“Jadi kalian tahu siapa Aku ini, dan dari mana asal-Ku?” (4 Maret 2014)

Yohanes (7:1-2.10.25-30)

hosanaDi wisma keuskupan kami, ada seekor burung cucakrawa yang hanya mau bekicau kalau dipancing dengan siulan pemeliharanya. Banyak tamu yang silih berganti dan tertarik dengan rupa burung ini tak mampu membuatnya untuk mengeluarkan kicauannya yang merdu. Saya pun pernah mencobanya dengan cara bersiul-siul, tetapi tetap tidak berhasil. Saya meminta kepada pemeliharanya “kunci” agar burung itu bisa berkicau. Ternyata, kuncinya sederhana, yakni kita pertama-tama harus mengenal tinggi nadanya kicauan burung tersebut. Agar sang cucakrawa ikut berkicau, suara siulan kita pun harus sesuai dengan ketinggian nada suaranya.

Pengenalan adalah kunci dari rahasia keajaiban yang tampak sehari-hari. Seperti anak Sekolah Minggu di paroki bisa diajari tentang teologi dan Kitab Suci, melalui menyanyi dan gerak mirip anak-anak. Namun, banyak orang di zaman Yesus belum mengenal-Nya. Hal ini tampak dari ungkapan orang-orang Yahudi di saat itu, “Lihatlah Ia berbicara dengan leluasa di depan umum, dan tidak ada yang berkata apa-apa kepada-Nya! Apakah penguasa-penguasa kita mungkin sudah menyadari bahwa Ia ini Raja Penyelamat? Tetapi kalau Raja Penyelamat itu datang, tidak seorang pun tahu dari mana asal-Nya! Padahal, kita tahu dari mana asalnya orang ini.” Yesus pun menanggapinya. Ia berseru dengan suara yang keras, “Jadi kalian tahu siapa Aku ini, dan dari mana asal-Ku? Aku tidak datang atas kehendak-Ku sendiri. Aku diutus oleh Dia yang berhak mengutus Aku, dan Ia dapat dipercaya. Tetapi kalian tidak mengenal Dia. Aku mengenal Dia, karena Aku berasal dari Dia, dan Dialah yang mengutus Aku.

Orang Yahudi tahu dari mana Yesus berasal tapi belum mengenal-Nya. Tahu tapi tidak mengenal adalah dua hal yang sangat berpengaruh. Ktia bisa saja tahu kalau memiliki anak tapi belum mengenalnya sampai kita sadar kalau selama ini perlakuan kita tidak tepat baginya. Pengenalan adalah kunci dari misteri keselamatan yang dibawa oleh Kristus di dunia ini. Ia menjadi manusia lemah, dan solider dengan menerima baptisan Yohanes serta menderita dan wafat layaknya manusia. Ini semua demi pengenalan akan Diri-Nya di dunia bagi umat manusia. Mari kita hayati pengenalan kita akan Kristus dalam hidup sehari-hari.

DOA :
Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, kemurahan hati-Mu melimpah jauh melampaui jasa ataupun permohonan kami. Limpahkanlah belas kasih-Mu kepada kami sepenuhnya; ampunilah dosa-dosa kami yang menggelisahkan hati dan anugerahilah kami segala sesuatu yang kami tak mampu menyebutnya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.