logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Jadwal Misa

Harian:
Senin-Sabtu 05.30 WIB (online)
Mingguan:
Sabtu sore 17.30 WIB
Minggu pagi 1 06.00 WIB
Minggu pagi 2 08.30 WIB (online)
Minggu sore 17.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

“Apa artinya pedang menjadi mata bajak?”

Salah satu nubuat nabi Yesaya adalah tentang tanda damai yang menyertai Mesias yaitu bahwa orang-orang akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak. Sungguh suatu lambang damai yang mengagumkan. Ketika para petani bersiap untuk menanam benih mereka pada musim tanam, mereka harus menggemburkan tanah. Setelah musim tuai, tanah menjadi keras dan kering. Jika benih-benih itu hanya sekedar dilemparkan ke atas tanah, maka burung-burung akan datang serta memakannya. Jadi, tanah harus dibajak terlebih dahulu.

Bajak mula-mula hanya berupa tongkat berujung runcing. Setelah mengalami perkembangan, bajak menjadi semacam kereta yang dapat ditarik oleh binatang. Masalah utamanya adalah bahwa kayunya cepat sekali menjadi aus. Jadi, seseorang di Timur Tengah sana mendapat ide untuk memasang tongkat logam di bagian depan bajak. Logam yang baik selain jarang, juga mahal harganya. Kebanyakan orang hanya mampu membeli sepotong saja. Jadi, ketika terjadi perang, mata-mata bajak harus dilebur dan ditempa menjadi mata-mata pedang. Ketika keadaan damai, proses sebaliknyalah yang terjadi. “Pedang ditempa menjadi mata bajak” menjadi lambang perubahan dari keadaan perang ke damai. Sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.