SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Diterangkan/dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 10-11 Februari 2018

“MENGASIHI DENGAN KATA DAN PERBUATAN”

 Yang sangat saya kasihi Anak-anak, Remaja, Kaum Muda, Ibu, Bapak, Frater, Suster, Bruder, dan para Rama. Berkah Dalem.

Kita akan memasuki masa empat puluh hari sebelum Paskah (quadragesima) yang kita namakan Masa Puasa dan Pantang dalam Masa Prapaskah. Masa Prapaskah ini akan kita mulai pada Hari Rabu Abu, 14 Februari 2018 mendatang. Selama empat puluh hari, seluruh umat Katolik mendapat kesempatan istimewa untuk secara terus menerus melakukan gladi rohani atau retret agung, guna mengenangkan kembali atau menyiapkan Baptis dan membina pertobatan serta melakukan amal kasih (bdk. Konstitusi Liturgi 109).

Dalam Masa Prapaskah, kita akan membarui dan menyucikan diri dengan olah

kesalehan hidup dan matiraga yang dilandasi oleh pengharapan dan syukur atas melimpahnya rahmat belas kasih Allah kepada kita, manusia yang penuh dengan kerapuhan dan dosa. Secara pribadi dan bersama-sama, kita diajak untuk kembali mengarahkan hidup kepada Allah dan ikut serta dalam usaha membangun KerajaanNya, dimanapun kita berada. Pertobatan sejati mengundang kita untuk berani mengubah perilaku dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial agar tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan, terutama bagi saudari-saudara yang menderita dan berkekurangan. Sebab, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes 58:6-7).

Saudari-saudaraku yang terkasih, Tuhan Yesus telah memberi teladan untuk senantiasa memiliki hati yang penuh belas kasih dan peduli terhadap saudari-saudara kita yang menderita, berkekurangan, dan tersingkir. Dalam bacaan Injil yang kita dengarkan pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, Santo Markus (Mrk 1:40-45) menceritakan bagaimana Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan dan menyambut seorang kusta yang datang memohon kesembuhan dariNya. Seperti kita ketahui,  pada zaman Yesus, seorang kusta harus mengalami nasib dikucilkan, dihina, dan disingkirkan dari masyarakat. Meskipun demikian, Tuhan Yesus justru dengan sepenuh hati menyambut orang kusta tersebut: mengulurkan tangan, menjamah orang itu, dan menyembuhkannya.

Sebagai murid-murid Kristus, kita pun diundang untuk memiliki hati yang tergerak oleh belas kasih, menyambut dan merengkuh saudari-saudara yang menderita, berkekurangan, dan terpinggirkan dari masyarakat. Untuk itulah, dalam gerakan Aksi Puasa Pembangunan tahun 2018 ini, kita  merenungkan tema “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan”. Melalui permenungan ini, kita mau belajar terlibat memberi dukungan pada orang lain, terutama dengan berbelarasa terhadap saudari-saudara yang sangat membutuhkan. Semoga abu yang akan kita terima dalam perayaan Hari Rabu Abu nanti, senantiasa mengingatkan kita akan kerapuhan dan kedosaan kita. Bahkan lebih dari itu, mendorong untuk senantiasa bersyukur atas kelimpahan rahmat belas kasih Allah yang memungkinkan kita untuk mencari, menemukan, menyambut, dan merengkuh mereka yang sakit, menderita, dan berkekurangan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa hari Jumat, 16 Februari 2018, merupakan Tahun Baru Imlek, yang juga merupakan hari pantang. Karena itu bagi umat Katolik yang akan merayakan tahun baru Imlek ini, saya ajak untuk menempatkan perayaan syukur atas tahun baru ini dalam konteks dan semangat Prapaskah, yakni pertobatan yang ditandai antara lain dengan puasa dan pantang. Kesempatan berkumpul bersama keluarga dan sahabat pada hari Kamis atau Jumat, tanggal 15 atau 16 Februari, serta perayaan Cap Go Meh, hendaknya dihayati sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat kehidupan yang Tuhan berikan. Selain itu juga menjadi kesempatan untuk mewujudkan kasih kekeluargaan dan persaudaraan yang semakin nyata diantara anggota keluarga dan para sahabat, dengan saling berbagi. Karena itu, hendaknya perayaan tahun baru Imlek dirayakan dalam semangat berbagi berkah yang semakin besar, khususnya bagi yang berkekurangan. Dengan cara ini kita ungkapkan kasih bukan hanya dengan kata-kata saja, namun dengan perbuatan nyata.

Saudari-saudaraku yang terkasih, pada saat yang istimewa ini, saya berdoa untuk siapapun yang sedang sakit, berkekurangan, menanggung beban kehidupan yang berat, difabel, berkebutuhan khusus, dan lanjut usia. Selamat memasuki gladi rohani empat puluh hari dengan tekun, setia, dan tenanan. Semoga Allah yang penuh belas kasih senantiasa menyertai, meneguhkan, dan memberikan penghiburan. Rahmat belas kasih Allah senantiasa melimpah bagi Saudari-saudara semua.

PERATURAN PUASA DAN PANTANG  TAHUN 2018

Mengacu pada Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa tahun 2016, pasal 138 no. 2.b tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang bagi umat katolik KAS ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari puasa tahun 2018 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 14 Februari 2018, dan Jumat Agung tanggal 30 Maret 2018. Hari pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur antara 18 tahun sampai dengan awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang telah berumur genap 14 tahun.
  3. Puasa dalam arti hukum, berarti makan kenyang hanya sekali dalam sehari. Pantang dalam arti hukum, berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai.
  4. Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama (misalnya dalam keluarga, lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/biara/ seminari), menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal yang sangat kami anjurkan untuk dibuat, antara lain:
    1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau paguyuban, dicari bentuk-bentuk puasa dan pantang yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan usia lanjut.
    2. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah, secara pribadi atau secara bersama-sama dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari, memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih.
    3. Menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan amal/karitatif ataupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi perwujudan belarasa dan upaya keutuhan alam semesta, serta bagi masyarakat sekitar.
    4. Hendaknya diusahakan agar setiap orang Katolik, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaruan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, gladi rohani, ibadat jalan salib, ziarah, pengakuan dosa, meditasi, dan adorasi.
  5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan, dan nasional. Tema APP tahun 2018 ini adalah: “Mengasihi dengan Kata dan Perbuatan” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.
  6. Terkait dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2018, saya anjurkan beberapa hal berikut:
    1. Jumat, 16 Februari 2018, sebagai tahun baru Imlek tetap kita perlakukan sebagai hari pantang. Maka bagi umat Katolik KAS yang merayakan Tahun Baru Imlek, hendaknya tetap melakukan pantang pada hari itu atau, jika tidak memungkinkan, hendaknya melakukan pantang pada hari lain sebagai pengganti.
    2. Umat Katolik KAS diperkenankan merayakan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat, 16 Februari 2018, atau hari-hari setelahnya dengan tetap mengindahkan ketentuan liturgi masa Prapaskah, dan tetap mengembangkan semangat berbelarasa dan berbagi rezeki, khususnya kepada saudari-saudara kita yang miskin, menderita, tersingkir dan berkebutuhan khusus.

Salam, doa, dan Berkah Dalem
2 Februari 2018, pada Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah.

Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

 

           † Mgr. Robertus Rubiyatmoko

KUASA KASIH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Melalui Nabi Musa, Allah menjanjikan seorang nabi yang besar bagi bangsa Israel, yang akan menuntun mereka kepada keselamatan. (Bacaan I – Ulangan)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk senantiasa melakukan hal yang benaar dan baik serta memusatkan perhatian hanya kepada Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus tampil sebagai pribadi yang penuh kuasa. Kuasa itu tidak berasal dari hukum tertulis atau tradisi seperti yang dimiliki para ahli Taurat, melainkan dari Diri-Nya sendiri sebagai Putera Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, Yang Kudus dari Allah?
  3. Apakah aku sudah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk memusatkan perhatianku kepada Tuhan?
  4. Seandainya aku adalah salah satu dari orang banyak dalam Injil, apakah yang akan aku wartakan tentang Yesus?
  5. Menurutku, mengapa roh-roh jahat pun taat kepada Yesus?

Katekismus Gereja Katolik

2331    “Allah itu cinta kasih. Dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persekutuan cinta kasih antar-pribadi. Seraya menciptakan umat manusia menurut citra-Nya sendiri … Allah mengukirkan panggilan dalam kodrat manusia pria dan wanita, dan karena itu juga kemampuan serta tanggung jawab untuk hidup dalam cinta dan dalam persekutuan” (FC 11).

“Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya …. Sebagai pria dan wanita Ia menciptakan mereka” (Kej 1:27). “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Kej 5:1-2).

2332    Seksualitas menyentuh segala aspek manusia dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Ia terutama menyangkut kehidupan perasaannya, kemampuan untuk mencintai, dan untuk melahirkan anak, dan lebih umum, kemungkinan untuk mengikat tali-tali persekutuan dengan orang lain.

2333    Tiap manusia, apakah ia pria atau wanita, harus mengakui dan menerima seksualitasnya. Perbedaan dan kesesuaian jasmani, moral, dan rohani ditujukan kepada pernikahan dan pengembangan hidup kekeluargaan. Keserasian suami isteri dan masyarakat untuk sebagiannya bergantung pada bagaimana kesalingan, kebutuhan, dan usaha saling membantu dari pria dan wanita itu dihayati.

2334    “Ketika menciptakan manusia sebagai pria dan wanita, Allah menganugerahkan kepada pria dan wanita martabat pribadi yang sama dan memberi mereka hak-hak serta tanggung jawab yang khas” (FC 22)Bdk. GS 49,2.. “Manusia bersifat pribadi: itu berlaku sama untuk pria dan wanita; karena kedua-duanya diciptakan menurut citra dan keserupaan Allah pribadi” (MD 6).

2335    Kedua jenis kelamin mempunyai martabat yang sama dan, walaupun atas cara yang berbeda-beda, merupakan citra kekuatan dan cinta kasih Allah yang lemah lembut. Persatuan suami isteri dari pria dan wanita mencontohi kedermawanan dan kesuburan Pencipta secara jasmani. “Seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24). Kesatuan ini adalah pangkal seluruh keturunan manusiaBdk. Kej 4:1-2.25-26; 5:1..

2360 Seksualitas diarahkan kepada cinta suami isteri antara pria dan wanita. Di dalam perkawinan keintiman badani suami dan isteri menjadi tanda dan jaminan persekutuan rohani. Ikatan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis, dikuduskan oleh Sakramen.

2361 Oleh karena itu seksualitas, yang bagi pria maupun wanita merupakan upaya untuk saling menyerahkan diri melalui tindakan yang khas dan eksklusif bagi suami isteri, sama sekali tidak semata-mata bersifat biologis, tetapi menyangkut inti yang paling dalam dari pribadi manusia. Seksualitas hanya diwujudkan secara sungguh manusiawi, bila merupakan suatu unsur integral dalam cinta kasih, yaitu bila pria dan wanita saling menyerahkan diri sepenuhnya seumur hidup” (FC 11).

Sharing Iman
www.sabda.org

Dengan kata-kata pujian, seorang ibu menumbuhkan rasa percaya diri pada anaknya. Dengan menebar fitnah, seorang karyawan menghancurkan karier koleganya. Begitulah daya kekuatan kata-kata! Mulut manusia dapat menghasilkan perkataan yang membangun atau menghancurkan.

Pada waktu Allah menciptakan alam semesta, Dia bersabda, maka semuanya jadi. Allah memperkatakan firman dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan perkataan-Nya. “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Perkataan Allah mengandung daya cipta yang mengagumkan. Beruntung karena Allah itu Mahabenar, Mahabaik. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia. Diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Diberi akal budi. Diberi kuasa atas seluruh bumi. Di dalam Yesus Kristus manusia juga beroleh persekutuan dengan Roh Kudus serta menerima karunia rohani.

Perkataan lidah kita pun memiliki pengaruh. Karena itu, semestinya kita menggunakan lidah sesuai dengan jati diri kita sebagai anak-anak Allah. Menggunakan lidah untuk mengatakan hal-hal yang baik dan benar selaras dengan kebaikan dan kebenaran-Nya. Bukan dengan niat untuk merusak dan menghancurkan sesama, melainkan untuk membangun mereka. Untuk mengingatkan diri sendiri dan sesama akan kasih Allah dan akan identitas baru kita sebagai anak-anak-Nya. Kiranya perkataan lidah kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang kita temui dalam keseharian. Kiranya kebaikan dan kebenaran Allah kita pancarkan pula melalui perkataan lidah.

“PANGGILAN PERTOBATAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yunus dipanggil dan diutus Allah untuk mewartakan pertobatan kepada orang Niniwe. (Bacaan I – Yunus)
  2. Paulus menasihati jemaat untuk hidup murni dan lepas bebas agar siap menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan II – 1Kor)
  3. Yesus memanggil para murid untuk mewartakan pertobatan. Pertobatan adalah sikap batin yang tepat dalam menyambut datangnya Kerajaan Allah. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Yesus memanggilku untuk mengikuti-Nya? Apa tandanya?
  3. Panggilan Tuhan adalah ajakan untuk bertobat. Dalam hal apa aku perlu bertobat? Pertobatan apa yang akan aku lakukan?

Katekismus Gereja Katolik

1427 Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”(Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan (Kis 2:38). orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru.

1428 Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (LG 8). Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan manusia belaka. Ia adalah usaha “hati yang patah dan remuk” (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan (Yoh 6:44; 12:32), untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita (1 Yoh 4:10).

1429 Hal ini dibuktikan pertobatan Petrus sesudah ia menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Pandangan Yesus yang penuh belas kasihan mencucurkan air mata penyesalan (Luk 22:61) dan sesudah kebangkitan Tuhan, Petrus menjawab “ya” sebanyak tiga kali atas pertanyaan Yesus, apakah ia mencintai-Nya (Yoh 21:15-17). Pertobatan kedua juga memiliki satu dimensi persekutuan. Ini dinyatakan dalam satu seruan yang disampaikan oleh Yesus kepada satu umat secara keseluruhan: “Bertobatlah” (Why 2:5.16). Santo Ambrosius mengatakan tentang dua macam pertobatan; di dalam Gereja ada “air dan air mata: air Pembaptisan dan air mata pertobatan” (ep. 41,12).

Sharing Iman www.sabda.org

Anak Allah tidak hanya dilahirkan di tempat yang tidak layak dan dengan orangtua yang kita anggap tidak layak, tetapi Dia juga memilih para pengikut-Nya di tempat yang tidak layak. Dia tidak mencari murid di sekolah-sekolah agama untuk mendapatkan murid yang terpelajar. Dia tidak mendekati para negarawan yang cakap dan para orator yang terkenal. Sebaliknya, Yesus pergi ke Danau Galilea dan memanggil empat nelayan biasa, yakni Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. “Pilihan yang buruk,” kata sebagian orang. “Orang-orang yang tidak terpelajar. Orang-orang yang keras. Apa mereka tahu bagaimana memulai suatu gerakan yang mendunia? Mereka bahkan takkan mampu mengendalikan orang banyak jika mereka harus melakukannya.”

Kini, atas nama para nelayan di mana pun berada, saya katakan bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak sifat positif. Mereka adalah orang-orang yang panjang akal, berani, dan sabar. Mereka adalah orang-orang yang membuat rencana dengan hati-hati dan selalu memelihara peralatan kerja mereka. Sifat seperti itu sangat membantu dalam melaksanakan Amanat Agung (Mat 28:19-20), tetapi saya rasa bukan karena itu Yesus memilih orang-orang tersebut. Saya yakin Dia ingin memperlihatkan bagaimana Allah dapat mengubah orang biasa menjadi “penjala manusia” (Mrk 1:16-17).

Pekerjaan Allah sering kali dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap tak layak dari tempat yang tak layak pula, yakni seperti Anda dan saya. Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mengikuti Dia yang dapat menjadikan kita penjala manusia. Allah memakai orang biasa untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. (David Egner)

“TINGGAL BERSAMA TUHAN”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Samuel tinggal di Bait Allah dan berproses mengenali panggilan Tuhan dalam hidupnya. (Bacaan I – 1 Samuel)
  2. Allah berkenan tinggal di dalam diri manusia, maka manusia harus senantiasa menjaga kemurnian tubuh dan jiwanya. (Bacaan II – 1 Kor)
  3. Pengalaman para murid mengikuti dan tinggal bersama Yesus menjadikan mereka sebagai pewarta Injil. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa arti Yesus: Anak Domba Allah?
  3. Apakah yang aku cari dalam hidup ini?
  4. Apakah aku menemukan Tuhan dalam hidupku? Kapan? Bagaimana caranya?
  5. Apakah aku menyediakan waktu yang cukup untuk tinggal bersama Tuhan dalam doa setiap hari?

Katekismus Gereja Katolik

787 Sejak awal, Yesus membiarkan para murid-Nya mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Ia menyingkapkan bagi mereka misteri Kerajaan Allah dan memberikan mereka bagian dalam perutusan-Nya, dalam kegembiraan-Nya dan dalam kesengsaraan-Nya. Yesus berbicara mengenai hubungan akrab antara Dia dan mereka, yang mengikuti Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu … Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:4-5). Ia menyatakan satu persekutuan yang penuh rahasia dan real antara tubuh-Nya dan tubuh kita: “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56).

788 Ketika Ia tidak hadir lagi secara kelihatan di tengah murid-murid-Nya, Yesus tidak meninggalkan mereka sebagai yatim piatu. Ia menjanjikan, tinggal beserta mereka sampai akhir zaman, dan mengutus kepada mereka Roh-Nya. Dalam arti tertentu persekutuan dengan Yesus dipererat lagi: “Sebab Ia telah mengumpulkan saudara-saudarinya dari segala bangsa, dan dengan mengurniakan Roh-Nya Ia secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya” (LG 7).

789 Perbandingan Gereja dengan tubuh menyoroti hubungan yang mesra antara Gereja dan Kristus. Gereja tidak hanya terkumpul di sekeliling-Nya, tetapi dipersatukan di dalam Dia, dalam Tubuh-Nya. Tiga aspek Gereja sebagai Tubuh Kristus perlu ditonjolkan secara khusus: kesatuan semua anggota satu dengan yang lain oleh persatuannya dengan Kristus; Kristus sebagai Kepala Tubuh; Gereja sebagai mempelai Kristus.

Sharing Iman  www.sabda.org

Sebuah pepatah berbunyi, “Meski sederhana, tak ada tempat yang seteduh rumah sendiri.” Namun benarkah kita menginginkan rumah yang sederhana? Tragisnya, masih banyak orang yang tidak punya rumah, walau yang sederhana sekalipun. Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur atas rumah yang sudah kita miliki.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjalani kehidupan yang menguji keyakinan saya. Selama sepuluh bulan saya harus tinggal di satu ruangan besar yang di dalamnya hanya terdapat benda-benda kebutuhan primer, tak lebih, tak kurang. Sepanjang waktu tersebut Tuhan mengajari saya untuk puas dengan semua itu. Akhirnya saya pun berkeyakinan: “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Sesungguhnya tempat perteduhan orang kristiani bukanlah rumah yang terbuat dari batu dan adukan semen, melainkan Allah sendiri.

Saya menjadi agak enggan saat tiba waktunya untuk meninggalkan ruangan yang berharga itu dan kembali ke rumah saya sendiri. Namun saya memahami bahwa di mana pun saya tinggal, baik hari ini maupun di masa mendatang, Allah tetaplah tempat perteduhan saya yang sejati untuk selamanya.

Kata-kata berikut terdapat pada papan di luar sebuah gereja di Inggris: “Di mana pun Anda tinggal bukanlah masalah, sepanjang Anda tinggal di tempat yang tepat.” Bila Allah adalah tempat perteduhan Anda, berarti Anda tinggal di tempat yang tepat. Jika Anda tidak puas di tempat Anda berada, percayalah dan bersyukurlah kepada-Nya atas semua yang telah Dia berikan untuk Anda. (JEY)

Bersukacitalah

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi bersukacita karena Allah berkenan menyatakan karya keselamatan-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Allah menghendaki setiap orang selalu mengalami sukacita (Bacaan II – 1 Tesalonika)
  3. Yohanes Pembaptis adalah saksi yang diutus Allah untuk mengundang orang bertobat, sehingga mampu mengalami sukacita atas karya keselamatan Allah. (Bacaan Injil – Yohanes)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Menurutku, apa artinya sukacita?
  3. Apakah aku sudah bersukacita? Apa buktinya?
  4. Apa usahaku agar bisa selalu mengalami sukacita?

Katekismus Gereja Katolik
Yohanes: Perintis, Nabi, dan Pembaptis
717      “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes” (Yoh 1:6). Yohanes “dipenuhi dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Luk 1:15), yaitu oleh Kristus sendiri, yang sebelumnya telah diterima Perawan Maria dari Roh Kudus. Maka “kunjungan” Maria kepada Elisabet menjadi kunjungan Tuhan sendiri kepada umat-Nya (Luk 1:68).

718      Yohanes adalah “Elia” yang harus datang. Api Roh Kudus menyala di dalamnya, dan mendorongnya menjadi “perintis” yang berjalan mendahului Dia, yang sedang datang. Dalam Yohanes, sang perintis, Roh Kudus menyelesaikan karya-Nya, “menyiapkan bagi Tuhan satu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17).

719      Yohanes itu “lebih daripada nabi” (Luk 7:26). Di dalam dia, Roh Kudus menyelesaikan “tutur sapa-Nya melalui para nabi”. Yohanes adalah yang terakhir dari mata rantai para nabi yang dimulai dengan Elia. Ia mengumumkan bahwa penghibur Israel sudah dekat; ia adalah “suara” penghibur yang akan datang (Yoh 1:23). Sebagaimana kemudian Roh kebenaran, ia pun datang sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang” (Yoh 1:7). Dengan demikian di depan mata Yohanes, Roh memenuhi apa yang dicari para nabi dan dirindukan para malaikat: “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Dia inilah Anak Allah… Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:33-36).

720      Dalam diri Yohanes Pembaptis, Roh Kudus memulai dan mempratandai karya yang akan Ia selesaikan bersama dan dalam Kristus yakni pemulihan sifat “serupa dengan Allah” dalam diri manusia. Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan untuk pertobatan; Pembaptisan dalam air dan dalam Roh Kudus akan menghasilkan satu kelahiran baru.

Sharing Iman
www.sabda.org

Dunia menawarkan kesenangan-kesenangan sementara, tetapi Tuhan Yesus menawarkan sukacita yang penuh dan kekal (Yoh 15:11). Kesenangan bergantung pada situasi-situasi tertentu, sedangkan sukacita datang dari dalam dan tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungan. Kesenangan dapat selalu berubah-ubah, sedangkan sukacita tak pernah berubah! Kesenangan-kesenangan duniawi sering diikuti dengan depresi. Sukacita sejati berakar dalam Yesus Kristus, yang “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Agar selalu dapat menikmati kesenangan, kita harus berupaya masuk dari rangsangan kesenangan yang satu ke kesenangan yang lain sebab kesenangan tidak bersifat permanen. Namun sukacita merupakan kebalikannya. Sukacita adalah anugerah yang kita terima dari Allah. Kesenangan dibangun atas dasar kepentingan pribadi, sedangkan sukacita didasarkan pada pengorbanan diri seseorang. Semakin banyak kita mengejar kepuasan diri, maka akan semakin hampa perasaan kita. Jika kesenangan kecil memberi kegembiraan sementara hari ini, maka dibutuhkan kesenangan dan sensasi yang lebih besar untuk mendapat kegembiraan yang sama besok pagi. Sebaliknya, sukacita didasarkan pada pengorbanan diri kita. Saat kita belajar apa artinya memperhatikan kebutuhan orang lain, maka kita akan menemukan kepenuhan yang lebih besar dalam diri Allah sendiri, yang memenuhi setiap kebutuhan kita. Hanya dengan mencari hal-hal di dalam Kristus, maka Anda dapat menemukan sukacita yang abadi — HGB

SIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah itu setia. Ia menggenapi janji yang telah disampaikannya kepada umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Di masa penantian kedatangan Allah, jemaat perlu selalu mengusahakan hidup suci dan saleh (Bacaan II – 2 Petrus)
  3. Pertobatan adalah sikap dan tindakan yang paling tepat dalam menyambut kedatangan Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku percaya bahwa Tuhan itu setia serta hadir dan berkarya dalam hidupku?
  3. Apa yang akan aku lakukan secara lebih sungguh-sungguh sebagai bentuk persiapan menyambut kedatangan Tuhan?

Katekismus Gereja Katolik

522 Kedatangan Putera Allah ke dunia adalah satu kejadian yang sekian dahsyat, sehingga Allah hendak mempersiapkannya selama berabad abad. Semua ritus dan kurban, bentuk dan lambang “perjanjian pertama” (Ibr 9:15) diarahkan-Nya kepada Yesus; Ia memberitahukan kedatangan-Nya melalui mulut para nabi, yang susul-menyusul di Israel. Sementara itu Ia menggerakkan dalam hati kaum kafir satu pengertian yang samar-samar mengenai kedatangan ini.
523 Yohanes Pembaptis adalah perintis Tuhan yang langsung; ia diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “nabi Allah yang mahatinggi” (Luk 1:76) Ia menonjol di antara semua nabi. Ia adalah yang terakhir dari mereka dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan. Ia sudah bersorak gembira dalam rahim ibunya mengenai kedatangan Kristus dan mendapat kegembiraannya sebagai “sahabat mempelai” (Yoh 3:29), yang ia lukiskan sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Ia mendahului Yesus “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk 1:17) dan memberikan kesaksian untuk Dia melalui khotbahnya, pembaptisan pertobatan, dan akhirnya melalui mati syahidnya.
524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “la harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Sharing Iman
www.sabda.org
Sebuah koran lokal memuat artikel tentang usaha seorang relawan membantu para pecandu narkoba. Beberapa hari kemudian, koran tersebut menerbitkan sebuah artikel yang menyatakan bahwa relawan yang berusaha membantu para pecandu obat itu sebenarnya sedang berurusan dengan masalah yang seharusnya tidak ada. Itu benar, tetapi tak ada gunanya mengatakan bahwa masalah itu tidak ada-karena kenyataannya benar-benar ada! Memang seharusnya dosa tidak boleh ada. Namun Allah mengantisipasi dosa kita dan mempersiapkan pengurbanan yang sempurna: “Anak Domba yang telah disembelih”, yaitu Yesus Kristus Putera-Nya.
Entah bagaimanapun keadaan yang membawa kita pada Allah, Dia tidak akan mengejek kita yang dengan jujur memohon agar dibebaskan dari dosa dosa yang sangat kita sesali. Pada saat bertobat, kita tidak hanya mengakui kesalahan, tetapi dengan kemauan sendiri berbalik dari dosa dan membuka diri untuk diubahkan oleh kuasa Allah. Pertobatan awal penting untuk memulai hubungan dengan Kristus. Pertobatan setiap hari diperlukan agar kita tetap ada dalam persekutuan yang erat dengan Dia dan bertumbuh secara rohani. Hal-hal ini membawa kita pada pengampunan Allah dan kuasa-Nya yang mengubah hidup kita. Pertobatan manakah yang Anda perlukan hari ini? Jika Anda benar-benar menyesali dosa-dosa Anda, Anda pasti mau melepaskannya.

Warta Paroki 03 Desember 2017

 Warta Paroki
03 Desember  2017

  1. PENANGGALAN LITURGI
    Kamis,  07 Des. :  Peringatan St. Ambrosius , Uskup dan Pujangga Gereja.
    Jum’at, 08 Des. :  Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda.
  2. Pameran Kitab Suci Lintas Agama :
    Hari/tgl :  Sabtu – Minggu, 9 – 10 Desember 2017
    Pukul    :  Sabtu pk 09.00 -21.00 WIB (pembukaan) Oleh Bp. Walikota Semarang                                                      Minggu pk 07.00 – 21.00 WIB
    Tempat :  Gedung Sukasari – Katedral
  3. Panitia Hari Besar Paroki 2018 :
    Hari/tgl  : Senin, 4 Desember 2017
    Pukul    : 19.30 WIB
    Tempat : Aula St. Athanasius Agung
    Agenda : Rapat koordinasi Panitia Hari Besar tahun 2018
    Para ketua wilayah Jatingaleh, Karanganyar Gunung, Karangpanas, Karangrejo, Karangrejo Selatan, Ngesrep beserta para ketua lingkungannya diharap hadir dalam pertemuan.
  4. Pertemuan Timja WKRI Ranting Candi Sari :
    Hari/tgl  : Jumat, 8 Desember 2017
    Pukul    : 16.30 WIB
    Tempat : Ruang St. Yusup
  5. Umat di undangan untuk terlibat membantu masyarakat korban banjir, sumbangan berupa barang bisa di kumpulkan di gereja melalui sekretariat paroki. Paling lambat hari Sabtu, 7 Desember , pukul 12.00.
  6. PIA Karangpanas akan mengadakan “Natal Ceria 2017” :
    Hari/tgl  : Minggu, 10 Desember 2017
    Pukul    : 07.30 WIB
    Tempat : Ruang St. Maria
    Bagi anak anak yang mengikuti Sekolah Minggu diharapkan membawa kado seharga Rp. 10.000,-  –  Rp. 20.000,-  yang dibungkus koran berupa barang bukan makanan.
  7. Baptisan bayi akan dilaksanakan :
    Hari/tgl : Minggu, 31 Desember 2017
    Pukul    : 09.00 WIB
    Tempat : Kapel
    Syarat :
    –  Formulir dr ketua lingkungan
    –  Fc. Akta lahir anak (kalau sudah punya)
    –  Fc. Akta Nikah
    –  Fc. Testimonium
    –  Fc. Surat baptis emban baptis (usia max 50 th, HARUS sudah krisma)
    Pembekalan bagi orangtua & wali baptis :
    Hari/tgl : Jum’at, 29 Desember 2017
    Pukul    : 18.00 WIB
    Tempat : Ruang St. Yusup
  8. Dalam rangka Galang Dana Hari Anak Misioner, PIA Karangpanas akan menjual kalander 2018 seharga Rp. 30.000,- di stand PIA depan gereja, Mohon partisipasi umat.
    CP : Mega :  089.677.298.768
  9. OMK Karangpanas mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat karangpanas yang sudah membantu dan mendukung kegiatan “Makrab OMK Karangpanas” dengan menyumbang pakaian bekas layak pakai atau kegiatan galang dana lainnya.
  10. KB, TK – SD Pangudi Luhur Don Bosko menerima pendaftaran siswa baru
    KB – TK (024) 8502973
    SD (024) 8319196

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman III

  1. Petrus Jeffrey Pradipta Wijana dari lingk. St. Joseph – Kalilangse IV
    dengan
    Maria Setiani Kusuma Dewi dari Paroki St. Mikael – Semarang Indah.
  1. Francisca Hani Puspitanengrum dari lingk. St. Helena – Semeru
    dengan
    Yoseph Hari Supriyanto dari Paroki St. Paulus – Sendangguwo.
  1. Vincentius Riandaru Prasetyo dari lingk. St. Maria Mater Dei – Jangli IV
    dengan
    Yustin Kristin Tandung dari Palopo – Sulawesi Selatan.
  1. Maria de Rosary Happy Satriany Letto dari lingk. St. Theresia Avila – Karangrejo III
    dengan
    Vinsensius Ferreri Daud Guntur Respati Hadi dari Paroki St. Yusup – Gedangan

Pengumuman II

  1. Andreas Agus Susilo dari lingk. St. Maria Fatima – Jangli I
    dengan
    Bernadette Iveline Moerland dari Lingk. St. Maria Goretti – Jangli III.
  1. Anjar Pernama Sidiq dari Tinjomoyo – Semarang
    dengan
    Maria Lourdes Andiane Ann Sugesti dari Lingk. St. Anna Maria – Ksatrian IV.

Pengumuman I

  1. Fransiskus Xaverius Agus Eko Anselino Lingk. St. Antonius Padua – Jatingaleh IV
    dengan
    Arum Damayanti Susanda dari Candi – Kab. Semarang.
  1. Herman Yosep Ujang Kurniawan dari lingk. St. Paulus Miki – Saptamarga III Barat
    dengan
    Anastasia Krisma Cahyani dari Lingk. St. Maria Fatima – Jangli I.

Saudara yang mengetahui halangannya, diwajibkan memberitahu pastor paroki.

BERITA LELAYU

  1. Gregorius Noven Ardianto (4 Hari)  – Anak dari bapak dan ibu Fransiskus Ruli Ardianto – dari lingk. St. Anna – Candi Baru III.  Wafat hari Jumat, tanggal 17 November 2017.

BERJAGA-JAGALAH

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Nabi Yesaya memohon kepada Allah agar kembali mengasihani umat-Nya (Bacaan I – Yesaya)
  2. Paulus mewartakan Allah yang baik dan setia kepada umat-Nya (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kita diajak untuk menjadi hamba yang baik, yang selalu siap sedia menyambut kedatangan tuannya, yaitu Tuhan. (Bacaan Injil – Markus)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya “berjaga-jaga” bagiku?
  3. Dalam hal apa saja aku perlu waspada dan berjaga-jaga?
  4. Apa yang aku lakukan supaya bisa selalu siap dan waspada?

Katekismus Gereja Katolik

2848 Supaya dapat melawan godaan, dibutuhkan satu keputusan hati. “Karena di mana hartamu, di situ juga hatimu. Tidak ada seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat 6:21.24). “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25).

Dalam “persetujuan” ini kepada Roh Kudus, Bapa memberi kita kekuatan.

“Percobaan yang kamu alami adalah percobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.

Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1 Kor 10:13).

2849 Tetapi kemenangan dalam perjuangan yang demikian itu hanyalah mungkin di dalam doa. Yesus mengalahkan penggoda sejak awal (Mat 4:1-11). sampai kepada perjuangan terakhir dalam sakratul maut-Nya (Mat 26:36-44) melalui doa.

Dengan demikian, dalam permohonan ini kepada Bapa kita Kristus mempersatukan kita dengan perjuangan-Nya dan sakratul maut-Nya.

Kita dinasihati dengan sangat, supaya dalam persekutuan dengan Dia, membuat hati kita waspada (Mrk 13:9.23.33-37; 14:38; Luk 12:35-40). Kewaspadaan adalah “penjaga” hati.

Yesus memohon untuk kita kepada Bapa-Nya dengan perkataan: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11). Tanpa henti-hentinya Roh Kudus mengajak kita untuk waspada (1 Kor 16:13; Ko14:2; 1 Tes 5:6; 1 Ptr 5:8).

Dalam godaan terakhir perjuangan kita di dunia ini kesungguhan permohonan ini menjadi nyata; ia meminta ketabahan sampai akhir. “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia yang berjaga-jaga” (Why 16:15).

 

Sharing Iman:
www.sabda.org

Tanggal 26 Februari 1993 sebuah bom yang dahsyat meledak di parkiran bawah tanah World Trade Center di New York. Bom itu menewaskan enam orang dan melukai lebih dari seribu orang.

Peristiwa itu mendorong dilakukannya penyelidikan dan penangkapan terhadap banyak orang.

Namun, hanya sedikit penegak hukum yang mengenali kejadian itu sebagai bagian dari rencana teroris internasional.

Saat menara World Trade Center dihancurkan teroris tahun 2001, pejabat tinggi departemen kepolisian Raymond Kelly teringat serangan pertama masa silam itu dan berkata, “Hal itu seharusnya menjadi seruan untuk waspada bagi Amerika.”

Tiap orang percaya dipanggil Tuhan untuk berjaga, bukannya lalai dan tak peduli.

Bila semangat kita telah padam, Dia meminta dengan sangat kepada kita untuk mengobarkan bara api itu kembali.

Tanyakan pada diri Anda sendiri: Adakah panggilan untuk waspada dalam hidup saya akhir-akhir ini yang saya abaikan?

Apakah Allah tengah berusaha memberitahukan sesuatu kepada saya?

Akankah saya sambut panggilan-Nya untuk berjaga pada hari ini? — David McCasland.

“TUHAN MERAJA DI DALAM HIDUP KITA”

Intisari Bacaan Minggu Ini

  1. Allah adalah Gembala yang Baik kepada kita, domba-domba-Nya. (Bacaan I – Yehezkiel)
  2. Melalui Yesus Kristus, Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan. (Bacaan II – 1 Korintus)
  3. Kristus adalah Hakim di Akhir Zaman, yang akan mengadili setiap orang menurut kasih-Nya dan sesuai dengan sikap dan perbuatan kita kepada-Nya. (Bacaan Injil – Matius)

Bahan Refleksi Pribadi:

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apa artinya Kristus sebagai Raja Semesta Alam bagiku?
  3. Apakah aku menyadari dan mengalami Kristus yang meraja di dalam hidupku?
  4. Bagaimana sikap dan perbuatanku selama ini di hadapan Raja Semesta Alam?

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

668 “Kristus telah wafat dan hidup kembali, supaya la menjadi Tuhan, baik atas orang orang mati, maupun atas orang-orang hidup” (Rm 14:9). Kenaikan Kristus ke surga berarti bahwa la sekarang dalam kodrat manusiawi-Nya ikut serta dalam kekuasaan dan wewenang Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan: Ia mempunyai segala  kuasa di surga dan di bumi. la “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” dan Bapa “meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus” (Ef 1:20 22). Kristus adalah Tuhan semesta alam dan sejarah. Dalam Dia sejarah manusia, malahan selurah ciptaan sekali lagi “dipersatukan” di bawah satu kepala (Ef 1:10), dan secara transenden disempurnakan.

669 Sebagai Tuhan, Kristus adalah juga Kepala Gereja, yang adalah Tubuh-Nya. Walaupun la telah diangkat dan dimuliakan di dalam surga, karena Ia telah menyelesaikan perutusan Nya secara penuh, namun Ia tinggal di dunia dalam Gereja-Nya. Penebusan adalah sumber otoritas yang Kristus jalankan dalam Gereja Nya berkat Roh Kudus. “Gereja atau Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” adalah “benih dan awal Kerajaan Nya di dunia ini” (LG 3; 5).

Sharing Iman:

www.sabda.org

Saat Ratu Inggris, Elizabeth, masih kecil, orangtuanya mengadakan sebuah pesta kebun di Istana Buckingham, tetapi hujan badai membuat pesta itu harus dipindahkan ke dalam ruangan. Elizabeth dan adik perempuannya berkeliling di dalam ruangan tempat para tamu berkumpul dan mereka pun diserang dengan berbagai pertanyaan yang diajukan dengan sopan. Di sela-sela pembicaraan itu, Elizabeth menunjuk sebuah lukisan Yesus di atas kayu salib yang tergantung di dinding di dekatnya. Ia berkata, “Kata ayah saya, Dialah Raja yang sesungguhnya.”

Alangkah tepat pengakuannya bahwa Juruselamat yang telah mati bagi kita itu sekarang memerintah atas kita sebagai “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan” (1 Tim 6:15). Dengan kebangkitan-Nya, suatu hari kelak keberadaan-Nya sebagai Raja akan diakui di seluruh dunia saat semua lutut bertelut di hadapan-Nya, baik dengan hati penuh rasa syukur atau dengan terpaksa (Flp 2:9-11). Walaupun kita percaya bahwa Kristus mengampuni dosa-dosa kita, terkadang kita lalai untuk menyerahkan segenap diri, harta milik, dan perbuatan kita pada ketuhanan-Nya.

Sudahkah Anda mengakui Yesus Kristus sebagai Raja? Sudahkah Anda menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan? Apakah Anda bersedia mengizinkan Dia tidak hanya menyelamatkan Anda dari dosa, tetapi juga untuk mengatur hidup Anda? Sekarang, ambillah keputusan untuk berlutut di hadapan Dia, Tuhan yang berkuasa, dan jadilah hamba-Nya yang taat dan penuh rasa syukur. Dengan demikian Anda akan dapat menyembah Dia sebagai Juruselamat sekaligus Raja Anda!

 

“SETIA DALAM TANGGUNG JAWAB”

Intisari Bacaan

  1. Orang yang setia pada tanggung jawabnya digambarkan seperti istri yang cakap dan menjadi berkat bagi suami dan keluarganya (Bacaan I – Amsal).
  2. Sebagai anak-anak terang dan anak-anak siang, kita perlu selalu berjaga dan siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang tidak terduga (Bacaan II – 1 Tesalonika).
  3. Orang yang setia memikul tanggung jawabnya, akan menerima ganjaran yang berlimpah (Bacaan Injil – Matius).

Bahan Refleksi Pribadi

  1. Manakah ayat yang mengesan bagiku dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini?
  2. Apakah aku orang yang setia?
  3. Apa yang membuatku setia pada tanggung jawabku? Dan apa yang membuatku tidak setia pada tanggung jawabku?
  4. Apa usahaku agar bisa menjadi pribadi yang semakin setia?

Katekismus Gereja Katolik

MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK SETIA

380 “Engkau menjadikan manusia menurut gambaran-Mu, Engkau menyerahkan kepadanya tugas menguasai alam raya; agar dengan demikian dapat mengabdi kepada-Mu, satu-satunya Pencipta” (MR, Doa Syukur Agung IV 118).

381 Manusia sudah ditentukan untuk mencerminkan dengan setia citra Putera Allah yang menjadi manusia – “gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15) – supaya Kristus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 Sharing Iman
http://www.sabda.org

Pada masa Perang Dunia I, untuk menyampaikan pesan digunakan burung merpati. Menurut catatan, ada sekitar 250.000 ekor merpati yang digunakan selama itu. Salah satu merpati yang berjasa menyelamatkan banyak tentara Perancis adalah Cher Ami. Suatu ketika, saat sedang terbang membawa pesan, Cher Ami tertembak di dadanya dan kakinya nyaris putus. Namun, ia tetap terbang selama 25 menit melintasi desingan peluru dan gas beracun. Atas kepahlawanan dan kesetiaannya, Cher Ami dianugerahi Croix de Guerre oleh pemerintah Prancis.

Ada harga yang harus dibayar bagi seorang pengikut Tuhan dalam menyelesaikan misi yang Dia percayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk setia menunaikan tugas itu selama kita masih hidup. Seperti Cher Ami turut berperan bagi terciptanya perdamaian, kiranya kesetiaan kita dalam melayani dan memberitakan Injil dipakai untuk membuat banyak orang mengenal kasih karunia Allah. Yesus Kristus, yang telah lebih dulu setia sampai titik darah penghabisan, akan memampukan kita untuk tetap setia sampai akhir pelayanan.