WASPADA DAN SIAGA: WUJUD SIKAP BIJAKSANA

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kebijaksanaan adalah harta yang tidak ternilai bagi manusia, maka setiap orang hendaknya menjadi pribadi yang bijaksana. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. St. Paulus mengajak jemaat untuk selalu memiliki iman dan pengharapan yang teguh akan kebangkitan setelah kematian. (Bacaan II – 1 Tesalonika)
  3. Yesus mengajak kita untuk selalu waspada dan siaga menyambut kedatangan Kerajaan Allah. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah wujud kebijaksanaan hidup. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya “bijaksana”? Apa artinya “bodoh”?
  3. Apa yang perlu aku siapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan?
  4. Apa usahaku agar menjadi pribadi yang bijaksana?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

Hati Nurani – Kebijaksanaan

1780 Martabat pribadi manusia mengandung dan merindukan bahwa hati nurani menilai secara tepat. Hati nurani mencakup: memahami prinsip-prinsip moral [synderesis], melaksanakannya dengan menilai alasan-alasan dan kebaikan-kebaikan seturut situasi tertentu, dan akhimya menilai perbuatan konkret yang akan dilaksanakan atau sudah dilaksanakan. Keputusan hati nurani yang bijaksana mengakui secara praktis dan konkret kebenaran mengenai yang baik secara moral, yang dinyatakan dalam hukum akal budi. Seorang manusia yang memilih sesuai dengan keputusan ini disebut bijaksana.

1781 Hati nurani memungkinkan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Kalau manusia telah melakukan yang jahat, maka keputusan hati nuraninya yang tepat dapat tetap memberi kesaksian bahwa kebenaran moral berlaku, sementara keputusannya yang konkret itu salah. Rasa bersalah seturut keputusan hati nurani merupakan jaminan bagi harapan dan belas kasihan. Dengan membuktikan kesalahan pada perbuatan yang dilakukan ini, keputusan hati nurani itu mengajak supaya memohon ampun, selanjutnya melakukan yang baik dan supaya dengan bantuan rahmat Allah mengembangkan kebajikan secara terus-menerus.

Sharing Iman:

http://www.sabda.org

Kita tentu punya kenangan tentang para guru yang pernah mengajar kita di sekolah. Sebagian besar guru biasanya memberi tahu apabila hendak mengadakan ulangan. Namun, ada juga sebagian guru yang lebih suka mengadakan ulangan mendadak, tanpa pemberitahuan. Bagi siswa yang tak pernah berkonsentrasi saat guru memberikan pelajaran atau hanya belajar pada jam-jam menjelang ulangan maka ketika berhadapan dengan guru tipe kedua, dijamin ia akan mendapat nilai buruk. Akan tetapi, siswa yang bijaksana adalah siswa yang tahu persis kebiasaan guru yang demikian sehingga ia selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.

Walau kenyataannya sangat berbeda, tetapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kurang lebih dapat digambarkan seperti ulangan mendadak yang biasa diadakan oleh sebagian guru. Tuhan kita, dalam hikmat-Nya yang besar, telah dan akan memberikan tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Namun, kapan waktunya tidak Dia sampaikan secara persis. Itulah sebabnya kita perlu selalu berjaga-jaga. Sebab, kapan pun harinya, bisa menjadi hari kedatangan Tuhan Yesus!

Mari terus memohon hikmat Tuhan, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana. Setiap hari yang kita jalani merupakan kesempatan untuk menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab, kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jangan sampai kita menjadi orang kristiani yang, ketika Tuhan Yesus datang, malah sedang “terlelap” seperti perumpamaan lima gadis yang bodoh. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana, yang senantiasa berjaga-jaga menanti sang mempelai. Bersiap dan berjaga-jagalah seolah-olah hari ini adalah hari kedatangan-Nya yang kedua.

MENJADI PELAYAN

Sharing iman:

http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/?cari=Pelayan

MENJADI PELAYAN

Ketika kita sudah menduduki posisi puncak, rasanya apa pun yang kita katakan akan menjadi titah yang harus terwujud. Kita mulai berhenti mendengarkan dan sibuk berbicara. Kita sibuk berpikir dan lupa melihat apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Tingkat kesabaran kita menipis jika segala sesuatunya tidak terlayani dengan sempurna.

Di balik semua itu, kita tidak pernah tahu ada yang pontang-panting kewalahan memenuhi keinginan kita. Tidak banyak yang mengamati bahwa seorang pelayan yang masih tersenyum sabar sebenarnya sedang memikirkan anaknya yang sakit keras di rumah. Hampir tak ada yang memikirkan bahwa penataan ruangan untuk sebuah acara istimewa yang digelar satu atau dua jam saja, membutuhkan kerja keras semalam suntuk dari sejumlah orang yang di antaranya sampai kelelahan bahkan jatuh sakit karena terpaksa harus begadang.

Sudahkah kita menerapkan gaya kepemimpinan Yesus? Yesus tak pernah meninggikan diri, tetapi merendahkan diri-Nya dengan rela. Ibarat raja yang turun takhta dan menyamar menjadi rakyat jelata, Dia mau merasakan dan memahami perasaan rakyat. Dengan begitu Dia dapat mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Dalam budaya Jawa kita mengenal filosofi yang berbunyi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Artinya: di depan memberi teladan, di sisi memberi bimbingan, dari belakang memberi dorongan. Seorang pemimpin yang baik bukan penguasa yang hanya bisa memerintah; pemimpin adalah pengayom, panutan, sekaligus rekan berbagi hati. Sudah siapkah kita menjadi hamba seperti Yesus? Barangkali posisi kita bisa di puncak, tetapi biarlah hati kita tetap ada di tempat rendah. -GGC

“MELAYANI DENGAN RENDAH HATI”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Menjadi pelayan umat berarti menjadi pembagi berkat Allah kepada semakin banyak orang, bukannya menjadi sandungan. (Bacaan I-Maleakhi).
  2. St. Paulus menunjukkan bahwa dirinya senantiasa berusaha menjadi pelayan Injil dan pelayan jemaat yang setia, demi semakin banyaknya orang yang mengalami kebaikan Tuhan. (Bacaan II-1Tes).
  3. Hanya pribadi yang setia dan rendah hati sajalah yang mampu menjadi pelayan yang sejati dan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. (Bacaan Injil-Matius).

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti “menjadi pelayan” dan “melayani” bagiku?
  3. Apakah aku mau menjadi pelayan dan mau melayani?
  4. Apakah yang sudah, sedang, dan akan aku lakukan sebagai bentuk pelayananku kepada keluarga, Gereja, dan masyarakat?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

786 Umat Allah mengambil bagian dalam fungsi Kristus sebagai raja. Kristus menjalankan fungsi raja-Nya dengan menarik semua orang kepada diri-Nya oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Kristus, Raja dan Tuhan semesta alam, telah menjadikan Diri pelayan semua orang, karena “la tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Untuk seorang Kristen, mengabdi Kristus berarti “meraja” (LG 36) – terutama “dalam orang-orang yang miskin dan menderita”, di mana Gereja “mengenal citra Pendiri-Nya yang miskin dan menderita” (LG 8). Umat Allah mempertahankan “martabatnya sebagai raja”, apabila ia setia kepada panggilannya, untuk melayani bersama Kristus.

SUMPAH PEMUDA (28 Okt 2017)

  1. Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouwyang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.
  2. Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu baru berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.
  3. Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:
  4. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
    Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
    Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia
  1. Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.
  2. Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.
  3. Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.
  4. Kongres Pertama (I) berlangsung pada tahun 1926. Kongres Pertama sudah membahas bahasa persatuan. Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Tetapi penamaan “Bahasa Melayu” dikritik oleh salah seorang peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.
  5. Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.
  6. Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih menggunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.
  7. Akan tetapi, perkiraan Van Der Plass ternyata meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi “api” yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.
  8. Meskipun, seperti dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada 1925 jauh lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan
  9. Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Dikutip dari tulisan Risal Kurnia

Sumber: http://www.berdikarionline.com/sejarah-kongres-pemuda-dan-sumpah-pemuda/

“HUKUM YANG TERBESAR”

PERTANYAAN REFLEKSI PRIBADI
a) Dari kutipan Injil hari ini, apakah ada ayat yang menyentuh hati Anda? Mengapa?
b) Siapakah orang-orang Farisi? Siapakah orang-orang Farisi pada jaman sekarang?
c) Mengapa orang orang Farisi mencobai Yesus dengan pertanyaan mereka?
d) Apa hubungan antara perintah pertama dan kedua?
e) Mengapa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan ringkasan hukum dan kitab para nabi?

Kesaksian Seorang Ateis
Diambil dari http://alkitab.sabda.org/illustration

Karena menyadari bahwa kasih kepada Allah dan sesama merupakan inti ajaran Kitab Suci, saya membuat disertasi doktoral saya tentang “The Concept of Love in the Psychology of Sigmund Freud” (Konsep Kasih dalam Psikologi Sigmund Freud). Saya mempelajari bahwa pemikir berpengaruh, yang tidak beriman kepada Allah ini tetap sangat menekankan pentingnya kasih.
Misalnya, Freud menulis, cara terbaik untuk “lari dari kesusahan dalam kehidupan” dan “melupakan kesengsaraan yang sebenarnya” adalah dengan mengikuti jalan “yang mengharapkan datangnya kepuasan sejati melalui tindakan mengasihi dan dikasihi”. Dalam hal ini, Freud sejalan dengan Alkitab yang berfokus pada kasih.
Kitab Suci mengajarkan bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh. 4:8). Kitab Suci juga mengajarkan pentingnya “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6). Dengan demikian, masalah besar yang dihadapi oleh kita semua adalah bagaimana melepaskan diri dari dosa mencintai diri sendiri, sementara di saat yang sama kita mengasihi Allah dan sesama dengan sungguh-sungguh (Mat. 32:37-39; 1Yoh. 3:14). Injil, yang berbicara tentang kasih Kristus yang mengubah kehidupan, menyodorkan satu-satunya jawaban untuk masalah itu. Paulus menyatakannya dalam Roma 5:5, “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.”
Sudahkah Anda merasakan curahan kasih Allah? Hanya ketika Anda memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, Roh Kudus dengan kasih-Nya akan mengalir di dalam dan melalui diri Anda –VCG

ALLAH MENCURAHKAN KASIH-NYA DI DALAM HATI KITA AGAR KITA JUGA MENCURAHKANNYA KEPADA SESAMA

Menjadi Rekan Sekerja Allah

Intisari Bacaan

  1. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita dan mengharapkan yang terbaik dari diri kita, seperti pemilik kebun anggur yang sangat memperhatikan kebun anggurnya. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di dalam segala hal hendaklah kita selalu mengucap syukur dan melakukan yang baik. Semua itu akan mendatangkan damai sejahtera. (Bacaan II – Filipi)
  3. Keselamatan diberikan kepada siapa pun yang mengikuti kehendak Allah dan yang menghasilkan buah-buah kebaikan. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku termasuk orang yang mudah bersyukur atau sulit bersyukur? Mengapa?
  3. Kasih Allah macam apa yang aku alami selama ini?
  4. Apa arti “rekan sekerja Allah” menurutku?
  5. Bagaimana aku selama ini menghayati panggilanku sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya?

Katekismus Gereja Katolik

PENYELENGGARAAN DAN SEBAB KEDUA

306      Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas keputusan-Nya. Tetapi untuk melaksanakannya, Ia mempergunakan juga kerja sama makhluk-Nya. Itu bukanlah bukti kelemahan, melainkan bukti kebesaran dan kebaikan Allah. Sebab Allah tidak hanya memberi keberadaan kepada makhluk-Nya, tetapi juga martabat, untuk bertindak sendiri, menjadi sebab dan asal usul satu dari yang lain dan dengan demikian bekerja sama dalam pelaksanaan keputusan-Nya.

307      Kepada manusia Allah malahan memberi kemungkinan untuk mengambil bagian secara bebas dalam penyelenggaraan-Nya, dengan menyerahkan tanggung jawab kepada mereka, untuk “menaklukkan dunia” dan berkuasa atasnya`. Dengan demikian Allah memungkinkan manusia, menjadi sebab yang berakal dan bebas untuk melengkapi karya penciptaan dan untuk menyempurnakan harmoninya demi kesejahteraan diri dan sesama. Manusia sering kali merupakan teman sekerja Allah yang tidak sadar, tetapi dapat juga secara sadar memperhatikan rencana ilahi dalam perbuatannya, dalam doanya, tetapi juga dalam penderitaannya. Dengan demikian secara penuh dan utuh mereka menjadi “teman sekerja Allah” ( I Kor 3:9; 1 Tes 3:2) dan Kerajaan-Nya.

308      Dengan demikian kebenaran bahwa Allah bekerja dalam setiap perbuatan makhluk-Nya tidak dapat dipisahkan dari iman akan Allah Pencipta. Ia adalah sebab pertama, yang bekerja dalam dan melalui sebab kedua. “Karma Allah yang mengerjakan ini dalam kamu baik kehendak maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:1.3). Kebenaran ini sama sekali tidak merugikan martabat makhluk, tetapi meninggikannya. Diangkat dari ketidakadaan oleh kekuasaan, kebijaksanaan dan kebaikan Allah, makhluk tidak dapat berbuat apa-apa, kalau ia diputuskan dari asalnya, karma “ciptaan menghilang tanpa Pencipta” (GS 36,3). Lebih lagi, ia tidak dapat mencapai tujuan akhirnya tanpa bantuan rahmat.

Sharing Iman

Pada abad pertama, banyak tanah di Israel disewa oleh sekelompok orang asing untuk usaha perkebunan anggur. Dalam peraturan sewa-menyewa tanah tersebut, penyewa berhak mengutus hamba-hamba atau orang kepercayaannya untuk mengumpulkan panenan itu. Tentu saja hal ini membuat penggarap-penggarap, yang merupakan penduduk asli, sering merasa dirugikan dan tidak jarang menimbulkan pemberontakan.

Yesus mengambil gambaran situasi ini untuk menjelaskan relasi antara Allah dengan umat Israel. Kebun anggur melambangkan umat. Hanya Tuhan Allah-lah yang memiliki umatNya. Allah memang mempercayakan pemeliharaannya kepada para pemimpin umat (Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini tampil sebagai para penggarap yang ingin menguasai milik tuan tadi. Para hamba ialah para nabi yang mendapat perlakuan buruk dari para pemimpin. Kemudian anak empunya kebun tadi ialah Yesus sendiri.

Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung memahami perumpamaan tadi sebagai alegori tersebut. Dalam Mat 21:45 disebutkan bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus. Mereka merasa diancam bakal mendapat hukuman dari Allah sendiri karena telah mempertanyakan sah tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang sebagai berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.). Mereka waswas bila pengajar atau “nabi” hebat tapi liar ini tidak ditertibkan, para penguasa Romawi mengira ada gerakan untuk memberontak. Hal ini tentu akan mempengaruhi situasi politik di tanah Yudea dan khususnya bagi kelestarian Bait Allah. Oleh karena itu mereka semakin bersikap memusuhi Yesus.

Padahal ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi, yakni bahwa semuanya ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka belum diadili oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum sungguh-sungguh menyingkirkan anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih ada waktu bagi mereka untuk berubah. Sayang kesempatan itu tidak mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh rencana-rencana mereka sendiri dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka tidak dapat memikirkan perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat ajakan untuk berubah. Mereka bahkan berusaha untuk merebut apa yang menjadi milik Allah.

Bagi kita sekarang, kebun anggur yang Allah percayakan kepada kita adalah Gereja. Kita adalah rekan sekerja Allah dalam pelaksanaan karya keselamatan-Nya. Dalam menjalankan panggilan dan perutusan ini, kita dihadapkan pada berbagai kesulitan dan tantangan. Bagaimana aku menyikapinya?

“Yang terdahulu menjadi yang terakhir”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Kita hendaknya selalu dekat dengan Tuhan. Ia memiliki rencana yang indah atas hidup kita. (Bacaan I – Yesaya)
  2. Kita dipanggil dan diutus untuk menampakkan kemuliaan Kristus melalui hidup kita. Hendaknya kita hidup sesuai dengan Injil dan teladan Kristus. (Bacaan II – Filipi)
  3. Yesus mengajak kita untuk bersikap murah hati kepada semua orang seperti Allah Bapa yang murah hati. Kemurahan hati Allah itu diterima dengan penuh rasa syukur dan bukannya rasa iri dan dengki. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah – yang merupakan wujud keadilan dan kemurahan hati-Nya – bagiku?
  3. Apakah selama ini aku sudah bersikap adil dan murah hati?
  4. Hal konkret apa yang akan aku lakukan sebagai ungkapan rasa syukurku atas keadilan dan kemurahan hati Allah yang sudah aku terima selama ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

KEADILAN DAN KEMURAHAN ALLAH

214      Allah, “la yang ada”, telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai “yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. “Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi” (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena “Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali” (1 Yoh 1:5); Ia adalah “cinta”, seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).

215      “Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya” (Mzm 119:160). “Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati” (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.

216      Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.

Sharing iman:

Dari berbagai sumber

Orangtua yang mempunyai lebih dari satu anak tahu betul situasi ini: salah satu anak protes dan menilai sang orangtua tidak adil karena merasa saudaranya menerima “lebih” dari apa yang dia terima. Entah “lebih” itu dipahami dalam arti lebih banyak, lebih bundar, lebih baru, dst. Situasi ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa saja si anak sebenarnya merasa bosan, butuh perhatian, atau iri. Namun bisa juga si anak memang merasa diperlakukan tidak adil. Untuk kasus ini, mau tak mau orangtua mesti dengan sabar menjelaskan arti keadilan di dalam pemberian tersebut.

Perumpamaan dalam Injil hari ini menggambarkan Kerajaan Surga seperti tindakan seorang “tuan rumah yang pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya” (Mat 20:1). Ada dua hal yang dapat digarisbawahi dari tindakan sang tuan rumah. Pertama, tindakan memberikan upah harian yang sama kepada para pekerjanya, dari yang bekerja sejak pagi hingga yang baru bekerja pada jam lima sore, mengilustrasikan kemurahan hati Allah di tengah kekayaan dan kekuasaan-Nya: tuan rumah memberikan nafkah yang cukup untuk penghidupan sehari-hari, terlepas dari berapa lama mereka bekerja. Kedua, keluhan buruh yang bekerja sejak pagi menggarisbawahi keadilan Allah: tuan rumah tak melanggar hak siapapun, karena semua pekerja sama-sama mendapatkan upah yang memadai untuk sehari kerja. Artinya, di dalam komunitas orang beriman, ‘upah’ orang percaya didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas prakarsa manusia. Karena itu perkataan Yesus, “yang terakhir akan menjadi yang terdahulu …” (Mat 20:16) mengulangi perkataan Yesus di bagian lainnya: “banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat 19:30) sekaligus menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan membalikkan penilaian manusia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini memperingatkan kita untuk tidak menerapkan prinsip penilaian dunia ke dalam kehidupan manusia. Hal ini tentu tidak dapat diterima oleh orang-orang yang mengharapkan dapat mengatur keselamatan menurut aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia menurut prinsip-prinsip, aturan-aturan, dan ketentuan-ketentuan yang dibuat manusia. Allah tidak memperlakukan manusia atas dasar “pukulan dibalas dengan pukulan” atau “satu perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik yang lain.” Allah memiliki rancangan yang berbeda dengan rancangan manusia (Yes 55:8). Rancangan dan cara bertindak Allah seutuhnya adalah kasih. Kasih karunia Allah ini cukup untuk semua orang.

“Saling Mengampuni”

Intisari Bacaan

  1. Dendam dan amarah merusak relasi dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan Tuhan. Orang yang mampu mengampuni dan menaruh belas kasih kepada sesamanya juga akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan. (Bacaan I – Sirakh)
  2. Setiap orang beriman adalah milik Tuhan: hidup bagi Tuhan dan mati bagi Tuhan. (Bacaan II – Roma)
  3. Allah telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Kita juga harus mengasihi dan mengampuni tanpa batas. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti pengampunan menurutku?
  3. Bagaimana sikapku selama ini terhadap sesama/ orang lain yang berbuat salah kepadaku?
  4. Apa yang akan aku lakukan agar aku sungguh mampu mengampuni dan mengasihi orang lain tanpa batas?

Katekismus Gereja Katolik

PENGAMPUNAN

2840    Sungguh mengejutkan bahwa kerahiman ini tidak dapat meresap di hati kita sebelum kita mengampuni yang bersalah kepada kita. Sebagaimana tubuh Kristus, demikian pula cinta tidak dapat dibagi-bagi. Kita tidak dapat mencintai Allah yang tidak kita lihat, kalau kita tidak mencintai saudara dan saudari kita yang kita lihat Bdk. 1 Yoh 4:20. Kalau kita menolak mengampuni saudara dan saudari kita, hati kita menutup diri dan kekerasannya tidak dapat ditembus oleh cinta Allah yang penuh kerahiman. Tetapi dengan mengakui dosa-dosa, hati kita membuka diri lagi untuk rahmat-Nya.

Sharing Iman

Diambil dari http://priakatolik.com/rahmat-pengampunan/

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat. 18:22)

“Sakitnya tuh di sini…..” Menjadi ungkapan nge-trend yang diambil dari petikan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Cita Citata. Sakit karena ada harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sakit karena diri kita mengenyam sesuatu yang pahit. Sakit karena kita menerima peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sakit karena kesempurnaan yang menjadi impian kita masih belum bisa dijangkau. Memang ketidaksempurnaan manusia membuka peluang bagi kita untuk melakukan kesalahan. Bahkan hal ini bisa terjadi secara timbal balik: kita melakukan kesalahan kepada orang lain dan orang lain melakukan kesalahan terhadap diri kita.

Lalu sebagai orang kristiani, sikap iman apa yang harus kita ambil berhadapan dengan kenyataan ini? Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang yang mengklaim pengikut Yesus? Menarik kisah yang diangkat dalam Injil hari ini. Ketika Petrus datang dan bertanya kepada Yesus, “…Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudarakua jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab,”Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Sabda Yesus ini bukan mau mengundang kita untuk mengampuni sampai empat ratus Sembilan puluh kali dan kita berhenti sampai di situ. Yesus mengajak kita untuk mengampuni tanpa batas. Mengampuni bukanlah perkara yang gampang. Menerima orang yang melukai hati kita bukanlah hal yang mudah. Namun itulah sikap yang harus ada dari pengikut Yesus. Ketika kita mengambil keputusan untuk mengampuni, saat itu juga pemulihan terjadi. Bukan hanya dari pihak kita atau dari pihak mereka yang bersalah kepada kita tetapi kesembuhan nyata bagi dua pihak yang menyakiti dan tersakiti.

Maka dari itu, marilah kita mohon rahmat pengampunan dari Tuhan untuk memampukan kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Kalau ini yang terjadi, maka kehidupan kita akan semakin bernilai di mata Tuhan dan sesama. Dunia pun akan menjadi tempat tinggal yang nyaman dan mendamaikan bagi semua orang.

 

Nyanyian Pujian Maria

http://alkitab.sabda.org

Nats : Kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan” (Lukas 1:46)

Bacaan : Lukas 1:39-56

Maria merasa bingung. Ia baru saja mendengar kata-kata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Lukas 1:28). Perkataan ini tampaknya menghiburkan, tetapi mengejutkan karena diucapkan oleh malaikat.

Maria sedang dihadapkan pada berita yang paling mengagumkan, tetapi ia juga ketakutan. Dan saat malaikat mengatakan bahwa ia akan mengandung seorang bayi, ia berseru, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (ayat 34).

Ada dua fakta tentang Maria di sini, yakni bahwa ia kebingungan dan bahwa ia mempertanyakan perkataan malaikat itu. Fakta tersebut memberitahu kita bahwa ia juga seorang manusia biasa seperti kita, dengan kekuatiran yang normal.

Namun setelah mendengar perkataan malaikat itu, Maria menyebut dirinya “hamba Tuhan,” dan berkata:

“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ayat 38). Maria adalah seorang hamba yang rendah hati, saleh, dan mau melakukan kehendak Allah.

Kita dapat melihat hati Maria lebih mendalam melalui doanya yang mengesankan, yang dikenal sebagai Magnificat, nyanyian pujian Maria (ayat 46-55). Dalam nyanyian ini ia bersukacita dalam kekudusan Allah (ayat 49), rahmat-Nya (ayat 50), kuasa-Nya (ayat 51-52), kepedulian-Nya kepada mereka yang lapar (ayat 53), dan kebaikan-Nya kepada umat-Nya (ayat 54-55).

Kita dapat belajar dari Maria tentang bagaimana mempercayai Allah, di tengah kekuatiran dan ketakutan kita, dan memuji Dia atas kebesaran-Nya. Inilah inti nyanyian pujian Maria [JDB]

JALAN-JALAN ALLAH YANG TAK TERSELAMI
LAYAK MENDAPATKAN SEGALA PUJIAN KITA

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

  1. … dilahirkan oleh Perawan Maria

487 Apa yang Gereja Katolik percaya dan ajarkan tentang Maria, berakar dalam iman akan Kristus, tetapi sekaligus juga menjelaskan iman akan Kristus.

Pilihan Maria sejak Kekal

488 “Tuhan telah mengutus Putera-Nya” (Gal 4:4). Tetapi supaya menyediakan “tubuh bagi-Nya” (Ibr 10:5), menurut kehendak-Nya haruslah satu makhluk bekerja sama dalam kebebasan. Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea, seorang perawan, yang “bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud: nama perawan itu Maria” (Luk 1:26 27). “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan” (LG 56).

489 Sepanjang Perjanjian Lama panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kendati ketidaktaatannya, sejak awal sudah dijanjikan kepada Hawa bahwa ia akan mendapat turunan, yang akan mengalahkan yang jahat, dan akan menjadi ibu semua orang hidup. Berdasarkan janji ini, Sara mendapat seorang putera kendati usianya sudah lanjut. Bertentangan dengan harapan manusiawi, Allah memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia, supaya menunjukkan bahwa ia setia pada janji-Nya: Hanna, ibu Samuel, Debora, Rut, Yudit, dan Ester, demikian pula banyak wanita yang lain lagi. Maria adalah “Yang unggul di tengah Umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang amat mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan, genaplah masanya” (LG 55).

Dikandung tanpa Noda Dosa

490 Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, “maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur” (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai “penuh rahmat” (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

491 Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, “dipenuhi dengan rahmat” oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma “Maria Dikandung tanpa Noda Dosa”, yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX: … bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (DS 2803).

492 Bahwa Maria “sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa” (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: “Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul” (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta yang mana pun Bapa “memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga” (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.

493 Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah “Yang suci sempurna” [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang “bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru” (LG 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.

“Jadilah padaku menurut Perkataanmu …”

494 Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan “Putera yang mahatinggi” tanpa mempunyai suami, Maria menjawab dalam “ketaatan iman” (Rm 1:5), dalam kepastian bahwa “untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil”: “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:37 38). Dengan memberikan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seluruhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama Dia, dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan.  “Sebab, seperti dikatakan oleh santo Ireneus, `dengan taat Maria menyebabkan ke selamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya. Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria `bunda mereka yang hidup. Sering pula mereka nyatakan: `maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (LG 56).

Maria Bunda Allah

495 Dalam Injil-injil Maria dinamakan “Bunda Yesus” (Yoh 2:1; 19:25). Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Puteranya ia sudah dihormati sebagai “Bunda Tuhan Ku” (Luk 1:43). la, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah, [Theotokos, Yang melahirkan Allah].

“TERPUJILAH ENGKAU DI ANTARA WANITA”

HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA

INTISARI BACAAN

  1. Perempuan yang berselubungkan matahari dengan mahkota dari 12 bintang di atas kepalanya bisa kita mengerti sebagai lambang dari Bunda Maria. ( Wahyu 11 )
  2. Pengajaran Paulus tentang akhir jaman, ketika Yesus, Anak Maria, akan menyerahkan Kerajaan kepada Bapa ( 1 Korintus 15 )
  3. Maria yang membawa Kristus dalam kandungannya, mengunjungi Elizabeth. Elizabeth berseru: “Siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” ( Lukas 1 )

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Apakah doaku hanyalah menjadi ungkapan perasaanku? Atau apakah doaku sungguh menjadi perayaan dan pengakuan akan tindakan Tuhan padaku?
  2. Maria ditampilkan sebagai orang yang percaya akan sabda Tuhan. Berapakah waktu yang kusediakan untuk mendengarkan sabda Tuhan?
  3. Apakah hidup doaku dijiwai oleh sabda Tuhan ( Doa Alkitabiah ), sebagaimana halnya doa Bunda Maria dalam injil hari ini? Atau apakah doaku hanyalah sebuah devosi aliran kata-kata tanpa henti yang tiada arti –  kering-jenuh-membosankan?
  4. Adakah aku menerima bahwa doa alkitabiah ( doa yang dijiwai oleh Kitab Suci ) adalah doa yang membawa aku ke pengalaman hidup rohani yang amat dalam, seperti dicontohkan oleh Bunda Maria?
  5. Apakah anda mengamini “Magnificat” yaitu kebahagiaan karena memberi, sukacita karena kemurahan hati dan rela kehilangan untuk menemukan makna kehidupan?