logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Misa Online

Senin-Sabtu 05.30 WIB
Minggu 08.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

Puncta Sabtu, 25 Juli 2020

Selamat pagi ☕ “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” <Mat 20:20-28>

Selengkapnya »

Puncta Kamis, 23 Juli 2020

Selamat pagi 🌻 “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar

Selengkapnya »

Aku Sampah Aku

Kisahnya sederhana, di tempat orang-orang sederhana, membahas hal sederhana: SAMPAH. Walau akhinya semuanya menjadi tidak sesederhana wujudnya. Drama ini berkisar di sebuah kampung dengan pak RT bernama Bp Harno, istrinya bernama bu Beti, dan anaknya Tomi. Di samping rumah Bp RT ada rumah Surya dan Choki, pasangan sejenis. Dan di tengah kampung itu, ada tong sampah, tempat Burhan, yang dianggap gila, tinggal. Ya, Burhan tinggal di tong sampah!

Menjadi tidak lagi sederhana, saat sejumlah warga hendak mengusir si Burhan, si Sampah masyarakat itu (menurut mereka). Mereka minta Bp RT untuk mengusir Sampah itu. Tapi pak RT ngotot tidak mau, karena Burhan juga manusia, tidak mengganggu koq. Warga tidak terima, dan berkat bujuk rayu Surya dan Choki, Burhan hendak diusir paksa. Burhan mau dibakar! Tentu saja pak RT membubarkan aksi warga itu. Burhan yang kepayahan itu ditolong keluarga pak RT. Warga merasa bersalah dan minta maaf pada pak RT. Akhirnya, diusulkan warga agar Burhan dibawa ke Rumah Sakit (jiwa), agar mendapat perawatan yang lebih manusiawi. kisahnya sederhana, tokoh-tokohnya, barang-barangnya (sampah), juga perilaku para tokoknya, tidak asing kerap kita jumpai. Yang menarik adalah tawaran permenungan dari pementasarn theater ini. Apa sih yang membuat kita, manusia ini, berhak mengatakan orang lain sampah? Apakah karena tidak punya apa-apa, tidak punya pekerjaan, tidak punya keluarga, tidak punya kewarasan, lalu disebut sebagai sampah? Kalau memang aku mengatakan seseorang sebagai sampah, maka sama saja aku mengatakan diriku juga sampah. Karena bukankan aku, dia, kamu, mereka, kita adalah sama-sama manusia? Kalau kemanusiaan sudah dicoreng dengan penilaian sampah, ya sama dengan mencoreng muka sendiri.

Si burhan berkata : “tenteram hanya sebuah mimpi, tanpa kita tahu mengenai kebenaran diri” “tenteram berubah menjadi sampah, ketika menutup diri” “tenteram adalah sampah, ketika tidak mengenal diri”

Adakah yang mau menambah komentar, atau mungkin review dan permenungan atas teater ini? Silahkan baca terus, bila ingin melihat sekilas foto-fotonya. Mohon maaf kalau tidak memuaskan, maklum masih amatiran.

Pembukaan

Tomi anak pak RT

para warga hendak mengusir Burhan
Burhan dibantu keluarga pak RT
another Burhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.