangkut hubungan mereka dengan ayah dan ibu, karena inilah hubungan yang paling mendasar. Ia juga mencakup hubungan kekeluargaan dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Ia menghendaki agar ditunjukkan penghormatan, cinta kasih, dan terima kasih kepada sanak keluarga yang lebih tua dan nenek moyang. Akhirnya ia juga menyangkut kewajiban anak-anak sekolah terhadap gurunya, karyawan terhadap majikan, bawahan terhadap atasannya, warga negara terhadap tanah aimya, dan terhadap mereka yang mengurus dan memerintahnya. Dalam arti yang lebih luas, perintah ini juga mencakup kewajiban-kewajiban orang-tua, wali, guru, pemuka, penguasa, dan pejabat, jadi semua mereka yang menjalankan wewenangnya untuk orang lain atau suatu persekutuan.

2200 Mematuhi perintah keempat membawa pula satu ganjaran: “hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (kel 20:12) Bdk. Ul 5:16.. Penghayatan perintah ini, di samping buah-buah rohani juga mendatangkan buah jasmani ialah perdamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya menginjak-injak perintah ini mendatangkan kerugian besar bagi persekutuan manusia dan bagi orang perorangan.

SHARING IMAN www.sabda.org

Seorang guru tua menanyai murid-muridnya, “Bagaimana kita tahu kapan kegelapan pergi dan fajar menjelang?” “Ketika kita dapat melihat sebuah pohon dan tahu bahwa itu adalah pohon pinus, bukan pohon cemara,” jawab seorang murid. “Ketika kita dapat melihat seekor binatang dan tahu bahwa itu adalah rubah, bukan seekor serigala,” jawab yang lain. “Salah,” kata guru itu. Karena bingung, para murid itu menanyakan jawabannya. Sang guru menjawab dengan tenang, “Kita akan tahu kapan kegelapan pergi dan fajar datang ketika kita dapat melihat orang lain dan mengenalinya sebagai saudara kita; karena jika tidak, jam berapa pun, kita akan tetap berada dalam kegelapan.”

Adakah kita menanggapi dengan serius kata-kata Yohanes, “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita?” (1Yohanes 3:14). Atau, masihkah kita menyimpan kemarahan atau kebencian kepada orang lain? Adakah kita mencela orang-orang lain dan seringkali tidak sependapat dengan kita dalam berbagai hal? Bagaimana dengan orang-orang dari bangsa lain? Adakah kita mengasihi mereka tidak hanya dari kejauhan tetapi juga secara dekat dan pribadi? Jika kasih merupakan ciri orang percaya, adakah orang lain akan mendapati ciri tersebut dan mengenali kita sebagai milik Kristus?

INILAH TUBUH-KU INILAH DARAH-KU

INTISARI BACAAN MINGGU INI

  1. Dengan perantaraan Musa, bangsa Israel mengikat perjanjian dengan Allah. (Bacaan I – Kitab Keluaran)
  2. Dengan mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya, Yesus Kristus menjadi Pengantara dari perjanjian baru Allah-manusia. (Bacaan II – Surat kepada Orang Ibrani)
  3. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus menyatakan pemberian Diri-Nya bagi keselamatan manusia dan yang akan terlaksana dalam Peristiwa Salib. (Bacaan Injil – Markus)

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah “janji” itu?
  3. Apakah aku memiliki janji kepada seseorang, kepada Tuhan, kepada diriku sendiri?
  4. Tubuh dan Darah Yesus adalah tanda perjanjian baru. Apakah aku percaya akan hal ini? Bagaimana sikapku selama ini dalam menyambut Tubuh dan Darah Yesus dalam Ekaristi?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

1333 Didalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur (Mzm 104:13-15), hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri (MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”).

1334 Di dalam Perjanjian Lama roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesahan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur.

1335 Mukjizat perbanyakan roti menunjukkan lebih dahulu kelimpahan roti istimewa dari Ekaristi-Nya (Mat 14:13-21; 15:32-39): Tuhan mengucapkan syukur, memecahkan roti dan membiarkan murid-murid-Nya membagi-bagikannya, untuk memberi makan kepada orang banyak. Tanda perubahan air menjadi anggur di Kana (Yoh 2:11). telah memaklumkan saat kemuliaan Yesus. Ia menyampaikan penyempurnaan perjamuan pernikahan dalam Kerajaan Bapa, di mana umat beriman akan minum (Mrk 14:25). anggur baru, yang telah menjadi darah Kristus.

1336 Pernyataan pertama mengenai Ekaristi, memisahkan murid-murid-Nya dalam dua kelompok, sebagaimana juga penyampaian mengenai sengsara-Nya menimbulkan reaksi menolak pada mereka: “Perkataan ini keras, siapakah sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Ekaristi dan salib adalah batu-batu sandungan. Keduanya membentuk misteri yang sama, yang tidak berhenti menjadi sebab perpecahan. “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Pertanyaan Tuhan ini bergema sepanjang masa; melalui pertanyaan ini cinta-Nya mengundang kita, supaya mengakui bahwa hanya Dialah memiliki “perkataan hidup kekal” (Yoh 6:68) dan bahwa siapa yang menerima anugerah Ekaristi-Nya dengan penuh iman, menerima Dia sendiri.

SHARING IMAN

www.katolisitas.org

Sejak abad awal, Gereja tidak pernah meragukan kehadiran Tuhan Yesus dalam rupa roti dan anggur. Kita mengetahuinya tidak saja dari perkataan Yesus sendiri   yang dicatat dalam Injil, namun juga dari tulisan Rasul Paulus (lih. 1Kor 11:23-26). Kebiasaan untuk menyimpan hosti yang sudah dikonsekrasi dalam tabernakel juga sudah dicatat dalam riwayat St. Basilius di abad ke-4. Ekaristi itu disimpan di gereja-gereja atau biara bagi keperluan orang-orang sakit dan yang menghadapi ajal. Namun menjelang akhir abad ke-11, Gereja mengalami “hantaman” dari Berengarius (999-1088) seorang pemimpin diakon di Angers, Prancis, yang secara terbuka menolak percaya bahwa Kristus secara nyata hadir dalam rupa roti dan anggur. Ada sejumlah orang yang percaya kepada ajarannya ini dan mulai menuliskan bahwa Kristus dalam Ekaristi tidaklah sama dengan Kristus dalam Injil, dan karena itu, Ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi.

Begitu seriusnya kasus ini, sehingga Paus Gregorius VII memerintahkan Berengarius untuk menarik kembali ajarannya. Ia diminta untuk mengucapkan pengakuan iman tentang kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Ini adalah pernyataan definitif pertama Gereja tentang apa yang selalu dipercaya oleh Gereja dan tak pernah ditentang. Dengan pengakuan iman ini, maka gereja-gereja di Eropa mengalami semacam “kebangkitan” dalam penghayatan akan Ekaristi. Saat itulah ditetapkan adanya prosesi-prosesi Sakramen Mahakudus, rumusan doa-doa adorasi, umat didorong untuk mengunjungi Sakramen Mahakudus, dan seterusnya. Sejak abad ke-11 ini, devosi kepada Sakramen Mahakudus dalam Tabernakel menjadi semakin dikenal.

Maka dari itu, tak ada yang mengejutkan ketika Paus Urbanus IV di tahun 1264 kemudian menetapkan Hari Raya Tubuh Kristus (Corpus Christi). Paus menekankan akan kasih Kristus, yang ingin menyertai umat-Nya secara fisik sampai akhir zaman. Paus mengatakan, “Dalam Ekaristi, Kristus di dalam hakekat-Nya sendiri ada bersama kita.” Sebab “ketika mengatakan kepada para rasul-Nya bahwa Ia akan naik ke Surga, Ia berkata, “Lihatlah, Aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai akhir zaman” dan dengan demikian menghibur mereka dengan janji yang besar bahwa Ia akan tetap ada dan bersama-sama dengan mereka bahkan dengan kehadiran secara jasmani” (Paus Urbanus IV, Transiturus de hoc mundo, 11 Agustus 1264).

Ajaran tentang Kehadiran Kristus dalam Ekaristi ini didukung juga oleh berbagai mukjizat Ekaristi di sepanjang sejarah Gereja – dan yang terakhir  diakui oleh CDF bulan April 2016 adalah mukjizat Ekaristi yang terjadi di Hari Raya Natal 2013 di Legnica, Polandia. Meskipun demikian, masih ada begitu banyak orang – bahkan orang-orang yang juga mengimani Kristus – yang tidak percaya akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, nampaknya kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, tentang apakah yang dapat kita perbuat untuk semakin menghayati kebenaran ajaran iman ini? Bagaimana kita dapat turut menyebarkannya?

TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Musa menunjukkan kepada bangsa Israel karya kasih Allah dan mengajak bangsa Israel untuk taat kepada Allah. (Bacaan I – Kitab Ulangan)
  2. Paulus menyatakan kepada jemaat di Roma bahwa Allah sungguh mengasihi mereka, sehingga Ia telah mencurahkan Roh-Nya dan menjadikan mereka anak-anak Allah. (Bacaan II – Surat Paulus kepada jemaat di Roma)
  3. Yesus mengutus para rasul untuk mewartakan kasih Allah kepada semua bangsa dan Ia berjanji selalu menyertai mereka. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya “menjadi anak-anak Allah”?
  3. Apakah hari ini aku mengalami kasih Tuhan?
  4. Apakah karya Tuhan dalam hidupku yang paling aku syukuri? Mengapa?
  5. Apa tindakan konkret yang aku lakukan sebagai bentuk/ungkapan kasih-ku bagi keluarga, lingkungan/ masyarakat, dan Gereja?

Katekismus Gereja Katolik

253 Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat”. Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat”. “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi”

254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian”. “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera”. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita”. Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan”. “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera”.

Sharing Iman:

http://katolisitas-indonesia.blogspot.co.id/ 2012/10/syahadat-professio-fidei-tridentinae.html

Pengakuan Iman Tridentine (Professio Fidei Tridentinae) atau yang dikenal sebagai Pengakuan Iman Pius IV, adalah satu dari empat Pengakuan Iman resmi Gereja Katolik, yaitu Syahadat Para Rasul (Syahadat Pendek), Syahadat Nicea-Konstantinopel (Syahadat Panjang) dan Syahadat Athanasian.

Pengakuan ini dikeluarkan oleh Paus Pius IV pada tanggal 13 November 1565 dengan Bulla “Iniunctum nobis” di bawah dukungan Konsili Trente (1545-1563). Pengakuan iman ini setelah Konsili Vatikan I (1869-1870) berfungsi untuk memberi penekanan lebih pada definisi dogmatik Konsili. Tujuan utama Pengakuan Iman ini adalah untuk menjelaskan batasan iman Katolik terhadap ajaran-ajaran sesat.

 

Syahadat Athanasian:

Inilah iman Katolik: kita menghormati Allah yang tunggal dalam Trinitas dan Trinitas dalam keesaan, tanpa pencampuran Pribadi dan tanpa pemisahan kodrat mereka. Salah satunya adalah Pribadi Bapa, Pribadi yang lain adalah Putra dan Pribadi yang lain lagi adalah Roh Kudus. Akan tetapi Bapa, Putra dan Roh Kudus hanya memiliki satu keilahian, kemuliaan yang sama, keagungan yang sama. Sebagaimana Bapa, demikian pun Putra dan Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Putra tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tak terselami, Putra tak terselami, Roh Kudus tak terselami. Bapa abadi, Putra abadi, Roh Kudus abadi. Namun mereka bukan tiga Yang kekal, melainkan satu Yang kekal. Mereka juga bukan tiga kenyataan ilahi yang tidak diciptakan dan bukan tiga yang tak terselami melainkan satu yang tak diciptakan dan tak terselami. Bapa mahakuasa, Putra mahakuasa, Roh Kudus mahakuasa, namun bukan ada tiga kenyataan ilahi yang mahakuasa melainkan satu kenyataan ilahi yang mahakuasa. Demikianlah Bapa itu Allah, Putra itu Allah dan Roh Kudus itu Allah, namun bukan ada tiga Allah, melainkan hanya satu Allah. Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan, namun tidak terdapat tiga Tuhan, tetapi hanya satu Tuhan. Sebagaimana kita mengakui seturut kebenaran Kristen bahwa setiap Pribadi adalah Allah dan Tuhan, namun Gereja Katolik juga melarang kita untuk mengakui tiga allah dan tuhan. Bapa tidak dihasilkan seorangpun, ataupun diciptakan dan diperanakkan. Putra berasal dari Bapa sendiri, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tetapi diperanakkan. Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putera, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tetapi diasalkan. Jadi terdapat satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Putra, bukan tiga putra, satu Roh Kudus, bukan tiga roh kudus. Dan dalam Tritunggal ini tidak ada yang mendahului atau kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi semua tiga Pribadi adalah sama-sama kekal dan agung, sehingga seperti dikatakan bahwa baik keesaan dalam ketigaan maupun ketigaan dalam keesaan haruslah disembah. Siapa yang ingin mencapai kebahagiaan haruslah percaya akan Tritunggal Mahakudus. Lebih jauh lagi, adalah penting untuk keselamatan kekal, bahwa ia harus mempercayai dengan benar Inkarnasi (Penjelmaan) Tuhan kita Yesus Kristus. Karena iman yang benar adalah bahwa kita mengimani dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Putera Allah, adalah Allah dan Manusia. Allah, kodrat dari Bapa, dilahirkan sebelum segala dunia; dan manusia, dari kodrat ibu-Nya, lahir ke dalam dunia. Allah sempurna dan Manusia sempurna, berada dalam jiwa yang layak dan daging manusia. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya. Yang sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari pengambilan kemanusiaanNya ke dalam Allah. Satu bersama-sama, bukan karena percampuran kodrat, tetapi oleh kesatuan pribadi. Karena jiwa yang layak dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Ia naik ke surga, Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Pada kedatangan-Nya, semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal. Inilah iman Katolik yang mana kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan.