“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (7 April 2014)

Yohanes 8:1-11

Yesus mengampuni wanita berzinah

Sekali peristiwa … ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. … Yesus pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” … Setelah mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu, yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Secara amat jelas, Injil hari ini menampilkan sosok Yesus yang pengampun. Ia mengampuni seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Namun, kalau dikaitkan dengan bacaan I, saya melihat ada pesan lain yang amat kuat juga yakni mengenai keberpihakan Tuhan pada orang yang lemah dan dipojokkan, yang dalam hal ini didiwakili para perempuan. Dalam Injil, kalau perempuan itu memang benar-benar berzinah, pasti pelakunya bukan hanya dia sendiri. Dia melakukan minimal dengan seorang laki-laki. Namun, mengapa yang dibawa kepada Yesus dan hendak dihukum rajam hanya yang perempuan? Demikian pula dalam bacaan I. Kalau Susana memang berbuat serong, pasti minimal dengan seorang laku-laki. Tapi, mengapa tuduhan dan rancangan hukuman hanya diberikan kepada Susana? Itulah makanya, saya melihat adanya pesan yang amat kuat mengenai keberpihakan Tuhan untuk membela mereka yang lemah. Dalah bacaan I, Tuhan berkarya melalui Daniel yang membebaskan Susana dari fitnahan dan hukuman mati. Dalam bacaan Injil, Yesus sendiri mengampuni wanita yang dituduh berzinah dan membebaskannya dari hukuman yang tidak adil.

Di sekitar kita, ada banyak orang yang lemah, entah bagaimana bentuknya dan apa sebabnya. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk bersikap seperti Daniel dan Yesus, yakni berani menunjukkan keberpihakan dan pembelaan kita terhadap mereka yang lemah. Selanjutnya, kita diharapkan bisa melakukan upaya-upaya pemberdayaan. Khusus berkaitan dengan pemberdayaan perhadap perempuan, Surat Gembala KWI Menyongsong Pemilu 2014 menghimbau demikian: “Pilihan kepada calon legislatif perempuan yang berkualitas untuk DPR, DPD dan DPRD merupakan salah satu tindakan nyata mengakui kesamaan martabat dalam kehidupan politik antara laki-laki dan perempuan, serta mendukung peran serta perempuan dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan”.

Doa: Tuhan, berilah kami keberanian untuk memihak, membela dan memberdayakan mereka yang lemah. Amin. -ag. agus widodo, pr-

Sumber : www.doakatolik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.