SEIKAT VII – KITAB WAHYU YOHANES-

1. Latar Belakang

Kitab Wahyu adalah kitab Perjanjian Baru yang terakhir dan yang paling luar biasa, ditulis sekitar tahun 90-96 M. Kitab ini sekaligus merupakan suatu penyingkapan (Wahyu 1:1-2,20), suatu nubuat (Wahyu 1:3; Wahyu 22:7,10,18-19), dan suatu gabungan dari tujuh surat (Wahyu 1:4,11; Wahyu 2:1–3:22).(Istilah “penyingkapan”; Ing. apocalypse) berasal dari k ata Yunani apocalupsis, yang diterjemahkan “wahyu” dalam Wahyu 1:1-20). Kitab ini merupakan suatu penyingkapan dalam kaitan dengan isinya, suatu nubuat dalam kaitan dengan beritanya dan suatu surat dalam kaitan dengan alamat tujuannya. Lima kenyataan penting mengenai latar belakang kitab ini dinyatakan dalam Bab 1 (Wahyu 1:1-20).

(1) “Inilah wahyu Yesus Kristus” (Wahyu 1:1).

(2) Penyataan ini telah disampaikan secara adikodrati kepada penulisnya melalui Kristus yang ditinggikan, malaikat-malaikat dan penglihatan-penglihatan (Wahyu 1:1,10-18).

(3) Penyataan itu disampaikan kepada hamba Allah, Yohanes (Wahyu 1:1,4,9; Wahyu 22:8).

(4) Yohanes menerima penglihatan-penglihatan dan berita penyataan ini sementara ia dalam pembuangan di Pulau Patmos (80 km sebelah barat daya kota Efesus), oleh karena Firman Allah dan kesaksian Yohanes sendiri (Wahyu 1:9).

(5) Penerima yang mula-mula dari surat ini adalah tujuh jemaat di provinsi Asia (Wahyu 1:4,11).

 

Baik bukti sejarah maupun bukti dari isi kitab itu sendiri menunjukkan bahwa rasul Yohaneslah penulisnya. Ireneus menjelaskan bahwa Polikarpus (Ireneus mengenal Polikarpus, dan Polikarpus mengenal rasul Yohanes) telah berbicara tentang Yohanes yang menulis kitab Wahyu mendekati akhir pemerintahan Domitianus selaku kaisar Romawi (81-96 M). Isi kitab ini mencerminkan keadaan sejarah pada zaman pemerintahan Domitianus ketika dia menuntut agar semua warga negaranya memanggil dia “Tuhan dan Allah”. Pastilah, ketetapan Kaisar pada waktu itu telah menciptakan suatu pertentangan antara mereka yang dengan sukarela mau menyembah Kaisar dan orang Kristen setia yang mengakui bahwa Yesus sajalah “Tuhan dan Allah”. Jadi, kitab ini ditulis ketika umat beriman sedang mengalami penganiayaan yang hebat oleh karena kesaksian mereka, suatu situasi yang dengan jelas merupakan latar belakang kitab Wahyu itu sendiri (Wahyu 1:19; Wahyu 2:10,13; Wahyu 6:9-11; Wahyu 7:14-17; Wahyu 11:7; Wahyu 12:11,17; Wahyu 17:6; Wahyu 18:24; Wahyu 19:2; Wahyu 20:4).

 

2.  Tujuan

(1) Surat-surat kepada tujuh jemaat itu menyatakan bahwa suatu penyimpangan yang parah dari standar kebenaran rasuli sedang terjadi di antara banyak jemaat di Asia. Atas nama Kristus, Yohanes menulis kitab ini untuk menegur tindakan kompromi dan dosa mereka, serta menghimbau mereka untuk bertobat dan berbalik kepada kasih mereka yang mula-mula.

(2) Mengingat penganiayaan yang diakibatkan oleh karena Domitianus memuja dirinya sendiri, kitab Wahyu telah dikirim kepada jemaat-jemaat guna meneguhkan iman, ketetapan hati, dan kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus, serta untuk memberi semangat kepada mereka agar mereka menjadi pemenang dan tinggal setia sampai mati sekalipun.

(3) Akhirnya, kitab ini telah ditulis untuk memperlengkapi orang percaya sepanjang zaman dengan segi pandangan Allah terhadap perang yang sengit melawan gabungan kekuatan Iblis dengan menyingkapkan hasil sejarah yang akan datang. Kitab ini secara khusus menyingkap tujuh tahun terakhir yang mendahului kedatangan Kristus yang kedua. Allah akan menang dan membenarkan orang yang kudus dengan mencurahkan murka-Nya atas kerajaan Iblis; ini akan diikuti oleh kedatangan Kristus kali kedua.

 

3. Survai

Nubuat dari kitab ini disampaikan melalui aneka simbol dan lambang penyingkapan yang dramatis, yang melukiskan penyelesaian akhir dari seluruh berita penyelamatan alkitabiah. Kitab ini menampakkan peran Kristus sebagai Anak Domba yang layak yang disembelih (bab 5; Wahyu 5:1-14) dan Anak Domba yang penuh murka yang akan datang untuk menghukum dunia dan membersihkannya dari kejahatan (bab 6-19; Wahyu 6:1–19:21). Gambaran simbol lain yang utama dalam kitab ini adalah naga besar (Iblis), binatang laut (antikristus), binatang bumi (nabi palsu) dan Babel Besar (pusat muslihat roh jahat dan kuasa dunia). Setelah prolog (Wahyu 1:1-8), ada tiga bagian utama dalam kitab ini. Pada bagian pertama (Wahyu 1:9–3:22), Yohanes mendapatkan suatu penglihatan yang menakjubkan mengenai Kristus yang agung di tengah-tengah kaki dian (jemaat-jemaat), yang menugaskan Yohanes untuk menulis surat kepada tujuh jemaat di Asia Kecil (Wahyu 1:11,19). Setiap surat (Wahyu 2:1–3:22) meliputi suatu gambaran simbolis tentang Tuhan yang agung dari penglihatan pembukaan, penilaian terhadap jemaat tersebut, kata-kata pujian atau celaan atau kedua-duanya, kata-kata peringatan terhadap lima jemaat, nasihat untuk mendengar dan bertobat, dan suatu janji bagi semua yang menang.

Tekanan pada angka tujuh dalam bagian ini menunjukkan bahwa surat-surat tersebut mewakili suatu keutuhan dari apa yang hendak difirmankan kepada jemaat di setiap kota dan angkatan oleh Tuhan yang agung itu.

Bagian utama kedua dari kitab ini (Wahyu 4:1–11:19) berisi penglihatan-penglihatan dari perkara-perkara yang ada di sorga dan di bumi tentang Anak Domba dan peranan-Nya dalam mengakhiri sejarah. Bagian itu dimulai dengan suatu penglihatan tentang ruang pengadilan sorgawi yang Mahamulia di mana Allah bersemayam dalam kekudusan dan terang yang tak terhampiri (bab 4; Wahyu 4:1-4).

Bab 5 (Wahyu 5:1-14) memusatkan perhatian pada sebuah gulungan kitab yang dimeterai yang berbicara tentang nasib akhir. Gulungan kitab ini berada di tangan kanan Allah dan Anak Domba sajalah yang layak untuk membuka meterai-meterainya dan mengungkapkan isinya. Pembukaan enam meterai yang pertama (bab 6; Wahyu 6:1-17) melangsungkan penglihatan yang telah dimulai dalam bab 4-5 (Wahyu 4:1–5:14), kecuali sekarang pemandangan dialihkan ke berbagai peristiwa di bumi. Lima meterai yang pertama menyingkapkan hukuman Allah pada hari-hari terakhir yang menuntun ke arah kesudahannya.

Meterai yang keenam mengumumkan murka Allah yang akan datang. “Selingan Pertama” kitab ini terdapat dalam bab 7 (Wahyu 7:1-17), yang menggambarkan pemeteraian 144.000 orang di ambang pintu kesengsaraan besar (Wahyu 7:1-8) dan pahala bagi orang kudus di sorga setelah kesengsaraan besar (Wahyu 7:9-17). Bab 8-9 (Wahyu 8:1-9:21) menyatakan pembukaan meterai ketujuh, penyingkapan rangkaian hukuman lain yaitu ketujuh sangkakala. “Selingan Kedua” terjadi di antara sangkakala keenam dan ketujuh, yang meliputi Yohanes dan sebuah gulungan kitab yang kecil (Wahyu 10:1-11), dan dua saksi nubuat yang kuat dalam kota besar itu (Wahyu 11:1-14). Akhirnya, sangkakala ketujuh (Wahyu 11:15-19) berfungsi sebagai pertunjukan awal dari kesudahan segala sesuatu (ayat Wahyu 1:15) dan pendahuluan adegan-adegan akhir dari rahasia Allah yangdibentangkan (bab 12-22; Wahyu 12:1–22:21). Bagian utama yang ketiga (Wahyu 12:1-22:5) memberikan suatu gambaran terinci mengenai perjuangan besar pada akhir zaman antara Allah dengan musuh-Nya, Iblis.

Bab 12-13 (Wahyu 12:1–13:18) menyatakan bahwa orang kudus di bumi harus menghadapi suatu komplotan yang dahsyat dan tiga serangkai kejahatan, yang terdiri atas (1) si naga besar (bab 12; Wahyu 12:1-18),(2) binatang laut (Wahyu 13:1-10), dan(3) binatang bumi (Wahy 13:11-18). Bab 14-15 (Wahy 14:1–15:8) berisi penglihatan-penglihatan yang meyakinkan kembali orang-orang kudus dalam kesengsaraan besar bahwa keadilan akan menang sementara Allah akan mencurahkan murka-Nya yang terakhir atas peradaban antikristus.

Kemudian, suatu penyingkapan penuh dari murka Allah terjadi dalam rangkaian tujuh cawan hukuman (bab 16; Wahyu 16:1-21), hukuman atas si pelacur besar (bab 17; Wahyu 17:1-18), dan kejatuhan Babel, Kota Besar itu (bab 18; Wahy 18:1-24). Pada tahap ini, terjadi kegembiraan besar di sorga, dan perjamuan kawin Anak Domba dengan mempelai perempuan-Nya diumumkan (Wahyu 19:1-10).Akan tetapi, tahap terakhir yang hebat masih akan terjadi. Kemudian Yohanes melihat sorga terbuka dan Kristus keluar menunggang kuda putih sebagai Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan untuk mengalahkan binatang itu dan semua sekutunya (Wahyu 19:11-21). Kekalahan Iblis yang terakhirdidahului dengan terbelenggunya dia selama seribu tahun (Wahy 20:1-6). Selama masa itu Kristus memerintah bersama dengan orang-orang kudus (Wahyu 20:4) dan sesudah itu Iblis akan dilepaskan untuk suatu masa yang singkat (Wahyu 20:7-9) dan kemudian dicampakkan ke dalam “lautan api” untuk selama-lamanya (Wahy 20:10).

Nubuat apokaliptis ini ditutup dengan penghakiman di takhta putih yang besar (Wahyu 20:11-15), nasib yang tepat bagi orang jahat (Wahyu 20:14-15; Wahyu 21:8), serta langit yang baru dan bumi yang baru sebagai nasib akhir bagi orang kudus (Wahyu 21:1–22:5). Kitab ini diakhiri dengan peringatan-peringatan untuk mengindahkan beritanya dan masuk dalam hidup yang kekal (Wahyu 22:6-21).

 

4. Ciri-ciri Khas kitab ini ada yaitu:

(1) Wahyu merupakan satu-satunya kitab PB yang digolongkan sebagai nubuat dan wahyu.

(2) Sebagai suatu kitab apokaliptis, beritanya disampaikan dalam bentuk lambang-lambang yang menggambarkan kenyataan-kenyataan tentang masa dan peristiwa yang akan datang sambil tetap memelihara teka-teki atau rahasia tertentu.

(3) Banyak sekali angka digunakan, termasuk angka 2; 3; 3,5; 4; 5; 6; 7; 10; 12; 24; 42; 144; 666; 1.000; 1.260; 7.000; 12.000; 144.000; 100.000.000; dan 200.000.000. Secara khusus kitab ini menonjolkan angka tujuh yang terdapat tidak kurang dari 54 kali yang melambangkan kesempurnaan atau kepenuhan.

(4) Penglihatan-penglihatan begitu mencolok, dengan pemandangan yang sering dialih-alihkan dari tempat di bumi ke sorga, kemudian kembali lagi ke bumi.

(5) Malaikat-malaikat dikaitkan secara jelas dengan penglihatan-penglihatan dan ketetapan-ketetapan surgawi.

(6) Kitab ini bersifat polemik yang (a) menyingkapkan sifat roh jahat dari setiap penguasa bumi yang menyatakan dirinya sebagai allah, dan (b) menyatakan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang agung dan penguasa atas raja-raja di bumi (Wahyu 1:5; Wahyu 19:16).

(7) Kitab ini juga dramatis yang membuat kebenaran beritanya menjadi begitu hidup dan tegas.

(8) Kitab ini bersifat roh nubuat PL tanpa menggunakan kutipan-kutipan secara formal dari PL itu sendiri. Kitab ini merupakan kitab PB yang paling sulit untuk ditafsirkan.

 

Sekalipun para pembaca yang mula-mula barangkali memahami makna beritanya tanpa terlalu banyak mengalami kebingungan, namun di abad-abad berikutnya pandangan yg beranekaragam mengenai makna kitab ini telah mengakibatkan lahirnya empat aliran penafsiran besar.

(1) Penafsiran preterist (dengan pandangan masa lampau) memandang kitab ini dan nubuat-nubuatnya sebagai hal yang telah digenapi pada masa gelaran sejarah asli dari kekaisaran Romawi, kecuali untuk bab 19-22 (Wahyu 19:1–22:21), yang masih menunggu penggenapannya pada masa yang akan datang.

(2) Penafsiran historicist (menekankan unsur sejarah) memandang kitab Wahyu sebagai suatu prakiraan nubuat dari seluruh perjalanan sejarah gereja sejak zaman Yohanes sampai pada zaman akhir.

(3) Penafsiran idealist (menekankan pemikiran ideal) menganggap lambang-lambang dalam kitab ini sebagai hal yang mengungkapkan prinsip-prinsip rohani tertentu tentang kebaikan dan kejahatan dalam sejarah pada umumnya, tanpa menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa nyata dalam sejarah.

(4) Penafsiran futurist (dengan pandangan masa yang akan datang) mendekati bab 4-22 (Wahyu 4:1–22:21) sebagai nubuat tentang peristiwa-peristiwa dalam sejarah yang hanya akan terjadi pada akhir zaman ini. Pada hakikatnya Alkitab ini menafsirkan kitab Wahyu dari sudut pandang futurist ini.

 

5. Buku yang Unik

Sadar akan hal itu, maka tidak heran kalau ada bagian-bagian tertentu dalam buku-buku Alkitab yang sering ditafsir salah. Menurut para ahli, kitab-kitab itu adalah sebagian dari Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran, sebagian dari Kitab nabi Ezekiel dan Nabi Daniel. Adapun yang paling sulit dimengerti dan karena itu sering disalah tafsir adalah Kitab Wahyu Yohanes.

            Salah satu sebab mengapa Kitab ini dirasa sulit dan disalah tafsir adalah “bentuk karangannya” tidak lazim. Para ahli menyebutnya dengan nama Kitab “Apokaliptik“. Hampir tak ada literatur modern yang mempunyai bentuk penulisan serupa dengan Kitab Wahyu Yohanes (selanjutnya: KWY). Bentuk literatur seperti KWY merupakan keunikan yang hanya dapat ditemukan di Timur Tengah antara tahun 200 BC sampai tahun 200 AD. Sebab itu, ketika John (Yohanes), pengarang manusia dari Kitab ini, ingin menyampaikan pesan yang penuh wibawa kepada Gereja-gereja di Asia Kecil, ia amat cerdas mengunakan literasi yang sudah ada. Dengan menyesuaikan diri dengan bentuk tulisan apokaliptik yang sudah menjadi bagian dari budaya umatnya, Yohanes dapat dengan leluasa “mengingatkan, mengajar, mendorong dan membangun harapan, serta menguatkan iman umatnya. Oleh karena umat/pendengarnya sudah biasa dengan bentuk tulisan apokaliptik, maka Yohanes sang penulis tidak perlu kuatir soal kemungkinan salah mengerti “bahasa sandi” yang akan dipakainya.

Dari sudut yang menguntungkan itu, Yohanes memaklumkan Firman Allah dengan memakai wahana apokaliptik yang sudah biasa di kalangan umatnya waktu itu. Jikalau kini kita merasa sulit memahaminya, maka itu merupakan masalah kita, karena kita hidup 2000 tahun kemudian dan dalam konteks kebudayaan yang sangat berbeda. Yohanes menulis kitab ini sesuai konteks dan karakter pendengarnya di Timur Tengah pada 2000 tahun yang lalu.

            Sejak awal pengarang menyatakan buku ini adalah buku profetis (1:3). Tapi mesti diingat bahwa dalam Kitab Suci “nabi” tidak selamanya mesti merupakan seorang peramal akan masa depan, tapi ia hanya seorang juru bicara dari Allah. Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa KWY berbicara semata-mata tentang peristiwa yang sedang terjadi pada waktu kitab ini ditulis, yaitu tentang penganiayaan umat kristen pada abad pertama oleh Imperium Romawi. Sebuah teks KWY menunjukkan hal ini. Yohanes dalam kalimat pendahuluannya mengatakan bahwa ini “mesti akan terjadi segera” (1:1). Yohanes berbicara tentang peristiwa yang sedang terjadi pada masanya: “karena waktu yang sudah ditentukan sudah dekat” (1:3). “Masa depan” yang diramalkan adalah masa depan dalam “pengertian yang luas”: kebaikan dan keburukan (Evil and Good) selalu berperang, tapi pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang.

 

6. Simbolisme

            Salah satu karakter dari KWY adalah bahwa ia amat kaya akan bahasa simbolis, seperti angka, pribadi dan pristiwa historis, dan situasi yang kritis, unsur yang membentuk bumi dan langit, serta surga. Semuanya ini digunakan oleh pengarang untuk “satu maksud saja” yaitu menolong umat Kristen abad pertama untuk mengerti tentang apa yang sedang terjadi, sambil memberikan mereka keteguhan iman dan menyanggupkan mereka untuk berseru “Datanglah ya, Tuhan Yesus” (22:20). Berikut ini adalah beberapa simbol dalam KWY dan artinya.

 

a. Penggunaan simbolis dari Angka:

Para ahli mengatakan bahwa umat pada masa Yohanes tidak mengalami kesulitan untuk memahami angka sebagai suatu jumlah kualitatif dan sekaligus sebagai angka yang juga mempunyai arti lain. Contoh: tujuh merupakan lambang kesempurnaan, enam (keadaan tujuh kurang satu) berarti ketaksempurnaan, duabelas adalah lambang suku-suku Israel atau Gereja sebagai Israel baru, empat adalah lambang dunia (ini berasal dari empat arah kompas – Timur, Barat, Utara dan Selatan), seribu adalah lambang keluasan, sedangkan empat puluh adalah lambang kecukupan.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan angka-angka simbolis dalam Kitab Suci. Kita ambil contoh angka empat puluh: Dalam kisah tentang Air Bah dikatakan bahwa hujan turun 40 hari dan 40 malam lamanya (Kej 7:17); Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun lamanya (Kel 16:35); Musa tinggal di atas gunung selama 40 hari dan 40 malam lamanya (Kel 24:18); Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam lamanya (Mt 4:2). Setiap angka 40 dalam kisah-kisah di atas tidak bisa dimengerti secara harafiah. Setiap angka 40 dalam kisah tsb. menunjukkan kecukupan waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang dimaksudkan.

 

b. Angka-angka dalam KWY:

Dalam KWY, angka tujuh (lambang totalitas atau kesempurnaan) muncul 54 kali. Ketika pengarang menyampaikan pesan kepada tujuh gereja di provinsi Asia (1:4), maka yang ia maksudkan tujuh Gereja adalah seluruh Gereja.

Dalam bab 5, pengarang menggambarkan Kristus sebagai seorang yang mempunyai tujuh tanduk dan tujuh mata. Dengan lukisan ini, pengarang mau mengungkapkan Kristus yang penuh kuasa (tanduk – senjata- adalah simbol kekuatan/keperkasaan) dan amat bijaksana (mata adalah simbol pengetahuan). Dalam KWY kita juga mendengar adanya tujuh gulungan kitab, tujuh malaikat, dan tujuh trompet. Angka dubelas muncul 23 kali, angka empat muncul 16 kali, dan angka seribu muncul 6 kali dalam bab 20.

Dalam KWY juga ditemukan penggunaan angka simbolis yang disebut gematria. Proses terjadi sebagai berikut: Huruf-huruf dalam bahasa Hibrani disusun menurut nilai bilangan. Karena itu ketika angka-angka dijumlahkan, maka mereka akan melambangkan sebuah nama. Ini menghantar kita kepada sebuah angka yang amat terkenal dan sering disalah mengerti di dlm seluruh KWY, yaitu 666.

Yang dimaksudkan Yohanes dengan 666 itu adalah Kaisar Nero pada zamannya. Pada bulan Juli tahun 64, kebakaran menimpa kota Roma. Dikatakan Kaisar Nero sendiri yang membakar sebagian kota Roma itu. Tapi kemudian ia menuduh orang Kristenlah yang melakukannya, dan dengan demikian ia mempunyai alasan untuk mulai melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen. Baik Petrus dan Paulus mati dibunuh di tangannya. Orang Kristen waktu itu tahu persis siapa yang bertanggungjawab atas kematian sahid dari dua rasul agung mereka (Petrus dan Paulus) dan menjadi awal penderitaan mereka. Orang Kristen melihat kekejaman dan kejahatan sebagai penjelmaan kekuatan setan. Karena itu, mereka mengidentifikasi kejahatan Kaisar Nero sebagai setan besar dan jahat seperti yang disebutkan Yohanes dengan nama binatang 666. Penjelasannya demikian: Kata Hibrani untuk Kaisar Nero adalah NRWN QSR. Dengan menjumlahkan nilai bilangan pada huruf-huruf Hibrani ini (N=50, R=200, W=6, N=50, Q=100, S=60, R=200) maka didapatlah angka 666. Jadi binatang jahat yang namanya 666 itu adalah Kaisar Nero yang menganiaya orang Kristen pada zaman Yohanes.

 

c. Binatang dari Laut:

Kemudian saya melihat seekor binatang buas keluar dari laut…” (13:1a). Ini adalah lambang kekaisaran Roma. Karena Romawi terletak di depan laut Mediteran. Menurut orang pada zaman Yohanes, laut merupakan lambang “chaos” (ketakberaturan, kekacauan), kejahatan dan pusat kekuasaan setan. Tujuh kepala pada binatang itu (13.1a) melambangkan tujuh bukit yang terkenal di Roma. Sedangkan sepuluh tanduk (13.1a) adalah para petinggi di provinsi-provinsi kekaisaran Roma yang biasanya memakai mahkota pada kepala mereka (13:1b), seakan-akan mereka adalah raja-raja kecil. Karena julukan ini dikenakan kepada Kristus, maka yang Kristus yang dimaksudkan adalah anti-Kristus, atau Kristus tandingan.

 

d. Penyembahan kepada Kaisar:

“Dan pada kepalanya terdapat nama-nama yang menghujat…” (13:1b). Hubungkan ini dengan bab ayat 4: “Mereka menyembah naga itu…. mereka juga menyembah binatang…” (13:4a, 4b). Yang dimaksudkan di sini adalah kultus penyembahan terhadap Kaisar Romawi pada waktu itu (NB: menurut kepercayaan orang kafir Romawi waktu itu, Kaisar adalah penjelmaan dewa dan karena itu ia harus disembah sebagai dewa). Jutaan orang Kristen abad pertama di Roma dianiaya dan dibunuh sebagai martir, karena mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai dewa.

 

e. Kaisar Nero bangkit lagi:

“Satu dari kepala-kepala binatang itu mengalami luka berat…”(13:3). Ini juga merupakan lukisan untuk Kaisar Nero. Nero dilukiskan sebagai “binatang bengis yang akhirnya luka” karena pada akhirnya masanya ia tidak terlalu populer. Para anggota senat menentangnya perihal penganiayaan terhadap orang Kristen. Ia malah akhirnya mati karena bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri.

Sebuah rumor kemudian beredar bahwa Nero tidak mati sungguh-sungguh, tapi akan hidup lagi dan kembali bertahta sebagai Kaisar Roma. Yohanes pengarang KW tidak percaya akan hal itu. Tapi ia percaya bahwa seorang Kaisar “Nero” yang lain bakal muncul lagi dan melanjutkan penganiayaan terhadap orang Kristen. Dan dia itu adalah Kaisar Domitianus.

 

f. Empat puluh dua bulan:

“Kekuasaan binatang-binatang itu hanya berlangsung selama empat puluh dua bulan…..“(13:5b). Ini adalah angka waktu simbolis yang melambangkan krisis besar atau penderitaan. Ia mendapat artinya dari tiga setengah tahun penganiayaan yang dilukiskan Nabi Daniel sewaktu orang Israel dibuang dan dianiaya di Babilon (Daniel 9:27, 11:31). Dan dari sejarah kita tahu, penganiyaan terhadap orang Kristen oleh Kaisar Roma perlahan-lahan berakhir pada abad III Masehi. Pada awal abad IV Kaisar Roma secara resmi menerima agama Kristen sebagai agama negara di seluruh Kekaisaran Roma.

 

g. Binatang dan Anak Domba:

Baik binatang maupun anak domba dilukiskan berada dalam keadaan luka berat (5:6 untuk anak domba, dan 13:3 untuk binatang). Kemudian Yohanes sang pengarang membuat perbandingan: Seperti anak domba (Kristus atau orang Kristen yang dianiaya) dibunuh dan kemudian bangkit, demikikian juga binatang kelihatannya mati tapi ia akan muncul lagi (17:8). Keduanya dikatakan mempunyai kekuasaan terhadap segala umat manusia, bahasa dan bangsa (13:7b). Roma pada waktu itu diakui sebagai penakluk dunia. Tidak ada satu kekuatan politik yang setara dengan Roma. Dengan itu kemudian Yohanes sang pengarang mau mengatakan bahwa betapa luasnya pengaruh iblis melalui kekaisaran Romawi yang kafir itu. Orang Kristen kemudian menyebut para penganiaya mereka sebagai Anti-Kristus yang nampak dalam wadah kekaisaran Roma yang kafir. Kaisar Nero dilihat sebagai penjelmaan iblis. Kaisar Domitianus dilihat sebagai kedatangan kembali Kaisar Nero yang sudah meninggal. Kaisar Domitianus (pengganti Nero) menuntut semua orang untuk menyembah dirinya sebagai dewa dan barangsiapa menolak maka dia akan dihukum mati.

 

h. Millennium:

Bilangan “seribu” tahun seperti yang disebutkan dalam bab 20 tidak bisa dimengerti dan ditafsir secara harafiah. Itu hanyalah sebuah angka awal dan akhir sebuah bilangan untuk menggambarkan suatu periode waktu yang amat panjang. Itu menggambarkan waktu sejarah antara Kebangkitan Yesus dan Pengadilan Akhir jaman. “Kemudian setan melihat seorang malaikat…Ia menangkap naga itu, ular purba, yaitu setan dan membelenggunya selama ribuan tahun…..”(20:1-2). Pengaruh setan kini terbatas kerena Jesus telah mengalahkan dosa dan kematian. “Bahagialah mereka yang mengambil bagian dalam kebangkitan pertama” (20:6a) Semua orang yang dibaptis mati bersama Kristus dan bangkit bersama Kristus. “Kematian kedua tidak menimpa mereka; mereka akan melayani Allah dan Kristus sebagai Imam…“20:6b). Artinya, umat beriman harus menderita kematian phisik (barangkali oleh kemartiran), tapi mereka akan melewati kematian kedua karena dosa dan dianugerahi karunia kehidupan kekal.

 

i. Setan dibebaskan:

Apa maksudnya ketika Yohanes mengatakan: “Setelah ribuan tahun berlalu, setan akhirnya dilepaskan dari penjara…”(20:7)? Apakah itu artinya bahwa Allah akan mengijinkan setan untuk meraja kembali di dunia yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus? Maksudnya: setan keras kepala dan ulet. Ia masih ada di antara kita, walau Yesus telah mengalahkannya. Ibarat setelah setelah mencapai kemenangan dalam peperangan, toh tetap masih ada banyak hal yang harus dibenahi. Demikian juga kita orang Kristen hendaknya selalu mengadakan pertobatan yang terus-menerus. ketika Yohanes mengatakan bahwa setan akan dibebaskan dia sesungguhnya melukiskan kenyataan ini. Kita tidak tidak begitu saja otomatis menjadi Kristen, kecuali melalui usaha pembaharuan diri yang terus-menerus. Bandingkanlah apa yang dikatakan Yesus dalam Injil Mateus: “Aku berkata kepadamu, Allah akan mengubah batu-batu ini menjadi anak-anak Abraham” (Mt 3:9), dengan wahyu Yohanes: “Mereka….. mengelilingi kota suci di mana umat Allah berkemah” (20:9b). Kemah pada hakekatnya tidak pernah tetap. Seperti orang yang berkemah, umat Allah adalah orang yang sedang dalam perjalanan. Mereka membutuhkan bantuan yang tetap dari Allah kalau mereka mau menjadi tujuan akhir pejalanan yaitu surga.

 

7. Kesimpulan

Pertama, pengarang Kitab Wahyu mau menyampaikan Sabda Tuhan kepada umat Kristen yang sedang dianiaya oleh kaisar kafir Romawi dalam bahasa-bahasa simbolis untuk menghindari tindakan angkara murka dari para penganiaya orang Kristen.

Kedua, mesti diakui bahwa karena bentuknya yang aneh dan tidak biasa ini, maka KWY ini dapat saja dimengerti/ditafsirkan salah. Hendaknya diingat bahwa kalau seseorang berbicara tentang iman Kristiani, maka ia harus selalu berbicara dengan melihat seluruh konteks ceritera Perjanjian Baru. Kalau orang melalaikan hal ini dan menafsir KWY secara harafiah, gambaran Kekristenan yang otentik akan hilang.

Orang yang terlalu terpikat dengan persoalan mengenai akhir zaman dapat menjadi buta terhadap kenyataan masa kini yang ada di depan mata mereka. Orang macam itu tidak akan tertarik untuk menjawab tantangan misi masa kini. Sebab kita perlu melihat dan membaca KWY dalam keseluruhan konteks Perjanjian Baru. Di dalam Injil, kita akan melihat bahwa Putera Manusia (Yesus Kristus) yang datang kembali, bukan hanya pada akhir jaman tapi juga sekarang ini di dunia ketika kita memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang dan rumah kepada yang tak berumah. Karena hanya orang yang semacam inilah yang sesungguhnya nanti berhak untuk menyerukan doa penutup dari wahyu: Datanglah, Tuhan Yesus (22:20).

 

 

– Berkah Dalem –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.