Apakah Seminari itu?

  1. Apakah Seminari itu?

Kata seminari berasal dari kata Latin `semen’ yang berarti `benih atau bibit’. Seminari berasal dari kata Latin `seminarium’ yang berarti `tempat pembibitan, tempat pesemaian benih-benih’. Maka, seminari lalu berarti: sebuah tempat [tepatnya sebuah sekolah yang bergabung dengan asrama: tempat belajar dan tempat tinggal] di mana benih-benih panggilan imam yang terdapat dalam diri anak-anak muda, disemaikan, secara khusus, untuk jangka waktu tertentu, dengan tatacara hidup dan pelajaran yang khas, dengan dukungan bantuan para staf pengajar dan pembina, yang biasanya terdiri dari para imam / biarawan. Adapun kata `seminaris’ menunjuk pada para siswa yang belajar di seminari tersebut.

Dari lintas sejarah gereja, kita mengenal seminari yang klasik, yakni serentak sebagai sebuah sekolah di mana para seminarisnya belajar di dalam kompleks seminari, entah sebagai sebuah SMP atau SMU, dan sekaligus sebagai asrama di mana mereka tinggal dan hidup dari hari ke hari.

Namun, seiring perkembangan waktu, demi alasan praktis dan demi juga kehidupan masa remaja yang alamiah, maka ada seminari modern di mana para seminaris mengikuti pendidikan SMP atau SMUnya di sekolah lain di luar kompleks seminari, namun mereka tinggal di dalam seminari sebagai asrama dan mengikuti pelajaran pelajaran dan pembinaan khusus yang dibutuhkan oleh setiap calon imam.

  1. Mengapa ada Seminari Menengah dan Seminari Tinggi?

Wah, bukan hanya seminari menengah dan tinggi saja, ada juga seminari `kelas persiapan atas’ bahkan ada juga seminari `Tahun Orientasi Rohani’. Apa maksudnya?

Seminari Menengah yang ada di Indonesia masih dibedakan lagi atas:

Seminari Menengah tingkat SMP yakni yang menerima para seminaris sesudah mereka menamatkan SD. Di sini mereka belajar selama 3 tahun, mengikuti kurikulum SMP pada umumnya, ditambah dengan beberapa materi pelajaran khas Seminari. Kita masih memiliki beberapa Seminari Menengah tingkat SMP, yakni di Tuke Keuskupan Denpasar, di Maumere untuk Keuskupan Agung Ende, di Kisol untuk Keuskupan Ruteng, di Saumlaki untuk Keuskupan Ambon, dan nanti di Aimas untuk Keuskupan Sorong.

Seminari Menengah untuk tingkat SMU adalah yang paling umum di Indonesia. Para siswa diterima sesudah mereka menamatkan SMP. Di sini mereka mengikuti 3 tahun pendidikan memenuhi kurikulum pemerintah plus kurikulum Seminari, sekaligus dengan tambahan 1 tahun, entah pada tahun pertama memasuki Seminari [disebut KPB: Kelas Persiapan bawah] atau nanti ditambahkan sesudah melewatkan 3 tahun pendidikan SMUnya [disebut KPA: kelas persiapan akhir].

Seminari Menengah KPA [Kelas Persiapan Atas] adalah sebuah seminari yang melayani mereka yang disebut mengalami `panggilan terlambat’, artinya yang memutuskan menjadi calon imam sesudah menamatkan SMU, bahkan sementara atau sesudah kuliah ataupun bekerja. Mereka mengikuti pembinaan khusus minimal selama 1 tahun dan berdasarkan kebutuhan ada yang sampai 2 tahun.

Seminari Tahun Orientasi Rohani [TOR] adalah sebuah tempat pembinaan khusus benih-benih panggilan bagi mereka yang telah menamatkan Seminari Menengah tingkat SMU atau Seminari Menengah KPA, dan yang memilih menjadi calon imam diosesan atau imam praja. Selama setahun mereka mengalami pembinaan khusus di bidang kepribadian dan kerohanian sekaligus untuk lebih mengenal dan menghayati seluk beluk imam diosesan.

Seminari Tinggi adalah jenjang pembinaan terakhir dari para calon imam sesudah mereka mengikuti Seminari Tahun Orientasi Rohani. Biasanya pendidikan yang ditempuh di sini selama 6 tahun kuliah ditambah 1 tahun praktek Tahun Orientasi Pastoral.

Di Indonesia terdapat 31 Seminari Menengah, 3 KPA, 12 TOR dan 13 Seminari Tinggi.

  1. Jadi berapa tahun dibutuhkan untuk menjadi imam?

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMP, maka ia memerlukan: 3 tahun seminari menengah tingkat SMP, 3 tahun seminari menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 14 tahun.

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMU maka ia memerlukan: 4 tahun Seminari Menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 12 tahun.

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat KPA maka ia memerlukan minimal: 1 tahun Seminari Menengah tingkat KPA, 1 tahun Seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 9 tahun.

Hukum Gereja memberikan kemungkinan bagi mereka yang mau menjadi imam sesudah mengikuti pendidikan akademis yang memadai untuk tidak mengikuti seluruh tuntutan pembinaan mulai dari Seminari Menengah KPA, TOR dan Seminari Tinggi. Uskup dapat memberi dispensasi -sesudah penyelidikan yang matang- untuk mengikuti pendidikan filsafat dan teologi saja, bahkan juga untuk tidak tinggal di seminari sebagaimana lazimnya.

  1. Apa saja yang dipelajari di masing-masing tingkatan Seminari tadi?

Secara umum materi yang diprogramkan pemerintah untuk setiap jenjang pendidikan harus dipelajari oleh para seminaris sesuai tingkat masing-masing, entah SMP, SMU, Perguruan Tinggi. Adapun materi binaan tambahan pada umumnya adalah: Pengetahuan Agama Katolik, Sejarah Gereja, Kitab Suci, Liturgi, Kepribadian, Etiket / Pergaulan, Psikologi Perkembangan, Public Speaking, tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Latin dan bahasa pilihan lainnya, Musik / Kesenian Gereja, Kebudayaan, Pastoral, Katekese, Hidup Berkomunitas, Panggilan dan Motivasi, Bina Kepribadian, Bimbingan Rohani, dll.

Jadi di sela-sela mengikuti kurikulum pemerintah, para seminaris harus menyisihkan waktu untuk memenuhi kurikulum seminari.

Pendidikan di seminari semuanya diterapkan dengan disiplin yang prima, sekaligus tidak kaku dan mematikan, tetap menghormati hak asasi manusia, demokratis dan kristiani.

Seluruh pembinaan di Seminari tidak lepas dari 4 kerangka dasar ini yakni membantu peningkatan pemberdayaan dan kemampuan tiap seminaris dalam bidang: kemanusiaan / kepribadiannya, akademi / intelektualnya, kerohanian / spiritualitasnya dan kecakapan serta keterampilan berpastoral.

  1. Khusus untuk seminari menengah, apakah anak-anak tidak terlalu kecil untuk dapat memutuskan bahwa ia ingin menjadi seorang imam? Apakah anak bukan korban keinginan orang tua? Jika demikian, apakah dapat disebut sebagai panggilan?

Ketika Mgr. Jose Galvez, Sekretaris Jendral dari Serikat Kepausan untuk Seminari di Roma, mewawancarai seorang siswa seminaris tingkat SMP di Seminari Roh Kudus, Tuke, Denpasar, ia mendapat jawaban ini dari seorang seminaris: Saya ingin sekali sejak usia dini memberikan diri dan cita-cita saya pada imamat. Anak ayam pun masih kecil tetapi ia sudah mulai mencari makanannya sendiri demi masa depannya.

Jawaban polos ini dapat menjelaskan mengapa seminari menengah tingkat SMP itu perlu dan penting. Ini juga bukti bahwa panggilan Tuhan mulai terasa pada jenjang usia manapun dan tugas Gereja memberi tempat pada panggilan itu. Manfaat lain dari pendidikan dini ini ialah: motivasi panggilan bisa menjadi lebih kuat, pengenalan akan imamat bisa lebih lama dan mendalam, budaya belajar dan hidup rohani bisa lebih terbina lewat rentang waktu yang lama dan berkontinuitas.

Namun tak dapat disangkal bahwa ada juga catatan kritisnya, yakni anak-anak terlalu cepat dipisahkan dari keakraban keluarga dan dari pergaulan yang alamiah dengan sesama anak remaja puteri, hal mana bisa mengakibatkan ketidakmatangan afeksi mereka di kemudian hari. Adalah tanggung jawab, peran dan tugas gereja dalam hal ini staf seminari untuk menangkal bahaya negatif, sekaligus meningkatkan manfaat positif yang ada.

Untuk itulah peranan pembimbing rohani pribadi di seminari sangatlah penting, demikian juga peranan para staf pembina, baik rektor maupun sesama imam lainnnya. Mereka bertugas memurnikan motivasi panggilan para seminaris, membantu mereka menolong dirinya sendiri untuk keluar dari kekurangan yang ada, menolong mereka untuk tiba pada keputusan yang matang dan sendiri mengambil keputusan untuk menjadi imam atau tidak. Peran tak tergantikan tetaplah pada anak itu sendiri dalam penentuan akhir sehingga ia dengan bebas dan tanpa paksaan orang tua / paroki ataupun staf mengambil kata akhir dalam terang dan tuntunan Roh Kudus. Panggilan adalah anugerah dari Tuhan maka tidak dapat dipaksakan oleh manusia. (bersambung)

http://yesaya.indocell.net/id766.htm

 

Berkobar-kobar menjadi Pelopor Peradaban Kasih.

Ilustrasi http://alkitab.sabda.org/illustration.php?id=3696

Nats : Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita? (Lukas 24:32)
Bacaan : Lukas 24:13-32

Dalam Kisah Para Rasul 17, Paulus pergi ke Areopagus untuk memberitakan kebenaran kebangkitan. Sebagian besar orang yang berkumpul di sana bukan orang yang ingin mendengarkan hal-hal rohani. Lukas, yang menuliskan Kisah Para Rasul, mencatat mereka hanya ingin menghabiskan waktu untuk membahas ide-ide terbaru, tanpa memiliki minat yang berkobar-kobar untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari (ayat 21).

Terlalu banyak informasi dapat membahayakan. Semua ide itu dapat saling memburamkan dan tak berkaitan, sehingga yang kita ketahui tak mengubah kita.

Berabad-abad lalu, sejarawan Plutarch mengingatkan, hidup pada tahap informasi semata itu berbahaya. Dengan bijak ia berkata, “Akal budi bukan bejana untuk diisi, tetapi api untuk dikobarkan.”

Para pengikut Kristus yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus akan menyetujui hal itu (Lukas 24). Ketika mereka meratapi kematian Yesus, Kristus yang telah bangkit bergabung dengan mereka tetapi menyembunyikan identitas-Nya. Dia mulai mengajar mereka tentang nubuatan-nubuatan kuno dalam Perjanjian Lama mengenai semua peristiwa itu. Setelah itu, Kristus menyatakan diri-Nya kepada mereka kemudian pergi.

Setelah Yesus pergi, mereka heran akan apa yang telah mereka dengar. Hal-hal yang diajarkan-Nya bukan fakta-fakta mandul, melainkan api yang membakar hati mereka dengan pengabdian kepada-Nya. Marilah kita juga memercayai Gembala jiwa kita untuk membakar hati kita saat kita bertumbuh di dalam firman-Nya –WEC
Kala menempuh perjalanan masa,
Kehadiran-Nya terasa bersama kita;
Membaca firman-Nya, mendengar sabda-Nya
Nyala-Nya memperbarui hati kita. –Hess

ANDA TIDAK DAPAT MENGOBARKAN API DI HATI ORANG LAIN
SEBELUM API ITU BERKOBAR

DI HATI ANDA
http://yesaya.indocell.net/id766.htm

Jumat, 28 April 2017 Hari Biasa Pekan II Paskah

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:1-15)   
  
“Yesus membagi-bagikan roti kepada orang banyak yang duduk di situ, sebanyak mereka kehendaki.”
      
Pada waktu itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Ketika itu Paska, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya, dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!” Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, “Di sini ada seorang anak, yang membawa lima roti jelai dan mempunyai dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk!” Ada pun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang.” Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mukjizat yang telah diadakan Yesus, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia!” Karena Yesus tahu bahwa mereka akan datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk dijadikan raja, Ia menyingkir lagi ke gunung seorang diri.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Gamaliel meegaskan bahwa karya Allah tidak bisa dihalangi oleh siapa pun. Sedangkan para murid bergembira karena dianggap layak menderita karena nama Yesus. Pemazmur berkeyakinan bahwa ia tidak perlu takut karena Tuhan adalah keselamatan-Nya. Peristiwa perbanyakan roti juga mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah kekurangan bila berserah kepada Tuhan.

Sumber : www.sesawi.net

Kamis, 27 April 2017 Hari Biasa Pekan II Paskah

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:31-36)

    
“Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.”
Yohanes Pembaptis memberi kesaksian tentang Yesus di hadapan murid-muridnya, “Siapa yang datang dari atas ada di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga ada di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya, ia mengakui bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal; tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
  
Para murid ditangkap dan dilarang untuk mengajar dalam nama Yesus. Tetapi, mereka berani untuk lebih taat kepada Allah untuk mewartakan keselamatan. Pemazmur menegaskan bahwa orang yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan, dan Ia akan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya. Yesus sendiri menegaskan bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal.

Sumber : renunganpagi.blogspot.co.id

Sabda Hidup: Rabu, 26 April 2017

Hari biasa Pekan II Paskah

warna liturgi Putih

Bacaan

Kis. 5:17-26; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Yoh. 3:16-21. BcO Why 3:1-22

Bacaan Yoh 3:16-21

16Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.17Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.18Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.19Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.20Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;21tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Renungan

SEORANG anak merasa nyaman sekali di pelukan ibunya. Kala mengalami ketakutan ia akan berlari ke perlindungan ibu atau ayahnya. Ia sadar bahwa merekalah orang-orang yang mengasihi dan tak akan membiarkannya ketakutan. Mereka akan memberikan ketentraman, keamanan dan kenyamanan.

Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih. Dia berkendak menyelamatkan bukan menghakimi. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17). Maka Ia mengutus anak-Nya untuk menyelamatkan.

Kita bisa berlari kepada Tuhan kala kita mengalami ketakutan. Dia tidak akan membiarkan kita kesulitan. Kalau orang tua kita pun tidak membiarkan kita berada dalam kesulitan apalagi Tuhan. Maka marilah kita selalu mengandalkan Tuhan, terutama saat kita mengalami kesulitan.

Kontemplasi

Bayangkan dirimu berada dalam kesulitan. Temui Tuhan dan orang tuamu.

Refleksi

Siapa yang selalu kaudatangi kala dirimu lagi ada dalam kesulitan?

Doa

Tuhan terima kasih atas keselamatan dan cinta yang Kautawarkan. Aku akan selalu berlindung pada-Mu. Amin.

Perutusan

Aku akan selalu berlari pada Tuhan yang mengasihiku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Selasa, 25 April 2017

Pesta St. Markus

warna liturgi Merah

Bacaan

1Ptr. 5:5b-14; Mzm. 89:2-3,6-7,16-17; Mrk. 16:15-20. BcO Ef 4:1-16

Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

15Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” 19Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Renungan

DALAM dunia kotor memang sulit menerima mereka yang bersih. Mereka yang biasa kotor akan terusik dan tergerak hatinya untuk menyingkirkan yang bersih. Yang bersih kemungkinan tersingkir karena ia berpatokan pada prosedural resmi dan tertib. Yang kotor tak memikirkan prosedur dan tatacara, yang penting bisa menyingkirkan dan mengalahkan yang bersih. Yang kotor sanggup melakukan hal-hal kotor.

Yesus mengutus para murid untuk mengusir setan-setan dalam nama-Nya, berbicara dalam bahasa-bahasa baru. Mereka tidak akan memegang ular, tidak celaka walau meminum racun dan menyembuhkan orang sakit. Mereka yang percaya dilindungi dari ancaman dan akan menghadirkan kebaikan.

Rasanya kita masih terus perlu berjuang dan berharap para utusan Tuhan itu menguasai negeri ini. Saat ini orang-orang seperti masih sedikit. Mereka masih sulit nengubah sikap masyarakat yang gampang tersulut sentimen emosional dan tergoda rupiah. Kita sungguh perlu berdoa sungguh bagi hadirnya sang utusan dan kita sendiri perlu berjuang menjadi utusan-Nya.

Kontemplasi

Bayangkan setan-setan jaman sekarang dan dirimu sebagai utusan untuk mengusirnya.

Refleksi

Bagaimana memenangkan yang bersih di dunia sekitar kita?

Doa

Tuhan tambahkanlah utusan-utusan-Mu. Semoga kami bisa menjadikan dunia tempat kami berpijak ini bersih dan berdaya. Amin.

Perutusan

Aku akan menempa diri menjadi utusan-Nya yang mengusir para setan masyarakat. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Senin, 24 April 2017

Fidelis drSigmaringen, Maria EufrasiaPelletier

warna liturgi Putih

Bacaan

Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Why 1:1-20

Bacaan Injil: Yoh 3:1-8

1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”3Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”4Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”5Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.6Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.7BJanganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.8Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Renungan

KITA sudah memasuki minggu paskah ke-2. Pada hari minggu didengarkan bacaan tentang bagaimana Yesus yang mengunjungi para murid yang bersembunyi di rumah karena takut pada pemuka Yahudi. Hari ini kita mendengar percakapan Yesus dan Nikodemus tentang kelahiran kembali dari Roh. Hanya mereka yang dilahirkan dari air dan Roh yang bisa masuk kerajaan Allah.

Paskah menjadi kesempatan bagi kita untuk lahir kembali. Kita lahir kembali bersama Kristus yang wafat dan telah bangkit. Kita memperbaharui janji baptis kita. Kita ikut lahir kembali bersama Kristus yang bangkit.

Kiranya paskah ini sungguh menjadi syukur bagi kita. Paskah ini menjadi masa meraih rahmat yang tak terbatas. Kita mendapat rahmat pemurnian yang menyentuh dasar hidup kita. Maka kelahiran kembali ini menguatkan kita untuk menjadi saksi-saksi kehidupan. Kita bangkit dan hidup, bukan tak berdaya dan mati.

Kontemplasi

Bayangkan kasih Tuhan melalui peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Tuhan mencintai kita tanpa batas.

Refleksi

Apa arti kelahiran baru bagimu?

Doa

Tuhan kelahiran baruku menjadi daya bagiku sebagai saksi-saksi kehidupan. Semoga aku pun mampu membangkitkan hidup sesamaku. Amin.

Perutusan

Dengan semangat kelahiran baru aku akan menjadi saksi-saksi kehidupan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Apa itu Minggu Kerahiman Ilahi?

http://www.indocell.net

Buku Catatan Harian St Faustina memuat setidak-tidaknya empatbelas bagian di mana Tuhan kita meminta suatu “Pesta Kerahiman Ilahi” ditetapkan secara resmi dalam Gereja.

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)….

Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.…

 Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka Bapa Suci Yohanes Paulus II menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska. Lebih lanjut, Paus Yohanes Paulus II memberikan tugas kepada para imam, sebagaimana tercantum dalam Dekrit Penitensiary Apostolik 29 Juni 2002, untuk memberikan penjelasan kepada umat Katolik mengenai Minggu Kerahiman Ilahi ini.

Jumat, 21 April 2017 Hari Jumat dalam Oktaf Paskah

Jumat, 21 April 2017
Hari Jumat dalam Oktaf Paskah
“Berada dalam Gereja, Tubuh Mistik Kristus, meskipun secara implisit dan sungguh secara misterius, adalah syarat esensial untuk keselamatan.” (St. Yohanes Paulus II, Audiensi Umum 31 Mei 1995)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (21:1-14)

“Yesus mengambil roti dan memberikannya kepada para murid; demikian juga ikan.”
Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias. Ia menampakkan diri sebagai berikut: Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid Yesus yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka, “Tidak ada!” Maka kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya, dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan!” Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja; dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika tiba di darat, mereka melihat ada api arang, dan di atasnya ada ikan serta roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu, lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya; dan sungguh pun sebanyak itu ikannya, jala tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah!” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau,” sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka; demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Ayat terakhir bacaan Injil hari ini: “Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.” (Yoh 21:14) menginspirasi meditasi ini. Para murid sempat sedih, kecewa, putus harapan, setelah kematian yesus, Guru dan harapan mereka. Mengalami dan mendengar kabar Yesus bangkit memberi harapan baru. Pengalaman akan kebangkitan Yesus ini membuat para murid berani bersaksi. Bacaan pertama memperlihatkan keberanian Petrus dan Yohanes bersaksi tentang Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi dibangkitkan Allah dari antara orang mati. (Kis 4:10).

Injil mengisahkan Yesus menampakkan diri kepada Simon Petrus dan beberapa murid lain di tepi pantai, tempat kerja mereka sebagai nelayan. Para murid sadar: “Itu Tuhan”, setelah mereka mendapatkan ikan yang banyak, pada hari menjelang siang, padahal semalam sebelumnya mereka tidak berhasil menangkap apa-apa. Apalagi ketika mereka mendengar Yesus berkata, “Marilah dan sarapanlah”, sambil Ia mengambil roti dan memberikannya kepada mereka. Renungan bagi kita: apakah kita juga pernah mengalami “penampakan Tuhan”, menyadari kehadiran Allah, campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup kita?  . (MP/Renungan Harian Mutiara Iman 2017)
Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Kamis, 20 April 2017

HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH

warna liturgi Putih

Bacaan

Kis. 3:11-26; Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9; Luk. 24:35-48. BcO 1Ptr 3:1-17

Bacaan Injil: Luk 24:35-48

35Lalu kedua orang itupunmenceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. 36Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” 37Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. 38Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” 40Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. 41Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?” 42Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. 43Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. 44Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” 45Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 46Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, 47dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. 48Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Renungan

UNTUK memastikan identitas seseorang biasanya orang memakai tanda-tanda yang melekat pada orang tersebut. Salah satu tanda yang diingat teman-teman saya di SD dan SMP adalah tahi lalat di dagu kiri. Tapi sekarang jarang keliatan karena tertutup jenggot hehehe. Ada pula orang yang dikenali dari bentuk giginya. Masih banyak cara lain untuk mengenali temannya.

Yesus telah bangkit. Kala disalib tangan dan kakinya berlobang. Maka kala Ia hadir di hadapan para murid Ia menunjukkan lobang-lobang tersebut sebagai penanda diri-Nya. Mirid-murid pun percaya. Untuk menambah keyakinan mereka Ia pun meminta makanan dan memakan di depan mereka.

Kita pun juga bisa mengenali hidup beriman kita. Ada banyak tanda yang menghantar kita berjumpa dengan Yesus. Namun seringkali tanda itu tertutup kala kita lagi marah atau kecewa atau sedih. Maka cobalah untuk selalu membuka diri agar dapat melihat tanda-tanda dari Tuhan. Dengan begitu kita tidak akan gampang lari walau ada kecewa di hati.

Kontemplasi

Pejamkan matamu sejenak. Temukan tanda-tanda yang membuatmu bertahan walau ada kecewa di hatimu.

Refleksi

Apa yang membuatmu bertahan dalam iman akan Tuhan?

Doa

Tuhan kuatkanlah keyakinanku kepadamu. Semoga aku tetep percaya kepada-Mu walau ada kekecewaan, kesedihan yang melingkupiku. Amin.

Perutusan

Aku akan menemukan tanda yang meneguhkan keyakinanku pada Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net