Belajar Iman Katolik: Sakramen Baptis

Tanda kesatuan dengan Kristus: Hidup & Wafat-Nya

St. Paulus menegaskan: ”Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (Rom 6:3).Pembaptisan adalah langkah awal ke arah kesatuan dengan Kristus dalam hidup dan wafat-Nya. Kesatuan dengan Kristus itu dihayati dalam Gereja. Pembaptisan juga berarti bahwa seseorang menjadi anggota Gereja. Karena itu, pembaptisan juga disebut INISIASI KRISTEN. Dengan pembaptisan, orang diinisasi/diantar/dipersatukan dlm Gereja sebagai anggotanya.

Tiga Tahap Inisiasi

Menjadi orang Katolik memerlukan suatu proses. Langkah I adalah katekumenat yaitu masa persiapan dengan pelajaran-pelajaran dan upacara-upacara kecil (tahap I & tahap II) yg bersifat sakramentali. Pada tahap I, katekumen diperkenalkan kepada umat lingkungan. Maka penting untuk menegaskan hal tsb. bahwa katekumen harus mengenal dan dikenal oleh umat lingkungannya. Mengapa? Karena lingkungan menjadi basis untuk paguyuban umat beriman. Pada tahap II, katekumen diurapi dengan minyak katekumen (Oleum Cathecumenorum) sebagai tanda bahwa katekumen tsb. semakin pantas dan siap menyambut sakramen baptis sebagai tahap akhir katekumenat.

Pada zaman awal kekristenan, para katekumen tidak diperkenankan ikut pada bagian liturgi Ekaristi. Mereka hanya diperbolehkan mengikuti perayaan kudus itu sampai pada bagian liturgi Sabda saja.  Sesudah dibaptis, barulah mereka boleh mengikuti Ekaristi secara penuh.

Secara liturgis, tata urutan kuno waktu itu berlangsung demikian: Sesudah orang dibaptis, ia dihadapkan kepada Uskup untuk diurapi dengan krisma yaitu ”minyak zaitun atau minyak lain yang diperas dari tetumbuhan” (KHK kan. 847). Upacara itu kemudian disebut sebagai Krisma. Sekarang istilah itu disebut Sakramen Penguatan. Selanjutnya, mereka diperbolehkan mengambil bagian dalam Ekaristi yg dipandang sebagai langkah terakhir dari proses inisiasi. Dengan demikian, ada tiga sakramen dalam proses menjadi orang Kristen yaitu: Pembaptisan, Penguatan dan Ekaristi.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketiga sakramen inisiasi itu dipisahkan satu dari yg lain. Banyak orang dibaptis beberapa hari sesudah lahir (baptis bayi). Setelah orang dewasa dibaptis, biasanya akan dilanjutkan dengan mistagogi (pendalaman dan pemantapan iman). Adapun sakramen Penguatan baru diterima bila seseorang sudah menjadi remaja/dewasa. Pada waktu itu, orang biasanya sudah menerima ”komuni pertama” dan telah lama mengikuti Ekaristi. Bila orang sudah digabungkan dalam Gereja semenjak bayi, maka tahap selanjutnya bila telah cukup usia (9/10 th) ia harus mengikuti pelajaran untuk komuni I agar bisa menyambut komuni kudus dalam Ekaristi. Setelah itu, dilanjutkan tahap terakhir yaitu Penguatan.

Bagi mereka yang akan menikah, salah satu syarat yang patut untuk diperhatikan adalah kelengkapan sakramen inisasi: baptis, komuni I atau Ekaristi dan Penguatan. Oleh karena itu diharapkan supaya sakraman penguatan juga diterima dalam kegenapan sakramen inisiasi tsb. Bila tidak memungkinkan, setelah menikah hendaknya yang bersangkutan pada saat yang tepat mengikuti pelajaran untuk sambut sakramen penguatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.