“Menjadi Penjala Manusia: Siapa Takut?”

Menjadi penjala manusia? Apaan tuh? Bagaimana mungkin? Tentu saja itu adalah ungkapan simbolis. Maksud dari menjala manusia tiada lain adalah membawa sebanyak mungkin orang untuk mengenal dan mencintai Allah yang dinyatakan secara khusus dalam pribadi Yesus Kristus. Dalam hal ini, kualitas dari sang penjala itu juga terkait erat. Yesus-bertemu-muridnyaKualitas apa? Tiada lain adalah kualitas iman dan moral. Dari sisi iman, tentulah sang penjala harus mempunyai kedalaman tertentu karena relasinya dengan Yesus. Kalau dia tak punya relasi yg akrab, mustahil mampu. Relasi itu dimulai dengan mau bertobat sebagaimana diserukan oleh Yesus dalam Injil hari ini dg melanjutkan apa yg telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Dari sisi moral, sang penjala harus menunjukkan bhw ia layak dipercaya baik perkataan maupun perbuatan. Kita semua juga dipanggil menjadi murid-murid Yesus dg salah satu tugasnya menjadi penjala manusia. Artinya, menjadi murid Yesus juga harus melaksanakan karya misioner dan bukan hanya berhenti pokoknya aku sudah menjadi murid Yesus. Kalau kita tidak melaksanakan tugas misioner, itu sama artinya bahwa kita mengingkari jati diri Gereja yang adalah misioner: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Pertanyaan mendasar bagi kita semua: Kalau aku juga dipanggil menjadi penjala manusia, sudahkah aku menghidupi kualitas iman dan moral dengan benar? Mari kita tak usah berkecil hati agar meskipun minoritas dalam kuantitas tetapi semakin mayoritas dalam kualitas. Semoga kesaksian hidup kita setiap hari sebagai orang Katolik menjadi tanda kualitas iman dan moral yang semakin kredibel. Siapa takut?***d2t

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.