Permenungan SALIB dan KEBANGKITAN.

Oleh : Romo A. Tri Hartono

SALIB.

Salib

Salib tentu tidak bisa dilepaskan dari penderitaan. Namun tidak setiap penderitaan adalah salib. Orang yang menderita di dalam tahanan karena mencuri, membunuh atau pun korupsi, tidak bisa  disebut sebagai sedang “menghayati salib”.

Salib mengandung unsur menderita karena membela atau memperjuangkan kebenaran, keadilan  serta  kemanusiaan, sebagaimana Yesus juga memperjuangkan kebenaran. Sampai-sampai Pilatus bertanya ” apa kebenaran itu”.
Salib juga mengandung unsur pengorbanan. Pengorbanan adalah penderitaan demi kebaikan dan keselamatan orang lain. Seorang ayah yang kerja keras untuk bisa menghidupi keluarganya, adalah salah satu bentuk salib. Seorang anak sulung yang berhenti sekolah lalu bekerja demi adik-adiknya bisa sekolah, juga salah satu bentuk salib.
Sayangnya “kosa kata pengorbanan” rasanya mulai hilang dari kamus kehidupan. Jaman sekarang orang cenderung mengorbankan orang lain dari pada berkorban untuk orang lain. Padahal dalam dunia yang banyak kejahatan, penipuan dan keserakahan serta sikap balas dendam, tentu amat dibutuhkan pengorbanan. Berkorban untuk rela jadi tumbal tanpa balas dendam, adalah hal yang amat dibutuhkan untuk mengehentikan sikap balas dendam. Rela mengalah, kadang-kadang lebih memberi peluang munculnya kesadaran untuk bertobat dari pada politik balas dendam. Jaman sekarang, ada kecenderungan pada diri seseorang untuk “sok rasional”. Misalnya kalau orang mudah mengampuni berarti mudah memberi peluang pada orang untuk membuat kesalahan lagi, karena pikirnya toh nanti diampuni. Secara teori memang bisa seperti itu, namun dalam praktik, seringkali berbeda. Dengan diampuni, seperti Paus YP II mengampuni orang yang menembak dirinya, sering lebih mengharukan dan lebih memberi kesadaran bagi si pendosa untuk bertobat dari pada kalau si pelaku dihukum kisas atau rajam. Orang yang menganut politik balas dendam adalah orang yang mendasarkan hidupnya menurut rumus duniawi belaka, seperti gigi ganti gigi, mata ganti mata, dsb. Tetapi orang yang rela mengampuni, seperti dalam doa Bapa Kami, adalah mendasarkan hidupnya pada rahmat Allah. Dia percaya bahwa dalam hidup ini ada rahmat yang bekerja. Dalam hal ini iman akan rahmat Tuhan dihayati dalam kehidupan nyata.
Meskipun rahmat tetap membutuhkan perjuangan dari pihak manusia, namun keyakinan akan adanya rahmat Tuhan yang berkarya, itulah yang membedakan orang beriman dengan yang tidak. Semakin beriman, semakin ada rahmat yang berkarya.

empty-tomb-of-jesus-christ-early-sunday-morning-

KEBANGKITAN.
Salib, tentu ada kaitannya dengan kebangkitan. Orang mengatakan ” berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian” yang artinya bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Karena salib adalah penderitaan demi kebaikan dan kebenaran, maka pasti akan berujung pada “kebahagiaan”, meskipun kebahagiaan tidak selalu berujud kemakmuran atau kelimpahan duniawi. Seperti Yesus yang bangkit, memang Yesus yang menderita di salib, namun bukan melanjutkan hidup duniawi biasa. Sebab Yesus bangkit tidak terikat oleh tempat dan waktu. Waktu para murid berkumpul di suatu rumah yang pintu-pintunya terkunci, Yesus bisa masuk. Yesus bisa menyertai dua murid yang ke Emaus dan tiba-tiba hilang. Namun Yesus yang bangkit, bukan makhluk halus, karena ada tulang dan dagingNya, sehingga bisa minta kepada Thomas untuk memasukan jari pada bekas paku dan memasukkan tangan pada lambung bekas ditikam tombak. Yesus yang bangkit juga bisa makan ikan setelah minta ikan pada murid-muridNya.
Yesus yang bangkit juga tidak terikat waktu, karena telah masuk dalam kehidupan kekal.
Bisa dikatakan bahwa kebangkitan Yesus bukan peristiwa sejarah tetapi peristiwa iman. Yang dimaksud bukan peristwa sejarah adalah “kebangkitan Yesus tidak bisa difoto, bahkan tidak ada kisah yang melukiskan kebangkitan Yesus”. Yang ada hanyalah kisah ” makam kosong” dan penampakkan Tuhan.

Iman akan kebangkitan, bukan teori sebab ada bukti yang sangat kuat, yaitu KEBANGKITAN YESUS. Kebangkitan sebagai peristiwa iman, mestinya nampak dalam,hidup sehari-hari. Rahmat kebangkitan yang juga telah dianugerahkan kepada kita yang masih hidup di dunia ini, mestinya mempengaruhi sikap hidup kita.
Sebuah contoh. Di kab. Gunungkidul terkenal banyak orang mati bunuh diri, termasuk yang beragama katolik.
Saya katakan orang katolik yang bunuh diri adalah orang yang sudah beragama katolik namun belum beriman katolik. Kalau ia beriman katolik, maka kegagalan atau penderitaan macam apa pun, bahkan kematian pun tidak membuat orang putus asa, karena ada kebangkitan. Dengan kata lain iman akan kebangkitan, akan membuat orang menjadi optimis dan tidak ada kata putus asa.
INILAH TANDA PASKAH YANG PALING UTAMA, YAITU BERKAT WARTA KEBANGKITAN DAN BERKAT RAHMAT KEBANGKITAN, ORANG MENJADI SELALU OPTIMIS DAN TIDAK PERNAH PUTUS ASA.
Penghayatan kita akan optimisme paskah perlu kita wartakan dengan jalan kita bagikan cahaya lilin kecil kita kepada orang lain, sebagai simbol kita berbagi pengalaman iman akan kebangkitan.

Screen Shot 2014-03-15 at 4.47.04 PM

TERTIPU OLEH PERASAAN.
Ketika ditaman Getsemani, Yesus gentar menghadapi maut. Tapii Yesus tetap teguh untuk memilih minum cawan. “Ya Bapa-Ku, jikalau  Engkau mau, ambilah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Artinya berat macam apa pun Yesus memilih setia pada kehendak Bapa ( jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga).
Namun ketika Yesus tergantung di kayu salib, Yesus berseru “Eli, Eli, lamasabakhtani” artinya, Allah-Ku ya Allah-Ku mengapa Engkau menjnggalkan Aku? (Mat 27:46.). Yesus yang sudah total demi Bapa-Nya, tetapi masih merasa ditinggalkan. Tapi itu perasaan manusiawi Yesus. Nyatanya dengan kebangkitan-Nya atau lebih tepatnya dengan “dibangkitkan-Nya” Yesus tidak ditinggalkan Bapa.

Saya pernah mengalami frustrasi besar pada tahun 1973 ketika saya masih frater dan studi filsafat. Ada filsuf yang mengatakan bahwanTuhan tidak ada. Tuhan hanyalah rekayasa orang yang gagal dan frustrasi di dunia. Dengan menciptakan gambaran Tuhan, orang yang hidupnya gagal di dunia ini dapat menghibur diri dan berkata ” tidak apa di dunia gagal, yang penting nanti di akhirat kita menerima kebahagiaan. Filsuf tsb mengatakan bahwa agama adalah candu yang membuat ilusi tentang kebahagiaan di akhirat.”

Saya terpengaruh oleh gagasan tersebut. Aku berpikir kalau Tuhan tdk ada aku, yang mau jadi imam ini kan orang yang konyol. Untuk apa susah-susah belajar dan nanti kalau jadi imam tugas di desa sendirian, sakit tidak ada yang tahu, makanan sudah dingin, pulang dari stasi sudah malam hanya kesunyian yang menemani, paling ada anjing yang menggongong. Untuk apa semuanya itu, kalau Tuhan tidak ada.

Untunglah saya teringat oleh teks injil tentang Yesus di taman Getsemani (Mat 26:36-46) dan kisah Yesus merasa ditinggalkan Bapa-Nya (Mat 27:45-50) dan kebangkitan Yesus (Mat 28:1-10).

Setelah saya merenungkan injil tsb, saya katakan pada diriku sendiri, kamu bodoh mau dikuasai oleh perasaan dan gagasan bahwa Tuhan tidak ada, seperti Yesus juga pernah merasa ditinggalkan Bapa-Nya. Tapi itu hanya perasan manusiawi saja.

Sejak saat itu kalau saya merasa gagal atau putus asa, misalnya  tentang penyakit saya yang rombongan, ada gula, ada lever ada parkinson dan makin hari makin meningkat (progresif) ditambah masalah-masalah lain yang menambah beban hidup, saya berusaha membaca ulang teks-teks kitab suci tsb, dan berkat rahmat Allah khususnya rahmat kebangkitan, aku selalu berusaha untuk bangkit dan memompa optimisme. Saya selalu katakan ” Tuhan adalah setia, tidak mungkin meninggalkan umat-Nya”.
Aku pun hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan, agar rahmat kebangkitan selalu dicurahkan kepadaku dan kepada semua dan setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Note

Ringkasannya.

1. Kita manusia hidup di dunia banyak mengalami kegagalan dan kesulitan yang bisa membuat putus asa atau secara manusiawi-duniawi, tanpa harapan.
Istilahnya bila hidup tanpa iman atau imannya sedang off, maka banyak hal yang bisa menjadi alasan kita untuk putus asa. Orang yang putus asa bisa nekad, ngawur bahkan bunuh orang lain atau kalau takut bunuh orang lain ya bunuh diri.
2. Kebangkitan Yesus adalah peristiwa iman. Dengan kebangkitan Yesus, ada bukti bahkan jaminan bahwa apapun yang terjadi, bahkan hidup yang penuh penghinaan, cemoohan dan dihujat seperti ketika Yesus di salib sampai wafat, bukan kata akhir. Sebab di balik salib ada kebangkitan.
3. Sebagai orang beriman, iman kita mestinya on bukan off. Bila iman kita on maka iman merasuki hidup, sehingga hidup yang semula tanpa iman adalah hidup yang gagal dan putus asa berubah menjadi hidup yang penuh harapan atau hidup yang penuh optimisme. Hidup yang penuh optimisme akan berbeda dengan hidup yang penuh pesimisme. Hidup yang dijiwai semangat paskah, akan menjadi hidup yang optimis, energik dan selalu menularkan dan membangkitkan semangat bagi orang-orang yang dijumpai.
Walau pun masih hidup di dunia, namun sudah di jiwai oleh  rahmat paskah dan berubah menjadi hidup yang penuh gairah dan semangat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.