KUASA-MU DI DALAM KELEMAHANKU

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Nabi Yehezkiel diutus Allah kepada bangsa Israel, yang memberontak melawan Allah. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Paulus bersaksi bahwa di dalam dirinya ada kelemahan dan justru di dalam kelemahannya kuasa Allah bekerja. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus ditolak oleh orang-orang Nazareth karena mereka tidak percaya kepada-Nya. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadaku?
  3. Apakah tantangan dan kesulitan yang aku hadapi dalam melayani, baik yang berasal dari diriku sendiri maupun dari luar diriku?
  4. Bagaimana caraku mengatasi tantangan dan kesulitan itu?

Katekismus Gereja Katolik

28 “Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan la telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun la tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis. 17:26-28).

29 Namun “hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah ini” (GS 19,1) dapat dilupakan oleh manusia, disalahartikan, malahan ditolak dengan tegas. Sikap yang demikian itu dapat mempunyai sebab yang berbeda-beda: protes terhadap kejahatan di dunia, ketidakpahaman religius atau sikap tidak peduli, kesusahan duniawi dan kekayaan, contoh hidup yang buruk dari para beriman, aliran berpikir yang bermusuhan dengan agama, dan akhirnya kesombongan manusia berdosa untuk menyembunyikan diri karena takut akan Tuhan dan melarikan diri dari Tuhan yang memanggil.

30 “Semua yang mencari Tuhan, hendaklah bergembira” (Mzm 105:3). Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya. Tetapi pencarian itu menuntut dari manusia seluruh usaha berpikir dan penyesuaian kehendak yang tepat, “hati yang tulus”, dan juga kesaksian orang lain yang mengajar kepadanya untuk mencari Tuhan.

Sharing Iman:

www.sabda.org

Seorang anak sakit keras. Ia harus segera disuntik agar obat bisa langsung masuk ke dalam pembuluh darahnya. Namun, begitu melihat jarum suntik, si anak memberontak. Meronta-ronta sambil menjerit dan menangis. Takut disuntik. Karena bergerak terus, sulit bagi dokter untuk memasukkan jarum suntik. Baru setelah ia kelelahan dan lemas kehabisan tenaga, dokter bisa menyuntiknya. Obat pun masuk ke dalam tubuhnya. Proses penyembuhan dimulai.

Tanpa sadar, kita sering bersikap seperti anak kecil tadi. Ketika menghadapi kenyataan sulit, kita berontak. Panik. Protes. Marah. Sulit menerima kenyatan itu. Begitu pula Rasul Paulus. Saat mendapatkan “duri dalam daging” berupa sakit-penyakit, spontan ia berseru pada Tuhan minta disembuhkan. Berkali-kali. Sayang, upaya itu gagal. Paulus tidak disembuhkan. Namun, harapannya tidak sirna. Dari situ ia belajar satu hal penting: perlunya berdamai dengan kelemahannya. Bukannya berontak, ia berserah diri. Bergantung pada Tuhan sepenuhnya. Justru pada saat itulah, kuasa Tuhan turun menaunginya. Ia dimampukan hidup bersama kelemahan itu dengan kekuatan ilahi.

Adakah masalah yang selama ini terus merongrong diri Anda? Bentuknya bisa berupa sakit-penyakit, cacat kepribadian, atau kelemahan lainnya. Sudahkah Anda berdamai dengan kelemahan Anda tersebut, atau terus memberontak? Jika Tuhan tidak menyembuhkan, relakah Anda hidup bersama kelemahan itu? Tuhan bisa mengaruniakan kekuatan agar Anda sanggup menanggungnya. Maka, serahkanlah diri Anda kepada-Nya! Jika Anda lemah, maka Anda kuat!

“TALITA KUM”

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Allah telah menciptakan manusia seturut gambar-Nya sendiri demi keselamatan manusia. (Bacaan I – Kebijaksanaan Salomo)
  2. Yesus Kristus menjadi miskin, supaya karena kemiskinan-Nya manusia menjadi kaya dalam kasih. (Bacaan II – 2 Korintus)
  3. Yesus berkeliling berbuat baik untuk menyelamatkan manusia. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Allah menciptakan aku seturut gambar/citra-Nya?
  3. Apa pengaruh keyakinan itu bagi hidupku?
  4. Apakah aku memiliki pengalaman “dibangunkan” oleh Yesus? Apa pengaruhnya bagi hidupku saat ini?

Katekismus Gereja Katolik:

2318 “Di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan napas setiap manusia” (Ayb 12:10).

2319 Tiap hidup manusia itu kudus sejak saat pembuahannya sampai kematian, karena manusia itu dikehendaki demi dirinya sendiri dan diciptakan menurut citra Allah yang hidup dan kudus, serupa dengan Dia.

2320 Pembunuhan terhadap seorang manusia sangat bertentangan dengan martabat manusia dan dengan kekudusan Pencipta.

2321 Larangan membunuh tidak menghilangkan hak untuk melumpuhkan penyerang yang tidak sah. Pembelaan yang sah adalah satu kewajiban berat bagi siapa saja yang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain atau atas kesejahteraan umum.

 Sharing Iman:

sabda.org

Seorang wanita yang berniat bunuh diri, berdiri selama 3 jam di sebuah jembatan di Seattle; siap untuk terjun. Ini membuat lalu lintas macet total, hingga para pengguna jalan yang kesal karena diburu waktu mengutuki dan meneriakinya agar segera melompat saja. Ia pun benar-benar melompat, tapi selamat meski terjun ke sebuah kanal dari ketinggian 49 meter. Setelah itu banyak warga kota mengirim bunga dan kartu kepadanya di rumah sakit sebagai tanda penyesalan atas kejadian itu. Namun beberapa pengguna jalan yang marah menghubungi surat kabar lokal dan menyalahkan wanita itu karena tidak memilih tempat yang tidak terlalu ramai untuk mengakhiri hidupnya.

Orang-orang yang memerlukan pertolongan kita seringkali datang pada waktu yang tidak tepat. Namun dalam setiap situasi, kita dituntut untuk memberi perhatian secara cepat, meski mengganggu rencana kita.

Yesus selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya selama hidup di dunia ini, dan kita dapat meneladani respon yang Dia berikan kepada mereka. Ketika Yairus meminta-Nya untuk datang dan menyembuhkan anak perempuannya, Yesus meluluskan permintaannya (Mrk 5:22-24). Di tengah jalan, seorang wanita menjumpai-Nya. Yesus pun berhenti dan meluangkan waktu untuk menyembuhkannya (ay. 25-34).

Maukah kita menolong mereka yang membutuhkan? Seperti Yesus, adakah kita berbelas kasihan untuk menolong dan memulihkan mereka yang putus asa? Hari ini, Allah memberi kita kasih karunia untuk menolong orang lain, bagi kemuliaan-Nya.

BERSAUDARA DALAM TUHAN

INTISARI BACAAN MINGGU INI

  1. Ular adalah gambaran kekuatan jahat yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa, yaitu sikap dan tindakan melawan kasih Allah. (Bacaan I – Kitab Kejadian)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa setia menanggung penderitaan. Allah menganugerahkan kemuliaan bagi orang yang percaya dan setia. (Bacaan II – Surat II Paulus kepada Jemaat di Korintus)
  3. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah adalah saudara dan saudari Yesus Kristus. (Bacaan Injil – Markus)

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah arti “saudara/i”?
  3. Bagaimana sikapku selama ini terhadap orang lain di sekitarku?
  4. Apakah aku telah membangun persaudaraan dengan orang lain atau justru menciptakan permusuhan?
  5. Apa usahaku untuk membangun persaudaraan di tengah situasi masyarakat seperti saat ini?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

2196 Atas pertanyaan, hukum mana yang terutama, Yesus menjawab: “hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini” (Mrk 12:29-31). Santo Paulus mengingatkan: “Barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih tidak berbuat jahat kepada sesama manusia, karena itu adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:8-10).

2197 Perintah keempat: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Kel 20:12) membuka loh kedua dekalog. Ia merujuk ke tata cinta kasih. Allah menghendaki bahwa kita mencontohi Dia dalam menghormat orang-tua kita, kepada siapa kita berterima kasih untuk kehidupan kita, dan yang menyampaikan iman kepada kita. Kita berkewajiban menghormati dan menghargai semua orang yang Allah lengkapi dengan wewenang-Nya demi kesejahteraan kita.

2198 Perintah ini dirumuskan secara positif; ia menunjukkan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Ia mengantar ke perintah-perintah berikutnya, di mana dituntut agar menghormati kehidupan, pernikahan, harta benda duniawi orang lain, dan perkataan manusia. Ia merupakan salah satu dasar ajaran sosial Gereja.

2199 Perintah keempat ditujukan secara khusus kepada anak-anak dan menyangkut hubungan mereka dengan ayah dan ibu, karena inilah hubungan yang paling mendasar. Ia juga mencakup hubungan kekeluargaan dengan anggota-anggota keluarga yang lain. Ia menghendaki agar ditunjukkan penghormatan, cinta kasih, dan terima kasih kepada sanak keluarga yang lebih tua dan nenek moyang. Akhirnya ia juga menyangkut kewajiban anak-anak sekolah terhadap gurunya, karyawan terhadap majikan, bawahan terhadap atasannya, warga negara terhadap tanah aimya, dan terhadap mereka yang mengurus dan memerintahnya. Dalam arti yang lebih luas, perintah ini juga mencakup kewajiban-kewajiban orang-tua, wali, guru, pemuka, penguasa, dan pejabat, jadi semua mereka yang menjalankan wewenangnya untuk orang lain atau suatu persekutuan.

2200 Mematuhi perintah keempat membawa pula satu ganjaran: “hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (kel 20:12) Bdk. Ul 5:16.. Penghayatan perintah ini, di samping buah-buah rohani juga mendatangkan buah jasmani ialah perdamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya menginjak-injak perintah ini mendatangkan kerugian besar bagi persekutuan manusia dan bagi orang perorangan.

SHARING IMAN www.sabda.org

Seorang guru tua menanyai murid-muridnya, “Bagaimana kita tahu kapan kegelapan pergi dan fajar menjelang?” “Ketika kita dapat melihat sebuah pohon dan tahu bahwa itu adalah pohon pinus, bukan pohon cemara,” jawab seorang murid. “Ketika kita dapat melihat seekor binatang dan tahu bahwa itu adalah rubah, bukan seekor serigala,” jawab yang lain. “Salah,” kata guru itu. Karena bingung, para murid itu menanyakan jawabannya. Sang guru menjawab dengan tenang, “Kita akan tahu kapan kegelapan pergi dan fajar datang ketika kita dapat melihat orang lain dan mengenalinya sebagai saudara kita; karena jika tidak, jam berapa pun, kita akan tetap berada dalam kegelapan.”

Adakah kita menanggapi dengan serius kata-kata Yohanes, “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita?” (1Yohanes 3:14). Atau, masihkah kita menyimpan kemarahan atau kebencian kepada orang lain? Adakah kita mencela orang-orang lain dan seringkali tidak sependapat dengan kita dalam berbagai hal? Bagaimana dengan orang-orang dari bangsa lain? Adakah kita mengasihi mereka tidak hanya dari kejauhan tetapi juga secara dekat dan pribadi? Jika kasih merupakan ciri orang percaya, adakah orang lain akan mendapati ciri tersebut dan mengenali kita sebagai milik Kristus?

INILAH TUBUH-KU INILAH DARAH-KU

INTISARI BACAAN MINGGU INI

  1. Dengan perantaraan Musa, bangsa Israel mengikat perjanjian dengan Allah. (Bacaan I – Kitab Keluaran)
  2. Dengan mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya, Yesus Kristus menjadi Pengantara dari perjanjian baru Allah-manusia. (Bacaan II – Surat kepada Orang Ibrani)
  3. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus menyatakan pemberian Diri-Nya bagi keselamatan manusia dan yang akan terlaksana dalam Peristiwa Salib. (Bacaan Injil – Markus)

BAHAN REFLEKSI PRIBADI

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah “janji” itu?
  3. Apakah aku memiliki janji kepada seseorang, kepada Tuhan, kepada diriku sendiri?
  4. Tubuh dan Darah Yesus adalah tanda perjanjian baru. Apakah aku percaya akan hal ini? Bagaimana sikapku selama ini dalam menyambut Tubuh dan Darah Yesus dalam Ekaristi?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

1333 Didalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah melalui perkataan Kristus dan seruan kepada Roh Kudus, menjadi tubuh dan darah Kristus. Sesuai dengan petunjuk Tuhan, demi kenangan akan Dia, Gereja melanjutkan apa yang telah Ia lakukan pada malam sebelum sengsara-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan: “Ia mengambil roti….. “Ia mengambil piala yang berisi air anggur”. Roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus atas cara yang penuh rahasia, tetapi tinggal tanda-tanda tentang kebaikan ciptaan. Karena itu, dalam mempersiapkan persembahan kita berterima kasih kepada Pencipta untuk roti dan anggur (Mzm 104:13-15), hasil dari usaha manusia”, tetapi pertama-tama “hasil dari bumi” dan “pokok anggur”, anugerah Pencipta. Gereja melihat di dalam tindakan Melkisedek, raja dan imam yang membawa “roti dan anggur” (Kej 14:18), satu pratanda bahan persembahannya sendiri (MR, Doa SyukurAgung Romawi 95: “Supra quae”).

1334 Di dalam Perjanjian Lama roti dan anggur dipersembahkan di antara buah-buah sulung, sebagai tanda terima kasih kepada Pencipta. Tetapi dalam hubungan dengan keluaran dari Mesir ia memiliki lagi satu arti baru… Roti yang tak beragi, yang umat Israel makan dalam perayaan Paska setiap tahun, mengingatkan pada ketergesahan keluaran dari Mesir yang membebaskan; kenangan akan manna di padang gurun selalu mengingatkan Israel bahwa ia hidup dari roti Sabda Allah (Ul 8:3). Dan roti sehari-hari adalah buah tanah terjanji, satu jaminan bahwa Allah tetap setia kepada janji-janji-Nya. “Piala pengucapan syukur” (1 Kor 10:16) pada akhir perjamuan Paska Yahudi menambahkan arti eskatologis pada kegembiraan pesta anggur: penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Yesus telah menciptakan Ekaristi-Nya dengan memberikan satu arti baru dan definitif kepada pemberkatan roti dan anggur.

1335 Mukjizat perbanyakan roti menunjukkan lebih dahulu kelimpahan roti istimewa dari Ekaristi-Nya (Mat 14:13-21; 15:32-39): Tuhan mengucapkan syukur, memecahkan roti dan membiarkan murid-murid-Nya membagi-bagikannya, untuk memberi makan kepada orang banyak. Tanda perubahan air menjadi anggur di Kana (Yoh 2:11). telah memaklumkan saat kemuliaan Yesus. Ia menyampaikan penyempurnaan perjamuan pernikahan dalam Kerajaan Bapa, di mana umat beriman akan minum (Mrk 14:25). anggur baru, yang telah menjadi darah Kristus.

1336 Pernyataan pertama mengenai Ekaristi, memisahkan murid-murid-Nya dalam dua kelompok, sebagaimana juga penyampaian mengenai sengsara-Nya menimbulkan reaksi menolak pada mereka: “Perkataan ini keras, siapakah sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Ekaristi dan salib adalah batu-batu sandungan. Keduanya membentuk misteri yang sama, yang tidak berhenti menjadi sebab perpecahan. “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Pertanyaan Tuhan ini bergema sepanjang masa; melalui pertanyaan ini cinta-Nya mengundang kita, supaya mengakui bahwa hanya Dialah memiliki “perkataan hidup kekal” (Yoh 6:68) dan bahwa siapa yang menerima anugerah Ekaristi-Nya dengan penuh iman, menerima Dia sendiri.

SHARING IMAN

www.katolisitas.org

Sejak abad awal, Gereja tidak pernah meragukan kehadiran Tuhan Yesus dalam rupa roti dan anggur. Kita mengetahuinya tidak saja dari perkataan Yesus sendiri   yang dicatat dalam Injil, namun juga dari tulisan Rasul Paulus (lih. 1Kor 11:23-26). Kebiasaan untuk menyimpan hosti yang sudah dikonsekrasi dalam tabernakel juga sudah dicatat dalam riwayat St. Basilius di abad ke-4. Ekaristi itu disimpan di gereja-gereja atau biara bagi keperluan orang-orang sakit dan yang menghadapi ajal. Namun menjelang akhir abad ke-11, Gereja mengalami “hantaman” dari Berengarius (999-1088) seorang pemimpin diakon di Angers, Prancis, yang secara terbuka menolak percaya bahwa Kristus secara nyata hadir dalam rupa roti dan anggur. Ada sejumlah orang yang percaya kepada ajarannya ini dan mulai menuliskan bahwa Kristus dalam Ekaristi tidaklah sama dengan Kristus dalam Injil, dan karena itu, Ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi.

Begitu seriusnya kasus ini, sehingga Paus Gregorius VII memerintahkan Berengarius untuk menarik kembali ajarannya. Ia diminta untuk mengucapkan pengakuan iman tentang kehadiran Yesus secara nyata dalam Ekaristi. Ini adalah pernyataan definitif pertama Gereja tentang apa yang selalu dipercaya oleh Gereja dan tak pernah ditentang. Dengan pengakuan iman ini, maka gereja-gereja di Eropa mengalami semacam “kebangkitan” dalam penghayatan akan Ekaristi. Saat itulah ditetapkan adanya prosesi-prosesi Sakramen Mahakudus, rumusan doa-doa adorasi, umat didorong untuk mengunjungi Sakramen Mahakudus, dan seterusnya. Sejak abad ke-11 ini, devosi kepada Sakramen Mahakudus dalam Tabernakel menjadi semakin dikenal.

Maka dari itu, tak ada yang mengejutkan ketika Paus Urbanus IV di tahun 1264 kemudian menetapkan Hari Raya Tubuh Kristus (Corpus Christi). Paus menekankan akan kasih Kristus, yang ingin menyertai umat-Nya secara fisik sampai akhir zaman. Paus mengatakan, “Dalam Ekaristi, Kristus di dalam hakekat-Nya sendiri ada bersama kita.” Sebab “ketika mengatakan kepada para rasul-Nya bahwa Ia akan naik ke Surga, Ia berkata, “Lihatlah, Aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai akhir zaman” dan dengan demikian menghibur mereka dengan janji yang besar bahwa Ia akan tetap ada dan bersama-sama dengan mereka bahkan dengan kehadiran secara jasmani” (Paus Urbanus IV, Transiturus de hoc mundo, 11 Agustus 1264).

Ajaran tentang Kehadiran Kristus dalam Ekaristi ini didukung juga oleh berbagai mukjizat Ekaristi di sepanjang sejarah Gereja – dan yang terakhir  diakui oleh CDF bulan April 2016 adalah mukjizat Ekaristi yang terjadi di Hari Raya Natal 2013 di Legnica, Polandia. Meskipun demikian, masih ada begitu banyak orang – bahkan orang-orang yang juga mengimani Kristus – yang tidak percaya akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, nampaknya kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, tentang apakah yang dapat kita perbuat untuk semakin menghayati kebenaran ajaran iman ini? Bagaimana kita dapat turut menyebarkannya?

TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Musa menunjukkan kepada bangsa Israel karya kasih Allah dan mengajak bangsa Israel untuk taat kepada Allah. (Bacaan I – Kitab Ulangan)
  2. Paulus menyatakan kepada jemaat di Roma bahwa Allah sungguh mengasihi mereka, sehingga Ia telah mencurahkan Roh-Nya dan menjadikan mereka anak-anak Allah. (Bacaan II – Surat Paulus kepada jemaat di Roma)
  3. Yesus mengutus para rasul untuk mewartakan kasih Allah kepada semua bangsa dan Ia berjanji selalu menyertai mereka. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya “menjadi anak-anak Allah”?
  3. Apakah hari ini aku mengalami kasih Tuhan?
  4. Apakah karya Tuhan dalam hidupku yang paling aku syukuri? Mengapa?
  5. Apa tindakan konkret yang aku lakukan sebagai bentuk/ungkapan kasih-ku bagi keluarga, lingkungan/ masyarakat, dan Gereja?

Katekismus Gereja Katolik

253 Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat”. Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat”. “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi”

254 Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian”. “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera”. Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita”. Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan”. “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera”.

Sharing Iman:

http://katolisitas-indonesia.blogspot.co.id/ 2012/10/syahadat-professio-fidei-tridentinae.html

Pengakuan Iman Tridentine (Professio Fidei Tridentinae) atau yang dikenal sebagai Pengakuan Iman Pius IV, adalah satu dari empat Pengakuan Iman resmi Gereja Katolik, yaitu Syahadat Para Rasul (Syahadat Pendek), Syahadat Nicea-Konstantinopel (Syahadat Panjang) dan Syahadat Athanasian.

Pengakuan ini dikeluarkan oleh Paus Pius IV pada tanggal 13 November 1565 dengan Bulla “Iniunctum nobis” di bawah dukungan Konsili Trente (1545-1563). Pengakuan iman ini setelah Konsili Vatikan I (1869-1870) berfungsi untuk memberi penekanan lebih pada definisi dogmatik Konsili. Tujuan utama Pengakuan Iman ini adalah untuk menjelaskan batasan iman Katolik terhadap ajaran-ajaran sesat.

 

Syahadat Athanasian:

Inilah iman Katolik: kita menghormati Allah yang tunggal dalam Trinitas dan Trinitas dalam keesaan, tanpa pencampuran Pribadi dan tanpa pemisahan kodrat mereka. Salah satunya adalah Pribadi Bapa, Pribadi yang lain adalah Putra dan Pribadi yang lain lagi adalah Roh Kudus. Akan tetapi Bapa, Putra dan Roh Kudus hanya memiliki satu keilahian, kemuliaan yang sama, keagungan yang sama. Sebagaimana Bapa, demikian pun Putra dan Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Putra tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tak terselami, Putra tak terselami, Roh Kudus tak terselami. Bapa abadi, Putra abadi, Roh Kudus abadi. Namun mereka bukan tiga Yang kekal, melainkan satu Yang kekal. Mereka juga bukan tiga kenyataan ilahi yang tidak diciptakan dan bukan tiga yang tak terselami melainkan satu yang tak diciptakan dan tak terselami. Bapa mahakuasa, Putra mahakuasa, Roh Kudus mahakuasa, namun bukan ada tiga kenyataan ilahi yang mahakuasa melainkan satu kenyataan ilahi yang mahakuasa. Demikianlah Bapa itu Allah, Putra itu Allah dan Roh Kudus itu Allah, namun bukan ada tiga Allah, melainkan hanya satu Allah. Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan, namun tidak terdapat tiga Tuhan, tetapi hanya satu Tuhan. Sebagaimana kita mengakui seturut kebenaran Kristen bahwa setiap Pribadi adalah Allah dan Tuhan, namun Gereja Katolik juga melarang kita untuk mengakui tiga allah dan tuhan. Bapa tidak dihasilkan seorangpun, ataupun diciptakan dan diperanakkan. Putra berasal dari Bapa sendiri, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tetapi diperanakkan. Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putera, tidak dihasilkan, tidak diciptakan, tidak diperanakkan, tetapi diasalkan. Jadi terdapat satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Putra, bukan tiga putra, satu Roh Kudus, bukan tiga roh kudus. Dan dalam Tritunggal ini tidak ada yang mendahului atau kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi semua tiga Pribadi adalah sama-sama kekal dan agung, sehingga seperti dikatakan bahwa baik keesaan dalam ketigaan maupun ketigaan dalam keesaan haruslah disembah. Siapa yang ingin mencapai kebahagiaan haruslah percaya akan Tritunggal Mahakudus. Lebih jauh lagi, adalah penting untuk keselamatan kekal, bahwa ia harus mempercayai dengan benar Inkarnasi (Penjelmaan) Tuhan kita Yesus Kristus. Karena iman yang benar adalah bahwa kita mengimani dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Putera Allah, adalah Allah dan Manusia. Allah, kodrat dari Bapa, dilahirkan sebelum segala dunia; dan manusia, dari kodrat ibu-Nya, lahir ke dalam dunia. Allah sempurna dan Manusia sempurna, berada dalam jiwa yang layak dan daging manusia. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya. Yang sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari pengambilan kemanusiaanNya ke dalam Allah. Satu bersama-sama, bukan karena percampuran kodrat, tetapi oleh kesatuan pribadi. Karena jiwa yang layak dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Ia naik ke surga, Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Pada kedatangan-Nya, semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal. Inilah iman Katolik yang mana kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan.

HIDUP DALAM KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini:

  1. Matias dipilih sebagai pengganti Yudas Iskariot demi pelayanan kesaksian kebangkitan Yesus. (Bacaan I – Kisah Para Rasul)
  2. Jika kita saling mengasihi, Allah ada di dalam kita dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. (Bacaan II – Surat Pertama Rasul Yohanes)
  3. Yesus mengasihi para murid sehabis-habisnya. Ia berdoa bagi para murid agar mereka tetap menjadi satu, sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Bagaimana cara pandang dan sikapku terhadap dunia di sekitarku saat ini?
  3. Apakah tandanya bahwa aku “bukan dari dunia” seperti yang disabdakan Yesus?
  4. Apakah aku memandang dan menyikapi situasi di dunia dengan kasih, seperti yang telah dilakukan Yesus?
  5. Apakah yang akan aku lakukan untuk menciptakan lingkungan (dunia) yang penuh kasih?

Katekismus Gereja Katolik:

1996 Kita memperoleh pembenaran berkat rahmat Allah. Rahmat adalah kemurahan hati, pertolongan sukarela. yang Allah berikan kepada kita,agar kita dapat menjawab panggilan-Nya. Sebab panggilan kita ialah menjadi anak-anak Allah (Bdk. Yoh 1:12-18), anak-anak angkat-Nya (Bdk. Rm 8:14-17), mengambil bagian dalam kodrat ilahi, (Bdk. 2 Ptr 1:34) dan dalam kehidupan abadi (Bdk. Yoh 17:3).

1997 Rahmat adalah keikutsertaan ada kehidupan Allah, ia mengantar kita masuk ke dalam kehidupan Tritunggal yang paling dalam: melalui Pembaptisan warga Kristen mengambil bagian dalam rahmat Kristus, yang adalah Kepala Tubuh-Nya. Sebagai “anak angkat”, orang Kristen dapat menamakan Allah “Bapanya” hanya dalam persatuan dengan Putera yang tunggal. Ia menerima kehidupan Roh, yang mencurahkan kasih kepadanya dan yang membangun Gereja.

1998 Panggilan menuju kehidupan abadi ini bersifat adikodrati. Ia diterima hanya karena kebaikan Allah yang secara sukarela mendahului kita karena hanya Ia yang dapat mewahyukan Diri dan memberikan Diri. Panggilan itu melampaui kekuatan pikiran dan kehendak manusia dan segala makhluk (Bdk. 1 Kor 2:7-9).

1999 Rahmat Allah berarti bahwa Allah memberi kehidupan-Nya secara cuma-cuma kepada kita. Ia mencurahkannya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus, untuk menyembuhkannya dari dosa dan untuk menguduskannya. Itulah rahmat pengudusan atau rahmat pengilahian, yang telah kita terima di dalam Pembaptisan. Ia merupakan asal “karya keselamatan” di dalam kita (Bdk.Yoh 4:14; 7:38-39).

2000 Rahmat pengudusan adalah satu anugerah yang tetap, satu kecondongan adikodrati yang tetap. Ia menyempurnakan jiwa, supaya memungkinkannya hidup bersama dengan Allah dan bertindak karena kasih-Nya. Orang membeda-bedakan apa yang dinamakan rahmat habitual, artinya satu kecondongan yang tetap, supaya hidup dan bertindak menurut panggilan ilahi, dari apa yang dinamakan rahmat pembantu, yakni campur tangan ilahi pada awal pertobatan atau dalam proses karya pengudusan.

2001 Persiapan manusia untuk menerima rahmat sudah merupakan karya rahmat. Rahmat itu perlu untuk menampilkan dan menopang kerja sama kita pada pembenaran melalui iman dan pada pengudusan melalui kasih. Allah menyelesaikan apa yang sudah dimulai-Nya di dalam kita, “karena Ia mulai dengan menyebabkan, bahwa kita mau; Ia menyelesaikan dengan bekerja sama dengan kehendak kita yang telah ditobatkan” (Agustinus, grat. 17).

Sharing Iman:

www.sabda.org

Bunda Teresa menulis, “Penyakit paling menakutkan itu bukan TBC atau lepra, melainkan tidak dikehendaki, tidak dicintai, dan tidak dipedulikan. Kita dapat mengobati fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keputusasaan, dan hilangnya harapan adalah kasih. Banyak orang di dunia ini yang mati karena kurang makan, tetapi lebih banyak lagi yang mati karena haus kasih sayang.” Banyak orang yang tertolak oleh lingkungannya dan mereka merasa sendiri. Banyak orang putus asa karena apa yang ia harapkan tak kunjung terwujud dalam hidupnya. Ya, dunia haus akan kasih sayang dan menantikan orang-orang yang bersedia menyatakan kasih itu.

Rasul Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih dan kita banyak sekali mendapatkan limpahan kasih yang dari Allah dalam kehidupan kita. Tujuan Allah memberikan kasih itu kepada kita adalah supaya kita melanjutkan kasih tersebut bagi sesama. Bukan hanya untuk disimpan dan dinikmati bagi diri kita sendiri. Kewajiban kita adalah mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka. Kasih pasti menyelamatkan banyak hal dalam kehidupan. Orang menjadi merasa dihargai dan tidak kesepian karena ia tahu bahwa ia tidak sendiri lagi.

Kasih tidak akan pernah habis sewaktu kita membagikannya. Justru kasih akan semakin bertambah banyak dalam diri kita. Karena kita sudah mendapatkan kasih Allah secara cuma-cuma, demikian hendaknya kita juga berbagi kasih tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Tugas kita adalah membagikan kepada sesama kasih yang sudah tuhan berikan bagi kita.

ALLAH ADALAH KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Paulus menyatakan bahwa Allah mengasihi dan tidak membeda-bedakan setiap orang. Setiap orang yang takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. (Bacaan I – Kisah Para Rasul)
  2. Rasul Yohanes mengajak kita sebagai murid-murid Yesus untuk saling mengasihi. Kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. (Bacaan II – Surat Pertama Rasul Yohanes)
  3. Yesus menghendaki agar kita senantiasa tinggal dalam kasih-Nya, yaitu dengan cara menuruti perintah-Nya. Tinggal di dalam kasih-Nya akan membawa sukacita dan buah yang (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa arti “kasih” menurutku?
  3. Apakah aku memiliki pengalaman “mengasihi” dan “dikasihi”?
  4. Apa tindakan konkret yang aku lakukan sebagai bentuk/ungkapan kasih-ku bagi keluarga, lingkungan/ masyarakat, dan Gereja?
  5. Apa usahaku agar dapat senantiasa tinggal dalam kasih Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik

1822 Kasih adalah kebajikan ilahi, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri dan karena kasih kepada Allah, kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

1823 Yesus membuat kasih menjadi suatu perintah baru Bdk. Yoh 13:43.. Karena Ia mengasihi orang-orang-Nya “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), Ia menyatakan kasih yang Ia terima dari Bapa-Nya. Melalui kasih satu sama lain para murid mencontoh kasih Yesus, yang mereka terima dari Dia. Karena itu Yesus berkata: Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9). Dan juga: “Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12).

1824 Sebagai buah roh dan penyempurnaan hukum, kasih mematuhi perintah-perintah Allah dan Kristus. “Tinggallah di dalam kasih-Ku! Jikalau kamu menurut perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku” (Yoh 15:9-10) Bdk. Mat 22:40; Rm 13:8-10.

1825 Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih “musuh” (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing (Bdk. Luk 10:27-37), dan mengasihi anak-anak (Bdk. Mrk 9:37), dan kaum miskin (Bdk. Mat 25:40, 45).

Sharing Iman:

sabda.org

Sejak kecil, saya tahu Ayah sangat suka kenari hitam. Jarang-jarang ia bisa mendapatkannya, maka ketika suatu hari menemukan buah itu di tanah saya amat girang! Yang pertama terbersit di benak saya adalah segera meminta tolong Ibu untuk memecahkan kenari itu agar bisa saya makan. Namun kasih saya kepada Ayah membuat saya mengubah rencana itu. Saya menyimpannya untuk Ayah.

Malam harinya ketika ia pulang, saya memberikan kenari itu dan berkata, “Ini buat Ayah, saya sudah menyimpannya seharian khusus untuk Ayah!” Sungguh aneh bagi saya ketika melihat Ayah tidak langsung memecah dan memakannya. Saya baru memahaminya 30 tahun kemudian, setelah beliau wafat. Saya menemukan kenari itu lagi, tersimpan di sebuah tempat khusus di meja Ayah. Ibu berkata bahwa Ayah menganggap buah kenari itu sebagai bukti dalamnya kasih saya kepadanya, sehingga Ayah menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Tindakan-tindakan yang sepele tetapi penuh kasih semacam itu sering kali jauh lebih dihargai daripada yang kita perkirakan. Maka mari kita camkan dalam benak kita perintah Allah untuk saling mengasihi. Dengan kuasa Roh Kudus, mari kita ganti sikap mementingkan diri sendiri dengan kata-kata dan perbuatan tulus yang menunjukkan kasih kita.

Jangan menunda-nunda tindakan kasih, bahkan dalam bentuk yang paling kecil sekalipun. Percayalah, setiap tindakan kasih kita akan dihargai, dan dibalas dengan berlimpah-limpah oleh Tuhan. Tindakan kecil yang penuh kasih dapat membuat perbedaan besar. Untuk membuat perbedaan dalam hidup, tunjukkanlah kasih.

Warta Paroki 28 April 2018

WARTA PAROKI
28-29 April 2018

  1. PENANGGALAN LITURGI
    Rabu,    02 Mei:   Pesta St. Athanasius, Uskup Pujangga.
    Kamis,   03 Mei    :  Pesta St. Filipus dan Yakobus, Rasul.
  2. Peserta Mistagogi Baptisan Paskah 2018 dan Baptisan Luar Paskah 2018 dimohon kehadirannya pada:
    Hari, tgl: Minggu, 22 April-Sabtu, 12 Mei 2018
    Pukul       : 19.00 WIB
    Tempat    : Aula St. Athanasius
    Baptisan Paskah 2018 dan Baptisan di luar Paskah 2017 WAJIB hadir dalam masa mistagogi guna menggenapi tahapannya.
    Jadwal Masa Mistagogi 2018:
    Minggu, 22 April 2018 – Kitab Suci, oleh Timja Kerasulan dan Kitab Suci.
    Sabtu, 28 April 2018 – Hidup Menggereja, Beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner oleh Pawil dan wakil OMK.
    Sabtu, 5 Mei 2018 – Sakramen Baptis, Ekaristi dan Tobat, oleh Timja Pendalaman Iman.
    Sabtu, 12 Mei 2018 – Hidup Menggereja dan Berparoki, oleh Rm. Ignatius Suharyono, Pr
    Mistagogi ditutup dengan sakramen tobat, misa syukur, penyerahan Surat Baptis, CD foto dan kenang kenangan (waktu akan diinformasikan)
  3. Dalam rangka Hari Pelindung Paroki, akan diadakan Misa Novena pada:
    Hari, tgl:  Selasa-Rabu, 24 April – 2 Mei 2018

    Pukul   :  18.00 WIB
         (Misa pagi/harian pukul 05.30 WIB tetap ada)
  4. Tim kerja PSE akan menyelenggarakan Kursus MC/ Panatasara Jawi:
    Hari, tgl :  Senin, 30 April 2018
    Pukul     :  19.00 -21.00 WIB
    Tempat :  Aula St. Athanasius
    Pendaftaran peserta dapat menghubungi Bp. Y. Widodo (0815 7588 6915) dan Bp. Budi Sayogo (0813 9018 6750), dimohon mengisi formulir yang telah disediakan di kotak PSE ruang St. Brigita.
  5. Pertemuan Timja WKRI Karangpanas:
    Hari, tgl    :  Minggu, 6 Mei 2018
    Pukul       :  10.00 WIB
    Tempat     :  Ruang St. Yusup
    Tiap wilker diharap mengirimkan 2 orang untuk mewakilinya.
  6. Tim kerja PSE akan mengadakan Bazar Kuliner Paguyuban UKM Paroki Karangpanas:
    Hari, tgl   :  Sabtu – Minggu, 12 – 13 Mei 2018
    Pukul       :  Sabtu, 12 Mei; 18.00 WIB-selesai
    Minggu, 13 Mei; 06.00-12.00 WIB

    Tempat    :  Area parkir Gereja St. Athanasius
    Mohon kunjungan umat untuk memeriahkan bazar.
  7. Jadwal Misa Kenaikan Isa Almasih:     Ÿ
    Rabu, 9 Mei 2018 pukul 18.00 WIB     Ÿ
    Kamis, 10 Mei 2018 pukul 05.30 ; 07.30 ; 17.30 WIB
    Misa pada hari Kamis, 10 Mei 2018 pukul 07.30 WIB dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko (dalam rangka Pembukaan Pekan Komsos KAS).
  8. PEKAN KOMSOS KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG akan diadakan 10-13 Mei 2018. Gereja St. Athanasius Agung Karangpanas sebagai Tuan Rumah.
    Agenda Kegiatan:
    Misa Pembukaan: 10 Mei 2018 pukul 07.30 WIB dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Dilanjutkan Lelang Lukisan dan Pameran Karya KOMSOS.
    Pameran Karya KOMSOS: 10-13 Mei 2018
    Aneka Lomba: Cerita Pendek, Fotografi, Film Pendek
    Workshop Musik Ilustrasi Film: 10 Mei 2018
    Temu Raya KOMSOS: 11-13 Mei 2018
    Workshop Fotografi: 12 Mei 2018
    Workshop Penulisan Naskah Film: 12 Mei 2018
    Pagelaran Seni: 12 Mei 2018
    Misa Penutup: Minggu, 13 Mei 2018 pukul 07.30 dipimpin oleh Romo Vikjend dan romo KOMSOS 4 kevikepan.
    Informasi selengkapnya dapat diperoleh melalui KOMSOS Karangpanas atau pekankomsoskas18@gmail.com.
  9. Rekoleksi Calon Komuni Pertama dan Orangtua akan diadakan pada:
    Hari, tgl    :  Minggu, 13 Mei 2018
    Pukul       :  08.30 WIB
    Tempat     :  Kompleks Sekolah Don Bosko
    Acara akan ditutup dengan misa.
  10. Katekese Persiapan Perkawinan (KPP):
    Hari, tgl    :  Senin – Rabu, 21 – 23 Mei 2018
    Pukul       :  17.30 – 21.00 WIB
    Tempat     :  Aula St. Athanasius
    Syarat      :
    Mengisi formulir
    Fc. Surat baptis
    Foto berdampingan 4×6 satu lembar
    Biaya 100.000,00
  11. Pengembalian persembahan Januari – Maret 2018 dapat diambil di sekretariat paroki.
  12. Deteksi Dini, Konseling Gratis, dan Misa Anak Berkebutuhan Khusus dilaksanakan pada:
    Hari, tgl:   Rabu, 16 Mei 2018
    Pukul    :   15.30 -20.00 WIB
    Tempat : Gedung Sukasari Jl. Pandanaran No. 9
    Misa dipimpin oleh bapak Uskup Mgr. Robertus Rubyatmoko, Pr. Pendaftaran dan informasi: Christi (0899 6676 340) dan Olga (0815 7679 694).
  13. Gladi Rohani Keuskupan Agung Semarang mengadakan pelatihan “Acedemia Mediore” pada:
    Hari, tgl    :  8 – 15 Juli 2018
    Peserta      :  Mahasiswa semester 2 – 6
    Pendaftaran dan informasi dapat menghubungi CP pada poster di papan pengumuman gereja.
  14. Bagi umat yang ingin menyalurkan dana pendidikan (beasiswa) bisa melalui:
    Sekretariat Paroki Gereja Karangpanas
    Bank Niaga 016-01-44997-12-1 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Bank Niaga 906-01-00317-11-8 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Rek Tabungan BCA 816-5159-922 a/n Erniwaty/Cristiana Retnaningsih (Rek pendidikan)
    CP :
    Bpk Martinus Budi Kastianto: 081 575 000 822
    Ibu Christiana Retnaningsih: 081 225 520 287
    Bpk Mardiono: 081 225 78 650
    Ibu Erniwaty Heru Karjanto: 081 225 680 570
  15. Komunitas Baca Kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi :
    Benny       0815 7573 1236
    Anna         0815 8059 000
  16. Paroki Karangpanas menyediakan mesin EDC (gesek non tunai), bagi umat yg ingin menyumbang dapat melalui sekretariat paroki
  17. Timja Paduan Suara, Pemazmur dan Organis membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu/Saudara-i yang ingin bergabung menjadi Pemazmur, dengan syarat:
    Bisa bernyanyi dengan baik
    Bisa membaca not angka
    Minimal Kelas I SMA (kelas X).
    Untuk pendaftaran hub: Bp. Broto: 0851 0029 4738

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman III

  1. Antonius Tatag Bramatyo dari lingk. St. Petrus Claver – Karanganyar Gunung II
    dengan 
    Bernadeta Firstiana Cristallin Putri dari Paroki St. Ignatius – Magelang.
  1. Fransiska Kid Daling Yesnat dari lingk. St. Laurensius – Jatingaleh II
    dengan 
    Florentinus Danang Suryandono dari Paroki St. Petrus – Purwosari – Surakarta.
  1. Ignatius Bagus Sulistyo dari lingk. St. Antonius Padua – Jatingaleh IV
    dengan 
    Sesilia Diyaningtyas dari Paroki St. Paulus – Sendangguwo – Semarang.

Saudara-i yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

BERITA LELAYU

  1. Antonius Yosef Soeprapto (65 th) – Suami dari Margareta Wastutiani (lingk. St. Monika, Gombel Permai II).  Wafat: Rabu, 11 April 2018.
  2. Lucia Wasini (81 th) (lingk. St. Fransiskus Xaverius, Kalilangse III). Wafat: Senin, 23 April 2018.

AKULAH POKOK ANGGUR DAN KAMU RANTINGNYA

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Saulus yang bertobat, dapat menjadi pewarta Injil yang hebat berkat kuasa Roh Kudus dan dukungan dari para rasul dan jemaat. (Bacaan I – Kisah Para Rasul)
  2. Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk percaya pada Yesus Kristus dan saling mengasihi secara total: melalui perkataan dan perbuatan. (Bacaan II – Surat Pertama Rasul Yohanes)
  3. Yesus Kristus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingNya. Setiap orang yang tinggal di dalamNya akan berbuah melimpah. (Bacaan Injil – Yohanes)

 

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya bagiku: Yesus adalah pokok anggur dan aku adalah rantingNya?
  3. Menurutku, apa arti “tinggal” dan “berbuah”?
  4. Bagaimana kualitas hidup bersama sebagai murid-murid Yesus di lingkungan, wilayah, dan paroki-ku? Apa yang sudah baik? Apa yang masih kurang baik?
  5. Apa usahaku untuk menjadi “ranting yang subur dan berbuah melimpah” di tengah lingkungan, wilayah, paroki, dan masyarakat?

 

Katekismus Gereja Katolik

787 Sejak awal, Yesus membiarkan para murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah’ dan memberikan mereka bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya dan dalam kesengsaraan-Nya’. Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Dan. Ia menyatakan satu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

788 Ketika Ia tidak hadir lagi secara kelihatan di tengah murid-murid-Nya, Yesus tidak meninggalkan mereka sebagai yatim piatu. Ia menjanjikan, tinggal beserta mereka sampai akhir zaman,’ dan mengutus kepada mereka Roh-Nya’. Dalam arti tertentu persekutuan dengan Yesus dipererat lagi: “Sebab Ia telah mengumpulkan saudara-saudarinya dari segala bangsa, dan dengan mengurniakan Roh-Nya Ia secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya” (LG 7).

789 Perbandingan Gereja dengan tubuh menyoroti hubungan yang mesra antara Gereja dan Kristus. Gereja tidak hanya terkumpul di sekeliling-Nya, tetapi dipersatukan di dalam Dia, dalam Tubuh-Nya.

790 Orang beriman, yang menjawab Sabda Allah dan menjadi anggota Tubuh Kristus, dipersatukan secara erat dengan Kristus: “Dalam Tubuh itu hidup Kristus dicurahkan ke dalam umat beriman. Melalui Sakramen-sakramen mereka itu secara rahasia namun nyata dipersatukan dengan Kristus yang telah menderita dan dimuliakan” (LG 7). Itu berlaku terutama untuk Pembaptisan, yang olehnya kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus, dan untuk Ekaristi, yang olehnya “kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuhan; maka kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita” (LG 7).

791 Kesatuan Tubuh tidak menghapus perbedaan antara anggota-anggota: “Dalam pembentukan Tubuh Kristus berlaku perbedaan anggota dan tugas. Satu Roh yang membagi-bagikan anugerah-Nya yang bermacam ragam, sesuai kekayaan-Nya dan sejalan dengan kebutuhan pelayanan, demi kepentingan Gereja”. Kesatuan Tubuh Mistik menyebabkan dan mengembangkan di antara kaum beriman cinta satu sama lain: “Maka, bila ada satu anggota yang menderita, semua anggota ikut menderita; atau bila satu anggota dihormati, semua anggota ikut bergembira” (LG 7). Kesatuan Tubuh Mistik mengatasi segala pemisahan antar manusia: “Karena kamu semua yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:27-28).

 

Sharing Iman:

sabda.org

Di tiap kebun anggur, seorang pengurus kebun anggur memangkas ranting-ranting pohon anggur agar menghasilkan lebih banyak buah. Dalam pengertian rohani, terkadang Bapa surgawi kita harus memperlakukan kita dengan cara yang sama, yaitu memangkas kehidupan kita. Tak hanya ranting-ranting mati yang harus dibuang, tetapi terkadang bahkan yang masih hidup dan penting pun harus dibuang agar dapat menghasilkan buah yang lebih baik dan lebat.

Berbagai macam keadaan dapat menjadi pisau pemangkas di tangan Tuan Pemilik Kebun Anggur. Pisau itu dapat berupa isyarat penolakan, perkataan tidak ramah, atau bahkan tanpa kata. Bisa jadi itu berupa rasa frustrasi karena terus-menerus hidup dalam kegaduhan dan kebingungan, menghadapi tugas sehari-hari, sehingga tidak punya kesempatan untuk menemukan tempat yang tenang untuk menyendiri. Atau mungkin saat menunggu campur tangan Allah ketika tampaknya tidak ada harapan sama sekali dan kita tidak punya teman yang bisa menolong.

Namun, pisau pemotong itu dikendalikan oleh sepasang tangan yang penuh kasih. Tuan Pemilik Kebun Anggur tahu apa yang bisa kita dapatkan dan Dia tahu bahwa kita akan menjadi lebih mengasihi, bersukacita, damai, penuh toleransi, baik hati, dapat dipercaya, lembut, percaya diri — lebih kuat dan lebih baik daripada keadaan kita sekarang ini.

Kita tidak perlu menghindari pisau itu, tetapi memercayai tangan yang memegangnya. Bapa kita di surga mempunyai satu tujuan, yaitu untuk menghasilkan buah yang baik dalam diri kita.

Warta Paroki 22 April 2018

Warta Paroki
22 April 2018

  1. PENANGGALAN LITURGI
    Rabu,  25 April  : Pesta St. Markus, Penulis Injil.Masa Mistagogi Baptisan Paskah 2018 dan Baptisan Luar Paskah 2017 akan diadakan pada :
  2. Hari/Tgl : Sabtu atau Minggu, 22 April  – 12 Mei 2018
    Pukul    : 19.00 WIB
    Tempat : Aula St. Athanasius
    Baptisan Paskah 2018 dan Baptisan di luar Paskah 2017 WAJIB hadir dalam masa mistagogi guna menggenapi tahapannya.
    Jadwal Masa Mistagogi 2018
    Minggu,22 April 2018 – Kitab Suci oleh Timja Kerasulan Dan Kitab Suci
    Sabtu, 28 April 2018 – Hidup menggereja, beriman cerdas, tangguh dan misioner oleh Pawil OMK.
    Sabtu, 5 Mei 2018 – Sakramen Baptis, Ekaristi dan Tobat oleh Timja Pendalaman Iman.
    Sabtu, 12 Mei 2018 – Hidup menggereja dan berparoki oleh Romo Ignatius Suharyono,Pr
    Mistagogi ditutup dengan sakramen tobat, misa syukur, penyerahan Surat Baptis, CD foto dan kenang kenangan ( waktu akan diinformasikan lebih lanjut)
  3. Baptisan bayi akan dilaksanakan :
    Hari/tgl  : Minggu, 29 April 2018
    Pukul     : 09.00 WIB
    Tempat : Kapel
    Syarat   :
    –  Formulir dr ketua lingkungan
    –  Fc. Akta lahir anak (kalau sudah punya)
    –  Fc. Akta Nikah
    –  Fc. Testimonium
    –  Fc. Surat baptis emban baptis  (usia max 50 th, HARUS sudah krisma)
    Biaya Rp 30.000,-
    Pembekalan bagi orangtua & wali baptis :
    Hari/tgl  : Jum’at, 27 April 2018
    Pukul     : 18.00 WIB
    Tempat : Ruang St. Yusuf
  4. Penyegaran Janji Nikah dilaksanakan :
    Hari/tgl  : Minggu, 29 April 2018
    Pukul     : 17.30 WIB
    Dilanjutkan dengan coffee break di aula.
    Pasutri yang menikah di bulan Maret dan April diharap mengikutinya.
    Pendaftaran melalui sekretariat paroki.
  5. Tim kerja PSE akan menyelenggarakan :
    Kursus MC / Panatasara Jawi :
    Hari/tgl    :  Senin, 30 April 2018
    Pukul       :  19.00 -21.00 WIB
    Tempat    :  Aula St. Athanasius
    Pendaftaran peserta dapat menghubungi Bp. Y Widodo 0815.7588.6915 dan Bp Budi Sayogo 0813.9018.6750,dimohon mengisi formulir yang telah di sediakan di kotak PSE ruang St. Brigita.
  6. Jadwal Misa Kenaikan Isa Almasih :
    Rabu, 9 Mei 2018 pukul 18.00
    Kamis, 10 Mei 2018 pukul 05.30 ; 07.30 ; 17.30
    Misa pada hari Kamis, 10 Mei 2018 pukul 07.30 dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (dalam rangka Pembukaan Pekan Komsos KAS)
  7. Dalam rangka Hari Pelindung Paroki, akan diadakan Misa Novena mulai :
    Hari/Tanggal       :  Selasa – Rabu / 24 April – 2 Mei 2018
    Pukul                  :  18.00 WIB(Misa pagi pukul 05.30 tetap ada)
  8. “PEKAN KOMSOS KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG”
    Akan diadakan mulai tanggal 10 – 13 Mei 2018
    Gereja St. Athanasius Agung – Karangpanas sebagai Tuan Rumah.
    Misa Pembukaan
    Kamis, 10 Mei 2018 pukul 07.30 dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko.
    Misa Penutup
    Minggu, 13 Mei 2018 pukul 07.30 dipimpin oleh Romo Vikjend.
  9. Katekese Persiapan Perkawinan (KPP)
    Hari/tgl  : Senin – Rabu, 21 – 23 Mei 2018
    Pukul     : 17.30 – 21.00 WIB
    Tempat  : Aula St. Athanasius
    Syarat   :
    –  Mengisi formulir
    –  Fc. Surat baptis
    –  Foto berdampingan 4×6 satu lembar
    –  Biaya 100.000,-
  10. Pengembalian persembahan Bulan Januari – Maret 2018 dapat diambil di sekretariat paroki.
  11. Akan diadakan Misa difabel (anak berkebutuhan khusus) pada :
    Hari/tgl   :  Rabu, 16 Mei 2018
    Pukul     :  15.30 -20.00 WIB
    Tempat   : Gedung Sukasari Jl. Pandanaran No 9
    Tema      : Deteksi dini dan Konseling Gratis
    Misa dipimpin oleh bapak Uskup Mgr. Robertus Rubyatmoko, Pr.
    Pendaftaran dan infomarsi dapat menghubungi CP Christi 08996676340 dan Olga 08157679694.
  12. Gladi Rohani Keuskupan Agung Semarang mengadakan pelatihan “ Acedemia Mediore” :
    Hari/tgl   :  8 – 15 Juli 2018
    Peserta   :  Mahasiswa semester 2 – 6
    Pendaftaran dan infomarsi dapat menghubungi CP pada poster di papan pengumuman gereja.
  13. Bagi umat yang ingin menyalurkan dana pendidikan (beasiswa) bisa melalui:
    Sekretariat Paroki Gereja Karangpanas
    Bank Niaga 016-01-44997-12-1 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Bank Niaga 906-01-00317-11-8 a/n PGPM HATI KUDUS YESUS – KARANGPANAS
    Rek Tabungan BCA 816-5159-922 a/n Erniwaty/Cristiana Retnaningsih (Rek pendidikan)
    CP :Bpk Martinus Budi Kastianto        :         081 575 000 822
    Ibu Christiana Retnaningsih     :  081 225 520 287
    Bpk Mardiono                        :  081 225 78 650
    Ibu Erniwaty Heru Karjanto     :  081 225 680 570
  14. Komunitas Baca kitab Suci Paroki mengajak seluruh umat membaca Kitab Suci bersama melalui WA group. Bagi yang berminat dapat menghubungi :
    Benny     081575731236
    Anna      08158059000
  15. Paroki Karangpanas menyediakan mesin EDC (Gesek non tunai), bagi umat yg ingin menyumbang dapat melalui sekretariat paroki.
  16. Timja Paduan Suara, Pemazmur dan Organis membuka kesempatan bagi Bapak/Ibu/Saudara-I yang ingin bergabung   untuk menjadi Pemazmur dg syarat:
    Bisa bernyanyi dengan baik dan
    Bisa membaca not angka
    Minimal Kelas I SMA (kelas X).
    Untuk pendaftaran hub: Bp Broto: 085100294738

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman II

  1. Antonius Tatag Bramatyo dari lingk. St. Petrus Claver – Karanganyar Gunung II
    dengan
    Bernadeta Firstiana Cristallin Putri dari Paroki St. Ignatius – Magelang.
  1. Fransiska Kid Daling Yesnat dari lingk. St. Laurensius – Jatingaleh II
    dengan
    Florentinus Danang Suryandono dari Paroki St. Petrus – Purwosari – Surakarta.
  1. Ignatius Bagus Sulistyo dari lingk. St. Antonius Padua – Jatingaleh IV
    dengan
    Sesilia Diyaningtyas dari Paroki St. Paulus – Sendangguwo – Semarang.

Saudara yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

 BERITA LELAYU

  1. Maria Umiyati Boediono (77 th) – Istri dari Bapak Bambang Kartono alm.  – dari lingk. St. Yusuf – Ngesrep Barat.  Wafat hari Senin, tanggal 16 April 2018.
  2. Emiliana Kemi (74 th) – dari lingk. St. Theresia de Lisieux – Candi Baru. Wafat hari Sabtu, tanggal 14 April 2018.
  3. Thomas Hadi Sucahyo (74 th) – Suami dari Ibu Immaculata Paesri – dari lingk. St. Fransiskus Asisi – Tinjomoyo.  Wafat hari Jumat, tanggal 13 April 2018.