“Jangan berzinah!”(13 Juni 2014)

Tanda TanyaMatius (5:27-32)
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar sabda, ‘Jangan berzinah!’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa memandang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan dikau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada badanmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tangan kananmu menyesatkan dikau, penggallah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada dengan badanmu seutuhnya masuk neraka. Tetapi disabdakan juga, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, dia membuat isterinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan wanita yang diceraikan, dia pun berbuat zinah.'”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
Melihat! Sarana terpenting ialah mata. Pandangan mata itu bisa mengasihi, seperti orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37); menyesatkan, seperti Daud yang melihat Betsyeba mandi (2Sam 11:2-5); bahkan dapat mendorong pertobatan seperti pandangan Yesus pada Petrus (Luk 22:61). Dari pandangan mata, orang dapat melakukan perbuatan yang baik atau jahat. Keputusan ada pada pribadi yang memiliki mata itu sendiri, meskipun ada pertimbangan lain yang mempengaruhinya. Tatkala pandangan mata melihat segala sesuatu adalah sebagai objek, maka kita akan dapat terperangkap pada pemuasan diri, bahkan dapat menimbulkan dan membangkitkan nafsu yang tak teratur. Sungguh dahsyat pandangan mata itu, bukan?

Dalam Injil hari ini Yesus bersabda, “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka!” Dari perikop ini Yesus ingin mengajak dan mengingatkan kita, agar pandangan mata kita sungguh jernih dalam melihat segala sesuatu. Pandangan mata yang melihat segala sesuatu, kemudian menghubungkannya dengan Sang Pencipta; lantas mensyukuri dan mengaguminya, maka seluruh keberadaan tubuh kita akan menjadi selaras dan seimbang dengan maksud Allah menciptakan mata kita. Hal ini memang tidak mudah seperti membalik telapak tangan, tetapi kita mesti melatih dan mengusahakannya. Terlebih, sebagai orang yang telah menerima Sakramen Pembaptisan, menjadi umat beriman, pengikut Yesus.

Pandangan mata yang jernih dari pasangan suami istri juga dapat memupuk kesetiaan perkawinan, seperti yang diajarkan oleh Gereja, bahwa perkawinan tak dapat dipisahkan, kecuali oleh kematian. Dengan demikian, mereka terhindar dari perzinahan dan perceraian.

Mari kita meneladan pandangan mata Guru kita, Yesus yang penuh belas kasih. Dengan mengusahakan terus-menerus, kita memiliki pandangan mata yang makin jernih dari hari ke hari. Seperti Santo Antonius dari Padua, ketika melihat tidak ada imam yang maju untuk berkhotbah, maka ketika diminta untuk berkhotbah bagi kelompok Dominikan dan Fransiskan, dengan rendah hati ia maju dan mulai berkotbah dengan mempesona.

Doa
Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Santo Antonius, pengkhotbah yang ulung itu, Kaujadikan penolong dalam keperluan umat-Mu. Semoga berkat doa dan bantuannya dihadapan-Mu, kami Kautopang dalam segala perjuangan guna menjalankan ajaran hidup Kristiani. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.