Warta Paroki 01 Juli 2018

Warta Paroki
30 Juni – 01 Juli  2018

  1. PENANGGALAN LITURGI
    Selasa,  3 Juli : Pesta St. Tomas,Rasul.
  2. Timja Pendidikan akan memberikan bantuan pendidikan bagi umat katolik paroki St. Athanasius Agung yang tidak mampu (LKMTD), untuk tahun ajaran 2018 – 2019 formulir permohonan pengajuan bantuan pendidikan dapat diambil di depan Sekretariat pada hari Minggu, tanggal 1 dan 8 Juli setelah misa minggu pagi ke – 2 dan setelah misa minggu sore.
  3. Donor darah akan diadakan pada :
    Hari/tgl  : Minggu, 22 Juli 2018
    Pukul    : 09.00 WIB
    Tempat : Aula St. Athanasius
  4. Tim Kerja KKS Paroki Karangpanas akan mengadakan kursus Kitab Suci. Bersertifikat dalam 6 kali pertemuan setiap Jumat minggu Ke III.Pertemuan Pertama akan diadakan pada :    Hari/tgl : Kamis, 26 Juli 2018
    Pukul    : 18.30 WIB
    CP        : Deo 081325441555 ; Beni 081575731236 ; Anna  08158059000
  5. Perkumpulan Santa Maria bekerjasama dengan Komunitas Sejati Katolik Kevikepan Semarang mengadakan sarasehan kesehatan “Mengenal Vertigo dan penangananya” pada:
    Hari, tgl        : Minggu, 15 Juli 2018
    Pukul           : 09.00 – Selesai
    Tempat        : Aula St. Yustinus
    Kantor pelayanan Pastoral KAS lt. 3. Jl Imam Bonjol No. 172, Semarang
    Tema           : “Mengenal VERTIGO dan Penanganannya”
    Narasumber  :    Dr. Lia Angelin Adriana Sp. S (Dokter Spesialis Saraf)
    Pendaftaran dapat menghubuingi
    Sekr. Perk. Santa Maria – 024 354 4085   FX. Susanto – 024 351 4937
    WP Hadi Santosa – 085700236155 Dody Arijanto – 0812250505540
  6. KEP VI Karangpanas akan diselenggarakan bulan Juli – November 2018. Pendaftaran pada petugas di depan gereja setiap misa, Ivan 0822.526.9919 atau di Sekretariat Paroki.
  7. Tim Kerja Paramenta mengundang ibu ibu untuk ikut aktif dalam belajar merangkai bunga setiap hari Selasa, Pukul 10.00 di gereja St. Athanasius Agung.
  8. Bagi umat yang ingin menyalurkan dana pendidikan (beasiswa) bisa melalui:
    Sekretariat Paroki Gereja Karangpanas
    Bank Niaga 016-01-44997-12-1 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Bank Niaga 906-01-00317-11-8 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Rek Tabungan BCA 816-5159-922 a/n Erniwaty/Cristiana Retnaningsih (Rek pendidikan)
    CP :
    Bpk Martinus Budi Kastianto: 081 575 000 822
    Ibu Christiana Retnaningsih: 081 225 520 287
    Bpk Mardiono: 081 225 78 650
    Ibu Erniwaty Heru Karjanto: 081 225 680 570
  9. Paroki Karangpanas menyediakan mesin EDC (gesek non tunai), bagi umat yg ingin menyumbang dapat melalui sekretariat paroki.
  10. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi :
    Benny    0815 7573 1236
    Anna      0815 8059 000
  11. Timja Paduan Suara, Pemazmur dan Organis membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu/Saudara-i yang ingin bergabung menjadi Pemazmur, dengan syarat:
    Bisa bernyanyi dengan baik
    Bisa membaca not angka
    Minimal Kelas I SMA (kelas X).
    Pendaftaran: Bp. Broto 0851 0029 4738

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman II

  1. Thomas Yulianus Alfo Susianto dari lingk. St. Antonius Padua – Jatingaleh
    dengan
    Anita Diah Krismarini dari Paroki SPM Ratu Rosario – Semarang.

Pengumuman I

  1. Julius Widhi Kurniawan dari lingk. St. Prepetua – Karangrejo I
    dengan 
    Novanda Ayuwardani dari Semarang.
  1. Ignatius Arditio Hernanda dari lingk. Soegijopranoto – Ngesrep Timur
    dengan
    Stefani Amanda Harmani dari Paroki St. Paulus – Kleca – Surakarta.

Saudara yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

BERITA LELAYU

  1. Bapak Antonius Dwi Djoko Sucahyo (63 th) – suami dari ibu Tarsisia Murtiyanti – dari lingk. St. Monika – Gombel Permai II.  Wafat hari Rabu, tanggal 12 Juni 2018.
  2. Bapak Yohanes Totok Soeprapto – suami dari ibu Theresia Farintinah Sri Hartinah – dari lingk. St. Aloysius – Bukit Sari.  Wafat hari Kamis, tanggal 21 Juni 2018.

PENGUMUMAN TAHBISAN IMAM

Akan ditahbiskan pada hari Selasa, tanggal 17 Juli 2018, Pukul 09.30 WIB, di Gereja Keluarga Kudus Banteng – Yogyakarta, dari tangan Mgr. Robertus Rubiyatmoko,Pr , Uskup Keuskupan Agung Semarang,
2 orang Frater Diakon Kongregasi Missionarii a Sacra Familia (MSF)  :
1.Diakon Stephanus Nyaris Prasetyo   –      asal Paroki Mater Dei, Madiun
2.Diakon Antinus Setya Herawan      –   asal Paroki St. Yakobus, Bantul

Akan ditahbiskan pada hari Rabu , tanggal 25 Juni 2018, Pukul 09.00 WIB, di Gereja St. Antonius Padua, Kotabru – Yogyakarta, dari tangan Mgr. Robertus Rubiyatmoko,Pr , Uskup Keuskupan Agung Semarang,
5 Skolastik Ordo Societatis Jesu (S.J)  :

  1. Skolastik Hinrich Angga Indraswara,S.J – asal Paroki Hati Kudus Kramat Raya, Jakarta, Keuskupan Agung, Jakarta
  2. Skolastik Imanuel Eko Anggun Sugiyono,S.J – asal Paroki Maria Ratu Damai, Banyuwangi, Keuskupan Malang
  3. Skolastik Bonifasius Melkyor Pando,S.J    –         asal Paroki St. Maria Immakulata, Soroako, Keuskupan Agung Makasar
  4. Skolastik Agustinus Winaryanta, S.J –   asal Paroki St. Theresia Lisiuex, Boro,Keuskupan Agung Semarang
  5. Skolastik Simon Arief Herdian Putra Tama,S.J   –         asal Paroki St. Theresia Lisiuex, Boro,Keuskupan Agung Semarang

Mohon doa restu bagi para diakon

 

 

Berdoa dengan Rendah Hati dan Penuh Sesal

Sabtu, 5 Maret 2016
Pekan Prapaskah III
Sabtu Imam
Hos 6:1-6; Mzm 51:3-4.18-19.20-21ab; Luk 18:9-14

Yesus bersabda, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedang orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

DALAM Injil hari ini, Yesus Kristus mengajarkan kepada kita cara berdoa dengan rendah hati dan penuh sesal. Yesus mengkritisi (cara ber)doa orang Farisi. Bagi Yesus itu bukanlah doa sama sekali. Itu hanyalah wacana pembenaran diri. Itu doa palsu.

Alih-alih berdoa seperti orang Farisi, kita harus berdoa seperti pemungut cukai. Ia dibenarkan bukan karena perbuatan-perbuatan baiknya, namun karena dengan rendah hati menyadari kedosaan dirinya. Ia pun berdoa dengan rendah hati dan penuh sesal.

Dari Injil ini kita belajar berdoa dengan rendah hati dan penuh sesal. Kerendahan hati merupakan mendasar dari doa kita. Kerendahan hati merupakan karakter terpenting dari doa kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita berdoa dan mendekati Allah dengan rendah hati. Di sana kita menyadari kedosaan dan kelemahan kita hingga kita menerima segala yang baik dari-Nya. Ini membuat doa kita berbuah karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan penuh sesal bertobat.

Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami menjadi rendah hati saat kami berdoa di hadirat-Mu. Anugerahilah kami kerendahan hati dan penyesalan. Engkau menghendaki kami memiliki relasi yang mendalam dan intim dengan Dikau, dasar dari kerendahan kami yang pokok kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Model Pewartaan

Setiap orang mempunyai model pewartaannya sendiri mulai dari baca alkitab sampai dengan doa-doa.

Zaman ini merupakan zaman teknologi, apabila kita tidak membaca kitab suci secara langsung, maka kita bisa membuka kitab suci lewat smartphone kita, tetapi sangat disarankan untuk membaca kitab suci secara langsung, karena lebih fokus.

Semoga berkenan dan bermanfaat

Hanya karikatur

Sumber : wwwgoogle.co.id

“Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (27 Juni 2014)

yesus membasuh-kaki-muridnyaMatius (11:25-30)

Sekali peristiwa berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab misteri Kerajaan Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.” Inilah Injil Tuhan kita! U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Ada seorang pematung terkenal. Suatu kali dia memahat sebuah patung “Yesus” berukuran besar. Dia ingin tahu apakah patung itu akan memancing reaksi yang benar dari orang-orang yang melihatnya. Dia membawa seorang anak kecil untuk memandang patung itu dan bertanya, “Menurut kamu, siapa Dia?” Anak itu menjawab, “Orang besar!” Si pematung pun menjadi sadar bahwa dia telah gagal. Kemudian dia mulai memahat dan memperbaiki patungnya lagi. Ketika dia sudah selesa, dia membawa anak itu kembali dan mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya, “Menurut kamu, siapa Dia?” Anak itu tersenyum dan menjawab, “Itu adalah Yesus yang berkata, ‘Biarlah anak-anak datang kepada-Ku’.” Si pematung akhirnya mengetahui bahwa ia telah berhasil. Patung tersebut telah berhasil melewati ujian mata seorang anak.Itulah anak-anak. Di mata seorang anak ada kejujuran. Seorang anak akan dengan jujur mengatakan bahwa sesuatu itu jelek atau baik. Jika Anda ingin melihat siapakah diri Anda sebenarnya, bertanyalah pada anak-anak. Maka, Anda akan memperoleh jawaban yang seringkali mengagetkan tapi sesuai dengan kenyataan. Pernah suatu kali ada seorang imam yang mencoba mendekati seorang anak. Tiba-tiba anak itu menangis. Rupanya dia takut pada brewok panjang dari romo tersebut. Ia katakan romo itu jelek, menakutkan dan mirip bajak laut. Betapa jujurnya anak-anak, meskipun, imam tersebut pasti bukan bajak laut.Hari ini Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Bacaan hari ini mengngatkan kita akan pentingnya “Kemurnian Hati.” Sebagaimana anak-anak yang berhati bersih tanpa “kepalsuan”, Tuhan Yesus pun meminta hal yang sama kepada kita. Tuhan akan berkenan kepada hamba-Nya yang mau merendahkan diri layaknya anak-anak (Mat 11:27). Dalam diri anak-anak, Allah akan menyingkapkan “rahasia kebijaksanaan”. Dengan kata lain, Tuhan akan memberikan rahmat-Nya kepada orang yang rendah hati dan mau terbuka akan sabda-Nya.

Tuhan Yesus memberi contoh bagaimana memiliki hati yang terbuka pada kehendak Bapa. “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:27). Betapa luar biasanya ketaatan Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya.

Tuhan Yesus pun berjanji bahwa siapa saja yang mau datang kepada-Nya akan mendapatkan “kelegaan”. Janji ini diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan mau setia memikul “kuk” yang dipasang. Apa artinya ini? Artinya bahwa “rasa damai” itu akan diperoleh, jika seseorang mau dengan setia memikul beban hidupnya. Itulah ganjaan bag mereka yang setia. Yesus sendiri menunjukkan kesetiaan-Nya sampai rela wafat disalib. Hati-Nya yang suci memang tertusuk oleh pengkhianatan para murid dan penolakan bangsa Yahudi. Tapi, Dia tidak menyerah dan putus asa. Dia bangkit berdiri menempuh jalan sengsara-Nya hingga akhir. Ia kuat karena setia pada kehendak Bapa.

Kita pun akan mendapatkan kebahagiaan yang sama jika kita mau setia dalam iman. Tentu saja kita perlu memiliki hati yang menyerupai Yesus, “Hati yang Kudus.” (Alexander Teguh/RUAH)

Doa
Allah yang Mahakuasa, perkenankanlah kami untuk memuliakan Hati Putra-Mu, dan mengenang karya besar cinta kasih-Nya bagi kami. Jadikanlah kami layak untuk menimba anugerah yang mengalir secara berlimpah dari sumber ilahi itu. Dengan pengantaraan Kristus itu juga yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

 

“Apa artinya pedang menjadi mata bajak?”

Salah satu nubuat nabi Yesaya adalah tentang tanda damai yang menyertai Mesias yaitu bahwa orang-orang akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak. Sungguh suatu lambang damai yang mengagumkan. Ketika para petani bersiap untuk menanam benih mereka pada musim tanam, mereka harus menggemburkan tanah. Setelah musim tuai, tanah menjadi keras dan kering. Jika benih-benih itu hanya sekedar dilemparkan ke atas tanah, maka burung-burung akan datang serta memakannya. Jadi, tanah harus dibajak terlebih dahulu.

Bajak mula-mula hanya berupa tongkat berujung runcing. Setelah mengalami perkembangan, bajak menjadi semacam kereta yang dapat ditarik oleh binatang. Masalah utamanya adalah bahwa kayunya cepat sekali menjadi aus. Jadi, seseorang di Timur Tengah sana mendapat ide untuk memasang tongkat logam di bagian depan bajak. Logam yang baik selain jarang, juga mahal harganya. Kebanyakan orang hanya mampu membeli sepotong saja. Jadi, ketika terjadi perang, mata-mata bajak harus dilebur dan ditempa menjadi mata-mata pedang. Ketika keadaan damai, proses sebaliknyalah yang terjadi. “Pedang ditempa menjadi mata bajak” menjadi lambang perubahan dari keadaan perang ke damai. Sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com