“MATI TERHADAP DOSA, HIDUP BAGI ALLAH DAN SESAMA”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah akan mengikat perjanjian yang baru dengan manusia: suatu perjanjian yang kekal di dalam hati manusia. (Bacaan I – Yeremia)
  2. Kristus adalah pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. (Bacaan II – Ibrani)
  3. Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, namun menghasilkan banyak buah. Pemberian Diri-Nya adalah demi kemuliaan Allah Bapa dan keselamatan manusia. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah Tuhan menjanjikan sesuatu kepadaku? Apa? Apakah janji itu sudah terlaksana?
  3. Apakah aku pernah berjanji kepada Tuhan? Apa? Apakah janji itu sudah aku laksanakan?
  4. Apakah artinya “Yesus sebagai pokok keselamatan”?
  5. Apakah aku berani “mati”, berkorban untuk mewujudkan kebahagiaan bersama dan menambah kemuliaan Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik

1008 Kematian adalah akibat dosa. Sebagai penafsir otentik atas pernyataan Kitab Suci (Kej 2:17; 3:3; 3:19; Keb 1:13; Rm 5:12; 6:23) dan tradisi, magisterium Gereja mengajarkan bahwa kematian telah masuk ke dalam dunia, karena manusia telah berdosa (DS 1511). Walaupun manusia mempunyai kodrat yang dapat mati, namun Pencipta menentukan supaya ia tidak mati. Dengan demikian kematian bertentangan dengan keputusan Allah Pencipta. Kematian masuk ke dunia sebagai akibat dosa (Keb 2:23-24). “Kematian badan, yang dapat dihindari seandainya manusia tidak berdosa” (GS 18), adalah “musuh terakhir” manusia yang harus dikalahkan (1 Kor 15:26).

1009 Kematian telah diubah Kristus. Juga Yesus, Putera Allah, telah mengalami kematian, yang termasuk bagian dari eksistensi manusia. Walaupun Ia merasa takut akan maut (Mrk 14:33-34; Ibr 5:7-8), namun Ia menerimanya dalam ketaatan bebas kepada kehendak Bapa-Nya. Ketaatan Yesus telah mengubah kutukan kematian menjadi berkat (Rm 5:19-21).

1010 Oleh Kristus kematian Kristen mempunyai arti positif. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). “Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2 Tim 2:11). Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristen terdapat di dalam hal ini: Oleh Pembaptisan warga Kristen secara sakramental sudah “mati bersama Kristus”, supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya: “Lebih baiklah bagiku untuk mati karena Kristus, daripada hidup sebagai raja atas segala ujung bumi. Aku mencari Dia, yang wafat untuk kita; aku menghendaki Dia, yang bangkit demi kita. Kelahiran aku nantikan… biarlah aku menerima sinar yang cerah. Setelah tiba di sana, aku akan menjadi manusia” (Ignasius dari Antiokia, Rom 6,1-2).

1011 Dalam kematian, Allah memanggil manusia kepada diri-Nya. Karena itu, seperti Paulus, warga Kristen dapat merindukan kematian: “Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus” (Flp 1:23). Dan ia dapat mengubah kematiannya menjadi perbuatan ketaatan dan cinta kepada Bapa, sesuai dengan contoh Kristus (Luk 23:46).

Sharing Iman:
www.katolisitas.org

“Lihatlah, sementara orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus, namun di sini disebutkan, bahwa orang-orang Yunani mau berjumpa dengan-Nya. Dengan demikian, kaum yang bersunat dan tidak bersunat yang tadinya sangat jauh terpisah… kini bertemu di dalam iman akan Kristus. Dan Yesus menjawab, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Apakah Ia berpikir bahwa Ia ditinggikan karena orang-orang Yunani ini mau bertemu dengan-Nya? Tidak. Tetapi Ia melihat bahwa setelah wafat dan kebangkitan-Nya, bangsa-bangsa lain akan percaya kepada-Nya. Ia menganggap permohonan beberapa orang Yunani ini sebagai kesempatan untuk memaklumkan datangnya seluruh bangsa-bangsa lain, sebab saatnya Ia dimuliakan telah dekat, dan bahwa setelah Ia dimuliakan di Surga, bangsa-bangsa lain akan percaya; seperti disebutkan dalam Mazmur, “Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!” (Mzm 57:6)

Tetapi kemuliaan-Nya harus didahului oleh sengsara-Nya, maka Yesus berkata, “Sesungguhnya jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, Ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Yesus-lah biji itu, yang mati oleh ketidakpercayaan bangsa Yahudi, namun yang akan menghasilkan banyak buah oleh iman dari bangsa-bangsa lain.

Bagaimana memahami, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya?” (Yoh 12:25) Ini dipahami dalam dua arti: 1) Jika kamu ingin mempertahankan nyawamu di dalam Kristus, jangan takut mati untuk Kristus. 2) Jangan mencintai nyawamu di dunia ini, sebab sesudahnya kamu akan kehilangan nyawamu. Ia yang membenci nyawanya di dunia ini, akan memperolehnya di kehidupan kekal. Tapi jangan terburu-buru berpikir, bahwa dengan membenci nyawamu, itu artinya kamu boleh bunuh diri. Sebab orang-orang yang menyimpang telah salah memahaminya, dan telah membakar diri atau mencekik dirinya sendiri… untuk mengakhiri hidupnya. Ini tidak diajarkan Kristus! Tetapi ketika tidak ada pilihan bagimu, ketika penganiaya mengancammu dan kamu harus memilih antara mengingkari hukum Tuhan atau mati, maka bencilah nyawamu di dunia ini, supaya kamu dapat memperolehnya dalam kehidupan kekal.

Tetapi apakah artinya “melayani Kristus”? Mereka yang melayani Kristus adalah mereka yang tidak mencari apapun bagi dirinya sendiri tetapi bagi Kristus, yaitu mereka yang mengikuti Dia, berjalan di jalan-Nya,  dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Kristus…, sehingga akhirnya mereka menyelesaikan karya kasih yang besar, dan menyerahkan nyawa mereka bagi saudara-saudara mereka. Tapi kamu bertanya, apakah upahnya? Jawabannya ada di kalimat berikut: “Dan di manapun Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada” (Yoh 12: 26). Maka kasihilah Dia demi diri-Nya sendiri, dan pikirkanlah upah yang demikian besar bagi pelayananmu, yaitu kamu akan ada bersama dengan Dia…

Yesus menghendaki kamu agar bangkit dari kelemahanmu. Ia mengambil kerapuhan manusia, supaya dapat mengajarkan kepada mereka yang rapuh untuk berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi.” Dan Yesus melanjutkan, “Sebab untuk itulah aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Yaitu, di dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Mu. Maka dari Sorga terdengar suara, “Aku telah memuliakan-Nya”, yaitu sebelum Allah menciptakan dunia; “dan akan memuliakan-Nya lagi!” Yaitu, ketika Engkau bangkit dari kematian. Atau, “Aku telah memuliakan-Nya”, yaitu ketika Engkau dilahirkan oleh seorang Perawan, mengerjakan berbagai mukjizat, dinyatakan  oleh Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati; “dan akan memuliakan-Nya lagi”, yaitu ketika Engkau bangkit dari kematian, dan sebagai Allah, ditinggikan di atas langit dan kemuliaan-Mu mengatasi bumi. Para bangsa akan berdiri dan mendengarnya. Maka suara dari Sorga itu tidak datang untuk memberitahu Yesus—sebab Ia sudah mengetahuinya—tetapi kepada orang-orang banyak itu, yang perlu mengetahuinya. Jadi suara itu datang bukan demi Dia tetapi demi mereka.

Penghakiman di akhir dunia adalah berkenaan dengan penghargaan kekal atau penghukuman kekal. Tetapi terdapat penghakiman lainnya, yang bukan penghukuman tetapi pemilihan. Inilah yang dimaksudkan di sini, yaitu pemilihan orang-orang yang ditebus-Nya sendiri, dan pembebasan mereka dari kuasa setan. Kini penguasa dunia telah dilemparkan ke luar. Setan disebut penguasa dunia di sini, namun tidak untuk diartikan sebagai penguasa langit dan bumi. Tuhan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Dunia di sini maksudnya adalah orang-orang jahat yang telah tersebar di seluruh dunia. Dalam arti ini, setan adalah penguasa dunia, yaitu: penguasa semua orang jahat yang hidup di dunia. [Namun] dunia juga kadang dimaksudkan sebagai orang-orang baik yang tersebar di seluruh dunia, contohnya di ayat: Allah, di dalam Kristus mendamaikan dunia, dengan diri-Nya (2Kor 5:19). Ini adalah mereka, yang dari dalam hati mereka-lah, setan, penguasa dunia dilemparkan ke luar. Tuhan kita telah mengetahui bahwa setelah sengsara, wafat dan kemuliaan-Nya, bangsa-bangsa di seluruh dunia akan bertobat. Dari dalam hati merekalah, yang telah sungguh menolak setan, setan itu akan dilemparkan ke luar.

“Apabila Aku ditinggikan dari bumi”, kata Yesus. Yesus tidak ragu, bahwa Ia akan menyelesaikan karya keselamatan, yang karenanya Ia datang. Ia ditinggikan, maksud-Nya adalah: dengan sengsara dan wafat-Nya di salib. Sebagaimana dikatakan Yohanes Penginjil, “Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana cara-Nya Ia akan mati” (St. Agustinus, seperti dikutip oleh St. Thomas Aquinas dalam Catena Aurea).

“KASIH YANG MENYELAMATKAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah menyatakan murka-Nya melalui peristiwa pembuangan dan menyatakan kerahiman-Nya melalui pembebasan dari pembuangan. (Bacaan I – 2 Tawarikh)
  2. Keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan pemberian Allah melalui Yesus Kristus. (Bacaan II – Efesus)
  3. Allah begitu mengasihi dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apakah “kasih” itu?
  3. Apakah aku mengalami kasih Allah? Kapan? Dalam bentuk apa?
  4. Apakah aku juga mengasihi Allah? Apa bentuk kasihku itu?
  5. Apakah aku mengasihi sesamaku? Apa bentuk kasihku itu?

Katekismus Gereja Katolik

849 “Kepada para bangsa Gereja diutus oleh Allah untuk menjadi `Sakramen universal keselamatan. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hakiki sifat katoliknya, menaati perintah Pendirinya, Gereja sungguh-sungguh berusaha mewartakan Injil kepada semua orang” (AG 1). “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20).

850 Tugas yang diserahkan Tuhan kepada Gereja mempunyai asalnya dalam cinta abadi Tritunggal Mahakudus: “Pada hakikatnya Gereja penziarah bersifat misioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (AG 2). Tujuan terakhir misi ialah menyanggupkan manusia-manusia mengambil bagian dalam persekutuan, yang ada antara Bapa dan Putera dalam Roh cinta kasih.

851 Alasan untuk misi ialah cinta kasih Allah kepada semua manusia. Darinya Gereja sejak dahulu telah menimba kewajiban dan kekuatan semangat misinya, karena “cinta kasih Kristus menguasai kami…” (2 Kor 5:14). Allah menghendaki “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:4). Allah menghendaki supaya semua orang sampai kepada keselamatan melalui pengetahuan akan kebenaran. Keselamatan terdapat dalam kebenaran. Barang siapa taat kepada dorongan roh kebenaran, ia sudah berada di jalan menuju keselamatan: tetapi Gereja, kepada siapa dipercayakan kebenaran ini, harus memperhatikan kerinduan manusia dan membawakan kebenaran itu kepadanya. Oleh karena Gereja percaya kepada keputusan keselamatan yang mencakup semua manusia, maka ia harus bersifat misioner.

Sharing Iman:
www.sabda.org

Seorang petani menempatkan sebuah penunjuk arah angin di atas gudangnya dengan tulisan “Allah itu kasih.” Suatu hari seorang pelancong berhenti di dekat tanah pertanian itu dan melihat penunjuk arah angin tersebut yang bergerak karena hembusan angin. Dengan wajah menyeringai pelancong itu bertanya, “Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa Allah dapat berubah-ubah arah seperti angin?” Petani itu menggeleng dan menjawab, “Tidak. Saya bermaksud mengatakan bahwa tak peduli ke mana angin berhembus, Allah itu tetap kasih!”

Pernyataan “Allah itu kasih” secara tak langsung mengungkapkan arti lebih dari sekadar bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya tanpa dibatasi lingkungan. Pernyataan itu berarti bahwa kasih adalah hakekat dari karakter Allah. Kita tidak akan pernah dapat menduga kedalaman kasih Allah – bahkan dalam keabadian sekalipun. Namun Yohanes menunjukkan bahwa kita dapat mulai memahami hal tersebut jika kita memandang kepada salib. Saat kita melihat Kristus mati di sana karena kita, sekilas kita dapat menangkap betapa mulia hati Allah yang penuh kasih itu. Yohanes menjelaskan bahwa jika Allah itu kasih, anak-anak-Nya seharusnya juga serupa dengan-Nya. Konsekuensi-nya, jika tak ada kehangatan dalam hati kita terhadap saudara seiman, jika kita tak tergetar oleh nama Yesus yang agung, mungkin realita pertobatan yang kita alami perlu dipertanyakan. Apakah kita sudah memahami dan mencerminkan kasih Allah? Seseorang yang mengenal kasih Allah akan mencerminkan kasih-Nya.

“ YESUS MENYUCIKAN BAIT ALLAH”

“Ambil semuanya ini dari sini, jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah memberikan hukum kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa agar bangsa Israel selamat. Hukum inilah yang dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah. (Bacaan I – Keluaran)
  2. Paulus mewartakan Kristus yang tersalib sebagai kekuatan dan hikmat Allah. (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Melalui tindakan menyucikan Bait Allah dari para pedagang, Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Bait Allah yang Sejati, tanda nyata kehadiran Allah di tengah-tengah manusia. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Bagaimana sikapku selama ini terhadap hukum Tuhan/Sepuluh Perintah Allah?
  3. Apakah aku sadar bahwa tubuhku juga adalah bait Allah, yang harus dijaga kekudusannya?
  4. Bagaimana caraku menjaga kekudusan diriku, khususnya di masa Prapaskah ini?

Katekismus Gereja Katolik

604 Dengan menyerahkan Putera-Nya karena dosa kita, Allah menunjukkan bahwa rencana-Nya untuk kita adalah satu keputusan cinta yang penuh kebaikan dan mendahului setiap jasa dari pihak kita: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh 4:10). “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm 5:8).

605 Cinta ini tidak mengecualikan seorang pun. Yesus mengatakannya pada akhir perumpamaan mengenai domba yang hilang: “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki, supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat 18:14). Ia menegaskan bahwa Ia menyerahkan hidup-Nya “menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Ungkapan “untuk banyak orang” bukan menyempit, melainkan menempatkan seluruh umat manusia di hadapan pribadi Penebus satu satunya, yang menyerahkan Diri, untuk menyelamatkannya. Seturut teladan para Rasul, Gereja mengajarkan bahwa Yesus wafat untuk semua manusia tanpa kecuali: “Tidak ada seorang manusia, tidak pernah ada seorang manusia, dan tidak akan ada seorang manusia, yang baginya Ia tidak menderita” (Sinode Quiercy 853: DS 624).

Sharing Iman:
www.sabda.org

Beberapa tahun lalu, sebuah penyelidikan yang dilakukan pemerintah Amerika mendapati bahwa beberapa pengemudi truk mengangkut sampah dengan truk pendingin yang biasanya digunakan untuk mengangkut makanan. Salah satu alasannya adalah bila truk yang melakukan perjalanan jauh harus kembali tanpa mengangkut apa pun, maka ongkosnya tidak akan mencukupi.

Dalam sidang dengar pendapat yang diadakan oleh Kongres, para pengemudi truk mengatakan bahwa sampah merupakan komoditas “favorit” karena mereka dibayar untuk mengangkut sesuatu yang tidak bisa rusak. Menjawab alasan itu, seorang pakar ilmu gizi mengatakan bahwa dengan melakukan hal itu, mereka ibarat menyajikan salad kentang dari tempat sampah yang sudah diacak-acak kucing.

Skandal “polusi demi mencari untung” ini belum apa-apa dibanding dengan yang diceritakan dalam Yohanes 2:13-22. Yesus mengusir para penukar uang dari Bait Allah karena niat mereka untuk mencari untung telah mengotori rumah Bapa-Nya. Namun yang juga sama buruknya adalah mengotori bait tubuh kita dengan pikiran dan perbuatan yang tidak semestinya (1 Korintus 6:19).

Dalam banyak hal, sebenarnya kita tidak lebih baik daripada para pengemudi truk atau para pedagang di Bait Allah pada zaman Yesus. Kita sering beranggapan bahwa akan lebih menguntungkan jika menyimpan sampah nilai-nilai kehidupan duniawi dalam benak kita. Semoga Allah mengampuni kita, membersihkan kita, dan membantu kita membuang apa saja yang mengotori bait Allah, di mana hanya Dia yang berhak menempatinya. Kita memang harus hidup di dunia, tetapi jangan biarkan dunia hidup dalam kita.

KEMULIAAN SALIB

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Abraham taat pada perintah Allah untuk mempersembahan Ishak, anaknya yang tunggal. Ketaatan Abraham mendatangkan berkat berlimpah baginya dan bagi keturunannya. (Bacaan I – Kejadian)
  2. Allah sangat mengasihi manusia sehingga Ia menyerahkan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal dan melimpahkan berkat melalui Putera-Nya itu. (Bacaan II – Roma)
  3. Dalam peristiwa transfigurasi Yesus menunjukkan bahwa Ia datang menggenapi Hukum Taurat Musa dan nubuat keselamatan Nabi Elia, serta menyatakan bahwa kemuliaan hanya dapat dicapai melalui penderitaan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Seandainya aku adalah Abraham, apa tanggapanku atas perintah dari Allah untuk mempersembahkan putera tunggal?
  3. Apakah aku percaya bahwa kemuliaan hanya dapat dicapai melalui penderitaan?
  4. Yesus adalah Putera Allah yang terkasih. Apa arti pernyataan itu bagiku?
  5. Apakah aku juga mau menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya? Apa usahaku?

 

Katekismus Gereja Katolik

554 Sejak saat Petrus mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah yang hidup, “Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh, dibangkitkan pada hari ketiga” (Mat 16:21). Petrus menolak pernyataan itu; juga yang lain-lain tidak mengerti perkataan itu. Dalam hubungan ini terdapatlah kejadian perubahan rupa Yesus yang penuh rahasia di atas gunung yang tinggi di depan tiga saksi yang terpilih oleh-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Wajah dan pakaian Yesus menjadi putih berkilau kilauan; Musa dan Elia nampak dan berbicara “tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk 9:31). Awan datang menaungi mereka dan satu suara dari surga berkata: “Inilah Anak Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:35).

555 Untuk sementara Yesus membiarkan kemuliaan ilahi-Nya bersinar, dengan demikian meneguhkan pengakuan Petrus. Ia juga menunjukkan bahwa Ia harus menderita kematian di salib di Yerusalem “untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya” (Luk 24:26). Musa dan Elia telah melihat kemuliaan Allah di alas gunung; hukum dan para nabi telah mengumumkan penderitaan Mesias. Kesengsaraan Yesus adalah kehendak Bapa. Putera bertindak sebagai Hamba Allah; awan adalah tanda kehadiran Roh Kudus; “Seluruh Tritunggal tampak: Bapa dalam surga, Putera  sebagai manusia, dan Roh Kudus dalam awan yang bersinar” (Tomas Aqu., S. Th. 3,45,4 ad 2).

556 Pada awal kehidupan-Nya di depan umum terdapat Pembaptisan, pada awal Paska perubahan rupa. Dalam Pembaptisan Yesus diumumkan “rahasia kelahiran baru yang pertama”: Pembaptisan kita; perubahan rupa adalah “Sakramen kelahiran kembali kedua”: kebangkitan kita (Tomas Aqu., S. Th. 3,45,4, ad 2). Sejak sekarang kita mengambil bagian dalam kebangkitan Tuhan melalui Roh Kudus, yang bekerja di dalam Sakramen-sakramen Gereja, Tubuh Kristus. Perubahan rupa memberi kepada kita satu bayangan mengenai kedatangan Kristus kembali dalam kemuliaan, “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:21). Tetapi ia juga mengatakan kepada kita bahwa kita “harus mengalami banyak sengsara untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Kis 14:22).

Sharing Iman
www.sabda.org

Kemuliaan tidak selalu berarti mahkota dan penghormatan. Saat membaca kisah biografi Ibu Teresa, saya menemukan bahwa kemuliaan bisa mengambil rupa karakter luhur yang rela berkorban demi melayani orang-orang miskin di Kalkuta, India. Ada kemuliaan dalam sikapnya yang menghargai manusia yang dibuang dan ditinggalkan keluarganya. Gaun yang sederhana dan hidup miskin demi mengabdi adalah sebentuk kemuliaan unik yang membangkitkan rasa kagum dan hormat kepada sosok Ibu Teresa.

Yesus banyak menyebut tentang kemuliaan. Namun, kerap kali yang Dia maksud adalah peristiwa penyaliban-Nya. Ya, berkorban bagi keselamatan manusia adalah sebuah kemuliaan. Meskipun itu berarti Dia harus dipermalukan dan dihina melalui proses penangkapan, penganiayaan, dan penyaliban. Namun, kemuliaan Bapa terpancar dalam kasih dan pengurbanan Kristus, Sang Anak Allah. Sungguh luar biasa. Dalam peristiwa paling memalukan sepanjang sejarah itu, di sana kemuliaan Bapa justru terpancar paling indah selama-lamanya.

Kemuliaan salib yang unik mengajak Anda untuk mengejar kemuliaan yang berbeda dari kemuliaan dunia. Kemuliaan yang bertolak belakang dengan kemuliaan harta dan takhta. Kemuliaan salib adalah inspirasi bagi kemuliaan hidup berkorban dan mengabdi. Hidup tidak untuk diri sendiri, tetapi demi panggilan ilahi melayani dunia ini. Ada sebentuk kemuliaan dalam pengorbanan. Ada sebentuk kehormatan dalam kehinaan demi panggilan. Dalam kemuliaan ini, ada kebahagiaan yang kualitasnya sangat berbeda. Begitu luhur, begitu ilahi. Maukah Anda ikut ambil bagian dalam kemuliaan yang unik ini?

BERTOBATLAH, KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah menjanjikan keselamatan kepada Nabi Nuh, keturunannya, dan segala makhluk hidup dan Ia akan selalu setia pada janjiNya. (Bacaan I – Kejadian)
  2. Yesus wafat dan bangkit untuk keselamatan manusia, yang menantikan pemenuhan janji Allah. (Bacaan II – 1Petrus)
  3. Yesus memulai karyaNya dengan berpuasa di padang gurun dan mengalahkan pencobaan. Ia memanggil semua orang untuk bertobat dan percaya pada Injil. (Bacaan Injil – Markus)

 

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya pada janji keselamatan dari Allah, seperti Nabi Nuh?
  3. Apakah aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah pemenuhan janji keselamatan dari Allah?
  4. Apakah aku pernah mengalami pencobaan? Apa?
  5. Bagaimana aku menghadapi pencobaan itu?

Katekismus Gereja Katolik

538 Injil-injil berbicara tentang waktu kesendirian yang Yesus lewati di sebuah tempat sunyi, langsung sesudah pembaptisan-Nya oleh Yohanes: “Dibawa” oleh Roh Kudus ke padang gurun, Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari, tanpa makan. Ia hidup di antara binatang-binatang buas, dan malaikat-malaikat melayani-Nya. Pada akhirnya setan mencobai-Nya sebanyak tiga kali, dengan berusaha menggoyahkan sikap keputeraan Yesus terhadap Allah. Yesus menampik serangan-serangan ini, dalamnya cobaan Adam di firdaus dan cobaan Israel di padang gurun sekali lagi diangkat ke permukaan, dan setan mundur dari hadapan-Nya, supaya kembali lagi “pada waktunya” (Luk 4:13).

539 Injil-injil menunjukkan arti keselamatan dari kejadian yang penuh rahasia ini. Yesus adalah Adam baru, yang tetap setia, sedangkan Adam pertama menyerah kepada percobaan. Yesus melaksanakan perutusan Israel secara sempurna. Bertentangan dengan mereka yang dulu selama empat puluh tahun di padang gurun menantang Allah, Kristus memperlihatkan Diri sebagai Hamba Allah, yang taat sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dengan demikian Yesus adalah pemenang atas setan: ia sudah “mengikat orang kuat”, untuk merampas kembali darinya jarahannya. Kemenangan Kristus atas penggoda di padang gurun mendahului kemenangan kesengsaraan, bukti ketaatan cinta-Nya yang paling tinggi sebagai anak kepada Bapa-Nya.

540 Percobaan itu menunjukkan, atas cara apa Putera Allah itu Mesias, bertentangan dengan peranan yang setan usulkan kepada-Nya dan di mana manusia lebih senang melihatnya. Karena itu Kristus mengalahkan penggoda demi kita. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Oleh masa puasa selama empat puluh hari setiap tahun, Gereja mempersatukan diri dengan misteri Yesus di padang gurun.

Sharing Iman
www.sabda.org

Sebelum saya cukup dewasa untuk mendapatkan SIM, saya sering memikirkan bagaimana rasanya mengendarai mobil di jalan raya. Saya kuatir kalau-kalau nanti saya akan tergoda untuk melaju dengan kecepatan penuh. Saya tidak tahu apakah saya akan dapat mengontrol diri untuk mengemudi menurut batas kecepatan dan syarat-syarat mengemudi yang telah ditentukan atau tidak. Namun ketika saya sudah berumur 16 tahun, saya menyadari bahwa saya pasti dapat mengontrol pedal gas, dan bukan sebaliknya.

Pernahkah Anda mendengar seseorang membenarkan dosanya, dengan menyatakan bahwa pencobaan yang datang itu tak tertahankan sehingga ia tidak punya pilihan lain? Atau, pernahkah Anda bertanya-tanya bahwa apa yang Anda lakukan itu sebenarnya bukan dosa? Bahkan Anda juga beralasan, bukankah kesempatan yang unik ini datang pada saat yang tepat dan memberikan apa yang Anda butuhkan?

Kita dapat belajar dari pencobaan yang dialami oleh Yesus Kristus, yakni bahwa saat kita memiliki kesempatan untuk berbuat dosa, Allah akan selalu menyediakan jalan keluar bagi kita atau Dia akan memberi kita kekuatan untuk menanggungnya (Lukas 4:1-13; 1Korintus 10:13). Dengan mengandalkan Roh Kudus dan Firman Allah, seperti yang dilakukan oleh Yesus, kita pasti akan dapat bertahan terhadap pencobaan dan bukan dihancurkan olehnya. Bagi orang Kristen, tidak ada pencobaan yang tak tertahankan. Setiap pencobaan adalah sebuah kesempatan untuk semakin mempercayai Allah.

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Diterangkan/dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Februari 2018

“MENGASIHI DENGAN KATA DAN PERBUATAN”

 Yang sangat saya kasihi Anak-anak, Remaja, Kaum Muda, Ibu, Bapak, Frater, Suster, Bruder, dan para Rama. Berkah Dalem.

Kita akan memasuki masa empat puluh hari sebelum Paskah (quadragesima) yang kita namakan Masa Puasa dan Pantang dalam Masa Prapaskah. Masa Prapaskah ini akan kita mulai pada Hari Rabu Abu, 14 Februari 2018 mendatang. Selama empat puluh hari, seluruh umat Katolik mendapat kesempatan istimewa untuk secara terus menerus melakukan gladi rohani atau retret agung, guna mengenangkan kembali atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan serta melakukan amal kasih (bdk. Konstitusi Liturgi 109).

Dalam Masa Prapaskah, kita akan membarui dan menyucikan diri dengan olah

kesalehan hidup dan matiraga yang dilandasi oleh pengharapan dan syukur atas melimpahnya rahmat belas kasih Allah kepada kita, manusia yang penuh dengan kerapuhan dan dosa. Secara pribadi dan bersama-sama, kita diajak untuk kembali mengarahkan hidup kepada Allah dan ikut serta dalam usaha membangun KerajaanNya, dimanapun kita berada. Pertobatan sejati mengundang kita untuk berani mengubah perilaku dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial agar tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan, terutama bagi saudari-saudara yang menderita dan berkekurangan. Sebab, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 58:6-7).

Saudari-saudaraku yang terkasih, Tuhan Yesus telah memberi teladan untuk senantiasa memiliki hati yang penuh belas kasih dan peduli terhadap saudari-saudara kita yang menderita, berkekurangan, dan tersingkir. Dalam bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, Santo Markus (Mrk 1:40-45) menceritakan bagaimana Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan dan menyambut seorang kusta yang datang memohon kesembuhan dariNya. Seperti kita ketahui,  pada zaman Yesus, seorang kusta harus mengalami nasib dikucilkan, dihina, dan disingkirkan dari masyarakat. Meskipun demikian, Tuhan Yesus justru dengan sepenuh hati menyambut orang kusta tersebut: mengulurkan tangan, menjamah orang itu, dan menyembuhkannya.

Sebagai murid-murid Kristus, kita pun diundang untuk memiliki hati yang tergerak oleh belas kasih, menyambut dan merengkuh saudari-saudara yang menderita, berkekurangan, dan terpinggirkan dari masyarakat. Untuk itulah, dalam gerakan Aksi Puasa Pembangunan tahun 2018 ini, kita  merenungkan tema “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan”. Melalui permenungan ini, kita mau belajar terlibat memberi dukungan pada orang lain, terutama dengan berbelarasa terhadap saudari-saudara yang sangat membutuhkan. Semoga abu yang akan kita terima dalam perayaan Hari Rabu Abu nanti, senantiasa mengingatkan kita akan kerapuhan dan kedosaan kita. Bahkan lebih dari itu, mendorong untuk senantiasa bersyukur atas kelimpahan rahmat belas kasih Allah yang memungkinkan kita untuk mencari, menemukan, menyambut, dan merengkuh mereka yang sakit, menderita, dan berkekurangan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa hari Jumat, 16 Februari 2018, merupakan Tahun Baru Imlek, yang juga merupakan hari pantang. Karena itu bagi umat Katolik yang akan merayakan tahun baru Imlek ini, saya ajak untuk menempatkan perayaan syukur atas tahun baru ini dalam konteks dan semangat Prapaskah, yakni pertobatan yang ditandai antara lain dengan puasa dan pantang. Kesempatan berkumpul bersama keluarga dan sahabat pada hari Kamis atau Jumat, tanggal 15 atau 16 Februari, serta perayaan Cap Go Meh, hendaknya dihayati sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat kehidupan yang Tuhan berikan. Selain itu juga menjadi kesempatan untuk mewujudkan kasih kekeluargaan dan persaudaraan yang semakin nyata diantara anggota keluarga dan para sahabat, dengan saling berbagi. Karena itu, hendaknya perayaan tahun baru Imlek dirayakan dalam semangat berbagi berkah yang semakin besar, khususnya bagi yang berkekurangan. Dengan cara ini kita ungkapkan kasih bukan hanya dengan kata-kata saja, namun dengan perbuatan nyata.

Saudari-saudaraku yang terkasih, pada saat yang istimewa ini, saya berdoa untuk siapapun yang sedang sakit, berkekurangan, menanggung beban kehidupan yang berat, difabel, berkebutuhan khusus, dan lanjut usia. Selamat memasuki gladi rohani empat puluh hari dengan tekun, setia, dan tenanan. Semoga Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, dan memberikan penghiburan. Rahmat belas kasih Allah senantiasa melimpah bagi Saudari-saudara semua.

PERATURAN PUASA DAN PANTANG  TAHUN 2018

Mengacu pada Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa tahun 2016, pasal 138 no. 2.b tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang bagi umat katolik KAS ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari puasa tahun 2018 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 14 Februari 2018, dan Jumat Agung tanggal 30 Maret 2018. Hari pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur antara 18 tahun sampai dengan awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang telah berumur genap 14 tahun.
  3. Puasa dalam arti hukum, berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari. Pantang dalam arti hukum, berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai.
  4. Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama (misalnya dalam keluarga, lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/biara/ seminari), menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal yang sangat kami anjurkan untuk dibuat, antara lain:
    1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau paguyuban, dicari bentuk-bentuk puasa dan pantang yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan usia lanjut.
    2. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah, secara pribadi atau secara bersama-sama dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari, memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih.
    3. Menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan amal/karitatif ataupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi perwujudan belarasa dan upaya keutuhan alam semesta, serta bagi masyarakat sekitar.
    4. Hendaknya diusahakan agar setiap orang Katolik, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaruan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, gladi rohani, ibadat jalan salib, ziarah, pengakuan dosa, meditasi, dan adorasi.
  5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan, dan nasional. Tema APP tahun 2018 ini adalah: “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.
  6. Terkait dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2018, saya anjurkan beberapa hal berikut:
    1. Jumat, 16 Februari 2018, sebagai tahun baru Imlek tetap kita perlakukan sebagai hari pantang. Maka bagi umat Katolik KAS yang merayakan Tahun Baru Imlek, hendaknya tetap melakukan pantang pada hari itu atau, jika tidak memungkinkan, hendaknya melakukan pantang pada hari lain sebagai pengganti.
    2. Umat Katolik KAS diperkenankan merayakan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 16 Februari 2018, atau hari-hari setelahnya dengan tetap mengindahkan ketentuan liturgi masa Prapaskah, dan tetap mengembangkan semangat berbelarasa dan berbagi rezeki, khususnya kepada saudari-saudara kita yang miskin, menderita, tersingkir dan berkebutuhan khusus.

Salam, doa, dan Berkah Dalem
2 Februari 2018, pada Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah.

Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

 

           † Mgr. Robertus Rubiyatmoko

“JADILAH TAHIR”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Melalui Musa dan Harun, Allah menetapkan aturan bagi orang yang terkena sakit kusta, sebagai bagian dari panggilan untuk menjaga kesucian di hadapan Allah. (Bacaan I – Imamat)
  2. Paulus mengajak jemaat Korintus untuk senantiasa memuliakan Allah dan tidak menjadi sandungan bagi orang lain. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus menyembuhkan orang kusta sebagai wujud kasih dan keberpihakan Allah kepada orang yang menderita. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku pernah/sedang mengalami sakit, baik fisik maupun psikis?
  3. Apa yang aku lakukan untuk memperoleh kesembuhan?
  4. Apakah aku sudah mengalami kesembuhan?
  5. Apakah yang akan aku lakukan untuk membantu orang lain yang sedang sakit fisik atau psikis?

KUASA KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Melalui Nabi Musa, Allah menjanjikan seorang nabi yang besar bagi bangsa Israel, yang akan menuntun mereka kepada keselamatan. (Bacaan I – Ulangan)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa melakukan hal yang benaar dan baik serta memusatkan perhatian hanya kepada Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus tampil sebagai pribadi yang penuh kuasa. Kuasa itu tidak berasal dari hukum tertulis atau tradisi seperti yang dimiliki para ahli Taurat, melainkan dari Diri-Nya sendiri sebagai Putera Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, Yang Kudus dari Allah?
  3. Apakah aku sudah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk memusatkan perhatianku kepada Tuhan?
  4. Seandainya aku adalah salah satu dari orang banyak dalam Injil, apakah yang akan aku wartakan tentang Yesus?
  5. Menurutku, mengapa roh-roh jahat pun taat kepada Yesus?

Katekismus Gereja Katolik

2331    “Allah itu cinta kasih. Dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persekutuan cinta kasih antar-pribadi. Seraya menciptakan umat manusia menurut citra-Nya sendiri … Allah mengukirkan panggilan dalam kodrat manusia pria dan wanita, dan karena itu juga kemampuan serta tanggung jawab untuk hidup dalam cinta dan dalam persekutuan” (FC 11).

“Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya …. Sebagai pria dan wanita Ia menciptakan mereka” (Kej 1:27). “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Kej 5:1-2).

2332    Seksualitas menyentuh segala aspek manusia dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Ia terutama menyangkut kehidupan perasaannya, kemampuan untuk mencintai, dan untuk melahirkan anak, dan lebih umum, kemungkinan untuk mengikat tali-tali persekutuan dengan orang lain.

2333    Tiap manusia, apakah ia pria atau wanita, harus mengakui dan menerima seksualitasnya. Perbedaan dan kesesuaian jasmani, moral, dan rohani ditujukan kepada pernikahan dan pengembangan hidup kekeluargaan. Keserasian suami isteri dan masyarakat untuk sebagiannya bergantung pada bagaimana kesalingan, kebutuhan, dan usaha saling membantu dari pria dan wanita itu dihayati.

2334    “Ketika menciptakan manusia sebagai pria dan wanita, Allah menganugerahkan kepada pria dan wanita martabat pribadi yang sama dan memberi mereka hak-hak serta tanggung jawab yang khas” (FC 22)Bdk. GS 49,2.. “Manusia bersifat pribadi: itu berlaku sama untuk pria dan wanita; karena kedua-duanya diciptakan menurut citra dan keserupaan Allah pribadi” (MD 6).

2335    Kedua jenis kelamin mempunyai martabat yang sama dan, walaupun atas cara yang berbeda-beda, merupakan citra kekuatan dan cinta kasih Allah yang lemah lembut. Persatuan suami isteri dari pria dan wanita mencontohi kedermawanan dan kesuburan Pencipta secara jasmani. “Seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Kesatuan ini adalah pangkal seluruh keturunan manusiaBdk. Kej 4:1-2.25-26; 5:1..

2360 Seksualitas diarahkan kepada cinta suami isteri antara pria dan wanita. Di dalam perkawinan keintiman badani suami dan isteri menjadi tanda dan jaminan persekutuan rohani. Ikatan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis, dikuduskan oleh Sakramen.

2361 Oleh karena itu seksualitas, yang bagi pria maupun wanita merupakan upaya untuk saling menyerahkan diri melalui tindakan yang khas dan eksklusif bagi suami isteri, sama sekali tidak semata-mata bersifat biologis, tetapi menyangkut inti yang paling dalam dari pribadi manusia. Seksualitas hanya diwujudkan secara sungguh manusiawi, bila merupakan suatu unsur integral dalam cinta kasih, yaitu bila pria dan wanita saling menyerahkan diri sepenuhnya seumur hidup” (FC 11).

Sharing Iman
www.sabda.org

Dengan kata-kata pujian, seorang ibu menumbuhkan rasa percaya diri pada anaknya. Dengan menebar fitnah, seorang karyawan menghancurkan karier koleganya. Begitulah daya kekuatan kata-kata! Mulut manusia dapat menghasilkan perkataan yang membangun atau menghancurkan.

Pada waktu Allah menciptakan alam semesta, Dia bersabda, maka semuanya jadi. Allah memperkatakan firman dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan perkataan-Nya. “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Perkataan Allah mengandung daya cipta yang mengagumkan. Beruntung karena Allah itu Mahabenar, Mahabaik. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia. Diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Diberi akal budi. Diberi kuasa atas seluruh bumi. Di dalam Yesus Kristus manusia juga beroleh persekutuan dengan Roh Kudus serta menerima karunia rohani.

Perkataan lidah kita pun memiliki pengaruh. Karena itu, semestinya kita menggunakan lidah sesuai dengan jati diri kita sebagai anak-anak Allah. Menggunakan lidah untuk mengatakan hal-hal yang baik dan benar selaras dengan kebaikan dan kebenaran-Nya. Bukan dengan niat untuk merusak dan menghancurkan sesama, melainkan untuk membangun mereka. Untuk mengingatkan diri sendiri dan sesama akan kasih Allah dan akan identitas baru kita sebagai anak-anak-Nya. Kiranya perkataan lidah kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang kita temui dalam keseharian. Kiranya kebaikan dan kebenaran Allah kita pancarkan pula melalui perkataan lidah.

“PANGGILAN PERTOBATAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yunus dipanggil dan diutus Allah untuk mewartakan pertobatan kepada orang Niniwe. (Bacaan I – Yunus)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk hidup murni dan lepas bebas agar siap menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus memanggil para murid untuk mewartakan pertobatan. Pertobatan adalah sikap batin yang tepat dalam menyambut datangnya Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus memanggilku untuk mengikuti-Nya? Apa tandanya?
  3. Panggilan Tuhan adalah ajakan untuk bertobat. Dalam hal apa aku perlu bertobat? Pertobatan apa yang akan aku lakukan?

Katekismus Gereja Katolik

1427 Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”(Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan (Kis 2:38). orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru.

1428 Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (LG 8). Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan manusia belaka. Ia adalah usaha “hati yang patah dan remuk” (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan (Yoh 6:44; 12:32), untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita (1 Yoh 4:10).

1429 Hal ini dibuktikan pertobatan Petrus sesudah ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Pandangan Yesus yang penuh belas kasihan mencucurkan air mata penyesalan (Luk 22:61) dan sesudah kebangkitan Tuhan, Petrus menjawab “ya” sebanyak tiga kali atas pertanyaan Yesus, apakah ia mencintai-Nya (Yoh 21:15-17). Pertobatan kedua juga memiliki satu dimensi persekutuan. Ini dinyatakan dalam satu seruan yang disampaikan oleh Yesus kepada satu umat secara keseluruhan: “Bertobatlah” (Why 2:5.16). Santo Ambrosius mengatakan tentang dua macam pertobatan; di dalam Gereja ada “air dan air mata: air Pembaptisan dan air mata pertobatan” (ep. 41,12).

Sharing Iman www.sabda.org

Anak Allah tidak hanya dilahirkan di tempat yang tidak layak dan dengan orangtua yang kita anggap tidak layak, tetapi Dia juga memilih para pengikut-Nya di tempat yang tidak layak. Dia tidak mencari murid di sekolah-sekolah agama untuk mendapatkan murid yang terpelajar. Dia tidak mendekati para negarawan yang cakap dan para orator yang terkenal. Sebaliknya, Yesus pergi ke Danau Galilea dan memanggil empat nelayan biasa, yakni Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. “Pilihan yang buruk,” kata sebagian orang. “Orang-orang yang tidak terpelajar. Orang-orang yang keras. Apa mereka tahu bagaimana memulai suatu gerakan yang mendunia? Mereka bahkan takkan mampu mengendalikan orang banyak jika mereka harus melakukannya.”

Kini, atas nama para nelayan di mana pun berada, saya katakan bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak sifat positif. Mereka adalah orang-orang yang panjang akal, berani, dan sabar. Mereka adalah orang-orang yang membuat rencana dengan hati-hati dan selalu memelihara peralatan kerja mereka. Sifat seperti itu sangat membantu dalam melaksanakan Amanat Agung (Mat 28:19-20), tetapi saya rasa bukan karena itu Yesus memilih orang-orang tersebut. Saya yakin Dia ingin memperlihatkan bagaimana Allah dapat mengubah orang biasa menjadi “penjala manusia” (Mrk 1:16-17).

Pekerjaan Allah sering kali dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap tak layak dari tempat yang tak layak pula, yakni seperti Anda dan saya. Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mengikuti Dia yang dapat menjadikan kita penjala manusia. Allah memakai orang biasa untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. (David Egner)

“TINGGAL BERSAMA TUHAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Samuel tinggal di Bait Allah dan berproses mengenali panggilan Tuhan dalam hidupnya. (Bacaan I – 1 Samuel)
  2. Allah berkenan tinggal di dalam diri manusia, maka manusia harus senantiasa menjaga kemurnian tubuh dan jiwanya. (Bacaan II – 1 Kor)
  3. Pengalaman para murid mengikuti dan tinggal bersama Yesus menjadikan mereka sebagai pewarta Injil. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa arti Yesus: Anak Domba Allah?
  3. Apakah yang aku cari dalam hidup ini?
  4. Apakah aku menemukan Tuhan dalam hidupku? Kapan? Bagaimana caranya?
  5. Apakah aku menyediakan waktu yang cukup untuk tinggal bersama Tuhan dalam doa setiap hari?

Katekismus Gereja Katolik

787 Sejak awal, Yesus membiarkan para murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah dan memberikan mereka bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya dan dalam kesengsaraan-Nya. Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Ia menyatakan satu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

788 Ketika Ia tidak hadir lagi secara kelihatan di tengah murid-murid-Nya, Yesus tidak meninggalkan mereka sebagai yatim piatu. Ia menjanjikan, tinggal beserta mereka sampai akhir zaman, dan mengutus kepada mereka Roh-Nya. Dalam arti tertentu persekutuan dengan Yesus dipererat lagi: “Sebab Ia telah mengumpulkan saudara-saudarinya dari segala bangsa, dan dengan mengurniakan Roh-Nya Ia secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya” (LG 7).

789 Perbandingan Gereja dengan tubuh menyoroti hubungan yang mesra antara Gereja dan Kristus. Gereja tidak hanya terkumpul di sekeliling-Nya, tetapi dipersatukan di dalam Dia, dalam Tubuh-Nya. Tiga aspek Gereja sebagai Tubuh Kristus perlu ditonjolkan secara khusus: kesatuan semua anggota satu dengan yang lain oleh persatuannya dengan Kristus; Kristus sebagai Kepala Tubuh; Gereja sebagai mempelai Kristus.

Sharing Iman  www.sabda.org

Sebuah pepatah berbunyi, “Meski sederhana, tak ada tempat yang seteduh rumah sendiri.” Namun benarkah kita menginginkan rumah yang sederhana? Tragisnya, masih banyak orang yang tidak punya rumah, walau yang sederhana sekalipun. Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur atas rumah yang sudah kita miliki.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjalani kehidupan yang menguji keyakinan saya. Selama sepuluh bulan saya harus tinggal di satu ruangan besar yang di dalamnya hanya terdapat benda-benda kebutuhan primer, tak lebih, tak kurang. Sepanjang waktu tersebut Tuhan mengajari saya untuk puas dengan semua itu. Akhirnya saya pun berkeyakinan: “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Sesungguhnya tempat perteduhan orang kristiani bukanlah rumah yang terbuat dari batu dan adukan semen, melainkan Allah sendiri.

Saya menjadi agak enggan saat tiba waktunya untuk meninggalkan ruangan yang berharga itu dan kembali ke rumah saya sendiri. Namun saya memahami bahwa di mana pun saya tinggal, baik hari ini maupun di masa mendatang, Allah tetaplah tempat perteduhan saya yang sejati untuk selamanya.

Kata-kata berikut terdapat pada papan di luar sebuah gereja di Inggris: “Di mana pun Anda tinggal bukanlah masalah, sepanjang Anda tinggal di tempat yang tepat.” Bila Allah adalah tempat perteduhan Anda, berarti Anda tinggal di tempat yang tepat. Jika Anda tidak puas di tempat Anda berada, percayalah dan bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang telah Dia berikan untuk Anda. (JEY)