Mimbar Sabda,Transfigurasi Dan Lilin Paskah

-Berthold Anton Pareira,O.Carm.- (Majalah Liturgi, Tahun 2013, No. 4)

Apa hubungan antara Mimbar Sabda dengan Transfigurasi?
Lomba_48Thn_0040
Berbicara tentang Mimbar Sabda berarti berbicara tentang tempat pewartaan sabda.[1] Mimbar sabda adalah tempat pemakluman Sabda Allah baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru. Menurut hemat saya kita masih kurang merenungkan arti tempat ini dan memberi penghormatan yang sepantasnya kepadanya.Mimbar ini kerap dijadikan tempat pengumuman,sambutan dan lelucon. Bila ada gereja yang mempunyai tempat pengumuman tersendiri, bentuk dan segala-galanya yang lain biasanya sama saja dengan Mimbar Sabda. Kedua mimbar ini dengan demikian bisa ditukar. Belum ada teologi tentang Mimbar Sabda. Lain halnya dengan para pendahulu kita dalam iman khususnya dari Gereja-gereja Timur. Mereka memiliki rasa misteri yang mendalam. Liturgi adalah perayaan misteri-misteri besar iman kita. Kita kurang sadar akan hal itu sehingga omongan kita hanya tentang peraturan-peraturan ini itu, boleh atau tidak dan seterusnya. Teologi tidak mendapat tempat.
Mimbar Sabda harus lebih tinggi dari ruang gereja tempat umat berada. Petugas-petugas (lektor,pemazmur dan diakon/imam) yang menyampaikan sabda Allah dengan demikian harus naik ke mimbar untuk melaksanakan tugasnya. Dahulu mimbar sabda ini disebut ambo yang berasal dari kata ambainein,anabainein artinya naik ke tempat yang lebih tinggi, naik ke atas. Hal ini tampak dengan jelas sekali dalam gereja-gereja kuno. [2][3]
Tempat pemakluman sabda Allah yang kelihatannya sederhana ini sebenarnya memiliki arti yang mendalam.Petugas-petugas yang naik mimbar dapat dibandingkan dengan murid-murid yang dibawa oleh Tuhan Yesus naik sebuah gunung yang tinggi. Di sana Dia berdoa dan menyatakan kemuliaan-Nya.Apa yang terjadi dalam peristiwa Transfigurasi ini sekarang terjadi kembali secara penuh rahasia ketika ada Perayaan Sabda. Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?

Transfigurasi adalah pernyataan kemuliaan Yesus. Musa dan Elia tampak bersama Yesus dalam kemuliaan-Nya ini. Mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31).Tak dapat disangkal lagi bahwa dalam peristiwa Transfigurasi ini “kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (Luk 24:27;bdk 24:44) atau Perjanjian Lama berhubungan erat dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama juga berbicra tentang misteri Paskah Yesus. Misteri ini adalah pusat seluruh Kitab Suci (bdk Luk 24:13-27). Itulah yang terjadi di Mimbar Sabda pada liturgi sabda kita sekarang ini. Ada perayaan!
Para murid tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu “sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati”(Mrk 9:9). Transfigurasi dengan demikian memberitakan misteri Paskah. Masih terjadi hal lain dalam peristiwa ini. Baiklah kita melihatnya dengan segera.

Inilah Putra-Ku yang terkasih,dengarkanlah Dia!
Dalam peristiwa Transfigurasi suatu rahasia disampaikan kepada kita. Allah Tritunggal menyatakan diri-Nya.Pada waktu itu “datanglah awan menaungi”murid-murid.Awan adalah lambang kehadiran Allah. Sebagaimana Roh Kudus menaungi Maria, demikian sekarang awan ini menaungi para murid.Lalu dari dalam awan itu terdengar suara Bapa,”InilahAnak-Ku yang terkasih,dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7).Allah Tritunggal menyatakan diri dalam peristiwa ini secara penuh rahasia dan hanya satu hal yang mau dinyatakan kepada kita yakni supaya kita mendengarkan Putra-Nya.
Undangan ini selalu disampaikan kembali kepada kita setiap kali Injil diwartakan! Tuhan Yesus sendiri berbicara dengan kita. Ketika Injil dibacakan, Kristus hadir dan berbicara dengan umat-Nya. Itulah iman Gereja.

Meja Sabda sebagai ikon ruang pewartaan kebangkitan
Ada yang melihat Meja Sabda sebagai ikon dari kubur Kristus atau lebih tepat ikon dari tempat di mana Kebangkitan Tuhan Yesus itu pertama kali diberitakan. Malaikat Tuhan datang dan memberitakan tentang kebangkitan Tuhan. Ambo merupakan tempat yang menjadi sarana mewartakan kebangkitan. Menurut Uskup Germanus I dari Konstantinopel/Istambul (+733) ambo merupakan “ikon dari makam suci; malaikat menggulingkan batu dan berdiri di sana untuk mewartakan kebangkitan Tuhan kepada perempuan-perempuan yang penuh keheranan”[4]. Dari tempat inilah sekarang imam atau diakon membuka Kitab Suci/Evangeliarium dan mewartakan kerigma (kabar) kebangkitan yang membentuk Gereja.
Karena Meja Sabda adalah ikon dari tempat pewartaan Kebangkitan Tuhan, maka Madah Paskah pada Malam Paskah haruslah dinyanyikan dari tempat ini. Seluruh Liturgi Sabda diwartakan dari tempat yang sama ini pula.

Di mana lilin Paskah harus ditempatkan?
Biasanya orang masih bingung di mana lilin Paskah harus ditempatkan,dekat altar atau di tempat lain.Menurut tradisi harus ditempatkan di samping Mimbar Sabda dan memang sepantasnya demikian.
Dari mimbar inilah kita menyanyikan Pujian Paskah pada Malam Paskah. Pada malam inilah Kristus mematahkan belenggu maut dan bangkit sebagai pemenang dari alam maut. Kristuslah Cahaya dunia. Barang siapa mengikut Dia, orang itu tidak akan berjalan dalam kegelapan, tetapi akan memperoleh cahaya kehidupan (Yoh 8:12). Dialah bintang kejora yang tak kunjung terbenam. Kini Ia menerangi umat manusia dengan cahaya-Nya.
Lilin Paskah harus ditempatkan di samping Mimbar Sabda sebab Kitab Suci memberitakan misteri Paskah. Berulang-ulang setelah kebangkitan-Nya Kristus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dan menerangkan misteri  Paskah-Nya kepada mereka menurut Kitab Suci (Luk 24:13-35,44-49;bdk Kis 1:3). Dia bahkan mengembuskan Roh-Nya sendiri pada hari Raya Paskah agar mereka (dan kita) dapat memahami segala sesuatu yang telah dikatakan dan dikerjakan-Nya dan menjadi saksi-Nya (Yoh 20:19-23). Karena murid-murid belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari orang mati inilah, maka pada hari pertama minggu itu mereka menjadi bingung ketika mendengar berita kubur Yesus kosong (Yoh 20:9).Mereka pergi ke kubur,tetapi hanya salah satu murid yang menangkap tanda-tanda karya Allah. Liturgi adalah suatu perayaan misteri-misteri iman dalam tanda-tanda dan harus menjadi mistagogi ke misteri-misteri iman kita.
Paulus merumuskan iman Paskah itu sebagai berikut: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga,sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3-4). Kitab Suci memberitakan misteri Paskah. Lilin Paskah yang menjadi tanda Kristus Cahaya dunia dengan demikian pantas berada di samping Mimbar Sabda.


[1] Bdk Albert Gerhads,”Dem Wort Gottes Gestalt geben,” dlm. Bnedikt Kranemann-Thomas Sternberg (Hrsg..), Wie das Wort Gottes feiern(Freiburg im Breisgau:Herder,2002),146-165.

[2]Bdk Salvatore Grisanti-Maria Antonietta Spinosa,”L’Ambone della cattedrale di Cefalù,” Horeb 35/XII(2003/2),90-96

[3] Kamus Inggris Oxford menerangkan arti kata ambo sebagai “pulpit in early christian churches”, sedang sebuah kamus Jerman mengartikannya dengan sedikit lebih jelas yakni “erhöhtes Lesepult frühchristlichen Kirchen, Vorläufer der Kanzel).

[4] Bdk Salvatore Grisanti-Maria Antonietta Spinosa, art.cit, 93.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.