JANGAN Bertanya MENGAPA!

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.

jangan-banyak-bertanyaSetelah Misa Sabtu sore pada tanggal 14 Desember 2013, aku meluncur ke sebuah rumah sakit di Tangerang untuk mengunjungi seorang ibu. Ibu itu berusia lima puluh empat tahun. Ia menderita kanker usus stadium tiga dan telah menjalani operasi. Pengaruh kemoterapy membuatnya lemah dan terbaring di rumah sakit.

Aku terkejut dengan keadaannya yang sangat berbeda dari keadaannya dua tahun silam pada waktu aku bertemu dengannya dalam retret perutusan Kursus Evangelisasi Pribadi. Aku mengenalnya sebagai seorang wanita yang energik, cekatan, dan ceria. Di dalam benaknya hanya ingin berbuat sesuatu bagi sesamanya. Semuanya itu telah hilang dan berubah menjadi kemuraman. Wajahnya pucat dan matanya tak menyinarkan setitik harapan. Rupanya penyakit itu telah menghancurkan jiwanya.

Di dalam kesedihanku, aku menawarkan kepadanya Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Perminyakan Suci. Mukjizat terjadi setelah ia menerima kedua sakramen tersebut. Keceriaannya yang telah hilang muncul kembali. Wajahnya menjadi berbinar-binar. Pernyataannya menyentakkan aku: “Ketika aku menjadi tangan kanan bosku di perusahaan, aku tidak bertanya kepada Tuhan mengapa posisi ini dianugerahkan kepadaku. Saya kini juga tidak bertanya lagi kepada Tuhan mengapa penyakit kanker ini menderaku, tetapi bagaimana aku memandangnya sehingga aku tidak jatuh dalam keputusasaan”. Kuasa Allah telah membangkitkan imannya kembali. Kami pun menyanyikan lagu “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara” :

Allah kuasa melakukan segala perkara
Allahku Maha Kuasa
Dia ciptakan seisi dunia
Atur sgala masa
Allahku Maha Kuasa

Setelah menyanyikan lagu itu, ia mengungkapkan permenungannya dalam rangkaian kata-kata indah: “Penyakit kanker ini mengingatkan aku akan makna kehidupan. Kehidupan adalah perjalanan pulang ke rumah Allah Bapa. Semakin lama dalam menempuh perjalanan itu, aku menyadari banyak barang yang tak berguna yang memberatkan langkahku, yaitu dosa-dosaku selama ini. Aku mengikisnya dengan mohon pengampunan kepada Allah atas dosaku dan mengampuni orang-orang yang telah melukai aku. Kini kakiku sangat ringan, tanpa beban, dalam meniti setiap langkahku menuju rumah kekal”.

Tepat satu bulan kemudian, yaitu tanggal 14 Januari 2014, aku bertemu dia kembali dalam acara pengajaran “Bapa Kami” di Lingkungan Helena. Ia nampak sangat sehat walaupun masih menjalani proses kemoterapy. Katanya: “Kini aku tidak melihat kematian, tetapi kehidupan yang membahagiakan di Surga. Dalam masa penantian ini, aku melakukan pengabdian yang aku bisa, yaitu sebagai bendahara lingkungan, dengan ketulusan. Ketenangan jiwa menyirnakan segala ketakutan dan kesakitan karena aku tahu siapa yang aku tuju”. Ia kemudian memintaku untuk mendoakannya agar ketenangan jiwanya ini bertahan sampai pada kesudahannya.

Pesan bagi kita yang sedang dan mungkin akan menghadapi banyak masalah dalam kehidupan: Dengan menjalani hidup ini, baik suka maupun duka, kita telah menghargai kehidupan. Menghargai kehidupan nampak dalam mensyukuri apapun yang terjadi. Bersyukur mendatangkan kebahagiaan. Jika kita bahagia, kita akan senantiasa merasa baik. Nasihat Santo Petrus menguatkan kita: “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (1 Petrus 5:10).

Tuhan memberkati.

Sumber : www.katolisitas.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.