Pemenang Kuis ke 8 HUT Karangpanas

Pertanyaan dari Romo Dodit:
Di tahun 2014 ini, ada berapa lingkungan dan wilayah di paroki Karangpanas?

Jawaban yang benar :
Ada 65 lingkungan dan 17 wilayah.

Pemenang 7 Hadiah dari Romo Dodit :

  1. Eva (Sanggung)
  2. Asnarita (Sanggung)
  3. Juliana (Sanggung)
  4. Lucilla Yanti Asmoro(Sanggung)
  5. Magdalena Metty (Jangli)
  6. Triyoga (Jangli)
  7. Christabel (Jangli)

Hadiah dapat di ambil di Sekretariat Paroki mulai hari ini.
Terima Kasih 🙂

NB : Pertanyaan Kuis Selanjutnya
Sebutkan motto Mgr Johanes Pujasumarta dan apa artinya dlm bhs Indonesia?
Kirimkan Jawabannya ke SMS Umat (081.1277.1277)
dengan Format : kuis9#jawabannya

 

Pemenang Kuis ke 7 HUT Karangpanas

Pertanyaan dari Romo Dodit:
Siapakah Uskup yg meresmikan gereja St Athanasius Agung Karangpanas?

Jawaban yang benar :
Yg meresmikan/memberkati Grj St. Athanasius: Mgr. Ignatius Suharyo.

Pemenang 2 Hadiah dari Romo Dodit :

  1. Lucilla Yanti Asmoro(Sanggung)
  2. Eva (Sanggung)

Hadiah dapat di ambil di Sekretariat Paroki mulai hari ini.
Terima Kasih 🙂

 

Pemenang Kuis ke 6 HUT Karangpanas

Pertanyaan dari Romo Dodit:
Siapakah nama lengkap Pastor yg membangun gereja St. Athanasius Agung Karangpanas?

Jawaban yang benar :
Yg membangun Grj St. Athananius: Rm .Stephanus Heruyanto, Pr

Pemenang 5 Hadiah dari Romo Dodit :

  1. Juliana(Sanggung)
  2. Andreas Restu (Sanggung)
  3. Yovita Setya (Karanganyar Gunung)
  4. Ujang Kurniawan (Saptamarga III)
  5. Anasthasia Ratnaningsih (Candi Baru)

Hadiah dapat di ambil di Sekretariat Paroki mulai hari ini.
Terima Kasih 🙂

 

Pemenang Kuis ke 4 HUT Karangpanas

Pertanyaan dari Romo Dodit:
Sebutkan tgl-bulan-tahun peresmian PGPM Karangpanas?

Jawaban yang benar :
18 Agt 1964

Pemenang 9 Hadiah dari Romo Dodit :

  1. Riesma(Karangpanas)
  2. Handy (Sanggung)
  3. Yohanes Okta Tri Handoyo (Karanganyar Gunung)
  4. Desy (Sisingamangaraja)
  5. Lucilla Yanti Asmoro (Sanggung)
  6. Magdalena Metty (Jangli)
  7. Dian Pranawengtyas(Gombel Permai)
  8. Haryo Nugroho (Saptamarga III)
  9. Juliana (Sanggung)

Hadiah dapat di ambil di Sekretariat Paroki Mulai Besok pagi.
Terima Kasih 🙂

 

Acara puncak HUT 50 tahun Karangpanas

Sejak tahun 1964, dengan nama resmi Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM) Hati Kudus Yesus Yang Maha Kudus di Karangpanas resmi menjadi sebuah Gereja Katolik (yang biasa dikenal dengan nama Gereja Karangpanas). Gereja ini diresmikan pertama kali oleh Mgr. Justinus Darmoyuwono pada tanggal 18 Agustus 1964. Pastor pertama yang melayani di gereja ini adalah Romo L. Moerabi, SJ.

Hati Kudus Church in the eveningLebih lanjut, karena perkembangan umat yang semakin lama semakin banyak, Pengurus gereja beserta Romo Stephanus Heruyanto, Pr merencanakan dan membangun sebuah bangunan gereja yang lebih besar dari yang sebelumnya. Gereja ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan Gereja St. Athanasius Agung Karangpanas. Gereja baru ini diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo. Akhir-akhir ini, Gereja Karangpanas telah memiliki 65 Lingkungan yang berada dalam 17 Wilayah.

G Atha 1Oleh karena itu pada tanggal 18 Agustus 2014, PGPM Hati Kudus Yesus Yang Maha Kudus di Karangpanas memperingati Hari Ulang Tahun Paroki ke 50 tahun. Seluruh umat dan Romo Paroki Karangpanas (Romo Dodit H. , Romo J.Iswahyudi dan Romo Tri H.) merayakan Ekaristi Syukur sebagai puncak acara peringatan HUT itu. Perayaan dipimpin oleh Mgr. Pujasumarta dengan romo-romo yang pernah berkarya di Paroki Karangpanas. Acara ini juga dihadiri oleh 4 Suster-Suster yang berasal dari Lingkungan-Lingkungan di Paroki ini, yaitu : Sr. Stefani AK, Sr. Yosefinia AK, Sr. Edita SPM dan Sr. Odilia OSF.

knAcara Misa syukur diawalin dengan pataka sebanyak 18 buah yang terdiri dari 1 buah pataka paroki dan 17 buah pataka dari tiap lingkungan. Setelah itu, dilanjutkan dengan perarakan Uskup Agung Semarang beserta para Romo. Dalam misa kali ini, di arak pula sebuah patung Hati Kudus Yesus Yang Maha Kudus. Setelah misa selesai, dilanjutkan acara sesi photo bersama Romo-romo yang pernah berkarya di paroki karangpanas dengan Uskup Agung Semarang. Acara ditutup dengan acara pesta umat.
lo

Proficiat PGPM Hati Kudus Yesus Yang Maha Kudus Karangpanas 🙂

Photo selengkapnya dapat dilihat di link berikut, Photo HUT 50 tahun

Article by  Yosep Raharjo
Photo  by Irawan Ardi

 

Pemenang Kuis 3 HUT Karangpanas

Pertanyaan dari Romo Dodit:
Pd wkt diresmikan dg akta notaris, siapakah Uskup yg meresmikan PGPM Karangpanas?

Jawaban yang benar :
Uskup yg meresmikan: Mgr. Justinus Darmoyuwono.

Pemenang 9 Hadiah dari Romo Dodit :

  1. Pak Yoseph (Karangrejo)
  2. Maria Cecilia Widia Tersianinta (Gombel Permai)
  3. Stanislas Kostka Widia Sekunanda (Gombel Permai)
  4. Stefany Wina (Karanganyar Gunung)
  5. Florensius Evan Bagus (Karanganyar Gunung)
  6. Ujang Kurniawan (Saptamarga III)
  7. Lucia Melia Yuniani (Candi Baru)
  8. Bartholomeus Widi Kurniawan (Sanggung)
  9. Enny Hartati Djoko Wiyono (Kaliwiru)

Hadiah dapat di ambil di Sekretariat Paroki Mulai Hari ini.
Terima Kasih 🙂

 

News : Misa Syukur HUT Karangpanas

Gereja Athanasius dpn krHadirilah
Ekaristi puncak syukur HUT ke-50 PGPM Hati Yesus Yang Mahakudus Karangpanas
Senin, 18 Agt pk. 17.00 di Grj Athanasius.
Ekaristi akan dipersembahkan oleh Mgr. J. Pujasumarta, para imam putra paroki serta mrk yg pernah berkarya di paroki ini.
Setelah misa dilanjutkan ramah-tamah bersama.
Ayooo…rugi kalau ga’ hadir!

Mimbar Sabda,Transfigurasi Dan Lilin Paskah

-Berthold Anton Pareira,O.Carm.- (Majalah Liturgi, Tahun 2013, No. 4)

Apa hubungan antara Mimbar Sabda dengan Transfigurasi?
Lomba_48Thn_0040
Berbicara tentang Mimbar Sabda berarti berbicara tentang tempat pewartaan sabda.[1] Mimbar sabda adalah tempat pemakluman Sabda Allah baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru. Menurut hemat saya kita masih kurang merenungkan arti tempat ini dan memberi penghormatan yang sepantasnya kepadanya.Mimbar ini kerap dijadikan tempat pengumuman,sambutan dan lelucon. Bila ada gereja yang mempunyai tempat pengumuman tersendiri, bentuk dan segala-galanya yang lain biasanya sama saja dengan Mimbar Sabda. Kedua mimbar ini dengan demikian bisa ditukar. Belum ada teologi tentang Mimbar Sabda. Lain halnya dengan para pendahulu kita dalam iman khususnya dari Gereja-gereja Timur. Mereka memiliki rasa misteri yang mendalam. Liturgi adalah perayaan misteri-misteri besar iman kita. Kita kurang sadar akan hal itu sehingga omongan kita hanya tentang peraturan-peraturan ini itu, boleh atau tidak dan seterusnya. Teologi tidak mendapat tempat.
Mimbar Sabda harus lebih tinggi dari ruang gereja tempat umat berada. Petugas-petugas (lektor,pemazmur dan diakon/imam) yang menyampaikan sabda Allah dengan demikian harus naik ke mimbar untuk melaksanakan tugasnya. Dahulu mimbar sabda ini disebut ambo yang berasal dari kata ambainein,anabainein artinya naik ke tempat yang lebih tinggi, naik ke atas. Hal ini tampak dengan jelas sekali dalam gereja-gereja kuno. [2][3]
Tempat pemakluman sabda Allah yang kelihatannya sederhana ini sebenarnya memiliki arti yang mendalam.Petugas-petugas yang naik mimbar dapat dibandingkan dengan murid-murid yang dibawa oleh Tuhan Yesus naik sebuah gunung yang tinggi. Di sana Dia berdoa dan menyatakan kemuliaan-Nya.Apa yang terjadi dalam peristiwa Transfigurasi ini sekarang terjadi kembali secara penuh rahasia ketika ada Perayaan Sabda. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?

Transfigurasi adalah pernyataan kemuliaan Yesus. Musa dan Elia tampak bersama Yesus dalam kemuliaan-Nya ini. Mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31).Tak dapat disangkal lagi bahwa dalam peristiwa Transfigurasi ini “kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (Luk 24:27;bdk 24:44) atau Perjanjian Lama berhubungan erat dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama juga berbicra tentang misteri Paskah Yesus. Misteri ini adalah pusat seluruh Kitab Suci (bdk Luk 24:13-27). Itulah yang terjadi di Mimbar Sabda pada liturgi sabda kita sekarang ini. Ada perayaan!
Para murid tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu “sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati”(Mrk 9:9). Transfigurasi dengan demikian memberitakan misteri Paskah. Masih terjadi hal lain dalam peristiwa ini. Baiklah kita melihatnya dengan segera.

Inilah Putra-Ku yang terkasih,dengarkanlah Dia!
Dalam peristiwa Transfigurasi suatu rahasia disampaikan kepada kita. Allah Tritunggal menyatakan diri-Nya.Pada waktu itu “datanglah awan menaungi”murid-murid.Awan adalah lambang kehadiran Allah. Sebagaimana Roh Kudus menaungi Maria, demikian sekarang awan ini menaungi para murid.Lalu dari dalam awan itu terdengar suara Bapa,”InilahAnak-Ku yang terkasih,dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7).Allah Tritunggal menyatakan diri dalam peristiwa ini secara penuh rahasia dan hanya satu hal yang mau dinyatakan kepada kita yakni supaya kita mendengarkan Putra-Nya.
Undangan ini selalu disampaikan kembali kepada kita setiap kali Injil diwartakan! Tuhan Yesus sendiri berbicara dengan kita. Ketika Injil dibacakan, Kristus hadir dan berbicara dengan umat-Nya. Itulah iman Gereja.

Meja Sabda sebagai ikon ruang pewartaan kebangkitan
Ada yang melihat Meja Sabda sebagai ikon dari kubur Kristus atau lebih tepat ikon dari tempat di mana Kebangkitan Tuhan Yesus itu pertama kali diberitakan. Malaikat Tuhan datang dan memberitakan tentang kebangkitan Tuhan. Ambo merupakan tempat yang menjadi sarana mewartakan kebangkitan. Menurut Uskup Germanus I dari Konstantinopel/Istambul (+733) ambo merupakan “ikon dari makam suci; malaikat menggulingkan batu dan berdiri di sana untuk mewartakan kebangkitan Tuhan kepada perempuan-perempuan yang penuh keheranan”[4]. Dari tempat inilah sekarang imam atau diakon membuka Kitab Suci/Evangeliarium dan mewartakan kerigma (kabar) kebangkitan yang membentuk Gereja.
Karena Meja Sabda adalah ikon dari tempat pewartaan Kebangkitan Tuhan, maka Madah Paskah pada Malam Paskah haruslah dinyanyikan dari tempat ini. Seluruh Liturgi Sabda diwartakan dari tempat yang sama ini pula.

Di mana lilin Paskah harus ditempatkan?
Biasanya orang masih bingung di mana lilin Paskah harus ditempatkan,dekat altar atau di tempat lain.Menurut tradisi harus ditempatkan di samping Mimbar Sabda dan memang sepantasnya demikian.
Dari mimbar inilah kita menyanyikan Pujian Paskah pada Malam Paskah. Pada malam inilah Kristus mematahkan belenggu maut dan bangkit sebagai pemenang dari alam maut. Kristuslah Cahaya dunia. Barang siapa mengikut Dia, orang itu tidak akan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan memperoleh cahaya kehidupan (Yoh 8:12). Dialah bintang kejora yang tak kunjung terbenam. Kini Ia menerangi umat manusia dengan cahaya-Nya.
Lilin Paskah harus ditempatkan di samping Mimbar Sabda sebab Kitab Suci memberitakan misteri Paskah. Berulang-ulang setelah kebangkitan-Nya Kristus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan menerangkan misteri  Paskah-Nya kepada mereka menurut Kitab Suci (Luk 24:13-35,44-49;bdk Kis 1:3). Dia bahkan mengembuskan Roh-Nya sendiri pada hari Raya Paskah agar mereka (dan kita) dapat memahami segala sesuatu yang telah dikatakan dan dikerjakan-Nya dan menjadi saksi-Nya (Yoh 20:19-23). Karena murid-murid belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari orang mati inilah, maka pada hari pertama minggu itu mereka menjadi bingung ketika mendengar berita kubur Yesus kosong (Yoh 20:9).Mereka pergi ke kubur,tetapi hanya salah satu murid yang menangkap tanda-tanda karya Allah. Liturgi adalah suatu perayaan misteri-misteri iman dalam tanda-tanda dan harus menjadi mistagogi ke misteri-misteri iman kita.
Paulus merumuskan iman Paskah itu sebagai berikut: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga,sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3-4). Kitab Suci memberitakan misteri Paskah. Lilin Paskah yang menjadi tanda Kristus Cahaya dunia dengan demikian pantas berada di samping Mimbar Sabda.


[1] Bdk Albert Gerhads,”Dem Wort Gottes Gestalt geben,” dlm. Bnedikt Kranemann-Thomas Sternberg (Hrsg..), Wie das Wort Gottes feiern(Freiburg im Breisgau:Herder,2002),146-165.

[2]Bdk Salvatore Grisanti-Maria Antonietta Spinosa,”L’Ambone della cattedrale di Cefalù,” Horeb 35/XII(2003/2),90-96

[3] Kamus Inggris Oxford menerangkan arti kata ambo sebagai “pulpit in early christian churches”, sedang sebuah kamus Jerman mengartikannya dengan sedikit lebih jelas yakni “erhöhtes Lesepult frühchristlichen Kirchen, Vorläufer der Kanzel).

[4] Bdk Salvatore Grisanti-Maria Antonietta Spinosa, art.cit, 93.

Sejarah Paroki

A.              Benih Awal: Panti Asuhan St Vincentius

Candi Lama

Sejarah paroki Karangpanas tidak dapat lepas dari sejarah paroki Gedangan. Gedangan menjadi semacam biji sesawi yang kemudian berkembang menjadi pohon  sedemikian lebat.

Panti Asuhan (di bawah Stichting Rooms Katolik Weeshuis yang kemudian hari menjadi Yayasan Panti Asuhan Katolik) karya para suster OSF Gedangan yang dikelola sejak tanggal 5 Februari 1870 berkembang sedemikian pesat. Dalam tahun 1912, Yayasan R.K.Weeshuis mulai mendirikan panti asuhan baru di Candi Lama (Karangpanas). Mula-mula rumah baru ini dimaksudkan bagi anak-anak perempuan. Namun akhirnya rencana berubah. Panti Asuhan yang baru diperuntukkan bagi anak laki-laki. Pembangunan gedung baru selesai pada tanggal 1 Mei 1915 dengan diteruskan penyempurnaan sana-sini.

Para bruder  CSA yang telah mengelola Panti Asuhan anak-anak laki-laki di kompleks susteran Gedangan bagian selatan (sekarang Kantor Yayasan Kanisius Pusat dan Yadapen) pindah dengan senang hati bersama dengan anak-anak muda asuhan mereka pada tanggal 15 Juni 1915.

Panti Asuhan itu dinamai Panti Asuhan St. Vincentius. Kompleks panti asuhan yang meliputi juga Kapel Hati Kudus Karangpanas diresmikan oleh Mgr. Luypen SJ pada tanggal 26 September 1915. Pastor pertama yang tinggal di sana sebagai direktur weeshuis adalah Pastor Hoevenaars SJ.

Dalam sejarah, kapel Hati Kudus Karangpanas semula dipakai oleh rumah weeshuis melulu. Direktur weeshuis adalah seorang pastor yang tinggal di pastoran. Namun dengan agak cepat direktur weeshuis itu juga berfungsi sebagai pastor paroki. Karangpanas memang strategis dan jauh dari paroki-paroki lain. Sudah sejak tahun 1915 ada buku permandian. Buku perkawinan dimulai pada tahun 1937.

 

B. Periode Yesuit

1. Babtisan Pertama

Babtisan pertama yang tercatat dalam Liber Babtismi terjadi pada tanggal 13 Juni 1915 dengan nama Thelma, anak dari pasangan Leopaldo Eresto Silvio Catalani dan Cisira Zelia Rita Heyneman. Yang membabtis Pastor Hoevenaars SJ. Sedang emban babtisnya IWH van der Vlught. Sedang babtisan pribumi pertama tercatat bernama Fransiscus Waloejo Haryadi (anak dari Karel Tole Hardjasoekarto dengan Fransisca Soedarmi) pada tanggal 19 Desember 1924. Yang membabtis Romo J Sevink SJ.

2. Dari Grejane Landa ke Gereja Indonesia

Sampai pada tahun 50-an (sebelum jaman Rm Oswaldus Verdier (tinggal di Karangpanas tahun 1953-1964), Gereja Karangpanas masih dikenal sebagai Grejane Landa. Umat pribumi di daerah Semarang bagian selatan merayakan ekaristi di gereja St Yusup Gedangan dengan naik trem berangkat dari station trem di Metro (sekarang Metro Square).

Sebelum jaman merdeka, umat pribumi nyaris belum ada. Baru sesudah jaman merdeka, Gereja Karangpanas berubah dari Gereja keturunan Eropa menjadi Gereja Indonesia tulen. Proses ini berlangsung amat lama. Buktinya pengumuman Gereja sampai akhir tahun 1957 masih ada dalam dua bahasa, bahasa Belanda dan Jawa.

Pada tahun 1960 umat paroki Karangpanas tidaklah sebanyak sekarang. Sebagai gambaran, satu lingkungan terdiri dari beberapa kelurahan misalnya lingkungan (kring) Kaliwiru meliputi Kaliwiru, Semeru, Tengger, Wonotingal dan Candi Persil.

Paroki Karangpanas banyak menyimpan harta kekayaan hidup. Pancaran kasih Tuhan dapat ditangkap dalam daya gerak pemuka umat, sehingga umat tergugah ikut serta dalam gerakan pelayanan yang menandai eratnya persaudaraan kristiani. Sebagai contoh waktu itu doa rosario di kring Kalilangse dihadiri juga oleh umat dari Kring Sanggung, Kaliwiru, Karangpanas, dan Jatingaleh. Contoh lain: Sebelum misa lingkungan, Rm Verdier menyempatkan diri mengunjungi keluarga-keluarga yang membutuhkan bimbingan karena berbeban berat dan tersingkir. Selain itu karena jumlah umat belum sebanyak sekarang ini setelah misa minggu sebagian besar umat masih dapat bersalaman dengan gembalanya.

3. Provinsialat SJ di Karangpanas

Setelah perang selesai, Pimpinan Yesuit Indonesia (superior missionis)  dalam tahun 1949 pindah ke pastoran Karangpanas. Waktu itu direktur weeshuis tidak senantiasa sekaligus pastor paroki melainkan seorang fungsionaris provinsialat. Pastor paroki lama kelamaan tidak ada hubungan dengan provinsialat maupun dengan Yayasan. Situasi memang kemudian berubah sejak sekitar tahun 1958 ketika weeshuis ditutup, serta kompleks sekolah mulai berkembang. 

Lima tahun setelah berada di Karangpanas, provinsialat Jesuit berpindah ke Gedangan. Tahun 1962 provinsialat berpindah lagi ke Karangpanas sampai pada tahun 1989 dan menetap sampai sekarang ini di Jalan Argopuro.

4. Pendirian PGPM

Uskup Agung Semarang, Mgr Justinus Darmojuwono, dengan Surat Pendirian tertanggal 18 Agustus 1964, mendirikan Yayasan Gereja Katolik yang dinamakan “PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOM KATHOLIK DI WILAYAH GEREJA HATI YESUS YANG MAHA KUDUS DI KARANGPANAS SEMARANG”. Maksud pendirian ini adalah memajukan kehidupan keagamaan di wilayah kegerejaan setempat dan mengatur dengan tetap pemeliharaan orang-orang miskin. Pada waktu itu ketuanya adalah pastor L Moerabi,  penulis: Lucas Sudjadi Tirtatjakra sedang anggota: Joseph Lim Eng Kim, Thomas Joseph Amat Atmasoeganda dan Alexius Joseph Suparman Prabasoesetya.

5. Pembangunan kapel-kapel

a. Kapel Nasareth Jangli

Yayasan Nurani berdiri tanggal 1 Januari 1967 berdasarkan keputusan rapat pleno umat katolik wilayah Jangli atas prakarsa Bp. AP Dwijokarjana bersama ketua kring dan ketua Partai Katolik Jangli. Pendirian ini dinyatakan dalam Akte Notaris Raden Mas Suprapto No. 23 tanggal 15 Juni 1967 yang berlaku surut mulai tanggal 1 Januari 1967.

Selama 2 tahun Yayasan Nurani dengan taman kanak-kanaknya kesulitan tempat untuk sekolah.           

Pada awal 1970, atas bantuan Pater WTM Bleys SJ, Yayasan Nurani berhasil membeli sebuah rumah di atas sebidang tanah di Jl. Jangli 307A (gedung yang sekarang digunakan sebagai kapel) dari Ny. Na Ngoe Djit Nio dengan harga beli sebesar Rp. 250.000.

Sejak pertama kali dibeli, bangunan ini berfungsi sebagai TK pada siang hari. Pada malam harinya bangunan ini berfungsi sebagai tempat berbagai kegiatan umat katolik di wilayah termasuk beribadah.

Pada tanggal 2 November 1986, umat katolik wilayah Jangli mendapatkan kehormatan karena Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Yulius Darmaatmaja SJ berkenan berkunjung dan melakukan pemberkatan atas kapel.

Jumlah umat Wilayah Yohanes Rasul Jangli sekarang ini berjumlah…………jiwa.

           

b. Kapel St Petrus Tengger

c. Kapel St Maria Fatima Srondol

Pada tanggal 25 Juni 1968 dimulai pelajaran agama Katholik pertama kali di Srondol dan sekitarnya. Pelajaran diberikan oleh seorang guru agama yang sangat berpengaruh dan disegani waktu itu yaitu Bapak Ign Sardjono. Permandian untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 1970. Yang dipermandikan  sebanyak 20 orang.

Pembangunan kapel di daerah Srondol dimulai tanggal 8 Mei 1970 dengan cara gotong royong oleh seluruh umat setempat. Pemberkatan kapel Srondol dilakukan tanggal 13 Oktober 1970 oleh Romo C Carri SJ yang waktu itu menjabat Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang. Atas ijin Bp Uskup Agung Semarang, Rm Yustinus Kardinal Darmoyuwono, kapel Srondol ditingkatkan menjadi Gereja Stasi disebut Gereja St Maria Fatima Srondol. Wilayah stasi Srondol meliputi kring-kring asrama Brigif, Asrama Brimob, Srondol, Asrama BR, dan Ngesrep.

Awal tahun 1976 dibangun jalan arteri Srondol-Jatingaleh di mana as jalan lingkar tersebut tepat pada altar kapel. Terpaksa kapel digusur. Umat mencari tempat baru untuk merayakan ekaristi. Salah satu keluarga yang paling lama menyediakan rumahnya sebagai tempat ibadat waktu itu adalah Bapak Paijan di jalan Ace Srondol Wetan. Rumah itu mampu menampung 150 sampai 200 umat.

6. Pemekaran (Paroki Banyumanik)

Perumnas Banyumanik mulai ditempati oleh banyak penghuni baru yang ternyata  berasal dari paroki-paroki di Kotamadya Semarang dan sekitarnya. Melihat perkembangan yang demikian, Yayasan Papa Miskin Paroki Karangpanas segera mencari lokasi untuk tempat kapel baru sebagai pengganti atas kapel yang tergusur.

Setelah melalui pertimbangan yang cermat segera dibangunlah pada tahun 1980 sebuah kapel di daerah perumahan Banyumanik yang sekarang dipakai oleh paroki sebagai ruang pertemuan. Dalam kurun waktu 6 bulan kapel baru tidak dapat menampung umat yang berkembang sedemikian pesat. Jumlah umat waktu itu 350 kepala keluarga.

Dengan keputusan rapat Dewan Paroki Karangpanas tanggal 16 Oktober 1981 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja St. Maria Fatima Banyumanik. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 1 Juni 1982 oleh Romo Kardinal yang waktu itu berkenan hadir di tengah-tengah umat Banyumanik dan berstatus sebagai pastur pembantu Karangpanas.        

Pemberkatan Gereja dilakukan oleh Mgr Yulius Darmaatmaja SJ selaku Uskup Agung Semarang pada tanggal 13 Oktober 1982. Bertepatan dengan upacara pemberkatan itu, umat Banyumanik memperoleh anugerah besar. Status Stasi St Maria Fatima Banyumanik ditingkatkan menjadi Paroki St Maria Fatima Banyumanik.

 

B.               Periode Diocesan

1. Serah Terima dari Jesuit ke Praja

Pada hari Minggu tanggal 22 Januari 1995, pastor L Smit SJ diganti sebagai pastor Paroki Karangpanas oleh seorang pastor praja bernama St Heruyanto Pr. Serah terima pengelolaan waktu itu dihadiri oleh pastor J Sunarko SJ, wakil dari Serikat Yesus. Dengan demikian pimpinan paroki yang sejak semula diserahkan kepada Serikat Yesus dialihkan dan akan diurus kemudian hari oleh imam sekulir.

Sampai pada saat itu, umat Karangpanas sebenarnya belum memiliki gedung Gereja sendiri untuk merayakan ekaristi termasuk pastoran dan tempat kegiatan umat. Semuanya masih meminjam Yayasan PAK. Maka pada pergantian pengelola paroki itu pun disusulkan MOU mengenai penggunaan tempat. Yang penting dicatat adalah PAK menyerahkan kepada KAS pemakaian kapel beserta pastoran untuk waktu 20 tahun mulai tanggal kontrak ditandatangani.

 2. Pertumbuhan umat pesat

Semakin lama umat semakin bertambah banyak. Pada hari besar Natal dan Paskah diadakan misa di dua tempat yaitu di Gereja Hati Kudus Yesus Karangpanas dan Kapel bruderan FIC Don Bosco. Dalam perkembangan selanjutnya misa natal dan paskah diadakan di satu tempat yaitu di lapangan Yayasan PAK dengan memasang tratak sebanyak kurang lebih 30 unit. Kapel Hati Kudus Yesus sendiri hanya mampu menampung umat maksimum 500 orang.

Menyadari jumlah umat yang semakin banyak dengan tumbuhnya suburnya perumahan baru di kawasan Candi Atas dan daerah sekitarnya dibutuhkanlah Gereja yang lebih besar. Romo St. Heruyanto bersama dengan Dewan Paroki mengadakan kerja sama dengan Yayasan PAK. Hasil kerjasama itu adalah pelimpahan tanah dari yayasan PAK seluas kurang lebih 4000 meter persegi untuk kepentingan paroki. Akhirnya dibangunlah  gedung gereja yang baru.

Rumah yang sudah lama dirindukan oleh umat Katolik Karangpanas ini diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr I Suharyo pada tanggal 1 Juni 2000. Gereja baru ini disebut sebagai Gereja St. Athanasius Agung di Karangpanas Semarang (sub titulo Sancti Athanasii)