“Tanda Salib”, apa maksudnya?

jangan-banyak-bertanya

Ketika kita melihat acara televisi mis: pertandingan sepak bola dan kemudian melihat pemainnya membuat tanda salib ketika mulai bertanding atau ketika memasukan bola ke gawang lawan bahkan ketika Susi Susanti menang dalam pertandingan bulu tangkis, maka kita sebagai orang katolik yang normal, pasti bangga banget dan orang di luar katolik akan penasaran mereka itu ngapain tho, kok menggerakkan tangan seperti itu? Nah ketika kita bisa menjelaskan dengan benar maka itu sudah ikut mewartakan kabar gembira yang luar biasa.

Tapi tanda salib juga bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain terutama saudara kita yang protestan, Bahkan tidak sedikit yang berpendapat bahwa tanda salib adalah rekaan Gereja katolik yang sesat karena tidak ada dasar alkitabiahnya.Membuat tanda salib sebelum dan sesudah berdoa atau melakukan pekerjaan yang membedakan secara kasat mata antara katolik dan protestan( di Indonesia ).Bahkan kita orang katolik yang sudah puluhan tahun akan kelimpungan ketika ditanya tentang tanda salib terutama dari saudara kita yang hanya menggunakan Alkitab semata2 sebagai dasar teologinya. (Menafsirkan Alkitab tanpa dasar tradisi bagaikan orang yang tercerabut dari dunia nyata. Alkitab hanya bayang-bayang yang sukar dipahami sekaligus membahayakan dan menyesatkan jika hanya dipahami sepenggal2. Karena Sabda Allah adalah satu kesatuan karena Sang Firman adalah satu.)

Tanda salib adalah tanda sakramentali dari kemanunggalan Allah Tritunggal dalam seluruh karya penebusan umat manusia ,dengan tanda salib semua yang kita perbuat dan imani terpusat pada Allah Tritunggal Yang Maha Kudus, yaitu alasan,dan proses dan tujuan kita semata2 bersandar pada penyelenggaraan Allah Tritunggal demi kemuliaan NamaNya.

Sebelum kekristenan muncul tanda salib ( T ) sudah diamini sebagian masyarakat Yahudi sebagai lambang kudus maka umat perdanapun akhirnya memaknai tanda itu dengan persepsi yang baru setelah kematian dan kebangkitan Kristus.
1. Yehezkiel 9:6 Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!” Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci.
2. senada dengan ayat diatas Keluaran 12:23 Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi.
3. Wahyu 7:3 katanya: “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!
4. Wahyu 9:4Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya.
5. Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.

Ketika umat masih teraniaya mereka hanya membuat tanda salib didahi, tetapi ketika kekristenan sudah menjadi hal yang umum dan sebagai kebanggaan karena merupakan agama terpilih diantara agama pagan maka tanda salib dibuat lebih Nampak lagi seperti sekarang yang kita Gereja gunakan.Tradisi ini selalu diwariskan dari generasi ke genarasi dan bukti tertulis bisa dilacak yaitu tulisan abad ke-2.
1. Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”
2. St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36) mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”
3.St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”
4. St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”
Perkembangan cara membuat tanda salib juga mengalami perkembangan seperti bentuk yang sekarang. Tapi yang jelas kalau umat yang terpisah dari Gereja katolik saja (Orthodok oriental abad ke-4 dan orthodok timur th 1054) saja membuat tanda salib, walaupun beda variasi,masihkah itu bisa untuk pembenaran bahwa tanda salib adalah rekaan ajara Gereja katolik?.
Apakah kita malu dan ragu dengan tanda ini?.Sekali lagi hanya Gereja yang mempunyai tradisi apostoliklah yang dapat sebagai sandaran kebenaran penafsiran Alkitab. Gereja adalah Tiang kebenaran.
Deo Gratias.

Sumber : www.facebook.com/groups/athanasius.karangpanas/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.