Tentang Kemiskinan

Ada pertanyaan masuk ke redaksi Katolisitas, tentang apakah itu ‘teologi kemiskinan’?

indian proverty

Menurut pengetahuan kami kemiskinan itu bukan suatu aliran teologi yang khusus/ istimewa sehingga dapat disebut sebagai ‘teologi kemiskinan’. Pada saat Inkarnasi-Nya di dunia, Tuhan Yesus memang memilih untuk menjadi Seorang yang miskin, namun Ia tidak mengecam kepemilikan harta benda. Meskipun begitu, Kristus sering mengajarkan bahwa terdapat bahaya yang ditimbulkan dari kekayaan, yang dapat diumpamakan sebagai semak belukar yang mematikan benih firman (lih. Mat 13:22). Selanjutnya, Kristus menasehati orang muda yang kaya, yang ingin memperoleh hidup kekal, yaitu agar ia menjual segala miliknya dan membagikan hasilnya kepada fakir miskin (lih. Mat 19-16-21). Atas dasar ini, maka melepaskan keterikatan dengan kepemilikan harta duniawi menjadi bagian dari praktek kehidupan asketism Kristiani, sebagaimana terlihat di biara-biara Katolik sampai saat ini.

Nah, maka orang bertanya apakah kemiskinan ini menjadi tujuan dari kebajikan yang istimewa? Nampaknya bukan. Sebab untuk disebut sebagai tujuan kebajikan, sesuatu itu harus dari dirinya sendiri, layak dipuji dan terhormat. Padahal kemiskinan itu, bukan merupakan sesuatu yang baik dari dirinya sendiri, tetapi hanya baik, karena berguna untuk menghapuskan penghalang bagi seseorang untuk mengejar kesempurnaan rohani[1]. Maka praktek kemiskinan memperoleh jasa/ kelebihannya dari motivasi luhur yang melatarbelakanginya, dan dari kebajikan-kebajikan yang dilakukan sehubungan dengan pengorbanan yang menyertainya.

Maka kemiskinan yang dipilih dengan sukarela adalah salah satu nasehat Injil. Kemiskinan yang dimaksud di sini bukanlah keharusan absolut untuk mengorbankan semua yang menyangkut kepemilikan, tetapi adalah pengabaian semua yang berlebihan. Maka ini menyangkut ketidakterikatan akan keinginan terhadap kekayaan, memotong keinginan terhadap kemewahan, terhadap kemuliaan yang sia-sia dan membebaskan diri dari perhatian terhadap barang-barang duniawi. St. Thomas Aquinas menyebutkan bahwa tiga penghalang bagi orang kaya untuk mencapai kesempurnaan adalah nafsu akan kekeyaan, kemuliaan yang sia-sia dan kekhawatiran yang berlebihan[2]. Tingkat kesempurnaan mensyaratkan bahwa sikap ketidakterikatan terhadap kekayaan tersebut harus dijadikan sebagai karakter yang tetap. Dalam dalam prakteknya, inilah yang mengakibatkan adanya kaul kemiskinan dalam kehidupan membiara. Namun demikian, ajaran dan nasehat Yesus tetap berguna bagi mereka yang tidak menjalani kaul untuk mencapai tingkat kesempurnaan tersebut. Sebab nasehat ini mengajarkan orang untuk menyederhanakan keinginannya terhadap kekayaan dan untuk menerima dengan suka cita segala bentuk kehilangan ataupun penarikan diri terhadap kekayaan. Dan ajaran ini mengarahkan kita kepada sikap ketidakterikatan terhadap banda-benda duniawi, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33)

Sumber : www.katolisitas.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.