Tidur

Tidur adlh peristiwa alamiah. Dg tidur, badan yg penat dan beban yg berat dipulihkan kembali dan orang menjadi lebih sehat serta semangat saat bangun tidur. Meski demikian, kalau kita tertidur pd saat-saat penting misalnya mengikuti rapat, Ekaristi, seminar, dsb, peristiwa itu mjd hal yg seringkali dipandang kurang sopan. Lagipula dg tertidur, hal-hal penting dlm suatu aktivitas yg sedang diikuti itu bisa terlewatkan begitu saja. Hal yg sama dialami Petrus, Yakobus dan Yohanes yg diajak Yesus ke sebuah bukit utk menemani-Nya berdoa, malah jatuh tertidur. Ketiga bangun, geragapanlah mereka dan Petrus angkat bicara utk mendirikan 3 kemah tetapi Petrus sendiri tdk tahu apa yg dikatakannya itu. Dlm ketakjuban krn Yesus berubah rupa, terdengarlah suara dari dlm awan, “Inilah Anak-Ku yg Kupilih, dengarkanlah Dia!”

Kita pun diajak bersama Yesus bertekun selama masa Prapaska: berdoa dan tdk justru tertidur; serta mendengarkan Sabda-Nya dan melaksanakannya. Mari kita tetap bersiap-siaga dan dg penuh semangat melaksanakan matiraga 40 hari. Jangan tertidur! ***d2t

Tentang Epifania (Penampakan Tuhan)

Manakah yang benar, Epifani dikaitkan dengan kunjungan tiga Raja kepada Yesus, atau dikaitkan dengan pembaptisan Yesus? Bukankah kedua peristiwa itu jauh terpisah, mengapa dirayakan bersama?

Bertrandus Rubi.

Kita harus mengetahui dulu apa arti Epifania. Kata ini diterjemahkan sebagai penampakan Tuhan, artinya bahwa peristiwa yang terjadi mengungkapkan keilahian Yesus Kristus, bahwa Yesus adalah Allah. Pengungkapan keilahian ini terjadi pada beberapa peristiwa, bukan hanya satu peristiwa saja. Karena itu, kedua peristiwa yang Anda rujuk memang dikaitkan dengan pengungkapan keilahian Yesus, bahkan juga ada perkawinan di Kana yang mengungkapkan keilahian Yesus.

Pertama, Epifania diungkapkan dalam kunjungan para Majus atau sering disebut tiga Raja, yaitu melalui persembahan yang mereka bawa, yaitu dupa sebagai persembahan untuk menghormati Allah (Mat 1:11).

Kedua, penampakan keilahian Yesus muncul dalam pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, yaitu dalam kata-kata yang terdengar di langit: ”Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk 3:22; Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 9:35).

Ketiga, perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) yang mengungkapkan keilahian Kristus lewat mukjizat yang pertama.

Sudah sejak abad IV, pesta Epifania dikaitkan dengan empat peristiwa, yaitu kelahiran Kristus, sembah sujud orang Majus, pembaptisan-Nya, dan perkawinan di Kana.

Dr. Petrus Maria Handoko, CM

*Dikutip dari Majalah HIDUP online

Menuju Tuhan

Dunia modern identik dg aneka kemajuan dlm berbagai bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan, transportasi serta komunikasi, misalnya, terus mengalami percepatan yg luar biasa. Tentu semua itu patut kita syukuri. Meski demikian, ada yg memprihatinkan pula dlm arus modernitas itu khususnya dlm penghayatan iman. Banyak orang semakin pandai tetapi ada kecenderungan utk semakin sekular dan bahkan tdk lagi meyakini Allah (atheis). Melalui tiga majus dari Timur (ahli astronomi) kita diajak utk melihat bagaimana usaha mereka utk terus mencari dan menemukan Allah. Melalui ilmu pengetahuan yg mereka kuasai, mereka justru makin mendekat kepada Allah dan tdk malah menyingkirkan-Nya. Ketiga majus itu juga menjadi gambaran akan orang-orang yg selalu rindu utk menemukan Allah Sang Sumber Kebenaran. Meskipun mereka pandai tetapi tidak menjadi sombong diri. Mereka akhirnya dituntun sampai di Betlehem. Ilmu pengetahuan mengantar mereka utk menemukan Allah. Sudahkah aku berupaya utk terus menemukan Allah dan kehendak-Nya?***d2t

Apa itu Epifani & Siapakah Orang-orang Majus?

Di masa silam para raja mempunyai kebiasaan untuk setiap tahun sekali mengunjungi berbagai desa dan kota di wilayah kerajaannya. Mereka mengadakan sidang untuk mengambil keputusan-keputusan, baik keputusan pengadilan maupun keputusan politik. Kunjungan-kunjungan seperti itu dimaksudkan untuk mengingatkan rakyat bahwa raja masih mengendalikan kekuasaan. Dalam bahasa Yunani kunjungan seperti itu disebut epiphaneia, yang artinya “untuk menampakkan diri” atau unjuk kekuasaan. Tuhan menampakkan diri atau Epifani kepada dunia ketika Ia datang di Betlehem. Sarjana dari Timur, atau disebut juga orang-orang Majus, adalah seperti utusan-utusan untuk menyambut kedatangan-Nya.

Hadiah-hadiah yang dibawa oleh ketiga orang majus itu adalah simbol bagi misi dan karakter penyelamat Yesus Kristus. Emas: logam yang sangat berharga, melambangkan pribadi Yesus Kristus sebagai hadiah yang sangat mahal dari Allah untuk manusia. Kemenyan: lambang imamat Yesus Kristus yg datang ke dunia utk mempersembahkan seluruh hidup-Nya bagi kemuliaan Bapa di surga dan bagi keselamatan umat manusia. Sedangkan mur (getah dari pohon mor yang baunya wangi) melambangkan kematian Yesus, di mana tubuh-Nya diurapi saat pemakaman-Nya. Hari Raya Epifani dulu disebut sebagai Pesta Tiga Raja, sekarang disebut sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan.

Sumber: www.yesaya.indocell.net

Dalam tradisi Kristen, Orang majus (dari bahasa Latin: magus) atau Orang Bijak juga Raja-raja dari Timur sering dianggap sebagai orang dari kerajaan Media, mungkin pendeta Zoroastrian, atau mungkin juga magi (bentuk plural dari magus) yang mengenal astrologi dari Persia kuno. Injil Matius menyatakan bahwa mereka datang dari timur ke Yerusalem untuk menyembah Kristus. MenurutMatius mereka berjalan dengan mengikuti sebuah bintang yang datang dan dikenal sebagai Bintang Natal. Saat mereka mendekati Yerusalem, Herodes mencoba menjebak mereka untuk memberitahu keberadaan Yesus, supaya Yesus dapat dibunuhnya. Saat mereka menemukan Yesus, para orang bijak ini memberikan hadiah-hadiah: emas, kemenyan, dan mur. Raja-raja dari timur ini kemudian diperingatkan dalam mimpi oleh malaikat atas rencana jahat Herodes terhadap bayi Yesus dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang melalui jalur lain. Hal ini menyebabkan Herodes bertindak untuk membunuh semua anak kecil di Betlehem sebagai usaha untuk menggagalkan nubuatan mengenai raja yang baru lahir dan menghilangkan saingan yang dianggapnya akan merebut tahtanya. Namun pada saat pembantaian, orang tua Yesus telah diperingatkan oleh malaikat untuk mengungsi ke Mesir hingga Herodes mati.

Kudus

Empat lilin di korona adven telah menyala! Itu artinya, semakin dekatlah Natal yg akan kita rayakan utk mensyukuri kasih setia Allah kepada umat manusia melalui peristiwa inkarnasi. Sungguh Sang Firman telah menjadi manusia (Yoh 1:14) sebagaimana dinyatakan dlm Kitab Suci,“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dg Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).Bersama Bunda Elisabet, kita diajak bersyukur dan memuji kasih setia Allah sebagaimana diserukan, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Kegembiraan Elisabet meluap semata-mata karena Maria, sang perawan terberkati dan yg sedang mengandung Sang Firman mengunjungi dan menyampaikan salamnya. Salam dari Maria membuat jabang bayi dlm kandungan Elisabet melonjak kegirangan. Salam dari Maria membuat siapa pun yang menerima salam itu diberkati dg kegembiraan krn salam itu adalah salam penuh kasih, salam persaudaraan, salam kedamaian dan bukan salam tempel (utk menyuap). Pada Minggu adven IV ini, marilah kita mohon kepada Allah Mahakasih agar hati dan budi, jiwa dan raga kita sungguh siap utk merayakan syukur inkarnasi Sang Firman itu dengan sepenuh hati. Semoga kita pun mampu menghadirkan salam kedamaian, salam kasih, salam persaudaraan kepada siapa pun yg kita jumpai sehingga salam itu menjadi sebentuk doa syukur. Kata-kata kita hendaklah menjadi kata-kata/salam yg meneguhkan dan membangkitkan siapa pun utk tetap gembira, semangat dan hidup dlm kebenaran Allah. Jangan sia-siakan kata-kata yg keluar dari mulut kita dg sumpah-serapah (Jawa: pisuhan/misuh-misuh) sebab pikiran, mulut dan lidah bahkan tubuh kita ini dikuduskan bagi kemuliaan Allah (1 Kor 6:19-20)***d2t

Maturnuwun

Seorang anak pergi dari rumah krn bertengkar dg ibunya. Saat berjalan tanpa tujuan, ia baru sadar kalau tdk membawa uang. Ia lapar & ingin sekali memesan semangkuk bakmi. Pemilik warung melihat anak itu berdiri lama di depan warung, lalu bertanya “Kamu ingin memesan bakmi?” “Ya, tapi aku tdk punya uang.” “Tdk apa-apa, tenang saja!” jawab si pemilik warung.

Anak itu segera makan. Air matanya berlinang. “Ada apa, Nak?” tanya pemilik warung. “Tdk apa-apa, aku terharu krn orang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi sedangkan ibuku mengusirku dari rumah. Bapak begitu peduli padaku.” “Mengapa berpikir begitu? Renungkan, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu; sementara ibumu telah memasak bakmi, nasi, menyusuimu, dll. sampai kamu dewasa, harusnya kamu lebih berterima kasih kepadanya.”

Anak itu kaget mendengarnya. “Mengapa aku tdk berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari org yg baru kukenal aku begitu berterima kasih, tapi terhadap ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku justru tak pernah berterimakasih!”

Anak itu menghabiskan bakminya lalu bergegas pulang. Ibunya dg wajah cemas berkata, “Nak, telah kusiapkan makan malam untukmu.” Mendengar itu, si anak menangis di depan ibunya.

Ingatlah: Seringkali, satu kesalahan membuat kita mudah melupakan kebaikan yg kita nikmati/terima setiap hari. Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada org lain utk suatu pertolongan kecil. Namun kepada orang yg sangat dekat dg kita khususnya orang tua, suami/istri, anak-anak, kita justru sering lupa utk berterima kasih. ***d2t

Tobaaaaat

Pertobatan (Yunani: metanoia) bukanlah sekedar diucapkan dlm sebuah pengakuan dosa tetapi haruslah dinyatakan dlm tindakan nyata. Yohanes Pembaptis memberikan nasihat sangat konkret saat banyak orang bertanya wujud pertobatan macam apa yg harus dilakukan. Di satu sisi, pertobatan mengarah kepada perubahan diri (internal). Di sisi lain, pertobatan juga mengarah kepada sesama (eksternal). Bagaimanapun juga, dosa melukai relasi kasih dg diri pribadi, dg sesama dan dg Allah bahkan juga alam semesta. Sakramen tobat yg dikaruniakan oleh Yesus kepada kita, menjadi langkah awal untuk kembali membangun relasi kasih yg terluka oleh dosa. Sudahkah aku secara rutin mengakukan dosa-dosaku? Ingat: Janganlah menumpuk dosa bahkan sampai bertahun-tahun sebab sangatlah celaka orang yg tdk pernah merasa berdosa shg merasa tdk perlu mengakukan dosanya.**d2t

Sumber: Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

Tentang Masa Adven**

Tentang Masa Adven**

Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.

Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.

**dikutip dan diedit dari yesayaindocell.net

Jaga diri

Hari ini, kita memasuki Minggu Adven I yg sekaligus merupakan tahun liturgi baru dalam rangkaian tahun liturgi Gereja: A-B-C. Kita memasuki tahun liturgi C. Adven berasal dari kata adventus (Latin) yang artinya datang. Kedatangan siapa? Tiada lain adalah Yesus Kristus Juruselamat. Injil hari ini juga mengajak kita untuk mempersiapkan diri menyambut Sang Juruselamat itu. Memang terasa miris pewartaan Injil tsb. karena terkait dengan situasi khaos (baca: keos artinya kacau balau) yg akan terjadi saat semesta ini sampai pada kesudahannya yaitu akhir zaman. Meski demikian, kita mendapat peneguhan dari Tuhan, “Apabila semuanya itu terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” Oleh karena itu, kita harus semakin beriman dan percaya kepada-Nya total krn kedatangan-Nya akan menjadikan dari situasi yg semula khaos menjadi khairos (teratur, damai, penuh berkat). Tuhan mengajak kita utk hidup dlm khairos “…jagalah dirimu, jgn sampai hatimu sarat dg pesta pora, kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi.”, Marilah hidup dlm khairos agar kita ikut serta menghadirkan kegembiraan, pengharapan dan kasih dlm dunia***d2t

Mendengarkan

Relung-relung Renung

Fakta: Prof. Keith L. Moore adalah seorang pakar yang sangat terkenal dalam bidang anatomy dan embryology di dunia. Dlm tulisannya di The Journal Medical Association (1986), ia mengatakan bahwa “selama masa perkembangan foetus (janin), mata mulai terbentuk setelah organ telinga bagian dalam terbentuk, kemudian otak sebagai pusat pemikiran dan perasaan terbentuk setelah telinga dan mata.” Telinga dari foetus mulai terbentuk ketika kehamilan menginjak hari ke-22. Bentuk telinga mulai menjadi sempurna perkembangannya pada masa kehamilan bulan ke-4. Pada saat itu, foetus mulai dapat mendengar suara-suara dalam rahim ibunya. Karena itu, telinga adalah indra yang pertama kali terbentuk sebelum semua organ vital lainnya.

Hari ini, Tuhan Yesus membuka telinga orang yang tuli. Tuhan Yesus menghendaki agar setiap orang punya kepekaan dan kesiapsediaan mendengarkan firman-Nya. Lebih daripada itu, Ia menghendaki agar kita membuka nurani kita sehingga dg nurani yg jernih-bening, kita pun mampu ikut serta membuat segalanya-galanya menjadi baik adanya bersama Dia. Sanggup?***d2t