Warta Paroki 02 September 2018

Warta Paroki
01 -02 September 2018

  1. PENANGGALAN LITURGI
        Senin, 03 Sept   : Peringatan St. Gregorius Agung, Paus Pujangga Gereja.
    Sabtu, 08 Sept   : Pesta Kelahiran ST Perawan Maria
  2. Dalam rangka memriahkan Bulan Kitab Suci Nasional 2018, bidang Liturgi dan Pewartaan Paroki selama bulan September mengadakan :
    Lomba Mewarnai : Minggu, 02 September 2018
    Lomba Cerdas Cermat : Minggu, 09 September 2018
    Lomba Membaca Kitab Suci : Minggu, 16 September 2018
    Lomba Kotbah ceria : Minggu, 16 September 2018
    Lomba Mazmur : Minggu, 23 September 2018
    Lomba Vocal Group : Minggu, 30 September 2018
    Bagi umat yang berminat mengikuti lomba BKSN dapat menghubungi Pamong Lingkungan dan Wilayah masing masing. Peran serta umat sangat diharapkan.
  3. Evaluasi penerimaan Sakramen Krisma 2018 diadakan pada:
    Hari/tgl     :   Selasa,  4 September 2018
        Pukul       :   19.00 WIB
        Tempat    :   Ruang St. Athanasius
        Bapak ibu pamong wilayah  dan katekis diharap hadir.
  4. Pertemuan Timja WKRI Karangpanas :
    Hari/tgl  : Minggu, 9 September 2018
        Pukul    : 10.00 WIB
        Tempat : Ruang St. Yusup
        Tiap wilker diharap mengirimkan 2 orang untuk mewakilinya.
  5. Katekese Persiapan Perkawinan (KPP)
        Hari/tgl  : Senin – Rabu, 17 – 19 Sept. 2018
        Pukul    : 17.30 – 21.00 WIB
        Tempat : Aula St. Athanasius
        Syarat :
        –  Formulir dari Sekretariat Paroki
    –  Fc. Surat Baptis
    –  1 lembar foto berdampingan 4×6
    –  Biaya : Rp 100.000,-
  6. Penerima Komuni Pertama maksimal kelas 3 SMP yang berminat menjadi Putra-Putri Altar diharap hadir dalam pertemuan rutin yang diadakan setiap hari Kamis pukul 16.30 WIB di gereja. CP : Maria Fatima 0857 1238 0602
  7. Bagi umat yang ingin menyalurkan dana pendidikan (beasiswa) bisa melalui:
    Sekretariat Paroki Gereja Karangpanas
    Bank Niaga 016-01-44997-12-1 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS-KARANGPANAS
    Bank Niaga 906-01-00317-11-8 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Rek Tabungan BCA 816-5159-922 a/n Erniwaty/Cristiana Retnaningsih (Rek. Pendidikan)
    CP :
    Bp. Martinus Budi Kastianto: 0815 7500 0822
    Ibu Christiana Retnaningsih: 0812 2552 0287
    Bp. Mardiono: 0812 2578 650
    Ibu Erniwaty Heru Karjanto: 0812 2568 0570
  8. Paroki Karangpanas menyediakan mesin EDC (gesek non-tunai), bagi umat yg ingin menyumbang dapat melalui sekretariat paroki.

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman III

  1. Bernadeta Intan Oktaviana Adiyanto dari Lingk. St. Aloysius – Bukit Sari
    dengan
    Stephanus Rumancay dari Paroki St. Leo Agung – Jakarta.

Pengumuman II

  1. Yusuf Kurnianto dari Lingk. St. Familia – Tengger II
    dengan
    Maria Elvera Octavia dari Paroki St. Yusuf – Gedangan.

Pengumuman I

  1. Victoria Vione Tyagita dari Lingk. St. Fransiskus Xaverius – Kalilangse III
    dengan
    Agus Aristyono dari Banjarsari – Surakarta.
  2. Vincentius Lawrence Gilbert Samantha dari Lingk. St. Ursula – Wonotingal
    dengan
    Agnes Karen Angelina  dari Paroki St. Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk – Jakarta.

Saudara-i yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

BERITA LELAYU

  1. Bapak Yustinus Anton Supardi (59 th)  – suami dari ibu Melani Titik Utami – dari lingk. St. Nikolaus – Sanggung III.  Wafat hari Minggu, tanggal 19 Agustus 2018.
  2. Ibu Maria Magdalena Rubinah (85 th)  – Istri dari bapak Antonius Tar’an, Alm – dari lingk. St.Fransiskus Xaverius – Kalilangse III.  Wafat hari Jumat, tanggal 24 Agustus 2018.

 

 

 

MENJADI PELAKSANA SABDA

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Musa menasihati bangsa Israel agar tetap setia pada perintah Allah, sebag perintah Allah diberikan demi keselamatan mereka. (Bacaan I – Ulangan)
  2. Ajakan untuk tidak hanya menjadi pendengar sabda, tetapi menjadi pelaku sabda melalui perbuatan baik kepada sesama. (Bacaan II – Yakobus)
  3. Yesus mengajarkan tentang kemurnian hati. Kenajisan tidak berasal dari luar diri, melainkan dari hal-hal jahat yang ada di dalam hati seseorang. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku memiliki kebiasaan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan?
  3. Apakah aku memiliki ayat emas/nas/rhema dari Kitab Suci? Apa?
  4. Apa buah yang aku peroleh dari membaca dan merenungkan Sabda Tuhan?
  5. Apa usahaku untuk mewujud-nyatakan Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari?

Katekismus Gereja Katolik:

1783 Hati nurani harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan berorientasi pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh kebijaksanaan Pencipta. Bagi kita manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mendahulukan kepentingan sendiri dan menolak ajaran pimpinan Gereja, pembentukan hati nurani itu mutlak perlu.

1784 Pembentukan hati nurani adalah suatu tugas seumur hidup. Sudah sejak tahun-tahun pertama ia membimbing seorang anak untuk mengerti dan menghayati hukum batin yang ditangkap oleh hati nurani. Satu pendidikan yang bijaksana mendorong menuju sikap yang berorientasi pada kebajikan. Ia memberi perlindungan terhadap dan membebaskan dari perasaan takut, dari ingat diri dan kesombongan, dari perasaan bersalah yang palsu, dan rasa puas dengan diri sendiri, yang semuanya dapat timbul oleh kelemahan dan kesalahan manusia. Pembentukan hati nurani menjamin kebebasan dan mengantar menuju kedamaian hati.

1785 Dalam pembentukan hati nurani, Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan memandang ke salib Tuhan. Sementara itu kita dibantu oleh anugerah Roh Kudus dan kesaksian serta nasihat orang lain dan dibimbing oleh ajaran pimpinan Gereja (DH 14).

Warta Paroki 12 Agustus 2018

Warta Paroki
11 – 12 Agustus 2018

  1. PENANGGALAN LITURGI
        Minggu,12 Agust : Hari Raya SP Maria diangkat ke Surga.
    Selasa,14 Agust  : Peringatan St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir.
    Jumat, 17 Agust   : Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Repubik Indonesia .
  2. Misa Syukur Kemerdekaan RI ke –73 Th akan diadakan Misa Syukur :
    Hari/tgl  : Jumat, 17 Agustus 2018
        Pukul    : 17.00 WIB (Doa Rosario dilanjutkan Lagu Kebangsaan)
                        17.30 WIB Misa akan dimulai
    Gladi Bersih diadakan pada hari Kamis, 16 Agustus, Pukul 17.00. Ekaristi Harian Pagi Tgl 17 Agustus tetap ada.
  3. Para ketua lingkungan diharap mengambil pengembalian amplop persembahan umat bulan April – Juni di kantor Sekretariat Paroki.
  4. Jadwal Triduum dan Persiapan Akhir Sakramen Penguatan 2018:
    Senin, 13 Agustus 2018 pukul 16.00 WIB di gereja: Penerimaan Sakramen Tobat untuk siswa SMP.
    Senin, 13 Agustus 2018 pukul 18.00 WIB di gereja: Penerimaan Sakramen Tobat untuk siswa SMA/K, Mahasiswa, Dewasa.
    Rabu, 15 Agustus 2018, pukul 18.00 WIB di gereja: Gladi Bersih. Peserta Katekumen dan Wali Penguatan.
    Minggu, 19 Agustus 2018, pukul 07.30 WIB di gereja: Upacara Sakramen Penguatan 210 Calon dari Uskup Mgr. Robertus Rubyatmoko, Mohon umat maklum.
  5. PROGRAM DISCOUNT MEDICAL CHECK-UP:
    Tim Kerja Kesehatan Paroki Karangpanas bekerjasama dengan laboratorium IDEAL mengadakan Medical Check-Up dengan harga khusus.
    PAKET I :    Gula puasa, cholesterol total, triglyceride, asam urat. Biaya: Rp  000,00 (biaya normal: Rp  187.000,00)
    PAKET II: Gula puasa, cholesterol total, HDL & LDL cholesterol triglyceride, asam urat. Biaya: Rp 225.000,00 (biaya normal: Rp  000,00)
    Pelaksanaan:
    Sabtu, 18 Agustus, pukul 07.00 WIB, di poli Bunda Teresa-Gereja Karangpanas.
    Senin-Kamis dan Sabtu, 13-16 & 18 Agustus, pukul 06.15 WIB, di Klinik IDEAL, Jl. Kartini No. 30 Semarang.
    Dimohon berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pemeriksaan dan minum air putih seperlunya.
    Pemeriksaan tambahan di luar paket akan mendapat diskon 20 %.
    Pendaftaran melalui Sekretariat Paroki setelah Misa atau setiap hari kerja.
  6. Penerima Komuni Pertama maksimal kelas 3 SMP yang berminat menjadi Putra-Putri Altar diharap hadir dalam pertemuan rutin yang diadakan setiap hari Kamis pukul 16.30 WIB di gereja. CP : Maria Fatima 0857 1238 0602
  7. Bagi umat yang ingin menyalurkan dana pendidikan (beasiswa) bisa melalui:
    Sekretariat Paroki Gereja Karangpanas
    Bank Niaga 016-01-44997-12-1 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS-KARANGPANAS
    Bank Niaga 906-01-00317-11-8 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Rek Tabungan BCA 816-5159-922 a/n Erniwaty/Cristiana Retnaningsih (Rek. Pendidikan)
    CP :
    Bp. Martinus Budi Kastianto: 0815 7500 0822
    Ibu Christiana Retnaningsih: 0812 2552 0287
    Bp. Mardiono: 0812 2578 650
    Ibu Erniwaty Heru Karjanto: 0812 2568 0570
  8. YOUTH SOCIAL INNOVATOR CAMP mengadakan kegiatan kolaboratif pada:
    Tanggal   : 24-26 Agustus 2018
    Tempat    : Wisma Salam, Magelang
    Kriteria     : 1. usia 18 – 30 thn, sudah dibaptis
    Berminat pada isu kemasyarakatan dan kebagsaan
    Bersedia mengikuti tindaklanjut kegiatan
    CP:  Leri  082132622300
    Rio     081320790598
    Miki    089687145833
  9. Choice Distik Semarang mengadakan Workshop Power Personality:
    Tanggal   : 25-26 Agustus 2018
    Tempat    : Biara Kana, Salatiga
    Kriteria     : Untuk Umum
    Konstribusi :        Rp 250.000,00
    CP:  Ferry 0878 3117 7883
    Rio     0813 7072 9130
    Anton           0815 7500 4899
  10. Majalah Salam Damai Edisi Agustus sudah terbit dan dapat dibeli pada petugas di depan gereja.
  11. Paroki Karangpanas menyediakan mesin EDC (gesek non-tunai), bagi umat yg ingin menyumbang dapat melalui sekretariat paroki.
  12. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi:
    Benny    0815 7573 1236
    Anna      0815 8059 000

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman III

  1. Agustina Hermin Widyastuti dari Lingk. St. Elisabeth – RS.Elisabeth dengan Adi Cahyo Kusumo dari Wonogiri.

Pengumuman II

  1. Agustina Dian Anggraeni dari Lingk. St. Alfonsus Maria de Liguori – Karangrejo Selatan III dengan Antonius Awit Praseno dari Paroki St. Teresia Bongsari – Semarang.
  2. Margaretta Veni Sekar Winarsih dari Lingk. St. Aloysius Gonzaga – Karangrejo Selatan I dengan Bambang Setiawan dari Semarang.
  3. Natalia Elisabet Novita Pramada dari Lingk St. Antonius Padua – Jatingaleh IV dengan Andrianus Suharyono dari Paroki St. Teresia Bongsari.

Pengumuman I

  1. Hedwig Nining Ayu Wulandari dari Lingk. St.Stanislaus – Gombel Lama dengan Melki Hasali dari Jakarta.
  2. Oktavianus Ricki Aditya Sulistya dari Lingk. St. Prepetua – Karangrejo I dengan Skolastika Dewi Nugraheni dari Lingk. St. Stanislaus – Gombel Lama.

Saudara-i yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

SEGALA BANGSA AKAN MENYEBUT AKU BAHAGIA

Bacaan Minggu Ini:

  1. Penglihatan tentang perempuan di langit yang melahirkan Anak menjadi gambaran Gereja yang berjuang di dunia. (Bacaan I – Wahyu)
  2. Kristus adalah buah sulung kebangkitan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya juga akan dibangkitkan. (Bacaan II – I Korintus)
  3. Bunda Maria melaksanakan kehendak Tuhan dengan penuh kerendahan hati demi keselamatan manusia. (Bacaan Injil – Lukas)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Siapakah Bunda Maria bagiku?
  3. Apakah aku memiliki keutamaan seperti Bunda Maria: taat, percaya, dan rendah hati di hadapan Allah?
  4. Apa bentuk keikutsertaanku dalam karya Allah; mewujudkan damai dan sukacita dalam hidup sehari-hari?

Katekismus Gereja Katolik:

966 Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59) (Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. “Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Sharing Iman:
www.katolisitas.org

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, berdasarkan Tradisi Suci yang sudah diimani oleh Gereja sejak lama, namun baru ditetapkan menjadi Dogma melalui pengajaran Bapa Paus Pius XII tanggal 1 November 1950, yang berjudul Munificentimtissimus Deus. Doktrin ini berhubungan dengan Dogma Immaculate Conception/ Maria dikandung tanpa noda, yang diajarkan oleh Bapa Paus Pius IX, 8 Desember 1854. Dalam pembukaan Munificentissimus Deus (MD, 3) yang menyatakan dogma Bunda Maria diangkat ke Surga, Bapa Paus Pius XII mengatakan bahwa dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria mengambil tempat istimewa dan unik. Ini mengacu pada Gal 4:4 “…Setelah genap waktunya”, bahwa dalam pemenuhan rencana keselamatan Allah ini, Allah dengan keMahakuasaan-Nya memberikan hak-hak istimewa kepada Bunda Maria, agar nyatalah segala kemurahan hati-Nya yang dinyatakan kepada Bunda Maria, dalam keseimbangan yang sempurna.
Maka bahwa jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/ concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Roti Hidup

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah memperhatikan kebutuhan umat Israel yang keluar dari Mesir dengan memberikan makanan daging dan roti manna di padang gurun. (Bacaan I – Keluaran)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk menanggalkan manusia lama, yaitu hidup dalam nafsu yang menyesatkan; dan mengenakan manusia baru, yaitu hidup dalam kebenaraan dan kekudusan. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus adalah Roti Hidup yang memuaskan kerinduan dan kebutuhan manusia. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Dengan menyadari setiap usaha dan per-juanganku selama ini, apa yang sebenarnya aku cari di dunia ini?
  3. Apa motivasiku mengikuti Yesus?
  4. Apakah aku mengalami dicukupkan dan dipuaskan oleh Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik:

1333 Di dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur (Bdk. Mzm 104:13-15), hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri (Bdk. MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”).

1334 Di dalam Perjanjian Lama, roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesaan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Bdk. Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur

Sharing Iman:
www.sabda.org

Roti sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu benda yang sedemikian penting seperti halnya pada zaman Alkitab. Kita biasanya tidak menganggap roti sebagai simbol kebutuhan hidup. Akan tetapi pada zaman Yesus, roti melambangkan berbagai jenis makanan bergizi dengan segala bentuknya.

Kenyataan di atas membantu kita memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk meletakkan roti dalam Ruang Kudus di Kemah Pertemuan, yang merupakan lambang dari rumah Tuhan. Di sanalah, di dalam ruangan pertama itu, terdapat dua belas potong roti yang harus disajikan di atas sebuah meja emas “di hadapan Tuhan” (Imamat 24:6). Roti-roti itu mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah selalu memelihara milik-Nya ketika mereka datang dan berkenan kepada-Nya. Roti mencerminkan janji Allah untuk memberikan pemenuhan kebutuhan bagi semua manusia yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6; Matius 6:31-34).

Bagi umat yang percaya kepada Kristus, roti juga dapat melambangkan Alkitab, Yesus, persekutuan orang kristiani, atau persediaan yang telah disiapkan Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani kita. Dia memelihara kita dan selalu siap sedia untuk mengenyangkan kita. Akan tetapi, tawaran-Nya tersebut bukannya tanpa syarat. Dia berjanji akan memberikan “roti” setiap hari bagi mereka yang di dalam ketaatan telah mengkhususkan diri untuk hidup dan makan dari tangan Allah. Tuhan peduli kepada semua orang yang dengan sukarela dan rendah hati menerima makanan jasmani dan rohani dari-Nya.

 

ALLAH MENYEDIAKAN DAN MENCUKUPKAN

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Melalui Nabi Elisa, Allah mencukupkan kebutuhan orang yang kelaparan di Gilgal. (Bacaan I – 2 Raja-raja)
  2. Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk senantiasa bersikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus, Gembala yang Baik, memberi makan lima ribu orang. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah yang paling aku butuhkan dalam hidup ini?
  3. Sebagai orang beriman, apakah yang menjadi kerinduan terdalamku selama ini?
  4. Bagaimana aku mengusahakan pemenuhan atas kebutuhan dan kerinduan terdalam, “lapar dan dahaga-ku”, itu?

Katekismus Gereja Katolik:

2444 Gereja dalam “cinta kasihnya terhadap kaum miskin, yang … melekat pada pusaka tradisinya” (Centesimus Annus/CA 57), membiarkan diri dibimbing oleh Injil sabda bahagia (Luk 6:20-22), oleh kemiskinan Yesus (Mat 8:20) dan oleh perhatian-Nya kepada kaum miskin (Mrk 12:41-44). Cinta kasih kepada kaum miskin untuk seorang Kristen malahan merupakan salah satu alasan untuk bekerja dan mendapat uang secukupnya, “supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Ef 4:28). Ini tidak hanya menyangkut kemiskinan material, tetapi juga aneka ragam kemiskinan kultural dan religius (CA 57).

2445 Cinta kasih kepada kaum miskin tidak dapat berbarengan dengan cinta kepada kekayaan yang tidak terkendalikan dan dengan penggunaannya secara egois (Yak 5:1-6).

2446 Santo Yohanes Krisostomus mengingatkan kewajiban ini dengan kata-kata yang sangat tegas: “tidak membiarkan kaum miskin turut menikmati harta miliknya, berarti mencuri dari mereka dan membunuh mereka. Yang kita miliki, bukanlah harta milik kita, melainkan harta milik mereka” (Laz 1,6). “Hendaknya tuntutan-tuntutan keadilan dipenuhi, supaya apa yang sudah harus diserahkan berdasarkan keadilan jangan diberikan sebagai hadiah cinta kasih” (Apostolicam Actuositatem/AA 8:5). “Kalau kita memberikan kepada kaum miskin apa yang sangat dibutuhkan, kita tidak memberi kepada mereka secara sukarela pemberian pribadi, tetapi kita mengembalikan kepada mereka, apa yang menjadi hak mereka. Dengan berbuat demikian, kita lebih banyak memenuhi kewajiban keadilan daripada melaksanakan perbuatan cinta kepada sesama” (GregoriusAgung, past. 3, 21).

2447 Karya-karya belas kasihan adalah perbuatan cinta kasih, yang dengannya kita membantu sesama kita dalam kebutuhan jasmani dan rohaninya (Yes 58:6-7; Ibr 13:3). Mengajar, memberi nasihat, menghibur, membesarkan hati, Serta mengampuni dan menanggung dengan sabar hati adalah karya-karya belas kasihan di bidang rohani. Karya-karya belas kasihan di bidang jasmani terutama: memberi makan kepada yang lapar, memberi tumpangan kepada tunawisma, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang miskin dan orang tahanan dan menguburkan orang mati (Mat 25:31-46). Dari semua karya itu, memberi derma kepada orang miskin (Tob 4:5-11; Sir 17:22) adalah satu dari kesaksian utama cinta kasih kepada sesama; ia juga merupakan satu perbuatan keadilan yang berkenan kepada Allah (Mat 6:2-4).

MENJADI UTUSAN ALLAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Amos lebih taat pada kehendak Allah untuk bernubuat daripada taat pada perintah manusia yang tidak mau bertobat. (Bacaan I – Amos)
  2. Paulus bersaksi bahwa Allah telah memilih kita menjadi anak-anakNya dan mengaruniakan segala berkat dengan perantaraan Yesus Kristus demi keselamatan kita. (Bacaan II – Efesus)
  3. Yesus mengutus kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mewartakan Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “utusan”?
  3. Sikap apa saja yang dibutuhkan utusan dalam menjalankan tugas perutusannya?
  4. Apakah aku sudah memiliki sikap-sikap itu? Apa buktinya?

Katekismus Gereja Katolik:

1833 Kebajikan adalah kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik.

1834 Kebajikan manusiawi adalah kecenderungan yang teguh dari akal budi dan kehendak, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita, dan membimbing tingkah laku kita, supaya sesuai dengan akal budi. Mereka dapat dikelompokkan menurut empat kebajikan pokok/kebajikan “kardinal” [cardo berarti poros]: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

1835 Kebijaksanaan memungkinkan budi yang praktis, supaya dalam semua situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk melaksanakannya.

1836 Keadilan terdiri dari kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka.

1837 Keberanian menyanggupkan untuk mengejar kebaikan dengan teguh dan tabah dalam kesulitan.

1838 Penguasaan diri mengekang kecenderungan kepada kenikmatan jasmani dan membuat kita mempertahankan ukuran yang wajar dalam penggunaan benda-benda yang diciptakan.

Sharing Iman: sabda.org

Ketika tiba di pos jaga untuk dapat memasuki penjara, ternyata tanda pengenal saya tidak ada. Karenanya petugas jaga harus membuat surat izin kunjungan sementara supaya saya dapat masuk dan mengajar kelas Pendalaman Alkitab untuk beberapa narapidana di sana. Dengan membaca SIM saya, petugas jaga itu mengisi surat izin dan memperbolehkan saya masuk. Saat membaca sekilas surat izin masuk itu, saya tersenyum geli. Pada kolom yang menunjukkan atas nama siapa saya diutus, di situ si petugas menulis “Allah.”

Lalu dalam perjalanan pulang, saya memikirkan hal yang lucu itu dengan lebih serius. Petugas tadi mungkin saja hanya bercanda, tetapi sesungguhnya yang ia ungkap-kan itu memang benar. Saya memang mewakili komisi pelayanan penjara, tetapi sebenar-nya saya mewakili Allah sendiri. Menyadari hal itu, saya senang dengan apa yang dilakukan petugas tersebut.

Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus” (2 Kor 5:20). Dengan mengemban predikat yang mulia itu, kita bertang-gung jawab untuk “hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar” (1 Tes 4:12). Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita senantiasa mewakili Allah ke mana pun kita pergi dan berada, melalui apa pun yang kita lakukan. Baik di tempat kerja, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, dalam tim softball, maupun di jalan, kita adalah utusan-utusan Allah. Kristus mengutus kita keluar untuk membawa orang lain ke dalam kasih-Nya.

KUASA-MU DI DALAM KELEMAHANKU

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Nabi Yehezkiel diutus Allah kepada bangsa Israel, yang memberontak melawan Allah. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Paulus bersaksi bahwa di dalam dirinya ada kelemahan dan justru di dalam kelemahannya kuasa Allah bekerja. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus ditolak oleh orang-orang Nazareth karena mereka tidak percaya kepada-Nya. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadaku?
  3. Apakah tantangan dan kesulitan yang aku hadapi dalam melayani, baik yang berasal dari diriku sendiri maupun dari luar diriku?
  4. Bagaimana caraku mengatasi tantangan dan kesulitan itu?

Katekismus Gereja Katolik

28 “Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan la telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun la tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:26-28).

29 Namun “hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini” (GS 19,1) dapat dilupakan oleh manusia, disalahartikan, malahan ditolak dengan tegas. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan, contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil.

30 “Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira” (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, “hati yang tulus”, dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan.

Sharing Iman:

www.sabda.org

Seorang anak sakit keras. Ia harus segera disuntik agar obat bisa langsung masuk ke dalam pembuluh darahnya. Namun, begitu melihat jarum suntik, si anak memberontak. Meronta-ronta sambil menjerit dan menangis. Takut disuntik. Karena bergerak terus, sulit bagi dokter untuk memasukkan jarum suntik. Baru setelah ia kelelahan dan lemas kehabisan tenaga, dokter bisa menyuntiknya. Obat pun masuk ke dalam tubuhnya. Proses penyembuhan dimulai.

Tanpa sadar, kita sering bersikap seperti anak kecil tadi. Ketika menghadapi kenyataan sulit, kita berontak. Panik. Protes. Marah. Sulit menerima kenyatan itu. Begitu pula Rasul Paulus. Saat mendapatkan “duri dalam daging” berupa sakit-penyakit, spontan ia berseru pada Tuhan minta disembuhkan. Berkali-kali. Sayang, upaya itu gagal. Paulus tidak disembuhkan. Namun, harapannya tidak sirna. Dari situ ia belajar satu hal penting: perlunya berdamai dengan kelemahannya. Bukannya berontak, ia berserah diri. Bergantung pada Tuhan sepenuhnya. Justru pada saat itulah, kuasa Tuhan turun menaunginya. Ia dimampukan hidup bersama kelemahan itu dengan kekuatan ilahi.

Adakah masalah yang selama ini terus merongrong diri Anda? Bentuknya bisa berupa sakit-penyakit, cacat kepribadian, atau kelemahan lainnya. Sudahkah Anda berdamai dengan kelemahan Anda tersebut, atau terus memberontak? Jika Tuhan tidak menyembuhkan, relakah Anda hidup bersama kelemahan itu? Tuhan bisa mengaruniakan kekuatan agar Anda sanggup menanggungnya. Maka, serahkanlah diri Anda kepada-Nya! Jika Anda lemah, maka Anda kuat!

“TALITA KUM”

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah telah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri demi keselamatan manusia. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. Yesus Kristus menjadi miskin, supaya karena kemiskinan-Nya manusia menjadi kaya dalam kasih. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus berkeliling berbuat baik untuk menyelamatkan manusia. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Allah menciptakan aku seturut gambar/citra-Nya?
  3. Apa pengaruh keyakinan itu bagi hidupku?
  4. Apakah aku memiliki pengalaman “dibangunkan” oleh Yesus? Apa pengaruhnya bagi hidupku saat ini?

Katekismus Gereja Katolik:

2318 “Di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan napas setiap manusia” (Ayb 12:10).

2319 Tiap hidup manusia itu kudus sejak saat pembuahannya sampai kematian, karena manusia itu dikehendaki demi dirinya sendiri dan diciptakan menurut citra Allah yang hidup dan kudus, serupa dengan Dia.

2320 Pembunuhan terhadap seorang manusia sangat bertentangan dengan martabat manusia dan dengan kekudusan Pencipta.

2321 Larangan membunuh tidak menghilangkan hak untuk melumpuhkan penyerang yang tidak sah. Pembelaan yang sah adalah satu kewajiban berat bagi siapa saja yang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain atau atas kesejahteraan umum.

 Sharing Iman:

sabda.org

Seorang wanita yang berniat bunuh diri, berdiri selama 3 jam di sebuah jembatan di Seattle; siap untuk terjun. Ini membuat lalu lintas macet total, hingga para pengguna jalan yang kesal karena diburu waktu mengutuki dan meneriakinya agar segera melompat saja. Ia pun benar-benar melompat, tapi selamat meski terjun ke sebuah kanal dari ketinggian 49 meter. Setelah itu banyak warga kota mengirim bunga dan kartu kepadanya di rumah sakit sebagai tanda penyesalan atas kejadian itu. Namun beberapa pengguna jalan yang marah menghubungi surat kabar lokal dan menyalahkan wanita itu karena tidak memilih tempat yang tidak terlalu ramai untuk mengakhiri hidupnya.

Orang-orang yang memerlukan pertolongan kita seringkali datang pada waktu yang tidak tepat. Namun dalam setiap situasi, kita dituntut untuk memberi perhatian secara cepat, meski mengganggu rencana kita.

Yesus selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya selama hidup di dunia ini, dan kita dapat meneladani respon yang Dia berikan kepada mereka. Ketika Yairus meminta-Nya untuk datang dan menyembuhkan anak perempuannya, Yesus meluluskan permintaannya (Mrk 5:22-24). Di tengah jalan, seorang wanita menjumpai-Nya. Yesus pun berhenti dan meluangkan waktu untuk menyembuhkannya (ay. 25-34).

Maukah kita menolong mereka yang membutuhkan? Seperti Yesus, adakah kita berbelas kasihan untuk menolong dan memulihkan mereka yang putus asa? Hari ini, Allah memberi kita kasih karunia untuk menolong orang lain, bagi kemuliaan-Nya.

BERSAUDARA DALAM TUHAN

INTISARI BACAAN MINGGU INI

  1. Ular adalah gambaran kekuatan jahat yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa, yaitu sikap dan tindakan melawan kasih Allah. (Bacaan I – Kitab Kejadian)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa setia menanggung penderitaan. Allah menganugerahkan kemuliaan bagi orang yang percaya dan setia. (Bacaan II – Surat II Paulus kepada Jemaat di Korintus)
  3. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah adalah saudara dan saudari Yesus Kristus. (Bacaan Injil – Markus)

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah arti “saudara/i”?
  3. Bagaimana sikapku selama ini terhadap orang lain di sekitarku?
  4. Apakah aku telah membangun persaudaraan dengan orang lain atau justru menciptakan permusuhan?
  5. Apa usahaku untuk membangun persaudaraan di tengah situasi masyarakat seperti saat ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

2196 Atas pertanyaan, hukum mana yang terutama, Yesus menjawab: “hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini” (Mrk 12:29-31). Santo Paulus mengingatkan: “Barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih tidak berbuat jahat kepada sesama manusia, karena itu adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:8-10).

2197 Perintah keempat: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Kel 20:12) membuka loh kedua dekalog. Ia merujuk ke tata cinta kasih. Allah menghendaki bahwa kita mencontohi Dia dalam menghormat orang-tua kita, kepada siapa kita berterima kasih untuk kehidupan kita, dan yang menyampaikan iman kepada kita. Kita berkewajiban menghormati dan menghargai semua orang yang Allah lengkapi dengan wewenang-Nya demi kesejahteraan kita.

2198 Perintah ini dirumuskan secara positif; ia menunjukkan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Ia mengantar ke perintah-perintah berikutnya, di mana dituntut agar menghormati kehidupan, pernikahan, harta benda duniawi orang lain, dan perkataan manusia. Ia merupakan salah satu dasar ajaran sosial Gereja.

2199 Perintah keempat ditujukan secara khusus kepada anak-anak dan menyangkut hubungan mereka dengan ayah dan ibu, karena inilah hubungan yang paling mendasar. Ia juga mencakup hubungan kekeluargaan dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Ia menghendaki agar ditunjukkan penghormatan, cinta kasih, dan terima kasih kepada sanak keluarga yang lebih tua dan nenek moyang. Akhirnya ia juga menyangkut kewajiban anak-anak sekolah terhadap gurunya, karyawan terhadap majikan, bawahan terhadap atasannya, warga negara terhadap tanah aimya, dan terhadap mereka yang mengurus dan memerintahnya. Dalam arti yang lebih luas, perintah ini juga mencakup kewajiban-kewajiban orang-tua, wali, guru, pemuka, penguasa, dan pejabat, jadi semua mereka yang menjalankan wewenangnya untuk orang lain atau suatu persekutuan.

2200 Mematuhi perintah keempat membawa pula satu ganjaran: “hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (kel 20:12) Bdk. Ul 5:16.. Penghayatan perintah ini, di samping buah-buah rohani juga mendatangkan buah jasmani ialah perdamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya menginjak-injak perintah ini mendatangkan kerugian besar bagi persekutuan manusia dan bagi orang perorangan.

SHARING IMAN www.sabda.org

Seorang guru tua menanyai murid-muridnya, “Bagaimana kita tahu kapan kegelapan pergi dan fajar menjelang?” “Ketika kita dapat melihat sebuah pohon dan tahu bahwa itu adalah pohon pinus, bukan pohon cemara,” jawab seorang murid. “Ketika kita dapat melihat seekor binatang dan tahu bahwa itu adalah rubah, bukan seekor serigala,” jawab yang lain. “Salah,” kata guru itu. Karena bingung, para murid itu menanyakan jawabannya. Sang guru menjawab dengan tenang, “Kita akan tahu kapan kegelapan pergi dan fajar datang ketika kita dapat melihat orang lain dan mengenalinya sebagai saudara kita; karena jika tidak, jam berapa pun, kita akan tetap berada dalam kegelapan.”

Adakah kita menanggapi dengan serius kata-kata Yohanes, “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita?” (1Yohanes 3:14). Atau, masihkah kita menyimpan kemarahan atau kebencian kepada orang lain? Adakah kita mencela orang-orang lain dan seringkali tidak sependapat dengan kita dalam berbagai hal? Bagaimana dengan orang-orang dari bangsa lain? Adakah kita mengasihi mereka tidak hanya dari kejauhan tetapi juga secara dekat dan pribadi? Jika kasih merupakan ciri orang percaya, adakah orang lain akan mendapati ciri tersebut dan mengenali kita sebagai milik Kristus?