Warta Paroki 10 Desember 2017

Warta Paroki
10 November 2017

  1. PENANGGALAN LITURGI
    Rabu, 13 Des. :  Peringatan St. Lusia , Perawan dan Martir.
    Kamis,14 Des. :  Peringatan St. Yohanes dari Salib , Imam dan Pujangga Gereja.
  2. Pendaftaran Komuni Pertama 2018 mulai 02 – 24 Desember 2017. Pendaftaran melalui sekretariat paroki:
    Syarat :
    –  Sudah kelas 4 SD / usia 10 tahun
    –  Sudah di baptis
    –  Surat baptis asli
    –  Fc. Surat nikah orang tua
    –  Formulir dari ketua lingkungan
    –  Apabila pembekalan sudah dilaksanakan 2 kali, tidak diterima lagi peserta susulan
  3. Penerimaan Sakramen Tobat di gereja paroki akan dilaksanakan hari Kamis & Jumat 14 & 15 Desember pukul 17.00. dan akan dilayani oleh 9 orang imam.
  4. Baptisan bayi akan dilaksanakan :
    Hari/tgl : Minggu, 31 Desember 2017
    Pukul    : 09.00 WIB
    Tempat : Kapel
    Syarat :
    –  Formulir dr ketua lingkungan
    –  Fc. Akta lahir anak (kalau sudah punya)
    –  Fc. Akta Nikah
    –  Fc. Testimonium
    –  Fc. Surat baptis emban baptis (usia max 50 th, HARUS sudah krisma)
    Pembekalan bagi orangtua & wali baptis :
    Hari/tgl : Jum’at, 29 Desember 2017
    Pukul    : 18.00 WIB
    Tempat : Ruang St. Yusup
  5. Dalam rangka Galang Dana Hari Anak Misioner, PIA Karangpanas akan menjual kalander 2018 seharga Rp. 30.000,- di stand PIA depan gereja, Mohon partisipasi umat.
    CP : Mega :  089.677.298.768
  6. Majalah SalamDamai Edisi Desember sudah terbit dan dapat dibeli pada petugas di depan gereja.
  7. KB, TK – SD Pangudi Luhur Don Bosko menerima pendaftaran siswa baru
    KB – TK (024) 8502973
    SD (024) 8319196

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman III

  1. Andreas Agus Susilo dari lingk. St. Maria Fatima – Jangli I
    dengan
    Bernadette Iveline Moerland dari Lingk. St. Maria Goretti – Jangli III.
  1. Anjar Pernama Sidiq dari Tinjomoyo – Semarang
    dengan
    Maria Lourdes Andiane Ann Sugesti dari Lingk. St. Anna Maria – Ksatrian IV.

Pengumuman II

  1. Fransiskus Xaverius Agus Eko Anselino Lingk. St. Antonius Padua – Jatingaleh IV
    dengan
    Arum Damayanti Susanda dari Candi – Kab. Semarang.
  1. Herman Yosep Ujang Kurniawan dari lingk. St. Paulus Miki – Saptamarga III Barat
    dengan
    Anastasia Krisma Cahyani dari Lingk. St. Maria Fatima – Jangli I.

Pengumuman I

  1. Marcilla Agnes Vaninta Rinditia Lingk. St. Fabianus – Karangrejo Selatan II
    dengan
    Lukas Natalis Maturbongs dari Paroki Kristus Raja – Katedral – Sorong.

Saudara yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

BERITA LELAYU

  1. Bapak Martinus Soemakir (79 th) – suami dari ibu maria Soetijaspoerwati
    – dari lingk. St. Maria Mater Dei – Jangli IV.
    Wafat hari Rabu , tanggal 14 November 2017.

BERJAGA-JAGALAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yesaya memohon kepada Allah agar kembali mengasihani umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Paulus mewartakan Allah yang baik dan setia kepada umat-Nya (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kita diajak untuk menjadi hamba yang baik, yang selalu siap sedia menyambut kedatangan tuannya, yaitu Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “berjaga-jaga” bagiku?
  3. Dalam hal apa saja aku perlu waspada dan berjaga-jaga?
  4. Apa yang aku lakukan supaya bisa selalu siap dan waspada?

Katekismus Gereja Katolik

2848 Supaya dapat melawan godaan, dibutuhkan satu keputusan hati. “Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu. Tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat 6:21.24). “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25).

Dalam “persetujuan” ini kepada Roh Kudus, Bapa memberi kita kekuatan.

“Percobaan yang kamu alami adalah percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.

Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

2849 Tetapi kemenangan dalam perjuangan yang demikian itu hanyalah mungkin di dalam doa. Yesus mengalahkan penggoda sejak awal (Mat 4:1-11). sampai kepada perjuangan terakhir dalam sakratul maut-Nya (Mat 26:36-44) melalui doa.

Dengan demikian, dalam permohonan ini kepada Bapa kita Kristus mempersatukan kita dengan perjuangan-Nya dan sakratul maut-Nya.

Kita dinasihati dengan sangat, supaya dalam persekutuan dengan Dia, membuat hati kita waspada (Mrk 13:9.23.33-37; 14:38; Luk 12:35-40). Kewaspadaan adalah “penjaga” hati.

Yesus memohon untuk kita kepada Bapa-Nya dengan perkataan: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11). Tanpa henti-hentinya Roh Kudus mengajak kita untuk waspada (1 Kor 16:13; Ko14:2; 1 Tes 5:6; 1 Ptr 5:8).

Dalam godaan terakhir perjuangan kita di dunia ini kesungguhan permohonan ini menjadi nyata; ia meminta ketabahan sampai akhir. “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia yang berjaga-jaga” (Why 16:15).

 

Sharing Iman:
www.sabda.org

Tanggal 26 Februari 1993 sebuah bom yang dahsyat meledak di parkiran bawah tanah World Trade Center di New York. Bom itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari seribu orang.

Peristiwa itu mendorong dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap banyak orang.

Namun, hanya sedikit penegak hukum yang mengenali kejadian itu sebagai bagian dari rencana teroris internasional.

Saat menara World Trade Center dihancurkan teroris tahun 2001, pejabat tinggi departemen kepolisian Raymond Kelly teringat serangan pertama masa silam itu dan berkata, “Hal itu seharusnya menjadi seruan untuk waspada bagi Amerika.”

Tiap orang percaya dipanggil Tuhan untuk berjaga, bukannya lalai dan tak peduli.

Bila semangat kita telah padam, Dia meminta dengan sangat kepada kita untuk mengobarkan bara api itu kembali.

Tanyakan pada diri Anda sendiri: Adakah panggilan untuk waspada dalam hidup saya akhir-akhir ini yang saya abaikan?

Apakah Allah tengah berusaha memberitahukan sesuatu kepada saya?

Akankah saya sambut panggilan-Nya untuk berjaga pada hari ini? — David McCasland.

Allah Adalah Baik

Rabu, 23 Desember 2015
Pekan Khusus Adven IV
Mal 3:1-4;4:5-6; Mzm 25:4-5b,-9,10,14; Luk 1:57-66

Genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. Namanya Yohanes.

INJIL hari ini mewartakan kepada kita tentang kelahiran Yohanes anak Elisabet dan Zakharia. Delapan hari kemudian ia diberi nama. Namanya Yohanes. Nama itu berarti Allah adalah Baik.

Anak ini telah diberi nama dari surga! Elisabet dan Zakharia yakin dengan iman mereka dan ditentukan untuk melihat bahwa Allah dimuliakan melalui anak ini. Dalam kelahiran Yohanes Pembaptis kita melihat rahmat dan kebaikan Allah dinyatakan kepada dunia yang hancur oleh dosa, kebusukan dan kematian, dunia yang kehilangan pengharapan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus yang kedatangan-Nya dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Melalui Yohanes dan Yesus, Allah bertindak untuk menyelamatkan kita. Kebaikn-Nya memenuhi kita dengan Roh Kudus dan membuat iman kita hidup pada janji-Nya.

Tuhan Yesus Kristus, buatlah hidup kami persembahan syukur kepada Allah. Penuhilah kami dengan sukacita kehadiran-Mu yang menyelamatkan kami di seluruh kehidupan kami, dari lahir hingga mati. Kami bersyukur pada-Mu atas kerahiman-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Rabu, 23 Desember 2015

St. Yohanes dr Kety

warna liturgi Ungu

Bacaan

Mal. 3:1-4; 4:5-6; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; Luk. 1:57-66. BcO Yes. 51:1-11

Bacaan Injil: Luk. 1:57-66.

57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” 61 Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Renungan:

KITA ingat apa yang dikatakan malaikat kepada Zakharia. Ia mengatakan bahwa Zakharia akan bisu sampai semuanya terjadi. Dan benar apa yang dikatakan itu. Semenjak Elisabet hamil sampai melahirkan Yohanes, Zakharia bisu. Mulutnya kembali terbuka ketika Yohanes lahir dan hendak menamainya. Janji Tuhan lewat malaikat terpenuhi.

Ketika berjanji Tuhan tidak pernah ingkar. Mereka yang sabar, setia dan tekun menantikan janjiNya akan merasakan pemenuhannya. Memang seringkali tidak mudah menunggu datangnya janji tersebut. Tetapi kebahagiaan akan hadir pada mereka yang sabar, setia dan tekun menantikan kehadirannya.

Dari sini kita bisa belajar bahwa ketika kita berjanji kita berusaha memenuhi janji tersebut. Ketika kita mendapat janji kita sabar, setia dan tekun menantikan kehadiran janji tersebut. Janji itu akan mendapatkan pemenuhannya pada saat yang tepat.

Kontemplasi:

Duduklah dengan hening. Ingatlah satu dua janji yang kauucapkan. Penuhilah janjimu.

Refleksi:

Apa artinya berjanji bagimu?

Doa:

Bapa, aku percaya dengan janjiMu. Engkau selalu memenuhi janjiMu. Semoga aku pun selalu memenuhi janjiku dan sabar, setia serta tekun menantikan pemenuhan janjiMu. Amin.

Perutusan:

Aku akan memenuhi janjiku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Selasa, 22 Desember 2015

Hari Biasa Khusus Adven

warna liturgi Ungu

Bacaan

1Sam. 1:24-28; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Luk. 1:46-56. BcO Yes. 49:14 – 50:1

Bacaan Injil: Luk. 1:46-56.

46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Renungan:

DALAM perjumpaan dengan Elisabet, Maria mengidungkan kidung puji-pujian atau yang kita kenal dengan istilah magnificat. Maria memuji kebesaran Tuhan yang menganugerahkan berkat kepada yang takut akan Tuhan.

Perjumpaan selalu memuat makna tersendiri. Sekalipun ada yang mengalami pengalaman buruk dalam perjumpaan, namun umumnya perjumpaan menghadirkan kegembiraan. Dalam beberapa waktu sekarang ini saya melihat banyak orang membuat group di bbm, wa, facebook dan lain-lain. Grup-grup itu dilatarbelakangi kesamaan sekolah, keluarga atau pun relasi. Dan setiap pribadi yang masuk dalam grup itu bisa saling sapa, saling tegur dan menghibur.

Perjumpaan itu menjadi semakin bermakna kala ada pengalaman batin yang dibagikan. Setiap pribadi dengan aneka macam ceritanya bisa saling meneguhkan karena pengalaman batin yang dia miliki. Maria dan Elisabet pun berjumpa dan berbagi pengalaman batin mereka. Dan itu menjadi warta yang indah bagi kita sekarang ini.

Kontemplasi:

Pejamkan sejenak matamu. Ingatlah perjumpaan-perjumpaan yang kaualami. Bagikan pengalaman batinmu kala berjumpa.

Refleksi:

Bagaimana situasi perjumpaan-perjumpaanmu?

Doa:

Bapa, semoga perjumpaan-perjumpaanku menegaskan kehadiranMu yang meneguhkan. Amin.

Perutusan:

Aku akan mengisi dan memaknai setiap perjumpaanku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Kunjungan Tersuci Penuh Berkat

Senin, 21 Desember 2015
Pekan Khusus Advent Keempat
Kid 2:8-14; Mzm 332-3,11-12,20-21; Luk 1:39-45

Elisabet berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? … Anak yang di dalam rahimku melonjang kegirangan…”

INJIL yang sama diwartakan kepada kita sama seperti kemarin. Kemarin kita merefleksikan kata-kata Elisabet kepada Maria yang berisi berkat dan kebahagiaan. Kini mari kita fokuskan pada perjumpaan dua ibu yang terberkati itu. Perjumpaan para ibu itu merupakan kunjungan Maria kepada Elisabet. Elisabet lebih tua. Maria lebih muda. Elisabet mengandung enam bulan. Maria baru saja mulai.

Perjumpaan mereka itu biasa disebut visitasi dua perempuan yang tidak biasa, Maria dan Elisabet. Perjumpaan itu bukan hanya di antara dua ibu tetapi juga perjumpaan pertamaan antara  dua bayi yang berada dalam kandungan mereka masing-masing. Dan bayi yang bernama Yesus, yang dikandung Maria itulah yang membuat perjumpaan itu menjadi visitasi terberkati. Kehadiran Yesus membuat mereka terberkati dan membawa kebahagiaan kepada mereka.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita mengalami perjumpaan yang terberkati dengan Yesus Kristus yang kita sembah. Kehadiran Yesus Kristus di antara kita membawa sukacita besar bagi kita.

Tuhan Yesus Kristus, kehadiran-Mu di sini membuat kami bahagia dan bersukacita. Anugerahilah kami kerendahan hati dan iman seperti Elisabet hingga kami dapat percaya pada-Mu dan mengalami berkat-Mu kini dan selamanya. Amin,

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Senin, 21 Desember 2015

St. Petrus Kanisius

warna liturgi Ungu

Bacaan

Kid. 2:8-14 atau Zef. 3:14-18a; Mzm. 33:2-3,11-12,20-21; Luk. 1:39-45. BcO Yes. 48:12-21; 49:9b-13

Bacaan Injil: Luk. 1:39-45.

39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Renungan:

HARI ini kita memperingati St. Petrus Canisius. Dalam peringatan ini kita diberi sabda tentang kunjungan ibu Maria ke ibu Elisabet. Elisabet bertanya: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Pertanyaan Elisabet ini memunculkan jawaban siapa yang dikandung Maria.

St. Petrus Canisius mengembangkan karya pastoral dengan metode tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan lalu dijawab. Katekismus ini membantu banyak hal untuk memahami iman katolik.

Kalau kita rasa-rasakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bisa menumbuhkan kemampuan kita. Juga halnya dengan iman. Sering seorang anak bertanya hal-hal yang menyangkut iman kepada orang tuanya. Orang tua pun berpikir dan mencoba mencari jawabnya. Dinamika ini tanpa disadari mengembangkan pengetahuan orang tuanya.

Menimba dari semangat St. Petrus Canisius maka marilah kita terbuka pada pertanyaan yang diajukan kepada kita dan juga bertanya pada diri kita sendiri atas hal yang kita imani. Harapannya kita semakin mampu menumbuhkan pengetahuan iman kita.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Bertanyalah atas sesuatu yang belum kaupahami dan carilah jawabnya.

Refleksi:

Bagaimana tanya jawab iman hidup dalam dirimu?

Doa:

Tuhan, banyak yang belum kuketahui dalam hidupku ini. Semoga dengan bantuanmu aku pun bisa bertanya jawab yang mengembangkan. Amin.

Perutusan:

Aku akan menemukan satu pertanyaan dan jawaban tentang imanku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Menyambut Yesus Dengan Sukacita

Minggu, 20 Desember 2015
Minggu Adven IV
Mi 5:2-5a; Mzm80:2ac-3b,15-16,18-19; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimny, dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara naring, “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.”

HARI ini adalah Minggu Adven Keempat. Kedatangan Tuhan yang kita nantikan kian dekat. Kita dipanggil untuk menyambut kedatangan-Nya dengan sukacita pada hari Natal.

Membaca Injil hari ini, saya tertarik untuk merefleksikan kata-kata Elisabet. Tiga kali Elisabet menggunakan kata yang serupa. Pertama, “Diberkatilah engkau di antara semua wanita.Kedua, “dan diberkatilah buah tubuhmu.”. Ketiga, “Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.”

Elisabet mengatakan tiga kata yang sama kepada Maria. Maria diberkati dan berbahagia karena dipilih menjadi ibu bagi Putra Allah. Dipilih oleh Allah adalah hal yang mengagumkan, menjadi khusus dan diberi tanggungjawab.

Syukur kepada Allah bahwa Maria menerima kedua mahkota panggilan yakni sukacita dan salib derita dalam melaksanakan kehendak Allah. Sukacita panggilannya tidak hancur oleh dukacita salib karena sukacaita dan derita itu digerakkan oleh iman, harapan dan kepercayaan kepada Allah dan janji-janji-Nya.

Apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari pengalaman iman Maria dan Elisabet? Pertama, kita semua belajar untuk mengenal kehadiran Yesus Kristus dalam kehidupan kita. Kita diberkati pula jika kita mengenal Yesus Kristus dengan mata iman kita.

Kedua, dengan mengenal dan mengimani Yesus Kristus, Ia akan menganugerahkan sukacita dan kebahagiaan. Hidup kita diberkati. Kata diberkati berarti diberi kebahagiaan. Kebahagiaan itu merupakan sukacita yang terus bertahan tak tak tersingkirkan.

Yesus sendiri berjanji bahwa tak seorangpun dapat merampas kebahagiaanmu (Yoh 16:22). Ia akan selalu memberi kita sukacita ilahi yang memampukan kita menanggung penderitaan dan luka yang tak akan disingkirkan oleh baik hidup maupun maut.

Ketiga, ketika Elisabet menyapa Maria dan mengenali Mesias yang dikandungnya, mereka penuh dengan Roh Kudus dan dengan sukacita menyambut kepenuhan janji Allah yang memberikan seorang Penebus. Allah memenuhi sukacita kepada tak hanya hati Elisabet tetapi juga anak yang dalam rahimnya, yang melonjak kegirangan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara kita menyembah Yesus Kristus, kita mohon kepada-Nya agar Ia memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya. Kita ingin hidup dalam sukacita dan pengenalan akan kehadiran Allah yang tinggal bersama kita melalui Roh Kudus-Nya.

Tuhan Yesus Kristus, penuhilah kami dengan Roh Kudus-Mu. Anugerahilah kami sukacita sejati dalam mencari Dikau dengan lebih sungguh sehingga kami bersukacita menyambut kedatangan-Mu kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Sabda Hidup: Minggu, 20 Desember 2015

HARI MINGGU ADVEN IV

warna liturgi Ungu

Bacaan

Mi. 5:1-4a; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Ibr. 10:5-10; Luk. 1:39-45. BcO Yes. 48:1-11

Bacaan Injil: Luk. 1:39-45.

39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Renungan:

MASA adven menjadi masa penantian akan kedatangan sang Juruselamat. Hari ini Dia telah hadir di kandungan ibu Maria. KehadiranNya di kandungan pun telah membawa kegembiraan bagi bayi yang dikandung Elisabet.

Sebentar lagi kegembiraan Natal akan kita rasakan. Kristus sang Immanuel hadir di antara kita. Ia hadir memberikan kegembiraan siapapun yang menantikannya. Maka kita yang menantikanNya pun bisa mengidungkan aneka pujian dan syukur.

Natal menjadi kabar gembira bagi dunia. Maka marilah kita menyiapkan segala sesuatu untuk mengabarkannya. Bunda Maria telah mengabarkannya kepada Bunda Elisabet. Dan dua pribadi ini pun melambungkan kegembiraannya. Mari kita juga menyiapkan hati dan kidung pujian di hari kehadiranNya. Kita taburkan berkat dan kegembiraan di antara sesama kita.

Kontemplasi:

Pejamkan sejenak matamu. Rasakan kegembiraan perjumpaan bunda Maria dan bunda Elisabet.

Refleksi:

Apa yang kaupersiapkan untuk menyampaikan warta gembira natal?

Doa:

Tuhan puteriMu Maria dan Elisabet saling membagikan pujian dan syukur. Semoga hidup kami pun menjadi warta pujian karena kehadiranMu. Amin.

Perutusan:

Aku akan berbagi kabar gembira Tuhan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net