Warta Paroki 04 Juni 2017

WARTA PAROKI
4 Juni 2017

  1. Perayaan Ekaristi Novena St. Maria Fatima V akan dilaksanakan pada hari Selasa, 13 Juni 2017 pk. 17.30 di Kapel Seminari TOR Sanjaya, Jangli.
  2. OMK mengucapkan terimakasih atas partisipasi umat yang sudah berkenan mengumpulkan pakaian bekas layak pakai.
  3. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi : Benny  081575731236,  Anna 08158059000, Ririn 081390092598, Yanti 081392142727, Mulyatno 08122868561, Hermanu 08122809915, Daniel 081901687678,  Ekha 081325601700, Hartono 08157733300
  4. Akan diselenggarakan KEP ke-5 pada bulan Juli – November 2017. Syarat : mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran Rp  150.000,-.
    Pendaftaran ke à  – Stand KEP-5 di depan gereja
    – Sekretariat Paroki  (024)-8312595, 8505288
    – Dhita 085.875.895.399
    – Woro 085.640.547.596
  5. Dalam rangka penggalangan dana untuk renovasi Gereja St. Petrus & Paulus, Klepu – Yogyakarta akan diadakan ORKESTRA GEMA NUSANTARA bersama Imoeng Mulyadi, Endah Laras, Didik Nini Thowok bersama para pastor dan music Lam Kwan “Boen Hian Tong” pada hari Sabtu, 3 Juni, pukul 18.00, bertempat Sri Ratu convention hall. Harga tiket : Silver  Rp 150.000,- ; Gold Rp 300.000,- ; Platinum Rp 500.000,- ; Ultima Rp 1.000.000,- ; Premiere Rp 2.000.000,- Ticket box  à  Bp. Susanto  087888195899
  6. Akan diadakan Camping Rohani Katolik se – Indonesia di Pertapaan Karmel, Tumpang – Malang : – siswa klas VII XII    :     10 – 15 Juli 2017
    – mahasiswa & pekerja muda :  24 – 29 Juli 2017
    CP à  Hugo 0811.2892.895  atau  Budi 0811.2805.73

BERITA LELAYU :

  1. Ibu Elisabeth Ni Wayan Etik Sulasmi (43 th) – istri dari bapak Agustinus Mukodam – dari  St. Yusuf Pekerja – Karangpanas I.  Wafat hari Selasa, 23 Mei 2017.
  2. Stephanus Waloeyo Boediharjo (72 th) – dari  St. Antonius Padua – Jatingaleh IV.
    Wafat hari Senin,  29 Mei 2017.

 

“Tujuh Karunia Roh: 1.Roh Hikmat, 2.Roh Pengertian, 3.Roh Nasihat, 4.Roh Keperkasaan, 5.Roh Pengenalan akan Allah, 6.Roh Kesalehan, 7.Roh Takut akan Allah.”

Inspirasi Bacaan:

  1. Karena kehadiran Roh Kudus, semua bahasa bisa mengidungkan nyanyian sukacita dan kedamaian.
    ( Bacaan pertama – Kisah Rasul )
  2. Ketika anugrah dari setiap diri kita digunakan untuk melayani sesama, maka kita akan mengalami kharisma; namun ketika anugrah dari setiap diri kita digunakan untuk kepentingan sendiri, maka kita akan mengalami keonaran ( Bacaan kedua – 1 Korintus )
  3. Damai, belaskasih dan pengampunan adalah buah-buah sejati dari kehadiran Roh Kudus ( Injil – Yohanes)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK
ARTIKEL 8
“AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS “

687 “Tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor 2:11). Roh yang mewahyukan Allah itu, membuat kita mengenal Kristus, Sabda-Nya yang hidup; tetapi ia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri. la, yang “bersabda melalui para nabi”, membuat kita mendengarkan Sabda Bapa. Tetapi kita tidak mendengarkan Dia sendiri. Kita hanya mendengarkan Dia secara tidak langsung, bila ia mewahyukan Sabda kepada kita dan mempersiapkan kita, menerima-Nya dalam iman. Roh kebenaran, yang “mengungkapkan” Kristus bagi kita, tidak berbicara “dari diri-Nya sendiri” (Yoh 16:13). Sikap rendah hati yang ilahi ini menjelaskan, mengapa “dunia tidak dapat menerima-Nya, karena ia tidak melihat-Nya dan tidak mengenal-Nya”, sedangkan mereka yang percaya kepada Kristus mengenal-Nya, karena Ia menyertai mereka (Yoh 14:17).

688 Sebagai persekutuan iman yang hidup, yang meneruskan iman para Rasul, Gereja adalah tempat kita mengenal Roh Kudus:
– dalam Kitab-Kitab yang diilhami oleh-Nya;
– dalam tradisi, dengan para bapa Gereja sebagai saksi-saksi yang tetap aktual;
– dalam Wewenang Mengajar Gereja, yang Ia dampingi;
– dalam liturgi sakramental: oleh perkataan dan lambang-lambang yang dengannya Roh menghubungkan kita dengan Kristus;
– dalam doa, di mana Ia membela kita;
– dalam karisma dan tugas-tugas pelayanan, yang olehnya Gereja dibangun; – dalam kehidupan apostolik dan misionaris;
– dalam kesaksian para kudus, di mana Ia menyatakan kekudusan-Nya dan melanjutkan karya keselamatan. 

Lambang-lambang Roh Kudus

694 Air. Dalam upacara Pembaptisan air adalah lambang tindakan Roh Kudus, karena sesudah menyerukan Roh Kudus, air menjadi tanda sakramental yang berdaya guna bagi kelahiran kembali. Seperti pada kelahiran kita yang pertama kita tumbuh dalam air ketuban, maka air Pembaptisan adalah tanda bahwa kelahiran kita untuk kehidupan ilahi, dianugerahkan kepada kita dalam Roh Kudus. “Dibaptis dalam satu Roh”, kita juga “diberi minum dari satu Roh” (1 Kor 12:13). Jadi Roh dalam pribadi-Nya adalah air yang menghidupkan, yang mengalit, dari Kristus yang disalibkan dan yang memberi kita kehidupan abadi.

695 Urapan. Salah satu lambang Roh Kudus adalah juga urapan dengan minyak, malahan sampai ia menjadi sinonim dengan-Nya. Dalam inisiasi Kristen, urapan adalah tanda sakramental dalam Sakramen Penguatan, yang karenanya dinamakan “Khrismation” dalam Gereja-gereja Timur. Tetapi untuk mengerti sepenuhnya bobot nilai dari lambang ini, orang harus kembali ke urapan pertama, yang Roh Kudus kerjakan: Urapan Yesus. “Khristos” (terjemahan dari perkataan Ibrani “Messias”) berarti yang “diurapi dengan Roh Allah”. Dalam Perjanjian Lama sudah ada orang yang “diurapi” Tuhan; terutama Daud adalah seorang yang diurapi. Tetapi Yesus secara khusus adalah Dia yang diurapi Allah: kodrat manusiawi yang Putera terima, diurapi sepenuhnya oleh “Roh Kudus”. Oleh Roh Kudus, Yesus menjadi “Kristus”. Perawan Maria mengandung Kristus dengan perantaraan Roh Kudus, yang mengumumkan-Nya melalui malaikat pada kelahiran-Nya sebagai Kristus, dan yang membawa Simeon ke dalam kanisah, supaya ia dapat melihat yang diurapi Tuhan. Ialah yang memenuhi Kristus,b dan kekuatan-Nya keluar dari Kristus, waktu Ia melakukan penyembuhan dan karya-karya keselamatan. Pada akhirnya Ia jualah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam kodrat manusiawi-Nya, yang adalah pemenang atas kematian, setelah sepenuhnya dan seutuhnya menjadi “Kristus”, Yesus memberikan Roh Kudus secara berlimpah ruah, sampai “orang-orang kudus” dalam persatuan-Nya dengan kodrat manusiawi Putera Allah menjadi “manusia sempurna” dan “menampilkan Kristus dalam kepenuhan-Nya” (Ef 4:13): “Kristus paripurna”, seperti yang dikatakan santo Agustinus.

696 Api. Sementara air melambangkan kelahiran dan kesuburan kehidupan yang dianugerahkan dalam Roh Kudus, api melambangkan daya transformasi perbuatan Roh Kudus. Nabi Elia, yang “tampil bagaikan api dan perkataannya bagaikan obor yang menyala” (Sir 48:1), dengan perantaraan doanya menarik api turun alas kurban di gunung Karmel – lambang api Roh Kudus yang mengubah spa yang Ia sentuh. Yohanes Pembaptis, yang mendahului Tuhan “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) mengumumkan Kristus sebagai Dia, yang “akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16). Mengenai Roh ini Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala” (Luk 12:49). Dalam “lidah-lidah seperti api” Roh Kudus turun alas para Rasul pada pagi hari Pentekosta dan memenuhi mereka (Kis 2:3-4). Dalam tradisi rohani, lambang api ini dikenal sebagai salah satu lambang yang paling berkesan mengenai karya Roh Kudus”. “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19).

697 Awan dan sinar. Kedua lambang ini selalu berkaitan satu sama lain, kalau Roh Kudus menampakkan Diri. Sejak masa teofani Perjanjian Lama, awan – baik yang gelap maupun yang cerah – menyatakan Allah yang hidup dan menyelamatkan, dengan menyelubungi kemuliaan-Nya yang adikodrati. Demikian juga dengan Musa di gunung Sinai”, dalam kemah wahyu” dan selama perjalanan di padang gurun”; pada Salomo waktu pemberkatan kanisah”. Semua gambaran ini telah dipenuhi dalam Roh Kudus oleh Kristus. Roh turun alas Perawan Maria dan “menaunginya”, supaya ia mengandung dan melahirkan Yesus (Luk 1:35). Di alas gunung transfigurasi Ia datang dalam awan, “yang menaungi” Yesus, Musa, Elia, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan “satu suara kedengaran dari dalam awan: Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:34-35). “Awan” yang sama itu akhirnya menyembunyikan Yesus pada hari kenaikan-Nya ke surga dari pandangan para murid (Kis 1:9); pada hari kedatangan-Nya awan itu akan menyatakan Dia sebagai Putera Allah dalam segala kemuliaan-Nya.

698 Meterai adalah sebuah lambang, yang erat berkaitan dengan pengurapan. Kristus telah disahkan oleh “Bapa dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27) dan di dalam Dia, Bapa juga memeteraikan tanda milik-Nya alas kita. Karena gambaran meterai [bahasa Yunani “sphragis”] menandaskan akibat pengurapan Roh Kudus yang tidak terhapuskan dalam penerimaan Sakramen Pembaptisan, Penguatan, dan Tahbisan, maka ia dipakai dalam beberapa tradisi teologis untuk mengungkapkan “karakter”, yang tidak terhapuskan, tanda yang ditanamkan oleh ketiga Sakramen yang tidak dapat diulangi itu.

699 Tangan. Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberkati anak-anak kecil, dengan meletakkan tangan ke alas mereka. Atas nama-Nya para Rasul melakukan yang sama. Melalui peletakkan tangan para Rasul, Roh Kudus diberikan. Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakkan tangan dalam “unsur-unsur pokok” ajarannya. Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.

700 Jari. “Dengan jari Allah” Yesus mengusir setan (Luk 11:20). Sementara perintah Allah ditulis dengan “jari Allah” alas loh-loh batu (Kel 31:18), “surat Kristus” yang ditulis oleh para Rasul, “ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging yaitu di dalam hati manusia” (2 Kor 3:3). Madah “Veni, Creator Spiritus” berseru kepada Roh Kudus sebagai “jari tangan kanan Bapa”.

701 Merpati. Pada akhir air bah (yang adalah lambang Pembaptisan), merpati, – yang diterbangkan oleh Nuh dari dalam bahtera, – kembali dengan sehelai daun zaitun segar di paruhnya sebagai tanda bahwa bumi sudah dapat didiami lagi. Waktu Kristus naik dari air Pembaptisan-Nya, Roh Kudus – dalam rupa merpati – turun alas-Nya dan berhenti di alas-Nya. Roh turun ke dalam hati mereka yang sudah dimurnikan oleh Pembaptisan dan tinggal di dalamnya. Di beberapa gereja, Ekaristi suci disimpan dalam satu bejana logam yang berbentuk merpati [columbarium] dan digantung di alas altar. Merpati dalam ikonografi Kristen sejak. dahulu adalah lambang Roh Kudus.

Warta Paroki 28 Mei 2017

WARTA PAROKI
28 Mei 2017

  1. Dalam rangka HUT Adiyuswa, Paroki akan mengadakan perayaan ekaristi dan penerimaan Sakramen Perminyakan pada hari Senin, 29 Mei, pukul 09.30.
  2. Pertemuan Timja WKRI Karangpanas akan dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Juni, pukul 10.00, di ruang C.  Mohon setiap wilker mengirimkan 2 orang ibu untuk mewakilinya.
  3. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi : Benny  081575731236,  Anna 08158059000, Ririn 081390092598, Yanti 081392142727, Mulyatno 08122868561, Hermanu 08122809915, Daniel 081901687678,                  Ekha 081325601700, Hartono 08157733300
  4. OMK mengajak seluruh umat untuk berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk Porseri dengan cara mengumpulkan pakaian bekas layak pakai ke stan OMK di depan gereja setelah misa.
  5. Akan diselenggarakan KEP ke-5 pada bulan Juli – November 2017. Syarat : mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran Rp  150.000,-.
    Pendaftaran ke  – Stand KEP-5 di depan gereja
    – Sekretariat Paroki  (024)-8312595, 8505288
    – Dhita 085.875.895.399
    – Woro 085.640.547.596
  6. Dalam rangka penggalangan dana untuk renovasi Gereja St. Petrus & Paulus, Klepu – Yogyakarta akan diadakan ORKESTRA GEMA NUSANTARA bersama Imoeng Mulyadi, Endah Laras, Didik Nini Thowok bersama para pastor dan music Lam Kwan “Boen Hian Tong” pada hari Sabtu, 3 Juni, pukul 18.00, bertempat Sri Ratu convention hall. Harga tiket : Silver  Rp 150.000,- ; Gold Rp 300.000,- ; Platinum Rp 500.000,- ; Ultima Rp 1.000.000,- ; Premiere Rp 2.000.000,-
    Ticket box  à  Bp. Susanto  087888195899 
  7. Akan diadakan Camping Rohani Katolik se – Indonesia di Pertapaan Karmel, Tumpang – Malang : – siswa klas VII XII :  10 – 15 Juli 2017  – mahasiswa & pekerja muda :  24 – 29 Juli 2017
    CP Hugo 0811.2892.895  atau  Budi 0811.2805.73

“Komunikasi: Budaya Perjumpaan Sejati”

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Apakah saudara mengingat kata-kata atau kalimat dari orang yang saudara cintai? Apakah hal itu memotivasi hidup saudara?
  2. Kalau saat kematian anda mendekat, apakah pesan yang anda ingin tinggalkan untuk keluarga dan komunitas saudara?
  3. Adakah sabda perpisahan Yesus kepada murid-muridNya ( Yohanes 13 – 17 ) yang saudara ingat? Mengapa?

Ilustrasi Bacaan Injil Hari Ini
Diambil dari http://alkitab.sabda.org

DOA SYAFAAT KRISTUS UNTUK SEMUA ORANG PERCAYA.
Nas : Yoh 17:1
Doa Yesus yang terakhir untuk para murid-Nya menunjukkan keinginan-Nya yang mendalam bagi semua orang percaya, baik dahulu maupun sekarang. Doa ini juga merupakan suatu teladan yang diilhamkan Roh tentang bagaimana semua gembala sidang harus mendoakan jemaat mereka, dan bagaimana orang-tua harus mendoakan anak-anak mereka. Dengan berdoa untuk mereka yang berada di bawah pengawasan kita, perhatian terbesar haruslah:
(1) supaya mereka dapat mengenal Kristus dan Firman-Nya secara mendalam (ayat Yoh 17:2-3,17,19; lihat cat. –> Yoh 17:3); [atau ref. Yoh 17:3]
(2) supaya Allah melindungi mereka dari dunia, agar mereka tidak tersesat oleh tipu daya Iblis dan ajaran palsu (ayat Yoh 17:6,11,14-17);
(3) supaya mereka senantiasa memiliki sukacita penuh di dalam Kristus (ayat Yoh 17:13);
(4) supaya mereka kudus dalam pikiran, perbuatan, dan tabiat (lihat cat. –> Yoh 17:17); [atau ref. Yoh 17:17]
(5) supaya mereka menjadi satu dalam tujuan dan persekutuan sebagaimana halnya Yesus dengan Bapa (ayat Yoh 17:11,21-22; lihat cat. –> Yoh 17:21); [atau ref. Yoh 17:21]
(6) supaya mereka dapat menuntun orang lain kepada Kristus (ayat Yoh 17:21,23);
(7) supaya mereka dapat bertekun dalam iman dan akhirnya bersama dengan Kristus di sorga (ayat Yoh 17:24); dan
(8) supaya mereka senantiasa hidup di dalam kasih dan kehadiran Allah (ayat Yoh 17:26).

HIDUP YANG KEKAL.
Nas : Yoh 17:3
Hidup yang kekal bukanlah sekedar hidup yang tanpa akhir. Hidup kekal merupakan suatu kualitas hidup yang kita terima selaku orang percaya apabila kita mengambil bagian dalam hakikat hidup Allah melalui Kristus. Kenyataan ini mengizinkan kita mengenal Allah dalam pengetahuan dan persekutuan yang makin bertambah dengan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam PB hidup kekal digambarkan sebagai:
1) Suatu realitas masa kini (Yoh 5:24; 10:27-28). Memiliki hidup kekal sekarang menuntut adanya iman yang hidup. Hidup yang kekal tidak diperoleh dan dipertahankan hanya dengan suatu tindakan pertobatan dan iman yang dilakukan pada masa lampau (lihat cat. –> Yoh 5:24). [atau ref. Yoh 5:24]
Hidup yang kekal juga meliputi suatu persekutuan dan persatuan yang hidup sekarang ini dengan Kristus (1Yoh 5:12); tidak ada hidup yang kekal terlepas dari Dia (Yoh 10:27 dst; Yoh 11:25 dst; 1Yoh 5:11-13).
2) Harapan di masa depan. Hidup kekal dikaitkan dengan kedatangan Kristus untuk umat-Nya yang setia (lihat cat. –> Yoh 14:3; [atau ref. Yoh 14:3] bd. Mrk 10:30; 2Tim 1:1,10; Tit 1:2; 3:7) dan tergantung pada tetap hidup di dalam Roh (Rom 8:12-17; Gal 6:8).

MEREKA TELAH MENURUTI FIRMAN-MU.
Nas : Yoh 17:6
Doa Kristus untuk perlindungan, sukacita, pengudusan, kasih, dan kesatuan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu, yaitu mereka yang menjadi milik Allah, percaya kepada Kristus (ayat Yoh 17:8), terpisah dari dunia (ayat Yoh 17:14-16) dan menaati sabda Kristus dan ajaran-ajaran-Nya (ayat Yoh 17:6,8).

Cerita kehidupan:
Apakah Kita Mengenal Allah?
Penulis Amerika, Mark Twain, terkenal karena kecerdasan dan pesonanya. Dalam suatu perjalanan ke Eropa, ia diundang untuk makan malam dengan seorang kepala negara bagian. Ketika anak perempuannya mengetahui undangan ini, ia berkata, Ayah mengenal semua orang penting yang harus dikenal. Tetapi ayah tidak mengenal Allah. Sedihnya, kata-kata ini benar karena Mark Twain adalah orang tak percaya yang skeptis.
Komentar anak perempuannya itu seharusnya menimbulkan pertanyaan terhadap diri kita sendiri, yaitu apakah kita mengenal Allah. Kita mungkin diberkati dengan persahabatan yang memperkaya hidup, berteman dengan begitu banyak orang penting, namun apakah kita mengenal Allah? Dan apakah pengetahuan kita akan Dia lebih dari sekadar informasi dari orang lain atau spekulasi, hal-hal yang mungkin dapat kita baca di buku?
Yesus ingin agar para murid-Nya memiliki pengenalan yang intim tentang Allah. Dia berdoa, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3). Pengenalan ini benar-benar bersifat pribadi, dan hanya bisa didapatkan melalui persahabatan yang dalam dan lama. Sebenarnya, pengenalan yang dimaksud dalam bacaan ini dan di tempat lain dalam Kitab Suci digambarkan seperti keintiman suami istri saat mereka menjadi satu (Kejadian 4:1).
Kita dapat memiliki pengenalan itu jika kita meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan Allah, membaca firman-Nya, dan membagikan kasih-Nya kepada dunia VCG

MENGENAL ALLAH
TAK CUKUP HANYA DENGAN PIKIRAN,
ANDA HARUS MENGENAL-NYA DENGAN HATI

Warta Paroki 21 Mei 2017

 WARTA PAROKI
21 Mei 2017

  1. Baptisan bayi/anak akan dilaksanakan hari Minggu, 28 Mei, pukul 09.00, di gereja. Pembekalan untuk orangtua dan wali baptis diadakan hari Jum’at, 26 Mei, pukul 18.00, di ruang C.
  2. Para orangtua baptisan bayi/anak bulan April diharap hadir dalam pertemuan lanjutan hari Jum’at, 26 Mei, pukul 18.00, di ruang sekretariat DP. Pengumuman ini berlaku sebagai undangan.
  3. Penyegaran Janji Nikah dilaksanakan pada misa Minggu sore, 28 Mei, pukul 17.30. Pasutri yang ingin memperbaharui Janji Nikahnya dapat mendaftarkan diri ke sekretariat paroki. Dan WAJIB daftar ulang di hari H pada petugas di depan gereja.
  4. Dalam rangka HUT Adiyuswa, Paroki akan mengadakan perayaan ekaristi dan penerimaan Sakramen Perminyakan pada hari Senin, 29 Mei, pukul 09.30. Bapak-ibu ketua lingkungan diharap mengkoordinir pada lansianya.
  5. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group.
    Bagi yang berminat dapat menghubungi :
    Benny  081575731236,  Anna 08158059000, Ririn 081390092598, Yanti 081392142727,
    Mulyatno 08122868561, Hermanu 08122809915, Daniel 081901687678, Ekha 081325601700,
    Hartono 08157733300
  6. OMK mengajak seluruh umat untuk berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk Porseri dengan cara mengumpulkan pakaian bekas layak pakai ke stan OMK di depan gereja setelah misa.
  7. Akan diselenggarakan KEP ke-5 pada bulan Juli – November 2017. Syarat : mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran Rp  150.000,-. Pendaftaran ke – Stand KEP-5 di depan gereja
    – Sekretariat Paroki  (024)-8312595, 8505288
    – Dhita 085.875.895.399
    – Woro 085.640.547.596
  8. Dalam rangka penggalangan dana untuk renovasi Gereja St. Petrus & Paulus, Klepu – Yogyakarta akan diadakan ORKESTRA GEMA NUSANTARA bersama Imoeng Mulyadi, Endah Laras, Didik Nini Thowok bersama para pastor dan music Lam Kwan “Boen Hian Tong” pada hari Sabtu, 3 Juni, pukul 18.00, bertempat Sri Ratu convention hall.
    Harga tiket : Silver  Rp 150.000,- ; Gold Rp 300.000,- ; Platinum Rp 500.000,- ; Ultima Rp 1.000.000,- ; Premiere Rp 2.000.000,- Ticket box Bp. Susanto  087888195899
  9. Akan diadakan Camping Rohani Katolik se – Indonesia di Pertapaan Karmel, Tumpang – Malang : – siswa klas VII XII  : 10 – 15 Juli 2017  – mahasiswa & pekerja muda :  24 – 29 Juli 2017
    CP Hugo 0811.2892.895  atau  Budi 0811.2805.73

BERITA DUKA :

  1. Bpk Pierre Soegito Permadi (49 th) – dari lingkungan St. Stefanus – Griya Bukit Mas. Wafat hari Jumat, 19 Mei 2017. 

“Roh Kebenaran akan menyertaimu selalu”

Inspirasi Kitab Suci Minggu ini:

  1. Kerjasama antara kharisma kharisma yang ada di dalam Gereja dan administrasi yang baik adalah kombinasi yang tak terkalahkan dalam hidup Gereja. ( Bacaan Pertama )
  2. Hanya kalau kita mempersatukan penderitaan kita dengan Salib Tuhan Yesus, maka kita akan ikut ambil bagian dalam kemulian-Nya ( Bacaan Kedua )
  3. Ketaatan pada  perintah-perintah hukum bisa jatuh pada semangat “legalisme”. Hanya hati yang dimotivasi oleh CINTA bisa mengatasi “legalisme” ( Bacaan Injil )

Ilustrasi berikut diambil dari

http://alkitab.sabda.org

BARANGSIAPA MEMEGANG PERINTAH-KU.

Nas : Yoh 14:21

Menaati perintah-perintah Kristus bukan merupakan suatu pilihan bagi mereka yang mengingini hidup kekal (Yoh 3:36; 14:21,23; 15:8-10,13-14; Luk 6:46-49; Yak 1:22; 2Pet 1:5-11; 1Yoh 2:3-6).

1) Ketaatan kepada Kristus, sekalipun tidak pernah sempurna, seharusnya bersifat sungguh-sungguh. Ketaatan merupakan aspek hakiki dari iman yang menyelamatkan, yang timbul dari kasih kita bagi-Nya (ayat Yoh 14:15,21,23-24. ( lihat cat. –> Mat 7:21). [atau ref. Mat 7:21]

Tanpa kasih kepada Kristus, semua usaha kita untuk menaati perintah-Nya hanya merupakan legalisme.

2) Kepada orang yang mengasihi Kristus serta berusaha untuk senantiasa menaati perintah-Nya, Kristus menjanjikan kasih yang khusus, kasih karunia, dan kehadiran-Nya yang mendalam (bd. ayat Yoh 14:23).

Sharing Kehidupan:

Selama beberapa tahun seorang pria hidup menyendiri dan penuh kegetiran. Ia juga tak pernah pergi ke gereja yang dulu pernah sangat ia cintai. Sekarang ia sakit dan hampir sepanjang waktu menangis. Sejumlah orang yang tetap berhubungan dengannya merasa sangat prihatin. Dulu pria tersebut adalah seorang Kristen yang penuh kasih, sampai akhirnya sebuah musibah terjadi.

Seorang anggota gereja yang kaya menipunya dalam suatu perjanjian bisnis dan kemudian memfitnahnya. Pada mulanya ia bereaksi dengan benar dan mencoba menyelesaikan masalahnya secara pribadi. Tatkala usaha ini gagal, ia mencoba menemui dua penatua gereja untuk menemaninya menghadapi orang itu, namun tak satu pun dari mereka mau terlibat dalam kasusnya. Karena frustrasi, ia pun meninggalkan gerejanya, lalu hidup menyendiri dan tidak bahagia.

Meski saya tidak membenarkan pengusaha yang jahat ataupun para penatua yang pengecut itu, saya yakin bahwa tidak adanya damai sejahtera dalam diri orang ini adalah akibat dari ketidaktaatannya sendiri. Walau telah dirugikan, seharusnya ia tetap menaati perintah “kasihilah musuhmu” dan “berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).

Kasih, ketaatan, dan damai sejahtera adalah tiga hal yang tak terpisahkan. Jika kita benar-benar mengasihi Yesus seperti yang seharusnya, kita akan tetap menaati-Nya, apa pun yang terjadi. Setelah kita menaati-Nya, maka kita akan menikmati damai sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh Roh Allah (Yohanes 14:27; Galatia 5:22) –HVL

AGAR DAPAT BERJALAN DALAM DAMAI SEJAHTERA
TETAPLAH MELANGKAH BERSAMA YESUS

 

Sabda Hidup: Rabu, 3 Mei 2017

Pesta St. Filipus dan Yakobus, Rasul

warna liturgi merah

Bacaan

1Kor. 15:1-8; Mzm. 19:2-3,4-5; Yoh. 14:6-14. BcO Kis5:12-32 atau 1Kor 1:17-2:5

Bacaan Injil: Yoh 14:6-14

6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”8Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”9Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.10Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.11Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.12Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;13dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.14Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

Renungan

SUATU kali aku melihat tanaman pot di dekat kolam layu dan hampir mati. Ketika kuliat ternyata pot itu kering. Tampaknya sudah lama ia tidak disiram, padahal dia berada di dekat air. Seorang anak sering tidak merasakan besarnya cinta orang tua kepada mereka. Baru saat ditunjukkan oleh orang lain mereka baru sadar.

Filipus telah lama bersama Yesus. Maka ketika ia meminta Tuhan menunjukkan Bapa kepadanya Yesus heran.Filipu selalu bersama Yesus. Maka mengherankan kala ia tidak tahu Bapa, karena Yesus ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia.

Seringkali kedekatan dengan sumber tidak menentukan kemampuan merasakan rahmat tersebut. Rahmat itu berlimpah. Dia ada di antara kita. Kita buka hati dan pikiran kita agar menangkap rahmat-Nya dan menyerap dayanya.

Kontemplasi

Bayangkan rahmat Tuhan yang ada di sekitarmu.

Refleksi

Bagaimana mengenali dan menyerap rahmat Tuhan?

Doa

Tuhan semoga aku mampu menangkap dan menyerap rahmat-Mu. Semoga aku tidak kehilangan kesempatan menangkapnya. Amin.

Perutusan

Aku akan menangkap rahmat Tuhan di sekitarku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Senin, 01 Mei 2017 Hari Biasa Pekan III Paskah

Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:22-29)

  
“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”
Setelah Yesus mempergandakan roti, keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang danau Tiberias, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang dipakai murid-murid Yesus. Mereka melihat juga bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias ke dekat tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

 
Dalam Yoh 6:27 Yesus berkata: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”  Pertanyaan yang dulu ditanyakan oleh para pendengar-Nya adalah sama dengan pertanyaan yang kita ajukan sekarang: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh 6:28). Kita mengetahui jawaban Yesus: ”Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Oleh karena itu, percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan. Ucapan Yesus ini mengingatkan kita bahwa segala kegiatan yang kita jalani hendaknya dilakukan untuk sesuatu yang lebih bernilai, yaitu untuk memuliakan Tuhan dan untuk sesama, bukan untuk diri sendiri semata. Iman bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang telah diterima, dan ketika iman dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan suka cita. Iman itu membuat kita berbuah, sebab ia memperluas hati kita di dalam pengharapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang menghidupkan.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.co.id

Apakah Seminari itu?

  1. Apakah Seminari itu?

Kata seminari berasal dari kata Latin `semen’ yang berarti `benih atau bibit’. Seminari berasal dari kata Latin `seminarium’ yang berarti `tempat pembibitan, tempat pesemaian benih-benih’. Maka, seminari lalu berarti: sebuah tempat [tepatnya sebuah sekolah yang bergabung dengan asrama: tempat belajar dan tempat tinggal] di mana benih-benih panggilan imam yang terdapat dalam diri anak-anak muda, disemaikan, secara khusus, untuk jangka waktu tertentu, dengan tatacara hidup dan pelajaran yang khas, dengan dukungan bantuan para staf pengajar dan pembina, yang biasanya terdiri dari para imam / biarawan. Adapun kata `seminaris’ menunjuk pada para siswa yang belajar di seminari tersebut.

Dari lintas sejarah gereja, kita mengenal seminari yang klasik, yakni serentak sebagai sebuah sekolah di mana para seminarisnya belajar di dalam kompleks seminari, entah sebagai sebuah SMP atau SMU, dan sekaligus sebagai asrama di mana mereka tinggal dan hidup dari hari ke hari.

Namun, seiring perkembangan waktu, demi alasan praktis dan demi juga kehidupan masa remaja yang alamiah, maka ada seminari modern di mana para seminaris mengikuti pendidikan SMP atau SMUnya di sekolah lain di luar kompleks seminari, namun mereka tinggal di dalam seminari sebagai asrama dan mengikuti pelajaran pelajaran dan pembinaan khusus yang dibutuhkan oleh setiap calon imam.

  1. Mengapa ada Seminari Menengah dan Seminari Tinggi?

Wah, bukan hanya seminari menengah dan tinggi saja, ada juga seminari `kelas persiapan atas’ bahkan ada juga seminari `Tahun Orientasi Rohani’. Apa maksudnya?

Seminari Menengah yang ada di Indonesia masih dibedakan lagi atas:

Seminari Menengah tingkat SMP yakni yang menerima para seminaris sesudah mereka menamatkan SD. Di sini mereka belajar selama 3 tahun, mengikuti kurikulum SMP pada umumnya, ditambah dengan beberapa materi pelajaran khas Seminari. Kita masih memiliki beberapa Seminari Menengah tingkat SMP, yakni di Tuke Keuskupan Denpasar, di Maumere untuk Keuskupan Agung Ende, di Kisol untuk Keuskupan Ruteng, di Saumlaki untuk Keuskupan Ambon, dan nanti di Aimas untuk Keuskupan Sorong.

Seminari Menengah untuk tingkat SMU adalah yang paling umum di Indonesia. Para siswa diterima sesudah mereka menamatkan SMP. Di sini mereka mengikuti 3 tahun pendidikan memenuhi kurikulum pemerintah plus kurikulum Seminari, sekaligus dengan tambahan 1 tahun, entah pada tahun pertama memasuki Seminari [disebut KPB: Kelas Persiapan bawah] atau nanti ditambahkan sesudah melewatkan 3 tahun pendidikan SMUnya [disebut KPA: kelas persiapan akhir].

Seminari Menengah KPA [Kelas Persiapan Atas] adalah sebuah seminari yang melayani mereka yang disebut mengalami `panggilan terlambat’, artinya yang memutuskan menjadi calon imam sesudah menamatkan SMU, bahkan sementara atau sesudah kuliah ataupun bekerja. Mereka mengikuti pembinaan khusus minimal selama 1 tahun dan berdasarkan kebutuhan ada yang sampai 2 tahun.

Seminari Tahun Orientasi Rohani [TOR] adalah sebuah tempat pembinaan khusus benih-benih panggilan bagi mereka yang telah menamatkan Seminari Menengah tingkat SMU atau Seminari Menengah KPA, dan yang memilih menjadi calon imam diosesan atau imam praja. Selama setahun mereka mengalami pembinaan khusus di bidang kepribadian dan kerohanian sekaligus untuk lebih mengenal dan menghayati seluk beluk imam diosesan.

Seminari Tinggi adalah jenjang pembinaan terakhir dari para calon imam sesudah mereka mengikuti Seminari Tahun Orientasi Rohani. Biasanya pendidikan yang ditempuh di sini selama 6 tahun kuliah ditambah 1 tahun praktek Tahun Orientasi Pastoral.

Di Indonesia terdapat 31 Seminari Menengah, 3 KPA, 12 TOR dan 13 Seminari Tinggi.

  1. Jadi berapa tahun dibutuhkan untuk menjadi imam?

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMP, maka ia memerlukan: 3 tahun seminari menengah tingkat SMP, 3 tahun seminari menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 14 tahun.

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMU maka ia memerlukan: 4 tahun Seminari Menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 12 tahun.

Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat KPA maka ia memerlukan minimal: 1 tahun Seminari Menengah tingkat KPA, 1 tahun Seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 9 tahun.

Hukum Gereja memberikan kemungkinan bagi mereka yang mau menjadi imam sesudah mengikuti pendidikan akademis yang memadai untuk tidak mengikuti seluruh tuntutan pembinaan mulai dari Seminari Menengah KPA, TOR dan Seminari Tinggi. Uskup dapat memberi dispensasi -sesudah penyelidikan yang matang- untuk mengikuti pendidikan filsafat dan teologi saja, bahkan juga untuk tidak tinggal di seminari sebagaimana lazimnya.

  1. Apa saja yang dipelajari di masing-masing tingkatan Seminari tadi?

Secara umum materi yang diprogramkan pemerintah untuk setiap jenjang pendidikan harus dipelajari oleh para seminaris sesuai tingkat masing-masing, entah SMP, SMU, Perguruan Tinggi. Adapun materi binaan tambahan pada umumnya adalah: Pengetahuan Agama Katolik, Sejarah Gereja, Kitab Suci, Liturgi, Kepribadian, Etiket / Pergaulan, Psikologi Perkembangan, Public Speaking, tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Latin dan bahasa pilihan lainnya, Musik / Kesenian Gereja, Kebudayaan, Pastoral, Katekese, Hidup Berkomunitas, Panggilan dan Motivasi, Bina Kepribadian, Bimbingan Rohani, dll.

Jadi di sela-sela mengikuti kurikulum pemerintah, para seminaris harus menyisihkan waktu untuk memenuhi kurikulum seminari.

Pendidikan di seminari semuanya diterapkan dengan disiplin yang prima, sekaligus tidak kaku dan mematikan, tetap menghormati hak asasi manusia, demokratis dan kristiani.

Seluruh pembinaan di Seminari tidak lepas dari 4 kerangka dasar ini yakni membantu peningkatan pemberdayaan dan kemampuan tiap seminaris dalam bidang: kemanusiaan / kepribadiannya, akademi / intelektualnya, kerohanian / spiritualitasnya dan kecakapan serta keterampilan berpastoral.

  1. Khusus untuk seminari menengah, apakah anak-anak tidak terlalu kecil untuk dapat memutuskan bahwa ia ingin menjadi seorang imam? Apakah anak bukan korban keinginan orang tua? Jika demikian, apakah dapat disebut sebagai panggilan?

Ketika Mgr. Jose Galvez, Sekretaris Jendral dari Serikat Kepausan untuk Seminari di Roma, mewawancarai seorang siswa seminaris tingkat SMP di Seminari Roh Kudus, Tuke, Denpasar, ia mendapat jawaban ini dari seorang seminaris: Saya ingin sekali sejak usia dini memberikan diri dan cita-cita saya pada imamat. Anak ayam pun masih kecil tetapi ia sudah mulai mencari makanannya sendiri demi masa depannya.

Jawaban polos ini dapat menjelaskan mengapa seminari menengah tingkat SMP itu perlu dan penting. Ini juga bukti bahwa panggilan Tuhan mulai terasa pada jenjang usia manapun dan tugas Gereja memberi tempat pada panggilan itu. Manfaat lain dari pendidikan dini ini ialah: motivasi panggilan bisa menjadi lebih kuat, pengenalan akan imamat bisa lebih lama dan mendalam, budaya belajar dan hidup rohani bisa lebih terbina lewat rentang waktu yang lama dan berkontinuitas.

Namun tak dapat disangkal bahwa ada juga catatan kritisnya, yakni anak-anak terlalu cepat dipisahkan dari keakraban keluarga dan dari pergaulan yang alamiah dengan sesama anak remaja puteri, hal mana bisa mengakibatkan ketidakmatangan afeksi mereka di kemudian hari. Adalah tanggung jawab, peran dan tugas gereja dalam hal ini staf seminari untuk menangkal bahaya negatif, sekaligus meningkatkan manfaat positif yang ada.

Untuk itulah peranan pembimbing rohani pribadi di seminari sangatlah penting, demikian juga peranan para staf pembina, baik rektor maupun sesama imam lainnnya. Mereka bertugas memurnikan motivasi panggilan para seminaris, membantu mereka menolong dirinya sendiri untuk keluar dari kekurangan yang ada, menolong mereka untuk tiba pada keputusan yang matang dan sendiri mengambil keputusan untuk menjadi imam atau tidak. Peran tak tergantikan tetaplah pada anak itu sendiri dalam penentuan akhir sehingga ia dengan bebas dan tanpa paksaan orang tua / paroki ataupun staf mengambil kata akhir dalam terang dan tuntunan Roh Kudus. Panggilan adalah anugerah dari Tuhan maka tidak dapat dipaksakan oleh manusia. (bersambung)

http://yesaya.indocell.net/id766.htm

 

Berkobar-kobar menjadi Pelopor Peradaban Kasih.

Ilustrasi http://alkitab.sabda.org/illustration.php?id=3696

Nats : Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita? (Lukas 24:32)
Bacaan : Lukas 24:13-32

Dalam Kisah Para Rasul 17, Paulus pergi ke Areopagus untuk memberitakan kebenaran kebangkitan. Sebagian besar orang yang berkumpul di sana bukan orang yang ingin mendengarkan hal-hal rohani. Lukas, yang menuliskan Kisah Para Rasul, mencatat mereka hanya ingin menghabiskan waktu untuk membahas ide-ide terbaru, tanpa memiliki minat yang berkobar-kobar untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari (ayat 21).

Terlalu banyak informasi dapat membahayakan. Semua ide itu dapat saling memburamkan dan tak berkaitan, sehingga yang kita ketahui tak mengubah kita.

Berabad-abad lalu, sejarawan Plutarch mengingatkan, hidup pada tahap informasi semata itu berbahaya. Dengan bijak ia berkata, “Akal budi bukan bejana untuk diisi, tetapi api untuk dikobarkan.”

Para pengikut Kristus yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus akan menyetujui hal itu (Lukas 24). Ketika mereka meratapi kematian Yesus, Kristus yang telah bangkit bergabung dengan mereka tetapi menyembunyikan identitas-Nya. Dia mulai mengajar mereka tentang nubuatan-nubuatan kuno dalam Perjanjian Lama mengenai semua peristiwa itu. Setelah itu, Kristus menyatakan diri-Nya kepada mereka kemudian pergi.

Setelah Yesus pergi, mereka heran akan apa yang telah mereka dengar. Hal-hal yang diajarkan-Nya bukan fakta-fakta mandul, melainkan api yang membakar hati mereka dengan pengabdian kepada-Nya. Marilah kita juga memercayai Gembala jiwa kita untuk membakar hati kita saat kita bertumbuh di dalam firman-Nya –WEC
Kala menempuh perjalanan masa,
Kehadiran-Nya terasa bersama kita;
Membaca firman-Nya, mendengar sabda-Nya
Nyala-Nya memperbarui hati kita. –Hess

ANDA TIDAK DAPAT MENGOBARKAN API DI HATI ORANG LAIN
SEBELUM API ITU BERKOBAR

DI HATI ANDA
http://yesaya.indocell.net/id766.htm