logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Jadwal Misa

Harian:
Senin-Sabtu 05.30 WIB (online)
Mingguan:
Sabtu sore 17.30 WIB
Minggu pagi 1 06.00 WIB
Minggu pagi 2 08.30 WIB (online)
Minggu sore 17.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

Menjadi Manusia berarti Menjadi Pengasuh Bagi Satu Sama Lain

Berikut adalah homili Paus Fransiskus dalam misa untuk Perdamaian:

Paus_Fransiskus

Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (Kej 1:12, 18, 21, 25).

Kisah Alkitab tentang awal sejarah dunia dan umat manusia berbicara kepada kita tentang Allah yang melihat ciptaan, dalam artian merenungkan hal itu, dan menyatakan: “Itu baik”. Hal ini, saudara-saudari terkasih, memungkinkan kita untuk masuk ke dalam hati Allah dan, dengan tepat dari dalam diri-Nya, untuk menerima pesan-Nya.

Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: apa artinya pesan ini? Apa yang dikatakan kepada saya, kepada kalian, kepada semua dari kita?

1. Yang dikatakan kepada kita secara sederhana bahwa ini, dunia kita, di hati dan pikiran Allah, adalah “rumah harmonis dan damai”, dan bahwa itu adalah ruang di mana setiap orang dapat menemukan tempat mereka yang tepat dan merasa “di rumah”, karena hal itu”baik”. Semua ciptaan membentuk persatuan yang harmonis dan baik, tetapi di atas semua umat manusia, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, adalah satu keluarga, di mana hubungan-hubungan relasi ditandai dengan sebuah persaudaraan sejati yang tidak hanya dalam kata-kata: orang lain adalah saudara atau saudari untuk kasih, dan hubungan relasi kita dengan Allah, yang adalah kasih, kesetiaan dan kebaikan, mencerminkan setiap hubungan relasi manusia dan membawa keharmonisan pada keseluruhan ciptaan-Nya. Dunia Allah ialah sebuah dunia di mana setiap orang merasa bertanggung jawab atas yang lain, atas kebaikan dari yang lain. Malam ini, dalam refleksi, puasa dan doa, masing-masing dari kita jauh di lubuk hati harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah ini benar-benar dunia yang aku inginkan? Apakah ini benar-benar dunia yang kita semua bawa dalam hati kita? Apakah dunia yang kita inginkan itu benar-benar sebuah dunia harmonis dan damai, dalam diri kita sendiri, dalam relasi-relasi kita dengan orang lain, dalam keluarga-keluarga, di kota-kota, di dalam dan di antara bangsa-bangsa? Dan apakah kebebasan yang bukan sebenarnya berarti yang memilih cara-cara di dunia ini yang menuntun pada kebaikan dari semua dan dibimbing oleh kasih?

2. Tapi kemudian kita bertanya-tanya: Apakah ini dunia yang di mana kita sedang hidup? Ciptaan mempertahankan keindahannya yang memenuhi kita dengan perasaan kagum dan itu tetap menjadi sebuah karya baik. Tapi ada juga “kekerasan, perpecahan, perselisihan, perang”. Hal ini terjadi ketika seseorang, ciptaan-Nya yang tertinggi, berhenti merenungkan keindahan dan kebaikan, dan menarik diri ke dalam keegoisannya sendiri.

Ketika seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri, kepentingan-kepentingannya sendiri dan menempatkan dirinya di pusat, ketika ia mengizinkan dirinya terpikat oleh berhala-berhala kekuasaan dan kekuatan, ketika ia menempatkan dirinya di tempat Allah, maka semua hubungan-hubungan relasi dirusak dan segala sesuatunya hancur; kemudian pintu terbuka kepada kekerasan, ketidakpedulian, dan konflik. Hal ini adalah tepat dengan kutipan dalam Kitab Kejadian upayakan untuk mengajar kita dalam kisah Kejatuhan: manusia masuk ke dalam konflik dengan dirinya sendiri, dia menyadari bahwa dia telanjang dan dia menyembunyikan dirinya sendiri karena dia takut (lih. Kejadian 3: 10), dia takut akan pandangan sekilas Allah, dia menuduh wanita itu, yang adalah daging dari dagingnya (lih. ay 12); dia merusak keharmonisan dengan ciptaan, dia mulai mengangkat tangannya melawan saudaranya untuk membunuhnya. Dapatkah kita katakan bahwa dari keharmonisan dia meneruskan kepada “ketidakharmonisan”? Tidak, tidak ada hal semacam seperti “ketidakharmonisan”; yang ada adalah keharmonisan atau kita jatuh ke dalam kekacauan, di mana terdapat kekerasan, argumen, konflik, ketakutan ….

Justru itu tepatnya dalam kekacauan ini bahwa Allah menanyakan hati nurani manusia: “Di mana Habel, saudaramu itu?” Dan Kain menjawab: “Aku tidak tahu; apakah aku penjaga saudaraku?” (Kej 4:9). Kita juga ditanyakan [dengan]pertanyaan ini, yang akan menjadi baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri juga: Apakah aku adalah benar-benar penjaga saudaraku? Ya, kalian adalah penjaga saudara kalian! Menjadi manusia berarti saling menyayangi satu sama lain! Tapi ketika keharmonisan rusak, sebuah metamorfosis terjadi: saudara yang seharusnya diperhatikan dan dikasihi itu menjadi musuh untuk bertarung, untuk membunuh. Kekerasan apa yang terjadi pada momen itu, berapa banyak konflik, berapa banyak perang telah menandai sejarah kita!
Kita hanya perlu melihat penderitaan dari begitu banyak saudara dan saudari [kita]. Hal ini bukan soal kebetulan, tapi kebenarannya: kita menyebabkan kelahiran kembali Kain dalam setiap tindakan kekerasan dan dalam setiap perang. Semua dari kita! Dan bahkan saat ini kita melanjutkan sejarah konflik di antara saudara-saudara ini, bahkan saat ini kita mengangkat tangan kita terhadap saudara kita. Bahkan saat ini, kita membiarkan diri kita dibimbing oleh berhala-berhala, oleh keegoisan, oleh kepentingan-kepentingan kita sendiri, dan sikap ini terus berlangsung. Kita telah menyempurnakan senjata-senjata kita, hati nurani kita telah jatuh tertidur, dan kita telah mempertajam ide-ide kita untuk membenarkan diri kita sendiri. Seolah-olah itu normal, kita terus menabur kehancuran, kepedihan, kematian! Kekerasan dan perang hanya menyebabkan kematian, mereka berbicara tentang kematian! Kekerasan dan perang adalah bahasa kematian!

Setelah kekacauan banjir, saat hujan berhenti, pelangi muncul dan burung merpati itu datang kembali dengan ranting zaitun. Hari ini, saya membayangkan juga pohon zaitun yang mewakili berbagai agama itu yang ditanam di Plaza de Mayo di Buenos Aires pada tahun 2000, yang meminta agar tidak ada lagi kekacauan, yang meminta agar tidak ada lagi perang, yang meminta perdamaian.

3. Dan pada titik ini saya bertanya pada diri sendiri: Apakah itu mungkin untuk melangkah pada jalan damai? Dapatkah kita keluar dari spiral kesedihan dan kematian ini? Dapatkah kita belajar sekali lagi untuk berjalan melangkah dan menjalani hidup dengan cara-cara damai? Meminta pertolongan Allah, di bawah tatapan keibuan dari Salus Populi Romani, Ratu Damai, saya katakan: Ya, itu mungkin bagi setiap orang! Dari setiap sudut dunia malam ini, saya ingin mendengar kita berseru: Ya, itu mungkin bagi setiap orang! Atau bahkan lebih baik, saya ingin untuk masing-masing orang dari kita, dari yang terkecil sampai yang terbesar, termasuk mereka yang dipanggil untuk memerintah negara-negara, untuk menanggapi: Ya, kami menginginkannya! Iman Kristiani saya mendesak saya untuk melihat kepada kayu Salib. Bagaimana saya berharap bahwa semua pria dan wanita yang berkehendak baik akan melihat kepada Salib itu walau hanya untuk sesaat! Di sana, kita bisa melihat jawaban Allah: kekerasan tidak dijawab dengan kekerasan, kematian tidak dijawab dengan bahasa kematian. Dalam keheningan Salib, kegaduhan senjata-senjata berhenti dan bahasa rekonsiliasi, pengampunan, dialog, dan perdamaian diucapkan.

Malam ini, saya meminta kepada Tuhan bahwa kita umat Kristiani, dan saudara-saudari kita dari agama-agama lain, dan setiap pria dan wanita yang berkehendak baik, berseru kuat: kekerasan dan perang tidak pernah merupakan jalan menuju perdamaian! Biarkan setiap orang tergerak untuk melihat ke kedalaman hati nuraninya dan mendengarkan kata itu yang mengatakan: Tinggalkan ke belakang kepentingan sendiri yang mengeras hati kalian, atasi ketidakpedulian yang membuat hati kalian tidak peka terhadap orang lain, taklukkan penalaran kalian yang mematikan, dan buka diri untuk dialog dan rekonsiliasi. Memandang kesedihan saudara kalian – saya memikirkan anak-anak: pandang hal-hal ini … tatap kesedihan saudara kalian, diamkan tangan kalian dan jangan tambahkan kepadanya, bangun kembali keharmonisan yang telah hancur itu, dan semua ini dicapai bukan dengan konflik tetapi dengan perjumpaan! Semoga kebisingan senjata berhenti! Perang selalu menandai kegagalan perdamaian, itu selalu merupakan sebuah kekalahan bagi kemanusiaan. Biarkan kata-kata Paus Paulus VI bergema lagi: “Tidak ada lagi satu melawan yang lain, tidak ada lagi, tidak pernah! … perang tidak pernah lagi, tidak pernah lagi perang! “(dialamatkan kepada PBB, 1965). “Perdamaian mengekspresikan dirinya hanya dalam damai, sebuah perdamaian yang bukan terpisah dari tuntutan-tuntutan keadilan melainkan yang dipupuk oleh pengorbanan pribadi, grasi, belas kasihan dan kasih” (Pesan Hari Perdamaian Sedunia, 1975). Saudara dan saudari sekalian, pengampunan, dialog, rekonsiliasi – ini adalah kata-kata perdamaian, yang terkasih di Suriah, di Timur Tengah, di seluruh dunia! Mari kita berdoa malam ini untuk rekonsiliasi dan perdamaian, mari kita bekerja untuk rekonsiliasi dan perdamaian, dan mari kita semua menjadi, di setiap tempat, pria dan wanita rekonsiliasi dan perdamaian! Maka semoga terjadi demikian.

(AR)
Paus Fransiskus,
Lapangan Santo Petrus, 7 September 2013

Diterjemahkan dari: www.vatican.va

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.