Krisis Dalam Musik Gereja

Festival Paduan Suara HUT Paroki ke 48th

-Karl-Edmund Prier SJ- (Majalah Liturgi, Tahun 2013, No. 4)

Minggu pagi dalam adalah satu gereja Katolik di kota Yogyakarta. Kor dari salah satu lingkungan siap untuk bertugas, organis pun siap. Namun waktu perarakan masuk, gereja baru berisi 50%. Nyanyian umat tipis karena umat tersebar dalam gereja yang besar hingga suaranya kurang bersatu. Kor lingkungan dan organ memang berusaha untuk mendukung nyanyian umat, namun terdengar kurang semangat juga. Organis pun kurang semangat: untuk semua lagu dalam misa ini dipakai register yang sama yakni register ORGAN II pada organ Yamaha EL-100. Bunyinya amat berat, maka nyanyian pun jadi berat.Festival Paduan Suara HUT Paroki ke 48th
Itulah masalah ke-1 dalam krisis musik liturgi: Para petugas kurang bersemangat. Memang hari Minggu tgl 9 Juni 2013 “hanyalah” Minggu biasa. Mengapa harus report-repot? Maka tugas kor, organis dan pemazmur dijalankan sebagai tugas rutin. Tetapi bukankah tiap hari Minggu kenangan Paska? perayaan kebangkitan Kristus? – Dalam nyanyian di gereja tidak terdengar semangat Paska, tetapi kesan bahwa semua petugas melaksanakan tugas saja yang kebetulan diberikan kepada mereka. Sayang.
Sebenarnya sudah lumayan bahwa di antara penyanyi kor lingkungan ada seorang yang mau menjadi dirigen dan yang mau mengiringi dengan organ. Maka salah juga bila dituntut dari mereka pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Tetapi de facto dengan dirigen dan organis amatir mutu musik gereja mau tidak mau makin turun. Apa lagi bila dituntut dari mereka tanggung jawab, disiplin, ketepatan waktu, latihan ekstra. Karena semua hanya mengisi tugas saja secara sukarela. – Tetapi siapa yang ‘memiliki’ musik gereja? pastor paroki? dewan paroki dengan seksi liturgi? – Jelas musik liturgi adalah milik bersama seluruh paroki. Namun kesadaran itu belum tumbuh. Kalau kor, dirigen, organis pemazmur, prodiakon, lektor, putra altar hanya ‘mengisi tugas’, maka mereka semua masih bersikap perorangan sebagai ‘aku’, bukan sebagai ‘kami’ / ‘kita’. Belum ada kesadaran bahwa Gereja adalah ‘kita’ bersama-sama. Akibatnya tidak ada keinginan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan; belum, ada kesadaran bahwa mutu musik liturgi tergantung dari kita semua! Mutu musik liturgi dapat ditingkatkan misalnya dengan diadakan penataran / pelatihan dirigen, kor dan pemazmur; bisa dirintis bahwa organis ikut Kursus Organ; bisa direncanakan bahwa umat pun secara berkala dilatih dengan nyanyian baru.

Itulah masalah ke-2 dalam krisis musik gereja: Kurang pengetahuan dan ketrampilan hingga mutu musik dalam gereja turun terus.
Meski di Indonesia umumnya dipakai buku nyanyian seperti Madah Bakti dan Puji Syukur, namun makin lama terdengar juga lagu-lagu lain dalam gereja: lagu berbahasa Inggris, lagu karismatik / pop, lagu-lagu rohani yang tidak diciptakan untuk liturgi. Memang dapat dimengerti bahwa para dirigen kor berusaha untuk menyegarkan latihan kor dengan melatih lagu baru sebagai daya tarik untuk anggota kor. Ternyata lagu-lagu baru beredar sebagai fotocopy atau didownload dari internet; ada juga lagu yang diciptakan sendiri sebagai ‘sumbangan untuk musik gereja’. Ternyata praktis tidak ada larangan untuk memakai lagu baru misalnya untuk komuni dan / atau Misa Pernikahan. Ternyata banyak pastor pun berkata ‘terserah, asal kamu senang’ (karena mereka juga kurang kompeten untuk menilai lagu kor). Situasi ini dilatar belakangi karena disangka bahwa sekarang tidak ada larangan tentang apa yang boleh masuk ke dalam Gereja, entah itu band, tarian, teater, video.
Memang Gereja berusaha untuk membuka jendela / aggiornamento sebagai Gereja untuk zaman sekarang, dengan memakai bahasa yang dimengerti umat; untuk membantu mengatasi persoalan yang dihadapi umat dalam dunia modern. – Namun betulkah bahwa umat mengharapkan hiburan dalam Gereja? Betulkah bahwa kita bisa mengatasi masalah dengan gembira ria? Paling-paling bila tiba di rumah dan berhadapan dengan masalah-masalah riil, kebahagiaan tadi sudah hilang.
Liturgi memang bukan apa yang kita berbuat, tetapi apa yang dikerjakan Tuhan pada kita dan bagi kita. Dan itu sering berbeda dengan apa yang kita cita-citakan. Meski liturgi harus memakai bahasa zaman sekarang namun ini tidak berarti bahwa nyanyian liturgi harus profan. Justru dari perjumpaan dengan Allah yang mahasuci harapkan bantuan untuk hidup kita. Artinya sangat penting bahwa liturgi tetap sakral, suci, transparan kepada Allah agar kita dapat disentuh oleh-Nya.

 Ini masalah ke-3 dari krisis musik gereja: Musik liturgi kehilangan dayanya, kehilangan sifat sakral. Kita jatuh dalam perangkap sekularisasi / anggapan bahwa kita dapat membuat diri kita selamat.
Sebaliknya, akhir-akhir ini memang terdengar suara dari Vatikan di Roma, dari KomLit KWI di Jakarta dan dari KomLit keuskupan bahwa musik liturgi harus ditertibkan: mulai dengan Amin pada Anamnesis dan Bapa kami yang salah tempatnya; dengan desakan untuk memakai lagi bahasa Latin / nyanyian Gregorian, dengan disusun katalog lagu perkawinan yang diperbolehkan maupun yang dilarang.
Di satu pihak maksudnya bisa dimengerti. Gereja mulai memberi pengarahan untuk melawan anggapan bahwa ‘sekarang apa pun boleh’. Namun di lain pihak nampak bahwa tekanan pada peraturan / rubrik dapat melumpuhkan semangat para petugas liturgi maupun umat. Apalagi sangat kurang bijaksana kalau dalam misa di gereja pastor di altar berkomentar negatif tentang lagu yang sedang dinyanyikan atau malah menyetopnya. Dengan demikian suasana doa, suasana perayaan, ‘mistik dari liturgi sukar dihayati. Padahal pembaharuan liturgi oleh Konsili Vatikan II secara eksplisit menegaskan bahwa pembaharuan liturgi bersifat pastoral, bukan normatif; bahwa liturgi merupakan perayaan iman– bukan suatu upacara formal.

 Inilah masalah ke-4 dari krisis musik Gereja: Tekanan pada peraturan-peraturan yang mematikan semangat para petgusa musik liturgi maupun umat.
Ternyata masalah-masalah ini tidak hanya terdapat di Indonesia saja. Di lain tempat juga terdengar keluhan yang sama, bahkan ada negara dimana gereja pada hari Minggu kosong karena umat sudah bosan mengalami liturgi yang kering, kurang mengesankan, statis.

Apa yang dapat dibuat?

1. Berusaha agar liturgi bersuasana hidup dan bersemangat. Bukan dengan menirukan gerakan Karismatik, tetapi dengan berusaha agar Tuhan menyentuh hati. Bagaimana caranya? Pertama-tama dengan memperkaya liturgi dengan saat-saat hening. Tuhan ingin menyentuh hati kita, membuat suatu ‘impresi’. Sama seperti sebuah gong yang harus dipukul dulu agar ia mengeluarkan bunyi. Biarkanlah Tuhan menyentuh dulu hati kita (mis. dalam keheningan sebelum misa dimulai dan pada saat-saat hening lainnya). Baru kemudian iman yang timbul di hati dapat diungkapkan dalam nyanyi. Terdengar dengan jelas apakah hati para penyanyi tersentuh oleh Tuhan hingga berbunyi bulat sebagai gong, nyaring seperti bel.
Menarik apa yang ditemukan oleh para ahli neurologi (spesialis otak) baru-baru ini tentang otak / budi manusia: otak menjadi kreatif dan hidup bila manusia bersemangat. Katanya dengan demikian dicetuskan suatu substans ke dalam otak yang berkarya seperti pupuk di ladang.- Sangat penting bahwa liturgi menjadi suatu perayaan (bukan suatu upacara) untuk menyalakan semangat kita. Nyanyian dan musik jelas main peranan penting di sini – asal kita membiarkan disentuh oleh Tuhan – dan tidak menciptakan sendiri semangat misalnya dengan membawa band ke dalam gereja.

2. Meningkatkan pengetahuan tentang musik liturgi  dan ketrampilan sebagai dirigen, penyanyi, organis, pemazmur. Bagaimana caranya? Ya dengan latihan-latihan yang tekun, dengan melawan anggapan ‘saya sudah cukup terlatih’ atau dengan kata lain: karena kita malas. Semangat tidak jatuh dari langit, tetapi perlu persiapan seperti teknik nyanyi, ketrampilan jari dsb.
Untuk itu ada buku / sarana seperti “Menjadi dirigen”, “Menjadi organis”, “Roda musik liturgi”, majalah “WARTA MUSIK”. Bukan untuk dibaca seluruhnya, tetapi dengan mencoba langsung tips-tips yang disarankan di situ. Tentu saja selain usaha perorangan ini sangat membantu juga bila diadakan penataran kor selama 1-2 hari. Dengan nyanyi bersama biasanya timbul semangat / ‘pupuk’ untuk mengatasi rasa frustirasi dan kecil hati.

3. Belajar dari saudara kita yang beragama Muslim. Tiap hari terdengar “Allahu akbar” / “Allah maha besar”. Dalam agama Islam tidak ada sekularisasi, tetapi iman mereka nampak dalam sikap badan, dalam pakaian khusus yang membantu mereka dalam berdoa.Hanya kalau kita punya faham tinggi tentang Allah, liturgi kita akan berarti dan hidup kita akan berubah. Hanya dari Tuhan nyanyian kita akan memperoleh ‘isi / hidup dan akan menjadi pewartaan sejati. Untuk itu kita tidak usah berziarah ke Mekah, ke Yerusalem, ke Roma dan Lourdes. Kita percaya bahwa Allah menjelma dalam Putra-Nya Yesus yang sanggup: “Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah mereka”. Tinggal kita hayati janji Tuhan, tidak hanya di gereja tetapi juga dalam latihan kor.

4. Di Indonesia situasi musik Gereja sebenarya sangat diuntungkan bila dibandingkan dengan situasi di Eropa dan AS. Karena Indonesia sangat kaya dalam budaya yang hidup. Atas dorongan Konsili Vatikan II selama 50 tahun terakhir telah berkembang ratusan lagu liturgi yang khas Indonesia yang disebut ‘inkulturasi’. Syair dari lagu-lagu ini membawa ciri hidup dari zaman sekarang; melodi dan irama hidup dan tidak kalah menarik dibandingkan dengan lagu-lagu pop rohani. Lagu-lagu inkulturasi diciptakan untuk liturgi, lahir dari kelompok orang sebagai ungkapan iman zaman sekarang di Indonesia. Sayang bahwa lagu-lagu ini kurang dikenal (karena dicap sebagai ‘Made in Indonesia”). Namun ternyata melalui lagu-lagu ini kita dapat mengungkapkan identitas kita sebagai orang Jawa, Flores, Batak, Dayak, Maluku, Papua bahkan Tionghoa. Dan lain dengan lagu-lagu lain yang dibuat secara amatiran, lagu-lagu inkulturasi tidak diciptakan secara perorangan tetapi bersama-sama dalam Lokakarya komposisi dan kemudian disyahkan. Ratusan lagu baru ini bagaikan suatu bunga rampai; tinggal kita memilih mana yang dirasa cocok untuk menyentuh hati.

Meski musik Gereja adalah dalam krisis, namun kita tidak usah frustrasi. Memang krisis ini serius dan kalau kita tidak ambil langkah yang tepat, bisa menjadi fatal. Tinggal dilihat masalah-masalah tadi, dibicarakan strategi yang dapat dibuat. Makin cepat kita mulai, makin baik. Namun jangan lupa juga apa yang dikatakan dalam konstitusi liturgi: “Musik gereja merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian liturgi meriah yang penting atau integral”. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.